Babad Kopi Parahyangan #19

Babad Kopi Parahyangan: Sebuah Novel by Evi Sri Rezeki

Kopi sesungguhnya makhluk paling haus petualangan. Ia menginang pada tangan-tangan manusia untuk mengembara. Namun ia bukan benalu yang kemaruk, ia meleburkan diri bersama manusia melahirkan anak-anak peradaban…”

Alurnya mundur, di masa kini di kedai kopi Haroema, Sedjak 1960 Kenikir yang modis lama mematung sebelum akhirnya bergerak mencari Kaphi, pemilik kafe. Setelah hanya bedua dan duduk hanya terpisah meja, ia berujar: “…Saya anak mantan rekan biskin bapak kamu, anak dari ia yang membuat perkebunan dan kedai ini bangkrut.”

Lalu kisah meluncur berpuluh-puluh tahun sebelumnya tahun 1869. Di tanah seberang, di Minang, Karim yang berkenalan dengan Sang Pelaut yang mencecap kopi di warungnya, terpesona tutur kata akhirnya turut gabung merantau, setelah mendapat restu dari ibunya. Penuh titik harap mendengar cerita keinginan menggenggam emas hitam dunia. Parahyangan itu saranganya mutiara hitam. Dari sana, Kompeni sebarkan ke penjuru Nusantara. Petualang menuju tanah Sunda, di kapal ia berkawan dengan Ote, yang dikisah ini sepertinya hampir menjadi partner tapi ketika menginjakkan kaki di pulau Jawa malah melangkah berlawanan arah. “Mereka yang datang ke tanah Jawa bersama nurani keadilan terbakar gelora api kemakmuran. Mereka yang datang bersama mimpi perubahan terhipnotis untuk menghisap kejayaan.”

Dengan membawa catatan menggores momen, Karim tiba di Batavia. Punya daya memainkan silat, jadi bekal buat nanti kelahi. Bertiga pisah di sana, sang Pelaut kembali memeluk air asin, Ote ke Barat, dan Karim ke Bandung dikenalkan seorang pengantar surat bernama Ujang, Uitkijt Post. “Jaga diri kalian. Kalian anak-anakku. Merangkaklah bila perlu merangkak. Berlarilah, bila perlu berlari. Terbanglah, bila perlu terbang. Bila raga menjalankan tugasnya, jagalah isi kepala dan jiwa kalian tetap merdeka. Hanya dengan begitu kalian tetap menjadi manusia.”

Dalam kereta kuda pos Karim turut ke tanah Parahyangan. Membayangkan perjalanan yang lambat, malam tidur di hutan, siang terik yang menggelora, hingga potensi dicegat perampok sungguh Jakarta-Bandung menjadi rute yang aduhai. Ga seperti sekarang yang wuuuzzz… satu jam.

Nah ini kisah Karim di sana. Lika-liku perjuangan menjadi ‘orang’. Di kebun kopi bekerja menjadi buruh. Dari kisah lama, Benih-benih kopi bersemayam di Kedawoeng pinggiran Batavia, di tanah milik sang penguasa, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Williem van Outshoorn. Kopi di Parahyangan tak perlu gula sebab rasanya sudah manis. Itinerario near Oost ofte Portugaels Indien, kurang lebih artinya Pedoman Perjalanan Ke Timur atau Hindia Portugis, ditulis Jan Huygen van Linshoten, seorang pedagang dan penulis.

Karim membantu kaum tani yang ditindas Kompeni, menguatkan hati pribumi yang dijajah. Teringat Si Pitung dari Jakarta, jago benar menjelma Robinhood. Mencoba filsuf dengan nasihat perlawanan bak kaum buruh milenial. “Kita ini manusia, Jang! Semut bila diinjak saja menggigit. Apa kita sebagai mau manusia diam saja?!” Melawan kompeni yang koalisi sama pribumi pilihan. Pasukan Jayengsekar, pasukan yang paling ditakuti di pulau Jawa. Pasukan yang terdiri dari putra-putra bangsawan pilihan yang dibentuk oleh Daendels untuk mempertahankan kedudukan pemerintah dari berbagai ancaman entah dari pribumi sendiri maupun Negara lain. Atas jasa-jasanya mengembangkan wilayah dan memberdayakan masyarakat, Adang mendapat gelar kehormatan dari bupati dan kompeni: Asep. Kawannya yang lain, sesama kepala cacah mendapat gelar Ujang dan Agus. Namanya bukan Asep, melainkan Adang. Ternyata nama kasep itu awalnya semacam gelar to.

Sistem kapitalis di era itu disusun dengan rapi, walau tentu saja ga secanggih sekarang tapi bibitnya sudah terstruktur. Maka para pemuka agama, mantri, guru, dan kaki tangan lainnya diserahi pekerjaan untuk mengumpulkan pajak, seperlima dari hasil panen yang kemudian dibagikan kepada bupati dua pertiganya dan para pengumpul sepertiganya sebagai ganti gaji. “Kefakiran dekat dengan kakafiran. Kekayaan dekat dengan kezaliman, dan kekuasaan yang menggerakkan keduanya.”

Kalian sudah baca Max Havelaar of de Koffijj-Veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij. Nah di sini disebutkan, ditelaah. Setiap buku selalu mengandung tuah dan rahasia. Sebuah buku dapat menuntun pada kegelapan dan membimbing pada cahaya. Yang begitu dekat tetapi tidak terlihat. Saya udah baca yang terjemahan Qonita warna Orange khas Londo, padat dan panjang sekali. Ceritanya Karim yang dihukum melihat buku itu tergeletak di meja, dan ia terkesima isinya. Bagaimana seorang Belanda menulis penindasan di tanah Khatulistiwa. Orang-orang Belanda menuntut persamaan hak rakyat Hindia-Belanda. Kaum liberal berjuang menghapus sistem tanam paksa. Kita akan sama-sama menggaungkan semangat Multatuli. Ceritakanlah impian-impianmu menyambut zaman baru.

Sarang mutiara hitam yang semula impian berubah menjadi mimpi buruk. Ia dapat paham para petani pada emas hitam, ia pun mafrum kecintaan para pangreh praja dan Kompeni pada kopi. Kopi adalah batu-batu penyusun istana, kain gemerlap yang membalut tubuh, makanan lezat terhidang di meja, sepasang kuda gagah penarik kereta mewah, bedil berisi peluru dan rotan yang melayang-layang menebas jiwa petani.

Buah kopi merupakan lambang penaklukan dan angkara di tanah Sunda. Detail di dalamnya kurasa tak perlu dicerita. Kenalan dengan pribumi salah satunya Euis Mintarsih yang cakap, bersekutu lalu melawan ketidakadilan menjadi tema utama babad ini. Mengapa di usia belia beban keluarga mesti ditumpahkan ke bahunya? Maka Karim tampil bak ketua Serikat Pekerja. Karena Karim bisa silat dan baca tulis, jadilah kariernya menanjak. Atau bisa disebut penuh kebetulan nan keberuntungan. Harga diri adalah benda rapuh yang tercederai. Dan benda rapuh itu hanya memiliki sedikit guna dalam kehidupan ini.

Dan kalian tahu, saya tak suka akhir yang mulus. Mengisahkan kepedihan tentu menguras energi, tapi worth it untuk dilahap. Bertutur lurus dan mujur, sungguh terasa seperti dongeng anak sebelum tidur. Ambu tidak perlu mengkhawatirkanku. Jiwa para leluhur yang bersemayam selalu melindungiku.

Buku ini kubaca sehari penuh, cuti di hari Senin, 16 Maret 2020, saat itu saya cuti khusus untuk menyelesaikan baca satu buku dan kebetulan buku ini fresh from the oven, baru kelar cetak dan kuterima hanya berselang sebulan, dikirim dari Dema Buku bersama buku lokal lainnya. Sayangnya hasil akhir tak semenggembirakan semangatnya, Babad Tanah terlalu sinetron, plot yang menggerakkan biasa, pilihan diksi standar, alur dan penokohan juga sangat biasa untuk sebuah novel yang memakai kata Babad, yang berarti riwayat atau membuka lahan baru atau segala peristiwa sejarah. Terdengar Agung. Sungguh aduhai sebuah buku dengan judul ‘babad’ yang terbayang pertama jelas adalah epic action dengan keris, eh tapi saya belum baca Babad Tanah Jawa yang terkenal itu ding.

Kunikmati dari pagi sampai sore, dari ruko-ruko di Galuh Mas yang berpindah-pindah karena terusir sama pemiliknya yang mau buka, sampai sore di tempat duduk nyaman di Taman Kota Galuh Mas. Sempat diguyur hujan, sehingga lari ke dalam mal, sempat kuselingi nonton film The Invisible Man yang dramatis itu, di jeda duhur-asar. Babad terlalu umum, untuk sebuah buku yang masuk daftar pendek Sayembara Nasional, terasa ada yang kurang. Dan yang utama sekali adalah cerita, entah mau dibawa kemana karena dari pengakuan dan kesepakatan Kenikir dan Khapi, buku ini hanya permulaan. Sebuah Trilogi ataukah lebih nantinya, sayang sekali start-nya ga bagus. Ceritanya kurang dapet.

Memang sulit mencipta cerita berbalut sejarah. Apalagi bagi yang sudah menikmati buku-buku Pram, rasanya kebanting banget bila kita menelusur jejak, sampai ga berani bandingkan, ga berani menyandingkan. Kelas Pram memang dewa. Butuh keteguhan dan keberanian, dan ternyata Babad Kopi sangat jauh dari yang diharapkan.

Seperti pepatah Sunda, “Manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akal na – Burung terbang oleh sayapnya, manusia hidup karena akalnya.”

Ia menggeram seperti harimau.

Babad Kopi Parahyangan: Sebuah Novel | by Evi Sri Rezeki | Penerbit Marjin Kiri | Cetakan pertama, Februari 2020 | Desain sampul Tinta Creative Production | i-x + 348 hlm, 14 x 20.3 cm | ISBN 978-979-1260-96-1 | Skor: 3/5

Untuk para leluhur Parahyangan. Untuk para leluhur Nusantara. Mereka yang tak bernama dan tiada pula tergambar rupanya. / Untuk Papah Bellamy Xarim, Mama Euis Mintarsih, Ayah Isa Anshori, Mamah Dedeh Isnawangsih, dan Eva Sri Rahayu.

Karawang, 130620-190620 – Robert Johnson – Hellhound on My Trail

#19 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf