Burung Masuk ke dalam Fiksi Terutama Karena Obsesi

Obsesi Perempuan Berkumis by Budi Darma, dkk

Kau begitu yakin terhadap banyak hal dan kau begitu keliru terhadap banyak hal pula.”Etta Joseph (Dear John Wayne by Alexie Sherman).

Wow, baru tahu dulu pernah ada sebuah buku berjilid Prosa sekeren ini. Ini adalah edisi ketiga entah total ada berapa edisi, isinya luar biasa, padat, sedap, bervitamin. Semacam majalah? Enggak juga. Semacam edisi khusus sastra? Bisa jadi, yang jelas benar-benar keren. Bung Budi Darma menjadi pusat, dengan cerpen panjang, kritik sastra tentang cerpennya, dan wawancara khusus, Bung Yusi juga menyumbang dua tulisan. Bagus semua. Bikin pembaca megap-megap antusias.

Mengubah dunia tentu memerlukan keyakinan, ketetapan, kepastian – dalam bentuk ilham maupun dokrin, dan organisasi dan lain-lain. Berisi tiga jenis tulisan: fiksi,esai, dan dialog. Renyah sekali. Bulan ini saya beli empat buku (Prosa #3 ini) di tempat lain yang kebetulan ready stock, rencana buat giveaway nantinya saat momen sepesial. Tunggu ya…

#I. Fiksi

#1. Fofo by Budi Darma

Saya dilahirkan pada saat awan hitam berarak ke barat. Tanda kemalangan. Dan sejak masih bayi saya selalu membawa sial. Itulah yang akan ibu katakan. Saya tahu.” Cerita pendek yang sangat panjang (22 lembar). Hikayat Fofo yang aneh dan meliar. Bagus sih, tapi lelah rasanya diputar-putar, seolah belalang yang mengamati kehidupan manusia, nempel di punggung satu pindah ke punggung karakter lain, para tokoh yang apes bertakdir. Takdir manusia, tak ada manusia yang tahu.

Barangsaiapa yang mencari pertolongan tidak kepada Tuhan, akan meminta pertolongan kepada laba-laba, binatang yang amat menjijikan.

#2. Taman Api by Fans Nadjira

Keren. Dengan tanya utama, apakah gadis di taman api ini jodohku? Kisahnya mengambil sudut pandang pertama yang merasa ada klik, dan tak biasa ada gadis di tempat ia merenung. Pastinya cantik, walau sedang terluka, si Aku mencoba mengajak berdamai dengan realita, yang di halaman terakhir memberi opsi lagi. lho… “Saliva, Saliva, hatimu, mulutmu, ucapanmu, semuanya berlendir.

#3. Penyair Terkutuk by Linda Christanty

Semua mengambang dalam ruang khayal, menunggu diciduk dan ditata rapi di piring saji puisi. Kata-kata lelaki kumal itu adalah mantra sihir berapi. Muter-muter dengan pilihan diksi yang mbulet. Intinya Sang Penyair yang ragu akan nasibnya. Mencipta karya dengan nyanyian sihir berdengung.

#4. Pulang Malam by Rusdi Rahingrat

Keren (lagi). Bahasa sederhana yang dituturkan dengan nyaman sekali. Walau endingnya tertebak, tapi menempatkan tokoh utama dalam bayang ragu dan tanya malah melibatkan pembaca, turut deg-degan dan sedih, daya yang dikerahkan guna berpikiran positif susah untuk disisipkan. Apa yang menimpa dan keadaan sekitar jelang tengah malam disampaikan dengan gaya yang mudah dipahami tanpa perlu kata-kata rumit. Hebat!

Lalu lantunan lagu Meggy Z terdengar dalam bus yang ngos-ngosan melaju pelan. “Cukup sudah kumengerti apa yang kau harap dariku / aku hanya punya cinta dan tak punya apa-apa / Hohohohooo.”

#5. Dear John Wayne by Sherman Alexie (diterjemahkan oleh Yusi Avianto Pareanom dari kumpulan cerpen, The Toughest Indian in The World).

Seperti sering dikatakan ibu saya dulu, buku adalah kunci pembuka pintu rumah kearifan yang tergembok.”

Luar biasa, dicerita dengan pola mundur, bagaimana seorang nenek berusia seabad lebih, mengaku sebagai keturunan terakhir suku Indian Spokane, melalui wawancara menceritakan skandal aktor kenamaan John Wayne yang terkenal abad 20. Bertanggal 28 Februari 2052 di Panti Wreda St. Tekawitha di Spokane, Washington. Pewawancara Spencer Cox, narasumber nenek tabah Etta Joseph usianya lebih dari seabad.

Bagaimanapun sebagian besar orang idiot, tak peduli umurnya. Seorang Indian harus menjaga rahasianya, atau ia tidak lagi menjadi seorang Indian. Tapi seorang Indian yang jauh lebih pintar dari aku satu kali pernah mengatakan hal ini: Jika ini karangan, maka ini sebaiknya benar-benar terjadi. Luar biasa…

#6. Risalah Tentang Teks by Arif Bagus Prasetyo

Ambisi trompe l’oeil pun estetika Futurisme, ujung-ujungnya harus menyerah pada solusi ilusionisme. Padahal ilusi dekat dengan kebohongan. Dan segala bohong itu, diyakini A, hukumnya haram.

Mbulet nan merumitkan diri, poin utama sebuah makalah dengan diksi tinggi sedang dibuat dan akan disandingkan, lalu kritik sastra membuatnya berprasangka, dan begitulah. Penyair Z dan Penulis A saling silang dalam pikiran.

II. Esai

#7. Sastra Kabur dan “Kritikus Adinan” by Yoseph Yapi Taum

Keren (lagi-lagi). Karena saya belum membaca cerpen Kritikus Adinan saya hanya bisa meraba saja ini tentang apa, yang jelas saya sudah menamatkan The Trial-nya Franz Kafka. Kritikus Adinan memang mengandung begitu banyak hal kabur dan ambigu, baik dalam hal struktur maupun isi. Dari ringkasan dan analisis ini, memang sangat mirip. Dari sini juga saya jadi lebih tahu, cara nulis kritik sastra ternyata detail dan fokus ke satu-dua karya dengan analisis mendalam. Pengadilan adalah sebuah jagat yang penuh ketidakpastian, ancaman yang menakutkan.

Ada empat entitas sastra mainstream kita menjelang akhir abad 20: sastra sub-kebudayaan, sastra feminis, sastra yang mengacu pada realitas sosial, dan sastra kabur.

Ini membahas detail dan meliar sastra jenis yang terakhir. Sastra kabur agaknya adalah sejenis sastra absurd, sastra yang penuh dengan ‘ketidakjelasan’. Menurut Budi Darma, sastra kabur adalah yang dilandasi oleh filsafat atau pemikiran tertentu mengenai hakikat manusia dan kemanusiaan. Bahwa manusia berada di jagat irasional dan tanpa makna. Secara esensial situasi manusia absurd dan kehilangan tujuan. Situasi batas yang irasional inilah dasar bagi eksistensi manusia yang secara hakiki bersifat kabur, absurd, tanpa makna dan tujuan.

Semakin banyak orang yang menjadi terpelajar, semakin banyak sastra kabur diminati, karena karya semacam ini membutuhkan internalisasi estetik dan intelektual yang lebih luas dan dalam dibandingkan karya sastra biasa.

Kalau kau ingin hidup bebas seperti saya janganlah berbuat jujur seperti kau.” – Pemilik warung.

#8. Indian Tanpa Panah Tanpa Kemah by Yusi Avianto Pareanom

Jadi sedikit tahu latar masa lalu Bung Yusi. Alexie adalah anak yang mendewakan ayahnya, maka kegemaran (membaca) ayahnya menular. Ia membaca dengan kesenangan dan kesengsaraan yang setara. Ia mencintai buku karena, buku menyelamatkan hidupnya.

Ini keren banget. Baru tahu Bung Yusi ternyata mempelajari lebih dalam Sherman Alexie, penulis Indian bahkan pernah belajar langsung ke sana. Terjemahan Indonesia-nya The Lone Ranger and Tonto Fistfight in Heaven sudah sering banget muncul di toko buku daring langganan lima atau enam tahun lalu. Tahu betapa perjuangan dibalik alih bahasa sedemikian seru, mungkin langsung kubeli kala itu. Moga masih ready stock Dema.

Ini semacam biografi singkat Sherman Alexie dari mula menekuni penulis (dimulai dengan puisi), mencipta karya dengan produktif. Sebagai pembaca rakus keturunan Indian, ia begitu antusias.

#III. Dialog

#9. Obsesi, Burung Ganjil, Perempuan Berkumis by Budi Darma

Ini wawancara, atau di sini disebut dialog. Bukan tatap muka, tapi via email sebab Bung Budi Darma yang super sibuk sedang di Singapura. Bercerita tentang katya-karya beliau, baik fiksi atau non fiksi. Berhubung saya baru baca satu bukunya, Rafillus saya belum klik langsung ketika mencerita sebagian proses dan latar dan berbagai kemungkinan proses kreatif itu terjadi. Bagian Rafillus yang bilang, setting-nya Surabaya tapi memang tak ketara detailnya, karena mau ditempatkan di Jakarta, atau Karawang, hasilnya bisa saja selama ada rel kereta api membujur. Menikmati sekali tulisan akhir ini, pandang, sedap, asyik banget. Wawancara dilakukan oleh Sony Karsono, dengan pertanyaan-pertanyaan panjang.

Kita dapat menganalisis sejumlah novel ini (novel Nigeria) dari segi sosilogi, atau kolonialisme, atau estetika, dan lain-lain sesuai hakikat sejumlah novel tersebut. Mendongeng adalah senjata kita, maka hasil analisis kita dari berbagai aspek akan sama, yaitu ringkasan teori dan ringkasan isi novel. Yang membedakan satu analisis dengan analisis lain adalah ringkasan teorinya.

Karya sastra, sementara itu, tidak mungkin melepas diri dari dongeng. Tidak mungkin, misalnya, novel tanpa plot, sebab plot adalah kaki karya sastra, yang memungkinkan karya sastra benar-benar tetap membumi. Justru di sinilah letak kesukaran proses kreatif: karya sastra bukan esai yang semata berisi pemikiran, namun dongeng yang berisi pemikiran.

The Daily Currant, Koran harian pertama di dunia terbit di London bulan Maret 1703. Raja William sementara memutuskan makan angina dengan naik kuda. Pepatah, “Kuda yang gagah harus berjodoh dengan penunggang yang gagah.”

Nostalgia adalah salah satu kunci penting dalam merapatkan hubungan karya sastra dan pembacanya. Menulis, sementara itu, hanya akan berjalan dengan lancar, manakala suasana menyenangkan untuk menulis tidak terganggu-ganggu.

Dalam antologi Sejumlah Esai Sastra, bahwa seorang penulis mahir seharusnya bekerja seperto seorang pemain bilyar ulung: meski mengincar bola biru, ia justru menyodok bola putih, yang lalu menumbuk bola hitam, yang kemudian menabrak bola merah, yang pada akhirnya bola menerjang target akhir: si bola biru.

Hukum alam berbeda dengan hukum takdir, kendati mereka kadang-kadang mereka bergandeng tangan.

Rasanya tersentil. Saya melahap ratusan buku per tahun, merangkum dan mengulasnya di blog. Namun memang ada yang kurang sebagai kutu buku. Pembaca sejati – pembaca yang sakti – adalah dia yang juga menulis. Nah kan, hiks…

Obsesi Perempuan Berkumis | by Budi Darma | Prosa 3 – 2003 | Redaksi Sitok Srengenge (ketua); Hasif Amini, Arif Bagus Prasetyo, Sisi Arsianti (Sekretaris) | Desain Muhmmad Roniyadi | Penerbit PT Metafora Intermedia Indonesia | Lukisan Sampul dan Isi Jeffrey Sumampouw | Skor: 5/5

Rumah Emas Agus, Cikarang, 311020 – Robert Johnson – Hellhound on My Trail (1937)

Thx to MasMasBuku Reborn (buku Jarang)

Ngopi sore sama Bung Yudi, Emas Agus, Pak Widi, dan Ikhsan 👍

Telaah Militer di Masa 1990-an

Bebas dari Militer by Martin Shaw

Militerisme konteporer bukanlah hal yang terdepan, ia terseumbunyi dan terbagi-bagi.” – Mann

Perang melibatkan penggunaan kekuatan, pertempuran, dan pembunuhan, oleh kelompok yang terorganisir. Buku yang sejatinya sangat umum, ditulis tahun 1991, dan kini sudah hampir tiga puluh tahun sudah banyak sekali perubahan militer. Telaahnya tentu saja sudah banyak tidak relevan, memang menikmati buku ini lebih ke nostalgia. Dunia digital meluluhkan segalanya. Membahas istilah saja bisa berlembar-lembar, membahas militer Inggris bisa panjang sekali, lalu telaah nuklir dan konsekuensi, menyelam dalam Perang Teluk yang berlarut, dst. Melelahkan sekali, tapi kalau nggak segera kupaksakan takutnya terbengkelai, maka gegas kutuntaskan. Berhubung militer adalah hal yang awam bagiku, lumayan bervitamin. Seluk beluk dunia militer. Jika perang selalu menjadi anakronisme sosial, masalahnya tidak akan selesai dengan menjadikannya sebagai kambing hitam.

Andrew Ross mencatat bahwa terdapat dua konsep militerisasi yang berbeda: padangan yang lebih terbatas akan ‘bangunan militer’ dan konsep yang lebih luas akan proses yang mengarah pada ‘militerisme’ dalam arti lebih menyukai cara-cara kekerasan dan militer atau ‘militerisme pikiran’. Perang Dunia Kedua jelas telah membentuk dunia tempat tinggal kita, dan perlombaan senjata nuklir jelas membayang-bayanginya, sehingga kita heran akan studi sosial atau budaya yang tak mengakuinya. Secara khusus studi perdamaian jarang sekali bersentuhan dengan napas sejarah dan arus utama ilmu sosial.

Paruh pertama abad 20 menyaksikan hubungan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara perkembangan sosial dan militer. Dalam konteks ‘perang total’, masyarakat menjadi termiliterkan (militarized) dan perang tersosialisasikan (socialized), dengan cara baru. Vagts, dalam istilah klasik membatasi istilah militerisme pada jenis ideologi yang secara aktif mengagungkan perang, persiapan perang yang tak melahirkan perang dengan antusiasme ini, tidak termasuk militeris. Persiapan perang menurut istilah adalah ‘militerisme’. Jika bukan ini masalahnya, apakah istilah ‘persiapan perang’ itu memuaskan? Persiapan perang sendiri sekarang disebut kebijakan ‘pertahanan’ atau ‘pencegahan’, tujuannya adalah menghindari perang dan bukan melawannya, jadi menyamakan ‘militer’ dan ‘militerisme’ tidak memiliki dasar.

Lantas perang yang mereda kenapa militer masih ada? Ada kawasan abu-abu (grey areas) seperti batas antara terorisme dan perang sipil, maka harus ada definisi untuk istilah ini. Tentara dibentuk untuk beberapa alasan yang murni militer – persaingan regional antar Negara, pemberontakan dalam negeri, dan perang sipil – tetapi sering kali sebagai alat politik. Militerisme merupakan watak dari organisasi sosial semua masyarakat kelas dan bahwa kapitalisme memproduksi bentuk militerismenya sendiri yang aktif. ‘Partisipasi’ dan ‘mobilisasi’ adalah konsep sisi dua yang penting bagi militerisme dan militerisasi.

Dewasa ini demo buruh dan gejolak UU begitu hangat di berita. Marx melihat kelas pekerja industri modern sebagai kelompok yang mampu melakukan jenis kekerasan revolusioner yang baru yang lebih disiplin dibandingkan dengan kelas-kelas subordinat sebelumnya. Tak ada yang menimbulkan populasi yang lebih terkonsentrasi dna termobilisasi dari masyarakat industri maju di abad ini kecuali perang.

Masa mengubah banyak hal. Militerisme tahun 1930-an berbeda dengan militerisme sebelum tahun 1914, terkait dengan Fasisme, Sosialisme, dan demokrasi: Konflik internasional menyatu menjadi perang ideologis. Tahun 2000-an dan tahun 2010-an saja sudah banyak sekali perbedaan, teknologi benar-benar mengubah perilaku dan kehidupan sosial. Abad nuklir telah melahirkan taruhan besar. Ia mengubah aturan dasar tatanan militer dan cara di mana perang dan persiapan perang memengaruhi masyarakat. Secara khusus, ia meruntuhkan militerisme klasik dan perannya dalam masyarakat.

Kekuatan segera tergantung kekuatan ekonominya dan untuk memobilisasinya secara penuh, Negara perlu memobilisasi masyarakatnya dalam bidang budaya, politik, dan ideologi. Perubahan sosio-ekonomi yang ditimbulkan oleh lahirnya kapitalisme, dan menyusul kemudian industrialisme, jelas melibatkan militerisme Negara-bangsa ini. Pengeluaran yang besar untuk militer telah menciptakan masalah ekonomi yang memaksa para pemimpin politik mencari jalan untuk menguranginya. Teknologi lebih penting ketimbang manpower dalam perang modern.

Perang bisa dilihat sebagai ‘kelanjutan dari kebijakan dengan cara-cara lain’ (meskipun, sebagaimana yang dipahami oleh Clausewitz, ia lebih dari sekadar perluasan politik). Pada umumnya anggaran militer Dunia Ketiga tetap kurang dari seperlima keseluruhan anggaran dunia, bahkan anggaran-anggaran Negara-negara paling kuat tidak bisa menyamai menyamai angka anggaran Negara-negara besar Barat, apalagi superpower.

Dengan tidak adanya langkah-langkah efektif dalam upaya gencatan senjata, yang dijanjikan oleh Negara-negara pemilik nuklir pada saat penandatanganan Non-Proliferation Treaty, banyak Negara-negara baru melihat senjata nuklir sebagai simbol status international. Namun demikian, banyak Negara yang mempunyai kemampuan senjata nuklir adalah Negara yang terlibat konflik regional aktif. ‘Independesi’ pertahanan Inggris lebih pada simbol politik daripada realitas militer, menentukan peran khusus Inggris dalam blok Barat dan mengimbangi inferioritas ekonominya dari Jerman dan Prancis dan perannya yang marjinal dalam masyarakat Eropa.

Militer pada dasarnya tetap dibawah naungan politik, dan militer itu kuat karena AS dan Soviet adalah Negara superpower yang terjebak dalam persaingan militer. Perang nuklir yang kecil sekalipun akan menjadi malapetakan besar bagi keseluruhan peradaban industri. Hubungan yang jelas antara timbulnya perang dan pembentukan Negara Dunia Ketiga. Perang sipil bukan hanya watak dari periode colonial, tetapi harus menjadi karakter di banyak Negara merdeka, di mana tantangan etnis, nasional. regional masih tetap ada.

Munculnya AS sebagai superpower yang memiliki bom atom, telah mendorong berbagai masalah militer ke pusat sistem kekuasaan, sebagai masalah yang menentukan bagi semua kelompok elit kekuasaan. Sosiologi militer umumnya difokuskan pada organisasi militer, menurut Jacques von Doornsosiologi militer’ sebagai ‘suatu disiplin yang difokuskan pada institusi sosial yang bersifat khusus’.

Militer tidak lagi menjadi sumber pengaruh dalam masyarakat secara luas, melampaui wilayah yang telah ditetapkan oleh masyakarat. Jerman dan Jepang merupakan pewaris militerisme klasik yang paling kuat. Tetapi pada dasarnya dilarang mereproduksi kembali berdasarkan konstitusi yang ditetapkan AS dan Negara-negara pemenang perang lainnya setelah PD II.

Untuk beberapa generasi, yang masih hidup hingga saat ini, jika bukan berupa pengalaman perang nyata, menjadi pengalaman fundamental akan menjadi pengalaman transisi menuju kedewasaan. Wajib militer, tujuan akhirnya adalah pertahanan psikis, bukannya menghapus hak Negara untuk mobilitas warganya. ‘Ancaman’ adalah umum dan abstrak karena tidak terdapat ancaman invasi atau penyerbuan yang benar-benar nyata.

Kenangan perang, terutama tahun 1938-1945 ditanamkan media massa. Film-film perang lama, Amerika yang kurang ajar dan Inggris yang ugal-ugalan masih menjadi sajian utama televisi. Hiburan ‘adegan perang’ dalam film menunjukkan ambivalensi pada pesta pora pembunuhan yang mencapai puncak. Organisasi militer biasanya otoriter, personil yang berpangkat lebih rendah mempunyai resiko mendapatkan perlakuan sewenang-wenang oleh, atau mendapat sanksi, perwira yang lebih tinggi pangkatnya.

Pada masa konfrontasi diganti dengan kerja sama, maka hanya akan terjadi sedikit persolan pada soal pertahanan – yang mana, dengan demikian hanya dibutuhkan tentara yang lebih kecil, periode tugas militer yang lebih pendek, kerja militer yang lebih sedikit dan anggaran yang dikeluarkan untuk keperluan pertahanan yang juga lebih kecil.

Tembok Berlin runtuh bukan karena negosiasi Timur-Barat, melainkan akibat aksi rakyat di jalan-jalan Leipzig, Berlin dan kota lain. Runtuhnya Tembok Berlin yang membuka visi akan Eropa bersatu akan didasarkan atas perdamaian, demokrasi, dan kerja sama ekonomi dengan membangun hubungan baru dengan Amerika Utara serta Soviet. “Pengeluaran militer pasti merusak kesejahteraan ekonomi meskipun ia memiliki keuntungan ekonomi yang positif.” Orang-orang muda bisa bebas dari kekhawatiran mati muda dalam medan perang yang menghantui generasi sebelumnya. Perbaikan kesehatan dan standar hidup memungkinkan untuk menyongsong kehidupan masa depan yang damai yang berlaku bagi semua orang tanpa kecuali.

Perang di sebagian besar masyarakat dipahami sebagai hak prerogatif laki-laki, dan sifat suka perang (warlikeness) adalah lambing kejantanan. Feminitas sebaliknya, dikaitkan dengan perdamaian, sekaligus kepasifan. Pada tahun 1990-an setelah dua perang dunia dan Vietnam, warisan kekecewaan perang menimpa militerisme, dan ini dibarengi dengan demobilisasi angkatan perang untuk memperkuat demiliterisasi masyarakat.

Keluhan utama adalah jilid yang buruk, baru mulai baca, kertas pada rontok. Lemnya nggak bagus, sehingga udah lepas kover luarnya. Lalu satu per satu lembar dalam juga turut terburai. Padahal saya kalau baca buku khusus selalu hati-hati, untuk terbitan PP ini dengan Penulis beken dari luar, saya sudah upayakan tidak sambil tiduran, tidak sembarangan naruh, tapi memang dasarnya lem lemah. Menjual nama Anthony Giddens, yang beberapa bulan lalu kubaca sangat bagus, menjadi tertarik pada ilmu sosioligi.

Karya ini berdasarkan atas asumsi bahwa perang melibatkan seperangkat proses sosial yang berkaitan dengan proses-proses lain dalam masyarakat. Perpektif diambil dalam kajian masalah perang secara umum adalah perpektif sosiologis.

Terlalu tergesa-gesa meramalkan senjata nuklir tidak akan dipakai, dalam konteks perang besar di Dunia Ketiga, ketika kekuatan yang mampu menggunakan nuklir merasa terancam oleh kekalahan senjata konvensional. Pasar, kapitalisme, dan industrialism tumbuh dalam kerangka sistem Negara internasional, dimana sudah terdapat konflik militer.

Fans Timnas Inggris pada tahun 1988 mengeluh, “Dulu kalian dianggap patriot di Perang Falklands dan segala macamnya. Tetapi (aku) tidak ingin tahu, sekarang ini (zamannya) adalah sepakbola.” Betul juga, Liga Inggris mengambilalih dunia militer, damai yang dicita-cita secara nir-kekerasan fisik bisa mungkin terwujud.

Kemunduran militerisme bisa dibandingkan dengan kemunduran agama resmi dan budaya serta ideologi politik yang berbasis kelas yang mana keduanya menjadi karakter yang mencolok dari masyarakat Inggris dalam beberapa dekade terakhir. Militer tetap menjadi agen ‘upaya terakhir’ dalam pertahanan internal Negara. Dan ini semacam, hanya pertahanan namanya sudah pas Kementerian Pertahanan, bukan untuk perang besar berikutnya, tapi defend, bertahan. Pantas Prabowo nggak jelas kerjanya, kamera tak menyorot beliau. Eh eh… gmana?

Setiap masalah bisa dipecahkan jika teknologi dan dana digunakan dengan dosis yang tinggi. Argumen Ross bahwa apa yang sering kali dideskripsikan sebagai militerisasi di Dunia Ketiga (atau ‘militerisasi global’) lebih merupakan bangunan militer daripada militerisasi sosial. Nah kan?!

Bebas dari Militer: Analisis Sosiologis atas Kecenderungan Masyarakat Modern | by Martin Shaw | Diterjemahkan dari Post-Military Society: Militerism, Demilitarization and War at the End of the Twentieth Century | Terbitan Polity Press bekerja sama dengan Basil Blackwell, 1991 | Penerjemah Imam Baehaqie | Editor Kamdani | Cetakan I, Januari 2001 | PP. 2001.03 | Desain cover Si Ong (Harry Wahyu) | Tata Letak Dwi Agus M. | Penerbit Pustaka Pelajar | ISBN 979-9289-54-8 | Skor: 4/5

Karawang, 301020 – Linkin Park – P5hng Me A’wy

Kubaca mulai di Sabtu pagi, 24 Oktober selesai Kamis pagi, 29 Oktober saat libur Maulid NAbi SAW. Thx to Buku Vide, Yogya

Mabuk Hingga Matahari Terbit, Berbicara tentang Kesusastraan

Bagaimana Aku Menjadi Penulis by Gabriel Garcia Marquez

Sekali menulis menjadi menjadi kejahatan utama dan kenikmatan terbesar, hanya ajal yang bisa mengakhirinya.”

Ini adalah kumpulan esai penulis nomor satu di daftar novel terbaik LBP. Seru sekali membaca curhatan Penulis favorit, seperti saat pertama kalinya melihat dan menyapa dari jarak jauh penulis idola beliau: Ernest Hemingway di Paris. Sekadar teriak woooy… dibalas lambaian tangan saja, sudah bikin hepi. Bayangkan, suatu saat ketemu Seno Gumira Ajidarma lalu diajungi jempol. Hahaha… sedemikian bagus sampai-sampai hal biasa tampak menyenangkan. Atau cerita beliau ketika melakukan wawancara di udara, terdengar menarik sekali, sang narasumber punya waktu sempit, penulis harus menyesuaikan. Terutama sekali cerita beliau saat proses menulis buku paling fenomenalnya, ‘Seratus Tahun Kesunyian’. Mematikan karakter favorit membuatnya menangis tersedu-sedu dalam pelukan istri, betapa mendalam perasaan Sang Penulis terhadap tokoh rekaannya. Dan fakta bahwa ia tak suka fantasi karena segala yang ‘ngawang-awang’ terasa palsu. Jadi semua buku beliau berdasar semacam rekonstruksi kehidupan, tak ada unsur fantasi? Yup, termasuk adegan dramatis ruh yang terbang? Ya. Itu berdasarkan mimpi, ia mengelola sebuah mimpi menjadi adegan yang terlihat nyata. Hhhmmm… menariq.

Berisi delapan tulisan yang diambil dari berbagai sumber. Menarik, Circa mengumpulkan tulisan berserak lalu membundle-nya dalam buku ini.

#1. Tantangan: Seorang Penulis Muda Membuktikan Diri (2003)

Ini tentang pengalaman mula Gabriel Garcia Marquez menjadi penulis, mahasiswa yang berjuang menembus Koran nasional, lalu berbagi kisah bagaimana proses itu mencipta karya. Mendemonstrasikan fakta itu tidak perlu: sudah cukup bagi sang pengarang jika menulis sesuatu agar menjadi benar, tanpa bukti selain dari kekuatan bakatnya dan wibawa suaranya.

Membagi tips mencipta kerangka. Kau harus lebih dulu membayangkan cerita dan baru kemudian gaya. Lalu pilihan bacanya, aku harus membaca karya-karya Yunani secara mendalam dan tidak bias dan bukan hanya Homer.

Dan salah satu ide muncul dalam banyak kemungkinan. Ia ingin ada di dalam badan kucing yang sedang ia elus-elus di pangkuannya. Aku bertanya kenapa, dan ia menjawab: “Karena ia lebih cantik ketimbang aku.” Lalu muncullah cerita berjudul, “Eva di Dalam Badan Kucingnya.” Selanjutnya cerita sebagaimana sebelumnya, diciptakan dari ketiadaan dan dengan alasan serupa – seperti yang biasa dikatakan orang pada zaman itu. Cerita itu mengandung benih-benih kehancurannya sendiri.

#2. Gabriel Garcia Marquez Bertemu Ernest Hemingway (1981)

Ini lucu. “Adiooos, amigo!” hanya kali itulah aku melihatnya. Pengalaman satu kali bertemu idola di Paris, dari jarak jauh dan hanya dilambaikan tangan dengan satu kalimat tersebut. Pengaruh kepenulisan beliau, jelas salah satunya dari Hemingway. Para novelis membaca novel karya novelis lain untuk memahami bagaimana novel itu ditulis.

Dalam wawancara bersejarah George Plimpton di The Paris Review, ia selalu menunjukkan bahwa – bertentangan dengan gagasan Romantik tentang kreativitas – kenyamanan ekonomi dan kesehatan yang baik adalah kondusif untuk menulis; bahwa salah satu kesulitan utama adalah menata kata-kata dengan baik; bahwa saat menulis menjadi sulit, sebaiknya membaca buku kembali karya sendiri untuk mengingat bahwa menulis memang selalu berat.

Benar banget nasehatnya. Kenyamanan ekonomi dan kesehatan tetaplah ada di posisi utama. Pekerjaan seseorang hanya boleh dijeda saat ia tahu tempat untuk memulainya lagi keesokan hari.

#3. Fidel yang Kukenal (2006)

Pendapat beliau tentang Fidel Castro. Hanya berisi dua lembar tulisan. Ajudannya yang paling utama adalah ingatannya dan ia menggunakannya, hingga mencapai kadar menyalahgunakan. “Kau menyembunyikan kebenaran dariku agar tidak membuatku khawatir.”

#4. Gabriel Marquez tentang Hugo Chavez (2014)

Pendapat beliau tentang Hugo Chavez. Ia menggunakan kata konspirasi hanya dalam pengertian figuratif, yaitu menarik orang agar berkumpul demi sebuah tujuan bersama yang disepakati bersama.

Wawancara ini terjadi tahun 1999, dua minggu sebelum pelantikannya, di atas pesawat Angkatan Udara Venezuela dari Havana ke Caracas. Bercerita banyak tentang masa muda sang Presiden, bagaimana Venezuela berkembang stagnan, dan keinginan melakukan perubahan radikal.

#5. Kenapa Allende Harus Mati (2013)

Menasionalkan perusahaan milik asing dengan tema ‘Cilenisasi’, membeli sahamnya 51% dari property pertambangan yang dikuasai AS. Pengalaman terlambat mengajarinya bahwa sebuah sistem tidak dapat diubah oleh pemerintah yang tak punya kekuasaan. Tunduk dengan nyaman kepada para perebut kekuasaan; membeli kebebasan partai-partai oposisi yang telah menjual jiwanya kepada fasisme.

Presiden Allende memang bilang, rakyat memegang pemerintahan, tetapi tidak memegang kekuasaan. Dan Allende mati dalam baku tembak melawan gerombolan, beberapa saat setelah ia berteriak ‘Penghianat’ kepada jenderal Augusto Olivares lalu menembak tangannya.

#6. Wawancara dengan Gabriel Garcia Marquez (1980)

Yang sangat penting, jurnalisme adalah sebuah cara hidup, untuk mencari uang saat menulis. Ini tulisan paling keren. Disusun runut dalam bentuk wawancara antara Advocate dan sang Penulis. Isinya padat dan bervitamin, seru sehingga kita banyak mengetahui pandangan dan hal-hal yang patut dinikmati sebagai pecinta sastra. Jika hidup tidak memberi saya fakta, saya tidak mampu menciptakan fakta. Para penulis, formula literer terbaik adalah kebenaran.

Beberapa saya ketik ulang jawabannya. Saya punya kesan bahwa setiap buku adalah latihan megang untuk buku berikutnya. Ada satu buku yang terbaik, dan itu adalah ‘Tak Ada yang Menulis Surat Pada Kolonel’, kadang saya berkata sambil bergurau, tetapi saya memercayainya bahwa saya harus menulis Seratus Tahun Kesunyian agar orang bersedia membaca ‘Tak Ada yang Menulis Surat Pada Kolonel’

Pada dasarnya keduanya punya tema yang sama; keduanya monolog tentang seonggok mayat. Sebuah formula yang memungkinkan Anda untuk mengenali karakter tanpa harus mengungkapkan namanya. Yang individual berakhir dengan maut, tetapi jika Anda berpikir tentang spesies, Anda menyadari bahwa itu abadi.

Sartre berkata bahwa kesadaran kelas bermula saat kita menyadari bahwa kita tidak bisa berubah kelas, kita tidak bisa pindah dari satu kelas ke kelas lain.

Kesusastraan Amerika Latin merupakan cabang kesusastraan Spanyol. Kami semua pada akhirnya merupakan anak-cucu Cervantes dan pewaris perpuisian Spanyol. Perhatian utama setiap penulis besar adalah apa yang terjadi pada manusia. Nilai utama kesusastraan berbahasa Spanyol adalah pencarian akan identitas.

Kesusastraan merupakan produk sosial, bahkan walaupun elaborasinya bersifat individual. Dalam konteks Amerika Latin, yang paling saya kagumi adalah orang yang paling sedikit menulis dan itu adalah Juan Rulfo dari Meksiko. Dan nasehat utamanya buat para penulis: “Satu-satunya saran adalah terus menulis dan melanjutkan menulis.

#7. Gabriel Garcia Marquez tentang Menulis 1988)

Menulis adalah sebuah kesenangan. Anda juga pernah berkata bahwa menulis juga merupakan penderitaan murni. Seiring waktu, tindak menulis itu menjadi menyakitkan. Menulis pada malam hari, dan empat puluh batang rokok sehari.

Ini adalah curhat proses kreatif yang diambil dari The Fragrance of Guava: Conversations with Gabriel Garcia Marquez. London: Faber & Faber. Kereeen… beberapa kisah di balik karya. Apakah Anda butuh waktu lama untuk menulis sebuah novel? Jawabnya, “Bukan benar-benat menulisnya. Itu proses yang cukup cepat. Saya menulis Seratus Tahun Kesunyian kurang dari dua tahun. Namun, saya menghabiskan lima belas atau enam belas tahun memikirkan tentang buku itu sebelum saya duduk di depan mesin ketik.”

Kita menulis dengan sangat baik saat kita dikelilingi semua bentuk kenyamanan. Ini profesi paling terpencil di dunia. Tak ada yang bisa membantu Anda menulis apa yang sedang Anda tulis. Pulau gurun pasir pada pagi hari dan kota besar pada malam hari.

William Faulkner berkata, “Tempat sempurna untuk seorang penulis adalah rumah bordir karena sangat tenang pada pagi hari, tetapi setiap malam ada pesta di sana.” Hemingway mengajari Anda banyak hal, bahkan dalam mengapresiasi bagaimana seekor kucing muncul di tikungan.

Kita tidak bisa menciptakan atau mengimajinasikan apa pun yang Anda suka karena Anda akan menghadapi risiko tidak mengungkapkan kebenaran dan dusta itu itu lebih serius dalam sastra ketimbang dalam kehidupan nyata/ Anda bisa membuang rasionalisme, tetapi Anda akan tercebur ke dalam chaos total dan irasionalitas.

Anda harus mempelajari kerajinan menulis – teknik, cara menyusun struktur, persendian tersembunyi yang cermat – saat Anda masih muda. Kami para penulis ini seperti burung beo, kami tidak belajar bicara saat sudah tua. Solusi literer cukup berbeda dari solusi sinematografis. Anda ingin menulis sesuatu, semacam ketegangan resiprokal terbangun antara Anda dan tema Anda. Jadi, Anda bisa memacu tema dan tema pun memacu Anda. Realitas yang direpresentasikan melalui suatu kode rahasia. Realitas yang Anda hadapi dalam novel itu berbeda dari kehidupan nyata walaupun berakar di dalamnya. Begitu juga mimpi. Realitas tidak berbatas hanya pada harga tomat dan telur.

Anda hanya perlu membuka surat kabar untuk melihat hal-hal luar biasa yang terjadi pada kami setiap hari.

#8. Perjalanan Kembali ke Sumber: Wawancara dengan Gabriel Garcia Marquez (2005)

Untuk ketiga kalinya sekaligus penutup buku ini adalah wawancara, kali ini dari VQR, A National Journal of Literature and Discussion, 24 Juni 2005. Ia biasanya terus terang mengenai pendidikannya yang terputus, masa kemiskinan, masa muda yang dihabiskan di rumah-rumah bordil, dan sembuh dari penyakit bisulan lantaran menulis. Saya tidak punya pendidikan literer, bahwa saya menulis dari pengalaman personal, bahwa sumber saya adalah Faulkner, Hemingway, dan para penulis asing lain.

Pengaruh saya, terutama di Kolombia, adalah ektra-literer. Saya menyimak musik jurang dari dua jam dalam sehari. Itulah satu-satunya yang membikin saya santai, menempatkan saya dalam mood yang tepat. Latar belakang saya pada dasarnya adalah puisi, tetapi Puisi yang buruk karena hanya melalui puisi yang buruk Anda memperoleh puisi yang baik.

Hal-hal paling liar, dengan cara yang paling alami.

Anda tidak bisa menjadi penulis tanpa punya trik. Yang penting adalah legitimasi trik-trik itu, sampai titik mana digunakan dan hingga berapa kadarnya. Mungkin cerita terbaik yang pernah saya tahu punya nada tertentu, tidak menimbulkan derau.

.
Buku ini saya beli pas pre-order Agustus tahun lalu. Sempat mengendap lama dalam rak, akhirya kesempatan baca muncul dua bulan lalu bareng Emberto Eco. Menyenangkan sekali melahap potongan-potongan yang disaji Penulis Besar. Kita tak akan menemukannya dalam fiksi karya mereka, dengan munculnya buku-buku proses kreatif, esai, wawancara, dst seperti ini kita akan belajar betapa menulis memang membutuhkan kekuatan hebat, sabar, dan eheemmm… prinsip kuat. Kami akan mabuk hingga matahari terbit, berbicara tentang kesusastraan.

Bagaimana Aku Menjadi Penulis | by Gabriel Garcia Marquez | Diterjemahkan dari berbagai sumber | Penerbit Circa | Penerjemah An Ismanto | Penyunting Anis Mashlihatin | Perancang sampul dan Isi Agus Teriyana | vi + 140 hlm; 13 x 19 cm | Cetakan pertama, Juli 2019 | ISBN 978-623-90087-6-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 291020 – Woody Guthrie – This Land is Your Land (1944)

Thx to Dema Buku

15 Sastra Klasik Tanah Air

Buku dan Pengarang by Yus Badudu

Tetapi Yusuf, hidup kita ialah kerja.” – Tuti, dalam Layar Terkembang.

Saya sedang menikmati baca ulang buku-buku lama, saya beli buku ini Januari 2008, saya nikmati rangkumannya waktu itu untuk mempelajari Sastra lokal. Sebagian sudah kita ketahui di masa sekolah, hanya sebagian kecil yang benar-benar sudah dibaca tuntas. Lumayan nyaman, menikmati ringkasan dan ulasan singkat tiap buku. Proses kreatif, analisis, dan bagaimana masa itu buku itu terbit. Berisi 15 buku yang sudah diakui hebat, dan status legend Sastra kita. So pasti akan kubaca satu per satu semuanya, hanya masalah waktu saja akan tuntas.

#1. Siti NurbayaMarah Rusli (1922)

Tonggak sejarah sastra tanah air, sebelum Sumpah Pemuda novel Sumatra tentang kasih tak sampai. Semua orang rasanya sudah tahu tentang apa ini, Siti Nurbaya yang menanti Syamsulbahri, dijodohkan sama Datuk Meringgih yang sudah tua karena utang, sampai pada pertentangan budaya lokal. Ini menjadikan terasa klasik sekali, jagoan menang sekaligus meringis.

Roman bertendens sebab yang utama dalam kisah ini bukanlah kisah cinta itu sendiri, melainkan hal-hal mengenai adat istiadat Minangkabau, yang oleh Marah sebagai adat using yang tak sesuai zaman. Novel ini menjadi pelopor sastra baru, meninggalkan sifat-sifat cerita lama yang intanasentris, meninggalkan bentuk dongeng dan hikayat. Memasuki dunia kenyataan, melepaskan diri dari ikatan khayal dan fantasi.

#2. Salah AsuhanAbdul Muis (1928)

Bersama Siti Nurbaya, adalah puncak Generasi Balai Pustaka. Dianggap lebih maju sebab masalah, percakapan dan olahkata lebih menarik. Modernitas yang coba disodorkan kala itu menjadi tema yang penuh sentimen. Zaman Indonesia belum merdeka, segala yang berbau Holland terasa maju dan gaul, maka Hanapi yang dididik untuk lebih beradab memilih gaul sama orang kalangan atas. Sekolah di HIS lalu HBS dengan maksud menjadi orang pandai, modern, tidak seperti anak-anak di kampung. Membentuknya menjadi orang kebarat-baratan. Cintanya kepada Corrie du Bussee blesteran Prancis-Indonesia awalnya bertepuk sebelah tangan, berjalannya waktu kenangan menjadi benalu kuat yang mengikat leher.

Roman tendens yang sejatinya mengalami perubahan ending. Sejatinya Abdul Muis tak bermaksud mengakhiri kisah ini dengan seperti yang kita kenal, tapi akhirnya sang Penulis membiarkan apa adanya tanpa mengungkap lebih. Kawin paksa memang masih menjadi tema tahun 1920-an.

#3. Kasih Tak TerlaraiSuman Hasibuan (1931)

Roman kecil: secara ukuran, persoalan, mutu. Hanya 57 halaman, persoalan tak mendalam, dan semuanya jelas tanpa ending menggantung. Mungkin lebih ke roman picisan, oleh Profesor Teeuw menggolongkan buku ini sebagai bukan ‘kesusastraan’ melainkan ke ‘bacaan lancar dan menyegarkan’. Dan pada akhirnya menjadi bacaan jenaka, untuk hiburan.

Tentang Taram seorang anak angkat batin kampung, agama baru yang masuk kampung Islam, dan di kampung kecil seorang bunga desa Nurhaida yang menimbulkan Taram jatuh hati. Cinta keduanya sih klik, tapi lamaran batin kampung itu ditolak oleh Encik Abbas, orang tua Nurhaida sebab asal-usulnya yang tak jelas.

Maka mereka kawin lari, dan kehidupan baru kedua remaja dimabuk cinta itu dimulai. Penuh teka-teki dan sindiran halus terkait adat dan budaya, kisah ini benar-benar absurd nan jenaka, happy ending yang rada aneh sebab berkali-kali keganjilan tersaji. Kata Sutan Takdir, “Dalam roman dan cerita pendeknya, kita bersua dengan bahasa yang segar dan tidak kaku sedikit jua pun dan yang dapat membayangkan corak perasaan yang sehalus-halusnya.”

#4. Kalau Tak UntungSelasih (1933)

Nama aslinya adalah Sariamin, menggunakan nama pena Selasih atau Seleguri. Tahun 1930-an belum banyak penulis wanita. Kisahnya tentang kehidupan sehari-hari terkait kesedihan batin yang tersembunyi dan karena ia wanita, maka dapatlah dirasakan kehalusannya.

Orang tua Rasmani tergolong miskin, tapi untuk pendidikan anak-anaknya mereka berikan yang terbaik. Masrul adalah teman sepermainannya, selepas lulus sekolah ia menjadi juru tulis dan sempat akan dijodohkan Aminah sebelum berangkat ke Painan, tapi menolak sebab ia buta huruf. Ia memberi waktu untuknya asal Aminah selama tiga tahun diajar baca tulis. Selama di perantauan Rasmani surat-menyurat walau tak ada kata cinta, dan bisa ditebak mereka saling jatuh hati, tapi akhirnya karam. Di masa depan ada gejolak, begitulah kisah cinta semestinya dituturkan.

#5. Katak Hendak Menjadi LembuNur St. Iskandar (1935)

Ini bisa jadi paket lengkap, berhasil secara cerita dan hiburan. Suria seorang mantra di Sumedang. Sombong, gila hormat, egois, boros. Gajinya yang tak seberapa, tapi gayanya tinggi. Ayahnya yang kaya memang membuatnya bisa bermewah, tapi sampai kapan? Istrinya Zubaedah menanggung kepahitan. Utang, kegagalan karier, membawa kabur kas, niat nikah lagi, runyam sejak dalam pikiran. Sebuah gambaran sempurna peribahasa, ‘besar pasak daripada tiang’.

#6. Kehilangan Mestika Hamidah (1935)

Satu-satunya buku karya Hamidah, nama pena dari Nyonya Fatimah Hasan Delais. Terasa ke-aku-an sebab mengambil sudut pandang orang pertama, sehingga terasa sekali ini seperti memoar dibalut sedikit imaji. Cerita ‘Aku’, karakter tanpa nama adalah guru (sama seperti Penulisnya) ditinggal mati ibunya saat berusia empat tahun. Bersetting di Mutok (Pulau Bangka), Palembang dan Jakarta. Kisah cinta ‘Aku’ mengalami pasang surut dengan Idrus tunangannya. Sebuah protes seorang wanita pada tindakan masyarakat pada umumnya.

#7. Layar TerkembangSt. Takdir Alisyahbana (1936)

Bisa jadi ini adalah novel yang paling sering dibahas di buku Bahasa Indonesia, sebab dari SD, SMP, SMA ada bahasan cinta yang ditukar ini. Walau hanya penggalan paragraf atau sekadar kutipan, kisah pilu Maria akan selalu melekat semua anak didik. Ini merupakan puncak Roman Bertendens Pujangga Baru, yang disusul Belenggu.

Terbagi dalam dua bagian, pertama tentang Yusuf, mahasiswa Fakultas Kedokteran berteman dengan Tuti dan Maria, anak Wedana pensiunan R. Wiriaatmaja. Berjalannya waktu ada benih cinta antara Yusuf dan Maria, di Dago keduanya resmi berpacaran. Tuti yang idealis dan liberal menasehati adiknya agar jangan terlalu mengumbar kasih, agar lelaki tak memandang rendah wanita. Dan yah, kalian pasti sudah hapal akhirnya. Adegan di rumah sakit dan pemakaman nan haru.

#8. I Swasta Setahun di BendahuluIGN Panji Tisna (1938)

Bali yang indah dalam intrik istana. Peranan karma dalam kehidupan manusia. Setiap manusia memiliki karmanya masing-masing. Setiap perbuatan jahat yang dilakukan seorang selama hidupnya akan dirasakan pembalasannya oleh Sang Hyang Widhi selama hidupnya terhadap dirinya sendiri atau setelah matinya terhadap keturunannya. Itu pasti dan tak dapat tidak.

I Swasta alias I Emarawima, hulubalang raja. Ni Nogati, pengasuh putra baginda Maharaja Udayana, dia kekasih hulubalang raja I Lastya. I Jadara, juga hulubalang raja. Mereka bertiga tinggal serumah. Arya Bera, menteri busuk yang tergila-gila sama Ni Nagoti. Dan pembunuhan harimau memulai drama ini.

