Pintu Masuk ke Dunia Filsafat #4

Pintu Masuk ke Dunia Filsafat by Dr. Harry Hamersma

Hidup manusia baru dimengerti dari belakang, tetapi harus dijalani dari depan.” – Kierkegaard

Makin banyak manusia tahu, makin banyak pertanyaan timbul. Tentang asal usul dan tujuan, tentang dia sendiri, tentang nasibnya, tentang kebebasan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Betapa beruntung saya bisa menikmati buku bermutu ini, kubeli dari Surabaya (Thx to Adi Angga, AFP) dalam rangkaian buku The Good Wives. Tipis sehingga bisa dinikmati singkat, tapi ilmunya jelas begitu tebal. Seperti judulnya, ini buku 50 halaman yang bisa jadi hanya di teras menyaksi sepintas ilmu dasar, tepat di depan pintu tuan rumah yang memiliki persoalan kompleks nan rumit, karena filsafat yang luas maka segala tanya itu harus didedah dan ditelusur. Dalam sajak kuno, ada tanya besar yang hingga kini masih sangat relevan dan akan tetap revelan nantinya. ‘Aku datang – entah dari mana, aku ini – entah siapa, aku pergi – entah ke mana, aku akan mati – entah kapan, aku heran bahwa aku bergembira…’ – anom.

Pertanyaan-pertanyaan ini ga akan terjawab oleh ilmu pengetahuan, pertanyaan ini mungkin pula ga terjawab oleh filsafat. Namun, filsafat adalah tempat di mana pertanyaan-pertanyaan itu dikumpulkan, diterangkan, dan diteruskan. Filsafat adalah ilmu tanpa batas. Tidak menyelidiki salah satu segi dari kenyataan saja, melainkan apa-apa yang menarik perhatian manusia.

Perbedaan filsafat dan ilmu pengetahuan: ilmu pengetahuan: ‘pengetahuan metodis, sistematis dan koheren (bertalian) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan.’ Sedang filsafat, ‘pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan.’ Filsafat dari bahasa Yunnai yang berarti ‘cinta akan hikmat’ atau ‘cinta akan pengetahuan’. Seorang filsuf adalah pecinta, pencari hikmat atau pengetahuan (Sophia). Kata Pytagoras hanya Tuhan yang mempunyai hikmat yang sungguh-sungguh. Manusia harus puas dengan tugasnya di dunia ini, ‘mencari hikmat’ dan ‘mencintai pengetahuan’. Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat: keheranan, kesangsian, dan kesadaran keterbatasan.

Keheranan, Plato berujar ‘Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini membri dorongan untuk penyelidiki. Dari penyelidikan inilah filsafat berasal. Di kubur Emmanuel Kant tertulis: ‘Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me’. Dua gejala yang mengherankan Kant, ‘langit berbintang-bintang di atasnya dan hukum moral dalam hatinya.’

Kesangsian, Augustinus dan Descartes menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran. Manusia heran, tapi kemudian ragu. Di mana dapat ditemukan kepastian? Karena dunia ini penuh dengan macam-macam pendapat, keyakinan, dan interpretasi. Sikap ini sikap skeptis (penyelidikan) sangat berguna untuk menemukan titik pangkal yang tidak diragukan lagi. Titik pangkal itu dapat berfungsi sebagai dasar untuk semua pengetahuan lebih lanjut.

Kesadaran akan keterbatasan, filsuf lain berpendapat manusia mulai berfilsafat kalau ia menyadari betapa kecil dan lemahnya ia, dibandingkan dengan alam semesta sekelilingnya (ditulis dalam Mazmur 8 dengan bagus). Semakin manusia terpukau oleh ketakberhinggaan sekelilingnya, semakin ia heran dengan eksistensinya.

