Dalih Pembunuhan Massal di Bali

Leak Tegal Sirah by I Gusti Putu Bawa Samar Gantang

Anda melambaikan tangan kepada saya?” / “Kepada kabut yang mengganggu suami saya.”

Dinding rumah punya mata dan telinga, fitnah bagai cendawan di musim kematian. Novel yang menyeramkan. Memenggal kepala menjadi lumrah. Kisahnya berkutat di tahun 1965 dan 1966, pembunuhan massal para kaum Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh pemerintah, di sini lebih sering disebut dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Dari awal sampai akhir, setting di Bali, lebih tepatnya di banjar Tegal Sirah dan sekitarnya. Poin utamanya adalah pembunuhan dilakukan dengan membabi buta oleh para tameng (algojo), dan memberi efek ke semua orang, termasuk kematian para algojo yang semacam kena kutuk. Kabut hitam di Bali diawali kedatangan Kolonel Sarwo Edi Wibowo, selaku komandan resimen pasukan komando angkatan darat. Tiba bulan November 1965 untuk membersihkan PKI. Operasi ini terencana dan terstruktur. Rapat-rapat operasi dilakukan di Kodim. Semua diatur di Kodim.

Bali dengan segala mistis relijiusnya. Magis menghanyutkan. Dari judulnya sudah seram, memakai kata leak dalam judul, lalu kat tegal sirah adalah Banjar Tegal Sirah unik dan spesifik. Mistik yang terletak di Desa Dauh Pasar. Cerita dituturkan dengan santai, tapi malah mencekam karena dalam kata-kata sederhana terdapat horror super teror terjadi setiap malam. Mereka yang dicap komunis dibantai seperti anjing rabies. Karma terbiasa melihat rumah terbakar layaknya membakar batu bata. Nunjel citak, istilah orang kampung untuk bakar rumah dengan batu bata. Manusia dibantai liar, layaknya membantai binatang saja.

Kisahnya dibuka dengan sebuah surat di hari Jumat Legi, 10 Desember 1965 tengah hari, truk super wagon yang berhenti di halaman sekolah. Mengangkut warga PKI atau simpatisan PKI, yang netral, atau tanpa partai, nasib mereka ada di ujung tanduk. Tersebutlah guru non formal di bale Banjar Tegal Sirah, I Gede Jobrog atau sehari-hari dipanggil Pan Jobrog dulu berpesan, “Ya, kalian harus belajar. Harus sekolah kalau ingin pintar.” Hari itu, hampir setengah dari jumlah keseluruhan murid masuk dalam daftar. Kesepuluh yang diciduk semua masih remaja, berusia rata-rata 17 tahun, masih lajang. Mereka yang non-PKI ini masuk dalam golongan jatah merah.

Sudah menjadi rahasia umum mereka yang diciduk siang, malamnya dieksekusi oleh tameng di setra (kuburan). Tameng adalah algojo dari PNI (Partai Nasional Indonesia). Ada yang diserahkan ke Kodim, mereka diserahkan kepada tameng, tentara hanya mengawasi saja. Bab pembuka yang serem sekali, tapi memang ini bukan rahasia, sudah banyak buku yang mengupas tragedi ini. Maka perjalanan dilanjutkan, detail dalam setiap prosesnya. Suasana malam terasa khusuk.

Koran lokal lalu menulis tentang leak tegal sirah gentayangan, dua puluh arwah penampakan tanpa kepala yang menenteng kepala sendiri. Menuntut balas dan mengejar para pendosa. Hidup ini tidak lepas dari sebab akibat. Suasana sekarang seperti di hutan rimba. Kita harus selalu ingat dan sadar hukum karma phala. Perbuatan baik akan menghasilkan hal baik, perbuatan buruk hasilnya pasti buruk.

Berbagai hantu disebut. Pangpang, makhluk jadi-jadian atau celuluk atau kuplak-kaplik, leak botak seksi dan lucu sekaligus bikin mual. Beberapa adegan digambarkan seram, tapi warga seolah biasa melihat penampakan. Linting adalah penerangan seperti sentir atau lampu teplok yang bahannya dari kapas yang digulung, selaku sumbu, beralas jembung atau mangkok yang berisi minyak kelapa dicampur beras. Dengan cahaya remang, di kebun melihat penampakan-penampakan. Melihat kera jadi-jadian atau leak berwujud kera. Para wanita korban menjadi leak jegeg. “Menurut kepercayaan leluhur kita, suara gagak tunggal itu pertanda…”

Ciri-ciri orang bisa jadi leak adalah orangnya pemalu, murah senyum, ramah, siku tangan dan kakinya bulbul atau berbuku-buku, menghindar untuk beradu pandang dengan orang lain. Jika ada suatu keluarga yang bisa ngeleak, maka cenderung terjadi anak pertama meninggal dunia, keluarga sulit punya keturuanan atau anak cenderung lahir adalah perempuan.

Dalam Sastra Makutama disebutkan bahwa pengleakan itu ada 12 tingkat. Tingkat pertama orang meleak bisa menjadi kera, itik, ayam, kambing. Tingkat kesebelas bisa menjasi aji rim rim. Tingkat kedua belas bisa menjadi aji sumedang. Dua tingkat terakhir ini adalah ilmu putih yang harus dimiliki oleh pendeta. Leak tingkat terakhir ini bisa untuk menangkal leak.

Ada bintang kukus atau bintang berekor, ekornya menghadap tenggara. Itu pertanda tidak baik, akan ada bencana. Itu sipta durmanggala karipubaya atau aruh hari hara. Rumah yang jadi sasaran dapat diketahui kalau pintu kori pekarangan rumahnya tidak dipasang nyiru bergambar kepala banteng segitiga. Bila terdengar siualan panjang, disusul suara burung hantu, itu pertanda operasi lempar bakar rumah dimulai, begitu juga mengakhiri. “O, jadi keluarga kita mewarisi tanah leluhur begitu banyak sebagai pewaris kerajaan?”

Untuk menguburkan mayat juga ada hitungannya. Hari yang baik untuk mengubur mayat. Menjagongan adalah melayat. “Idadane (saudara), ikhlaskan kepergiannya. Jangan ada air mata jatuh mengenai mayat. Kalau sampai jenazah kena air mata, roh almarhum akan ragu dan bimbang dalam perjalanan ke niskala (alam barzah).”

Para tameng, algojo sekali membunuh ketagihan. Haus anyir darah. Dibumbui rasa bangga, setia pada Pancasila dan NKRI. Seperti melihat koboi, ada perasaan gagah seorang jagoan mengalahkan penjahat. Seperti kesetiaan anjing kampung Bali dengan pemiliknya.

Buku-buku yang dilarang adalah buku-buku yang isinya mengandung darah, penuh kebencian dan balas dendam. Salah satunya semua buku terbitan Gema Solo yang ilustrasinya Oen Tiong Ho. Tradisi lama yang berlangsung tentram itu rusak akibat masuknya partai, masuknya politik dalam kampung. Memang kelian banjar menyerukan membuat WC dan kamar mandi, tapi yang menyerukan tak membuat.

Ada bagian yang mencipta gidik, Nang Cireng seorang kawehan dapat melihat penampakan drai makhluk-makhluk astral, memiliki indra keenam. Lalu dua rekannya yang penasaran dibukakan matanya, “Seperti ada seribu mata memandang.”

Lalu adegan seru dalam duel maut di kuburan antara De Gedeg versus Aji Pagag. Dua jagoan yang beradu di lihat para suporternya, terlihat sangat menghibur dan ajian yang ditampilkan bagus, sayangnya tak banyak, musuh keburu ditekuk. De Gedeg (warga Banjar Tuakang yang Sembilan puluh persen PKI) sendiri melakukan pembunuhan dengan brutal kepada rekan-rekan satu partainya dengan imingan ia dan keluarga selamat. Ia mendapat kekebalan dari Pan Lepig. Gurunya meninggal dengan pilu, kebal senjata tapi musuh menyandera keluarga sehingga ia berkorban, dan memberitahukan cara membunuhnya. Ambil iyip atau sembilu di batang pohon dadap yang dirambatai daun sirih di belakang rumah, sentuh leher dengan iyip tanpa darah, matilah ia. Pan Lepig PNI tapi ia memberi ilmunya pada semua orang termasuk PKI sehingga dilenyapkan juga. Hanya salah bicara bisa mati, walau ia PNI, sebab sentimen pribadi bermain di sini.

Adegan di Café Jegeg juga lumayan menghibur, bagian-bagian karma yang berlangsung. Para tameng: Aji Jenar, Aji Grodog, Nang Mung, Nang Njin, I Wayan Rekas (Nang Kok), Nang Neng, Mas Asih. Mati satu per satu, adegan café tiga tameng menemui delapan wanita cantik dan bercinta di alam terbuka itu berakhir tragis, karena para wanita itu adalah leak.

Adegan biadap disajikan dalam pelecehan seksual, para wanita diperkosa sebelum dilenyapkan, anggota Gerwani atau turunannya habis oleh tentara atau tameng setan. Salah duanya Si kembar Siluh Jabrig dan Siluh Jabrug. Sungguh pilu. Dari semua itu yang paling berengsek adalah murid yang mengeksekusi gurunya, meminta pesan terakhir lalu memenggalnya. Keterlaluan kalian kalau sampai tak menitikan air mata.

Makanya ketika satu per satu tewas para algojo ini, ada rasa lega. Salah satunya Nang Kok meninggal di Pura Dalem bersama Siluh Arum. Melakukan percintaan di tempat suci. Tiga pesan orang tua: pertama tidak boleh membunuh orang yang tak berdaya walau musuh kita, kedua tidak boleh merampas barang lawan. Ketiga tidak boleh memerkosa.

Buku ceritanya tidak sampai 200 halaman, menghabiskan enam glosarium nama dan enam belas glosarium istilah (dan tidak alfabet lagi, hiks…), plus tiga halaman data penulis. Untuk buku setipis ini sungguh mahal, dibanderol seratus ribu, buku paling mahal dari semua kandidat. Sejujurnya, walau cerita lumayan OK, buku seharga segitu harusnya bisa lebih tebal. Padahal saya lagi mengincar Tafsir Mimpi (Sigmund Freud), dengan harga sebanding. Puluhan buku yang kubeli hari ini, tetap tak mencantumkannya.

Buku ini juga lumayan bervitamin, karena masih awam budaya Bali yang mistis seperti pembagian leak atau ngaben yang terkenal itu. Lalu catatan sejarah kita tentang landeform yang merupakan Undang-Undang Pokok Agraria yang ditetapkan tahun 1962 dan dilaksanakan tahun 1963. Menerangkan barang siapa yang memiliki tanah berupa sawah atau tanah basah lebih dari 7.5 hektar, maka tanah lebih tersebut diberikan kepada Juru Tandu atau penggarap sawah. Jika berupa tanah kering atau tegalan lebih dari 9.5 hektar, maka tanah lebih diberikan kepada penggarap yang tidak punya tanah. Itu berlaku dalam satu kecamatan. Jelas aturan ini merugikan tuan tanah, petani gurem seolah mendapat durian runtuh.

I Gusti Putu Bawa Samar Gantang adalah seniman senior lahir di Bali tanggal 27 September 1949, makanya buku ini terasa memoar. Tahun 1965 berarti beliau berusia 16 tahun, masa remaja yang menancapkan ingatan kuat ke dalam benak. Kalau diamati lebih lagi, sang penulis ada di karakter Ti Jabrag, karena bisa mencerita detail kasihnya pada Bu Guru, masa cekam yang dilalui dalam kemelut politik itu disarikan dalam tiga tahap (dekade) 1999, 2009, 2019. Proses yang sangat panjang.

Prediksiku, sepertinya berlanjut ke daftar pendek.

Leak Tegal Sirah | by I Gusti Putu Bawa Samar Gantang | Copyright 2019 | Penerbit Indonesia Tera | Cetakan Pertama, November 2019 | Penyunting Dorothea Rosa Herliany | Desain sampul Sabina Kencana | Penata letak Artha Sasmita | vi + 202 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-979-775-310-8 | Skor: 4/5

Karawang, 250920 – Manthous – Potretmu (Dasa Studio)

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokopedia

Tujuh sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s