Love Story a la Sinetron

Cinta Sepanjang Amazon by Mira W.

Rasanya kita tidak ditakdirkan sebagai suami-istri.” – Aries

Ini adalah pengalaman pertamaku menikmati buku karya Penulis lokal legendaris Mira W. Bulan lalu beli 5 buku edisi khusus #40TahunMenulis. Empat adalah bundel, dan ini pilihan acak baca setelah Hermione asal ambil yang #unboxing. Pengalaman pertamaku, seratus halaman pertama wow keren, memasuki ratusan rimba halaman jadi wah, memasuki ¼ akhir jadi waduh, dan jelang akhir drop. Sangat sinetron. Entah kenapa kisah yang ditanam pondasi kuat nan keren menjelma buruk, si cewek yang kere dan cerdas tiba-tiba jadi bloon dan kabur, bukan ke kota seberang atau pulau seberang, tapi main ke Australia. Hadeeh… langsung terjun bebas.

Kisahnya tentang Aries Bintang Dewabrata, anak bungsu pengusaha rokok yang terkenal. Anak kaya raya yang kelimpahan materi nan manja ini emang rada eror di dunia akademi. Drop out kuliah, hobi balapan mobil, sempat kecelakaan yang menewaskan teman, hingga tingkah nyebelin terkait asmara. Dikenal dengan Pacaran 100-hari, gonta ganti pacar, dengan embel-embel nama belakang ayahnya, banyak cewek kepincut. Sang pengusaha rokok termasyur: Titah Bintang Dewabrata. “Karena dia memang goblok! Yang bikin dia bernapas cuma duit bapaknya! Kepalanya kosong! Kuliah saja nggak serius! Tahu di mana dia sekarang?

Memiliki asisten pribadi, sekaligus teman main sejak kecil Guntur Dwi Nugroho yang pakai kaca mata hitam bak tukang pijat. Guntur ikut Aries kemana pun pergi. Ayah Guntur adalah pelayan keluarga ini, anaknya otomatis mengikuti. Hobi berkelahi, senggol dikit bacok, kebal sama makian. Tipe yang enggak banget deh buat jadi sobat ngaji.

Tokoh utama perempuannya adalah gadis lugu Rivania Ayudya, cerdas secara dapat beasiswa, ulet dalam mencari uang, dengan ide cemerlang membuka warnet di kampus, ga banyak yang dapat izin untuk usaha dalam kampus, ia bisa. Jelas cantik, dan judes. Satu panduan yang memang lazim. Rekan kerja dan teman kuliahnya Arifin jatuh hati sebenarnya sama dia, tapi mana berani menyatakan, ia ga selevel.

Dari pengenalan karakter itu, kita tahu Aries jatuh hati sama Vania dan apapun yang terjadi ia akan melamarnya, yah premis umum gitulah. Tepat, Aries benar-benar terpikat. Sewaktu ke kampus bawa mobil, mereka nabrak plang tempat parkir Purek (Pembantu Rektor), ditegur sama saptam, malah diajak salam tempel, ada mahasiswa lain lewat disenggol, ngajak berantem, dah kacaulah pokoknya, kalau mau dirangkum dalam satu kata.

Berdua masuk ke warnet, dan Aries yang dijudesin sama Vania malah jatuh cinta. Vania yang lebih berpikir praktis, ga peduli siapa saja pengunjungnya harus antri, harus bayar, harus sesuai aturan ga peduli walaupun itu anak konglomerat, penyumbang uang gedung kampus. Sikap cuek dan judes itulah yang meluluhlantakkan hati pemuda manja ini. Ia menyatakan cinta, ia akan menerjang apapun yang menghalangi.

Ada adegan lucu ketika Vania diajak makan malam, dikira di restoran mahal yang akan membuatnya terpukau. Ternyata makan malamnya di rumah Aries yang luar biasa canggih. Kokinya seorang chef, toilet serba otomatis, ruang makannya mungkin tiga kali ruang kosan di kota. Luar biasa, tentu saja ia terpesona. Kalah taruhan, dan membebas-biayakan Aries di warnet sejam tiap hari. Tapi uang bukanlah masalah buat si Bungsu, ia menukarnya dengan acara kenca. Dan waktu mencipta benih asmara. Vania luluh juga, walaupun bersikeras bukan karena uang, ia menerima pinangan Aries.

Tentu saja orang tua langsung tidak setuju, bibit bebet bobot calon menantu harus jelas. Orang tua Vania yang tak jelas, karena tanpa ayah (anak haram katanya), ibunya yang memanjakannya turut suara, harus dipikir ulang. Ngeyel, mau buktikan ia sudah dewasa dan siap mandiri. Mobilnya dijual, rumah mewahnya ditinggalkan, mereka menikah tanpa restu orang tua. Cinta mengalahkan segalanya.

Pernikahan sederhana, dengan uang seadanya. Mereka liburan bulan madu ke Amerika Latin, menikmati sungai Amazon dengan rimba belantaranya. Banyak kata-kata gombal, banyak rayuan maut, banyak pula tata cara memesona sang istri. Termasuk pura-pura jatuh ke sungai, diterkam buaya, dan mengambil cincin nikah di dalam buaya yang dibunuh. Kerja sama sama tukang kayuh. Haha… ada-ada saja.

Pernikahan awal memang mengasyikkan. Percayalah, dunia benar-benar indah. Saya sudah mengalaminya. Perkenalan lebih dekat individu, saling mengenal fisik dan batin. Sungguh aduhai. Namun, kerasnya hidup juga dimulai dari sini. Aries yang biasa manja, kini mencari kerja serabutan. Dapat di beberapa tempat, dipecat berulang kali. Mereka tinggal di rumah Vania, dengan Guntur yang tak bisa ditinggalkan turut serta. Tidur di sofa, katanya sementara tapi ga tega juga mengusirnya karena memang dengan putus silaturahmi sama bos putus pula mata pencahariannya sebagai pengawal.

Riak-riak perkawinan muncul, Aries kembali ke kenakalannya setelah bertengkar dengan istrinya, ia kabur main biliar. Vania juga mengomeli Guntur, tapi malah berakhir dengan tragedi. Di sofa tempat Guntur ngorok, terjadi perzinaan. Pemerkosaan yang mengotori pikiran Guntur yang berengsek, mengotori pikirannya Vania yang melakukan bersama sahabat suaminya. Sampai bagian ini, saya acungi jempol. Puncak segala ketakjuban, beginilah kisah kelam roman harusnya dibuat. Tragis, muram, suram, hitam. Sayangnya, Bunda Mira W. melakukan segalanya terlampau cepat.

Guntur tewas malam itu setelah mencoba melindungi Aries dari berandal biliar, Aries mengantar mayat sahabatnya di kampung halaman, Vania hamil, dan komunikasi seolah menjadi barang aneh dan sulit. Padahal setting kisah tahun 2000-an yang sudah maju buat sms atau telpon atau kirim burung dara kalau perlu, juga bisa.

Beginilah, sesudah sampai di puncak, segalanya menukik terjun. Vania berniat menggugurkan kandungan, dicegah sama Aries. Arvan terlahir, mereka kabur, Aries jua konyol sama ayahnya menjanji surat cerai dan anak. Kaburnya ke Ausie. Hebat, si Lugu ini bisa terbang ke Negeri Kangguru memakai nama samara Catalina. Si sana menemukan kehidupan baru bersama Rudi, seorang duda yang ditinggal mati anak-istrinya kecelakaan. Wuuzzz… empat tahun kemudian. Rudi sakit kanker, dan karena waktunya tak banyak. Ia memaksa mengajak Vania nikah, pulang ke Indonesia. Ditolak, karena trauma. Arvan, empat tahun memanggilnya papa. Cerita asli latarnya disimpan.

Drama menjadi kacau, liar tak mudah kita logika ketika Rudi ke Jakarta meminta warisan hak dia kepada kakaknya Rangga Budi Handoko. Warisan itu untuk Vania dan Arvan. Konyol sekali menurutku, orang mau mati masih urus warisan buat anak-istri. Duh! Rangga ternyata suami Sagitaria, kakak pertama Aries. Drama dua keluarga kaya ini juga buruk sekali. Gita yang merasa membangkitkan perusahaan merasa uangnya ‘dirampok’ adik iparnya. Pas mertua meninggal, ia tak ada. Kini tiba-tiba muncul minta duit. Gita mengetahui Vania ketika melihat foto (bisa kalian bayangkan adegannya ala sinetron yang close-up dan iringan skoring yang lebai itu), yang langsung dikasih adiknya, adiknya terbang ke Sydney, Aussie buat memergoki istri dan anaknya, muleh Say! Begitulah, muter terus. Sampai akhir yang mencoba romantis.

Cintaku sepanjang sungai Amazon! Adalah rayuan Aries kepada Vania. Takkan hilang kecuali airnya kering. Di sana pula cerita ini berakhir.

Sebagai penikmat buku segala genre saya mau komplain. Sederhana saja, kenapa para individu ini materialis? Sagitaria yang menggenggam duit, tak mau berbagi sama saudaranya. Bahkan obsesi jadi nomor satu di kursi Perusahaan warisan, ga mau kalah sama adiknya Taurina atau Aries, lelaki manja. Aneh sekali. Vania yang cerdas menjadi bloon setelah kena pengaruh suaminya, sifatnya menjadi sangat bertentangan sekali. Aries yang manja memang mengalami pendewasaan, tapi tetap saja konyol ketika dihadapkan harus mengambil keputusan. Poinnya adalah, ini lingkaran kisah orang-orang kaya yang takkan memusingkan besok makan apa, cinta yang dituturkan dengan tergesa, dalam satu kalimat: kisahnya sangat sinetron, sayang sekali. Semoga bisa lebih OK di delapan buku lainnya. Sudah beli bundel nih…

Inikah cinta? Cinta yang membuat manusia jadi bodoh dan tidak dapat berpikir rasional? Sempat mengingatkan pada kisah Love Story-nya Erich Segal yang luar biasa itu. Plotnya mirip, tapi separuh akhirnya justru nanjak ke puncak dan ending paragraf di rumah sakit itu adalah cetakan sendu tak terperi, #perfect. Cinta Sepanjang Amazon mengalami kebingungan sendiri, saking pengen banyaknya tema yang mau disampaikan, tak heran Cinta itu disapu ombak sungai. Duh sedihnya…

Cinta Sepanjang Amazon | by Mira W. | (satu bundel sama Nada Tanpa Kata) | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 6 15 1 72 012 | Copyright 2015 (edisi Mira W. – 40 Tahun Menulis) | ISBN 978-602-03-1977-3 | 544 hlm.; 20 cm | Skor: 3/5

Buat Yanti, editorku yang cermat dan pengertian

Karawang, 030820 – Bill Withers – I’ll be With You

Thx to Agus Buki, Bandung

Satu komentar di “Love Story a la Sinetron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s