Martin Luther King #23

Martin Luther King by Anom Whani Wicaksana

Mimpi saya adalah dunia di mana orang-orang tidak diperlakukan berdasarkan warna kulit, tetapi berdasarkan nilai karakter.” –King

Buku yang kubeli Sabtu (20/06/20) lalu bersama Meyka di Gramedia Karawang ketika beli kado empat buku buat guru sekolah Hermione. Iseng saja menambahkan buku ini, tipis, dibaca singkat dan padat. Tulisan yang umum sekali, memang apa yang ingin didapat? Dari daftar pustaka jelas sekali buku sederhana ini terlampau banyak copy dari web, pemikiran dan uneg-uneg sang Penulis terbatas sekali, bahkan pustaka yang tercamtum jomplang. Sumber buku cuma tiga, majalah satu, dan dari internet melimpah ruah, mencapai empat halaman! Luar biasa, ada ya tulisan yang dinukili lebih dominan dari tempat lain menjadi karya sendiri?

Sebuah biografi bagus itu mendetail masa-masa sebelum terkenalnya sang tokoh. Masa kecil bersama keluarga, perjuangan di akademi pendidikan dan awal karier, teman-teman bermain dengan sepantaran umur dan tetangga, sampai ketemu klik yang membuatnya laik dibuatkan buku. Buku ini teramat umum yang dengan mudah tersedia di jagat maya, Google sang jagoan, bahkan terlampau sering diulang-ulang beberapa bagian, terutama tentu saja momen jalan kaki ramai-ramai ke Memorial Lincoln dengan pidato menghentaknya. Tiap ganti bab, seolah ditulis oleh tangan yang berbeda karena berulang. Saya sudah nonton film Selma yang mengantar lagu originalnya menang Oscar. Menghentak!

Martin Luther King Jr. lahir pada 15 Januari 1929 di Atlanta, Georgia. Bernama asli Michael King Jr., ayahnya mengganti nama untuk menghormati tokoh Kristen Protestan Martin Luther. Anak ketiga dari empat bersaudara, terlahir dari keluarga berada. Saat berusia 10 tahun, menjadi penyanyi Gereja untuk pemutaran perdana film Gone with the Wind. Pada bulan Mei 1941, neneknya meninggal dunia. Sempat membuat depresi hingga berniat bunuh diri. Semasa kecil hingga remaja dicekokin agama terus, justru membuatnya meragukan agama. “Keraguan saya mulai muncul tak henti-hentinya.” Namun bergeraknya waktu, ia menjadi relijius. Kekristenan adalah kekuatan potensial untuk perubahan sosial.

Bisa kuliah di Morehouse Collage saat berusia 15 tahun, tanpa lulus SMA karena dua kali loncat kelas 9 dan 15. Saat itulah Martin pertama membaca buku Henry David Thoreau berjudul Civil Disobedience tentang perlawanan tanpa kekerasan untuk menentang ketidakadilan. Martin berguru pada Mahatma Gandhi melawan kolonialisme, melakukan perlawanan tanpa kekerasan. Berulang kali dipenjara karena protesnya. Sebuah hak yang ditunda adalah hak yang ditolak. “Jika diserang jangan membalas, justru menyerahkan diri.” Selepas kuliah dan menikah, ia menjadi pastor. Latar belakang keluarga yang relijius dan penyayang mendorongnya untuk memperjuang persamaan hak dan ras. Keterlibatan Martin dalam insiden terkait hak sipil pertama kali bersama korban Claudette Colvin dan Rosa Parks yang menolak memberikan tempat duduk di bus kepada kaum putih. Martin dkk melakukan protes dan boikot bus Montgomery. Boikot selama 385 hari yang memicu ketegangan. Dan berakhir kemenangan, membangkitkan semangat kesetaraan rasial di AS. Jika kamu kehilangan harapan, kamu akan kehilangan bahan bakar. Jaga selalu harapan Anda.

Buku ini lebih banyak menebar kutipan, ajaran berorasi, inspirasi kepemimpian, belajar menggunakan kata-kata yang pas, sampai pentingnya momentum, mengulang kata-kata inti yang pendek, sampai menekankan beberapa diksi agar pendengar berhasil terpesona. Dan tentu, pidato di tangga Lincoln Memorial, Washington DC pada 28 Agustus 1963 itu diulik. Panjang nan berulang. Cara pidato yang efektif memang beragam metode, saya sendiri suka demam panggung, kuncinya setelah tahu teori ya jelas praktek. Tak ada kunci lain yang lebih efektif. Kebahagiaan lebih banyak menipu daripada kesusahan.

Martin mendapatkan Nobel Perdamaian tahun 1964, penerima termuda saat itu. Uang hadiahnya ia hibahkan semua untuk mendukung perjuangan melawan diskriminasi. Lebih dari 50 penghargaan Nasional. Tidak semua orang bisa menjadi terkenal, tapi semua orang bisa menjadi hebat karena kehebatan ditentukan dari pelayanan.

Kematian Martin pada tanggal 4 April 1968 kala senja di balkon kamar Lorraine Motel, Memphis karena ditembak James Earl Ray. Sang pembunuh adalah perampok yang dihukum seumur hidup, kabur setahun sebelumnya. Dari penyelidikan, ia melakukan pembunuhan karena rasa benci. Baru tertangkap beberapa bulan kemudian di London di bandara saat akan kabur ke Afrika. James yang awalnya menyangkal lalu mengaku guna menghindar hukuman mati, ia divonis 99 tahun penjara. Ia mengajukan banding berkali-kali, tapi ditolak, merasa bahwa ia hanya korban konspirasi politik dan militer. Tahun 1990 keluarga King menyetujui guna melakukan penyelidikan lebih lanjut, tapi tetap dalam proses peninjauan, tidak ada perbuahan. James Earl Ray meninggal dunia 23 April 1998 di penjara.

Tahun 2002 berdiri patung Martin bernama Liberty Bell setinggi 2.4 meter di tanah kelahirannya Georgia Capitol, Atalanta, putranya Bernice King meresmikan. Setelah melalui banyak perjuangan, akhirnya setiap tanggal 15 Januari atau hari Senin di minggu ketiga diperingati sebagai Hari Martin Luther King, ide itu muncul empat hari pasca kematiannya. Beberapa Negara bagian mengesahkan, beberapa menolak. Awalnya bernama Hari Hak Asasi Manusia, dan berangsur merata. Tahun 2000 semua Negara bagian menyetujuinya.

Sebelum baca ini saya hanya tahu kulitnya saja, sejarah mencatat ia sebagai pahlawan kulit hitam Amerika. Sempat sepintas berseteru dengan Malcolm X yang juga meninggal ditembak, walau tujuannya sama: perjuangan bagi warga kulit hitam menggapai persamaan hak. Setelah baca buku ini memang mendapat asupan pengetahuan lebih lebar, pandangan lebih terbuka, walau tak detail seperti biografi. Mungkin seuatu saat dapat menikmati biografi King yang lebih lengkap dan mumpuni. Yah, ga salah juga sih buku ini karena mencantum genre sosial science.

Lalu kenapa nilainya lebih dari separuh kalau bukunya biasa? Masalahnya isi dan kutipan yang dipilihkan bagus-bagus (mencapai 18 halaman!). Terutama tentu saja pidato panjang ‘I Have a Dream’ (8 halaman), diterjemahkan lengkap! Sehingga bisa dinikmati dan merasakan sensasi orasi menggebu itu. Dibaca nyaring, sendirian di ruang meeting sepulang kerja. Mantab betul!

Black Lives Matter saya lihat di kaos semua pemain, tempat yang seharusnya nama pungguh di Liga Inggris kemarin: Tottenham Hotspurs melawan Manchester United. Setelah lebih dari 50 tahun pasca pidato I Have a Dream, di Amerika masih terjadi huru-hara rasisme, bahkan di tengah pandemi yang mewajib semua orang keluar pakai masker dan jaga jarak, kasus pembunuhan Flyod yang menimpa warga kulit hitam, dilakukan oleh polisi yang terekam mencipta gelombang demo besar. Menyeberang ke Eropa dan Asia, contoh nyata ya di pertandingan sepak bola. Perjuangan melawan rasisme memang tak ada matinya. Petir tidak membuat suara hingga ia menyerang.

Sejarah harus mencatat bahwa tragedi terbesar era transisi sosial pada saat ini bukanlah keributan yang dibuat oleh orang-orang jahat, tapi diamnya orang-orang baik. Jadilah langka, karena Anda akan dicari orang dan bisa mempengaruhi orang tersebut.

Puisi yang paling saya gemari, penyair yang paling saya sukai, adalah Aeschylus. Sekali waktu ia menulis ‘Bahkan dalam tidur kita derita yang tidak terlupakan jatuh setetes demi setetes ke dalam hati kita, sehingga dalam keputusasaan yang sangat, bertentangan dengan kehendak kita, muncullah kebijakan melalui tangan Tuhan Yang MahaAgung.’” – pidato Robert F. Kennedy

Martin Luther King | by Anom Whani Wicaksana | Editor Odilia | Penata letak Rustam Setting | Cover Ndaru | Penerbit C-Klik Media | Cetakan pertama, 2018 | ISBN 978-602-5448-46-1 | Skor: 3/5

Karawang, 230620 – Billie Holiday – God Bless the Child

#23 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

The Stranger #22

The Stranger by Albert Camus

Buku yang sudah pernah kubaca tahun 2016, terjemahan lain dari Senja Publishing. Intinya sama. Ketika menyusun novel-novel terbaik sepanjang masa, saya menempatkan The Stranger di sepuluh besar. Waktu saya benar-benar terpesona memasuki dunia Camus yang absurd dan janggal.
Terbitan Immortal tampak lebih sopan, bagian ketika Marie bercinta dengan sang protagonist hanya ditulis sepintas lewat tidur bersama, dan paginya dibangunkan. Atau untuk bilang bernafsu, Marina menulis ‘indraku terangsang’, tampak sungguh aman untuk Remaja, seolah para petinggi Lulus Sensor memantau ketat. Atau bisa dibilang pemilihan diksinya lebih pas dan nyaman. Unggul di banyak segi, dari sampul saja sudah terlihat istimewa.
Kisahnya tentang Mersault, warga Prancis di Aljasair tahun 1942 yang dituntut hukuman mati setelah menembak seorang keturuan Arab di pantai pada hari Minggu di pantai tempat liburan. Mersaultxx seolah memang lagi apes saja. Berteman dengan penjahat kelamin Raymond yang suka menganiaya perempuan. Kebetulan di hari naas itu, Raymond mengajaknya ke bungalow , lalu dua orang keturan Arab itu menguntit membawa pisau, dan sejatinya Raymond yang diincar, hingga terluka mulut dan tangannya. Raymond bawa pistol, dibawa Merasault, cuaca cerah dengan limpahan matahari, dan gemeri
Terbagi dalam dua bagian, tak lebih dari 200 halaman jadi bisa dengan cepat dihalap (ulang) di sela pulang kerja dan istirahat. Saya hanya lempeng saja mengikuti arus, saya akan melihat dari belakang saja bagaimana kasus orang aneh menjadi begitu unik sekaligus rumit.
Bagian pertama tentang kehisupan sehari-hari si orang aneh, bagaimana menjalani hidup di kantor yang membosankan. Berpasangan dengan Marie yang menginginkan nikah, bercinta sehari setelah kematian ibunya di panti jompo. Keseharian di apartemennya yang sunyi. Tetangganya yang tak kalah unik, si tua dengan anjingnya yang komplain mulu namun saat si anjing hilang menangis tersedu-sedu.
Makan siang di Celeste yang sudah akrab. Bersama orang-orang yang mengganggapnya orang baik, defensif dan mungkin terlihat naif serta apatis. Sejatinya tak ada masalah di sana, tak ada gejolak berarti, bahkan bosnya menawari pindah tugas kerja di cabang Paris nantinya, yang tentu saja membuat Marie girang. Pergi ke ibukota yang menjanjikan. Semua itu kandas gara-gara salah milih teman.
Tetangga lainnya yang jahat, Raymond yang melukai cewek matre-nya. Lalu diancam sama saudara si cewek yang keturuan Arab. Raymond lalu mengajaknya berlibur ke pantai, yang menjelma tragedi. Dengan latar gemericik air sungai yang mengalir ke muara laut, dengan terik mentari yang menyilaukan, dengan pistol milik Raymond yang dipinjamkan, dengan sebuah kebetulan yang ‘entah apa namanya’, Mersault bertemu dengan si Arab dan melakukan tindak pembunuhan. Satu tembakan melukainya, empat entakan berikutnya memastikan kematian.
Bagian kedua adalah persidangan yang panjang. Saksi-saksi dipanggil, pengacara tembak ditunjuk, sang jaksa menginterogasi, lobi-lobi dilakukan. Sang terdakwa pasif dan nothing to lose. Menganggap semua masih berjalan sebagaimana mestinya. Marie mengjenguk sedih, bahkan masih memberi asa untuk menikah selepas bebas. Sikap Mersault yang tenang justru menjadi boomerang.
Peristiwa kematian ibunya diangkap dalam sidang, menunjukkan betapa ia seorang cuek bebek, tak ada tanda-tanda kesedihan sebagai seorang yang kehilangan orang tua. Bahkan menganggap keberadaan ibunya di sana adalah keputusan bersama, ketimbang tinggal bersama tak bahagia. Kesaksian Perez, kekasih ibunya semasa hidup di hari tua menambah kepahitan, bahwa ia tak peduli dengan orang yang ‘menyelamatkan’ masa tua ibunya. Kesaksian perawat, pelayat, serta orang-orang yang secara langsung menyaksikan responnya terhadap duka semakin memberat. Bagaimana seorang yang menawarkan rokok atau kopi bisa menjadi kunci keputusan. “Apakah klienku di sini diadili karena pemakaman ibunya atau karena membunuh seseorang?”
Kesaksian teman-teman di sekitar apartemen dan restoran Celeste, dan tempat kerja tentu saja baik, dan membantunya, tapi kesaksian Raymond justru merusak. Dianggap berteman dengan penjahat kelain, seorang kasar dan temperamental, inilah gambaran sahabat yang mencemari. Segala proses yang melelahkan itu berujung keputusan mengejutkan, sungguh hukuman mati untuk orang yang tak tepat itu mengerikan sekali.
Dia sendiri tak gentar, ditanya percaya tuhan ga? Enggak, ateis. Maka seorang pendeta yang datang guna mendampingi justru diusir, ga perlu ceramahmu gan, cepat pergilah. Sang bapa yang masuk paksa mengklaim kita cerita-cerita saja sebagai sahabat, enggan juga. Marah ia menghabiskan waktu istirahatnya, marah pula dengan doa-doanya, ga butuh. Yang dibutuhkannya waktu istirahat, makan enak, rokok, bukan bualan doa jelang kematian dan pengampunan! Benar-benar gilax! Itulah mengapa judulnya orang aneh. Cocok sekali-kan?!
Terjemahan Immortal sama bagusnya dengan Senja Publishing, hanya pemilihan katanya lebih halus. Di Senja tertulis ‘teriakan-teriakan kutukan dan cacian’ di Immortal menjadi ‘meneriakan kata-kata penuh kebencian’. Dengan sumber yang sama, alih bahasanya menjadi sedikit berbeda. Ini bukan pertama kalinya saya baca buku terjemahan dari dua penerbit berbeda, beberapa sudah pernah kulahap beruntun dan menurutku sama saja, asal ga parah-parah amat. Selama koridor EYD dan meninimalisis typo, serta dilakukan dnegan sepenuh hati rasanya sama nikmatnya.
Di era digital ini, sudha sangat banyak sekali terjemahan dari berbagai jenis dan bentuk. Ga dominasi penerbit major saja, kurasa karya luar yang sudah melewati masa 50 tahun sudah membanjiri toko buku. Sherlock Holmes contohnya, sudah ada puluhan terbitan dengan rupa yang melimpah. Dari edisi tipis ala-ala indi sampai disatukan dalam bundel setebal al kitab. Rasanya kita patur bersyukur hidup di zaman kemudahan menikmati karya tulis. Tak ada yang mustahil, novel-novel bagus serbagai genre dari manca menjela bahasa Indonesia. Immortal salah satu yang leading, dengan kover bagus penuh ilustrasi ciamik dan full colour yang memanjakan mata, laik dipajang di rak. The Stranger jelas cocok dikoleksi.
Seseorang tidak pernah mengubah cara hidupnya; satu cara hidup akan sama baiknya dengan yang lain, dan hidupnku sekarang ini sangat sesuai dengan diriku.
The Stranger | by Albert Camus | Penerjemah Marina Pakaya | Penyunting Zulkarnain Ishak | Penyelaras
akhir Imam Ardianto | Rancang isi Cahyo Satria | Rancan gsampul Katalika Project | ilustrasi sampul Sekar Bestari | Cetakan I, 2017 | Penerbit immortal Publishing ISBN 978-602-6657-84-8 | viii + 184 hlm.; 13 x 19 cm | Skor: 5/5
Karawang, 220620 – Katy Perry – Part of Me
#22 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf
Thx to Mojok Store

The Book of Mirrors #21

The Book of Mirrors by E.O. Chirovici

Kebanyakan orang adalah orang lain. – Oscar Wilde

Inilah yang terjadi ketika sesuatu sudah dituliskan di bintang-bintang. Semuanya bertemu dan mengalir secara natural, seperti prosa yang indah. Selamat datang di dunia Penulis, Mr. Richard Flynn, Sir.

Luar biasa, saya terpukau. Salah satu buku detektif terbaik yang pernah kubaca. Pembaca ditipu, dibuat berkeliling dalam putaran masa, diajak ke masa lalu yang tersamar, dikelok-kelok pening, lalu dalam sebuah ending yang menakjubkan kita tahu, segala yang tampak tak selalu nyata. Manipulasi ingatan mencengkram kuat, sehingga kita tak tahu mana maya mana aslinya.
Dibagi dalam tiga bagian, di mana setiap bagian dibuka kutipan bagus yang mewakilinya. Saya ketik ulang ketiganya buat kenangan. (1). Kenangan bagaikan peluru. Sebagian melesat lewat dan membuatmu ketakutan. Yang lainnya melukaimu dan meninggalkanmu hancur berkeping-keping.Richard Kadrey, Kill the Dead. (2). Ketika masih muda, kita menciptakan masa depan yang berbeda untuk diri sendiri; setelah tua kita menciptakan masa lalu yang berbeda untuk orang lain.Julian Barnes, The Sense of an Ending. (3). Yang mengatakan dengan jelas apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar dari orang lain. Karena buku ini adalah kebenaran.Marco Polo, The Travels, Buku 1, Prolog 1.

Setiap bagian mengambil sudut pandang berbeda, ditutup catatan epilog menjelas segalanya.

Bagian pertama mengambil sudut Peter Kantz seorang editor agen penyelia naskah buku yang menemukan draf cerita bagus. Tulisan itu lolos dari bak sampah setelah hari yang melelahkan pasca pesta Martin Luther King Jr., Peter mencetak draf surel lalu membaca kilat. Draf awal dari Richard Flynn, yang menderita sakit keras, menulis kisah pembunuhan berdasarkan pengalaman nyata 27 tahun lalu saat kuliah di Princeton. Tulisan padat, baik, dan menebarkan kehangatan sentuhan manusia. Lalu The Book of Mirrors mencantum tulisan tersebut sehingga pembaca merasakan sensasi juga, dalam drama enam babak, draf berakhir menggantung karena setelah Peter mencari, menelusur ke alamat, Danna Olsen, pasangannya memberitahu Richard telah meninggal dunia, dan ia menyesal tak bisa menemukan sisa naskahnya. Walaupun Richard berniat mengungkap pembunuhan, nyatanya dia membawa rahasia itu ke liang kuburnya.

Richard, kita semua punya hal-hal yang ingin kita lupakan dan tidak ada yang bisa kita lakukan tentang itu. Dan masa lalu seharusnya tidak muncul sehingga semua orang bisa melihatnya, karena terkadang maknanya terlalu rumit dan kadang-kadang terlalu menyakitkan. Sering kali, lebih baik tetap menyembunyikannya.

Sang profesor memiliki affair, jelas. Memiliki makalah menajubkan tentang ingatan yang dimodifikasi, tentu. Dia menduga proyek itu berkenaan dengan menghapus atau merapikan ingatan traumatis yang diderita para prajurit dan agen rahasia. Ingatan kita bukan kamera video yang merekam semua yang lewat di depan lensa, Richard, melainkan lebih mirip gabungan antara penulis skenario dan sutradara, yang membuat film dari petikan-petikan kenyataan. Lalu mencipta tautan ke karakter lain.

Bagian kedua mengambil sudut pandang John Keller, sahabat Peter yang kini bangkrut. Mereka melewatkan makan siang dan mengajak kerjasama, menelusur naskah buku. Setelah membaca draf-nya lalu share ke pacarnya Sam yang kuliah di Sastra, mereka heboh. Draf cerita ini luar biasa, dan akan meledak saat rilis nantinya. John, akankah menjadi ghostwriter kisah ini? Ia mencari jejak panjang kasus, baik di mbah Google ataupun langsung ke tempat-tempat yang ditulis almarhum. Aku memulai dengan mencari naskah yang hilang, belum menemukannya dan malah menemukan jejak buku yang hilang lainnya. Peran satu-satunya adalah membuat professor cemburu, wayang sederhana di pertunjukan Laura.

Walaupun dari Midwets, Laura berjiwa bebas, dan sangat terpelajar, dan punya daya tarik yang membuatnya memikat bukan hanay laki-laki, melainkan juga perempuan. Apa gunanya bekerja keras kalau kau tidak punya peluang untuk menunjukkan bahwa kau yang terbaik? Orang itu kelihatan sama dengan semua orang manja yang hidup dari uang orang tua mereka. Telusur masa itu membentuk pola, para mahasiswa dan dosennya, sesama mahasiswa yang cemburu, kasus pembunuhan yang diperiksa ulang, lalu kongkalikong dengan seorang mereka yang tersudut. Peristiwa itu menjadi seperti gambar tanpa makna, seperti ilustrasi pada buku anak-anak, dua dimensi dan tak sanggup membangkitkan antusiasme di dalam diriku. “Baiklah ini kisah yang menarik, tapi naskah itu hilang dan sepertinya kau tak siap menulis buku.”

Bagian ketiga mengambil peran sebagai pensiunan polisi, Roy Freeman. Ketika seseorang akhirnya mengetahui kebenaran tentang kasus yang menjadi obsesinya selama beberapa waktu, rasanya seperti kehilangan teman seperjalanan. Dia mendapat telpon yang mengatakan sang pembunuh yang misterius telah ditemukan, dan akan melakukan pengakuan sebelum tewas. “Sepertinya kita mendapat pengakuan.” Maka Roy pun terbang ke penjara suram itu untuk mendengar langsung fakta lama. Orang yang mati sebaiknya dibiarkan beristirahat dengan tenang, dan orang yang masih hidup melanjutkan hidupnya.

Setelah tahu siapa pelakunya, apakah Roy lega? Tidak, justru merasa ada kejanggalan lain sebab fakta satu dengan lainnya tumpang tindih. Frank Spoel memang merasa sebagai pelakunya, tapi ia tak sungguh-sungguh memiliki motif kuat, atau bisa dibilang kebetulan alurnya mirip. Maka ia pun menjelajah lagi berkas, serta mengunjungi orang-orang terkait.

Lalu kejutan itu, apa yang nampak meyakinkan bahwa kekerasan itu membuat sang korban meninggal, nyatanya tak langsung selesai. Butuh waktu dua-tiga jam kemudian, melalui penyelidikan lebih intens ada yang janggal karena pengakuan dan fakta malah ga klop, rahasia itu justru secara sepintas lalu diungkap Roy. Well, tak ada kata terlambat. Sekalipun sudah tak aktif di kepolisian, sang penjahat harus diseret ke penjara untuk hari pembalasan! Setiap kali melakukan perbuatan jahat, rasanya aku bangun dari mimpi dan tak percaya akulah pelakunya.

Inilah kisah pembunuhan Joseph Wieder, sang professor yang telaah kematiannya lebih menegangkan ketimbang segala karya ilmiahnya! “Dia amat sangat intens… tekadnya intens, itulah kata yang kucari, tapi sekaligus penuh perhitungan.” Pembunuhan West Windsor, tanggal 21 Desember 1987 yang berliku.

Di akhir buku ada catatan dari Penulis yang keren banget, tentang proses bagaimana buku ini bisa sampai ke pembaca. Sungguh berliku nan dramatis, seperti film atau kisah-kisah fiktif yang menakjubkan. Catatan itu terdiri empat halaman, seolah sebuah pengakuan, sebuah perjuangan yang patut diapresiasi. Menambah ketakjubkanku. Berapa banyak dari kita yang benar-benar bisa bahagia atas kesuksesan orang lain dan tidak memimpikan mereka membayar atas apa yang telah mereka peroleh cepat atau lambat? Tonton saja berita.

E.O. Chirovici lahir dari keturuan Rumania, Hungaria, dan Jerman serta dibesarkan di Faragas, kota kecil di Transylvania Selatan, Rumania. Sudah bertekad menjadi penulis sejak kecil, dan dalam kurun tiga tahun sebelum buku ini pertama kali terbit, ia membulatkan ambisi dengan menjadi penulis purnawaktu. Cerpen pertamanya terbit tahun 1989, novel pertamanya berjudul The Massacre dua tahun kemudian, mendapat sambutan positif dengan terjual 100.000 eksemplar dalam kurun kurang dari setahun. Lalu Commando for the General, kisah thriller politik di Italia menyusul sukses pula. Total menerbitkan buku di Rumania 15 lalu pindah tempat tinggal.

Draf buku berbahasa Inggris pertamanya dibuat Februari dan Maret 2014, setelah dipoles dan diedit sana-sini, Robert Peet, pendiri dan manager Holland House Books di Newbury mengajak bertemu setelah membacanya. Dia pede dan bilang kisah spektakuler bukan untuk penerbit kecil, maka disarankan dikirim ke penerbit major. Maka E.O. Chirovici mengirim ketiga agen penerbit di Inggris, salah satunya Marilia Savvides dari Peters, Fraser & Dunlop. Dan segalanya bergerak dengan cepat, mencapai 10 negara melakukan penawaran. Dan secara instan menjelajah 30 teritorial!

Sebagian orang lebih menyukai kisah sederhana dan manis daripada kebenaran rumit dan tak berguna. Bagaimana buku ini tercipta lebih unik lagi, berdasarkan pengalaman bersama ibu dan kakaknya mengunjungi Reading tentang pemain football yang mati muda karena kecelakaan lalu lintas. Menjadi agak menyeramkan sebab E.O. Chirovici masih balita ketika kejadian dan ia hanya mendengarkan, “Tapi kau tidak ikut dengan kami.”

Kemampuan besar otak manusia untuk memoles dan bahkan memalsukan ingatan. Bagaimana jika kita benar-benar melupakan apa yang terjadi pada suatu saat dan kita menciptakan memori palsu tentang sebuah peristiwa? Bagaimana imajinasi mengubah kenyataan objektif menjadi sesuatu yang lain ke dalam kenyataan kita yang terpisah? Bagaimana jika seseorang bukan hanya pendusta, melainkan otaknya mampu menulis kembali peristiwa tertentu, seperti penulis naskah dan sutradara digabung menjadi satu?

Begitulah The Book of Mirrors, kisahnya tentang pembunuhan di Princeton University di akhir 80an. Ketika orang laut membicarakan sesuatu, sebagian otaknya terus mencerna, bahkan ketika sedang memikirkan hal lain.

Ini bukan kisah detektif yang diminta menebak pelaku pembunuhan – whodunit, melainkan cerita detektif yang berfokus pada motifnya – whydunit. Setelah tiga ratus halaman, pembaca tak sekadar tahu siapa membunuh Tom, Dick, atau Harry. Inilah fantasi liar kisah kriminal yang dilukiskan dengan nuansa misteri kuat, sekaligus dalam kelokan sastra sesungguhnya.

Rasanya bintang-bintang cukup dekat untuk kami raih dan sentuh.“…ketika perempuan merasakan kau punya sesuatu terhadapnya, dia akan mulai menguji kekuatannya dan mencoba mendomiminasimu.”

Cermin Muslihat | by E.O. Chirovici | Diterjemahkan dari The Book of Mirrors | Copyright 2017 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 61785017 | Alih bahasa Dina Begum | Editor Bayu Anangga & Siska Yunita | Desain & ilustrasi sampul Eduard Iwan Mangopang | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-03-5127-8 | 328 hlm.; 20 cm | Skor: 5/5

Untuk istriku, Mihaela, yang tak pernah melupakan siapa kami sebenarnya dan dari mana kami berasal

Karawang, 210620 – Fort Minor (feat. John Legend) – High Road

#21 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

Hermione lulus TQ Mutiara Hati menuju SDIT Abata, Selamat #Ciprut