#9. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Hamka (1938)

Satu-satunya buku yang sudah kuulas di blog. Duo buku Hamka sudah punya, memang memikat meletakkan cinta suci dalam cerita, menjadikan tragedi saat cinta itu tak bertautan, bukan karena tak saling mencinta tapi lebih ke miss-komunikasi. Teknologi mungkin bisa mengubah tradisi, tapi isi hati tetaplah misteri untuk orang lain. Hayati yang menuruti kemauan jodoh orang tua mencipta belenggu janji mati Zainudin, dan itu malah menyakiti relung terdalam. Kata-kata puitik yang disaji sungguh indah.

Orang bersuku berhindu berkaum kerabat, bukan sembarang orang.” Kasih tak sampai dengan budaya Minang yang kental. Agama, adat menjadi tameng untuk hati yang patah. Permatanya yang hilang.

#10. BelengguArmijn Pane (1940)

Gaya realistis cenderung naturalistis. Ini gaya baru, masyarakat belum pernah membaca novel lokal dengan gaya semacam ini, makanya Balai Pustaka yang pertama disodori naskah meminta revisi beberapa bagian, sama Pane ditolak sehingga terbit oleh Pustaka Rakyat. “Kalau keyakinan sudah menjadi pohon beringin, robohlah segala pertimbangan lain-lain. Perahu tumpangan keyakinanku, berlayarlah engkau jangan enggan menempuh angin rebut, tiupan badai, ke tempat pelabuhan yang hendak engkau tuju. Berlayarlah engkau ke dunia baru.”

Tentang Tini dan Tono yang absurd, polanya acak.

#11. Sedih dan GembiraUsmar Ismail (1948)

Tiga buah drama: Citra, api, dan Liburan Seniman. Mengandung propaganda Dai Nippon tentang semangat kerja, harus berswasembada pangan, penanaman kapas agar tak impor, seniman harus membantu pemerintah memberi semangat kerja rakyatnya dan menyelesaikan peperangan melawan Sekutu dengan join barisan ‘jibaku’ untuk tanah air (nyatanya menjadi budak Jepang).

#12. AtheisAchdiat Kartamiharja (1949)

Roman jiwa dengan menekankan pergolakan jiwa Hasan yang terombang-ambing. Menjadinya pelamun, goyah pendirian, ragu pada panutan, akhirnya kebimbangan pula yang menjerumuskannya pada kehancuran. Tak ada kawin paksa, ini tentang adat yang mengukung kebebasan kaum muda, bicara emansipasi wanita, tentang isme yang mendesak dari Barat. Hasan yang seorang Islam Ortodoks goyah imannya oleh Marxisme dan atheisme.

Ada tiga manusia di sini, theis sungguh yang percaya pada Tuhan sebulat-bulatnya percaya, di sini ada Raden Wiradikarta, ayah Hasan. Atheis yang tak percaya Tuhan digambarakan oleh Rusli yang berpanutan Marxisme dan Anwar yang anarkis. Dan jenis ketiga ya Hasan, terombang-ambing diantara atheis dan theis, ragu dan bimbang.

#13. Mekar Karena MemarAlex L. Tobing (1959)

Berisi dua cerita: ‘Perkenalan dengan Harga Manusia’ dan ‘Pudar Menjelang Kilau’. Keduanya menampilkan tokoh-tokoh mahasiswa kedokteran. Terbagi dalam empat bagian: Con brio (dengan giat), Con sentiment (dengan perasaan), Con dolore (dengan dukacita), dan Con spiritio (dengan semangat). Pengarang menulis buku ini adalah wakil si ‘ahli bedah’ sehingga menggunakan kata ‘aku’.

Ini adalah satu-satunya novel karangan beliau, sempat kurang sreg sama bukunya ia seharusnya lebih bisa nulis berbobot sebagai dokter, justru nasib mengantarnya jauh dari dunia buku. Tahun 1973 ia ke Amerika dan menetap di sana sebagai dokter spesialis psikiatri.

#14. Hati yang DamaiNH Dini (1960)

Nama lengkapnya Nurhayati Suhandini. Tentang Dati, istri penerbang Wija. Pernikahan bukan berlandas cinta. Cinta Dati tertambat sama teman sekolahnya Sidik, gitaris semasa sekolah. Sementara Nardi sahabat Sidik jatuh hati sama Dati, tapi Dati yang sudah memilih hati Sidik tak kuasa menerima sebab akan menghancurkan persahabatan mereka, makanya ia pergi dari keduanya dan memilih Wija.

Di masa depan yang jauh, ketiga menjadi pribadi dengan takdir masing-masing. Kenangan, sekali lagi menjerat leher para penyimpannya. “Kau tak perlu takut, aku sudah lama mengetahuinya.

#15. Pagar Kawat Berduri Trisnoyuwono (1961)

Herman dan Toto yang diberi tugas mencari Kapten Krisna sama markas untuk menyusup ke daerah penduduk tertangkap. Ia disiksa di habis-habisan oleh markas IVG Salatiga oleh tentara Belanda, sersan Michel Jayusman. Dalam siksaan dipaksa mengaku bahwa mereka adalah gerilyawan pejuang Indonesia. Dalam tahanan bertemu Suparman, dan menduga inilah yang mereka cari.
Komandan kamp Letnan De Groot kejam dan tak berperikemanusiaan, lalu diganti Sersan Mayor Koenen yang lebih lembut dan penyayang, mereka mengisi waktu main catur. Dan pertaruhan bertahan hidup, sampai kapan? Terdengar tembakan di luar. Tawanan dan penjaga gempar, inilah sisi terdalam manusia ketika dalam pilihan antara hidup mati, terkadang logika nggak jalan. Baik Belanda, pribumi, tak ada sisi pasti. Hati manusia yang abu-abu menggelayut dalam kehidupan yang fana ini.

Buku dan Pengarang | by Yus Badudu | Copyright 2008 | Perancang sampul Nasya Badudu | Pengatur tata letak Sari Badudu | ISBN 979-17710-0-6 | Cetakan pertama setelah revisi, Maret 2008 | Penerbit Khazanah Bahari | Skor: 4/5

Karawang, 271020 – Ozzy Osbourne – Goodbye To Romance

Di Sana Angin dan Matahari Hanya Membicarakan Kesepian

Summer by Albert Camus

Aku merasa bahwa dewa-dewa yang kehilangan sesuatu begitu lama karena tidak ada yang bangkit menentang mereka. Promethous di Kaukasus, Lucian.

Saya sudah berulang kali mencoba membacanya, kubeli tahun 2015, kucoba baca setidaknya empat kali, tidak kelar. Baru awal tahun 2018 selesai juga, tapi masih bingung sebab beberapa hal masih tanda tanya, barulah bulan Agustus saya tuntaskan sekali lagi. Memang ya, Bapaknya Absurditas ini selalu membuat tulisan yang tak biasa. Setelah ketunda sebulan lebih buat ulas, kalau ku nggak segera tulis takutnya bakalan terbengkelai lagi.

Menulis esai tentang kehidupan sehari-hari di tempat beliau tumbuh kembang. Terlahir di Aljazair, tulisan dalam Summer bercerita tentang kehidupan Camus di sana. Keseharian dan kewajaran yang manusiawi.

Saking banyaknya kutipan keren, saya tulis ulang sahaja. Silakan dinikmati. Well, Camus tak pernah mengecewakan. Makin sayang sama pemikiran beliau yang liar dan memesona.

#1. Minotaur atau Perhentian di Oran (1939)

Untuk Pierre Galindo

Mereka sendirian dan juga tidak sendirian. Namun dua juga bisa berupa kerumunan.

Di sana, saling bertumpuk di atas yang lainnya, kau menemukan anjing pacuan dari pualam, penari balet danau-angsa, Diana Sang Pemburu Wanita dalam lingkaran hijau, pelempar cakram dan perkamen, segalanya yang berguna sebagai hadiah perkawinan atau ulang tahun, keseluruhan populasi yang depresi dengan sosok jin komersial dan pengejek tak henti-hentinya berseru kepada hiasan perapian kita.

Di mana pemiliknya tidak pernah berhenti tersenyum meskipun tempat itu selalu kosong.

Cumbuan di antara keanggunan yang penuh kemenangan, semua kegairahan nyanyian tak peduli yang memudar dengan datangnya malam.
Perkataan Klestakoff: “Kita harus terlibat dalam hal-hal yang lebih bernilai.”

Descartes menulis kepada Balzac, sekarang sudah tua, “Setiap hari aku berjalan-jalan melewati kebingungan sejumlah besar orang dengan kebebasan dan keheningan sebanyak yang kau temui di jalan kecilmu.”

Apa yang menarik dari kekosongan, dari kejemuan, dari langit yang tak peduli? Kesunyian, pasti, dan mungkin juga umat manusia.

Diskusi yang panas disertai dengan letupan berulang dari gabus botol-botol limun dan ratapan yang tak henti-hentinya dari penyanyi Korsika.
Tetangga saya yang gemar bicara tentang semangat keolahragaan, bertepuk tangan pura-pura, membisikan pada saya, sementara itu dengan suara serak karena terlalu banyak berteriak, “Lihat, mereka tidak akan sanggup bicara di bawah sana bahwa warga Oran adalah biadap.”

Perwakilan dari sifat baik mereka yang meyakinkan: La Maison Colon. Dengan menilai dari bangunan ini, sifat baik itu ada tiga jumlahnya: ketegasan cita-rasa, cinta akan kekejaman, dan pengertian sintetis sejarah.

Bahkan kehendak itu tak diragukan lagi, sangat serampangan. Tetapi kewajiban manusialah yang memindahkan benda-benda: ia harus memiliki di antara melakukan hal itu atau tidka melakukan apapun sama sekali.
Ibu kota kebosanan, dikepung oleh kemurnian dan keindahan, dikurung oleh bala tentara yang kaya akan serdadu dan juga batu.

Ketiadaan tidak lagi ada dalam genggaman kita seperti halnya kemutlakan. Tetapi karena kita menerimanya sebagai bukti keanggunan, tanda-tanda abadi yang muncul atau penderitaan manusia yang bisa melanda kita, mari kita juga tidak menolak undangan untuk tidur yang jarang ini, yang dianugerahkan kepada kita oleh bumi. Yang kedua sama benarnya dengan yang pertama.

#2. Pohon Buah Badam (1940)

Kita tidak tahu apakah itu kejahatan, namun kita tahu itu kenyataan.

Manusia tidak pernah berhenti tumbuh dalam penegetahuan mengenai nasibnya.

Kita tahu bahwa kita hidup dalam kontradiksi ini dan
Memang benar kita hidup di zaman tragis. Namun terlalu banyak orang keliru antara tragedi dan putus asa. Tragedi kata Lawrence, ‘bisa menjadi sentakan yang indah pada penderitaan’.

Ini gagasan yang sehat dan bisa dipergunakan dengan segera.

Dalam satu malam, satu malam yang dingin dan murni di bulan Februari, pohon-pohon buah badam di Valle des Consuls akan penuh dengan bunga-bunga putih.

Kita tidak boleh memperjuangkan kebahagiaan kita dengan simbol. Kita memerlukan sesuatu yang lebih berbobot.

Dunia ini teracuni oleh penderitaan, dan sepertinya berkubang di dalamnya. Dunia telah benar-benar menyerah kepada kejahatan itu yang disebut Nietzsche spirit of heaviness. Mari kita tidak berkontribusi padanya. Sia-sialah untuk menangisi pikiran, cukuplah untuk bekerja baginya.

#3. Prometheus di Dunia Bawah Sadar (1946)

Prometheus adalah pahlawan yang cukup mencintai manusia untuk memberinya api dan kebebasan, teknologi, dan seni.

Apakah kita tertinggal di belakang, ataukah kita maju ke depan? Akankah kita memiliki kekuatan untuk membuat bunga heather tumbuh kembali?

Jerit Prometheus, “Kau melihat aku diciptakan untuk menderita”.

Mitos tidak bisa hidup dengan sendirinya. Mitos menunggu kita membangunkannya untuk bangkit.
Kita harus mengawetkan mitos ini, dan meyakinkan bahwa masa tidurnya tidak berlangsung selamanya, sehingga kebangkitannya kembali menjadi mungkin.

#4. Panduan Singkat Untuk Kota Tanpa Masa Lalu (1947)

Ketika jam tidur siang membawa kejemuan di kota itu, tidak terdapat keharuan maupun melankoli dalam kesedihannya.

Maka matahari membuat mata mereka sayu seperti hewan yang indah. Dalam hal ini pantai Oran adalah yang terindah, karena alam dan perempuannya lebih liar di sana.

Kau akan sanggup menghargai superioritas sebenarnya dari orang Aljazair terhadap orang Prancis, yaitu kemurahan hatinya yang tak terbatas dan keramahannya yang alami.
Bagaimanapun, cara terbaik untuk berbicara mengenai apa yang kau suka adalah dengan membicarakannya secara ringan.

Semua orang kemudian berdiri merenung di tepi pantai, dan kerumunan berpisah ke dalam seribu kesepian. Kemudian mulailah malam Afrika yang agung, pengasingan raja, dan kemegahan keputusasaan yang menunggu kelana yang kesepian.

Ada nyala api yang menunggu di Aljazair.

#5. Pengasingan Helen (1948)

Sebuah cuplikan yang bertalian dengan Heraclitus menyatakan secara sederhana, ‘Kepongahan, menghambat kemajuan’.

Bagaimana kita dapat memahami keseimbangan yang lebih tinggi ini di mana alam menyeimbangkan sejarah, keindahan dan kebaikan, dan membawakan keindahan puisi bahkan ke dalam tragedi berdarah? Kita menolak alam, kita malu akan keindahan. Tragedi menyedihkan kita berbau busuk perkantoran, dan darah yang dialirkannya memiliki warna tinta yang kotor.

Dunia telah dengan sengaja menyisihkan dirinya dari apa yang memberinya keabadian: alam, lautan, perbukitan, renungan malam. Kesadaran sekarang hanya dapat ditemukan di jalanan, karena sejarah hanya ada di jalanan. Begitulah yang disabdakan.

Tikus mondok sedang merenung.

Yang berlebihan itu bisa menjadi api, menurut Heraclitus. Api itu mendapatkan tanah; Nietzsche telah mengambilalih. Eropa berfilosofi tidak lagi dengan pukulan martil namun dengan tembakan meriam.

Baik semangat sejarah maupun seniman berusaha mencipta ulang dunia. Namun seniman, sesuai dengan kewajiban alamiahnya, mengenali batasan yang diabaikan oleh pikiran sejarah.

Aku membenci zamanku.” Kata Saint-Exupery sebelum kematiannya.
Tetapi ini adalah zaman kita dan kita tidak bisa hidup dengan membenci diri sendiri. Zaman kita telah terpuruk begitu rendah karena berlebihan dalam kebaikan-kebaikannya dan juga kerena besarnya kesalahan-kesalahannya.

Kuda Patroclus menangis untuk tuannya, mati dalam pertempuran.
Dengan mengakui ketidaktahuan kita, menolak untuk menjadi fanatik, mengenali batas-batas manusia dan dunia melalui wajah-wajah yang kita cintai, pendeknya melalui keindahan, kita akan bergabung dengan bangsa Yunani.

Jiwanya tenang seperti gelombang yang tak terganggu’, keindahan Helen.

#6. Teka-Teki (1950)

Di mana absurditas dunia? Di dalam kemenangan yang cemerlang ini, atau dalam kenangan dari ketiadaannya?

Bagaimana dengan begitu banyak matahari dalam kenangan, aku dapat bertaruh pada omong kosong?
Kemudian aku keberatan, bukankah benda-benda menghilang ketika mereka mendapat nama?

Seorang laki-laki selalu memiliki dua karakter miliknya sendiri, dan karakter yang dikira oleh istrinya dimilikinya. Apabila kita mengganti istrinya dengan masyarakat, kita akan mengerti bagaimana sebuah ungkapan tertentu digunakan oleh seorang penulis untuk menggambarkan seluruh konteks emosi.
Tak seorangpun tidak bisa menulis tentang ketidakbahagiaan sebenarnya, atau saat-saat kebahagiaan tertentu, dan aku tidak seharusnya melakukan itu di sini.

Mari kita mengaguminya, tetapi tidak memercayainya.

Semua kejayaan di dunia ini lenyap seperti asap.

Tidak ada orang yang bisa percaya dalam kesusastraan keputusasaan. Bagaimanapun kau juga dapat menulis tentang inses tanpa perlu mengganggu saudara perempuanmu yang malang.

Gagasan bahwa setiap penulis pasti menulis tentang dirinya sendiri dan menggambarkan dirinya sendiri dalam buku-bukunya adalah salah satu gagasan konyol yang kita warisi dari Romantisme.

Terutama bahwa karyanya adalah otobiografi, padahal tak ada orang yang pernah berani menggambarkan dirinya sendiri sebagaimana adanya.

Apa yang disebut sebagai penulis yang objektif adalah penulis yang memilih tema tanpa membuat dirinya sendiri sebagai objek.

Lebih tepat untuk memanfaatkan klise daripada nuansa. Mereka memilih klise, maka aku memilih absurd seperti sebelumnya.

Kehidupan paling tidak memiliki relatif. Sebenarnya apa yang disebut kesusastraan keputusasaan?

Keputusasaan adalah diam. Lebih dari itu bahkan dalam kediaman itu berarti jika matamu berbicara. Kesusastraan keputusasaan adalah sebuah kontradiksi dalam istilah.

Di pusat semestanya, kita tidak menemukan omong kosong yang tak berwujud melainkan teka-teki, yaitu sebuah arti yang sukar untuk diuraikan karena itu memesona kita.

#7. Kembali ke Tipasa (1953)

Yang aku tahu hanyalah bahwa orang-orang ini pernah muda ketika aku muda, dan sekarang bahwa tidak lagi muda.

Apabila harus pergi ke masa mudamu, dan mencoba menghidupkan kembali, pada usia empat puluh tahun, hal-hal yang pernah kau cintai atau sangat nikmati pada usia dua puluh tahun.
Kita harus bersepakat dengan malam: keindahan siang hari hanyalah kenangan. Dan di Tipasa yang berlumpur ini, kenangan itu sendiri menjadi suram. Sekarang jangan berbicara mengenai keindahan, kelengkapan, atau masa muda!

Dunia telah menjadi tua dalam sesaat, sekejap mata, dan kita bersamanya.
Cinta tak akan ada tanpa kemurnian. Setelah menjadi murni ke dalam ketidaktahuan, kita sekarang tanpa sengaja menjadi bersalah: semakin banyak kita tahu, semakin besar misterinya.

Dari Chenoua kokok ayam jantan yang jauh sendirian memuji-muji keagungan hari yang rapuh, seolah-olah hari berdiri dengan diam.

#8. Lautan yang Dekat (1953)

Aku dikagumi karena menemukan kata yang tepat. Namun aku tak berguna dalam hal ini: aku menunggu.

Terbangun sepenuhnya aku mengenali angin di pepohonan dan gumaman sedih kota yang kosong.

Mereka yang mencintai dan terpisah dapat hidup dalam penderitaan, namun ini bukan keputusasaan: mereka tahu bahwa cinta itu ada.

Mereka meninggalkan keheningan dan kesedihan pada air yang primitif.
Hidup ini memberontak pada kelupaan, memberontak pada kenangan, seperti yang dibicarakan oleh Stevenson.

Mereka mencintai satu sama lain, namun tanpa pengampunan.

Menjelang malam, selama jam demi jam, kami didahului oleh lagu yang tak terlihat. Aku pergi tidur di rumah.
Yang tertinggal hanyalah angkasa, membentang menuju perjalanan yang tak bergerak.

Laut luas, selalu perawan dan selalu diarungi, agamaku bersama malam.
Setiap gelombang membawa janjinya, selalu sama.

Cinta yang sekonyong-konyong, karya besar, tindakan yang pasti, pikiran yang mengubah romannya, semua ini pada saat-saat tertentu memberi kecemasan sama yang tak tertahankan, bertaut dengan pesona yang tak mungkin ditolak.

Secara garis besar, Camus memainkan majas personifikasi, membaurnya dalam puisi yang naratif, memancing tanya pembaca dalam spekulasi, membawa serta mitos Yunani, kehidupan sederhana Afrika Utara tampak dalam padang gersang. Matahari, musim panas, hingga bicara cuaca menjadi asyik rasanya bila disampaikan oleh sang Penulis. Jelas, ini salah satu kumpulan tulisan hebat, sangat worth it untuk dinikmati penggemar sastra. Bukan, lebih baik saya sebut bagi semua orang. Tak perlu kotak-kotak untuk dapat melahap nikmati Summer (Finn).

Musim Panas | by Albert Camus | Diterjemahkan dari Summer | Copyright 1954 | Penguin Books, 1970 | Penerjemah Anna Karina | Editor bahasa Sandiantoro | Tata letak Metta Fauziyah | Desain sampul Andy FN | ISBN 978-602-95980-6-3 | Cetakan I, Desember 2010 | Penerbit Liris | Skor: 5/5

Karawang, 261020 – Take Over X John Paul Ivan – Jangan Bersedih

Catatan Bahasa: “Indah, Anggun, Ekspresif”

Bahasa dan Kegilaan by Umberto Eco

Yang menjadi sumber energi bahasa bukan lagi otonomi bahasa itu melainkan keberadaan kekuatan asli dan ilahiah Sang Kata.”

Bagi masing-masing orang, dalam derajat yang berbeda-beda, sebagian panggung sejarah adalah ilusi. Luar biasa. Ini salah satu buku kecil dengan ide besar yang benar. Menohok hingga tepar, Buku pertama Umberto Eco yang kubaca ini sangat cantik dan liar. Teori bahasa dalam tampilan lugas nan istimewa. Teori-teorinya, gagasannya, analisisnya. Jos banget. Klasik, jadul, memikat. Santo Thomas dalam Queaestio Quodlibet alias XII, 14 menyatakan ‘utrum veritas sit fortiori inter vinum et regem et mulierem’ yang memunculkan pertanyaan mengenai mana yang lebih kuat, lebih meyakinkan, dan lebih membatasi: kekuasaan raja, pengaruh anggur, pesona wanita, atau kekuatan kebenaran? Jawaban Aquinas halus dan fasih: anggur, raja, wanita, dan kebenaran tidak dapat dibandingkan mereka tidak dalam kategori yang sama. Semuanya dapat menggerakkan hati manusia untuk melakukan tindakan tertentu. Keren ya jawaban filsuf ini.

Kisah kesalahan yang lain, yang perlahan-lahan dibangun oleh pikiran modern sekuler: mencemarkan pemikiran relijius. Kesalahan pun dapat menimbulkan efek samping yang menarik. Kita sedang berhadapan dengan suatu penemuan khas Borges: penemuan atas penemuan. Pembaca juga tahu bahwa Borges tidak pernah menemukan apa pun: cerita-cerita yang paling paradoksal lahir dari pembacaan ulang sejarah. Ceritanya terlalu memesona untuk dikeluarkan dari relnya oleh fakta.

Bahasa yang paling luhur haruslah alamiah. Kemampuan berbicara adalah ciri khusus manusia yang tidak dimiliki malaikat, binatang, atau iblis. Berbicara melibatkan kemampuan mengeksternalisasi pemikiran-pemikiran tertentu manusia, malaikat sebaliknya memiliki kapasitas yang tak terlukiskan. Bagaimanapun, manusia yang bukan malaikat atau setan dipandu oleh akal dan membutuhkan kemampuan tertentu yang memungkinkan mereka untuk mengkesternalisasi intelektualnya dalam tanda-tanda yang terlihat.

Sejarah kita diilhami oleh banyak kisah yang sekarang kita akui palsu harus membuat kita waspada, siap untuk terus-menerus mempertanyakan detail kisah-kisah yang kita yakini benar karena kriterium kebijaksanaan komunitas didasarkan pada kesadaran yang tetap bahwa pengetahuan kita mungkin untuk difalsifikasi. Kita akan bijaksana kalau tetap menjaga pikiran segar yang terbuka terhadap momen ketika komunitas para ilmuwan menetapkan bahwa ide mengenai alam semesta adalah ilusi, sama seperti bumi datar atau Rosicrucian.

Tuhan berkata, ‘Fiat lux’ (jadilah terang). Vernacular adalah bahasa pertama manusia, “Meskipun terbagi-bagi oleh kata-kata dan aksen-aksen yang berbeda.” Kata pertama yang diucapkan Adam pastilah nama Tuhan, El. Tidak diberitahukan kepada kita dalam bahasa apa Tuhan berbicara pada Adam. Bagi Dante, berbicara berarti ekesternalisasi gagasan-gagasan yang ada di pikiran – rujukan kepada berbicara menyiratkan dialog lisan. Semua keturuannya sampai pembangunan menara Babel yang ditafsirkan sebagai menara kebingungan. Perubahan ini tepat karena adat istiadat manusia fana seperti dedaunan pada sepotong ranting: yang satu pergi yang lain datang.

Kesalahan – tidak selalu dalam kebohongan, tetapi pasti kekeliruan – telah memotivasi kejadian sejarah. Saya harus bersandar pada kriterium kebenaran. Fantasi geografis berangsur-angsur menghasilkan proyek politik. Derma Kontantin mungkin tidak dibuat sebagai penipuan yang terang-terangan, tetapi sebagai suatu retoris yang baru belakangan dianggap serius. Sebagai narasi, mereka masuk akal, lebih dari kenyataan sehari-hari atau realitas historis yang jauh lebih kompleks dan kurang bisa dipercaya.

Borges menyimpulkan bahwa tak ada klasifikasi dalam alam semesta dan itu bukanlah hal yang serampangan atau bersifat terkaan. Tetapi jika harus serampangan dna terkaan, mengapa malah menyisakan ruang untuk proyek satire utopia linguistik yang mewah? Rafaelle Simone menyarankan bahwa banyak pencarian untuk bahasa sempurna yang berasal dari semacam kegelisahan neurotic karena orang ingin menemukan di dalam kata-kata suatu ungkapan mengenai cara kerja dunia.

Plato dalam Cratylus membahas apakah kata-kata bersumber dari alam dengan meniru langsung benda-benda, atau bersumber dari hukum melalui konvensi. Dengan begitu pemecahannya tetap dilakukan secara puitis. Dua puluh dua huruf Ibrani mewakili suara ideal yang telah memimpin penciptaan tujuh puluh bahasa lainnya.

Perdebatan yang menggelitik disajikan dalam perdebatan, seorang anak bila dibiarkan tak terkontaminasi bahasa, bagaimana jadinya? Seorang anak tanpa diajari secara otomatis akan mulai berbicara dalam bahasa Ibrani, anak itu tidak akan menyadari konversi. Ada yang bilang bakal menggunakan Bahasa Ibrani adalah bahasa nenek moyang (protlanguages), ada juga yang bilang dari Zerakhya dengan sinis menegaskan pada Hilleh bahwa suara-suara pertama yang dikeluarkan seorang anak tanpa pendidikan lingustik akan menyerupai gonggongan anjing. Maka wajar manusia punya potensi lingustik, tetapi potensi itu bisa diaktifkan dengan hanya pendidikan organ vokal.

Saat remaja kita mencari jati diri. Kenikmatan dilambangkan dengan angka 16 karena (diduga) kegiatan seksual dimulai pada usia enam belas. Namun karena dibutuhkan dua manusia untuk bersetubuh dilambangkan dengan dua anka 16.

Kisah-kisah penaklukkan dari Barat ke Asia, Afrika, sampai seberang jauh Amerika memberi konsekuen logis. Penaklukan, penjarahan budaya, dan pertukaran adalah model-model abstrak yang kenyataannya lebur pada beberapa kasus. Lalai memberi beberapa komentar standar khas moralis atau pintasan alkitab. Menjalin hubungan dengan China bukan penaklukan, tapi pertukaran di mana Eropa memerankan utama karena ia adalah pembawa agama sejati. Kircher pergi ke China bukan untuk menemukan sesuatu yang berbeda, tetapi menemukan hal yang sudah ia ketahui. China lebih unggul dari Eropa sejauh menyangkut keagungan hidup, prinsip-prinsip ertika, dan politik. Sedang Eropa unggul di ilmu-ilmu matematika abstrak dan metafisika. Saat itu Leibniz menyimpulkan bahwa kalkulus memiliki landasan metafisis karena mencerminkan dialektika antara Tuhan dan ketiadaan.

Hieroglif dianggap sebagai simbol-simbol inisiasi. Simbol-simbol bersifat inisiatoris karena dibungkus dalamteka-teki yang tak tertembus dan tak terbaca untuk melindunginya dari keingintahuan yang malas dari orang-orang banal. Seluruh hieroglif menunjukkan sesuatu tentang dunia alamiah yang senantiasa menghalanginya untuk menemukan jalur yang tepat.

Banyak lukisan yang tidak berbau ilmiah dan berbau dongeng, beberapa gambar dalam buku Geography karya Ptolomeus edisi tahun 1551 terasa ganjil, agak sureal memperlihatkan Kicher memberikan pengarahkan kepada penggambarnya berdasarkan informasi yang dia terima seperti Marco Polo dan pengelana lain.

Apa arti antropologi budaya yang sehat? Tidak ada aturan untuk penafsiran sebab salah tafsir pun membutuhkan aturan. Menurut Eco ada kriteria intersuvjektif untuk mengatakan jika suatu tafsiran adalah tafsiran yang buruk maka masalah utama bukan pada aturan-aturan melainkan dorongan abadi di dalam diri kita yang mengira bahwa aturan-aturan kitalah yang paling bagus.

Hipotesis Epicurean menyatakan bahwa setiap bangsa menciptakan bahasanya sendiri untuk menghadapi pengalamannya sendiri. Hipotesis Sapir-Whorf menyatakan bahwa bahasalah yang memberi bentuk kepada pengalaman kita terhadap dunia. Oleh D’Alembert pada awal Encyclopedie, “Beberapa di antaranya bermuara menuju pusat yang sama; dan karena berangkat dari hulu yang sama mustahil untuk mengikuti semua cabangnya sekaligus pilihan itu ditentukan oleh hakikat roh-roh yang berbeda.”

Karena secara lingustik sulit untuk menunjukkan bahwa ada hubungan di antara kata-kata dan esensi benda-benda (paling tidak karena pluralitas bahasa), jalan yang diikuti para monogenetisis tidak berbeda jauh dari para etimolog fantastis masa lalu yang dikepalai oleh Isodore dari Seville.

Kesepakatan antara akal, wahyu, dan semua tradisi manusia ini menggambarkan suatu kemapanan sehingga hanya dapat disangkal oleh kata-kata. Para penyair dapat menemukan metafora yang ulung untuk menamai fenomena yang fundamental bagi pengalaman manusia. Setiap bahasa memiliki kejeniusannya, suatu kejeniusan yang unik, oleh karena itu kita harus menyisakan gagasan apa pun mengenai komposisi, mengenai formasi serampangan, dan mengenai konvensi yang mendahuluinya.

Ada catatan lucu bahwa Marco mempunyai gambaran unicorn dalam pelayarannya, dikiranya melihat benar makhluk itu, padahal yang dilihatnya Badak Ujung Kulon. “Apa yang disebut kemurahan hati dalam perhatian mereka lebih menyerupai permainan yang dimainkan anjing dan tikus.”

Bahasa adalah setua dengan bangsa penuturnya. Buku ini kubeli tahun lalu, saat pre-order. Baru kubaca bulan lalu, menumpuk sama daftar lainnya. Sangat menyenangkan, sudah punya In the Name of Rose, tapi malah buku ini dulu yang kutuntaskan. Tipis, keren. Betapa rumitnya proses terbentuknya bahasa, jadi bertanya-tanya sejak mula bagaimana Adam berkomunikasi dengan Tuhan, jadi malah penasaran, akankah saat Adam turun ke Bumi adalah anugerah, sebab di Surga yang serba enak malah tak memajukan pikir? Yah, semacam itulah. Bahasa sungguh tak sesederhana yang kita ucap.

Menghasilkan komunikasi khayalan. Cara mengidentifikasi bahasa yang benar-benar khayali. Wah, malah kepikiran sejarah manusia. Ilmu yang meliar, menggila. Cocok banget judulnya, … dan kegilaan!

Bahasa dan Kegilaan | by Umberto Eco | Diterjemahkan dari Serendipities: Language and Lunacy, Columbia; University Prees, New York; 1998 | Penerjemah Saut Pasaribu | Penyunting Prima Hidayah | Penata letak da nisi Koverboi | Gambar sampul Istimewa | ix, 153 hlm.; 12 x 18 cm | Cetakan pertama, Agustus 2019 | ISBN 978-623-90721-5 | Skor: 5/5

Karawang, 231020 – Edith Piaf – La vien en Rose (1946)

Gajian Day

Sebuah Tafsir Tentang Waktu

Mimpi-Mimpi Einstein by Alan Lightman

Bila matahari cerah, berenang tentu asyik, meski berenang kapan pun tetap asyik.”

First thing first story. Secara cerita buku ini mengecewakan, intinya kurang gereget, hanya labuhan khayal sang ilmuwan yang acak dan tak jelas. Terlihat samar, mencoba merumitkan diri. Ini fiksi sehingga Alan Lightman harusnya punya kreasi bebas untuk melalangbuanakan bualan, sayangnya inti yang coba disampaikan tak jelas. Sepenggal masa-masa tahun 1905 di mana Einstein muda mengajukan tulisan terkait teori waktu, menjadikannya patokan utama, benang merah, dari seratus halaman, sejatinya hanya bagian interlud yang menjadi realitas yang menyenangkan dilahap, sayangnya yang namanya interlud ya sesekali saja muncul. Sementara sebagian besar hanya pecahan kejadian yang bebas dan tak beraturan. Tak kuat secara cerita, tapi memang dasarnya seperti puisi, semua bebas disenandungkan, keras, berisik, dan merdeka. Namun melelahkan sekali…

Orang-orang yang relijius memandang waktu sebagai bukti adanya Tuhan. Tak ada yang tercipta sempurna tanpa adanya Sang Pencipta. Tak ada yang universal yang bersifat ketuhanan. Semua yang mutlak adalah bagian dari Yang Mahamutlak. Di mana ada kemutlakan di situlah waktu berada. Karena itulah, para filsuf menempatkan waktu sebagus pusat keyakinan mereka. Waktu adalah pedoman menilai semua tindakan. Waktu adalah kejernihan untuk melihat salah atau benar.

Jika masa silam berakibat tak menentu pada masa kini, tak usahlah terlalu merenungi masa lalu. Dan, jika masa kini hanya berakibat kecil saja bagi masa depan, tak perlulah terlalu membebani tindakan saat ini. Setiap tindakan adalah salah satu pulau dalam waktu, yang harus dinilai terpisah. Jika orang tidak memiliki ambisi di dunia seperti ini, ia tidak menyadari kalau ia menderita. Jika berambisi, ia tahu bahwa ia menderita, tetapi penderitaan itu berlangsung sangat lambat.

Tentang dunia yang akan berakhir. Umatnya menghitung mundur, dari setahun, sebulan, seminggu, sehari, sejam, semenit, sedetik. Dunia dengan satu bulan tersisa adalah dunia dengan persamaan hak. Semua gagasan masa akhir dipuaskan, dan terasa damai. Karena kehidupan masa silam tidak pernah bisa berbagi dengan masa kini. Setiap orang melekat pada satu waktu, melekat sendirian.

Tafsir waktu yang njelimet, dan memang hakikat waktu memilih jalannya sendiri. Jika waktu adalah anak panah, maka sasarannya adalah keteraturan. Masa depan adalah pola, penataan, kesatuan, sementara masa silam adalah acak, kebingungan, perpecahan, penghilangan. Beberapa orang mengatakan bahwa yang terbaik adalah tidak mendekati pusat waktu. Hidup adalah jambangan kesedihan, tapi adalah lebih terhormat untuk menjalaninya. Tanpa waktu tak ada kehidupan.

Kenangan, ingatan, pori-pori samar apa itu dunia maya yang berkelebat di kepala, di awang-awang. Tanpa ingatan, setiap malam adalah malam yang pertama, setiap pagi adalah pagi pertama, setiap ciuman dan sentuhan adalah yang pertama. Beberapa orang memutuskan untuk sama sekali berhenti membaca. Mereka meninggalkan masa lalu. Apa pun yang terjadi di hari kemarin, kaya atau miskin, terpelajar atau bodoh, congkak atau rendah hati, pernah kasmaran atau patah hati, tak lebih dari angin lembut yang menari-narikan rambut mereka… mereka melepas kemudaan dengan langkah tanpa beban. Merekalah orang-orang yang telah belajar untuk hidup di dunia tanpa ingatan.

Lantas apa artinya meneruskan masa kini bila seseorang telah melihat masa depan?

Merekalah orang-orang yang menghabiskan waktu untuk tidur dan berharap masa depan muncul dalam impian. Pada malam hari, orang-orang bermimpi tentang kecepatan, kemudaan dan kesempatan.

Salah satu tafsir tentang masa lahir bayi. Karena Hermione lahir kala senja bergulir maka kuketik ulang sahaja. Seolah prediksi, benarkan anakku anak seperti gagasan Einstein? Orang yang lahir saat matahari terbenam, menghabiskan separuh hidupnya dalam temaran malam, mempelajari kegiatan yang bisa dilakukan dalam ruangan seperti menenun atau membuat jam, membaca banyak buku, menjadi intelektual, makan sangat banyak, ngeri terhadap kegelapan di luar, mendekap bayang-bayang.

Waktu begitu berharga. Kehidupan adalah satu peristiwa dalam satu musim. Kehidupan adalah satu butiran salju. Kehidupan adalah satu hari di musim gugur. Kehidupan adalah bayangan yang bergerak secepat pintu yang ditutup. Kehidupan adalah gerakan singkat lengan dan kaki.

Di dunia tanpa masa depan, setelah kekinian adalah kehampaan, orang-orang beruntung pada masa kini bagai bergelayut pada tepi tebing.

Jadi, konfliklah yang menjaga harapan kita. Beberapa orang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan. Mereka memilih berlambat-lambat, berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian. Yang lain berpacu menuju masa depan tanpa persiapan, memasuki perubahan yang cepat dari peristiwa-peristiwa yang melintas.

Begitu kecilnya ketidaksinambungan waktu, maka satu detik bisa diperbesar dan diurai menjadi seribu bagian, dan tiap bagian menjadi seribu keping lagi. begitu kecilnya ketidaksinambungan waktu, maka jarak antarsegmen sama sekali tidak terlihat. Tiap kali waktu berputar, maka dunia baru tampak sepeti yang lama.

Waktu juga diukur berdasarkan detak jantung, irama kantuk dan tidur, rasa lapar, datang bulan bagi perempuan, masa kesepian. Waktu hadir, tapi tak bisa diukur. Teori waktu sebegitu mustahilnya sampai mungkin saja justru akan berhasil. “…Saat terkenal nanti, kau akan teringat bahwa kau pertama kali menjelaskan padaku, di perahu ini.

Bagian interlud yang bagus itu berkisah Einstein bersama sahabatnya Besso. Tentang makan malam, dan beberapa cuplikan sederhana kehidupan rumah tangganya bersama Mileva dan anaknya. Keseharian di Zurich, menikmati senja di Sungai Aare, menatap Alpen, menelusuri jembatan Nudegg, mendengar gemericik air di Pancuran Zahringen di Kramgasse, kehidupan manusia di Spitalgasse, kunjungan ke Berne, jamuan makan di Hotel San Murezzan di St. Moritz, sampai aura reliji di menara Katedral St. Vincent. Semuanya adalah potongan-potongan, seperti mimpi yang samar, dunia berlandas asas perkiraan.

Ruang dan waktu adalah apa yang kita sebut sebagai ‘konstanta universal’. Salah, Einstein menjawab, kecepatan cahaya-lah yang merupakan konstanta universal, sesuatu yang dipakai untuk mengukur segala hal lain. Kita semua bergerak, sepanjang waktu, dan semakin kita mendekati kecepatan cahaya, semakin ‘melambat’ gerak waktu, dan ruang pun semakin mengerut.

Cerita masa lalu menentukan jati diri manusia. Cerita dari masa depan menentukan harapan. Dan kemampuan manusia untuk memasuki narasi-narasi tersebut lalu menghayati cerita-cerita, demi membuat narasi-narasi itu menjadi nyata, adalah yang memberikan makna pada kehidupan.

Buku ini sudah berkali-kali masuk daftar incar. Berbagai kover sudah kulihat, setelah bertahun-tahun akhirnya kumiliki edisi cetakan kesepuluh dengan kover kuning mentereng. Penerjemahnya adalah Penulis Raden Mandasia yang terkenal itu. Saya tak terlalu banyak komplain terkait alih bahasa, karena memang rerata bila dikerjakan dengan serius hasilnya bagus. Kembali di kalimat pembuka, yang utama adalah cerita, dan Mimpi-Mimpi Einstein ceritanya kurang OK, mencoba bermewah kata, menawarkan syair-syair puisi kehidupan masyarakat di sekitar pegunungan Alpen. Mimpi-mimpi itu pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri.

Karena satu-satunya hal yang bisa menghancurkan sebuah mimpi adalah dengan mendapatkannya. Mending sekalian baca kumpulan puisi. Nah!

Mimpi-Mimpi Einstein | by Alan Lightman | Diterjemahkan dari Einstein’s Dream | KPG 901 12 0575 | Cetakan pertaman, Juli 1999 | Cetakan Kesepuluh, Juli 2012 | Penerjemah Yusi Avianto Pareanom | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Penyunting Candra Gautama, Sri Sutyoko | Perancang sampul B. Esti W.U. | x + 137 hlm,; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 978-979-91-0481-6 | Skor: 3/5

Karawang, 221020 – Bee Gees – To Love Somebody

Thx to Vide Buku, Yogya

Legenda Seniman Senen

…Oh, Film by Misbach Yusa Biran

“… I bukan antiseni dan mutu. Dengan suka ati I sedia masukan seni dalam my picture, asal bisa laku! You seniman, orang pinter, tentu you paham I punya maksud semua…”

Buku tipis yang sebenarnya bisa cepat diselesaikan baca, tapi saya baca santuy jelang tidur. Saya bacakan untuk Hermione satu atau dua bab setiap beberapa malam. Ini adalah buku rekomendasi Sherina Munaf dan berkali-kali cari di Gramedia Karawang nggak ada, maka saat ada yang jual daring, langsung kusambar. Buku yang sejatinya biasa, hanya bercerita kehidupan seputar orang-orang film di Senen, dari sudut pandang para jelata mengais rupiah hanya untuk sekadar bertahan hidup dari bulan ke bulan. Kisah apes yang mengelilingi para kuli film. Judulnya tentu pas sekali, … oh, film!

#1. Berliku-liku ke Bintang

Dibuka tentang Anwar yang menjalani banyak profesi/peranan dalam film, tapi hanya pada kata hampir memegang banyak peranan. Dari bandit, penyanyi, pesuruh, reserse, kepala polisi, dll. Anwar pemalas, sekolah rakyat tidak tamat, di usia 23 tahun, kerja serabutan. Pada akhirnya malah menjadi tukang parkir Gedung Kesenian, tapi ya pada dasarnya malas. Dan saat mendapat kesempatan main film, walau hanya figuran, ia berlatih keras. Namun pada akhirnya, batal jua. Latihan main film itu bagus sekali meningkatkan ketangguhan tukang jaga parkir mobil. Latihan tahan panas, tak gampang bosan, dan tahan dibentak-bentak.

#2. Ke Luar Negeri

Ke luar negeri bagi orang tua, artinya naik haji saja ke Arab berarti, padahal untuk Hasan yang ingin belajar film yang dituju ya Paris, London, dan kota besar lainnya yang menyuguhkan seni. “Seni? Apa itu? Masa belajar yang begitu saja harus keluar negeri?” kata ayahnya. Di Pasar Senen saat ngumpul sama genk, ujaran ke luar negeri itu dijadikan bahan ketawa saat bahas cita-cita. Nantinya apapun yang diambil kesempatan menjalani kehidupan, mereka akan rindu ngopi dan kue putu di Senen ini bersama kawan-kawan seperjuangan.

#3. Bir, Oh Bir!

Reymond Nestapa, seniman dengan pose rambut acak-acakan, penampilan berantakan. Nama aslinya adalah Ramin, orang tuanya hanya berharap ia menjadi juru tulis kelurahan, malah khatam Al Quran dua kali, lalu ke kota yang menciptanya gaul. Lalu ke ibukota, kenal penyair dan jadilah seniman. “Ah… betapa tenangnya langit, mengapa orang bisa tidur di malam berbintang terang seperti ini?”

#4. Bung Close Up

Tentang Imam Kromo yang kesal setiap dipanggil Bung Close Up, sebab ia punya riwayat tak menyenangkan tentang sebuah peran dalam film yang menjanjikan ia tampil close up (CU) lima kali, saat syuting ia begitu bangga dan senang sekali dipanggil itu, faktanya ketika film ‘Satu Jam Kemudian’ tayang adegan yang menampilkan wajahnya kena potong. Jadi, ada kemarahan saat panggilan itu terlontar, tak segan dijotos!

#5. Bintang Film Baru dan Punya Bakat

Emir Sola, nama aslinya Amir dari Solo redaktur yang menjanjikan menampilkan wajah Badri si bintang film baru yang punya bakat, nyatanya Emir malah menulis nada kurang bagus di korannya, Badri yang dari Banten dan bisa bela diri membuat ketar ketir juga, mengancam bacok. Biografi singkat Badri yang salah data pula, ia tertulis dari Bandung! Bakal kena bacok nggak ya? “Saudara kan anak Banten juga, aku harap bisa menolong.”

#6. Maaf, Saya Bukan Sombong

Macan Ketawa” studio film yang terkenal karena kualitasnya karena cerita dan pemain yang dipilih tak sembarangan, mendapat kesempatan main di sana adalah sebuah anugerah untuk menaikkan karier. Amir yang ngebet pengen dapat peran, sering-sering main ke sana, dapat peran kecil-pun tak apa. Si Amir sombong dong, ketika akhirnya dapat, pamer kata sama teman-teman di Pasar Senen.

#7. Samad Filmo Starno

Samad punya nama beken mentereng. Pertentangan produser yang melihat proyek sebagai untung-laba versus sutradara idealis yang mementingkan kualitas ketimbang tiket yang terjual tentu sudah ada sejak lama, sekarang, dan akan datang perdebatan akan ada. Sang bintang Samad yang sudah kadung menyombongkan diri sama teman-teman bakal muncul di film Kecil-Kecil Cabe Rawit mendapati kecewa sebab adegannya kena potong. “Dan apakah saya masih anggota Parfi? Kan sebenarnya saya sudah main film.”

#8. Maaf, Harap Supaya Halaman 22-23 Dianggap Tidak Ada

Jupri yang fotografer asal-asalan tentu bangga saat ada seorang asing menyebutnya professional, kenalan dan foto-fotonya dijanjikan muncul di media. Apes, pemuda brewokan danger itu bernama Brotowali. “Saya akan banyak membutuhkan pertolongan Saudara Wartawan.” Jupri yang menjawab gampang-gampang mulu akhirnya menanggung ancaman, dan harus meminta maaf yang dimuat di majalah edisi berikutnya.

#9. Interviu Bintang Film

Ramli harus wawancara bintang baru Zus yang terkenal galak dan cerewet. Sang Aku diajak menemani karena agak takut. Setiap wawancara si bintang kelihatan dodolnya, si Ramli banyak mengoreksi seperti bacaan Zus apa? Ga jelas. Maka disebutkan nama-nama John Steinbeck, Gore Vidal, William Sayoran, Faulkner, O’Hendy, Gogol, dst. Si Zus yang nggak paham, iya iya saja, asal image cerdas dan bagus yang didapat. Yah, gmana sih!? Cantik bodoh.

#10. Cara Bikin Cerita Film

Penulis cerita, sutradara, produser, sampai bintang film semua memiliki kepentingan. Semua film yang dibintangi Johan laku, kualitas nomor sekian yang penting untung. Diskusi panjang lebar keempatnya menarik, yang jelas yang bikin cerita yang sejatinya mumet sebab harus menuruti banyak usulan yang pada akhirnya kualitas lagi-lagi dibanting. “Habis mau pigimana lagi?”

#11. What is Really Good Picture for Me

Dakhlan yang menulis scenario berhari-hari, berlembar-berlembar, berjuang begitu keras demi cerita bermutu. Sang Aku menemaninya ke studio setelah jerih payahnya, sayang dihargai murah dan ceritanya terlalu berat. Saya kira kalau hanya sekadar mengetik saja scenario yang Cuma enam puluh halaman itu pun tiga hari sudah selesai. Yang lama adalah bermenung-menungnya. Naskahnya ditolak! “… kalau kita ingin mancing ikan, tentu kita harus menaruh umpan yang ikan doyan, bukan yang kita sukain to…”

#12. 2-0-1-1 Potongan Rambut Eddie Polo

Kenal Eddie Polo? Tidak? Saya juga. Ia adalah frame idola masa 1932-an yang dijadikan patokan tukang cukur, model paling ikonis kala itu. Tukang cukup di kampung Mang Jen melaksanakan tugasnya, Cep sang aku diminta cukur sama ayahnya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul, pangkas rambut berjalan lancar dan betapa kesalnya Cep. Model apaan ini? “Yang pantas berambut gondrong Cuma professor dan orang gila saja.”

#13. Kacamata Siapa?

Lucu. Di kala itu untuk beli kacamata saja harus nabung, kaca mata second pula. Model hitam dengan style Hollywood. Badrun mengidolai Lee Straberg, memandangi gambarnya dengan antusiasme buta. Rol peran yang diperankan Badrun adalah bandit, dengan kaca mata hitam ia pun turut pula saat premier di Art Theater. Sayangnya ia tak tampak jelas di film, makanya setelah selesai pemutaran banyak penonton tak mengenalnya, ia pun akting spontan ‘kacamata siapa?’ dan apesnya kacamata loakan itu diaku orang. Hahaha…

#14. Oom Yan: “What is Eigenlijk een Mooie Film”

Ini kisah tentang orang bergaya, orang intelek sok Barat ala Belanda. Kalau film nggak kualitas luar negeri mending nggak. Selektif, idealis. Ada lokal yang jadi patokan kualitas, film Tiga Sekawan. Maka Yuli ingin mengundang beliau, dengan susah payah. Film Kasih Mesra ternyata tak bisa memuaskannya. Memang sulit memuaskan orang special.

#15. Wartawan Film

Darwis yang mengaku wartawan film, mengajak aku untuk melakukan wawancara. Setelah dinasehati ayahnya ketika merantau jangan dekat-dekat wartawan atau petugas pajak, ia terpaksa membantu temannya, inikah hanya wartawan film, dalam benaknya. Ramli yang jatuh hati sama bintang film baru Zus, mengaku orang penting media. Maka ketika kesempatan wawancara ia pun berjanji memuji dan memuatnya. Sang aku hanya menemani, juga meminjami duit si wartawan kere. Bukan saja untuk ongkos perjalan ia bahkan berniat mentraktir si bintang baru. Si Aku dijanjikan separuh uang komisi, tapi ini kisah apes.

#16. Dulu

Penutupnya paling selow, cerita masa lalu para seniman Senen. Bagaimana mereka melewatkan masa lalu dengan kenangan seru, yang pahit jadi seru ketika diungkit bareng dengan kopi dan teman lama. Pak Uyung yang cerita pengalaman bikin film, Pak Hasan dengan pengalaman memancingnya, ‘Lioooong….’

Kisahnya lebih sederhana dan membumi, ini buku berdasarkan pengalaman sang penulis yang berkecimpung di dunia film sejak 1954 sebagai anggota PERFINI. CV filmnya sangat banyak, jasanya dalam seni di Indonesia tentunya melimpah. Tahun 2008 beliau menerima Bintang Budaya Parama Dharma, bintang tertinggi dari Pemerintah RI di bidang budaya.
Kalau tak perlu betul janganlah kau dekat-dekat dengan pegawai pajak atau wartawan, apalagi membuka mulut sembarangan di depan mereka.

…Oh, Film | by Misbach Yusa Biran | KPG 224-2008-82-S | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Cetakan pertama, 1973 oleh Pustaka Jaya | Cetakan pertama edisi tambahan, September 2008 | Penyunting Candra Gautama | Perancang sampul Rully susanto | Penataletak ledham Fitrianjaya Nugroho | ix + 149 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN-13: 978-979-91-0128-0 | Skor: 4/5

Karawang, 221020 – Stan Gets & Astrud Gilberto (Cover by Elise) – The Girl From Ipanema

Thx to Lumbung Buku, Bandung

Berarti Banyak yang Perlu Dijelaskan

Koleksi Kasus Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle

“… Aku tak suka bicara panjang-lebar ataupun mengungkap jalan pikiranku sementara sebuah kasus masih dalam penanganan…”

Di halaman utama buku saya selalu menulis nama saya, waktu beli, di mana, dan ada momen/sama siapa. Saya menulis: ‘Lazione ‘2005 s: GnR In Study’s Scarlet’ yang seingatku saya beli buku ini akhir tahun 2005 di Gramedia Slamet Riyadi sama Dian yang suka band Gun n Roses, saya membelikan pula dia buku pertama Sir Arthur: Study in scarlet yang menurutku sungguh wow. Harga buku ini lima belas tahun lalu adalah 27 ribu rupiah.

Saya sedang membaca ulang beberapa buku lama, saya pilih pilah yang terkesan dan belum kuulas. Seingat saya, buku Sir Arthur baru satu yang kuulas di blog, makanya seminggu lalu entah refleks ambil buku ini di rak. Saya sudah khatam semua kisah Sherlock, dan membaca ulang malah menelusur kenangan, dan ingatan saya di Koleksi Kasus ternyata nggak kuat nempel, hanya beberapa yang klik, kebanyakan lupa tentang apa. Makanya terasa fresh lagi. say abaca buat selingan baca non-fiksi tentang filsafat yang bikin kerut kening making banyak.

#1. Kasus Klien Penting

Tentang sebuah cinta buta Miss Violet de Merville ke penjahat kelas kakap yang berkedok sopan, memang tampan dan kaya, tapi ia punya kasus berat pembunuhan istirnya. Baron Aldelbert Gruner dari Austria datang ke Inggris dan menebar pesona, putri Jenderal de Merville terobsesi olehnya, segala rupa usaha dicoba tapi tak ada hasil, maka sang Jenderal meminta tolong ke Holmes menggagalkan pernikahan. Dengan buku harian sang Baron berjudul ‘Jiwa-jiwa yang Telah Kuhancurkan’ yang disimpan di rumahnya, Sherlock mencoba adu cerdik. Mengirim Dokter Watson dengan dalih menawarkan piring keramik langka dari China, dan kasus ini ditutup dengan tirai keren di Baker Street. “Cepat atau lambat upah dosa pasti akan tiba. Tuhan tahu, dosanya bertumpuk.”

#2. Kasus Prajurit Berwajah Pucat

Setiap keluarga punya rahasia yang tak bisa diutarkan kepada orang lain, walaupun orang itu bermaksud baik. Sampai halaman akhir, saya masih bertanya kasus apa yang mencipta sang korban yang membuatnya disembunyikan. Haha… tentang James Dodd, mantan tentara perang Boer yang kebingungan karena teman seperjuangan yang ‘hilang’. Dia melakukan tindak kriminal, dia menjadi gila, atau dia menderita suatu penyakit yang mengharuskannya disembunyikan? Jadi setelah perang berakhir ia mencoba menghubungi sobatnya Godfrey, dari ayahnya Kolonel Emsworth, ia diberitahu sang anak pergi dari rumah tanpa kejelasan status dan tujuan. Padahal saat berkunjung ada tanda-tanda keberadaan sobatnya, makanya ia mendesak ada kasus apa sejatinya? Di Tuxbury Old Hall yang terpencil, Holmes dengan santuy mengungkap sisi tersembunyi itu, membawa dokter spesialis yang sudah disiapkannya. Mantab Bang. “Saya memang telah melatih diri untuk mengamati apa yang saya lihat…”

#3. Kasus Batu Mazarin

Perampokan berlian senilai seratus ribu pound. Holmes memasang boneka dirinya di dekat tirai jendela agar dikira dirinya ada di rumah. Ia diancam dibunuh oleh Merton, yang menjadi komplotan penjahat, kalau sampai menangani kasus ini. Musuhnya kali ini Count Sylvius yang jago tembak, ia datang ke Baker Street, Sherlock membuka kartu kejahatannya, tinggal satu pertanyaan penting di mana berlian itu? Dengan cekatan dan silat lidah penuh tipu, ia meringkus para penjahat. “Karena otakku akan lebih tajam kalau perutku kosong…”

#4. Petualangan Rumah Beratap Tiga

Tentang cinta yang kandas dan upaya mencegah draf memoar aib terbit. Di sini Sherlock lagi-lagi diancam agar tak mengambil kasusnya. Pria negro jago pukul bernama asli Steve Dixie, ia mendapat perintah dari Barney Stockdale, tapi iapun juga dapat instruksi lagi. ini tentang kasus di Gedung Beratap Tiga, Harrow Weald. Kisahnya mbulet panjang, karena Mary Maberley yang mendapat penawaran aneh, rumahnya akan dibeli dengan harga sangat mahal lima ratus pound lebih mahal, berikut semua isinya. Sebagai janda, uang itu cukup untuk menghabiskan sisa umur dengan perjalanan, apalagi anak tunggalnya Douglas Maberley sudah meninggal dunia di masa perang. Namun karena kasus jual beli ini terasa janggal, ia meminta bantuan Sherlock. Kisahnya panjang karena di ujung kita bertemu dengan Isadora Klein, janda termasyur yang mencoba menggagalkan sesuatu. “Anda seorang gentleman dan ini menyangkut rahasia seorang wanita…

#5. Petualangan Vampir Sussex

Terdengar ganjil sebuah kisah deduksi menyeret vampir, makhluk penghisap darah. Namun dengan penjelasan runut dan detail kita akan maklum. Jadi kasus seorang ibu yang menghisap darah bayinya menjadi tenar dan menelisik otak Holmes. Ia memutuskan mengambil kasus ini sebab sang klien merasa frustasi. Tuan Robert Ferguson merupakan teman Watson, ternyata satu almamater main Rugby. Ia memiliki anak dari perkawinan pertama yang kini beranjak remaja, dan dari istri kedua memiliki bayi. Nah, istrinya yang biasanya penyayang tiba-tiba menjadi garang bak vampir. Dengan kunjungan Sherlock ke sana, masalah rumit ini langsung terbongkar dengan brilian dan tenang. “Kalau orang menyusun teori, orang akan menunggu dulu sampai informasinya lengkap, barulah menyebarluaskannya.”

#6. Petualangan Tiga Garrideb

Ini kasus keren banget, tapi malah dibuka dengan kata-kata kasus ini bisa dianggap komedi, bisa juga tragedi. Seorang lelaki menjadi gila, seorang lagi dihukum penjara, sementara Watson harus bercucuran darah. Garrideb di London menyurati Sherlock bahwa ia ditawari warisan besar dari tanah Amerika dengan syarat unik, mencari satu orang lain bernama Garrideb untuk mencairkan warisan, syarat tiga nama itulah yang aneh. Ia mendapati tawaran itu dari Garrideb dua dari Amerika. Nah, yang datang ke Baker Street adalah yang nomor dua, tapi ia memberi ancaman untuk tak ikut campur. Nah, tak berapa lama dari Aston mereka mendapati Garrideb tiga, maka kasus ini ditutup? Di mata Holmes, justru baru dimulai. Dan seperti di kalimat pembuka, malah merumit sebab melibat seorang residivis kakap dengan kasus peredaran uang palsu, dan mesinnya. “Dr. Starr yang baik hati, sampai sekarang namanya tetap dihormati…”

#7. Kasus Jembatan Thor

Lagi-lagi tentang cinta buta, kali ini melibatkan nyawa pergi sia-sia. Kasus pembunuhan Maria Pinto, istri Senator Neil Gibson, ia meminta bantuan Sherlock guna mengungkap kebenaran sebab seorang wanita cantik, baik hati, dan tak bersalah Miss Grare Dunbar terancam dihukum mati. Jadi malam pembunuhan itu, Grace sebagai guru les diajak bertemu dengan almarhum sebab ada percikan cemburu di sana, Grace sebagai orang terakhir yang bertemu tentu saja ditangkap, apalagi ditemukan pistol di lemari kamarnya. Di tangan Holmes, kasus rumit ini tampak terang benderang saat di TKP dan mengecek benda-benda tak bernyawa di sana, di sekitar jembatan Thor. “… Kita harus mencari hal-hal yang konsisten, kalau tak ada konsistensi, kita harus mencurigai tipu muslihat.”

#8. Petualangan Profesor yang Gemar Merangkak

Cinta buta sang professor yang mencoba melawan penuaan berakibat fatal. Ramuan yang diminumnya menjelma tingkah monyet dan hampir saja menyambar nyawanya. Ini adalah kalimat akhir yang pas untuk bilang kasus ini memang samar sedari mula. Trevor Bennett meminta tolong Holmes untuk memecahkan kasus calon mertuanya, professor Presbury yang mendadak galak dan melakukan hal-hal aneh berulang tiap malam, merangkak dan manjat pohon! Seolah-olah sisi baiknya telah diselubungi kegelapan. Dia mengira dapat memperoleh apa yang didambakannya kalau dia menjadi muda kembali. Jika orang berusaha melawan kodrat alam, dia akan menghancurkan dirinya sendiri. Orang yang berpendidikan tinggi pun akan menjadi binatang. “…Barangkali ada baiknya aku menulis artikel tentang peran anjing dalam penyelidikan.”

#9. Misteri Surai Singa

Ini kasus tanpa pembunuh (manusia). Surai di sini adalah efek sebuah racun yang mengerikan di perairan. Holmes yang pensiun menghabiskan hari tua di pantai, mendapati kasus pembunuhan terhadap Fitzroy McPherson, guru yang tinggal di Gable. Pemuda gagah itu suatu hari tersungkur di depan Sherlock dan Stackhurst, temannya. Sang korban mengucap kalimat terakhirnya, “Lion’s Mane – surai singa.” Apa gerangan yang dimaksud? Maudie yang cantik, kekasih korban lalu membuka beberapa fakta tersembunyi, seperti fakta bahwa ia sudah berencana menikah. Dan penyelidikan ini berakhir di tepi kolam. “Saya suka sekali membaca buku dan biasanya tak melupakan detail-detail yang say abaca. Kata-kata ‘Surai Singa’ mengganggu saya. Saya tahu saya pernah melihatnya, tapi entah di mana…”

#10. Misteri Penyewa Kamar yang Berkerudung

Mrs. Merrilow dari Brixton Selatan berkonsultasi pada Holmes dan Watson tentang penyewa kamar bernama Mrs. Ronder yang suatu malam berteriak ‘Pembunuh! Pembunuh! Kau binatang kejam, kau monster!’ Sang penyewa adalah pemilik sirkus yang memiliki singa Afrika. Orang-orang sirkus ditelaah, dan diamati satu per satu. “Di mana dia menyembunyikan tongkat berpaku lima yang merupakan bagian paling unik dan kreatif dari seluruh kisah Anda ini?”

#11. Misteri di Gedung Tua Shoscombe

Kisah menyembunyikan kematian sang kakak Lady Beatrice Falder, sebab bila kakaknya diketahui mati maka hartanya akan disita, dan ia akan mendapati kekurangan uang. Sir Robert Norberton adalah penjudi kambuhan, ia kini dalam masalah berat sebab utangnya menggunung dan diancam diseret kreditur. Kini harapannya ada di kuda Derby di pacuan semua dipertaruhkan. Ada misteri penting di gudang tua itu yang harus diungkap oleh sang pelatih kuda John Mason. Memancing dijadikan alibi, hahaha… dasar detektif kreatif. “Bagaimana kalau kami memancing di danau dekat Gedung Tua Shoscombe untuk mendapatkan ikan pike?”

#12. Petualangan Mantan Pengusaha Cat

Sang pemain catur yang cerdas melawan Sherlock yang lebih hebat lagi. penutup yang sangat keren. Adu cerdik! Josiah Amberley meminta tolong Sherlock untuk mengungkap Dokter Ray Ernest yang kabur membawa uang dan obligasinya, membawa serta istrinya saat ia menonton pertunjukan. Jadi Tuan Amberley yang menghabiskan masa pensiun menikah dengan wanita, 20 tahun lebih muda darinya, seluruh tabungan perjuangan masa muda kini dinikmati. Dan hobi main caturnya mengundang sang dokter yang dicurigai kepincut istrinya. Malam naas itulah, ia kehilangan uang dan istrinya. Seorang pastori Elman dari jauh daerah Essex mengirim telegram, bahwa ia mengetahui info penting tentang kasus ini, maka Watson dan sang korban ke sana. Deeer! Sang penjahat ada di dekat. Bersama Tuan MacKinnon dari Scotland Yard, Holmes mengungkap dalangnya. “Nada bicara Anda tak kalah sombongnya, Mr. Holmes. Tapi saya bisa memakluminya. Hasil kerja Anda patut mendapat acungan jempol.”

Ternyata ini masa-masa akhir Holmes yang pensiun. Jadinya masuk ke koleksi kasus. Beberapa kisah berulang, seperti Holmes yang sombong menunggu klien saat Watson sedang duduk lalu mendengarkan detail. Atau Watson yang seperti kita tak paham maksud Holmes bahwa kasus ini sudah jelas, padahal selubung belum dibuka. Atau bahwa Holmes selalu ingin di balik layar, orang-orang dari Kepolisian saja yang mendapat pujian. Atau Holmes yang hanya ingin menangani kasus unik, aneh, berat. Uang bukan masalah, justru ia tak tertarik menarik bayaran bagi jelata. Hebat. Keren. Takjub. Kebetulan saya sudah baca seri satu detektif karya Penulis Harry Potter. JK Rowling mencoba meng-copy gaya Holmes ke era masa kini. Belum bisa menandingi, tapi patut diapresiasi usahanya. Hal-hal yang paling rumit biasanya sangat bergantung pada hal-hal yang paling sepele.

Koleksi Kasus Sherlock Holmes | by Sir Arthur Conan Doyle | Diterjemahkan dari The Case Book of Sherlock Holmes | Dengan izin khusus dari Lady Conan Doyle | Alih bahasa Dra. Daisy Dianasari | GM 402 95.280 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Sampul David | Jakarta, Mei 1995 | Cetakan keempat, Februari 2002 | ISBN 979-605-280-6 | Skor: 5/5

Karawang, 201020 – Linkin Park – In The End

Kekosongan, Kecemasan, Kesepian

Teori Kepribadian Rollo May by Ina Sastrowardoyo

“… Apakah unsur utama di balik kegelisahan yang menghebat itu?”

Rollo May sangat menekankan eksistensi pribadi manusia. Cita-cita bukanlah murni keinginan sendiri, melainkan yang diperoleh dari orang lain; orang tua, atasan, guru dan pandangan umum lainnya. “Saya hanya merupakan suatu koleksi cermin, yang memantulkan keinginan orang lain.” Keadaan luar itu hanya merupakan gejala dari apa yang tersembunyi di bawah permukaan kehidupan bersama seluruh masyarakat.

Kehidupan kosong dapat terlihat dari manusia yang hidup seperti robot, tiap hari itu-itu saja yang dikerjakan tanpa gairah atau kegirangan seolah-olah dipantau oleh radar di kepala. Buku psikologi yang sangat bagus, dipadatkan dengan bagus dan dijelajah pengertian itu dengan sangat pas. Menjadikan penasaran lagi buku asli karya Rollo May, karena disini didedah dengan sudut yang mengagum. Sumbangan May, mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan.

Sejarah psikologi pada dasarnya adalah sejarah filsafat akal budi. Filsafat dan psikologi akan selalu berhubungan karena keduanya mencari keterangan tentang fenomena manusia. Sartre ateis tulen bukan karena hal-hal metafisik, tapi keyakinan pada kebebasan manusia begitu besar hingga menurutnya agama apapun tidak benar, orang yang beragama tak memiliki kebebasan lagi. Sartre adalah penganut eksistensialisme paling terkenal. Konsep eksistensialisme menolak konsep sebab-akibat, dualisme anatara tubuh dan budi, serta perpisahan antara pribadi dan lingkungan.

Dengan kebebasan yang besar, mengapa manusia tetap merasakan kecemasan, alienasi, fobia, dan kebingungan lainnya? Ada dua hal, pertama dan paling jelas adalah kebebasan untuk memilih bukan berarti pilihannya itu selalu benar dan bijaksana. Kedua manusia berkodrat untuk mentransendenkan trauma, kesakitan, dan penghinaan yang dirasakan pada waktu yang telah lewat. Namun satu hal yang tak bisa ditransendenkan adalah rasa bersalah.

Kausalitas sama sekali tidak memiliki relevansi dalam tingkah laku manusia, motivasi dan pengertianlah yang menjadi prinsip operasional dalam analisa tingkah laku eksistensial.
Kata Straus (1963), “Manusia yang berpikir bukan otaknya.” Di balik fenomena terletak sesuatu yang menyebabkan fenomena itu terjadi. Psikologi eksistensial curiga pada semua teori, karena teori berpretensi bahwa sesuatu yang tak dapat dilihat dapat mengakibatkan yang dapat dilihat, sedang untuk fenomologi hanya yang dapat dilihat atau dialami sendiri disebut realitas.

Temporalitas menunjukkan berkembangnya dunia dalam sejarah hingga manusia memiliki masa lalu, masa kini, dan masa sekarang. Tiap fenomenon tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan yang sudah lalu dan yang akan datang. Manusia adalah totalitas dari sejarahnya, waktu kini dan kemungkinan-kemungkinan di masa datang dalam hubungannya dengan dunianya. Perasaan tidak berdaya atau tidak memiliki kekuasaan sama sekali adalah akar dari kekerasan yang timbul di zaman sekarang. Masyarakat membuat situasi tanpa kekuasaan, disebut pseudo ketidaktahuan sebagai sesuatu kebajikan, karena masyarakat sudah terbiasa memberi konotasi negatif terhadap pengertian kekuasaan. Kekuasaan selalu dihubungkan dengan aggressor dan korbannya.

Kebenaran hanya mempunyai arti bila diterapkan pada subjektif tertentu. Kebenaran yang berarti hanya mungkin disampaikan indirect, tidak pernah secara langsung, karena kebenaran itu timbul dari pengalaman eksistensial pribadi tertentu. Freud bilang, bahwa sadar yang selama ini diabaikan ternyata memiliki potensi yang sangat kuat dalam memengaruhi tingkah laku manusia. Kegunaan utama psikoanalis adalah menterjemahkan bahasa bawah sadar ke bahasa kesadaran. Timbulnya represi, akibat represi adalah frustasi jiwa, akibat frustasi jiwa adalah neurosis.

Seorang ekstrovert adalah tipe individu yang kehidupannya dikuasai aktivitas yang berorientasi ke luar dirinya. Bisnisman atau prajurit, tekanan diletakkan pada aktivitas. Introvert tipe individu yang berorientasi pada data-data subjektif, seperti penyair, filosof, dan pecinta ilmu pengetahuan dalam penelitian. Jung bukan membuat garis demarkasi yang ketat, tiap manusia mempunyai kecenderungan, pemisah keduanya diberikan sebagai kerangka referensi yang memberi bantuan pada penilaian secara umum. Justru Jung merupakan psikoterapist yang paling keras menekan individualitas.

Diri ini oleh Aristoteles disebut ‘entelecheia’, hal-hal yang unik sesuai kodratnya. Jung menyebut tiap manusia membawa di dalam dirinya bentuk hidup masing-masing yang tak pernah bisa diganti orang lain. Secara teoritis, tak ada satupun pengalaman yang hilang, semua disimpan di dalam bawah sadar itu, meskipun sudah lama dilupakan. Mengingat kembali serta melupakan sesuatu adalah juga unsur-unsur bawah sadar. Jadi bawah sadar adalah gudang yang sangat besar berisi segala macam sifat-sifat psikis seperti ketakutan, harapan, keinginan, dan bermacam-macam kecenderungan naluri.

Putusan-putusan penting dalam kehidupan seseorang lebih didasarkan pada naluri dan lain-lain sifat misterius yang terdapat di bawah sadar, jadi bukan semata pada kesadaran, keingingan atau akal budi. Fungsi konselor adalah membantu lagi untuk mendapatkan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri, juga membantu pasien dalam menerima dengan senang hati tanggung jawabnya terhadap masyarakat.

Orang yang memiliki kesulitan dengan masyarakat dianggap berpola pikir menyimpang, atau sebaliknya orang yang berhasil dalam masyarakat dianggap telah bisa mengatasi kesulitan-kesulitan hidup. Satu ciri khas neurotik adalah ketidakmampuan menyesuaikan dirinya dengan orang lain. Orang yang seperti ini jelas akan merasa kesepian, terisolasi, dan bagai prajurit yang seorang diri mempertahankan daerahnya di puncak gunung es.

Pada dasarnya rasa bersalah dan perasaan ditantang adalah dua sisi dari benda yang sama. Rasa bersalah adalah persepsi tentang suatu jurang yang harus diloncati. Seperti Adam yang memakan buah dari pohon ‘pengetahuan akan baik dan buruk’, yang melambangkan lahirnya kemampuan untuk melihat perbedaan baik-buruk, Adam merasa bersalah dan malu.

Maka rasa bersalah bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan sebagai sikap yang memalukan, perasaan itu bahkan bukti akan kemampuan-kemampuan manusia yang begitu luas, serta bukti akan besarnya nasib yang diharapkan ke depan manusia. Kebutuhan dasariah adalah kebutuhan akan menanggulangi rasa lapar, memenuhi akan cinta, keamanan, harga diri dan sebagainya. Kebutuhan meta adalah kebutuhan akan keadilan, kebaikan, keindahan, keteraturan, dan lainnya. Kebutuhan dasariah adalah pemenuhan yang kurang sedang meta adalah kebutuhan untuk mengembangakn diri. Dasariah harus segera dipenuhi dan dapat diberikan urutan yang mana yang terpenting terlebih dulu, sedang kebutuhan meta sama kuatnya tidak terdapat hierarki tertentu. Sama pentingnya, bila tak terpenuhi individu bisa sakit.

Keacuhan dan sikap masa bodoh adalah senjata ampuh menghadapi frustasi.

Publik adalah otoritas utama, dan otoritas utama ini terdiri dari banyak individu. Pada hakekatnya kita takut pada kekosongan kolektif kita bersama. Kesepian ini dirasakan sebagai suatu perasaan ‘berada di luar’ atau tidak diterima, terisolir, dan dengan kata lain ter-alienasi. Menurut Andre Gide, banyak orang takut akan menemukan bahwa mereka itu berdiri sendiri akibatnya mereka tidak dapat menemukan dirinya sendiri.

Secara kiasan dapat dikatakan bahwa ketakutan itu adalah ketakutan dengan maut, simbol terakhir dari kesepian. Pada masyarakat primitif, seseorang bila dihukum pengucilan lebih senang memilih maut, karena begitu putus asa. Beda sama ketakutan, kecemasan adalah rasa akan bahaya yang tak tampak dan tak jelas yang membuat manusia kehilangan kesadaran akan realitas sehingga tak mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Semester yang ingin dikemukakan dalam buku ini, yaitu kebutuhan manusia akan kesadaran dirinya. Sisi hidup ini yang pasti adalah kita maju terus, kita tak mungkin kembali lagi, manusia sekarang merupakan generasi yang tidak dapat balik, meski di depan kita akan ada badai dan bahaya lain, tidak ada pilihan lain selain maju terus!

Tak ada perbedaan antara hewan dan manusia yang baru lahir, keduanya merupakan kesatuan dengan rahim yang memberi hidup. Sekitar usia empat tahun, barulah tampak perbedaan perkembangan pada diri anak, perkembangan radikal yang terpenting adalah lahirnya makhluk manusia menjadi pribadi. Sebuah kesadaran diri inilah ciri unik manusia, kemampuan untuk melihat diri sendiri dari jauh, seolah dari luar diri sendiri. Untunglah proses bayi menjadi dewasa cukuplah lama dibanding organisme lain, mematangkan manusia untuk tugas itu. Hewan tak mampu mengalami hal ini, dan otomatis pula hewan tak terlanda perasaan frustasi yang mengganggu. Dan kesadaran diri inilah kemampuan tertinggi manusia, kemampuan yang mendasari pikiran manusia dalam membedakan ‘aku’ dengan dunia luar.

Manusia bisa berpikir secara abstrak, dapat berpikir tentang keindahan, penalaran, kebaikan… dan perasaan empati untuk merasakan penderitaan orang lain. Memikirkan diri sendiri sebagai suatu pribadi tersendiri saja, merupakan satu pengalaman kesadaran diri. Manusia mengalami dirinya sebagai satu unit yang berpikir, berintuisi, berperasaan. Kesadaran diri adalah pengalaman unik, tak ada dua orang yang mengalami sama.

Kepuasan ini adalah tujuan manusia, bukan semata-mata kebahagiaan, karena kepuasan itu adalah emosi yang diperoleh dalam melakukan apa yang ditanamkan oleh semesta dalam ciptaannya yang disebut manusia. Tingkat tertinggi dalam perkembangan kodrat manusia. Kesombongan dan keangkuhan diri merupakan tanda manusia out kosong dan meragukan dirinya, penampilan sombong sering kali digunakan untuk menutupi satu kecemasan.

Seperti dalam lukisan yang baik, latar belakang merupakan bagian yang integral dari seluruh lukisan.

Kata Spinoza kebahagiaan bukanlah hasil dari tindakan berbuat baik, melainkan tindakan berbuat baik itu sendiri. Empati secara harfiah berarti merasakan ke dalam, adalah perasaan atau pengertian yang begitu mendalam antara dua orang sehingga terjadi identifikasi pada tingkat tertentu antara keduanya.

Apakah ada sesuatu di dalam tubuh dan batin manusia yang menjalankan dan mengontrol seluruh kegiatan manusia. Konsepsi yang paling populer adalah konsepsi tentang jiwa. Dalam religi makan konsepsi jiwa ini abadi dan kekal, bebas dan berasal dari Tuhan. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan psikologi sebagai ilmu empiris yang menggunakan metoda positif idea tentang dewa dan lainnya ditolak. Tuhan tidak akan menipu ciptaan-Nya.

Terapis harus terbuka, tidak menyembunyikan diri dibalik topeng pemisah, terapis harus menemui kliennya dengan perasaan dan batin yang terbuka pula. Dalam Behaviorisme mengemukakan teori bahwa semua aktivitas manusia adalah reaksi otomatis terhadap stimuli dan bukan sesuatu yang berhubungan dengan kesadaran. May berujar bahwa konseling merupakan seni, yang dapat dikembangkan lebih besar dari seni lain misalnya melukis atau seni musik. Orang yang memandang objek seni, bahkan dapat mengidentifisir dirinya dengan objek seni itu.

Teori Kepribadian Rollo May | by Ina Sastrowardoyo | Penerbit Balai Pustaka | BP no. 3661 | Cetakan pertama, 1991 | 126 hlm.: Bibl.; 21 cm | ISBN 979-407-330-X | Gambar Kulit B.L. Bambang Prasodjo | Skor: 5/5

Karawang, 191020 – Fred Astaire – They Can’t Take Away From Me (1952)

Thx to Lumbung Buku