Tarian Bumi #16

Tarian Bumi by Oka Rusmini

Kelak, kalau kau bisa menemukan hakikat cinta laki-laki dan perempuan, kau akan mabuk. Kau tidak akan menemukan jalan untuk pulang. Kau akan tersesat. Tapi setiap kau sadari dirimu tersesat, justru itulah keindahannya.” Nasihat Nenek pada Telaga.

Ini adalah kisah tentang cinta sejati, ga peduli apapun yang ada di hadapan, akan diterjang demi mempertahankan kasih. Dengan balutan budaya Bali yang kental, perbedaan kasta menjadi permasalahan pelik untuk bersatu. Pengorbanan, harga diri, segala upaya dilakukan untuk bisa bersatu dengan pujaan hati. Terkadang memang hidup seperti itu, kejam. Di samping itu, isu cinta sesama jenis juga diapungkan, walau sepintas tapi begitu hidup karena memang cinta itu buta. Tertarik kepada sesama perempuan, aibkah?

Awalnya agak sulit untuk tune-in karena banyak memuat kata daerah, baru setelah puluhan halaman, terbentuk pola. Lika-liku kehidupan pasa seniman, para kaum ningrat-nya Pulau Dewata dan batas-batas yang tak boleh ditembus sebab kasta memberi garis tebal perbedaan. Bila nekad, konsekuensinya pahit. Teramat pahit, dilema mengabdi sama keluarga dalam kasta Brahmana ataukah cinta yang teguh diperjuang. Aku selalu memohon pada dewa-dewa di sanggah agar kau bisa keluar dari lingkaran karmaku. Kau harus menjadi makhluk yang baru dengan karmamu sendiri.

Kisahnya tentang Telaga yang mengajari anaknya Luh Sari nari, di sini dipanggil Meme (ibu). Ini tentang beberapa keturunan yang merumit, jadi memang tak fokus ke satu-dua karakter. Cerita sering lompat-lompat, flash back ke masa lalu Telaga Pidada yang canggih menari Oleg, tari tentang nikmatnya merakit percintaan, gabungan antara nafsu dan ego. “Karena dia seorang putri Brahmana maka para dewa memberinya taksu, kekuatan dari dalam yang tidak bisa dilihat mata telanjang…” Keturunan bangsawan, cantik pula. Namun siapa yang tahu apa itu kebahagiaan?

Luh Sadri yang iri dan heran kok bisa, Telaga sudah banyak membantu padahal. “…Hyang Widhi, kenapa aku tak bisa membuang kebencian pada perempuan di atas panggung itu?” Semakin baik Telaga, semakin bencilah ia. Kita lalu diperkenalkan dengan Putu Sarma, lelaki keturunan Sudra yang gagah nan rupawan. Menjadi polemik memang, diperbincang gadis-gadis lintas kasta. Siapa Sarma, jadi pematik akhir yang seru.

Melompat lagi, kita diperkenalkan Ida Bagus Tugur, lelaki terpelajar berambisi memperoleh jabatan tinggi di pemerintahan. Impiannya terkabul tapi lupa diri. Nenek yang berkorban banyak, kini malah dihianati, suaminya punya simpanan penari, janda beranak dua dari kaum Sudra. Menjadi sempurna nasibnya, anaknya juga terpikat sama perempuan Sudra. Atas-bawah menampar, merasa tak punya harga diri. “Membangun sebuah dinasti itu sulit Telaga. Apalagi sebagai perempuan.” Kebangsawanan harus tetap dipertahankan sesuai tradisi yang diwarisi orang-orang tua.
Yang berbuat ayahku, yang menanggung beban aku dan keluargaku. Kadang-kadang aku sering berpikir, kalau kutemukan laki-laki itu aku akan membunuhnya!”

Sekar yang cantik mendamba Ida Bagus untuk memperbaiki derajat, sebagai penari yang ciamik ia memiliki nilai. Luh Kerten yang mencintainya mencoba menjaga, Kerten yang sayang kepada Sekar, podo wedok e. Hubungan yang tak pakem, hubungan orang sakit, apakah Kerten memerlukan ahli jiwa? Aku ingin menaklukan hidupku. Hidup bagiku adalah pertarungan yang tidak pernah selesai. Tidak akan pernah habis selama aku masih hidup. Aku harus jadi pemenang. Sebelum aku mengalahkan hidup, aku tidak ingin mati.

Kalau saja perempuan-perempuan di pasar itu tahu, bahwa dia sering berlatih agar wajahnya bisa terlihat seperti wajah perempuan yang sengsara. Latihan kerasnya itu mendatangkan hasil yang luar biasa. Luh Dalem, ibu Sekar menjadi korban pelecehan seksual, dan menderita berat. Ia hamil dengan identitas bapak tak jelas, melahirkan bayi kembar bernama Kerti dan Kerta. Inilah perjuangan Sekar untuk menjadi kaya, demi ibu dan segala kepedihannya. “Sekar itu artinya bunga. Sebagai bunga kau harus berada di tempat teratas…”

Luh Sekar menikah dengan Ida Bagus Ngurah Pidada, mengganti namanya dengan Jero Kenangan, ia harus meninggalkan semua masa lalunya. Tak bisa ikut sembahyang di sanggah, pura keluarganya, tak bisa memakan buah-buahan yang telah dipersembahkan untuk leluhur keluarganya. Tak bisa bersikap manis kepada kedua adiknya, sebebas hubungan saudara. Semua telah berubah. Putus hubungan dengan keluarga ini menjadi getir ketika kematian ibunya yang hanyut di sungai, ia tak bisa menyentuh mayatnya. Perempuan bangsawan harus bisa mengontrol emosinya!

Lalu seolah melompati plot, kita mengambil sudut pandang Telaga. Orang tua yang ada di adegan pembuka yang mengajari menari anaknya, Luh Sari. Kenangan belajar menari ke Luh Kambren, guru tari terbaik dan termahal di seluruh desa. Setelah diajar keras, sang guru merasa inilah saatnya ia memberi taksu, taksu yang didapat dari para dewa tari. Taksu yang tidak akan pernah menetes lagi. “Hyang Widhi, akhirnya kutemukan juga laut yang tepat untuk menumpahkan limbahku.” Tugeg cantik, pandai menari, dan seorang putri bangsawan. Setelah kematian Kambren karena serangan jantung, ditemukan di biliknya yang sederhana. Kini Telaga melanjutkan tradisi.

Telaga jatuh hati kepada mahasiswa seni lukis bernama Wayan Sasmitha, warga biasa. Dan inilah putaran karma, entah mengapa di sini cinta menjadi sosok yang benar-benar sakral, membutakan hampir semua karakter. Seperti narasi berikut: Laki-laki yang dicintainya sejak umur sepuluh tahun! Sampai dari ini cinta itu tidak berkurang satu senti pun. Tidak pula bergeser. Dia tetap terjaga dengan baik, bahkan makin hari makin subur saja. Nah, cinta Telaga kepada Wayan membuatnya hampir meledak. Luar biasa ya, makhluk bernama cinta ini. Kali ini dibalik, Dayu Telaga (perempuan) kasta tinggi mencintai Wayan (kasta rendah). Ini pilihan tiang sendiri, seperti ibunya yang pindah kasta kini ia juga melakukannya, hanya saja sekadar switch. Begitulah, mereka bersatu dan menghasilkan Luh Sari. Nah ini dia si tamvan, Sarma sang ipar yang menggoda. Dan seolah harus melepas kutukan, harus ada upacara patiwangi sesuai kata-kata balian agar ada ketenangan, agar tidak ada petaka. Inilah Tarian Bumi, membiarkan perempuan tua mencuci kaki di ubun-ubunnya untuk menjelmakan dirinya menjadi perempuan baru. Perempuan Sudra.

Budaya Bali muncul hampir di setiap lembarnya. Contoh satu saja di ujaran halaman 22 Kerten berkata, “Kamu jangan bicara ngawur, Sekar. Ini Pura, aku takut para dewa mendengar pernyataanmu!” Kau percaya pada dewa-dewa? Pada Tuhan? Perempuan adalah makhluk luar biasa, di dalam tubuhnya tersusun lebih rumit dari laki-laki. Setiap lekuk perempuan menawarkan sensualitas. Perempuan Bali bekerja adalah membuat sesaji, sembahyang, dan menari untuk upacara. Mengingat pernikahan antar kasta sepanjang kisah, patut dipertanyakan arahan Luh Sari melakukan hal yang sama di masa depan?

Kehebatan Tarian Bumi terletak pada banyaknya kalimat langsung. Dialognya melimpah ruah, dengan berbagai ungkapan yang pas. Alur yang acak, merumit dan nama-nama yang tumpang tindih menambah daya imaji, menantang berpikir, belum lagi orang-orang yang ganti nama menyesuaikan kasta, untung sekali di akhir ada silsilah sederhana menjelas. Lalu seolah karma, semua berulang, berputar, menuai hal-hal yang dilakukan masa lalu. Dan akan terus berkutat di situ. Saya benar-benar merasa klik bahkan setelah lebih dari separuh buku! Kemuraman, kesunyian, kegelapan. “…yang tiang sesalkan, begitu banyak orang yang merasa lebih bangsawan daripada bangsawan yang sesungguhnya.”

Tarian Bumi | by Oka Rusmini | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 617 202.007 | Copyright 2007 | Cetakan ketiga, Maret 2017 | Desain kover Fandy Dwimarjaya | Setting Ryan Pradana | ISBN 978-602-03-3915-3 | Skor: 4/5

Untuk lelaki kecilku, Pasha Renaisan

Karawang, 160620 – Bill Withers – Heart Break Road

#16 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

Thx to Bustaka Taman Kota Galuh Mas, Karawang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s