Historia Bintang Jatuh: Sebuah Fantasi Liar

Stardust by Neil Gaiman

Aku bersedia dibayar dengan warna rambutmu, atau semua ingatanmu sebelum kau berusia tiga tahun. Aku bersedia dibayar dengan pendengaran dari telinga kirimu – tidak semuanya, cukup supaya kau tak bisa menikmati musik atau menghargai desau arus sungai atau desir angin.”

Tentang petualangan anak setengah manusia setengah peri yang menakjubkan. Untuk memulai perjalanan kita perlu mengenal desa asal, Desa Tembok di padang rumput Inggris yang tenang. Tak sembarangan yang bisa melintas, setiap Sembilan tahun sekali di seberang tembok yang bercelah ada bazar festival yang digelar dan desa itu menjadi penginapan mendadak. Syahdan, seorang pemuda rupawan Dunstan Thorn berusia delapan belas tahun mengalami malam sensasional. Terasa gigil dan gemetar di pusat alam. “Ini kuucapkan: kau telah mencuri pengetahuan yang tak layak kauperoleh, tetapi pengetahuan ini tak akan menguntungkanmu…”

Dengan setting waktu masa Ratu Victoria yang bertakhta sebelum menjadi janda Windsor, Charles Dickens tengah menerbitkan novel Oliver Twist. Mr. Draper baru saja memotret bulan untuk pertama kalinya, membekukan wajah pucatnya pada kertas dingin; Mr. Morse baru-baru saja mengumumkan cara mengirim pesan melalui kawat logam. Dunstan memasuki bazar berkenalan gadis cantik terikat di karavan, dengan satu ciuman yang menderet asmara mistis. Ciuman gadis dengan bibir yang bercita rasa lumatan arbei hutan. Tak disangka satu malam berkelindan peluk itu mencipta keturunan. Sembilan bulan pasca bazar, di celah Desa Tembok ada keranjang bayi dengan secarik kertas berpeniti bertuliskan ‘Tristran Thorn.’

Ini kisah tentang Tristran Thorn. Jadi kejadian melompat delapan belas tahun kemudian. Ia jatuh hati sama gadis desa Victoria Forester, dan dalam canda gombal remaja, si Victoria bilang bawakan saya bintang jatuh. “Kau masih muda dan sedang kasmaran, setiap pemuda dalam situasimu adalah pemuda paling merana yang pernah hidup.” Tristran menanggapinya serius, maka ia pamit sama ibu, bapak, dan adiknya melakukan petualang ke hutan seberang. Dibawakan bunga tetes salju dari ayahnya, yang didapat dari ibu aslinya. Perjalanan inilah yang menjadi komoditi utama Stardust. Walau banyak hal terasa kebetulan tapi jelas tutur kata di negeri peri ini sungguh dahsyat. Seni bertahan hidup, termasuk dalam memasak, bagaimana di hutan tak ada garam, tapi dibumbui sedikit semangi, sedikit serpili gunung, ini pasti sama lezatnya.

Berkenalan dengan katai, manusia kecil yang baik hati, ia merasa lelaki ini sungguh polos dan jujur sekali dalam bercerita tujuan utamanya mencari bintang jatuh. Dan, terlalu lugu untuk merasa takjub, terlalu muda untuk merasa gentar, Tristran menyeberangi padang yang kita kenal… dan memasuki Negeri Peri. Terasa sulit tapi ga mustahil, maka ia membantu Tristran dengan memberi lilin cahaya yang bisa melakukan perjalanan antar dimensi. Aturan mainnya, lilin nyala itu akan mengantarnya menembus ruang dan waktu, lalu sekejap saat dimatikan ia sudah sampai tujuannya. Lilinnya dikit maka gunakan dengan bijak. Pesannya agar berhati-hati, ketika ditanya orang asing jangan berkata apa adanya, bilang saja; ia dari belakang dan akan maju ke depan. Maka dengan pamit ala kadar yang memusing, Tristran melesat. Bintang yang diajarkan Mrs Cherry adalah bola gas yang berkobar dan menyala, selebar ratusan mil, mirip matahari, hanya lebih jauh.

Betapa terkejutnya, bahwa bintang jatuh mirip berlian atau batu, jelas ia tak menyangka adalah seorang gadis. “Ini kulakukan demi cinta, dan kau benar-benar harapanku satu-satunya…” Bintang itu cedera, satu kakinya patah, maka ia ikat dan papah dalam perjalanan, dan dibawanya pulang. Dengan kuda bertanduk yang diselamatkan ketika akan diterkam singa, bertiga melakukan perjalanan balik. Nah, di sinilah keseruan benar-benar diramu. Perjalanan itu tak mudah, penuh onak duri dan orang-orang berniat jahat.

Halangan pertama dari Ratu Penyihir hitam, panggil dia dengan sebutan Morwanneg. Tiga saudari di dimensi lain, yang tertua keluar dari dunia cermin, mendapatkan kembali usia mudanya, ia ke negeri Peri untuk mendapatkan bintang jatuh. Karena jantung-bintang-hidup adalah obat manjur untuk melawan jerat usia dan waktu, adik-adiknya menanti pulang. Sang Ratu penyihir memiliki kekuatan besar, paling mungkin memenangkan pertarungan perebutan bintang, tapi nikmati saja perjalanan ini kejutan demi kejutan bersaji. “Kami hanya makan kegelapan, dan kami hanya minum cahaya. Jadi aku tidak lapar, aku kesepian dan takut dan dingin dan merana dan disandera tapi aku tidak lapar.”

Halangan kedua dari perebutan takhta Stormhold di gunung Houn. “Takdirku. Hak memerintah.” Jadi sang raja mangkat, mutiara manikamnya ia lempar ke langit yang mengakibat bintang jatuh, jadi ketujuh putera mahkota yang memilikinyalah yang akan resmi memerintah kerajaan. Empat saudaranya sudah tewas, saling tikam dan bunuh: Secundus, Quintus, Quartus, dan Sextus. Sisa tiga: Primus, Tertius, dan Septimus. Di sini alurnya unik sekali, bintang jatuh bukan karena tersandung tapi sejatinya tertabrak sebuah kuningan utas perak yang dilempar raja. Dalam perjalanan menuju takhta, di penginapan satu orang diracun saudaranya sendiri, sehingga menyisa dua. Karena panik, Primus kabur terlebih dulu. Menjaga diri tak akan makan dari produk asing. Septimus mengejar, sembari juang mencari jatuhnya bintang. Oiya, mereka yang tewas bisa melihat kehidupan. Jadi saudara-saudara ini membayang menyaksi perjuangan menuju takhta siapa yang tersisa. Ternyata ada orang-orang baik di negeri yang gelap ini, si bintang memutuskan dengan rasa hangat dan tenteram.

Pertempuran puncak sejatinya di penginapan. Kereta ratu penyihir yang tiba duluan, menikam pemilik lalu menjelma mengubah diri pemilik baru, dan kusir serta kudanya (yang disihir dari manusia menjadi hewan) menjadi pelayan. Menanti bintang dan kuda bertanduknya tiba. Karena Tristran dan Bintang slek, melarikan diri. Bintang dan kuda bertanduk tiba disambut, alat bedah sudah disiapkan namun tiba-tiba pintu diketuk, muncullah Tristran dan Primus yang bersatu di jalan. Kalimat: “Ini bisa menunggu.” Menjadi penyelamat. Dia tahu, di suatu tempat aneh dalam dirinya yang mengetahui arah dan jarak benda-benda yang belum pernah dilihatnya dan tempat-tempat yang belum dikunjunginya, dan si bintang sudah mendekat… ini bisa menunggu. Kebetulan atau entah apa namanya, Primus yang terbunuh dulu, Tristran dan bintang yang terdesak, sekelibat pikir cepat, menyala lilin intas dimensi, dan wuuuzzzz…. Mereka selamat. Lilin redup lalu mati di negeri awan. Mereka diselamatkan Kapal Merdeka Pardita. Menurunkannya di suatu bukit, lalu melanjut perjalan pulang.

Ratu Penyihir geram, lalu strategi diubah. Ia akan menanti di Parit Diggory, tempat terbuka celah lembah menuju Desa Tembok. Sementara Septimus yang kini menjadi satu-satunya yang masih hidup, sejengkal lagi jadi raja, syarat terakhir harus dipenuhi, membalas dendamkan saudaranya. Di Parit itulah titik akhir para penghalang berakhir. Adegan bakar serta seni menipu, well dia Ratu Penyihir yang punya kekuatan dahsyat ya, sehingga takhta itu lenyap kini.

Sementara Tristran dan bintang kini menjadi akrab. “Aku membencimu. Aku sudah membencimu utuk segalanya, tetapi sekarang ini aku paling membencimu.” Setelah ¾ kisah, barulah kita tahu siapa namanya. Saudari-saudariku memanggilku Yvaine, karena aku bintang senja. Ia membuka diri, menjadi turut serta pulang sekalipun ketika melintas dinding perbatas akan menjadi serbuk bintang, butir biasa di dunia manusia. Kau tahu gadis itu sebuah bintang dan seorang manusia fana. Di sini kebetulan kembali dicipta, Tristran bertemu penyihir yang di mula diperkenal sebagai Mistress Semele (nama kenalan), aslinya Ditchwater Sal. Penyihir ini mau menukar bunga tetes salju yang dibawa sang pengelana, syarat mengantarnya sampai Desa Tembok dengan selamat tanpa kurang apa pun. “Dan aku tak bisa menyesali petualanganku sedetikpun, meskipun ada kalanya merindukan tempat tidur yang empuk, dan aku tak akan pernah lagi melihat tikus dengan cara yang sama…”

Siapa sangka Tristran disulap jadi tikus, sang bintang disimpan juga. Dengan begitu mereka selamat lemintas Parit Diggory dan sampai di perbatasan dengan selamat. Selesai? Penutup yang njelimet karena fakta-fakta baru diungkap membuat bungah, Yvaine memiliki mahkota, burung yang dibawa sang penyihir ternyata memiliki kekuatan super juga setelah sihir tahanannya lenyap ehem Daisy Thorn, ketika Senin ketemu Senin di hari Jumat. Dan segalanya menyenangkan. Ending sempurna untuk kisah yang sungguh sempurna. Identitas Lady Una, penguasa Stormhold muncul ketika kerajaan mencapai titik hopeless. Bahagia itu apa? Tristran mewujudkannya, bukan harta, bukan takhta, bukan pula gelimang fantasi imaji: tapi bersama orang terkasih yang tepat, saling mencinta, saling mengisi. So sweet, too sweet untuk sebuah epic Neil Gaiman.

Dimula buku ada puisi karya John Donne, 1572-1631 berjudul Dendang.

Kisahnya sangat Gaiman, fantasi murni di Negeri Peri yang penuh keajaiban dan segala imaji yang tak terbatas. Saya menyukai fantasi khas Inggis seperti ini ketimbang kisah-kisah yang dicipta di daratan Amerika. Belum bisa menandingi The Ocean Lane at the End of the Lane yang fenomenal itu, tapi ini jelas lebih liar ketimbang kehidupan malaikat dan makhluk-makhluk ajaib di subway kereta api London. Bagaimana bisa mencerita petualangan dengan aturan lentur menyeret keadaan mendesak untuk gegas menyelamatkan situasi, yang paling kutakjubkan ada tiga. Cahaya lilin yang menghantar lintas dan waktu sebagai semacam portkey, kedua bintang jatuh itu adalah putri. Gadis yang memukau kecantikan dan tutur lembutnya. Dan terakhir, runutan kisah yang rapi dan menempa pikiran terliar sekalipun. Genre fantasi imaji banyak sekali yang indah-indah, dan Stardust jelas masuk salah satunya.

Permintaan sederhana, budi terkecil yang kuminta darimu, “Kadangkala, malam-malam aku dan saudari-saudariku bernyanyi bersama, bersenandung lagu tentang ibu kami, dan sifat masa, dan nikmatnya bersinar dan kesepian.” Tampak manis bukan?!

Serbuk Bintang | by Neil Gaiman | Diterjemahkan dari Stardust | Copyright 1999 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 617188003 | Alih bahasa Femmy Syahrani Ardiyanto dan Herman Ardiyanto | Desain dan ilustrasi cover Martin Dima | Cetakan kelima, Mei 2017 | ISBN 9789792226881 | 256 hlm; 20 cm | Skor: 5/5

Untuk Gene dan Rosemary Wolfe

Karawang, 220520 – Bill Withers – Hello Like Before

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s