Menurut Aristoteles, pemikiran kita melewati tiga jenis ‘abstraksi’ (menjauhkan diri/mengambil diri): fisika, matesis, dan teologi (filsafat pertama). Ketiga tahap abstraksi Aristoteles ini disebut metafisika. Filsafat ada sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan. Sebelum, karena semua ilmu khusus telah dimulai sebagai bagian dari filsafat saat ini. Sesudah, karena ilmu pengetahuan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mengatasi batas-batas spesialisasi mereka. Maka banyak filsuf sekaligus ilmuwan, seperti Einstein, Pascal, Kant, Aristoteles, dst.

Filsafat bertanya tentang semua kenyataan, tetapi selalu salah satu segi kenyataan sekaligus menjadi titik fokus penyelidikan. Semua jenis ‘filsafat tentang’ sesuatu objek selalu dikembalikan ke sepuluh cabang induk berikut:

#A. Filsafat tentang pengetahuan (ada 3):

#1. Epistemologi, pengetahuan tentang pengetahuan
Pertanyaan-pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, tentang batas-batas pengetahuan, tentang asal dan jenis pengetahuan. Orang bertanya apakah orang di dunia, memang pernah akan mampu untuk mencapai kepastian tentang kebenaran pengetahuan kita. Augustinus dan Descartes menyatakan bahwa skeptimisme tidak dapat dipertahankan secara konsekuen. Skeptisis meragukan apa saja.

Rasionalisme (dari kata ratio, Yunani yang berarti akal budi) merupakan sumber utama dari pengetahuan, merupakan akar yang sangat tua.

Lawannya adalah empirisme (dari kata empeiria, Yunani yang berarti pengalaman) merupakan pengetahuan dari pengalaman inderawi, bukan akal budi yang berasal dari kesan-kesan pengamatan.

Rasionalisme dan empirisme didamaikan oleh Kant yang bilang bagaimana akal budi dan pancaindera dalam satu analisis besar dari seluruh proses pengetahuan, dengan semua unsur memainkan peran. Sejak saat itu, epistemologi menjadi ilmu filsafat yang berkembang, para filsufnya disebut epistemolog.

#2. Logika, menyelidiki kesehatan cara berpikir, aturan-aturan yang mana yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan kia sah. Logika hanya merupakan suatu teknik atau ‘seni’ yang mementingkan segi formal, bentuk dari pengetahuan.
Menyelidiki cara sehat berpikir,

#3. Kritik Ilmu-ilmu, menyelidiki titik pangkal, metode objek ilmu
Terdapat tiga kelompok: ilmu-ilmu formal (matematika), ilum-ilmu empiris formal (missal ilmu alam, ilmu hayati), dan ilmu-ilmu hermeneutis (seperti sejarah, ekonomi). Teori-teori tentang pembagian ilmu-ilmu, tentang dasar kepastian, dan tentang jenis-jenis keterangan yang diberikan. Cabang ini, ‘kritik ilmu’ atau ‘filsafat pengetahuan’ menjadi penting dewasa ini.

#B. Filsafat tentang keseluruhan kenyataan (ada 2)

#4. Metafisika umum (ontologi), pengetahuan tentang ‘semua pengada sejauh mereka ada’
Filsafat menyelidiki seluruh kenyataan, tapi kalau manusia ingin berbicara tentang ‘segala sesuatu sekaligus’, lalu jelas bahwa ia menghadapi kesukaran-kesukaran yang agak besar. Dalam logika menyatakan, ‘semakin besar ektensi suatu istilah atau pernyataan, makin kecil komprehensi istilah atau pernyataan itu.’ Artinya: isi (komprehensi) suatu kata atau kalimat menjadi sangat kecil kalau luasnya (ekstensi) kata atau kalimat itu sangat besar, dan sebaliknya. Ontology berbicara tentang segala sesuatu sekaligus.

Pentanyaan paling besar, tentang adanya Transendensi atau Tuhan, satu hasil dari ontology adalah abstrak, tetapi sekaligus juga cocok, yaitu ‘Mengada’ (Letting-be, Inggris. Esse, Latin) yang artinya sumber dari segala sesuatu – sejauh itu ada, Pencipta dari seluruh ciptaannya, adalah Tuhan.

