Menafsir Ulang Ilmu Sosial a la Giddens: Dunia Modernitas adalah Dunia yang Tunggang-Langgang

Anthony Giddens: Suatu Pengantar by B. Herry – Priyono

Saya ingin melakukan tiga hal, yaitu menafsir ulang pemikiran sosial…, membangun kembali logika serta metode ilmu-ilmu sosial, dan mengajukan analisis tentang munculnya lembaga-lembaga modern.” (conversation with Anthony Giddens, 1998, hal. 44-45).

Kalian ga kenal Anthony Giddens? Sama saya juga, sebelum baca ini. Saya bisa menjabarkan panjang lebar cerita dibalik kehidupan dan karya Haruki Murakami, penulis favoritku, tapi jelas saya sangat awam kalau ngomongin pencipta teori ilmiah, termasuk Anthony Giddens. Karena keterasingan inilah yang mencipta rasa penasaran sehingga putusan beli menjadi pancing tanya. Kajian utama ilmu sosial adalah praktik sosial yang per definisi adalah titik temu dari dualitas struktur dan pelaku. Ilmu-ilmu sosial (politik, ekonomi, sosiologi, antropologi, sejarah, psikologi, hukum) mulai dari apa yang sudah, sedang, atau mungkin akan dilakukan orang. Giddens menyebut tindakan dan praktik sosial itu sebagai ‘dunia yang sudah ditafsirkan’. Istilah-istilah teknis yang dirumuskan ilmu sosial sudah menjadi kamus sehari-hari khalayak, dan karena sudah menjadi bagian dari insting dan praktik sehari-hari maka orang jarang mempertanyakan lagi asal-usulnya.

Apa yang tersaji dalam buku kecil ini adalah hasil keterperangkapan. Tak lebih, tak kurang. Tanpa melewati penyuntingan yang berarti, makalah dalam symposium diterbitkan menjadi buku kecil ini. Saya merasa beruntung, dapat menikmati bacaan sederhana namun sangat padat dan bermafaat. Banyak hal dapat digali, Giddens jauh lebih berhasil menjembatani kesenjangan, ketegangan, serta kaitan antara apa yang dalam ‘republik teori ilmu sosial’ disebut analisis pada dataran ‘pelaku’ (agency) dan tataran ‘struktur’ (structure). Di atas semuanya, kita bisa belajar mengenali kesesatan pada klise massal yang mengepung kita, yang biasa berbunyi: “yang penting aksi, bukan teori”. Terhadap klise massal itu rupanya mesti dikatakan: “tidak ada aksi tanpa teori”. Giddens mengajari kita bagaimana keduanya tidak mungkin dipisahkan.

Inilah buku tentang pokok-pokok pemikiran teoritis Giddens dalam ringkas dan seringan mungkin. B. Herry-Priyono mencipta ulang pemikiran itu dalam upaya asyik tanpa bikin kerut kening. “Meskipun sudah berusaha untuk tidak salah mengerti pemikiran dasar Anthony Giddens, saya tetap jauh dari keyakinan bahwa saya tidak keliru memahaminya yang begitu luas memang bagaikan mengejar kawanan gejala modernitas yang selalu berlarian tunggang-langgang.”

Giddens adalah dosen yang flexible dalam kelas. Memberi kuliah umum tentang cara-cara baru memahami berbagai masalah dunia yang tunggang langgang. “Hari ini kita akan menafsir ulang marxisme…” katanya. Tampak menggebu dan mematik tanya. Beliau sudah menulis buku ada 32 dan sudah diterjemahkan ke 26 bahasa.

Nah, Suatu Pengantar dibagi tiga bagian: pertama, contoh refleksi kritis Giddens terhadap teori lain. Kedua, beberapa terobosan teoritis Giddens. Ketiga, contoh ringkas bagaimana ia menerapkan gagasan teorinya. Peran tidak diciptakan oleh individu, karena ‘apa yang menjadi isi peran sosial adalah apa yang dituntut/diharapkan oleh peran tersebut’. Setiap masyarakat punya empat prasyarat fungsional yang mesti dipenuhi dan membentuk peran sosial: prasyarat tujuan (goal) yang disangga oleh lembaga politik, prasyarat adaptasi (adaptation) yang disangga oleh lembaga ekonomi, prasyarat intergrasi (integration) yang disangga oleh lembaga hukum, dan prasyarat perekat (latency) yang disangga oleh institusi keluarga dan agama.

Dalam marxisme klasik, kunci untuk memahami dinamika masyarakat adalah kaitan berbagai segi kehidupan masyarakat dengan kebutuhan sistem kapitalis akan akumulasi modal. Struktur adalah aturan (rules) dan sumberdaya (resources) yang terbentuk dari dan membentuk perulangan praktik sosial. Dualitas struktur dan [elaku terletak dalam proses di mana struktur sosial merupakan hasil (outcome) dan sekaligus sarana (medium) praktik sosial.

Giddens menyatakan bahwa ruang dan waktu bukanlah arena atau panggung tindakan, melainkan unsur konstitutif tindakan dan pengorganisasian masyarakat, artinya tanpa waktu dan ruang maka taka da tindakan. Karena waktu dan ruang harus menjadi integral dalam teori ilmu-ilmu sosial. Negara (state) merupakan ‘bejana pemuat kekuasaan’ (power container) yang didasarkan pada control atas pengaturan ruang dan waktu. Dualitas terletak dalam fakta bahwa suatu ‘struktur mirip pedoman’ yang menjadi prinsip praktik-praktik di berbagai tempat dan waktu tersebut merupakan hasil perulangan berbagai tindakan kita.

Giddens membagi tiga dimensi internal pelaku: motivasi tak sadar (unconscious motives), kesadaran praktis (practical consciousness), dan kesadaran diskursif (discursive consciousness). Dalam terori strukturasi, kekuasaan bukanlah gejala yang terkait dengan struktur ataupun sistem, malainkan kapasitas yang melekat pada pelaku. Maka kekuasaan selalu menyangkut kapasitas transformatif.

Dalam refleksi Giddens, tak ada sesuatu yang disebut ideologi; yang ada hanya aspek-aspek ideologi dan sistem simbol. Apa itu budaya? Ada dua kemungkinan, pertama budaya yang dipakai antropolog, budaya sebagai keseluruhan cara hidup, menyangkut keseluruhan gugus skemata yang menjadi prinsip semua praktik sosial. Kedua budaya yang dipakai sosiolog, ekonom, dan politikolog, budaya sebagai gugus nilai, budaya mengacu pada skemata signifikasi dan kegiatan yang menyangkut skemata signifikasi, seperti ritus, simbol, cara wacana, dan sebagainya.

Hubungan antara waktu-ruang dan tindakan berupa hubungan ontologis. ‘Kapan’ (when) dicabut dari ‘di-mana’ (where). Giddens menyebut gejala ini sebagai ‘perentangan eaktu-ruang’ (time-space distanciation). Pencabutan (disembedding) waktu dari ruang inilah lokus perbedaan antara masyarakat modern dan bukan modern. Tanpa ‘pencatutan’ waktu dari ruang inilah, tak aka nada globalisasi. Dan terjadi karena inovasi teknologi.

Apa yang dulu disebut bahaya alami (external risk) semakin berubah menjadi resiko buatan (manufactured risk). Masa lalu semakin kehilangan giginya dan masa depan yang terbuka dengan berbagai skenario menjadi titik perhatian yang menyeret kita. Hutan gundul, sekarang kalau banjir kita otomatis menyalahkan para pengambil kebijakan, sistem yang salah, atau tingkah laku buruk masyarakat. Jarang sekali orang menyalahkan alam, sangat jarang kita menunjuk dunia gaib sebagai dasar bencana.

Secara konseptual, iklan-iklan membawa sebuah histeria tentang kondisi tunggang-langgang, yaitu masa lalu dan hari ini tidak lagi relevan; yang penting adalah masa depan. Bahkan isi suka-duka kita berubah-ubah dengan cepat. Berita kematian legenda The Father of Broken Heart: Didi Kempot, secara instan memuncaki topik sosmed, tapi tak berapa lama berita gembira Dian Sastro dan Nikita Willy khatam al Quran di bulan Ramadan menambah kesempurnaan informasi: cantik-sholehah. Rasa suka-duka kita jungkir-balik secara cepat. Inilah dunia kita saat ini.

Gagasan dan penemuan baru di bidang ilmu dan teknologi merupakan poros reflektivitas-institusional. Praktik sosial dikaji dan diperbarui terus-menerus secara konstitutif. Melalui kinerja ‘asal ikut arus’ (herd principle) apa yang lalu terjadi adalah siasat pribadi dan keluarga menumpuk beras dan minyak.

Gejala mencengangkan dari kondisi modernitas adalah meledaknya jumplah profesi dari lima dalam masyarakat kuno: hakim, tabib, imam, guru, serdadu menjadi tak terbatas. Sistem ahli bersifat impersonal, bisa diakses oleh siapapun. Di dunia digital ini kita semua bisa dengan mudah mendapat informasi, melimpah ruah, membanjiri tiap individu. Jangan bohong, kalian pasti sering menunduk di depan HP, bisa ratusan kali dalam seminggu, yang artinya bisa berjam-jam kuat menempa mata ke layar. Inilah yang dimaksud perubahan tingkah laku. Gagasan tentang prioritas teknologi atas kekuatan-kekuatan laindisebut mazhab ‘industrialisme’. Ada empat gugus refleksivitas-institusional yang membentuk dan menyangga kondisi modernitas yaitu kapitalisme, Negara-bangsa, organisasi militer, dan industrialisme.

Strukturasi gejala sosial, ekonomi, kultural, dan politik yang kemudian membentuk kondisi modernitas. Marx mengenakan logika cara berproduksi (mode of production), Durkheim memakai logika diferensiasi/pembagian kerja (divion of labour), sedang Webber mengajukan logika rasionalitas (rationality). Fundamentalisme adalah anak kandung globalisasi yang sedang bertanya ‘dapatkah kita hidup suatu dunia di mana tak ada apa pun juga yang kita anggap keramat?

Hanya ada tiga orang yang mengajukan sintesa hubungan antara pelaku dan struktur yang meski masih punya kelemahan, dipandang jauh lebih memadai dibanding berbagai pemikiran orang lain, yaitu Anthony Giddens, lalu Pierre Bourdieu melalui konsepsi habitat, dan Norbert Elias, melalui gagasan figuration. Setiap pemikir memang makhluk yang sering disalah-mengerti. Michel Foucault adalah seorang pemikir besar post-strukturalisme.

Buku yang dimula sangat lambat, biasa sekali. Lalu pas di tengah langsung wuzzz ke puncak, karena seolah tiba-tiba menyodorkan vitamin ilmu bertubi-tubi. Lalu di akhiri dengan tenang. Sempat bikin males, dan ingin segera ganti buku, yang mendadak wow dan sampai kuujar kereeeen. Teori ilmu sosial ternyata semegah ini. Untuk sebuah buku tipis yang dibaca kilat, lumayan berisi juga. Karena saya tak ikuti perkembangan para ahli struktur, makanya Suatu Pengantar menjadi sebuah selisik pengetahuan baru. Jos!

Gejala post-modernitas adalah ketidak-mungkinan menangkap inti gejala, karena tidak ada inti pada apa yang berlarian tunggang-langgang. Mari para manusia klasik, dunia butuh kita perlambat. Nikmati musik dengan tape dek, menikmati buku dengan aroma kertas khas, sampai naik sepeda lebih nyaman ketimbang stater motor. Mari ngopi Lur… pakai video call Whats App. #eh.

Anthony Giddens: Suatu Pengantar | by B. Herry – Priyono | KPG 59 16 1117 | Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2002 | Cetakan kedua, 2002 | Penyunting Christina M. Udiani | Desain sampul dan tata letak isi Wendie Artwenda | xii + 100 hlm.; 13 cm x 19 cm | ISBN 978-979-91-1105-0 | Skor: 4/5

Karawang, 260520 – Bill Withers – Just the Two of Us

HBD Wildan Aziz P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s