Cadas Tanois #18

Cadas Tanois by Amin Maalouf

Untuk bangsa inilah bergerak orang Alleghany dan Impian! Lengan manakah, bila saat bahagia akan mengembalikan wilayah itu, sumber ketenangan tidurku dan semua gerak gerikku?Arthur Rimbaud, Illuminations

Tuhan tidak pernah memberikan segala-galanya kepada siapa pun, Bapak Pendeta. Anda memiliki kepintaran, pengetahuan, kejujuran, kebaikan, pengabdian… yang kurang hanyalah kesabaran.”

Wow. Just wow. Menakjubkan sekali, cara berceritanya indah, meliuk-liuk memainkan emosi. Maut, cinta, dan kekuasaan yang membelit menjadikannya epic. Dengan label ‘Pemenang Grand Prix Des Literatures 1996’ di sampul pojok kanan atas. Alurnya runut, dan benar-benar seru sempurna. Paket komplit segala genre, luar biasa. Fantasi terkait legenda batu tempat menghilangnya sang protagonist. Drama percintaan terkait asmara remaja yang kandas lalu meliar di tanah seberang. Wakil action ada di masalah perang, pergantian kekuasaan dan segala yang membelit efek kehidupan rakyat. Komedi? Jelas ada, satir sih bapaknya Tanios yang balik kampung karena merasa aman, justru berakhir di tiang gantungan, kena tipu. Sungguh menyenangkan melahap buku beraroma jantan seperti ini. Ada satu hal yang sama sekali lain yang diperlukan, merenung? Berpikir? Lebih dari itu, memurnikan jiwa.

Kisahnya tentang Tanios yang melegenda dari Lebanon. Cara berceritanya unik sekali, berdasarkan tiga buku catatan yang menjadi rujukan, Tanios bukan mitos, setelah dirunut silsilah ia pernah ada. Atau setidaknya itu klaim Penulis. “Hanya dongeng katamu? Kamu hanya ingin kejadian nyata saja. Kejadian nyata itu tidak tahan lama, percayalah, hanya dongeng yang tetap hidup, seperti halnya jiwa sesudah raga, atau seperti minyak wangi setelah anak gadis yang memakainya lewat.” Dari kakek Gebrayel, sang Pencerita lalu menyusun segala keping, menyusunnya menjadikan sebuah novel yang kita baca.

Semoga Yang Maha Kuasa berkenan memberi maaf, karena aku menggunakan waktu untuk sembahyang dan membaca kitab suci untuk menulis riwayat yang tidak sempurna dari orang-orang daerahku ini, karena pertimbangan, menit-menit yang kita jalani tidak akan ada tanpa ribuan tahun yang telah mendahuluinya sejak dunia diciptakan dan debar jantung kita tidak akan dimungkinakan jika tidak ada rangkaian turun-temurun nenek moyang kita, serta pertemuan-pertemuan mereka, janji-janji mereka, perkawinan mereka yang diberkati atau juga godaan-godaan mereka. – Pengantar Catatan Montagne, Karya Rahib Elias dari Kfaryabda.

Tanios menghilang di bulan November 1840, dan kisah ini dimula jauh sebelum itu. Ia adalah anak dari Lamia yang cantik dan Gerios, seorang Kepala Rumah Tangga Istana. Desas-desus mengata Tanios adalah anak dari Cheikh Kfaryabda. Kedudukan begitu tinggi. Di atas dia dan di atas sesama cheick, dan Emir Montagne, dan di atas emir ada pacha propinsi, di Tripoli, Damaskus, Sida atau Acre. Segala diskusi di Balai Tiang Besar

Pada tahun 1821, menjelang akhir Juni, Lamia, istri Gerios, melahirkan seorang anak laki-laki, yang semula dinamai Abbas, lalu Tanios sebelum membuka matanya yang belum berdosa, bayi itu telah menimbulkan kedengkian yang tak patut dialaminya. Dialah yang kemudian dijuluki kichk, dan ditimpa nasib yang telah kita ketahui. Seluruh hidupnya tiada lain hanyalah rentetan tahapan. Desus itu telah bilang terjadi perselingkuhan, bahkan saat memberi nama, sang cheikh yang mengusulkan, seolah ia punya hak. Sampai-sampai harus disumpah. Awalnya ayahnya setuju saja, tapi mengingat martabat, ga jadi. Karena dalam masyarakat desa itu cara menunjukkan kesopanan yang paling tinggi pada perempuan adalah tidak mengacuhkannya.

Tanios bersekolah di Gereja orang Inggris, bersama anak cheikh Raad. Saat itu Kfaryabda ada di bawah naungan Katolik, sekolah Kristen dari Inggris bersama Pastor jelas beda kepercayaan, kok bisa? Sebuah bab panjang menjelaskan alasannya yang absurd. Bahkan nilai Raad yang jelek tak bisa membuatnya dikeluarkan. Misi terselubung. Di Libanon, seseorang dipanggil hajje, karena pernah berziarah ke Bethlehem untuk melihat Palungan Suci.

Apa yang telah kau pelajari sudah cukup. Percayalah pada pengalamanku. Jika kau terlalu banyak belajar, kau tidak dapat lagitahan hidup di antara keluargamu. Kau harus mempelajari apa yang kau perlukan saja untuk memenuhi tugasmu. Itulah yang disebut kearifan.” Melamun untuk melupakan kesabarannya, tetapi ia tertidur tak lama kemudian.

Ada seorang mantan Kepala Rumah Tangga Istana yang memiliki dendam kepada sang cheikh, ia kini kaya dan tinggal di sekitar desa. Roukoz memiliki gadis cantik bernama Asma. Tanios jatuh hati dan benar-benar rela melakukan apa pun demi terwujud nyata. Perempuan paling cantik! Menarik dari tengkuk sampai tumit. Tangannya panjang dan halus; rambutnya hitam terjurai sampai punggung, matanya besar dan keibuan, suaranya lembut. Ia selalu memakai minyak wangi dari bunga melati; seperti gadis-gadis di desa. Tapi melatinya tidak sama dengan yang lain.

Sang ayah memberi restu, walau tersamar hanya untuk melanggengkan niat dendamnya. Usia anak gadis itu baru dua belas tahun, tetapi ia sudah seperti perempuan dewasa. Bibirnya seperti dilukis dan wanginya bak harus bunga yacinthe liar. Tiba-tiba masa depannya seolah-olah telah direncanakan oleh tangan yang paling baik karena menjanjikan cinta, pengetahuan luas, dan kekayaan sebagai tambahan.

Kita semua memiliki cacat yang patut dicela. Aku sendiri bukan Santo Maron. Dan kau sendiri bukan Simeon le Stylite. Tetapi aku tidak pernah mengabaikan istriku karena tergila-gila istri polisi desa, dan terutama tidak pernah aku menghamili perempuan lain yang hidup di bawah atapku sendiri.

Lamaran segera digelar, Tanios diwakilkan Pemimpin Gereja. Lha dalah, sang pendeta malah berencana menikahkan Asma dengan saudaranya, karena terpesona kecantikannya. Tanios marah besar, dan sang ayah yang selama ini pasif melakukan pembunuhan, adegan terbayang dengan luar biasa dramatis di hutan pinus di lembah desa.

Ayah anak ini menjadi buron, mereka kabur ke pulau Cypus. Di tanah seberang inilah Tanios kagum sama ayahnya, betapa besar pengorbanan dan cintanya. Dan di tanah seberang inilah, Tanios merasakan hubungan badan pertamanya. Dilabeli ‘Peristiwa buah jeruk.’ Tanios bercinta dengan bayar. Asma seolah telah hilang dari ingatannya seperti kena perangkap. “Aku kenal seorang perempuan. Aku tidak pandai berbicara dalam bahasanya dan ia tidak pandai berbicara dalam bahasaku, tetapi ia menungguku di kepala tangga. Pada suatu hari, aku kembali ke sana dan mengetuk pintunya, untuk menyampaikan kapal kami sudah siap berangkat.”

Berhari-hari mereka menikmati tempat baru sembari menanti kabar dari kampung halaman, dan ketika terdengar kabar bahwa Kfaryabda kini sudah berganti kekuasan, maka pulanglah mereka. Dalam adegan aneh, tentang pantangan dan mitos, Tanios ga boleh turut serta naik kapal, karena akan membawa petaka. Maka hanya ayah dan sobatnya yang pulang, Tanios akan menyusul. Sungguh tragis, kabar itu hanya rekaan, seperti kisah detektif ala abad 17, ternyata itu hanya tipuan yang mengakibat Tanios yatim.

Ekualizer kejut itu dimaksimalkan di dua bab akhir, segalanya bergerak cepat, saya merasakan sensasi dahsyat ketika kata-kata ending itu dituturkan. Luar biasa, bagaimana kekuasaan begitu cepat berganti, nasib orang-orang ada di tanganmu, politik rumit yang mengantar Tanios harus mengambil keputusan penting. Ia bersalah karena tidak tegas. Ia bersalah karena mengampuni, karena menyisakan rasa sayang, debu-debu cinta. Ia bersalah karena menunjukkan rasa kasihan. Malam ketika akhirnya ia kembali bertemu ibu. Baik yang menyedihkan maupun yang menggembirakan, yang muncul dalam ingatannya waktu itu ingatan yang paling remeh, salah satu yang terlupakan. Semula ia mengharapkan ibunya akan membesarkan hatinya, namun ia malah membawa kekhawatiran lain.

Malah esoknya setelah terjadi pembunuhan lain di penjara, Tanios melakukan tindakan legendaris ‘menghilang’ atau ‘hilang’ membatu di persimpang jalan, tempat bapaknya melakukan eksekusi tembak dengan senjata dari Richard Wood sang konsul Inggris. Apakah begitu caranya menerima kehormatan, malu-malu atau sopan santun yang berlebihan? Semua sumber sepakat mengatakan per laku Tanios pada pagi itu menimbulkan tanda tanya pada hadirin. Tidak peka pada kecaman, tidak peka pada pujian, membisu seribu basa.

Pada setiap zaman di Kfaryabda, selalu ada orang gila di situ, dan kalau ia menghilang selalu ada penggantinya. Seperti bara di bawah abu agar api tidak padam. Mungkin Tuhan memerlukan boneka-boneka ini, untuk digerakkan dengan jari-jariNya untuk menembus tabir yang ditenun oleh akal manusia.

Kebenaran kisah Tanios terasa semakin kuat dengan setiap mulai bab dikutip beberapa catatan. Menjawab surat Anda, dengan gembira kami sampaikan, di antara murid-murid Sekolah Sahlan angkatan pertama sekali, memang ada yang bernama Tanios Gerios dari Kfariaba. Pendiri sekolah kami, pendeta Jeremy Stolton, datang dan menetap di Montagne dengan istrinya pada awal tahun 1830. Di perpustakaan kami ada sebuah kotak tempat penyimpanan arsip, terutama untuk menyimpan, setiap tahun, buku harian yang berisi berbagai catatan, dan juga untuk menyimpan surat-surat. Jika Anda ingin melihat-lihatnya, kami persilakan Anda datang, namun mohon maklum kami tidak dapat mengizinkannya dibawa keluar… Kutipan surat Pendeta Ishaac, Kepala Sekolah Inggris di Sahlain sekarang.

Saya membeli buku ini hanya karena diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia yang rerata bagus, tanpa banyak tanya, di Susanto Book Store, Solo dua tahun lalu. Tampak eksotis, jarang-jarang saya menikmati buku dari Timur Tengah, karena selain kecil kemungkinan ada di toko buku konvensional, memang menjadi opsi buncit untuk dilahap, ada keengganan dan rasa was-was setiap manusia memasuki area asing.

Kata-kata orang bijak mengalir dalam cahaya. Tetapi sepanjang zaman orang lebih suka minum air yang memancar dari gua yang paling gelap. – Nader, The Wisdon on Muleback (Kearifan Pedagang Keliling).

Riwayat Tanios menyimpul banyak arti harfiah. Seolah Sang Nasib mempererat simpul-simpulnya, dan sang maut berkeliaran. Kematian dan hidup begitu tipis perbedaan, setiap saat bisa menyapa. Cadas Tanois mencipta megap-megap haru biru dalam balutan thriller! Semua kebahagiaan sama saja, berlangsung satu minggu atau tiga puluh tahun, cara orang menangis tetap saja tatkala hari terakhir, dan orang bersedia masuk neraka asal saja tetap diberi kesempatan menikmati hari esok.

Cadas Tanois | by Amin Maalouf | Copyright 1993 | Edition Grasset & Fasquelle | Diterjemahkan dari Le Rocher de Tanios | Penerbit Yayasan Obor Indonesia | Y.O.I: 274.15.06.99 | xiv + 262 hlm.: 21 cm | ISBN 979-461-322-3 | Edisi Pertama, Juli 1999 | Penerjemah Ida Sundari Husen | Desain sampul Ipong Purnama Sindhi | Skor: 5/5

Untuk mengenang laki-laki bersayap patah

Karawang, 180620 – Bill Withers – My Imagination

#18 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf