Sengketa Kredit Maksiat

Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang by Ben Sohib #17

Alhamdulillah, San, tadi siang aku menerima jawaban. Calon buyer itu mengatakan bahwa surat penawaran buatanmu bagus sekali, ketikannya rapi, kalimat-kalimatnya indah dan memenuhi standar Bahasa Inggris baku. Ia sangat terkesan dan bermaksud memesan surat seperti itu sebanyak tiga kontainer.”

Saya tak mengenal Ben Sohib, dari biodata di akhir buku ternyata pernah nulis dua buku: The Da Peci Code (2006), Rosid dan Delia (2008). Memang selalu ada yang pertama, dan buku ini cukup menjelaskan bagaimana beliau bercerita, gayanya absurd, diselingi komedi, lalu di akhir – kalau di Stand Up Comedy, muncul punch-line yang menohok. Beberapa cukup bikin tersenyum geram, beberapa belum tune-in sama alur, ujug-ujug sudah kelar, terlalu pendek. Ada dua dari sebelas yang sukses mencipta bahak, lalu berujar, “Ya ampuuun.” Sungguh aneh, sungguh menggelitik, dan hampir semua yang dikisahkan ada di sekitar kita, ada di sekeliling kita dengan budaya Betawi yang kental, khas ente, gue, serta segala akhiran ‘e’ yang termasyur itu. Nama-nama karakter unik atau dibuat merakyat disertai julukan, kehidupan kaum jelata dengan pemikiran terdalamnya guna bertahan hidup.

#1. Para Penjual Rumah Ustazah Nung
Kisah pembukanya sungguh lucu, atau bisa juga dibilang tragis. Gaya penceritaan mengingatkanku pada karya-karya Guy Richie yang memainkan plot, alur tumpang tindih diselipi kebetulan. Dulah meminta rumah umi, Ustazah Nung untuk dijual karena ia ingin menikah lagi. Ketiga saudarinya menolak itu rumah warisan abah maka tak etis selama umi masih hidup para keturuan berbagi warisan, tapi ternyata Sang Umi mengiyakan dengan berat hati. Rumahnya yang strategis dijual, pindah ke pinggiran kota. Dulah yang sering menyebut diri sendiri ketika bicara bikin kzl, ‘Dulah ingin ini, Dulan mau ke Galuh Mas, Menurut Dulah, itu ga pantes, dst.’ Khas cewek manja, ditambah tutur katanya yang diseret huruf ‘spelo, ya ampun rasanya pengen nampol. Tak disangka, dibalik akad jual-beli itu ada peran Lola yang jadi pion makelar.

#2. Si Dulah di Toko Bang Rizal
Lanjutan dari cerpen pertama, seru sekali melihat kemalangan seseorang. Nasib Dulah yang dimainkan kayak semut di tangan kita. Terkadang kita halangi jalannya, terkadang kita ulik, lalu pas geram semut di tangan itu kita gebuki. Nah, di sini Dulah setelah kehilangan dua gigi dan istri, ia kehilangan juga Lola gadis pujaan semasa SMA yang setelah dinikahi hanya dalam hitungan bulan cerai lagi. Dikisahkan dengan pelan nan kocak, bagaimana memilih toko rokok di antara dua di gang dekat rumah menentukan kelanjutan nasibnya yang apes. Ditipu Bang Rizal dan ‘sepupu’nya, setelah diajak Silvia tiga kali makan bakso, dua kali nonton bisokop (typo Bung!). Uang investasinya dibawa kabur, dan pesta pora Polisi dengan mie rebus, rokok, serta bagi-bagi sampo sachet.

#3. Lelaki yang Bebagi Sarapan dengan Anjing
Kali ini kita merentang jauh ke Pulang Dewata, dua pedagang batik yang terimbas Perang Libya secara ga langsung, seolah efek kupu-kupu merentangkan desirnya. Abdurahman Baswir dan Asikin Sahlan tinggal satu kos untuk menghemat budget, berbagi makan dan tugas. Setelah dua bulan yang carut marut sepinya wisatawan, Asikin marah kepada Abdurahman yang suka ‘jajan’ karena menurut agama, maksiat seseorang itu memengaruhi nasib sekeliling juga. Abdurahman mandi, Asikin berangkat menjajakan batik lupa nutup pintu, lalu seekor anjing milik induk semang mengendus tahu tempenya. Hal-hal biasa, tapi tampak istimewa dengan senyum samar wajah pelacur di kompor sebagai eksekusi ending jelas tak kusangka. Oh Wisye, kita udah wik wik tiga atau empat kali nih? Hehe…

#4. Burung Nasar dan Kutukan Korban Kesembilan
Merokok dengan ujung terbaik? Saya pernah, dan doeloe refleks karena gemetar. Siapa sangka, dijadikan kalimat ending yang runutannya begitu menggelora. Sang penipu yang sudah mapan, anak bungsunya yang mengangkat derajat orang tua ingin menikah, kalian tahu Mail Basuri? Dia adalah korban kesembilan terkait program kerja tipu utang-piutang almarhum keluarga. Jadi Ubaid melakukan tipuan, bahwa almarhum memiliki utang yang harus diselesaikan, ahli warisnya melunasi. “Yang setengahnye lagi die janji mau lunasin akhir bulan.” Aksi itu macet di angka Sembilan, perumpamaan burung nasar menerkam bangkai menghantui terus. Duer… Mail menjelma calon besan. Harusnya bukan hanya rokok kebalik, menggeret api belasan kali baru nyala, sambil tangan gemetar, disertai mata mengerjap-erjap lebih dramatis nan syahdu.

#5. Bagaimana Nasrul Marhaban Mati dan Dikenang
Tragedi meluapnya sungai Ciliwung dan makna kematian. Dirunut kematian Nasrul Marhaban yang khusnul khotimah, banjir menerjang, sekeluarga sudah diselamatkan di perahu, lalu Al Quran-nya jatuh, Nasrul otomatis terjun lagi. Sayang nyawanya tak bisa diselamatkan. Nasrul yang semasa hidup hanya ke masjid Assalam tiga kali momen: Idul Fitri, Adha, dan mengungsi banjir menjadi buah bibir dan disebut di khotbah Jumat betapa mulia ujung napasnya. Lalu paragraf akhir bikin misuh. Dus!

#6. Don Quixote Tak Lagi Memerangi Kincir
Ini mungkin yang paling biasa, kalau tak mau dibilang buruk. Saya selalu was-was jika sebuah cerita yang sudah melegenda, dimodifikasi, dituturkan ulang. Rerata berakhir dengan kekecewaan. Bahkan penulis-penulis terkenal pun sering terpeleset. Jadi pesan moralnya, jangan rusak karya asli. Termasuk Don Quixote yang berdebat dengan asistennya Sancho Panza, bagaimana mungkin ia berperang melawan kincir angin lagi setelah ditertawa warga dan babak belur? Oh tidak sobat, kita akan memerangi kezaliman. Maka corong pabrik tahu di sana siap kita runtuhkan! Dan Rozinante pun meringkik.

#7. Kafe Rossana
Ini tentang kenangan, yang sudah terkubur mendadak bangkit lagi. Sejujurnya, apa-apa yang dilakukan orang terkasih di masa lalu masih sembunyi tanya di pojok ingatan, di laci-laci otak kanan, maka ketika dibuka suatu saat, ada memori yang samar mengulik. Jadi aku bertemu kembali William Dowell di sebuah kafe setelah berpisah dua puluh tahun, mengenang kenang di kafe Rossana yang kini tutup, seorang bartender Timur Tengah Emad yang dihajar Daeng, begundal lokal, serta seluk tersembunyi dibaliknya. Ah… dasar manusia… ah dasar ingatan… ah dasar rasa cemburu. Rasa penasaran dan hati yang panas diaduk dalam gelas kaca mengikuti arah jarum jam, dengan tanpa gula. Pahit gan.

#8. Dakocan
Proyek membunuh sahabat kuliah yang berprinsip, wanita cantik tak laik berpasangan lelaki buruk rupa. Kode proyek itu setelah berganti nama berkali-kali disepakati beristilah ‘Dakocan’. Aku, Zairin Ansar, dan Jawahir Wahib iri hati atau bisa disebut kesal maksimal sama Rendy Fansuri alias Jendol yang berwajah buruk dan miskin. Gabungan sebuah opsi akhir dari pilihan pacar setelah berwajah jelek dan jelata. Siapa sangka setelah puluhan tahun berselang, Jendol beneran menikah dan tampak bahagia dengan Sabrina, sang bintang kampus. Facebook mencipta peluang menyatukan tulang berserak, mereka berhasil ngumpul dan ngopi membicara masa lalu. Dan Jawahir yang memiliki anak tunggal mengirim pesan yang mengejutkan karena menyangkut kode morse ‘Dakocan’ langsung dari Cirebon.

#9. Apang Bokek dan Pidato Istrinya
Ada ya seorang jelata yang diajak ngopi atau jalan-jalan keluar rumah memasang tarif? Dari Apang Bokek kita tahu, lika-liku kemiskinan menjelma narasi panjang demi dapur keluarga yang terus mengepul. Ada bagian mengusik ketika orang kaya butuh cangkok ginjal, dihargai satu milyar. Ngeletuk bonus potongan beberapa jari. Wkwkwk… ssem!Lu pade demen ngajakin Apang pegi, bakal lucu-lucuan doang. Lu pade demen nanggepin apang, terusnye lu bayar pake duit recehan. Lu pade kagak pernah mikirin nasibnye!

#10. Haji Syiah
Ini salah satu yang terbaik, menawarkan ending menggantung yang otomatis menelisik tanya. ‘Seribu tanya itu masih terus berpusar hingga malam tiba…’ Haji Syiah sebagaimana Haji lain di pemukiman Jakarta, yang membuatnya istimewa adalah ia mengadakan tausiah kepada semua warga, termasuk duo pemabuk Faruk dan Ketel yang minum vodka dua belas tegukan, dengan tafsir filsafat di setiap cegukannya. Nama asli Pak Haji adalah Rohili, ia mendapat gelar Syiah bukan karena ia menjalankan aliran yang dominan di Iran itu, melainkan memasang poster Ayatullah Khomeini di dinding ruang tamu. Para pemilik nama itu tidak menyahut.

#11. Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang
Ironi judul. Ada empat kisah orang jualan. Pertama menjual batik, sang Englishmen yang meminta penawaran resmi dengan bahasa Inggris yang layak, malah memesan hal lain yang tak terduga. Kedua, makelar tanah yang Senin nanti mendapat durian runtuh, transaksi dengan gap untung terbesar. Apes tak dapat ditolak, Minggu pagi Yohannes Soekatja sang pembeli itu kena serangan jantung hingga dirawat di Rumah Sakit, ironi itu para makelar melakukan doa khusuk lintas kepercayaan di depan ruang ICU. Dus tenan! Al fatihah untuk Yesus woy, beda frekuensi. Ketiga, makelar tanah lagi, sebuah tanah lapang yang menjanjikan dengan harga maknyus menjelma danau buatan karena ditempa hujan lebat. Terakhir sebagai penutup, tentang penjual benang Syarif Jufri dari Solo ke Bangil, Jawa Timur, dan rasanya sang penjual serta kita para pembaca laik menangisi, boleh disertai misuh-misuh ke para pemain layang-layang. Huhuhu

Setelah menyelesakan dua terbitan terbaru Banana: Dua Kitab Kuning. Rating fresh yang kusematkan berlanjut. Memuaskan, seperti biasa. Satu-satunya penerbit Indi yang kuikuti sebab kualitas karyanya terjaga. Awalnya sama Marjin Kiri, sayang sekali produksi terbaru mereka mengecewakan. Kisah Perdagangan, kurang maksimal atau boleh disebut terlampau pendek, mungkin karena terlalu tipis jadi ibarat jalan-jalan ke puncak gunung, sebelum mencapai ujungnya Pembaca diminta menyelesaikan misi, sampai di bukit suruh pulang lagi. Creative Writing selesai di akhir pekan lalu dalam dua hari, Kisah Perdagangan bahkan cuma jadi sela baca The Partner-nya John Grisham dan Cocktail for Three-nya Sophie Kinsella. Namun tetap, mutu kata keduanya terjaga dan sangat layak dilahap. Good luck for KSK 2020.

Jadi kalian tahu ‘kan dua ending yang membuatku terbahak?

Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang | by Ben Sohib | Copyright 2020 | Cetakan pertama, Februari 2020 | Desain kover Fitriana Hadi | Layout Risdi | Penerbit Banana | 12 x 18 cm, 124 hlm | skor: 4.5/5

Karawang, 170620 – Bill Withers – Better Days

#17 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

Thx to Dema Buku

Tarian Bumi #16

Tarian Bumi by Oka Rusmini

Kelak, kalau kau bisa menemukan hakikat cinta laki-laki dan perempuan, kau akan mabuk. Kau tidak akan menemukan jalan untuk pulang. Kau akan tersesat. Tapi setiap kau sadari dirimu tersesat, justru itulah keindahannya.” Nasihat Nenek pada Telaga.

Ini adalah kisah tentang cinta sejati, ga peduli apapun yang ada di hadapan, akan diterjang demi mempertahankan kasih. Dengan balutan budaya Bali yang kental, perbedaan kasta menjadi permasalahan pelik untuk bersatu. Pengorbanan, harga diri, segala upaya dilakukan untuk bisa bersatu dengan pujaan hati. Terkadang memang hidup seperti itu, kejam. Di samping itu, isu cinta sesama jenis juga diapungkan, walau sepintas tapi begitu hidup karena memang cinta itu buta. Tertarik kepada sesama perempuan, aibkah?

Awalnya agak sulit untuk tune-in karena banyak memuat kata daerah, baru setelah puluhan halaman, terbentuk pola. Lika-liku kehidupan pasa seniman, para kaum ningrat-nya Pulau Dewata dan batas-batas yang tak boleh ditembus sebab kasta memberi garis tebal perbedaan. Bila nekad, konsekuensinya pahit. Teramat pahit, dilema mengabdi sama keluarga dalam kasta Brahmana ataukah cinta yang teguh diperjuang. Aku selalu memohon pada dewa-dewa di sanggah agar kau bisa keluar dari lingkaran karmaku. Kau harus menjadi makhluk yang baru dengan karmamu sendiri.

Kisahnya tentang Telaga yang mengajari anaknya Luh Sari nari, di sini dipanggil Meme (ibu). Ini tentang beberapa keturunan yang merumit, jadi memang tak fokus ke satu-dua karakter. Cerita sering lompat-lompat, flash back ke masa lalu Telaga Pidada yang canggih menari Oleg, tari tentang nikmatnya merakit percintaan, gabungan antara nafsu dan ego. “Karena dia seorang putri Brahmana maka para dewa memberinya taksu, kekuatan dari dalam yang tidak bisa dilihat mata telanjang…” Keturunan bangsawan, cantik pula. Namun siapa yang tahu apa itu kebahagiaan?

Luh Sadri yang iri dan heran kok bisa, Telaga sudah banyak membantu padahal. “…Hyang Widhi, kenapa aku tak bisa membuang kebencian pada perempuan di atas panggung itu?” Semakin baik Telaga, semakin bencilah ia. Kita lalu diperkenalkan dengan Putu Sarma, lelaki keturunan Sudra yang gagah nan rupawan. Menjadi polemik memang, diperbincang gadis-gadis lintas kasta. Siapa Sarma, jadi pematik akhir yang seru.

Melompat lagi, kita diperkenalkan Ida Bagus Tugur, lelaki terpelajar berambisi memperoleh jabatan tinggi di pemerintahan. Impiannya terkabul tapi lupa diri. Nenek yang berkorban banyak, kini malah dihianati, suaminya punya simpanan penari, janda beranak dua dari kaum Sudra. Menjadi sempurna nasibnya, anaknya juga terpikat sama perempuan Sudra. Atas-bawah menampar, merasa tak punya harga diri. “Membangun sebuah dinasti itu sulit Telaga. Apalagi sebagai perempuan.” Kebangsawanan harus tetap dipertahankan sesuai tradisi yang diwarisi orang-orang tua.
Yang berbuat ayahku, yang menanggung beban aku dan keluargaku. Kadang-kadang aku sering berpikir, kalau kutemukan laki-laki itu aku akan membunuhnya!”

Sekar yang cantik mendamba Ida Bagus untuk memperbaiki derajat, sebagai penari yang ciamik ia memiliki nilai. Luh Kerten yang mencintainya mencoba menjaga, Kerten yang sayang kepada Sekar, podo wedok e. Hubungan yang tak pakem, hubungan orang sakit, apakah Kerten memerlukan ahli jiwa? Aku ingin menaklukan hidupku. Hidup bagiku adalah pertarungan yang tidak pernah selesai. Tidak akan pernah habis selama aku masih hidup. Aku harus jadi pemenang. Sebelum aku mengalahkan hidup, aku tidak ingin mati.

Kalau saja perempuan-perempuan di pasar itu tahu, bahwa dia sering berlatih agar wajahnya bisa terlihat seperti wajah perempuan yang sengsara. Latihan kerasnya itu mendatangkan hasil yang luar biasa. Luh Dalem, ibu Sekar menjadi korban pelecehan seksual, dan menderita berat. Ia hamil dengan identitas bapak tak jelas, melahirkan bayi kembar bernama Kerti dan Kerta. Inilah perjuangan Sekar untuk menjadi kaya, demi ibu dan segala kepedihannya. “Sekar itu artinya bunga. Sebagai bunga kau harus berada di tempat teratas…”

Luh Sekar menikah dengan Ida Bagus Ngurah Pidada, mengganti namanya dengan Jero Kenangan, ia harus meninggalkan semua masa lalunya. Tak bisa ikut sembahyang di sanggah, pura keluarganya, tak bisa memakan buah-buahan yang telah dipersembahkan untuk leluhur keluarganya. Tak bisa bersikap manis kepada kedua adiknya, sebebas hubungan saudara. Semua telah berubah. Putus hubungan dengan keluarga ini menjadi getir ketika kematian ibunya yang hanyut di sungai, ia tak bisa menyentuh mayatnya. Perempuan bangsawan harus bisa mengontrol emosinya!

Lalu seolah melompati plot, kita mengambil sudut pandang Telaga. Orang tua yang ada di adegan pembuka yang mengajari menari anaknya, Luh Sari. Kenangan belajar menari ke Luh Kambren, guru tari terbaik dan termahal di seluruh desa. Setelah diajar keras, sang guru merasa inilah saatnya ia memberi taksu, taksu yang didapat dari para dewa tari. Taksu yang tidak akan pernah menetes lagi. “Hyang Widhi, akhirnya kutemukan juga laut yang tepat untuk menumpahkan limbahku.” Tugeg cantik, pandai menari, dan seorang putri bangsawan. Setelah kematian Kambren karena serangan jantung, ditemukan di biliknya yang sederhana. Kini Telaga melanjutkan tradisi.

Telaga jatuh hati kepada mahasiswa seni lukis bernama Wayan Sasmitha, warga biasa. Dan inilah putaran karma, entah mengapa di sini cinta menjadi sosok yang benar-benar sakral, membutakan hampir semua karakter. Seperti narasi berikut: Laki-laki yang dicintainya sejak umur sepuluh tahun! Sampai dari ini cinta itu tidak berkurang satu senti pun. Tidak pula bergeser. Dia tetap terjaga dengan baik, bahkan makin hari makin subur saja. Nah, cinta Telaga kepada Wayan membuatnya hampir meledak. Luar biasa ya, makhluk bernama cinta ini. Kali ini dibalik, Dayu Telaga (perempuan) kasta tinggi mencintai Wayan (kasta rendah). Ini pilihan tiang sendiri, seperti ibunya yang pindah kasta kini ia juga melakukannya, hanya saja sekadar switch. Begitulah, mereka bersatu dan menghasilkan Luh Sari. Nah ini dia si tamvan, Sarma sang ipar yang menggoda. Dan seolah harus melepas kutukan, harus ada upacara patiwangi sesuai kata-kata balian agar ada ketenangan, agar tidak ada petaka. Inilah Tarian Bumi, membiarkan perempuan tua mencuci kaki di ubun-ubunnya untuk menjelmakan dirinya menjadi perempuan baru. Perempuan Sudra.

Budaya Bali muncul hampir di setiap lembarnya. Contoh satu saja di ujaran halaman 22 Kerten berkata, “Kamu jangan bicara ngawur, Sekar. Ini Pura, aku takut para dewa mendengar pernyataanmu!” Kau percaya pada dewa-dewa? Pada Tuhan? Perempuan adalah makhluk luar biasa, di dalam tubuhnya tersusun lebih rumit dari laki-laki. Setiap lekuk perempuan menawarkan sensualitas. Perempuan Bali bekerja adalah membuat sesaji, sembahyang, dan menari untuk upacara. Mengingat pernikahan antar kasta sepanjang kisah, patut dipertanyakan arahan Luh Sari melakukan hal yang sama di masa depan?

Kehebatan Tarian Bumi terletak pada banyaknya kalimat langsung. Dialognya melimpah ruah, dengan berbagai ungkapan yang pas. Alur yang acak, merumit dan nama-nama yang tumpang tindih menambah daya imaji, menantang berpikir, belum lagi orang-orang yang ganti nama menyesuaikan kasta, untung sekali di akhir ada silsilah sederhana menjelas. Lalu seolah karma, semua berulang, berputar, menuai hal-hal yang dilakukan masa lalu. Dan akan terus berkutat di situ. Saya benar-benar merasa klik bahkan setelah lebih dari separuh buku! Kemuraman, kesunyian, kegelapan. “…yang tiang sesalkan, begitu banyak orang yang merasa lebih bangsawan daripada bangsawan yang sesungguhnya.”

Tarian Bumi | by Oka Rusmini | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 617 202.007 | Copyright 2007 | Cetakan ketiga, Maret 2017 | Desain kover Fandy Dwimarjaya | Setting Ryan Pradana | ISBN 978-602-03-3915-3 | Skor: 4/5

Untuk lelaki kecilku, Pasha Renaisan

Karawang, 160620 – Bill Withers – Heart Break Road

#16 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

Thx to Bustaka Taman Kota Galuh Mas, Karawang