Ada empat jenis kepercayaan ontology: pertama Ateisme menyatakan Allah tak ada, manusia sendirian dalam kosmos di bawah surga yang kosong. Dua Agnotisisme menyatakan tidak dapat diketahui apakah Allah ada atau tidak ada, jadi pertanyaan tentang Allah selalu terbuka. Ketiga Panteisme menyatakan seluruh kosmos sama dengan Allah sehingga tidak ada perbedaan antara Pencipta dan ciptaannya, Allah dan alam ‘sama saja’, dan Teisme menyatakan Allah itu ada, bahwa Allah boleh disebut ‘Engkau’ dan ‘Penyelenggara’.
Metafisika khusus (ada 3):

#5. Teologi metafisik, teodis/filsafat ketuhanan bicara tentang pertanyaan apakah Tuhan ada dan tentang nama-nama ilahi

Teologi metafisik diselidiki apa yang dapat dikatakan tentang adanya Allah, lepas dari agama, lepas dari wahyu. Bagian satu tentang ‘bukti-bukti’ untuk adanya Allah, bagian dua tentang nama-nama ilahi. Iman falsafah dalam capaian teologi metafisik tidak cukup. Iman ini dalam tradisi sering disebut ‘praeambulum fidei’ atau kerangka sebelum iman atau ambang pintu dan persiapan untuk iman.

#6. Antropologi, bicara tentang manusia

Bebicara tentang manusia. Menurut Kant pertanyaan ‘Menusia siapa dia itu?’ merupakan pertanyaan satu-satunya dari filsafat. Semua pertanyaan lain dapat dikembalikan kepada pertanyaan ini. Manusia adalah sekaligus materi dan hidup, badan dan jiwa, ia mempunyai kehendak dan pengertian. Manusia hidup dalam banyak dimensi sekaligus. Berbagai ilmu lahir setelah Kant, dan pertanyaan itu tetap terbuka sampai sekarang.

#7. Kosmologi, filsafat alam bicara tentang alam, kosmos
Filsafat alam yang bicara tentang dunia, missal evolusi, kekebasan dan determinisme, definisi energy, definisi materi, definisi hidup dan soa-soa: berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi etis dari kemajuan teknik. Kosmologi sekarang memandang alam sebagai suatu proses. Kosmos itu bukan sistem tetap dan tak terhingga, melainkan suatu proses perkembangan.

#C. Filsafat tentang tindakan (ada 2)

#8. Etika, filsafat moral bicara tentang tindakan manusia
Etika dibedakan dari semua cabang filsafat karena tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan bagaimana ia harus bertindak yang diatur dalam macam-macam norma. Dibagi lagi dalam norma-norma sopan santun, hukum, dan moral. Inilah ilmu yang berisi petunjuk etis, dan pedoman hidup bahagia. Etika merupakan dasar semua norma moral. Etika dibedakan dua jenis, etika destruktif gambaran kesadaran moral (suara batin) dari norma dan konsep etis, dan normatif tentang apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan kita. Dalam etika normative, norma dinilai, dan sikap manusia ditentukan.

#9. Estetika, filsafat seni. Mencoba menyelidiki mengapa sesuatu dialami sebagai indah.

Pengalaman akan keindahan merupakan objek dari estetika. Dalam estetika dicari ‘hakekat’ dari ‘keindahan’ bentuk-bentuk penglamanan keindahan. Hegel membedakan rangkaian seni-seni yang mulai pada arsitektur dan berakhir pada puisi. Makin kecil unsur materi dalam suatu bentuk seni, makin tinggi temnpatnya dalam hirarki. Kalau Schopenheur melihat suatu rangkaian yang muali dari arsitektur dan memuncak dalam musik. Musik jelas mendapat tempat istimewa dalam estetika. Musik dibandingakn dengan mistik, dengan khayalan falsafi, dan dengan magi. Musik digambarkan sebagai bentuk wahyu yang masih berbicara tentang Transendensi, kalau pengertian manusia sudah tidak kuat lagi. Musik dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata.

#10. Sejarah filsafat, mengajar apa jawaban para pemikir-pemikir sepanjang zaman.
Kita bertemu dengan penyelidikan semua cabang filsafat. Sejarah filsafat mengajarkan jawaban-jawaban yang diberikan para pemikir-pemikir besar, tema-temanya dianggap paling penting dalam periode tertentu, dan aliran-aliran besar yang menguasai pemikiran selama suatu zaman atau bagian dunia tertentu.

Terbagi dalam tiga tradisi besar filsafat India, filsafat Cina, dan filsafat Barat. Antar ketiganya ada banyak pararel. Sejarah filsafat merupakan suatu sumber penetahuan, pengalaman, himat dan iman yang luar biasa. Merupakan cermin bagi manusia. Penyataan dan ide manusia sekarang ditemukan kembali di sini dalam suatu perpektif yang sangat luas, yang mengatasi batas-batas agama, batas-batas bahasa, batas-batas zaman dan kebudayaan.

Seorang penyair Persia pernah membandingkan alam raya dengan sebuah buku kuno yang kehilangan halaman-halaman terakhirnya. Sepanjang sejarah bangsa manusia sedang mencari halaman-halaman yang hilang itu. Setiap kali kalau ilmu pengetahuan menemukan beberapa halaman yang hilang itu, pengetahuan kita tentang alam raya menjadi sedikti lebih luas. Tetapi anehnya, jumlah halaman yang hilang kelihatan sama saja. Karena kendati semua penemuan ilmu pengetahuan itu, pertanyaan-pertanyaan yang terakhir, yaitu pertanyaan-pertanyaan tentang asal dan tujuan, tentang makna hidup, tentang kita sendiri, masih belum terjawab.

Buku yang sangat bervitamin. Karena saya ga ada sks matakuliah filsafat atau turunannya, maka sangat wajar hal-hal yang disampaikan – walaupun basic, begitu bermanfaat. Saya justru sudah melahap salah satu cabangnya, antologi. Yang juga dasarnya saja.

Pintu Masuk benar-benar mengandung gizi berlimpah ruah, kalimat-kalimat ilmunya bermutu dalam teori sebagai pijakan untuk belajar lebih lanjut. Untuk orang awam sepertiku, bisa jadi pegangan bacaan berikutnya guna telaah lebih lanjut ke cabang mana. Seperti Anthony Giddens: Suatu Pengantar kemarin yang begitu jitu membidik ilmu sosial yang maha luas, maka Pintu Masuk jua menawarkan jelejah ilmu ke depan tak berbatas.

Seperti kata Bernard Russel, “Antara teologi dan ilmu pengetahuan terletak suatu wilayah tak bertuan. Wilayah itu diserang baik oleh teologi maupun oleh ilmu pengetahuan. Wilayah itu adalah filsafat.” Jadi mari kita duduki wilayah itu, mari belajar filsafat bareng.

Hidup kita di dunia ini – sebuah planet kecil dalam kosmos yang sebagian besar kosong – merupakan suatu misteri besar. Terhadap masa lampau kita harus berterima kasih, mengetahui bahwa kita berhutang. Terhadap masa depan kita harus terbuka: siap untuk menyelidiki dan untuk menerima. Cakrawala pengetahuan kita semakin luas, tapi pengetahuan luas itu tak pernah utuh. Kita tidak ‘memiliki’ kebenaran. Filsafat mencari kebenaran, dan itu dimulai dengan menyadari betapa sedikit yang sungguh kita ketahui.

Pintu Masuk ke Dunia Filsafat | by Dr. Harry Hamersma | 027140 | Penerbit Kanisius | copyright 1980 | Cetakan ke 25, 2005 | ISBN 979-413-188-1 | Skor: 4/5

Karawang, 040620 – Bill Withers – Ain’t No Sunshine

#4 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf