Freud and the Problem of God

Ateisme Sigmund Freud: Ketegangan radikal psikologi dan spiritual by Hans Kung

Seperti yang Anda tahu, saya membangun hubungan agung dengan cinta.”

Datanglah! Aku ingin memberikannya untukmu sebelum pamit. Aku sekarang memiliki pondokan di sana, tunjukku ke langit. / “Benarkah?” / “Yah, di sana aku punya kebun bunga yang tak mengenak musim, namun entah untuk siapa.” / Lalu kita saling membuka kenangan dan tersenyum tiba-tiba: kita telah menjadi tua. (R. Timur Budi Raja).

Sigmund Freud berlabuh pada kesimpulan yang sangat ekstrem bahwa simbol-simbol dan ritual-ritual agama, dan tentunya juga pemeluk-pemeluknya, sama dengan perilaku pasien-pasien neurotisnya di rumah sakit jiwa. Agama adalah kegilaan, sebagaimana kegilaan yang diidap para penghuni rumah sakit jiwa di tempatnya bekerja. Lalu satu hal lagi yang sangat digelisahkannya, mengapa mayoritas manusia mempertahankan ‘kegilaan’ itu dengan landasan keyakinan yang sangat ultrafanatis? Lantas, bagaimana membedakan kegilaan dengan kesehatan, kesetanan dengan kemanusiaan? Apapun itu Sigmund Freud pada akhirnya tak bisa sanggup memberi jawaban yang memuaskan. Freud tetap dipasung, dibunuh kemudian dikuburkan oleh kebingungannya sendiri. Akhirnya sinisme Freud sendiri terhadap realitas agama sejalur dengan kebingungannya sendiri dalam memetakan relasi Tuhan dan manusia.

EB. Tylor dan JG. Frazer terekspresentasikan melalui kejadian-kejadian alam maha dahsyat, seperti banjir, gempa, hujan, guntur, dan seterusnya – bila mengamini kesimpulan Rufolf Otto – berupa ketakutan misterius yang kemudian memicu munculnya keyakinan hieropanik dan kosmogonik. Pengejawantahan ‘sesuatu yang bukan dari dunia nyata’, Yang Sakral – yang secara sederhana bertolak belakang dengan Yang Profan – yang niscaya juga telah menjalani ‘perjanjian primordial’ dalam definisi Sayyed Hosein Nashr. Freud yang ateis tetap Homo Religious, yang suatu kala berbenturan dengan kegelisahan spiritual, sebagaimana Nietzsche yang hanya ‘membunuh tuhan’ (got ist tot) yang tidak mendukung tegaknya kemanusiaan, seperti keadilan, perdamaian, dan kebahagiaan. Pendeknya, Freud pada awalnya tidak diametal dengan Tuhan.

Permusuhan dengan Tuhan baru bermula secara ekstrem mensimplifikasikan makna-makna hieropanis di balik deretan simbol dan ritual keagamaan yang dilakukan secara takzim oleh orang sekitar. Terlampau menyederhanakan makna ‘kehadiran Tuhan’ di dunia nyata yang profan, sehingga di matanya Tuhan haruslah riil, manusiawi, dan yang tidak demikian harus ditolak, maka Freud pada detik yang sama telah sempurna menjadi ateis yang lebih militant ketimbang Nietzsche dan Karl Marx.

Apakah lantaran ibadah agama melalui simbol dan ritual identik dengan sikap pasiennya yang tidak pernah memahami logis di balik perbuatannya, lantas agama sebagai salah satu ‘jalan membumikan Tuhan’ harus dituduh sebagai penyebab kelumpuhan dan keprimitifan rasionalitas manusia? Apakah karena semua agama bersifat transender, suprarasional, metafisis, skeptis, jauh dari rumus-rumus logika dan angka-angka saintifik, lantas eksistensi Tuhan yang ‘diwadahi’ agama sebenarnya hanyalah kesia-siaan dan omong kosong?

Odin murka dan mengutuk, “Mengapa kau ke tempat ini, Duetscher?! Telah kau curi tombakku untuk membunuhku!?” Dan tak seorang pelayat pun mendengar bisikannya pada keheningan, “Ternyata Tuhan tidak mati betul.” // Ketika tak satu pintu pun dijumpai terbuka rohnya kembali ke dunia, bergentayangan melalangrimba, memasuki kota demi kota kembali ke tanah airnya: pikiran manusia. (Faaizi L. Kaelan).

Bapak ateisme Marxis dan Freudian, yaitu Ludwing Feuerbach awalnya seorang teolog, kemudian menjadi Hegelian, lalu menjadi filosofis ateistik. Kedokteran secara khusus merupakan kebutuhan terbesar bagi ateisme materialistis pada paruh kedua abad ke-19.

Ernest Jones, penulis biografi Freud tiga volume setebal 1,500 halaman, Freud tumbuh tanpa keyakinan apa pun terhadap Tuhan atau keabadian atau tampak tidak pernah membutuhkannya. Waktu muda, Freud melaksanakan semua atribut dan upacara keagamaan Yahudi. Pada ulang tahun 35, ia mendapat hadiah dari ayahnya berupa Bibel. Pengalaman anti-Semitik Katolik, Freud menganggap dirinya Yahudi dan memang dibuktikan oleh fakta. Namun ia merasa tersiksa karena pendidikannya di sekolah pertama dan kedua, posisinya serupa Karl Marx. Ia hanya memiliki sedikit teman Yahudi, semua jenis penghinaan orang Kristen anti-Semitik telah menjadi kehidupan sehari-harinya. Kuliah, akhirnya ambil kedokteran dengan cita, “Kebutuhan untuk memahami suatu teka-teki dunia yang kita huni dengan harapan dapat menyumbangkan sesuatu sebagai solusi.” Minat pada pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting. Jadi Freud menemukan ‘ayah keduanya’ sebagaimana Hegel menjadi ayah Feuerbach di Berlin, Brucke menjadi ayahnya di Vienna.

Psikoanalis mengarahkan semua proses mental dari permainan kekuatan-kekuatan yang diterima atau ditolak oleh hal lainnya, berkombinasi dengan hal lainnya menuju kompromi-kompromi dengan hal lainnya. Tahun 1842, Du Bois-Reymond menulis: “Brucke dan saya berikrar dengan tulus untuk meneliti efek kebenaran ini: Tidak ada kekuatan-kekuatan lain dibandingkan suatu kesatuan fisik dan kimiawi dalam aktivitas organisme. Dengan ini fisiologi-fisikalis membasmi seluruh filsafat alam idealis (Naturphilosophie), serta mengeliminasi semua tingkatan ‘vital’ Aristotelian dan tradisi Scholastik, yang berpandangan bahwa organisme diayomi oleh Pencipta dengan faktor immaterial – bentuk subtansial, tujuan-tujuan – dan hukum-hukum tertinggi serta objek-objek mutlak. Inilah yang sekarang disebut sebagai akibat alami, penjelasan deterministik dalam faktor-faktor kimiawi-fisik (penjelasan yang menyerupai produksi artifisial asam sendawa).

Freud menggunakan metode katarsis dalam teori dan prakteknya, lebih membangun dirinya dalam posisi berbeda, sebuah revolusi terhadap dogma-dogma kedokteran tradisional. Pandangan utamanya adalah semua aktivitas psikis pada awalnya adalah ketaksadaran. Dalam kasus normal ketaksadaran, gerakan-gerakan insting yang menjijikan ditolak oleh kesadaran, oleh ego, setelah kurang lebih menjadi konflik intens; energi diturunkan atau dihentikan. Namun dalam kasus nyata, gerakan-gerakan insting ini tak terbawa ke dalam konflik. Penolakan ego dari luar mekanisme pertahanan primer digeser – ditekan – menuju ketidaksadaran, dengan energi kateksis yang penuh, jumlah total energi berjalan konstan. Akibatnya, pemuasan berganti menjadi bentuk mimpi-mimpi atau bahkan sistem-sistem neurotik tubuh. Mimpi menggunakan sisa-sisa waktu sebagai material, dengan tujuan untuk mendorongnya menuju kesadaran dengan pertolongan mimpi. Lantaran mimpi menyensoe ego (sisa resistensi refresif), maka materi mimpi pra-sadar harus diubah, dikurangi, diringkas, diganti, didistorsi dan akhirnya didramatisir. Begitulah proses ‘kerja mimpi’. Ini menjadi bentuk ‘distorsi mimpi’ dan memungkinkannya terlihat jelas sebagai bentuk pengganti dan kompromi.

Tahun 1895, Freud menemukan elemen makna mimpi: “Mimpi adalah pemenuhan harap.” Mimpi seperti simptom neurotik yang pertama kali disetarakan kebodohan, adalah pemenuhan harapan terseumbunyi yang ditekan dan karenya membutuhkan penafsiran. The Interpretation of Dreams dalam masa enam tahun setelah diterbitkan hanya terjual 351 ekslembar, dan di tahun yang sama, hanya ada tiga orang yang tertarik pada ceramah tafsir mimpi.
Libido (yang juga diketemukan di masa kanak-kanak) adalah energi dorongan-dorongan seksual. Ia tidak semata-mata dihubungkan dengan organ-organ genital, melainkan merepresentasikan pencarian kepuasan fungsi tubuh yang lebih sempurna (sensualitas dalam terma yang paling luas). Ia mencakup anak-anak dan orang tua serta meliputi rasa kelembutan dan persahabatan murni (semua jenis ‘cinta’), merupakan jalan menuju elaborasi teori seksualitas yang sempurna – fantasi-fantasi harapan (kemudian secara khusus disebut Oedipus kompleks), pandangan tingkat-tingkat pasti pertumbuhan, kemunduran tingkat-tingkat ini dalam peristiwa kekerasan, sublimasi atau aplikasi berbagai keberhasilan kebudayaan.
Ada dua persoalan yang secara kontinu tetap tersisa dalam berbagai studi saintifik modern terhadap agama, yang juga diketahui secara pasti oleh Freud: apa asal-usul agama dan apa alam agama? Dua persoalan yang berkaitan erat.

Dari Tylor muncul asumsi bahwa animisme mencerminkan tingakt pertama atau tepatnya landasan utama agama. Animism dipahami sebagai kepercayaan yang hidup dalam bentuk yang murni atau campuran yang secara antropomorfis menunjuk pada ‘jiwa’ atau kemudian ‘ruh’: kepercayaan bahwa segala sesuatu memiliki jiwa. Kepercayaan pada ruh atau jiwa kemudian berkembang menjadi kepercayaan politeistik kepada dewa-dewa dan akhirnya monoteisme kepada satu tuhan. Magis, agama, dan sains kini dilihat sebagai tingkatan-tingkatan skema evolusi sejarah agama. Dalam artikel terkenalnya, “Mungkin dinyatakan bahwa kasus hysteria merupakan karikatur karya seni, bahwa neurosis-obsesif merupakan karikatur agama dan bahwa delusi paranoik merupakan karikatur sistem filsafat.”

Apakah agama? Jawaban pertama ialah bahwa kita harus memercayai tanpa menuntut pembuktian-pembuktian. Freud bilang ini lantaran kita benar-benar menyerah pada fakta bahwa klaim itu tidak pasti dan tanpa landasan. Kedua, kita harus memercayai karena nenek moyang kita memercayai, Freud bilang nenek moyang kita kolot dan memercayai sesuatu yang besar yang tidak mungkin kita percayai sekarang. Ketiga kita harus percaya lantaran kita memiliki bukti-bukti dari zaman purba. Freud bilang catatan-catatan menjadi sumber bukti tidak bisa dipercaya, penuh kontradiksi, membutuhkan perbaikan dan sering salah dan menjadi wahyu itu sendiri bahwa dokrin mereka tak otentik. Dan ‘Jawaban Tunggal’ yang bisa diberikan adalah bahwa statemen yang paling penting, yang dimaksudkan untuk memecah teka-teki dunia kita dan membebaskan kita dari segala penderitaan, merupakan ‘yang paling kecil dengan sempurna mengotentisasikan sesuatu’. Dalam hal apa pun, mereka secara pasti tidak bisa dibuktikan.
Agama kemudian menjelma harapan-harapan manusia paling tua, paling kuat dan paling mendasar. Agama adalah pemikiran yang penuh pengharapan, ilusi. ‘Ilusi’ bermakna bahwa agama bukanlah kesengajaan untuk menuju dimensi moral atau – yang ditekankan Freud – kesalahan dalam bagian epistemologi; atau ilusi yang menarik terhadap hal-hal yang tidak realistis atau berrtentangan dengan relaitas. Ilusi – dan inilah bentuknya – dimotivasi oleh kepuasan harapan; merupakan produk insting sensual kehidupan dan kebutuhan untuk mengurai teknik sandi psikologi terapan.

The Man Moses: A Historical Novel merupakan karya Freud yang aslinya dipublikasikan dalam tiga bagian yang berbeda. Bagian ketiga dibaca saudara perempuannya, Anna, dalam kongres Psikoanalis International di Paris tahun 1938. Tahun 1939, karya ini diterjemahkan ke bahasa Jerman Der Mann Moses und die monotheistische Religion (The Man Moses and Monotheistic Religion). Waktu itu merupakan tahun dimulainya Perang Dunia II dan sekaligus tahun kematian Freud.

Lalu muncullah Jung dengan teori ‘Psikologi Analitik’ atau ‘Psikologis Kompleks’nya. Kata Emile Durkheim dunia akan kacau balau kalau tidak dilandasi oleh simbol dan ritual agama yang transender dan metafisis. Kung dengan lebih rasional seolah ingin mengingatkan Freud.

Ateisme Sigmund Freud | by Hans Kung | Diterjemahkan dari Freud and the Problem of God | Terbitan Yale University, London, 1979 | Penerjemah Edi AH Iyubnenu | Tata sampul Ferdika | Tata isi Ika Setiyani | Pracetak Kiki | Cetakan Pertama, April 2017 | Penerbit Labirin | 176 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-6651-00-6 | Skor: 4/5

Karawang, 300420 – Bill Withers – Don’t Want to Stay

Thx to Titus Pradita, good luck and good bye.

Terima kasih kawan untuk buku, m-banking book, dan segala-galanya. Adigang, Adigung, Adiguna. We’ll miss you ~ NICIERS.

Segala-galanya Ambyar by Mark Manson (2/2)

Ulasan dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama buat dibaca di sini. Ini bagian kedua dari dua. Seperti bukunya, yang pertama tentang harapan yang lain adalah keambyaran.

Aku rasa pikiranmu begitu terbuka, sampai otakmu tercecer.” – Carl Sagan.

Bagian kedua ini bermula dengan formula kemanusiaan. Pertengkaran membutuhkan dua orang yang saling peduli. Otak Pemikir Kant adalah Mr. Olympia dalam semesta para intelektual. Bagi Kant, satu-satunya yang membedakan kita dari seluruh benda di semesta adalah kemampuan kita untuk berpikir – kita mampu memahami dunia di sekitar kita, melalui pikiran dan kehendak, memperbaikinya. Inilah baginya yang istimewa, sangat istimewa – nyaris sebuah mukjizat – karena dari antara aneka kehidupan yang tak terpermanai, cuma kitalah (sejauh yang kita tahu) yang sungguh mampu menyetir kehidupan. Kehidupan Kant yang menurut kita monoton karena melakukan banyak hal yang sama, malah menjadi sebuah rutinitas kebahagiaan. Menemui rasa sakit dan ketidaknyamanan. Inilah mengapa tidak ada perubahan tanpa rasa sakit, tidak ada pertumbuhan tanpa ketidaknyamanan. Bahwa kita ditakdirkan untuk selalu bertikai untuk perbedaan-perbedaan kecil.

Kehidupan yang umum dari anak, remaja, dewasa, tua adalah proses yang harus dihadapi. Penderitaan manusia itu seperti gim Whac-A-Mole, gim di mana tikus-tikus tanah bermunculan, dan pemain harus memukul satu demi satu untuk mendapatkan poin. Setiap kali Anda menggebuk satu penderitaan, penderitaan lainnya muncul. Semakin cepat menggebuk penderitaan, semakin cepat pula penderitaan datang lagi. Jadi dari segala yang berjalan, penderitaan itu akan selalu ada. Tak peduli betapa kaya rayanya kamu. Penderitaan itu mungkin menjadi mendingan, barangkali berubah bentuk, barangkali semakin bisa dihadapi hari demi hari. Namun, dia selalu ada. Penderitaan adalah bagian dari kita. Penderitaan adalah kita. Plato, Aristoteles dan para Stoik berkata bahwa bukanlah kebahagiaan, tapi tentang karakter, menumbuhkan kemampuan untuk menanggung penderitaan dan berkorban secara tepat.

Semboyan terkenal Woodstock dan banyak gerakan bebas-mencintai di tahun 1960-an adalah “Jika rasanya enak, lakukan! (If it feels good, do it!)” Sentimen ini merupakan dasar dari banyak gerakan New Age dan perlawanan budaya hari ini. Seperti pegangan kaum hippies, just do it. Keputusan itu pada dasarnya adalah sebuah tawar-menawar dengan masa depannya: aku merelakan kenikmatan saat ini demi mencegah sesuatu yang lebih buruk menimpaku di masa depan.

Dan ketika setiap agama yang baru memercayai bahwa dirinya yang memberikan kebenaran paling tulen yang mempersatukan seluruh manusia di bawah satu panji-panji, sejauh ini, semuanya terbukti tidak sempurna dan tidak berlaku universal. Menurutku, agama kalian yakini, jangan merusak hubungan dengan menyalahkan agama lain karena ini seperti melihat cermin, kamu adalah bayangan kamu. Yakini, lakukan, tanpa menuding yang lain salah. Ada orang-orang yang hidupnya ambyar: orang-orang miskin, tersisih, terlupakan dan tersakiti. Anda tahu kan, orang-orang yang setiap hari kerjaannya meng-ecek facebook. Lebih buruk lagi, cek facebook dan berkicau ngawur tentang kebenaran agamanya sendiri yang hakiki, yang lain kafir. Saya yakin kalian pernah melihatnya, atau malahan masih berteman dengan individu seperti itu? jauhkan saran saya. Kemampuan kognitif Elliot (kecerdasan, ingatan, dan perhatian). Sokrates menyatakan akal sebagai akar dari segala kebaikan. Descartes berpendapat bahwa akal kita terpisah dari gairah-gairah kebinatangan, sehingga tugas akal adalah mengendalikan gairah-gairah tersebut.

Kekuatan yang mendesak kita untuk mengisi kesenjangan-kesenjangan tersebut adalah emosi kita. Dalam hal ini, setiap tindakan mendatangkan reaksi emosi yang kadarnya setara dan datang dari pihak lawan. Bagi Nietzsche semuanya kacau, dan ia membenci semuanya. Demokrasi itu naïf, nasionalisme itu dungu, komunisme itu penuh tipu muslihat, kolonialisme itu menyakiti hati. Semua yang berhubungan dengan duniawi – baik pada gender, ras, suku, bangsa, atau sejarah – bersifat fana. Di bagian dua ini kehidupan pribadi sang filsuf dikupas detail. Adalah Meta adalah wanita pertama Swiss yang mendapat gelar Ph.D. yang menjadi orang terdekatnya, banyak membantu dan menyelingkupi kehidupan ‘Sang Pembunuh tuhan’. Ilmu pengetahuan tidak bisa disangkal merupakan agama yang paling efektif karena ini adalah agama pertama yang mampu berevolusi dan memperbaiki dirinya sendiri. Cinta hanyalah wadah terjadinya pertukaran perasaan, di mana masing-masing diri kalian membawa apa pun yang dipunyai untuk ditawarkan dan saling menjajakannya hingga mendapat keuntungan traksaksi yang paling bagus.

Lalu ada penelitian, Efek Titik Biru (Blue Dot Effect) menyatakan bahwa pada dasarnya, semakin banyak kita mencari ancaman, semakin niscaya kita melihatnya, tidak peduli seberapa aman atau nyamannya kondisi lingkungan yang sesungguhnya. Semakian menyedihkan hubungan menyedihkan dijalani, kejujuran menjadi semakin penting. Semakin mengerikan dunia ini, keberanian menjadi semakin penting untuk dimunculkan. Semakin membingungan kehidupan ini, bersikap rendah hati menjadi semakin berharga. Kita memang manusia yang memeluk rasa, terutama cinta yang dalam tak peduli itu berefek derita karena pengorbanan atau saking dungunya tak melihat secara wajar, cinta buta yang mengilhami. Karena itupun satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh Otak Perasa: empati.

Ruang dan waktu adalah apa yang kita sebut sebagai ‘konstanta universal’. Salah, Einsten menjawab, kecepatan cahaya-lah yang merupakan konstanta universal, sesuatu yang dipakai untuk mengukur segala hal lain. Kita semua bergerak, sepanjang waktu, dan semakin kita mendekati kecepatan cahaya, semakin ‘melambat’ gerak waktu, dan ruang pun semakin mengerut.

Berikutnya kita memasuki tahap apa itu perasaan. Amat mudah mempermainkan emosi orang dan membuat mereka marah atas hal-hal yang sepele – media berita telah menciptakan model bisnis dari kegiatan macam ini. Freud bilang pada dasarnya kita adalah hewan-hewan, yang impulsif dan egois dan emosional. Jika kamu dapat memasuki keresahan orang lain, mereka akan memercayai semua sampah yang Anda sampaikan.

Daniel Kahneman, otak pemikir adalah “Peran pembantu yang membayangkan diri menjadi pahlawan”. Internet pada akhirnya tidak didesain untuk memberi apa yang kita butuhkan, sebaliknya, internet memberikan pada orang-orang apa yang mereka inginkan. Satu-satunya bentuk paling sejati kemerdekaan, satu-satunya bentuk paling etis dari kemerdekaan, adalah melalui pembatasan-diri. Koneksi dunia maya nyaris tanpa batas, sampai-sampai kita dari bangun tidur sampai tidur lagi, kita kecantol sama koneksi digital. Jujur saja, ketika bangun tidur kalian pasti langsung cari HP yang akan menemani sepanjang hari, lalu sebelum tidur pun akan menaruhnya dengan tepat di mana, ya kan ya kan.

Ide saya sebegitu mustahilnya sampai mungkin saja justru akan berhasil. Edward Bernays, seorang figur muda pemasaran dengan ide liar dan kampanye pemasaran yang bahkan lebih liar lagi. Dia adalah kemenakan Freud. Pemasaran secara spesifik menunjuk atau menguatkan kesenjangan moral pelanggan dan kemudian menawarkan cara mengisinya. Dunia digital juga memudahnya segala pembelian produk, maka dunia iklan merasuk ke dalamnya. Nyaris setiap saat mata kita digampar iklan di layar yang muncul seketika tanpa kita minta. Mereka mengkloning diri, menjadikan hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan menjadi opsi, lagi dan lagi. Kemajuan teknologi adalah salah satu menifestasi Ekonomi Perasaan. Paradox pilihan, semakin banyak pilihan yang diberikan pada kita, semakin kita tidak merasa puas atas pilihan yang kita ambil.

Menurut model kepribadian “Lima Besar”, kepribadian seseorang terdiri lima ciri dasar: kemauan untuk bergaul, kemauan untuk menyadari, kemampuan untuk berpendapat, neurotisisme, dan keterbukaan akan pengalaman baru. Nah ‘kan, kembali ke dalam itu sangat penting. Keterbukaan dan menempatkan diri menjadi penting di era yang banyak menebas sekat. “Bicara banyak tentang dirimu sendiri dapat juga menjadi cara untuk menutupi dirimu.” Nietzsche.

Thich Quang Duc, membakar diri dalam meditasi. Diam. Tenang. Damai. Meditasi secara ilmiah terbukti meningkatkan rentang perhatian dan kesadaran diri dan pengurangan kecanduan, keresahan, dan stress. Meditasi secara esensial merupakan latihan untuk mengatur penderitaan dalam kehidupan. Semakin kita menghargai sesuatu semakin kita keberatan untuk mempertanyakan atau mengubah nilai tersebut, dan maka semakin menderitalah kita jika nilai itu mengecewakan kita. Konsep populer mengenai ‘cinta yang keras (tough love)’ adalah Anda membiarkan anak untuk mengalami penderitaan karena dengan menyadari hal-hal yang penting di saat berhadapan duka, anak akan meraih nilai yang lebih tinggi dan berkembang.

Dunia digital yang pesat memberi banyak kemudahan sekaligus teror baru. Elon Musk ditanya tentang ancaman apakah yang paling mengerikan: pertama, peran nuklir skala besar, kedua perbuhan iklim dan yang ketiga ia terdiam. Air mukanya berubah kecut. Ia melihat ke bawah, tampak berpikir dalam. Lalu ia tersenyum dan berkata, “Saya hanya berharap komputer-komputer bersikap baik pada kita.” Dunia IT yang misterius ini sampaikah menggeser nurani? Generasi mendatang yang akan tahu, kita memetakan dan meletakkan dasarnya! Plato bilang bahwa seseorang harus membangun karakter melalui aneka bentuk penyangkalan diri, ketimbang melalui pemanjaan diri. Kata ide sendiri datang dari dia – jadi, Anda boleh berkata bahwa ia menciptakan ide tentang ide.

Tidak ada Negara yang sepenuhnya dil dan aman. Tidak ada filsafat politik yang mampu mengatasi masalah setiap orang dalam sepanjang waktu. Jadi syukuri kita tinggal di mana, di Indonesia dengan segala kelemahannya? Lihat sisi positifnya, lakukan apa yang bisa dilakukan. Di tengah pandemi seperti ini, justru kita akan terlihat aslinya. Mau di sisi mana sebenarnya tingkah polah kita. Kemakmuran membuat kesulitan mencari makna. Itu membuat penderitaan yang bertambah akut. Riset menunjukkan bahwa semakin seseorang terdidik dan mengetahui banyak hal, semakin pendapat orang tersebut terpolasisasi secara politik. Apalagi kalau ngomongin politik, yang wajar saja Mas. Dunia politik kita sejatinya juga ga jauh beda dengan negara miskin di pojok Afrika atau negara maju Amerika. Jadi masalahnya bukan tempatnya kita di mana, tetapi mau menaruh pikiran kita ke mana. Pada dasarnya perkembangan psikologi kita senantiasa berevolusi untuk menuhankan segala yang tidak kita pahami. Internet adalah inovasi tulen. Semua menjadi setara, secara fundamental, membuat hidup kita menjadi lebih baik. Jauh lebih baik. Masalahnya ada pada kita.

Di kover belakang tertulis, ‘…blog markmanson.net menarik dua juta lebih pembaca setiap hari’. Di identitas penulis akhir buku tertulis ‘…menarik lebih dari dua juta pembaca setiap bulannya.’ Manson tinggal di kota New York. Jadi sebenarnya dua per hari atau bulan?

Tulisan yang bagus adalah tulisan yang mampu berbicara dan merangsang kedua otak pada saat yang sama. Semuanya runyam, semuanya ambyar. Komitmen yang lebih besar mendatangkan kedalaman yang lebih berkualitas. Buku kedua Mark Manson ini jelas lebih bagus dalam menyampaikan pendapat dan ide, dengan judul yang lebih gaul memakai kata ‘ambyar’ yang baru saja disahkan di KBBI sehingga secara instan berhasil menggaet kaum muda. Blogger yang sukses menasehati kita. Grasindo panen lagi, yakinlah ini akan menjadi best-seller lagi tahun ini. Beruntung saya bisa menuntaskan baca di bulan yang sama diterbitkan cetakan pertamanya. Segala-galanya, secinta-cintanya, sesayang-sayangnya.

Tamat.

Segala-galanya Ambyar | by Mark Manson | Diterjemahkan dari Everything is F*cked | Copyright 2019| Penerbit HarperCollin | ID 572040009 | Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) | Cetakan kedua, Februari 2020 | Alih bahasa Adinto F. Susanto | Tata isi wesfixity@gmail.com | Sampul wesfixity@gmail.com | modifikasi desain karya asli Leah Carlson-Stanisic | ISBN 978-602-052-283-8 | Skor: 4.5/5

Untuk Fernanda, tentu saja

Karawang, 290220 – 060320 – 140320 – 150320 – 300420 – Andra and The Backbone – Hitamku – Sempurna

Angelologi by Danielle Trussoni

Katakan pada saya, bahaya apa yang Anda bicarakan?” – Evangeline

Angelologi adalah salah satu dari sekian cabang asli teologi, dikuasai oleh seseorang yang ahli angelologi, yang keahliannya meliputi baik penelitian teoritis atas sistem malaikat maupun perwujudan nubuat mereka sepanjang sejarah manusia.

Kisahnya tentang kehidupan tertutup biara dalam mempertahankan tradisi melawan kaum Nefilistik, yaitu kaum malaikat yang bersatu dengan manusia, mereka berebut alat musik yang diturunkan langsung dari surga, sebuah lira yang sakral.

Protagonistnya adalah seorang suster muda, Evangeline yang dibagian pembuka diceritakan bertugas di perpustakaan biara St. Rose, Lembah Sungai Hudson, Milton, New York. Kehidupan biara yang tampak monoton itu suatu hari jelang Natal tahun 1999, menjadi alur misteri ketika mendapat surat permohonan kunjungan seorang penulis/peneliti Verlaine. Biasanya surat-surat semacam itu langsung ditolak, tapi untuk kali ini ada yang janggal. Nantinya tokoh ini malah turut dominan, termasuk menjadi side-kick pertarungan.

Surat itu meminta kesempatan membuka arsip lama, surat-menyurat antara Bunda Innocenta dan Mrs. Rockefeller tahun 1943. Verlaine sendiri bekerja kepada seorang kaya Mr. Pervical Grigori, yang menginginkan bukti otentik fakta koneksi selama Perang Dunia II terjadi. Seorang milyader memberi sumbangsih kepada kaum relijius? Dan apa saja yang terjadi di baliknya menjadi plot utama buku ini.
Masa lalu Evangeline diungkap, ia adalah anak wanita Prancis yang tewas dalam proses penelitian angelologi dan seorang pria Italia Luca yang lalu menitipkannya ke biara st. Rose. Koneksinya dengan para peneliti angelologi menjadi klu utama bagaimana ia berproses.
Celestine sebagai suster senior ternyata memiliki rahasia besar terkait misteri keberadaan lira, ia bercerita kepada Evangeline masa remajanya satu kelas dengan Gabriella, neneknya. Lalu kisah mundur di tahun 1939 di Prancis, di masa kejayaan Nazi. Paris diduduki Jerman, penelitian dan pencarian lira di masa lampau oleh Yang Mulia Clemantis, dipelajari dan ditelaah. Para guru yang dipimpin oleh Dr. Raphael Valko dan Dr. Seraphina membimbing murid-murid, termasuk membuka naskah kuno nan penting terjemahan di ruang rahasia, yang kemudian mendapati klu penting akhirnya melakukan ekspedisi pencarian di tahun 1943 di Gua Tenggorokan Iblis, Pegunungan Rhodope, Bulgaria. Cerita pencarian itu sendiri sangat panjang dan detail, yang intinya adalah lira ditemukan oleh Celestine, membawanya ke Paris dengan konsekuensi penangkapan Dr. Seraphina, lalu dalam negosiasi akan dilakukan pertukaran atau tidak? Segala kerumitan ini bersolusi, pengiriman lira ke Amerika Serikat secara sembunyi untuk kelangsungan keselamatan umat. Drama penyelundupan sendiri tampak mengejutkan. Identitas Gabriela yang menjadi agen ganda, dengan nyawa taruhannya. Selama ini terjadi persaingan antara mereka, tapi tipu muslihat sang agen menyelamatkan alat musik suci tersebut.

Ekspedisi pertama Angelologi pernah dilakukan pada tahun 925 M oleh Bapa Clementis, dicerita dengan sangat bagus. Intens, mendebarkan prosesnya. Bagaimana mereka melakukan penjelajahan ditulis dengan bahasa latin, yang lalu diterjemahkan. Di masa-masa akhir hidupnya Clementis yang sakit parah, tetap mencoba menulisnya, dengan bantuan terjemahan

Arahnya? Ya 1999 jelang pergantian millennium, di New York. Kebakaran biara tahun 1944 sendiri ternyata bukan kecelakaan, tapi adanya serangan kaum Nefilistik. Begitulah, semua berkutat di sana, dari tahun itu ke tahun 1999, keberadaan lira ga tentu arah. Dari surat-surat lama, lalu penelitian para ahli, sampai akhirnya para malaikat memutuskan mengirim pasukan Gibborin untuk menggempur biara demi mendapatkan alat musik suci ini.

Kemunculan lagi sang nenek, Gabriela. Lalu pasukan lain turut bergabung, Vladimir, Otterley, Bruno, Saitou-san, sampai Mr. Gray. Dari pihak musuh Pervical Grigori bersama sanga dik yang tewas, dan kedua orang tua, Sang Sneja yang meminta bukti kehebatan, yang sejatinya unggul kekuatan supranatural mengerahkan Gibborin. Semua meledak dalam tarung yang Hollywood-able, sudah menemukan gambarann difilmkan. Siapa yang berhasil memetiknya?

Identitas Evengeline sendiri sejatinya memberi kejut, pertarungan para malaikat dan ahli angelology, lalu muncul poros bantuan dari dimensi lain yang bisa dipanggil bak tarung sihir, tergambar bagus dalam bayang. Pada dasarnya ideologi ini bukan hal umum di Indonesia, maka saya tak terlalu ‘masuk’ bagaimana penelitian keberadaan malaikat menjadi diskusi khusus. Dalam Islam kita mengenal 10 malaikat yang diutus Allah, dalam Kristiani banyak kemiripan. Entah angelologi ini apakah ada dalam mata pelajaran tersendiri di Pelajaran Agama Kristen, laiknya fiqih atau aqidah dalam Muslim. Ideologi merupakan kepercayaan yang dikontruksi secara sosial yang sepenuhnya kita terima berdasar keyakinan belaka.

Setiap bab dibuka dengan kutipan, total ada empat. Disini disebut Lingkaran, saya catat ulang.

(1). Kepada kisah ini kusampaikan, Dengan tujuan menuntun pikiranmu, Ke masa depan, Kerena bila ia yang mampu mengatasi, Menoleh ke belakang, Menuju gua Tartar, Kesuksesan apa pun yang dibawa olehnya, Akan hilang dari cengkeraman saat menatap ke bawah. – Boethius, The Consolation of Philosophy

(2). Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala: Pujilah Dia dengan gambus dan kecapi, Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian: Pujilah Dia dengan permainan kecapi dan organ. Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting: Pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang. – Mazmur 150

(3). Dan muncul di hadapanku dua orang sangat tinggi yang tidak tinggi yang tidak pernah kulihat di dunia ini. Dan wajah mereka bersinar bagaikan matahari serta matanya membara bagaikan lampu yang terbakar, dan api keluar dari bibir mereka. Pakaian mereka ringan seperti bulu: kaki mereka ungu, sayap merekalebih cerah daripada emas; tangan mereka putih daripada salju. – Kitab Henokh

(4). PANDUAN SUARA SURGAWI. Tak lama, malaikat itu mulai menyanyi, suaranya naik turun mengiringi lira. Seakan-akan mengikuti isyarat dimulainya prosesi surgawi ini, malaikat-malaikat yang lain mengikutinya, setiap suara dikumandangkan untuk menciptakan musik surgawi, paduan yang mirip dengan kongregasi yang digambarkan Daniel, sepuluh ribu kali sepuluh ribu malaikat. – Bapa Clemantis yang mulia dari Thrace, Catatan Ekspedisi Angelologi Pertama; diterjemahkan oleh Dr. Raphael Valko.

Novel panjang yang melelahkan, hampir enam ratus halaman dengan tulisan kecil-kecil, kalau dicetak seperti buku kebanyakan bisa jadi seribu halaman, untung Gramedia membuatnya lebih ramping dengan penjilidan yang bagus. Sayangnya, setelah telusur panjang nan seru berliku, ending-nya agak mengecewakan. Buku penuh vitamin dalam balutan fiksi sejarah gini bagus, hanya terjatuh di eksekusi akhir. Sulit memang menutup deretan kata yang memuaskan ketika para jagoan terprediksi menang, walaupun musuhnya sekuat malaikat jahat, berumur ratusan tahun, walau rapuh masih memiliki intensitas kekuatan murni. Saya menemukan kata ‘TeneT’, sebuah film terbaru Christopher Nolan itu ternyata dinukil dari sebuah mitologi. Kotak Sator-Rotas dengan center TeneT itu ungkapan latin Sajak yang bisa dibaca dengan beberapa cara, digunakan untuk menandakan pola. Bukanlah kode, tetapi simbol untuk memperingatkan para ahli angelology bahwa bagan yang lebih besar telah diperoleh.

“Kau makhluk paling cantik di sini, kau terlihat seperti malaikat.”

Angelologi | by Danielle Trussoni | Diterjemahkan dari Angelologi | Copyright 2010 | GM 402 014 0121 | Penerbit Gramedia | Alih bahasa Fahmy Yamani | Editor Bayu Anangga, Siska Yuanita | Desain sampul Eduard Iwan Mangopang | Cetakan pertama, 2014 | ISBN 978-602-03-1218-7 | 592 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

Untuk Angela

Karawang, 290420 – Will Withers – Better Days

Thx to Titus Pradita

Dilarang Gondrong! By Aria Wiratma Yudhistira

Indonesia dilahirkan setelah sebuah penculikan, dilahirkan kembali dalam kudeta dan dibaptis dengan darah pembantaian.” Brian May (The Indonesian Tragedy)

Buku yang mencerita detail larangan sebuah gaya. Kalau sampai petinggi Pemerintah yang mengeluarkan statemen berarti ada sesuatu yang memang harus diperhati lebih dalam. Dan itu terkait gaya rambut panjang. Terasa lucu, tapi dengan buku ini menjelma serius. Awalnya sebuah skipsi di Departemen Sejarah Universitas Indonesia ini kurang mendapat respons dan dukungan, temanya terdengar sepele dan dianggap kelewat tinggi dengan mengaitkannya pada kondisi sosial politik saat itu. Namun karena instruksi ini menyeluruh pejabat tinggi Pemerintah dari menteri, Kepala Bakin, Jaksa Agung, hingga Pangkopkamtib maka larangan gondrong bagi anak muda jelas bukan hal sepele. Ada kaitannya antara rambut gondrong, gaya hidup, serta pandangan politik dengan tema besar Orde Baru yang gencar dengan kata ‘pembangunan’.

Banyak para penulis sejarah mengabaikan soal-soal sepele yang terjadi di masyarakat. Ong Hok Ham pernah menulis tentang sistem sosial dan politik Hindia-Belanda di Karisidenan Madiun pada abad ke-19 yang dimulai dari kisah pencurian kain tirai (gordijn) di rumah Residen Madiun J.J. Donner. Pencurian tersebut telah menggoncang tatanan sosial karena telah membuat malu sang Residen. Pencurian kain dinilai telah menyingkap isi rumah Donner, suatu yang tabu karena berarti mengungkap rahasia pemimpin, di depan Bupati Raden Mas Adipati Brotodiningrat, dna terutama di hadapan rakyat.

Cerita dibuka dengan tanggal 1 Oktober 1973 Senin malam sebuah acara bincang-bincang di TVRI, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro berkata bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi overschilling alias acuh tak acuh. Sebuah pernyataan kontroversi yang menjadi ancaman hingga boikot artis-artis yang tak mau nurut, bahkan pemain sepak bolapun turut dilarang. Menurut Michel Foucault, kekuasaan dapat didefinisikan sebagai alat untuk menormalisasi individu-individu di dalam masyarakat melalui disiplin dan norma.

Kekuasaan itu senantiasa dapat melahirkan sikap antikekuasaan atau perlawanan yang berasal bukan dari luar melainkan dari dalam kekuasaan itu sendiri – tentunya berasal dari hubunagn sosial yang terjalin (Haryatmoko, 2002: 11). Ada beberapa alasan mengapa periode itu terpilih.

Pertama, Orde Baru mengidentifikasikan dirinya sebagai kebalikan dari Orde Lama, seolah periode ini memberi nuansa-nuansa baru. Kedua munculnya Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) No. 1/1967 yang menjadi simbol telah dilakukannya kebijakan pintu terbuka yang mempernudah modal asing masuk ke Indonesia, yang secara langsung turut pula masuknya budaya-budaya asing. Peristiwa Malari (11 Januari 1974) merupakan momentum puncak hubungan antara Negara dengan anak muda.

Saya Shiraishi dalam studinya tentang jalinan kekuasaan di Indonesia masa Orde Baru bahwa Indonesia dibangun selayaknya keluarga besar. Di sana ada ‘Bapak’, ‘Ibu’, dan ‘Anak’, dan Soeharto menempatkan dirinya sebagai ‘Bapak Tertinggi’ (Supreme Father) di Indonesia.

Anak muda di sini dibagi dalam dua jenis, mereka yang bersikap apatis terhadap politik di dalam negeri – atau mereka bisa juga disebut apolitis, yang menurut James Siegel disebut sebagai golongan remaja. Mereka adalah anak-anak muda yang memiliki kesamaan selera, aspirasi, dan gaya hidup yang ingin selalu berubah yang umumnya mengacu pada perkembangan luar negeri (Siegel, 1986: 203-231). Jenis yang lain adalah mereka yang memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan persoalan bangsa – seperti korupsi, sistem politik, dan lain-lain. Sering kali idealis yang bertentangan dengan kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat, disebut sebagai kelompok mahasiswa (lihat Railon, 1989).

Ben Anderson menyatakan bahwa pemudalah yang memainkan peran sentral dalam revolusi Indonesia, bukan kaum intelegensia atau kelompok-kelompok kelas yang teraliensi dalam kancah perpolitikan dalam kancah politik saat itu. (Hadiz, 1989: 32). Menurut William H. Frederick (1997: 227-229) menolak identifikasi gambaran Anderson, istilah pemuda serta gagasan mengenai generasi muda sebagai kekuatan politik dalam dirunut dari sejarah Indonesia yang panjang, dari Budi Utomo. Seseorang tidak serta merta menjadi remaja karena berusia muda, akan tetapi mereka menjadi remaja karena memiliki selera dan aspirasi yang menandakan dirinya remaja, dengan kata lain menjadi remaja adalah sebuah gaya hidup.
Orde Baru adalah sebuah koalisi yang menginginkan berakhirnya Demokrasi Terpimpin a la Sukarno yang menghendadi persatuan tiga kekuatan politik Indonesia: Nasionalis, Agama, dan Komunis (Nasakom). Koalisi terdiri dari kelompok muslim NU, dan Masyumi; Partai Sosialis Indonesia (PSI); kaum birokrat konservatif (PNI Osa-Usep); Partai kiri anti-komunis (Murba); kelompok mahasiswa dan pemuda anti komunis yang dipimpin oleh KAMI; serta tokoh militer (Cribb dan Brown, 1995: 106-107) merupakan kelompok yang tak sejalan dengan Sukarno yang mengingin PKI turur dalam Indoneisa raya, maka PKI disingkirkan. Jelas, gerakan mahasiswa untuk menyingkirkan

Orde Lama tak lepas dari campur tangan Angkatan Darat (AD).
Krisis di Indonesia tahun 1965 para menteri mencoba mengeluarkan kebijakan yang tak populer. Tanggal 13 Desember 1965 dikeluarkan kebijakan antara lain melakukan sanering dengan memotong nilai Rupiah dari Rp 1.000,00 menjadi Rp 1,00 serta mencabut subsidi atas kebutuhan pokok, sehingga meningkatkan biaya kebutuhan hidup masyarakat kebanyakan (Wibisono, 1970: 10’ Anwar, 1981: 1; McDonald, 1980:70). Efeknya mencipta demo di mana-mana yang akhirnya memunculkan Tritura (tiga tuntutan rakyat) yaitu: Pembubaran PKI, Perombakan Kabinet Dwikora, serta penurunan harga.

Penyair antikomunis Taufiq Ismail dalam puisinya ‘Merdeka Utara’:
Dua buah panser Saladin / Dengan roda-roda berat / Rintangan-rintangan djalan / Selebihnya kesenyapan // Dua buah tikungan yang bisa / Seseorang memegang bren / Langit pagi yang biru / Menjadi ungu, menjadi ungu. Puisi yang menggambarkan demo suruh Januari-Februari 1966 yang menewaskan Arief Rahman Hakim, mahasiswa kedokteran UI dan Zubaedah, pelajar SMA.

Orde Lama punya jargon ‘politik sebagai panglima’ maka Orde Baru menyatakan ‘ekonomi sebagai panglima’. Untuk memenuhi program stabilisasi dan rehabilisasi kepercayaan masyarakat luar dan dalam negeri. PMA No. 1/1967 menjadi kerangka dasar diterapkannya politik pintu terbuka, bukan hanya modal asing yang masuk tapi para ahli perekonomian asing yang berpendidikan Barat turut masuk, yang otomatis membawa sistem kapitalis bersama segala persoalan ekonomi dan sosial yang terkandung di dalamnya (Sasono, 1980: 78; Lombard, 2000: 88). Bila Sukarno dikenal dengan ‘ekonomi terpimpin’ maka Soeharto disebut ‘kapitalisme terpimpin’.

Dalam pemilu dikenalkan konsepsi baru the floating mass, massa mengambang yang artinya masyarakat dibiarkan ‘mengambang’ tidak berafiliasi pada salah satu partai atau kelompok ideologi, sehingga pemerintah bisa lebih berkonsentrasi pada pembangunan. Rakyat hanya boleh menyalurkan aspirasi politik lima tahun sekali.

Generasi ‘Baby Boomer’ anak-anak muda 1960-an hidup di tengah-tengah pengaruh berkembangnya budaya konsumsi dan televisi (Tindall dan Shi, 1992: 1370). Dalam counter-culture, generasi terpecah jadi dua, pertama orang yang anti perang berslogan ‘make love not war’ dan kaum hippies yang memiliki cara pandang hidup berbeda saat itu, hippies merupakan gerakan gerakan tanpa kartu anggota, tidak dibatasi umur, maupun Negara (Wethues, 1972: 74). Etika hippies disebut ‘hang-loose’. Kaum hippies menyebut mereka generasi bunga atau anak-anak bunga (flower generation). Bunga adalah simbol, sebagai lambang kedamaian dan tidak membuat orang lain terluka. Mereka adalah anak-anak muda idealis, mau berpikir, yang percaya cinta, keindahan, kebebasan, kebersamaan, saling membantu. Hippies menawarkan kebebasan dalam hidup.

Di Indonesia sama Pemerintah, kaum hippies dianggap persoalan karena mengganggu ketertiban, dan salah satu cirinya berambut gondrong. Makanya dilarang!

Novel Cross Mama karya Montinggo Boesje menggambarkan bagaimana kehidupan keluarga-keluarha ‘high society’, kehidupan keluarga umumnya tinggal di perumahan mewah seperti Menteng atau Kebayoran Baru. Kebudayaan kami bukanlah kebudayaan Indonesia atau Barat, tapi kebudayaan International.
Pencitraan Belanda terhadap orang-orang yang berambut gondrong sebagai pelaku criminal tak lepas dari pengalaman mereka pada masa Hindia-Belanda. Mereka yang tumbuh kurang ajar oleh Belanda disebut ‘teroris’ atau ‘ekstrimis’ yang merupakan produk salah asuhan Jepang (Onghokham, 1977: 21).

Pencitraan antagonis berambut gondrong mudah dijadikan sasaran dan kambing hitam oleh penguasa, termasuk setelah merdeka. Razia rambut gondrong dilakukan dibanyak kota besar. Sebuah ironi terjadi tahun 25 September 1973 ketika band The Bee Gees manggung di Medan, Maurice Gibbs beretoris, “Aneh, bagaimana mereka dapat mengundang kami, sedang mereka sendiri tidak rambut gondrong seperti kami.”

Bukunya banyak menukil surat kabar lampau, berita tv, kutipan para figure, dokumentasi sastra H.B. Jasin, PDII-LIPI, Perpustakaan Idayu sampai Pusat Informasi Kompas. Penelitian ini mengikuti cara umum dalam setiap penelitian sejarah yaitu dengan tahapan pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi atau kritik atas sumber, interpretasi, dan penulisan (Kuntowijoyo, 1999: 89). Setelah dilakukan interpretasi, dapat diperoleh suatu fakta yang dapat dituangkan dalam tulisan. Fakta di sini tentu saja bersifat subjektif karena merupakan hasil dari apresiasi atau interpretasi subjektif atas data yang ada di Penulis.

Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an | By Aria Wiratma Yudhistira | Copyright 2010 | Pengantar Andi Achdian, 2010 | Cetakan pertama, April 2010 | ISBN 978-979-1260-07-7 | 161 hlm; i-xxii, 140 x 203 mm | Penerbit Marjin Kiri | Skor: 4.5/5

Karawang, 280420 – Bill Withers – We Could be Sweet Lovers

Thx to Titus Pradita

Portrait of a Lady on Fire: Barisan Puisi di Atas Kanvas

When you asked if I know love. I could tell the answer was yes. And that it was now.” – Marianne

Art and sisterhood. Pelukis mencipta seni, melakukan seni, dan memamerkannya. Ruang dan waktu bukanlah konstanta universal, semakin kita mendekati kecepatan cahaya, semakin ‘melambat’ gerak waktu, dan ruang pun semakin mengerut. Di abad 18 Prancis masih melarang perempuan melukis tubuh laki-laki secara terbuka. Larangan itu bukan karena moral atau kepatutan, tetapi lebih mencegah agar perempuan tidak menjadi hebat, anatomi tubuh lelaki adalah subjek besar yang tak terjangkau perempuan. Ini adalah film feminis yang mempresentasikan persamaan gender.

Berkat film ini saya jadi parno-noid sama buku halaman 28, mewanti-wanti ada ga gambar telanjang gadis cantik di sana. Beberapa novel beneran saya buka dan cek, yah memang saat ini belum ada. Nantinya siapa tahu muncul. Atau kita munculkan saja, kita gambar saja wajah sang mantan di sana? Eh…

Filmnya minimalis, dengan setting utama sebuah pulau yang sunyi, plot digulirkan dengan nyaman dan tenang, setenang ayunan kuas lukis. Alurnya slow, terlampau slow malah tapi dari alur yang lambat itulah potongan adegan menjadi frame-frame lukis indah. Pengambilan gambar yang menyorot jauh nan lama dengan tampilan ciamik deburan ombak. Deburan ombak, keretak api, angin malah menjelma skoring alamiah. Banyak adegan terlihat murni dan nyata. Tamparan ombak di karang itu menjadi saksi ciuman panas yang seolah melepas belenggu. Inilah kisah cinta terlarang pelukis dan sang putri, lesbian dengan pusat pusaran Vivaldi.

Di sebuah pulau Britania, Prancis tahun 1760an. Seorang putri aristrokrat Prancis, Heloise (Adele Haenel) akan menikah dengan lelaki bangsawan Milan, menyepi di pulau terpencil berencana membuat potret pernikahan. Sang pelukis muda Marianne (Noemie Merlant) yang disewa datang dengan kepolosan gadis lugu. Permulaan perkenalan sang model dan pelukisnya memang tak langsung klik, terlihat sekali sang Lady tak nyaman dan malesi ga mau dilukis sebab ia sejatinya tak mau menikah. Dibujuk untuk berpose dan dalam bujuk itu ada hasrat lain yang tersimpan. Bayangkan, gadis pencipta seni bergulat dengan gadis yang mencari jati diri, telanjang. Ini seolah perwujudan visual rangkaian sajak berima. Setiap detail tubuh, entah itu mata, telinga, hidung meletupkan tekstur baris-baris indah penuh kekaguman. Interpersonal sepenuhnya adalah tentang kelekatan emosional. Dan cara terbaik untuk membangun kelekatan tersebut, adalah dengan saling menyentuh, memikat.

Karena waktu juga mereka yang sering bertemu dan saling mengenal akan saling mengisi. Rada absurd membayangkan dua perempuan muda ini tersenyum saling tatap. Lukisan yang sudah jadi malah dihancurkan karena tak sesuai gambaran ideal, ibunya marah kemudian pergi ke Italia, memberi waktu tambah untuk mencipta ulang. Di sinilah ikatan Marianne dan Heloise perlahan menguat. Suatu malam mereka membaca cerita Orpheus and Eurydice, mendebat alasan kenapa Orpheus kembali ke istrinya. Kemudian membantu Sophie (Luana Bajrami), seorang pelayan melakukan aborsi dengan manual, di sini gambaran perempuan yang kesakitan ditampilkan implisit, termasuk tamu bulanan yang datang rutin dan bagaimana mengatasinya.
Dalam adegan renung, para perempuan ini benyanyi dan menari, ketika pakaian pengantin Heloise terbakar. Syairnya adalah bahasa latin ‘fugere non possum’ yang artinya datang untuk terbang. Menurut Nietzsche, ‘semakin tinggi kami terbang semakin kecil kami terlihat bagi mereka yang tak bisa terbang.’ Sebuah pesan anarkisme terselubung, para perempuan yang berkumpul digambarkan mampu menggapai cita kemerdekaan dan kebebasan berkehendak.

Dengan keterbatasan akses, sepi menjadikan bahan bakar asmara. Api pemanas meluapkan gairah. Dan bagaimana pertanggungjawaban sang pelukis ketika produksi lukis ini usai? Marianne bisa memandang potret Heloise untuk melepaskan kerinduan, setidaknya sedikit mengobati rindu. Bagaimana dengan Sang Lady? Baiklah saya ciptakan saja, potret diriku untuk kau simpan. Dan muncullah adegan paling berkesan tahun ini, wanita telanjang di atas kasur dengan cermin yang ditaruh tepat di depan kemaluan, mengambil buku, dan Marianne lalu mencipta sketsa Marianne. Barisan puisi ini untuk kau simpan dank au kenang. Saya lebih suka menyebutnya ‘Obsesi Halaman 28’ dengan pulasan pualam.

Kebanyakan kita mengenal meditasi sebagai buah teknik relaksasi diri. Senandung Potret mengiringi goresan dasar atas kesadaran kisah, ini adalah film dengan plot gambar yang bercerita, dan sketsanya lebih keras berteriak ketimbang suara. Kalian bisa lihat, dengan apa yang harus kalian tahu. Kalian diminta untuk terus merenung sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu, cintailah kebosanan itu. Bagaimana Heloise melepaskan beban terasa sekali, seolah inilah tujuan hidup, inilah yang ia tunggu-tunggu. Rebel with a cause.

Menurut Kant, nilai tertinggi dalam semesta adalah sesuatu yang dipandang sebagai nilai itu sendiri. Satu-satunya hal terpenting adalah suatu hal yang menentukan kepentingannya. Tanpa rasionalitas, semesta akan menjadi sia-sia, hampa, dan tidak memiliki tujuan. Tanggung jawab moral yang paling fundamental adalah kelestarian dan kemajuan kesadaran, baik untuk diri sendiri atau orang lain.

Endingnya mirip dengan Call Me by Your Name, lagu Concerto No. 2 for violin in G minor, Op. 8, Rv 315 L’Estate gubahan Antonio Vivaldi yang dimainkan La Serenissima, Adrian Chandler berkumandang dengan lembut menjelang tutup layar. Yang membedakan Call Me berkonsep MvM, yang ini FvF.
Dan ini jauh lebih jleb.. dengan lelehan air mata pula, karena orkestranya sempurna. Ayooo kita bikin gif-nya.

Film yang berhasil membakar hasrat. Tak diragukan lagi, Portrait of a Lady on Fire adalah salah satu film terbaik dekade ini. Sinematografi keren. Akting keren. Cerita keren. Minimalis terkesan. Masterpiece, emotions and artistically running high!

Portrait of a Lady on Fire | France | Judul Asli Portrait de la Jeune Fille en Feu | Year 2019 | Directed by Celine Sciamma | Screenplay Celine Sciamma | Cast Noemie Merlant, Adele Haenel, Luana Bajrami, Valeria Golino, Amanda Boulanger | Skor: 5/5

Karawang, 210420 – 290420 – Bill Withers – Heartbreak Road

Thx to rekomendasi William Loew

I Find Giants. I Hunt Giants. I Kill Giants

All things that live in this world die. This is why you must find joy in the living, while the time is yours, and not fear the end. To deny this is to deny life.” – Titan

Sebuah indie fantasi dengan pertaruhan memori sarung tangan baseball ‘Giant Killer’. Keberanian itu hal biasa. Ketabahan itu hal biasa. Tapi kepahlawanan memiliki unsur filosofis di dalamnya.

Magical realism yang menyelingkupi kehidupan remaja 12 tahun Barbara Thorson, yang berupaya menemukan, berburu lantas membunuhnya. Tampak unik, karena selama pemburuan diiringi skoring cekam yang mendukung. Seperti yang diperkira, raksasa itu memang muncul beneran setelah menit-menit yang melelahkan, dan Barbara membunuhnya dalam skema yang sudah dirancang. Imajinasi membumbung tinggi bak bintang-bintang yang berputar riuh di sekitar kepala raksasa yang tertikam.

Kisahnya berkutat pada Barbara Thorson (Madison Wolfe) dengan rambut terurai dan aksesoris telinga kelinci di atas kepala, menelusi pantai dan hutan mencari raksasa, mencoba memerengkapnya. Kakaknya Karen (Imogen Poots) tampak frustasi mengurus kedua adiknya, yang satu lagi Dave (Art Parkinson) hobinya main gim mulu. Keluarga ini sepertinya sedang mengalami depresi bersamaan. Ada masalah apa, nanti akan diungkap secara perlahan.

Barbara sedang memasang perangkap raksasa, melumuri rumput-rumput dengan madu, memasang tali panjang melintasi pantai, membuat perangkap batu ayun di hutan, pokoknya segala upaya melindungi dari serangan monster dibuat. Termasuk menaruh makanan umpan di sebuah tiang. Sungguh tampak tak normal. Seorang siswi baru pindahan dari Leeds, Inggris bernama Sophia (Sydney Wade) akhirnya bergabung. Dengan jaket kuning yang terus dikenakan sepanjang film, Sophia menjadi side-kick penyeimbang dunia khayal dan nyata.

Untuk melindungi diri, Barbara memiliki tas mungil pink yang berisi senjata warhammer bernama Coveleski yang terinspirasi dari pemain baseball pitcher Phillies, Harry Coveleski. Tas sakral yang tak boleh dibuka sembarangan, yang akan digunakan tepat ketika sang raksasa menyerang. Di sekolah ia kena bully, sebagai siswi freak. Gerombolan siswi yang dipimpin oleh Taylor (Rory Jackson) sering beradu argumen, serta adu jotos. Atas beberapa kasus inilah, Barbara dipanggil guru BP Bu Molle (Zoe Zaldana). Dari sinilah kita semakin memahami apa yang ada di kepalanya. Ini tentang bertahan hidup, Barbara memerankan diri sebagai pelindung kota, serangan monster akan tiba, maka bersiaplah! Mitologi raksasanya sendiri terbagi beberapa jenis, dan Titan adalah yang terbesar.

Sophia sendiri tampak ragu, akankah tetap bertahan berteman dengan sang aneh, atau melanjutkan hidup normal. Dengan kertas bertulis opsi, Ya atau Tidak, ia akhirnya melanjutkan petualang di hutan. Barbara memberi mantra pelindung kepadanya, meneteskan darah ke dalam perangkap, disertai janji persahabatan. Sebuah masalah baru tercipta ketika Barbara dipukul Taylor di pantai hingga pingsan, di lantai atas, Barbara terbangun dan mendapati Sophia dengan segelas air dan ‘it’ gelasnya terjatuh pecah.

Setelah beberapa hari ga masuk sekolah, Bu Molle dan Sophia berkunjung, mendapati kakaknya yang sendu. Sophia lalu tahu, apa maksud ‘Gaint Killer’nya dari sebuah rekaman pertandingan di kamar dengan voice-over Ibu Barbara terkait sejarah pemain Coveleski. Raksasa itu ada di dalam kepalanya! Terkuak pula sebab dasar kemunculan imaji itu, raksasa Harbingers dan perwujudan perlawanan untuk menghindari kenyataan orang terkasih yang sekarat. Kebenaran yang menggelisahkan, sebuah kesadaran bisu bahwa di hadapan keluasan tanpa batas, segala yang kita kasihi sekejap menjadi pematik sehingga hampa. Penderitaan adalah bagian dari kita. Penderitaan adalah kita. Barbara hanya berupaya mengubah kebenaran karena dia merasa lebih nyaman berbuat demikian.

Saya belum nonton A Monster Calls tapi udah baca bukunya, kisahnya mirip sekali, di mana monsternya diganti raksasa, motifnya adalah ibu yang sakit keras lalu taruhlah emosi labil yang mencipta tarung antar teman sekolah. Barbara mengangkat senjata, Conor O’Malley memeluk pohon. Dunia fantasi remaja yang melalangbuana. Reaksi-reaksi emosional kita terhadap aneka masalah tidak ditentukan oleh ukuran masalah tersebut.

Nietzsche pernah berkata bahwa manusia adalah suatu transisi, tergantung secara ringkih pada sebuah tali di antara dua ujung, di belakang kita adalah monster dan di depan kita adalah sesuatu yang lebih besar lagi. Siapkan ‘Coveleski Anda’, ia sudah mengintip. Besar sekali perbedaan di antara mengetahui sesuatu dan mendapati sesuatu itu terbukti. Mempelajari fantasi imaji cocok untuk kalian yang suka spekulasi.

I Kill Giants | Year 2018 | Directed by Andrew Walter | Screenplay Joe Kelly | Based on Graphic Novel Joe Kelly, J.M. Ken Nimura | Cast Madison Wolfe, Zoe Saldana, Imogen Poots, Sydney Wade, Rory Jackson, Art Parkinson | Skor: 3.5/5

Karawang, 280420 – Bill Withers – Memories Are That Way

Flipped: Alur Rasional Ciuman Pertama

Somehow the silence seemed to connect us in a way like words never could.” – Juli Baker

Ini kisah cinta remaja yang jatuh hati sama tetangganya, teman sekelas, teman bermain. Ini tentang cinta yang serba pertama. Pandangan pertama, getaran pertama, hingga detak degubnya mendorong jungkir balik hati remaja yang dilanda gairah. Alurnya sangat rasional, proses menuju ciuman pertama yang berliku selama satu setengah jam.

Kisahnya bersetting mulai tahun 1957 sampai 1960an, dimula dengan kepindahan keluarga Loski ke Ann Arbor, Michigan. Setelah adegan syahdu dalam tatapan mata dengan slo-mo, Juli Baker kecil (Morgan Lily) berinisiatif membantu memindahkan barang dari mobil ke rumah, Bryce Loski kecil (Ryan Ketzner) kecil yang kaget menolak dengan kode ayahnya untuk membantu ibu dalam rumah, kabur yang malah menjadi pegangan tangan tak sengaja, tatapan mata biru Bryce membuat hati kecil Juli berdesir jatuh hati. Apalagi esoknya tahu mereka satu kelas, menjadikan bully-an pacar. Dengan sudut pandang Bryce kita tahu, ia merasa dasar cewek aneh!

Sudut pandang lalu berganti ke Juli Baker remaja (Madeline Carroll) yang menuturkan tetangganya Bryce Loski remaja (Callan McAuliffe) bagaimana perkenalan dan rasa yang tertinggal, mencipta kesan. Berikutnya film akan gantian sudut pandang mereka berdua. Jungkir balik rasa, proses menuju saling melengkapi. Awalnya Juli yang jatuh hati, berjuang demi mendapat respon positif, nantinya gantian Bryce yang kesemsem sementara Juli muak. Tumpang tindih rasa, karena definisi rasa ada di dalam kepala, kita tak bisa mengetahui isi setiap orang. Dari sinilah, momen dibolak-balik. Dengan adegan yang sama, penonton melihat sudut pandang yang berbeda.

Juli yang hobi manjat pohon, sampai masuk Koran lokal suatu hari menangis karena pohon di dekat halte bus sekolah itu ditebang demi pembangunan. Dalam tugas sekolah, ia mengambil proyek penetasan telur ayam, hingga memeliharanya di kebun belakang menghasilkan banyak telur. Tetangganya membeli, tapi untuk keluarga Bryce free, tapi karena alasan salmonella dan betapa joroknya kandang ayam, langsung dibuang. Hiks, kejam. Perbuatan ini akhirnya kepergok, melukainya. Berjalannya waktu, hanya kakek Chet Duncan (film terakhir alm. John Mahoney) yang bisa menyentuh hatinya karena suatu ketika Juli mencipta kebun bunga di halaman depan, dibantu sang kakek sehingga ada koneksi istimewa. Kelakuan unik Juli mengingatkannya pada almarhum istrinya.

Lalu kita tahu ada masalah apa di keluarga Baker. Seorang pelukis yang miskin, rumah saja nyewa. Berniat sementara, ternyata tak tahu sampai kapan. Paman Juli, mengidap penyakit mental yang selalu bersikap anak-anak. Juli suatu ketika di hari Minggu yang cerah, ikut bapaknya mengunjungi dan setelah hari itu semua tak sama lagi. Konsep populer mengenai ‘cinta yang keras’ adalah Anda membiarkan anak untuk mengalami penderitaan karena dengan menyadari hal-hal yang penting di saat berhadapan duka, anak akan meraih nilai yang lebih tinggi dan berkembang. Es krim dan gejolak itulah yang membuka mata, hidup ini keras Lur.

Di sekolah, Bryce demi menghindar Juli sampai kencan dengan Shelly Stalls, walau menurut temannya Garrett itu bukan cinta. Hubungan ini timbul tenggelam pula, dan betapa demi makan siang bersama untuk amal, Bryce menjadi yang tertinggi rasanya belumlah cukup sehingga Juli walau dag-dig-dug bukan memilihnya, alasannya? Laiknya sinetron Indonesia yang sering bergumam dalam hati tapi teks dibacakan ke pemirsa, adalah Eddie Trulock, nomor 8 yang aneh mencipta karya. Kasihan. Lantas akankah Juli dan Bryce akhirnya bersatu? Kita memang suka bertikai untuk hal-hal kecil, Nak.

Tanpa tahu ini film tentang apa, tak ada aktor besar yang benar-benar hadir di jajaran cast, berdasarkan novel, bahkan judulnya rancu, flipped – dibalik. Rekomendasi Bung HandaBank Movie, akhirnya Senin pagi pasca sahur kutuntaskan sebagai nutrisi sebelum berangkat kerja. Seolah ini adalah versi remaja (500) Days of Summer dengan akhir manis. Kisah cinta remaja yang menyentuh hati, membayangkan hari-hari remaja SD jatuh hati, mematik pikir masa lalu, bagaimana perjalanan hidup saya dulu. Beberapa relate seperti hobi panjat pohon, beternak ayam, cinta monyet, dunia anak-anak yang merdeka pikir dan materi. Cinta hanyalah wadah terjadinya pertukaran perasaan, di mana masing-masing diri kalian membawa apa pun yang dipunyai untuk ditawarkan dan saling menjajakannya hingga mendapat keuntungan transaksi masuk akal.

Flipped menjadi film romansa yang asyik karena cinta itu masih hijau, saling raba perasaan disertai tebak sikap. Ending-nya sendiri lebih manis lagi, walaupun adegan cium yang dinanti tak kunjung muncul. Masa-masa yang menyenangkan karena tak ada beban cicilan, haha…

Adegan makan malamnya sendiri walau sederhana malah yang paling nyaman diikuti. Sebuah presentasi basa-basi dengan tetangga, manis di mulut, pahir di hati. Bagaimana kedua kakak Juli yang berjuang untuk rekaman, malah menohok bapaknya Bryce yang seorang sukses materi tapi seolah kehilangan cita menjadi pemain saxophone. Dari makan malam itu pula kita tahu, betapa hubungan harmonis dalam keluarga jauh lebih penting ketimbang kesuksesan individu. Komitmen yang lebih besar mendatangkan kedalaman yang lebih berkualitas. Semakin membingungan kehidupan ini, bersikap rendah hati menjadi semakin berharga. Turut senang memandang hangatnya hati Juli ketika melangkah pulang.

Represi Sigmund Freud bahwa hidup ini kita jalani dengan menekan ingatan-ingatan masa kecil yang menyakitkan, dan dengan mengangkatnya lagi ke dalam kesadaran, kita membebaskan emosi-emosi negatif yang terpendalam di dalam diri kita. Akhir yang menyenangkan dan lagu klasik berkumandang menutup layar.

Kalian tak kan pernah lupa perasaan dan sensasi ciuman pertama, itu. Tangan yang mendekap dalam menabur tanah saat menanam, waktu seolah membeku. Dunia ini berputar mengelilingi satu hal: perasaan.

Beautiful teenage romance.

Flipped | Year 2010 | Directed by Rob Reiner | Screenplay Rob Reiner, Andrew Scheinman | based on a novel Wendelin van Draanen | Cast Madeline Carroll, Callan McAuliffe, Rebecca De Mornay, Anthony Edwars, John Mahoney, Penelope Ann Miller, Aidan Quinn, Kevin Weisman, Morgan Lily | Skor: 4/5

Karawang, 270420 – Bill Withers – Friend of Mine (Live)

Thx to Bung Handa Lesmana dan Bung Huang atas rekomendasinya.