Setan yang Menyuruhku Tertawa

Surat-Surat Lenin Endrou by Maywin Dwi-Asmara

Kadang kita tak bisa begitu saja memercayai mata kita, karena terkadang mereka melihat kebohongan.

Kumpulan cerita pendek yang dibagi dalam dua bagian. Rasanya sama saja, hanya jumlah kata yang pertama lebih banyak. Lenin mengeja nama wanita itu bagaikan membaca sebaris ayat suci, dengan lembut dan penuh rasa haru. Ah sudahlah… mari kita ulik bentar.

Bagian I

#1. Surat-surat Lenin Endrou

Sebagai pembuka cerita, bisa jadi ini adalah yang terbaik. Kisahnya agak absurd, seorang lelaki mendapati hidup yang bahagia bersama Veronica yang bangun lebih awal dan berangkat kerja naik kendaraan umum. Dengan aroma kopi yang menguar, aku mendapati ruang kerja Veronica dan mendapati surat-surat Lenin Endrou yang mendayu, bernarasi kehidupan dan merindu. Lenin adalah pasien rumah sakit, yang di ujung kisah sudah tak ada.

#2. Asomatognosis

Pasien yang mengalami semacam halusinasi, dia bukanlah dia. Sang aku merawatnya, merasa kasihan dan membuat catatan perkembangan penyembuhan. Ada nada bohong karena obat yang selama ini seharusnya diberikan, tertahan.

#3. Eustasius

Semenjak mendapat gagasan untuk menulis dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, Lenin mulai mendengar suara-suara khayalan – seakan suara itu keluar dari otaknya dan masuk lagi melalui lubang telinga, merambat menghantarkan getar lewat eustasius… Apa saja berarti kemungkinan sesuatu yang menggairahkan. “Betapa menyenangkan melihat kau menikmati makananmu.” Lalu soundtrack Taxi Driver mengalun, menggema.

#4. Jurnal Mimpi

Kau terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran luas tak terbatas. Kover buku bisa saja diambil dari cerita ini, dengan hiperbolis bilang ribuan merpati di langit senja, walau eksekusinya ditunjukkan pada elang. Layaknya seorang pengelana mimpi, ia memiliki jurnal mimpi yang secara rutin diisi terus menerus. Lenin Endrou adalah dokter hewan yang memberi penghakiman pada pasiennya, “Kematian akan mengobati semua lukamu.”

#5. Gangguan Tidur

Ada pancaran kegilaan pada mata gadis itu. Senyumannya yang ganjil sering tersungging dengan cara yang aneh. Hidup sendiri dalam rumah besar mengalami gangguan tidur, halusinasi dan pikiran melalang, serangga yang memintal jebak.

Kebetulan beberapa waktu yang lalu ada teman, mengalami gangguan tidur dan imsonia curhat, dengan pede-nya kunasehati: coba ngobrol sama tembok sampai lelah.

#6. Organisme Super

Semut-semut perkasa yang memiliki kehidupan dalam tanah dalam koloni-koloni, dengan ratu yang mengatur. Dari narator tayangan televisi yang menjelaskan kehidupan semut di belantara gurun Arizona. Tahukah kalian dalam satu koloni semut ada lebih dari satu ratu? Wah info penting banget! Hehehehe…

#7. Rencana Akhir Pekan

Jumat petang adalah dambaan semua orang, ada me time di akhir pekan. Sang aku berjumpa dengan teman kantor di lift yang lupa namanya, iseng nanya lebih suka opera atau pertunjukan lain? Lenin yang merasa kekosongan, bercerita pada Veronica yang dijawab dengan kekosongan.

#8. ‘La Vita e Viaggio’

Arti judulnya, ‘Hidup hanyalah perjalanan’. Tetapi apakah kesopanan dan perilaku santun pantas menjadi alasan seseorang untuk curiga? Mungkin kecurigaan bisa menjadi jalan untuk bersinggungan dengan orang yang jauh dan bahkan tak tersentuh itu. “Dalam cerita ini apa Anda ingat, ada seorang suami yang sengaja ingin menggantikan dirinya dengan sebuah mesin?” Ia sering berteriak ketakutan karena ketakutannya sendiri. Aku memang tak seharusnya memaksakan untuk menato semua kejadian dalam hidupku dengan puisi.

#9. Di Pertengahan Bulan April

Ia lebih suka mempelajari kehidupan manusia dari makhluk lain, dari situlah ia benar-benar melihat manusia, tak jarang ia meletakkan hal-hal gaib di luar nalar manusia, seperti hubungan setan dengan manusia. Tragedi kecelakaan pesawat yang menewaskan hampir 150 penumpang, dengan sudut si A yang tahu tentang terapi, si B yang memberi terapi, si C putri sang pilot, dan sang pilot yang merasakan ada kejanggalan.

#10. Codex Kematian Veronica

Salah satu narasi yang kusuka ada di sini: ‘Kudengar suara daun yang gemerisik disisir angin, cahaya bulan telah menggaris deretan besi ventilasi berukuran tak lebih dari 10 cm…’ Pengandaian antar benda mati yang saling singgung. Kisahnya dibuat dalam pecahan dialog dan narasi tiga orang: D., M., I.. Kau cantik lebih dari burung-burung itu, pita merah jambu masih terikat pada belaian rambut lembutmu…

Kau telah terbakar bersama topeng-topeng dan bunga mawar merahmu di apartemen kita.

Bagian II

#11. Tiga Fragmen Sebelum Hujan

Tiga penggambaran, mayoritas tentang alam, cuaca, kejadian natural bagaimana burung-burung berceloteh, bunga kuncup, sampai sinar mentari yang hangat. Fragmen ketiga sebelum hujan, ada korban jiwa di jalan beraspal.

#12. Pabrik Roti

Alkisah ibu yang pernah bekerja di pabrik roti, seturut bisa membuat roti yang enak sekali. Walau endingnya lumayan OK dengan menyodorkan fakta baru, nasib duka cita Linda dan nasib suka cita bibi Linda.

#13. Pengantin Lumpur

Pernikahan Grace dan Ronald, di altar yang aneh dan menggelisahkan. Lumpur dan rambatan tanah memenuhi Grace, tanah rawa yang menjalar sepenuhnya. Ada duka di dalamnya, ada dan tiada.

#14. Boneka Ventriloquist

Don yang malas percaya bahwa apa yang ia dapatkan tidak akan pernah ada hubungannya dengan seberapa cepat ia bangun untuk memulai hari, rejekinya ntar dipatuk ayam. Haha… boneka ventriloquist dari kayu oak, menyalakan api di boneka jerami. No Mercy!

#15. Pisau Rob

Setan yang menyuruhku tertawa.” Pembunuhan dengan dalih bisikan setan. Tuan Robi dan kematian Veronica, bukti kuat mantel, kemeja, beserta pisau dengan bercak darah di apartemen.

#16. Alisia dan Bayangan Kematian

Cerita Alisia tentang lelaki yang berjalan bersama anjing, mengintai dan tampak menakutkan. Memang setelah dituturkan dengan tak menarik (buatku), ternyata ia hanya bayangan gelap besar, dan sayangnya juga menyeramkan.

#17. Di Mana Kau Berada pada Pukul Tiga Pagi?

Pembunuhan yang diperkira kematian korban jam tiga pagi. Hikayat Jack The Ripper dari Inggris. Para saksi dan yang mengetahui ada mayar lalu dicerita bersisian, musisi yang memainkan lagu sendu, orang-orang yang menganalisis bak Sherlock Holmes.

#18. Anjing

Aku melihat anjing dalam mimpiku.” Wanita berambut merah. Beberapa laki-laki yang melakukan aktivitas biasa, membuka jendela misalkan. Mimpi-mimpi aneh yang membuatku berdoa pada tuhan akan keselamatan. Sampai akhirnya ia melihat anjing itu melumat.

#19. Matahari Telah Mati

Isinya narasi panjang berbelit, seperti; ‘Aku teruskan perjalananku kembali ke tempatku sembari berpikir “apa saja yang bisa dilakukan doa-doa itu kepadanya”’. Suara-suara dalam kepala yang melengkingkan banyak tanda tanya.

#20. Jalan Menuju Roma

Mungkin buah mangga ini adalah salah satu buah yang selamat dari kemarahan alam dan menemukan jalannya menuju Roma. Roma, Italia adalah destini kota yang menjadi ikon perjuangan perjalanan. Kali ini bukan kiasan, cerita amat pendek ini ditulis di sana. Lolita dalam imaji dia. Kenyataannya aku telah berjalan di sana, di jalan Raya kota Roma. Well, sekalian teriak; #ForzaLazio dong.

Berisi dua puluh cerpen dengan jumlah halaman hanya seratus lima puluhan, sungguh cerita amat pendek. Mau disebut fiksi mini, tapi ya engga mini, mau di sebut cerpen standar Koran Nasional di Minggu Pagi tapi masih terlalu sedikit, terutama sekali bagian dua, hanya dua tiga lembar. Isinya menukik, ibarat naik sepeda, Surat Lenin sudah starter di atas serasa sejuk dan menyenangkan, dan kayuhannya menurun landai sampai akhirnya Menuju Roma terjerebab. Kebanyakan memainkan narasi, pertama masuk sih masih ok, di tengah masih bisa menikmati, ternyata gaya bertutur ini bertahan sampai akhir. Lenin mati di awal, Veronica mati di tengah, dan bertebaran kasus pembunuhan sepanjang halaman. Tema mencoba dibuat beragam, penuturannya dibuat lain, tapi cerita ya gitu-gitu aja. Kalau dalam satu kata, cara berceritanya sungguh monoton. Kamu boleh saja bermain-main kata, melalangbuana menjelajah semesta lingustik, tapi tetap yang utama cerita harus bagus.

Gaya-gayanya mengingatkanku pada gaya Haruki Murakami yang surealis, gayanya doang, ceritanya jauh. Ini versi sederhananya, versi mini, karena butuh kerja ekstra untuk membaca benar-benar masuk, Surat Lenin teramat sederhana karena fantasi nanggung dengan cerita tak kuat. Kamu engga otomatis hebat dengan mengetik lirik lagu musisi hebat, kamu engga otomatis penulis jagoan dengan pamer kosakata unik, kamu juga engga otomatis tukang sulap bila membingungkan pemirsa. First thing first, cerita! Surat Lenin sekadar bagus, sedikit di atas rata-rata yang dengan mudah kuprediksi Tak Akan Juara KSK 20.

Kau akan menatapku dan mulai menangis, kau mengutukku karena kebaikan hati yang kumiliki.

Surat-Surat Lenin Endrou | By Maywin Dwi-Asmara | Editor Kiki Sulistyo | Pemeriksa aksara Daruz Armedian | Tata sampul Sukutangan | Tata isi Vitrya | Pracetak Kiki | Penerbit Basabasi | Cetakan Pertama, Juli 2019 | 156hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-623-7900-06-3 | Skor: 3/5

Karawang, 220920 – Billie Holiday – God Bless the Child (1941)

Thx to Basabasi, Titus Pradita, Shopee

Enam sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s