Bulan Kertas #9

Bulan Kertas by Arafat Nur

Di akhir zaman, orang yang menegakkan hukum agama, seperti memegang bara api dengan tangannya. Bila terus dipegang, tangan akan terbakar; bila dilepaskan bara akan padam.” – Teungku Farhat.

Dibuka dengan kutipan makjleb dari GW Von Leibnitz: “Mencintai artinya berbagi kebahagiaan demi kebahagiaan kepada orang yang kita cintai.” Cukup mewakili cerita keseluruhan, bagaimana cinta memang mencoba membahagiakan pasangan, penuh pengorbanan, bahkan dnegan sumpah demi langit dan bumi.

Buku yang baru banget selesai kubaca saat istirahat kerja siang tadi, kuketik sore ini selepas kerja di meja kerja. Buku kedua bulan Juni yang kunikmati, sedang ingin bersantai memang makanya saya pilih yang roman modern dengan kerumitan kisah di level sedang. Cinta pertama memang selalu istimewa, cinta pertama di kala sekolah dari tanah Rencong, setting dari kelas tiga SMA sampai kuliah, mencintai adik kelas pindahan dari Medan, lalu ketika rasa itu bersambut ada sebuah halangan yang tak lazim. Iya, saya bilang tak lazim karena kendala itu dari dalam. Bukan internal dari kedua personal, tapi lebih dari sang gadis yang memimpikan dunia lain, dengan kesendirian, kesunyian, dan bulan kertas.

Mengambil sudut pandang remaja bernama Rafa yang dibesarkan dengan baik, perilaku baik, penyendiri yang mencipta sifat defensif terhadap sekitar. “Kau tidak lemah Rafa, kau hanya banyak pertimbangan.” Di daerah kecil Suekoen, tanah Aceh tahun 2010an yang sudah modern, masih bersikap HP bukanlah benda wajib bawa. Bisa juga kita menyebutnya polos, menatap dunia dengan beberapa kesinisan. Semua ikut-ikutan merusak. Entah apa jadinya Negara ini; pejabatnya rusak; pendidikannya turut dirusak, dan semua sendi sudah rusak parah. “Aku tidak suka tentara, selain tentara aku tidka suka polisi…” Lalu ditimpali, “Sama, seeperti pencuri, aku juga tidak suka…”

Ketika ada gadis kelas dua pindahan dari Medan bernama Naya, jiwa muda Rafa bergolak. Naya yang cantik menjadi pusat perhatian seisi sekolah, dari yang begajul sampai yang alim. Maka di sebuah adegan pembuka yang aneh, ketika makanan Rafa tak sengaja jatuh karena tersenggol Naya, klik itu tercipta. Perpustakaan menjadi tempat akrab keduanya yang suka buku, dan perjalanan pulang-pergi sekolah menjadi momen yang seru. Berdua jelas lebih baik. Rafa menyadari betul pentingnya menjaga kebugaran, seluruh anggota tubuh haruslah bergerak agar tetap sehat, agar terhindar dari penyakit dan kelesuan. Maka, kencan jalan kaki memang baik, asyik, murah.

Cinta pertama Rafa, dan sepertinya juga Naya. Betapa indahnya, jika cinta pertama ini kekal, tentu akan menjadi bagian keajaiban hidup, meskipun tidak terlalu ajaib. Mereka mengakrabkan diri, kedua keluarga seolah memang merestui calon mantu. Orang tua Rafa begitu gembira anaknya akhirnya ada yang diajak jalan, orang tua Naya lebih-lebih, merasa anaknya kini sudah bisa move on dari sebuah kehampaan.

Keduanya pecinta buku, keduanya aneh dengan dunia sendiri-sendiri. Dunia Rafa dan dunia Naya, hanya berisikan dua manusia. Pergaulan dua orang yang sulit bergaul, dan anehnya bisa bergaul secara normal.

Adegan saat Rafa dihajar pelipisnya sama teman sekolah yang cemburu karena kedekatan mereka tampak sinetron banget, lalu esoknya ia berencana membalas dengan membocorkan roda sepeda, yang lalu berubah pikiran di waktu akhir dengan pedoman, ‘Biarkah Tuhan saja yang membalasnya.’ Khas anak baik. Yang ternyata secara ajaib, roda ban itu dibocorkan orang lain. Secara tersirat kita tahu siapa pelakunya, tapi tetap saja hal-hal yang seperti ini rasanya terlalu drama, lalu bayangkan ada kamera zoom ke karakter jahat, jreng-jreng… Aku tahu ini cara yang salah, tetapi aku tidak tahu cara lainnya.

Hubungan tanpa banyak halangan dari luar, bahkan saat lebaran keduanya saling mengunjungi. Mengenalkan dengan anggota keluarga. Gadis itu adalah hal terindah dalam hidup Rafa, sepanjang yang telah dijalani, sejak memahami hubungan perasaan dengan lawan jenis. Apalagi suatu ketika Naya berujar, “Rafa, bagaimana suatu hari bila kau menjadi bagian dari hidupku yang tak terpisahkan?” halangan itu dari dalam, sangat gelap, di dalam relung terdalam hati dan pikiran. Naya mengidap penyakit aneh. Nah! Dan ditambah tragedi, adik Naya, di bungsu Nadira mendapat musibah. Makinlah remuk redam hatinya.

Malam-malamku semakin panjang, yang pada akhirnya membuatku tambah tersiksa. Aku sudah terlanjur jatuh hati padanya, cinta yang sebetulnya tidak kuharapkan, yang hanya bisa kupendam, menjadikanku tak berdaya. Aku menyerah pasrah pada keadaan, pada hatiku yang memiliki kehendak sendiri. Kehadiran cinta memang tidak bisa ditolak, ia pernah lelah, dan begitu tampaknya menguras perasaan. Mungkin kehidupan masa lalu telah menjadikan hatinya rawan, ditambah pula dengan keributan barusan yang secara tidak langsung punya kaitan dengannya.

Sebuah kertas berisi satu kalimat malah menambah daya penasaran, ketika tiba-tiba Naya dan keluarga pergi. Aku ingin kau selalu mengingatku, Rafa. Seolah mantra, seolah sebuah kalimat yang menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Nantinya Naya akan berkali-kali pergi tanpa pamitan, pergi tanpa kejelasan. Ada yang janggal. Ketika lulus sekolah, tak ada kata pamit. Ketika kuliah ke Banda mengambil jurusan Bahasa, tak ada salam. Kehidupan mahasiswa, sebuah fase berikutnya di tanah rantau, sekamar dengan teman unik Kanafi yang ngomong sengau, kesibukan dengan tempat dan suasana baru, jauh dari kampung halaman, tapi pikirannya masih terpaut Naya. Naya terpahat di hatiku, dia mengikuti ke mana sajaaku pergi, tetapi aku tidak bisa menyentuhnya. Aku kehilangan arah, berjalan seorang diri di dunia yang sunyi ini, tersesat tak tahu jalan kembali.

Mungkin kehidupan masa lalu telah menjadikan hatinya rawan, ditambah pula dengan keributan barusan yang secara tidak langsung punya kaitan dengannya. Segala yang kudamba, segala yang kuimpikan, dan segala masa lalu yang indah itu, kini pupus sudah. Apa yang ditakutkan itu menjadi nyata, Naya yang juga mencintai Rafa ternyata mengidap halusinasi, berkhayal terlalu liar. Sakit kepala, gangguan syaraf. Afasia, sungguh nama penyakit yang aneh. Mengenai bulan gerau dan mimpi-mimpi dunia lain, ketakutan-ketakutan tak beralasan, dan tentang perasaannya padaku yang kemudian membuat hatiku terluka dan hidupku kehilangan arah.

Rafa yang mengenang kenang. Ketika kembali berjumpa setelah setahun lebih tanpa kabar, kebetulan yang aneh Naya juga turut di kampus itu satu jurusan. Menghidupkan masa-masa yang hilang, sayangnya ia kembali menghilang tanpa sebab. Termenung sendirian di Jembatan Lamnyong, memandangi langit, memandangi bintang, dan sesekali memandang bulan.entah kenapa, setiap kali aku memandang, bulanitu selalu mirip bulan kertas, tak nyata. Kisah ini menemui titik akhir pilu di dataran tinggi Takengon, tapi tak sampai mencipta titik-titik air mata karena memang sudah terasa kehilangan sejak di pertengahan, maka ketika takdir itu menyapa, well aliran sedih itu menempati relung-relung lekuk yang memang sudah tersedia.

Aceh dengan pergolakan sosial-politiknya. Kini digurat dalam drama remaja. Syariat Islam secara kaffah yang diseru-seru Pemerintah beberapa kali disebut, karakter Rafa yang tenang dalam bertindak gemuruh dalam pikiran. Memanggil ibu dan bapak dari teman special dengan panggilan Bibi dan Paman, begitu daerah. Karena kita mungkin sudha terbiasa menyaksi di film-film Om dan Tante. Begitu pula hubungan keduanya yang masih terjaga, tak ada racun dosa. Tak banyak gebu dan gemuruh, semua tenang, termasuk akhir tragis ketika kabar itu datang.

Sebuah pilihan hidup, sebuah konsekuensi, dan dunia fantasi di langit sana penuh kerasingan.

Buku ini kubeli di jelang akhir Ramadan, ketika ke Gramedia Karawang beli kado perpisahan dengan teman kerja. Di antara banyak pilihan buku-buku terjemahan yang kualitas lebih terjamin, entah kenapa saya sedang ingin membaca buku-buku lokal, dan ini menjadikan novel pertama Arafat Nur yang kubaca. Penulis asli Aceh yang tumbuh di kecamuk perang, novel ini jelas garis bersarnya adalah kehidupan pribadinya, hiruk pikuk Ujung Barat Indonesia ini penuh konflik politik berlarut. Tampak dalam gambaran hubungan timbul tenggelam dengan Naya, yang diselingi kemuakan atas perang. Dengan CV panjang karya-karyanya, Bulan Kertas rasanya hanya novel pembuka menuju lahap buku lainnya. Rasanya memang lebih ngena bercerita keadaan dengan sudut pandang orang pertama, di mana penulis melakukan sensasi ajaib menulis pengalaman pribadi dengan bumbu drama.

Yang kurasakan dunia ini sunyi sekali. Sunyi yang begitu hebatnya… Barangkali perasa manusia tidak sempurna, seperti juga jiwa manusia; taka da yang sempurna. Merasakan kesunyian yang begitu hebat, di malam yang begitu abadi. Dan ditutup dengan catatan penuh tanya berjudul Pelangi Malam. “Aku tetap terperangkap dalam dunia yang gelap abadi. Di dunia itu hanya aku seorang diri. Hanya seorang diri. Tak ada orang lain yang masuk ke dunia lain tempat aku tinggal itu…”

Bulan Kertas | by Arafat Nur | 617172017 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Miranda Malonka | Design sampul Orkha Creative | Cetakan pertama, 2017 | 224 hl; 20 cm | ISBN 9786020376257 | Skor: 3.5/5

Karawang, 090520 – Bill Withers – Don’t You Want To Stay

#9 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf