The Book of Mirrors #21

The Book of Mirrors by E.O. Chirovici

Kebanyakan orang adalah orang lain. – Oscar Wilde

Inilah yang terjadi ketika sesuatu sudah dituliskan di bintang-bintang. Semuanya bertemu dan mengalir secara natural, seperti prosa yang indah. Selamat datang di dunia Penulis, Mr. Richard Flynn, Sir.

Luar biasa, saya terpukau. Salah satu buku detektif terbaik yang pernah kubaca. Pembaca ditipu, dibuat berkeliling dalam putaran masa, diajak ke masa lalu yang tersamar, dikelok-kelok pening, lalu dalam sebuah ending yang menakjubkan kita tahu, segala yang tampak tak selalu nyata. Manipulasi ingatan mencengkram kuat, sehingga kita tak tahu mana maya mana aslinya.
Dibagi dalam tiga bagian, di mana setiap bagian dibuka kutipan bagus yang mewakilinya. Saya ketik ulang ketiganya buat kenangan. (1). Kenangan bagaikan peluru. Sebagian melesat lewat dan membuatmu ketakutan. Yang lainnya melukaimu dan meninggalkanmu hancur berkeping-keping.Richard Kadrey, Kill the Dead. (2). Ketika masih muda, kita menciptakan masa depan yang berbeda untuk diri sendiri; setelah tua kita menciptakan masa lalu yang berbeda untuk orang lain.Julian Barnes, The Sense of an Ending. (3). Yang mengatakan dengan jelas apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar dari orang lain. Karena buku ini adalah kebenaran.Marco Polo, The Travels, Buku 1, Prolog 1.

Setiap bagian mengambil sudut pandang berbeda, ditutup catatan epilog menjelas segalanya.

Bagian pertama mengambil sudut Peter Kantz seorang editor agen penyelia naskah buku yang menemukan draf cerita bagus. Tulisan itu lolos dari bak sampah setelah hari yang melelahkan pasca pesta Martin Luther King Jr., Peter mencetak draf surel lalu membaca kilat. Draf awal dari Richard Flynn, yang menderita sakit keras, menulis kisah pembunuhan berdasarkan pengalaman nyata 27 tahun lalu saat kuliah di Princeton. Tulisan padat, baik, dan menebarkan kehangatan sentuhan manusia. Lalu The Book of Mirrors mencantum tulisan tersebut sehingga pembaca merasakan sensasi juga, dalam drama enam babak, draf berakhir menggantung karena setelah Peter mencari, menelusur ke alamat, Danna Olsen, pasangannya memberitahu Richard telah meninggal dunia, dan ia menyesal tak bisa menemukan sisa naskahnya. Walaupun Richard berniat mengungkap pembunuhan, nyatanya dia membawa rahasia itu ke liang kuburnya.

Richard, kita semua punya hal-hal yang ingin kita lupakan dan tidak ada yang bisa kita lakukan tentang itu. Dan masa lalu seharusnya tidak muncul sehingga semua orang bisa melihatnya, karena terkadang maknanya terlalu rumit dan kadang-kadang terlalu menyakitkan. Sering kali, lebih baik tetap menyembunyikannya.

Sang profesor memiliki affair, jelas. Memiliki makalah menajubkan tentang ingatan yang dimodifikasi, tentu. Dia menduga proyek itu berkenaan dengan menghapus atau merapikan ingatan traumatis yang diderita para prajurit dan agen rahasia. Ingatan kita bukan kamera video yang merekam semua yang lewat di depan lensa, Richard, melainkan lebih mirip gabungan antara penulis skenario dan sutradara, yang membuat film dari petikan-petikan kenyataan. Lalu mencipta tautan ke karakter lain.

Bagian kedua mengambil sudut pandang John Keller, sahabat Peter yang kini bangkrut. Mereka melewatkan makan siang dan mengajak kerjasama, menelusur naskah buku. Setelah membaca draf-nya lalu share ke pacarnya Sam yang kuliah di Sastra, mereka heboh. Draf cerita ini luar biasa, dan akan meledak saat rilis nantinya. John, akankah menjadi ghostwriter kisah ini? Ia mencari jejak panjang kasus, baik di mbah Google ataupun langsung ke tempat-tempat yang ditulis almarhum. Aku memulai dengan mencari naskah yang hilang, belum menemukannya dan malah menemukan jejak buku yang hilang lainnya. Peran satu-satunya adalah membuat professor cemburu, wayang sederhana di pertunjukan Laura.

Walaupun dari Midwets, Laura berjiwa bebas, dan sangat terpelajar, dan punya daya tarik yang membuatnya memikat bukan hanay laki-laki, melainkan juga perempuan. Apa gunanya bekerja keras kalau kau tidak punya peluang untuk menunjukkan bahwa kau yang terbaik? Orang itu kelihatan sama dengan semua orang manja yang hidup dari uang orang tua mereka. Telusur masa itu membentuk pola, para mahasiswa dan dosennya, sesama mahasiswa yang cemburu, kasus pembunuhan yang diperiksa ulang, lalu kongkalikong dengan seorang mereka yang tersudut. Peristiwa itu menjadi seperti gambar tanpa makna, seperti ilustrasi pada buku anak-anak, dua dimensi dan tak sanggup membangkitkan antusiasme di dalam diriku. “Baiklah ini kisah yang menarik, tapi naskah itu hilang dan sepertinya kau tak siap menulis buku.”

Bagian ketiga mengambil peran sebagai pensiunan polisi, Roy Freeman. Ketika seseorang akhirnya mengetahui kebenaran tentang kasus yang menjadi obsesinya selama beberapa waktu, rasanya seperti kehilangan teman seperjalanan. Dia mendapat telpon yang mengatakan sang pembunuh yang misterius telah ditemukan, dan akan melakukan pengakuan sebelum tewas. “Sepertinya kita mendapat pengakuan.” Maka Roy pun terbang ke penjara suram itu untuk mendengar langsung fakta lama. Orang yang mati sebaiknya dibiarkan beristirahat dengan tenang, dan orang yang masih hidup melanjutkan hidupnya.

Setelah tahu siapa pelakunya, apakah Roy lega? Tidak, justru merasa ada kejanggalan lain sebab fakta satu dengan lainnya tumpang tindih. Frank Spoel memang merasa sebagai pelakunya, tapi ia tak sungguh-sungguh memiliki motif kuat, atau bisa dibilang kebetulan alurnya mirip. Maka ia pun menjelajah lagi berkas, serta mengunjungi orang-orang terkait.

Lalu kejutan itu, apa yang nampak meyakinkan bahwa kekerasan itu membuat sang korban meninggal, nyatanya tak langsung selesai. Butuh waktu dua-tiga jam kemudian, melalui penyelidikan lebih intens ada yang janggal karena pengakuan dan fakta malah ga klop, rahasia itu justru secara sepintas lalu diungkap Roy. Well, tak ada kata terlambat. Sekalipun sudah tak aktif di kepolisian, sang penjahat harus diseret ke penjara untuk hari pembalasan! Setiap kali melakukan perbuatan jahat, rasanya aku bangun dari mimpi dan tak percaya akulah pelakunya.

Inilah kisah pembunuhan Joseph Wieder, sang professor yang telaah kematiannya lebih menegangkan ketimbang segala karya ilmiahnya! “Dia amat sangat intens… tekadnya intens, itulah kata yang kucari, tapi sekaligus penuh perhitungan.” Pembunuhan West Windsor, tanggal 21 Desember 1987 yang berliku.

Di akhir buku ada catatan dari Penulis yang keren banget, tentang proses bagaimana buku ini bisa sampai ke pembaca. Sungguh berliku nan dramatis, seperti film atau kisah-kisah fiktif yang menakjubkan. Catatan itu terdiri empat halaman, seolah sebuah pengakuan, sebuah perjuangan yang patut diapresiasi. Menambah ketakjubkanku. Berapa banyak dari kita yang benar-benar bisa bahagia atas kesuksesan orang lain dan tidak memimpikan mereka membayar atas apa yang telah mereka peroleh cepat atau lambat? Tonton saja berita.

E.O. Chirovici lahir dari keturuan Rumania, Hungaria, dan Jerman serta dibesarkan di Faragas, kota kecil di Transylvania Selatan, Rumania. Sudah bertekad menjadi penulis sejak kecil, dan dalam kurun tiga tahun sebelum buku ini pertama kali terbit, ia membulatkan ambisi dengan menjadi penulis purnawaktu. Cerpen pertamanya terbit tahun 1989, novel pertamanya berjudul The Massacre dua tahun kemudian, mendapat sambutan positif dengan terjual 100.000 eksemplar dalam kurun kurang dari setahun. Lalu Commando for the General, kisah thriller politik di Italia menyusul sukses pula. Total menerbitkan buku di Rumania 15 lalu pindah tempat tinggal.

Draf buku berbahasa Inggris pertamanya dibuat Februari dan Maret 2014, setelah dipoles dan diedit sana-sini, Robert Peet, pendiri dan manager Holland House Books di Newbury mengajak bertemu setelah membacanya. Dia pede dan bilang kisah spektakuler bukan untuk penerbit kecil, maka disarankan dikirim ke penerbit major. Maka E.O. Chirovici mengirim ketiga agen penerbit di Inggris, salah satunya Marilia Savvides dari Peters, Fraser & Dunlop. Dan segalanya bergerak dengan cepat, mencapai 10 negara melakukan penawaran. Dan secara instan menjelajah 30 teritorial!

Sebagian orang lebih menyukai kisah sederhana dan manis daripada kebenaran rumit dan tak berguna. Bagaimana buku ini tercipta lebih unik lagi, berdasarkan pengalaman bersama ibu dan kakaknya mengunjungi Reading tentang pemain football yang mati muda karena kecelakaan lalu lintas. Menjadi agak menyeramkan sebab E.O. Chirovici masih balita ketika kejadian dan ia hanya mendengarkan, “Tapi kau tidak ikut dengan kami.”

Kemampuan besar otak manusia untuk memoles dan bahkan memalsukan ingatan. Bagaimana jika kita benar-benar melupakan apa yang terjadi pada suatu saat dan kita menciptakan memori palsu tentang sebuah peristiwa? Bagaimana imajinasi mengubah kenyataan objektif menjadi sesuatu yang lain ke dalam kenyataan kita yang terpisah? Bagaimana jika seseorang bukan hanya pendusta, melainkan otaknya mampu menulis kembali peristiwa tertentu, seperti penulis naskah dan sutradara digabung menjadi satu?

Begitulah The Book of Mirrors, kisahnya tentang pembunuhan di Princeton University di akhir 80an. Ketika orang laut membicarakan sesuatu, sebagian otaknya terus mencerna, bahkan ketika sedang memikirkan hal lain.

Ini bukan kisah detektif yang diminta menebak pelaku pembunuhan – whodunit, melainkan cerita detektif yang berfokus pada motifnya – whydunit. Setelah tiga ratus halaman, pembaca tak sekadar tahu siapa membunuh Tom, Dick, atau Harry. Inilah fantasi liar kisah kriminal yang dilukiskan dengan nuansa misteri kuat, sekaligus dalam kelokan sastra sesungguhnya.

Rasanya bintang-bintang cukup dekat untuk kami raih dan sentuh.“…ketika perempuan merasakan kau punya sesuatu terhadapnya, dia akan mulai menguji kekuatannya dan mencoba mendomiminasimu.”

Cermin Muslihat | by E.O. Chirovici | Diterjemahkan dari The Book of Mirrors | Copyright 2017 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 61785017 | Alih bahasa Dina Begum | Editor Bayu Anangga & Siska Yunita | Desain & ilustrasi sampul Eduard Iwan Mangopang | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-03-5127-8 | 328 hlm.; 20 cm | Skor: 5/5

Untuk istriku, Mihaela, yang tak pernah melupakan siapa kami sebenarnya dan dari mana kami berasal

Karawang, 210620 – Fort Minor (feat. John Legend) – High Road

#21 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

Hermione lulus TQ Mutiara Hati menuju SDIT Abata, Selamat #Ciprut

Satu komentar di “The Book of Mirrors #21

  1. Ping balik: Buku-buku yang Kubaca 2020 | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s