Almost A Miracle: Upaya Menjelaskan Definisi Cinta

Apa bedanya suka dan cinta?” / “Oh saya juga ga tahu…”

Ini film yang sangat disayangkan eksekusi endingnya merusak segalanya. Susunan kisah sudah sabnagt bagus dari awal sampai tengah, adegan balon yang meyanang dan keajaiban jatuh di kolam renang justru menghancurkan cerita. Entah kenapa bisa ‘terbang’.

Kisahnya tentang Hajime Machida (Kanata Hosoda) yang freak. Ia adalah gambaran siswa baik yang sempurna, saking polosnya akan kehidupan segala yang ada di depannya ia tolong. Secara akademi atau kegiatan ekstrakulikuler memang kurang Ok, tapi siapa peduli? Pendidikan budi pekerti jauh lebih penting. Naik bus, kasih temoat duduk ke orang lain. Ada siswa lain yang lebih pendek, coba pasang kertas informasi di dinding yang lebih tinggi, Machida mangangkatnya. Membersihkan kolam renang tanpa beban. Berbagi makanan. Mengambilkan bola-bola basket yang tercecer, sampai hal-hal kecil yang sejatinya tampak remeh di mata umum tapi bagi dia berprinsip, kebaikan taka da batas. Segalanya dilakukan dengan hati, tindakan terpuji harus disebar, tanpa pramih. Hebat.

Suatu hari yang panas di kelas, Machida terluka dalam pelajaran bikin karya. Sama temannya Rira Sakae (Atsuko Maeda) diminta ke UKS, sementara di sana ada siswi nakal Nana Inohara (cantik dan memesona, Nagisa Sekimizu) yang pura-pura sakit. Ia ke sana pengen bolos saja. Maka berdua dalam satu ruangan. Machida yang aneh, hanya memegang tangannya yang terluka sembari menunggu petugas medis, diam kek patung. Inohara heran ada siswa berdiri bengong dengan darah mengucur, maka dengan sapu tangannya, Inohara membalut luka agar pendarahan berhenti. Machida menatap Inohara terkesima, sejatinya di menit sangat awal ini, kita sudah tahu apa definisi cinta. Machida yang polos malah mengubernya hingga dua jam. Romantis sekali ketika sapu tangan itu dikembalikan, bukan sapu tangan yang sama karena yang terkena darah malah disimpan, Machida mengembalikan sapu tangan yang mirip. Ketika dibuka lipatannya, ada border boneka. Romantisme sapu tangan, klasik. Dan ini jauh lebih indah ketimbang segala kata-kata gombal di sinema remaja sinetron kita.

Machida dan Inohara sering merenung di pinggir sungai pasca sekolah, ngobrol tanpa dasar, cerita banya hal. Terlihat jelas, hati Inohara terpaut karena beberapa kali mengimaji, seperti ketika ada balon punya anak kecil yang coba diselamatkan Machida, sehingga terbang di atas danau. Juga di pojok sekolah, di dekat kolam renang menjadi saksi pertemanan dua orang aneh ini. Teman-temannya yang ‘normal’ mulai bergosip mereka pacaran, kemungkinan Inohara ke London melanjutkan sekolah ikut tantenya, dan berbagai hal absurd diperbincang. Inohara ini ternyata bintang sekolah, cantik, kaya, dan menawan beberapa siswa. Hanya hobi bolosnya yang jadi kendala. Bagiku, cewek pendiam memandang langit, menerungi aliran sungai lebih menarik ketimbang keglamoran.

Maka tak heran, ada siswa lain jatuh hati mengirim surat cinta padanya, salah dilamatkan ke Machida karena mereka terlihat dekat. Machida salah tangkap, dikiranya ia dicinta, dengan polos diterima. Oh tidak, salah persepsi. Lalu Machida justru membantu menyampaikan ke si cantik, dan mereka bertiga kencan. Kesel ga sih, ada mak comblang ke kamu bahwa si A mencintaimu, padahal kamu cintanya sama mak comblangnya? (oh saya baru baca ¼ novel Emma) Ke tempat bowling, bertukar kata sambil lembar bola menjatuhkan pin. Ada siswa nakal mencoba bully si A, Machida membantunya dengan polos, dia adalah orang terkasih. Waduhh.. Lalu ada siswi lain Sakura Takashima (Mitsuki Takahata) jatuh hati sama Yu Himuro (Takanori Iwata), cowok idola, bintang sekolah, ditolak sebelum bergerak. Dielus-eluslah kepala Sakura. Sabar.

Mengelus kepala ternyata bukan tindakan sembarangan, karena bisa dideskripsikan suka. Sakura tentu saja jadi jatuh hati, tersirat. Makin ke sini makin banyak yang mencintai Machida, termasuk seorang jurnalis tabloid gossip Yohei Yoshitaka (Sosuke Ikematsu) yang suka menyebar berita jelex, berita gam utu tentang skandal arti, berita receh ga guna buat otak kanan, ketika di bus bertemu Machida memberi kursi duduk untuk orang lain, ia terketuk, dunia masih ada orang baik. Maka ia berniat menerbitkan cerita baik di media, sebuah upaya yang patut kita hargai. Camkan itu para pembuat dan penyebar hoax.

Sementara Inohara yang juga mulai jatuh hati sama Machida, keadaan makin runyam karena si cowok justru masih dalam proses pencarian definisi cinta, dan apa bedanya dengan suka? Semakin hari semakin banyak yang memberi apresiasi terhadap kebaikan Machida. Dan tiba-tiba tanpa banyak informasi lebih lanjut, Inohara yang sedih dan galau memutuskan ke London, seolah ibu kota Inggris itu terletak di kota sebelah. Berhasilkah Machida mencegahnya? Wuzzz… balonku ada lima, dan dor meletus semua. Oleh bangau? Astaganaga

Banyak ironi coba disampaikan Yuya. Ada adegan dalam bus, semua orang duduk dengan memainkan hp, hanya Machida yang tidak, tampak beda, tampak aneh, tampak exclusive. Sebuah gambaran nyata dunia saat ini, karena banyak orang sudah begitu cuek sama keadaan sekitar. Sejatinya keanehan Machida ialah keabnormalan baru, karena tindakan itu merupakan tindakan biasa dua puluh atau tiga puluh tahun lalu, hanya dunia bergerak terlampau cepat sehingga yang dulu biasa jadi tampak aneh. Kebaikan hati yang patut kita tetap lestarikan.

Runutan bagus dari mula sampai tengah itu sayang sekali hancur di eksekusi ending. Mungkin karena berdasarkan manga karya Yuki Ando, yang memberi imaji ‘terbang’ adalah normal. Jadi panel-panel komik itu jadi terlihat aneh ketika jadi film nyata. Sayang sekali, libur akhir pekan lalu, begadang demi film ini menghasil film biasa, yah kalau ga mau dibilang bagus.

Almost a Miracle jelas sebuah produk sinema dengan niat sangat baik, tentang menyebarkan kebaikan dan itu akan menular, hanya patut disesalkan eksekusi akhirnya berantakan. Lagu Itemotattemo yang disenandungkan Ken Hirai sedikit menyelamatkan suasana.

Almost A Miracle | Year 2019 | Japan | Original Title Machida-kun no Sekai | Directed by Yuya Ishii | Screenplay Yuya Ishii, Sho Kataoka | Manga Yuki Ando | Cast Kanata Hosoda, Nagisa Sekimizu, Takanori Iwata, Mitsuki Takahata, Atsuko Maeda, Taiga Nakano, Sosuke Ikematsu, Erika Toda, Koichi Sato, Yukiya Kitamura, Nanako Matsushima | Skor: 2.5/5

Karawang, 270520 – Bill Withers – Friend of Mine

HBD Wildan Aziz P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s