Playon #8

Playon by F Aziz Manna

Pada mulanya semua terkumpul. Bersarang di setegak tiang. Angin menerabas batas hening dan sunyi… Start Noted.

Dengan label Pemenang Sayembara Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur 2015 dan Pemenang Kategori Puisi di Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, apa yang ditampilkan dalam Playon terasa ada yang kurang. Permainan kata dan aturan main yang diajak ‘lari’ justru kurang rumit, laiknya puisi yang indah-indah dan sakral bagiku, Playon justru tampak mudah diikuti. Macam-macam nama dolanan dibuat per judul, lalu menjelaskan aturan main dalam sajak? Apa istimewanya?

Petak judul ‘Dadu’ contohnya, main ular tangga, melempar dadu menempatkan takdir antara mulut ular atau ujung-ujung tangga yang emnjulang. Dunia berjalan dengan pelempar ugal-ugalan, kerap melanggar aturan. Aku pun hanyut dalam mainan. Alamak, apa bagusnya kata demi kata ini. Tak ada seni dalamnya, sekadar tumpukan kata yang dirata kanan-kiri lalu gelimpang kotak dadu memutuskan nasibnya sendiri!

Ga banyak yang bisa saya utarkan kalau ngomongin puisi, Playon tampak sama saja, tapi untuk kali ini malah lebih sederhana, lebih membumi dan familiar dengan nama permainan-permainan di Jawa, Playon yang artinya lari menjadi bagian drai segala jenis dolanan yang disajikan. Aturan baku/non baku dalam gim coba disaji, mencoba unik tapi terasa sama saja. Hal-hal umum yang digali dalam narasi puitik. Mungkin akan menjadi lebih hidup kala dibacakan nyaring, tapi well tetap saja benang merah alkisah yang biasa dalam prosa tak ada. Sederhana dan natural.

Mungkin yang agak bagus ada di sini, saya ketik ulang salah satubaitnya: ‘Burung masih menyanyi menangisi matahari. Bulunya rontok penampangkan kering tembolok. Aku mengingat perkataanmu: lerka adalah segalanya. Tak ada urusan dengan apa kata orang. Matamu bengak, acuh pada lengan yang membelit serupa ular: sudah tugasku melenyapkan seluruh tugasnya. Biarkan kota jadi kambangan. Mataku malam. Wajahmu sekumpulan kunang dingin merapatkan barisan. Kau tumbuh seperti pohon jati di hutan jauh. Aku kebun tebu menunggu musim giling bersama perkutu dalam lampion.’ (Kambangan, hal. 14-15)

Dalam judul puisi yang menjadi judul buku, permainan kata lalu-lintas-lintas-lalu seolah mantra, padahal ya cuap-cuap lari untuk melewati garis, dan gegap ceria dalam gim yang biasa kita mainkan sore hari. Hufh…

Bagian Kedua, selepas mainan yang umum itu, kita diajak tamasya ke ‘Ajang Barang’ di mana benda-benda mainan itu menjadi judul, dan diukir kata menjadi pulasan aneh. Lumayan bagus kalau yang ini, setidaknya ada kukhususan yang tersaji. Seperti Jengkah, sebuah daerah di Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Madura yang dikenal sebagai nam Api Tak Kunjung Padam, keseruan api dan tanah, unsur utama bumi yang hidup, lebih merah dari magma.

Bagian Ketiga: Laku jua lumayan Ok. Contoh konkrit Ok di siniadalah di judul Ngupil, ‘Selalu ada tipak dari telapak. Lalu debu berkerumun dan menimbun. Membentuk onggokan baru…’ Bolehlah kosokata pilihan dalam menampil keadaan sekeliling yang agak absurd.

Di halaman berikutnya tentang ‘Mungkar’ juga bagus. Tentang doa tak mengerti. ‘Maka sesungguhnya: doa yng dibunuh tak bisa dilawan dengan doa yang membunuh. Maka kuabukan diri dalam puisi. Sebab tak ada yang terpahami lagi.’ Bagi penyeruput belajaran, rasanya menyedihkan.

Sebuah kenang akan kematian orang terkasih disaji dalam Ziaroh 2. Sebuah kehilangan, sebuah memeori, ‘…Kenangan datang dan pergi meski tiada yang kembali. Aku membacanya dan aku kehilangan.’

Dalam ‘Sinau’, “…Kita pelancong abadi, katamu. Menangkap yang tak tertangkap. Melihat yang tak terlihat. Kita actor tunggal di jagat raya. Namun sayang, dalam tiap permainan kita selalu jadi yang lain, yang asing.” Gambaran proses belajar seseorang dengan kelaziman budaya, pemondokan yang biasa kita lihat dengan memakai sarung, peci, gambaran soleh yang di sini diilustrasikan He-Man. Generasi tua, khususnya 90an pasti akrab dengan orang ini.

Ditulis di kotakota Jawa Timur khas budaya Jawa-nya. Playon, mungkin, ini masih mungkin ya, dibacakan dengan iringan skoring musik syahdu dan alunan bait yang mendayu akan lebih baik, atau bisalah lebih nyaman untuk dinikmati. Rasanya ini kumpulan puisi yang sama dengan yang lain-lain, minim narasi yang berarti sangat minim benang cerita, jelas sebuah hal yang tak istimewa di mataku. Yang jelas, Playon dibaca di tengah malam atau dini hari yang sunyi, turut bosan, turut sunyi. Sepi.

Playon, seperti arti harfiahnya: lari, rasanya memang tak perlu merumit diri. Olahraga bebas, paling murah dan gratis. Lari bisa menjadi alternatif merdeka tanpa banyak modal. Playon kubaca cepat nan dalam di dini hari akhir tahun 2019, ketika di penghujung tahun bangun jelang salat subuh, mau baca apa? Yo wes baca puisi dalam kesunyian. Nyatanya kekhusukan yang dicipta tetap tak bisa menambah kesyahduan sajak. Sayangnya, Playon yang sebuah permainan malah gagal menyajikan keseruan, kecerian, kehangatan anak-anak yang ceria. Gelombangnya nyaris ga ada, datar bak mobil melaju kencang di jalan tol. Play-on lebih mantab yang berarti, permainan sudah dimulai.

Angin menyeret bau gosong: bonggol jagung yang terbakar. Abunya berserak serupa huruf-huruf dalam sajak. End noted.

Playon, Kumpulan Puisi | by F Aziz Manna | 571610064 | Penerbit Grasindo | Penyelia naskah Septi Ws | Perancang sampul Tim Desain Broccoli | Penata isi Tim Desain Broccoli | Dicetak kembali pada November 2016 | ISBN 978-620-375-76-02 | Skor: 3/5

Karawang, 080520 – Sarah Vaughn – Summertime

#8 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf