Bukan Pasar Malam #11 #5 #30

Bukan Pasar Malam by Pramoedya Ananta Toer

Hidup ini, Anakku, hidup ini tak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya, dan kelak engkau akan berpikir, bahwa sia-sia saja Tuhan menciptakan di dunia ini.” – Bapak

Novel tanpa nama tokoh sama sekali. Dengan sudut pandang anak sulung, yang pulang kampung untuk menjenguk ayahnya yang sakit keras. Dengan setting Indonesia pasca merdeka di kota Blora yang sederhana. Keluarga ini memang sudah tidak utuh lagi. Si sulung yang pulang bersama istrinya yang baru setengah tahun dinikahi, penyampaian hidungnya yang dulu disukai, kini tidak lagi, heleh… bolak-balik rumah-rumahsakit, dan hari-hari terakhir penuh perenungan makna hidup sang ayah yang banyak jasanya kepada orang-orang sekitar. Drama keluarga 100 halaman yang lebih banyak merenung.

Dibuka dengan pengantar yang mengutip bagian novel, yang ternyata ketika kuselesaikan baca ada di ujung sekali. “Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia pasar malam… seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana…” Dan bagaimana novella ini mengalami pasang surut masa, dari berbagai penerbit, pertama Balai Pustaka tahun 1951 lalu berpindah-pindah, dicekal oleh cikal bakal Orde Baru, justru melalangbuana keluar negeri, dan akhirnya sampailah di saya cetakan kesekian dengan kover lebih baru.

Hanya untuk mudik ke Blora, si Aku harus mencari pinjaman, tempat ia bekerja di Balai Pustaka di ibu kota, segera setelah mendapat surat dari bapaknya yang sakit. Awalnya masih bergeming, lalu menyusul surat dari pamannya, yang menginformasikan bapak sakit keras, tinggal menghitung hari, muntah darah, kena tbc. Di antara mereka ada masalah lama, tentang adiknya yang terlantar? Maka berkereta api bersama istri berangkat pagi hingga malam, transit di Semarang tidur di hotel, lalu paginya lanjut ke Blora, sampai rumah tengah hari. Selama perjalanan, terkenang tempat-tempat perjuangan dulu ketika menjadi tentara. Setiap kota, setiap cerita. Aku mengeluh. Hatiku tersayat. Aku memang perasa. Dan keluargaku pun terdiri dari makhluk-makhluk perasa. Mataku berkaca-kaca. Tapi airmata tak sampai jatuh. Dan kala itu aku insyaf: kadang-kadang manusia ini tak kuasa melawan kenang-kenangannya sendiri.

Sesampai di Blora, naik andong dan disambut adik-adiknya. Setelah lepas kangen, saling lempar tangkap cerita sampailah ke inti kabar bapak. Dirawat di rumahsakit sudah berhari-hari, lalu adiknya yang lain? Ada di kamar, sakit keras. Ternyata ia ditinggal suaminya merantau, anaknya setenagh tahun usianya meninggal dan kini ia sakit keras. Pilu, sedih, benar-benar gambaran menyesakkan ditampilkan di setiap lembarnya.

Ketika di rumahsakit, bapak yang kurus kering, batuk-batuk, pucat, dan tak ada semangat hidup tampak begitu menyedihkan. Si Aku awalnya memberi harapan, minta dibelikan bubur, sumsum, buah mangga, dan yang paling sering minta es.

Walaupun minuman pantangan, tetap disuapin karena ga tega menolak keinginan si sakit. Memang, sakitnya terasa parah. Aura duka menguar di setiap helaan napas. Pamannya yang ga tega, jarang nengok, ia lalu mengajak Aku ke dukun. Segala hal perlu dicoba Nak, sebelum terlambat. Dukun yang ada di luar kota, dengan sepeda berboncengan mereka melaju.

Ketika paman minta tolong ke dukun, meminta usada (apa ya? Baru dengar ada nama ini), “Kami memohon usada, untuk menyembuhkan kakakku”, sang dukun yang juga guru Sekolah Rakyat malah kemudian bercerita masa lalu sang bapak. Bagaimana perjuangannya, bagaimana pengabdian, dan segala upaya pendidikan bersama membangun negeri. Jasa-jasa bapak terhadap Republik, dan bagaimana Negara membalas balik yang tak setimpal, sungguh menyedihkan. Limabelas, duapuluh kilometer mengayuh sepeda itu bukan perkara berat untuk seorang guru. Yang berat ialah mengajar, menelan pahit-getirnya kesalahan-kesalahan pendidikan orangtua si murid. Seorang guru adalah kurban – kurban untuk selama-lamanya. Dan kewajibannya terlampau berat – membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa.

Dan memang akhirnya dengan narasi yang disampaikan perlahan-lahan, kita tahu bagaimana perjuangan bapak di masa sebelum, saat, dan sesudah kemerdekaan. Menolak Dewan Perwakilan Rakyat, menolak penempatan yang basah di Pemerintahan, tempatnya bukan di ruangan, tempatnya di lapangan, di sekolah, langsung bersentuhan dengan orang-orang. Banyak orang yang dibantunya, banyak yang merasa utang budi, seandainya yang besuk tak dibatasi hanya keluarga, bisa jadi membludak.

Istrinya sudah ngajak balik ke Jakarta, keuangan mereka mengkhawatirkan, rencana dua hari kini sudah lewat. Si Aku merasa ga enak hati, maka ketika rencana itu disampaikan bapaknya, ia jadi sedih, meminta seminggu lagi, Aku demi bakti pada orangtua siap, istirnya kalau mau duluan dipersilakan, ia bergeming. Dan dengan perawatan orang terkasih, bapak minta pulang. Dokter di Blora yang pas zaman perang ada tiga kini tinggal satu, zaman perang memang pilu, meminta korban tanpa pandang bulu, Aku minta surat kepulangan. Dikabulkan, walau rada absurd. Ketika di rumah, banyak tetangganya menyambut. Memberi semangat lekas sembuh, dan selalu es menjadi konsumsi wajib. Di era itu, untuk minum es ga semudah sekarang. Harus ke pabrik es di kota Rembang, pembuat es jarang, lalu harus punya termos untuk menahan laju cair, keluarga ini tak punya termos. Maka betapa menyusahkan keadaan.

Diskusi dengan adik bungsu menjadi malam penuh perenungan, satu bab penuh mencurahkan uneg-uneg, keprihatinan, ketakutan, ada sedikit sesal nan kesal, sampai meninjau masa lalu guna merakit masa depan yang lebih mapan. Teman-teman bapak yang hobi main kartu berkumpul, mengenang masa-masa bertahan kuat main remi, si Tionghoa yang akrab itu dominan menyebut betapa bapak luar biasa. Mengobrol adalah suatu pekerjaan yang tak membosankan, menyenangkan, dan biasanya panjang-panjang. Dari acara ngopi inilah arti bukan pasar malam muncul, dunia ini datang sendiri (terlahir) dan matipun sendiri. Tak seperti pasar malam yang bisa datang berduyun, bersama, bercengkerama.

Pasar malam menampilkan beberapa ironi. Di awal sekali kita turut memuji sistem demokrasi, walaupun pahit buat si miskin. Demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Engkau boleh jadi presiden. Engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak yang sama dengan orang-orang lainnya… Di negara Demokrasi engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang engkau hanya boleh menonton barang yang engkau inginkan. Di tengah dan akhir kita tahu pengabdian bapak kepada Negara tak terlalu dihargai. Untuk berobat paru yang mahal, keluarga ini ditolak, mahal.

Ini menjadi buku ketiga bulan ini yang kubaca, selesai baca semalam, ditemani kopi dan musik klasik, oiya sama kipas angin yang menderu, Karawang panas bos. Judul pos hari ini tampak beda: ada tiga angka: 11-5-30 yang artinya, ini adalah pos ke 11 bulan Juni dalam rangkaian #30HariMenulis #ReviewBuku. Ini adalah buku kelima Pram yang kubaca setelah Misah, Bumi Manusia, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, dan Gadis Pantai. Tak terbantahkan, beliau adalah Penulis terbaik Indonesia. Dan angka 30 adalah usia baru Sherina Munafku, hari ini. Teriring doa yang baik dan bagus-bagus untukmu. Sah, kepala tiga. Mari jalan. Sehat, bahagia, makmur.

Karena kita tak tahu, Adikku, karena kita tak mengerti…

Bukan Pasar Malam | by Pramoedya Ananta Toer | Penerbit Lentera Dipantara | Pewajah isi tim Lentera Dipantara | Desain sampul Ong Hari Wahyu | Pernah diterbitkan Balai Pustaka, 1951; Yayasan Kebudayaan Sadar, 1964 | Dilarang edar 30 November 1965 | Cetakan ke 11, Mei 2018 | 112 hlm.; 13 x 20 cm | ISBN 978-979-3820-03-3 | Skor: 4/5

Karawang, 110620 – Sherina Munaf – Primadona

#HBDSherinaMunaf #30Tahun #Peace

#11 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku