Dosa Turunan by Abdullah Harahap

“… Kalau kau sedang di hutan, jangan menyebut harimau, karena harimau itu bisa datang. Kalau sedang marah-marah, jangan menyebut setan karena setan itu pun akan datang, dan sekarang telah tengah malam.”

Novel ketiga karya Bung Abdullah Harahap yang kubaca setelah Kolam Darah dan Jeritan Dari Pintu Kubur. Kisahnya tetap pada hal-hal mistis, membalut kengerian penikmatnya dalam cekam. Setelah ilmu kejawen hitam, balas dendam yang membara, kali ini kita diajak ke dunia drakula, makhluk penghisap darah yang melegenda. Disisipkanlah asmara, tenang ga se-cheezy Twilight karena banyak darah dituangkan. Sadism lebih kental ketimbang drama percintaan.

Dibagi dalam empat episode, yang kemudian dipecah lagi dalam beberapa bab. Kisahnya tentang Abidin, seorang wartawan kere yang menikahi juragan butik yang jelita nan kaya raya. Abidin jelas seperti menerima durian jatuh, seorang jelata yang klontang-klantung di meja redaksi Koran lokal, tak dinyana menjadi pilihan Miranda yang terkenal itu, untuk menjadi suaminya. Karena gaji yang diterimanya sebagai wartawan hampir tak mencukupi untuk belanja rumah tangga. Awal perkenalan juga lucu, Bidin paling males nulis fashion, dipaksa meliput peragaan busana, dan Mira menjadi perancangnya. Pacaran kilat, ke pelaminan. Itulah mulanya. Rasa kasihan kemudian jadi sayang. Ia Miranda, seorang pemilik butik terkemuka, yang telah menolak pernyataan cinta banyak lelaki, dan berusaha menjaga kesetiaannya sebagai seorang istri.

Alasan sesungguhnya ternyata Mira akan mendapat warisan jika segera melangsungkan pernikahan, dan Bidin tiba di masa yang tepat. Alasan sejatinya, disimpan di akhir, well karena judulnya dosa turunan maka jelas warisan menjadi titik penting dalam perkembangan kisah. Di episode pertama, kita ditempatkan di pertunjukan sandiwara, di adegan pembuka Mira meminta izin masuk lagi ke studio setelah dari toilet, dengan baju u-can-see seksi, menggoda banyak mata.

Mereka memutuskan menyaksikan sandiwara drakula ini karena diundang oleh teman SD Mira, Alex yang menjadi pemeran utama, lama tak jumpa, Alex mengundang khusus mereka, masa lalu ada kasih tersembunyi. Malam itu naas Alex tak pernah muncul di panggung di adegan pamungkas, ia ditemukan tewas dengan tenggorokan kroak di ruang ganti kostum, darah berhamburan. Ia didiagnosa tewas digigit binatang. Macan? Harimau? Drakula? “Alex jelas dibunuh makhluk buas.”

Jiwa reporter Bidin seharusnya bergelora karena di TKP guna meliput, tapi Mira melarangnya karena teman lama yang tewas, juga Mira sedang mengandung, jadi beberapa malam meminta sendiri di kamar khususnya. Abiding memiliki teman-teman di kantor polisi, memiliki akses khusus meliput. Tulislah apa adanya, bung. Aku percaya, kau bukan pencari sensasi. Kapten Bukit Tarigan tampak lucu – komikal, sobat lama Bidin ini jelas iri sama posisi kawannya beristri kaya nan seksi. Ia tidak tahu gambaran apa yang terlukis di wajah temannya itu. Dan ia sendiri lebih tidak tahu lagi pikiran apa yang telah mengganggunya. Sementara Letnan Nico menjalankan tugas lebih formal, siap 86! Bidin digambarkan memiliki fan kecil, sang sekretaris Nina secara tersirat menggoda. Nantinya justru menjadi sejenis olokan pasangan ini, dan akhirnya malah menjelma penguraian masalah. “Aku bukan memikirkan pekerjaanku. Aku memikirkan kau!”

Kasus pertama belum terpecahkan, muncul pembunuhan kedua. Seorang model muda Anton ditemukan tewas di mobilnya dengan celana tersingkap melorot dan nafsu tertahan, air maninya sedikit keluar, ia mati dengan kondisi mirip Alex. Leher terluka, terburai darah, sebagian tulang bahkan patah. Kematian kedua langsung melecut pihak kepolisian, jelas ini pembunuh serial! Dan dalam ulasannya Abidin menulis seolah fiksi, bahwa makhluk buas penghisap darah ada di sekitar kalian! “Setengah orang masih percaya kepada soal-soal mistik. Dan aku sendiri pernah menyaksikan sendiri… lagi pula, tokoh perempuan sangat menarik ibu-ibu rumah tangga, gadis-gadis yang sudah siap untuk berumah tangga. Rata-rata mereka pelamun dan lebih banyak diantaranya bersifat penakut…”

Dalam pengembangan penyelidikan, kecurigaan mengarah ke keluarga Bidin. Alex sahabat Mira, Anton adalah model busana rancangannya, bahkan di kamarnya terdapat foto Mira semacam menjadi sukjek masturbasi. Kejanggalan dan alibi apa yang bisa dielak? Mira tertuduh? Wanita hamil bung, atau Bidin? Ada bau love-affair di belakang itu semua, tetapi Bukit Tarigan mengatakan dengan jelas: Bidin membunuh lalatpun harus berpikir dua kali!

Buat seorang suami yang sedang sakit kepala, tak ada obat yang lebih matig daripada ciuman seorang sayang istri. Abiding pulang ke rumah dengan kepala meledak-ledak oleh kebingungan. Kumisku masih utuh, tetapi aku kuatir semangatku sudah tak utuh lagi. Diamlah, keluhanmu bisa membuat gajiku dihentikan. Entah kenapa hatinya menjadi gentar.

Pembunuhan ketiga terjadi, dan ini lebih jelas. Korbannya adalah Meilany alias Lenny, karyawan di butiknya Mira. Dengan sudut pandang sang korban, kita jadi tahu dengan jelas siapa pelakunya. Semasa muda punya hubungan istimewa dengan bosnya, mereka pisah sebab bosanya menikah, dan ia seolah terpaksa memiliki pacar bernama Leonardo yang ga beres. Yang ia inginkan adalah hidup senang tanpa tanggung jawab, tanpa memikirkan masa depan.

Lewat kaca ventilasi yang tidak bertirai cahaya, rembulan menerobos. Lenny diajak ketemuan tengah malam, karena yang mengundang sudah dikenal ia tenang saja, naas ia menjadi korban ketiga. Jelas sekali, pelakunya sampai di sini, kecuali mencipta twist besar. Namun sampai akhir taka da kejutan, pembunuhnya sudah mengarah ke si X dan terbukti.

Tuan Bukit lalu melakukan penyelidikan, menanyakan kepada seniornya yang kini pensiun. Pak Joko di Sukabumi. Kecurigaannya terbukti, kasus-kasus yang tidak berhasil ia pecahkan hingga tidak perlu membongkar arsip, rasa penasaran dan mencoba mencari pemecahan sembari bekerja di kebun. Kasus pembunuhan itu berpola, delapan tahun sekali ketika bulan menampakkan bulatnya. Tulisan Abisin bahwa pembunuhnya drakula tampaknya mewujud nyata. Mereka dikerja waktu sebelum ada yang tebunuh lagi.

Korban berjatuhan: Alex, Anton, Lenny, dan terlambat! Korban keempat adalah hardiman (manager bank). Seolah diambil acak di tengah jalan, korban melihat wanita berjalan sendirian, ditawari tumpangan dan naaslah ia! Karena sudah fix, dan menemukan titik terang, pengejaran dilakukan besar-besaran. Eksekusi ending di Bandung di tempat Nenek Tua mengungkap segalanya. Lupakan Bidin, Mira menderita bukan karena perbuatanmu, tapi bukan pula karena perbuatanmu. Mira yang malang… karena perbuatan nenek moyangnya.

Dari mula sampai pertengahn bagus banget, sama sperti Kolam Darah, horrornya memberi efek takut pembaca. Sayang di akhir, ketika pemecahan masalah diungkapkan, terutama episode empat, semua buyar. Tak ada kejutan, tak ada sad ending, walau akhirnya ada yang tewas para jagoan ini, akhirnya sang protagonist utama bahagia. Jatuh dalam pelukan yang lebih hangat, entah itu cinta atau nafsu, epilog-nya justru merusak. Terang benderang.

Aku membenci diriku sendiri. Membenci apa yang mau kukerjakan… “Mengapa air matamu meleleh, bung?” / “Karena tak tahan dengan segala sesuatu di sekitarku yang serba menyilaukan.” / “Apakah itu?” / “Lampu-lampu, dan… kau!” heleh, gombal!

Abdullah Harahap memang legenda besar novelist dengan balutan mistis angkatan lama. Banyak adegan tampak klise, banyak tuturannya sinetron sentris, bahasanya rakyat kebanyakan, vulgar adegan nganu-nya, plotnya kurang kuat, yang pasti menakutkan. Alasan yang membuatku suka adalah genre horornya. Ditulis dengan blak-blakan, terutama di pengalaman pertama yang menghiburku, mencipta takut, ngeri. Jelas, namanya akan kukejar terus untuk kulahap, satu demi satu. Dosa Turunan mengalir entah sampai di generasi ke berapa.

Dosa Turunan | by Abdullah Harahap | Cetakan tahun 1983 | Penerbit Alam Budaya Jakarta | Lukisan cover oleh Tony G. | Skor: 3.5/5

Karawang, 240720 – 280720 – Roxette – A Thing About You

HP pinjam ibu, Samsung Galaxy J5 (SM-J500G)

Thx to Anita Damayanti, delapan dari Sembilan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s