Aardvard

Creative Writing by A.S. Laksana #14

Menulis cerita adalah seni merangkai adegan demi adegan, memusatkan penuturan dan memberi perhatian lebih pada bagian-bagian penting dan menuturkan secukupnya bagian-bagian kecil, tetap dengan cara yang menarik.”

Buku terbitan Banana selalu dinanti. Setelah promo di sosmed bisa platform digital, setelah muncul pos prapesan Mei lalu, langsung oleh Bung Yusi, tanpa banyak pikir hubungi toko buku daring langganan Dema Buku, sempat menanti dua minggu lebih, dan akhirnya mendarat di Karawang pas ulang tahun Sherina Munaf, ku #unboxing besoknya Dua Kitab Kuning, Minggu ini langsung selesai baca, satu dulu. Tak sampai 200 halaman, sehingga bisa dibaca santuy-pun selesai dalam dua hari. Buku fresh yang baru keluar cetak, langsung baca-ulas.

Banyak buku menyaji tips-tips menulis, saya baru baca 4-5 buku, termasuk ini. Sebelum menikmati, jargon Penulis Stephen King selalu kupegang, kuncinya satu: “Tulis, tulis, tulis.” Karena hanya mantra itu yang cocok untuk menjadi penulis. Action menulis adalah langkah utama yang tak bisa dibantah, setiap kali menikmati tata-cara entah namanya apa, termasuk saat menikmati Creative Writing. Latihan terus menerus yang akan mengasahnya. Seperti pemain bola yang pandai bikin gol, itu tak serta merta, itu butuh latihan yang keras, ditempa dengan darah dan keringat. Menurut William Blake, penyair Inggris hasrat saja tanpa ada tindakan akan membiakkan penyakit. Oke, menulislah sekarang juga. Dan ‘menulislah yang buruk’. Di sini beberapa tips usang atau dibilang umum, beberapa terasa baru. Jadi mari kita kupas.

Berisi 24 tips, dengan berbagai level nasihat. Dari yang dasar sekali, bagaimana keinginan yang kuat dan niat level dewa tak akan jadi tulisan nyata jika tak praktek, tak action. Sampai level high yang menanamkan efektivitas kata, penggunaan diksi yang pas, sampai cara-cara mencipta metafora. Dituturkan oleh penulis yang terbukti sudah mencipta karya bagus, saya sudah baca dua buku kumpulan cerpen: Bidadari Mengembara, dan Murjangkung. Sudah pengalaman mengajar jua di Jakarta School. Jadi rasanya terasa sekali sharing pengalaman. Mengalir renyah.

Menurut Tony Buzan penemu mind mapping, segala sesuatu adalah soal pikiran. Saya sudah sering ikut kelas hipnoterapi, jadi hal seperti ini sudah sangat akrab. Bahkan istilah hati (nurani) itu letaknya ada di pikiran. Bung Laksana mengajak menyelaraskan pikiran dan tangan yang berarti tangan menjalankan apa yang di pikiran guna menulis. Ketika Anda menulis, otak Anda merekam dengan baik setiap gagasan Anda dan dengan demikian tak mudah sesat dan kehilangan ilham.

Menurut Edward John Phelps diplomat dan ahli hukum Amerika, orang yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak menghasilkan apa-apa. Lebih baik menghasilkan tulisan yang buruk ketimbang merenungi kertas kosong selama berjam-jam. Dengan draf yang buruk kita punya peluang mencipta tulisan berikutnya dengan baik. George Lucas, mendapat ilham makhluk luar angkasa dari sampah. Well, ide bisa muncul di mana saja.

Ngomongin kendala bernama mood kita akan bertengkar dengannya berlarut-larut, karena mood sejatinya hanya alasan untuk berhenti untuk orang-orang yang tidak terampil menulis. Menulislah dengan berbagai keadaan, ga peduli isi kepala Anda sedang sedih atau senang. Kata Laurence Sterne, penulis Inggris, menulis jika dilakukan dengan benar taka da bedanya dengan bercakap-cakao. Anda tak memerlukan ‘mood’ karena mood adalah sesuatu yang harus disingkirkan. Ernest Hemingway bilang kekuatan emosi tidak lahir dari kata-kata besar, ada kata-kata yang lebih simpel, lebih baik, dan lebih lazim, dan itulah yang ia digunakan.

Strategi tiga kata barulah saya menemukan langkah nyata, langkah konkrit karena terasa baru bagiku. Jadi silakan pilih tiga kata, ketiganya dimasukkan ke paragraf. Bebas, bisa diawal, tengah, akhir. Ini bisa digunakan untuk menulis cepat, tahan editing, pokoknya tulis cepat dengan tiga kata ajaib yang sudah disiapkan. Tentang jangan menulis sekaligus mengedit, jelas sudah paham. Nulis ulasan film/buku di blog, biasanya saya ketik saja dulu apa yang ingin kita sampaikan, uneg-uneg panjang lebar dulu, barulah sentuhan akhir untuk data/fakta/kutip dalam di bagian edit. Jadi tumpahkan dulu isi kepala. Bagaimana Ernest Hemingway menemukan ending istimewa ‘A Farewell to Arms’ menulis 39 kali, kok bisa? ‘Menemukan kata-kata yang tepat’.

Mengkongkretkan konsep-konsep abstrak (benci, cinta, dendam, amarah, sedih, dst) pada intinya adalah mencari pengucapkan tidak langsung terhadap konsep, ini memerlukan detail yang cermat, ingatan yang baik atas kejadian, kepekaan akan keseharian. Fiksi bersifat kongkret, fiksi menghidupkan gambaran nyata tentang perilaku atau serangkaian kejadian yang menyeret orang itu untuk bertindak.

Dalam deskripsi yang baik, pembaca melihat sesuatu, mencium baunya, merasakan sentuhannya, mendengar bunyinya, mencecap rasanya. Deskripsi lima indra, tak perlu memunculkan kelimanya, mungkin tiga atau empat cukup memadai.
Mengajak membayangkan menyeberangi sungai dangkal dengan batu berserak, tujuan kita adalah akhir kisah. Seperti itulah cerita berlangsung. Plot yang Anda rancang juga demikian. Karakter dan situasi bisa dicipta dengan mesin perancang plot. Plot atau alur cerita bisa disebut sebagai sebuah proses untuk membangkitkan pertanyaan demi pertanyaan. Ia memiliki fungsi mengikat perhatian pembaca untuk terus terpaku menikmati karya. Penulis Denmark Isak Dinesen (1885-1962) berujar ke Paris Review, “Mula-mula saya merasakan dorongan kuat untuk menulis sebuah cerita. Kemudian datanglah karakter-karakter, dan merekalah yang membangun cerita. Dari gerak karakter-karakter itulah, muncul plot.” Plot bisa dibangun dengan berbagai cara, yang penting bisa membangkitkan pertanyaan demi pertanyaan pembaca.

Beberapa tips membangun dialog: jangan menyalin percakapan sehari-har, buatlah menarik dan hidup. Jangan mengulang yang sudah ada di narasi. Dialog digunakan untuk hal-hal perlu diketahui pembaca, kecuali bertele-tele ala Quantine Tarantino. Tulis ringkas dan jangan membingungkan pembaca, kecuali kamu Christopher Nolan yang memang udah jago bikin penikmat karya mikir. Tambahkan bahasa tubuh bila perlu. Hindari obsesi untuk menggunakan ejaan fonetik. Dan tentu saja, belajarlah pada para penulis yang baik. JK Rowling, panutanqu! Karena memang tak ada rumus baku bikin dialog yang keren.

Point of view atau sudut pandang. Orang pertama dengan ke’aku’anku, dan ‘kami’. Sudut pandang orang kedua dengan ‘kau’, ‘kamu’, ‘Anda’. Orang ketiga yang objektif dengan penutur melihat semua kejadian. Sudut pandang orang ketiga dengan filter satu karakter tertentu. Sudut pandang orang ketiga, tak terbatas. Well, mengenai sudut pandang, saya teringat novel Leila S. Chudori: Pulang dan Laut Bercerita. Niatnya bagus dengan tema besar, tentang efek kejadian 1965 dan 1998. Sayangnya dalam pengambilan sudut pandang, Leila tampak buruk, sangat buruk malah. Setiap karakter harusnya beda, tapi cara berpikir dan tindakan malah dituturkan sama. Kan keterlaluan, untuk novel yang menang penghargaan tertinggi sastra Nasional, kurasa sebuah blunder. Dan seperti biasa, icip karya kalau ga puas bisa dibilang wassalam, bukunya ga akan kubaca lagi dengan beli. Ribuan buku menanti, mending baca ulas yang lebih menjanjikan kualitas.

Albert Zukermann dalam buku Writing the Blockbuster Novel, penggunaan lebih dari satu point of view mungkin bisa membuat novel Anda terhindar dari kesan monoton. Noam Chomsky sang pelopor lahirnya tata bahasa transformasional generative mengatakan bahwa bahasa lisan seseorang hanya mengatakan seperdelapan dari kenyataan yang tersimpan. Seperti gunung es, bahasa lisan adalah puncak gunung es. Subteks pada dasarnya tafsir kalimat yang tersembunyi. Setiap pembaca mendekati cerita dengan berbekal pengalaman dan wawasan masing-masing.

Alfred Hitchcock bilang drama adalah kehidupan nyata yang sudah dihilangkan bagian-bagian buruknya. Maka Anda harus fokus, menegaskan sesuatu, menyingkirkan beberapa hal, mengaduk cerita dalam keutuhan yang memuaskan tanpa kata-kata berlebih. Seorang penulis harus tahu cara ‘menggerakan cerita’. Suspens merupakan ketegangan yang membuat kita tergerak untuk terus membaca cerita sampai halaman terakhir.

Berbicara paragraf pembuka, mengingatkanku pada novel Sidney Sheldon di ‘If Tomorrow Comes’ di mana adegannya memilukan, ibunya bunuh diri karena terlilit utang, meninggalkan pesan betapa sayangnya ia padanya. Melalui telpon perpisahan, lalu suara letusan pistol. Satu lagi pembuka brilian ada di The Stangers-nya Albert Camus, ibunya meninggal dunia, ia dipaksa cuti dua hari guna melakukan pemakaman, dua jam perjalanan bus lalu Mersault yang aneh, bersikap datar. Masih banyak lagi, tapi dua novel itu sungguh menghantuiku bertahun-tahun.

Jose Ortega Y Gasset, filsuf Spanyol bilang mungkin metafora daya paling keratif yang dimiliki manusia. Metafora berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘menyeberangkan sesuatu’ atau ‘memindahkan’. Secara umum metafora merupakan penerapan suatu kata atau frase untuk seseorang atau sesuatu tidak dalam pengertian harfiah, melainkan sebagai pembanding. Metafora membuat hidup bahasa dan memungkinkan terjadinya tafsir imajinaf. Aristoteles bilang, “Metafora mengisyarakatkan kecemerlangan berpikir, karena metafora yang baik melibatkan perspektif intuitif untuk menciptakan kesamaan dalam ketidaksamaan.

Ada yang tahu aardvard? Tidak? Saya juga. Saya baru tahu ketika di dua halaman akhir buku ini kubaca, aardvard adalah seekor mamalia dari Afrika dengan buntut panjang, daun telinga yang juga panjang, tinggal di dalam liang, dan menangkap semut-semut mangsanya dengan menjulurkan lidah seperti trenggiling. Sebuah catatan penutup diambil dari biografi Malcolm X yang ditulis oleh Alex Haley. Bagaimana ketika Malcolm dipenjara, ia mempelajari bahasa, membuka kamus, mempelajarinya. Menikmati kata demi kata, mempelajarinya. Dan ending semacam ini sungguh menggugah. Seorang yang gagap ilmu bahasa, belajar keras, menulis, dan seperti yang kita tahu, sejarah mencatat nama besar Malcolm X. By the way, Saya suka musik Bill Withers dan Harlem salah satu lagu terbaik. “Sunday morning in Harlem…”

Kebetulan saya sudah baca beberapa buku yang dinukil di sini, Ernest Hemingway, Gabriel Garcia Marquez, Fira Basuki, Juan Rulfo, Albert Camus, dst. Juga nonton film, Out of Africa yang liar itu. Termasuk cerpen ‘Menggambar Ayah’, saya jadi tahu proses di belakang mejanya. Rumit juga ternyata, saya selalu suka menikmati proses karya dicipta. Karya yang bagus dicipta. Jadi tips nomor 23 berjudul Bacalah seharusnya sudah ahli (ehem…), dalam sehari bisa 10-100 halaman kelahap. Sehingga tinggal ditempa ke jari sahaja ini.

Berarti ini buku ketiga Bung A.S. Laksana yang kubaca. Sebuah karya non-fiksi yang bervitamin. Kaya akan tips dan nasihat, dan latihan terus –menerus akan mencipta pola, pola akan membuat deretan rutinitas baru yang adaptif baik tubuh maupun lingkungan, lalu mari kita lihat!

Semua akan percuma kalau sekadar teori, jadi kembali lagi ke ucapan King yang terkenal itu, mantra paling mantab adalah, “Tulis, tulis, tulis!

Creative Writing | by A.S. Laksana | Penerbit Banana | Copyright 2020 | Perancang sampul Teguh Sabit Purnomo | Penata letak Risdianto | 12 cm x 18 cm; 198 hlm | Skor: 4/5

Karawang, 140620 – Will Withers – Harlem

#14 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf