The House at Pooh Corner #15

The House at Pooh Corner by A.A. Milne

Pooh, kalau aku – kau tahu – kalau aku tidak melakukan, tidak ada lagi, maukah kau datang kemari sesekali?

Sekuel yang sama kerennya dengan buku kuning pertama. Tokoh Tigger yang dinanti itu muncul di bab dua, dan membuat Hermione melonjak kegirangan. Atraksi membal-membal menjadi sebuah pemandangan lazim ketika ia bahagia, loncat-loncat di kasur sambil bercerita, dan tertawa, dan memekik senang, ingin menjadi seorang illustrator sehebat Ernest H. Shepard. Terengah-engah.

Persis seperi yang pertama, kubacakan dua bab per malam sehingga untuk merampungkannya butuh lima malam jelang tidur. Dongeng menyenangkan sekali bagi Hermione. Rasanya tak ingin berkahir petualangan di Hutan Seratus Ekar ini, tak pengen pergi karena setiap lembarnya, setiap setail kejadian dihapal olehnya. Mungkin saya bukan pendongeng yang baik, tapi saya mencoba melakukan ekpresi para karakter yang dimunculkan. Seperti ketika Rabbit tersesat di hutan, karena sombongnya, kalimat, ‘Toloongg…’ itu saya ucapkan dengan gemetar dan ketakutan, yang malah jadi khas sehingga Hermione akan tertawa setiap saat ketika tanpa memegang buku atau di manapun kuucap lagi kata itu.

Atau saat lagu (Didli Dum), ya ampun saya bahkan tak membentuk nada dan iramanya, itu dia sendiri yang mencipta.

Setelah dua halaman Kontradiksi yang merupakan kebalikan Introduksi buku satu, kita menjelajah lagi dongeng Pooh dan kawan-kawan. “Pada suatu hari ketika Pooh sedang berjalan-jalan di Hutan, ada seratus tujuh ekor sapi di Gerbang…”

#1. Tentang sebuah rumah yang didirikan di Pojok Pooh untuk Eeyore
Kisah ini akan dikenal dengan lagu Hujan Salju yang disenandungkan Hermione. Entah dapat nada dari mana, ia bisa bernyanyi syahdu ketika sampai di bagian Pooh melakukan Senandung Bagus:

Hujan salju

(Didli Dum),

Turun s’lalu

(Didli Dum),

Turun s’lalu

(Didli Dum),

Sampai jemu

(Didli Dum),

Dan kakiku

(Didli Dum),

Makin kaku

(Didli Dum),

Sampai beku.

Pooh mengajak Piglet jalan-jalan, salju yang turun lebat tak menyusutkan keinginan Pooh menikmati hari dengan duduk di pagar dan bercerita. Lalu muncul pertanyaan, Pooh punya rumah, Piglet punya juga, nah Eeyore tidak! Muncullah Gagasan Luar Biasa untuk mendirikan rumah untuknya, dibantu Christopher Robin maka jadilah rumah di pojok Pooh. “Ini menakjubkan. Ini rumahku, tapi aku tidak mendirikannya di sini, jadi bisa dipastikan anginlah yang menerbangkannya kemari. Angin bertiup di hutan lalu menerbangkan rumahku kemari, dan sekarang rumahku tegak di sini. Di tempat yang lebih bagus.

#2. Tentang Tigger yang tiba di hutan dan mencari sarapan
Inilah yang dinanti, karakter favorit Tigger akhirnya muncul. Pooh yang bangun tengah malam mendnegar gemerisik di dapur, kulkasnya terbuka dan muncullah Tigger yang kepalaran. Pooh suka madu maka ia tawarkan, bah Tigger ga suka. Wah… lalu ke rumah Piglet, ditawari buah manjakani favoritnya. Setelah dicoba, bah Tigger ga suka. Berlanjut ke tempat Eeyore yang hobinya makan semak Aster berduri, Tigger ga suka. Waduh kalau ga makan bisa kelaparan, maka ketemu Christopher Robin yang lalu menuju rumah Kanga. Diberinya Obat Kuat Roo, dan iapun berkata, “Jadi, inilah makanan kesukaan Tigger!” Di sini, saya bilang ke Hermione bahwa Tigger adalah hewan Karnivora, hewan pemakan daging.

#3. Tentang pembalangan pencarian dan Piglet yang nyaris bertemu kembali dengan Heffalump
Misi pencarian Mr Small. Pooh yang sedang menghitung guci madu, diajak Rabbit mencari si kecil bernama Very Small Beetle, hewan apakah? Pooh dan Piglet yang penasaran keliling hutan, dan trauma Heffalump dengan lubang jebakan terlintas. Piglet yang melihat ada yang merayap di punggung Pooh, disampaikannya. Oh ternyata Mr Small adalah serangga… “Perangkap untuk berho-ho-ho-hoan. Akulah pembuatnya, dan aku sedang menunggu ho-ho datang.”

#4. Tentang Tigger yang tidak bisa memanjat pohon
Pooh yang galau sedang bernyanyi di pinggir danau, gelisah dan bosan lalu menemui Rabbit yang tak ada, lalu ke tempat Piglet yang sedang menanam manjakani, lalu ke tempat Kanga yang sedang bersama Baby Roo bermain sama Tigger. Tigger yang sombong bilang bisa melakukan segalanya, termasuk memanjat pohon! Di pohon Pinus ia pun memanjat, terus dan terus dan terus. Sampai tinggi, Roo lalu terjun untuk diselamatkan, sementara Tigger gemetar di puncak. Ini adalah cerita yang ada di kover. “Kalau saja kau di sini, kita akan bisa memikirkan apa yang harus dilakukan.”

#5. Tentang hari sibuk Rabbit, dan kegiatan Chistopher Robin setiap hari
Ini cerita kesombongan Rabbit yang sok bisa menulis bahasa dengan benar. Begitu juga Owl, ketika mereka ke rumah Christopher Robin tertulis di pesan pintu: ‘Kluar Sabuntar Subuk Sabuntar.’ Tertandanya C.R. karena keduanya yang merasa punya OK, percaya saja tulisannya benar. Sedang berdebat muncullah Pooh yang bernyanyi, pertanyaannya, “Apakah yang dilakukan Christopher Robin setiap pagi alhir-akhir ini?” besoknya di depan rumahnya tertulis ‘Keluar Sebentar’ C.R. dan tahulah apa kegiatan setiap harinya kecuali si sombong ‘Sabuntar Berbintik dan Berumput’. Haha…

#6. Tentang Pooh yang menemukan permainan baru dan Eeyore yang ikut bermain
Ini yang jadi ilustrasi halaman awal, Poh di atas jembatan melihat aliran sungai. Jadi pooh menemukan permainan baru, melempar dua buah pinus di sisi jembatan, lalu mengamati segera di sisi lain jembatan, buah mana yang duluan sampai/lewat. Lalu ikut sertalah Roo, Rabbit, dan Piglet join in. keseruan balap kapal pinus terhenti ketika muncul Eeyore mengambang dengan keempat kaki ke atas, wew ada apa? Setelah diselamatkan, berceritalah ia. Ada yang mendorongnya ke sungai saat ia makan rumput, oh siapa gerangan yang tega mendorong si Murung? Diselidiki ke hulu, tapi sebelum jauh muncullah Tigger. Ternyata ia tak sengaja, ia batuk atau membal-membal, yang jelas mengagetkan Eeyore sehingga jatuh ke sungai. “Aku tidak memembal-membal, aku batuk.”

#7. Tentang upaya agar Tigger tidak membal
Ini dia rencana jahat lagi disusun oleh Rabbit, yang kini duduk di rumah Pooh bersama Piglet. Akibat Tigger yang suka membal-membal menjengkelkan, ia berencana ‘membuang’ nya ke hutan puncak. Jadi mereka mengajak Tigger jalan-jalan ke tempat yang belum ia kenali, lalu menyesatkannya, esoknya diselamatkan, Rabbit yakin ia akan menjadi pribadi yang berbeda. Perjalanan ke Kutub Utara jajar: Rabbit, Piglet, Pooh, dan paling belakang Tigger. Cuaca sedang buruk, upaya menyesatkan itu tampaknya berhasil. Tigger hilang, tapi mereka bertiga malah turut tersesat sehingga tak bisa pulang. Pooh dan Piglet yang kesal karena Rabbit muter-muter saja, akhirnya memutuskan pisah mengikuti intuisi, dan berhasil pulang. Yah, Tigger malah sudah ada di rumah main sama Roo. Jadi yang tersesat justru si pembuat rencana sesat. Haha… “Oh Tigger, aku benar-benar senang melihatmu.”

#8. Tentang Piglet yang melakukan Perbuatan Sangat Mulia
Di rumah Pooh ada ruang Berpikir yang fungsinya untuk mengarang puisi dan lagu. Bersama Piglet mampir minum the di rumah Owl di pohon chesnut. Ketika badai datang, meniup rerimbunan dan mengakibat rumahnya rubuh. Bertiga terperangkap di dalam, pintunya menghadap ke atas, segalanya berantakan. Kekacauan yang ditimbulkan, lalu siapa yang bisa ke atas ke pintu guna minta tolong? Pooh gendut dan sulit, Owl cedera ga bisa terbang, Pigletlah yang naik bertubuh mungil, dan cekatan. Ia ditarik dengan tali, pelan-pelan-pelan-pelan. Dan selamatlah mereka. “Apa yang akan kita lakukan Pooh, bisakah kau memikirkan sesuatu?”

#9. Tentang Eeyore yang menemukan Wolery dan Owl yang pindah ke sana
Rumah Owl yang rubuh, dan kerja bakti dilakukan. Membenahi banyak hal, beberapa barang yang sudah rusak disingkirkan. Saat sedang gotong royong itulah muncul Eeyore. Ia harus pindah, lokasi belum ditemukan tapi sudah memastikan nama rumahnya Wolery. Kemunculan Eeyore mengajak lokasi yang bagus, dan bagaimana dengan Piglet? Well, ia bisa tinggal bersama Pooh. Oh manisnya. “Dan kuharap ia bahagia di sini.”

#10. Tentang Christopher Robin dan Pooh yang tiba di sebuah tempat ajaib, dan kita meninggalkan mereka di sana
Akhirnya pamitan. Kalau buku satu menjanjikan kembali setelah pesta minum teh dan hadiah alat menggambar buat Pooh, kali ini pesta perpisahan menjadi lebih sederhana. Ga sentimental, tapi tetap sebuah farewell yang lumrah. Mereka menuliskan resolusi masing-masing yang diberikan kepada Christopher Robin. Setelah membacakan, Pooh dan dirinya berjalan menjauh, berdua melintasi hutan, sampai di Galleons Lap dan Christopher Robin mulai bercerita tentang raja dan ratu. Saya tak terlalu bersedih ketika pamit. “Pooh, berjanjilah kau tidak akan pernah melupakan aku. Bahkan saat umurku seratus tahun.”

Setelah selesai membacakan dua novel ini, saya coba lihat di youtube adaptasi kartun produksi Disney. Beberapa bagus, sesuai cerita, beberapa cerita kisah baru, atau mungkin saya ketinggalan? Apakah ada buku lain A.A. Milne? Kalau ada, jelas masuk target koleksi lagi. Kendala utama anak lima tahunku, adalah bahasa Inggris yang belum lancar sehingga harus baca terjemahan di layar, dan Hermione kadang ketinggalan subtitle nya sehingga ini jadi PR: ngajari dia bahasa Inggris! Namun sementara kita lanjut baca novel tiap malam, sakarang sudah di Narnia 3, petualangan Dawn Treader.

Jelas The House at Pooh Corner adalah buku bagus, beruntung bisa menikmati momen kubacakan buat Hermione, 5 tahun. Menjadi pengantar tidur yang begitu terkenang. Dicetak hard cover penuh warna. Terima kasih Noura Books. Buku edukasi penuh cerita bagus, bagus sekali.

The House at Pooh Corner | by A.A. Milne | Illustrations by E.H. Shepard | Copyright under Berne Convention | diterjemahkan dari The House at Pooh Corner | Penerbit Noura | Penerjemah Berliani Nugrahanti | Penyunting Suhindrati a. Shinta & Yuli Pritania | Penyelaras aksara Nani | Cetakan ke-1, Juli 2017 | 208 hlm.; 20 cm | ISBN 978-602-385-287-1 | Skor: 5/5

PERSEMBAHAN: Kau memberiku Christopher Robin, lalu kau meniupkan napas baru kepada Pooh. Apa pun yang digoreskan oleh penaku akan selalu kembali kepadamu. Bukuku telah seiap, dan hendak menyapa sang ibu yang telah didampakannya. Ini hadiahku untukmu, Sayangku, kalau ini bukan hadiahmu untukku.

Karawang, 150620 – Bill Withers – Family Table

#15 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf