Mencari Para Rasul yang Dilahap Ikan-Ikan Raksasa Bermoncong Hijau

Kitab Para Pencibir by Triyanto Triwikromo

Di mana kau sembunyikan sesuatu yang menyerupai laut?”

Kumpulan puisi yang bagus, sangat bagus, ga seperti kebanyakan puisi yang standar bersajak, tertata rapi dengan rata kanan kiri, satu halaman hanya berisi beberapa kalimat. Kitab Para Pencibir justru menampilkan kata-kata runut seolah fiksi mini. Karena kebanyakan adalah diskusi tuhan dengan seseorang. Dari musafir, para nabi, seorang yang memertanyakan semesta, sampai renungan kiamat yang absurd. Saya bisa menikmatinya, puisi yang umum agak susah dilogika, banyak penafsir multi. Di sini, walau juga bisa mencabang tafsirnya, setidaknya dibuat runut, nyaman, dan kocak.

Banyak memainkan ironi, lebih banyak lagi adalah tanya-jawab tuhan terhadap makhluknya.

Buku dibagi dalam judul Isi Kitab: Kalam Awal (satu puisi), Kalam Rahasia (38 puisi), Kalam Pengasingan (24 puisi), Kalam Waktu (37 puisi), dan Kalam Akhir (satu puisi). Ga ada aturan khusus, seperti biasa dalam menuturkan puisi, jadi ada yang panjang sekali dipecah beberapa frame, ada juga yang hanya satu kalimat. Jadi memang ngalir, banyak kalimat langsung. Nah, saya suka kalimat langsung. Kalimat langsung lebih bagus dikutip ketimbang kalimat sacral yang dimulai dengan kata ‘bahwa…’ Beberapa puisi yang kubaca, ga ada tanda baca, bahkan menghapus tanda petik jadi ga bisa membedakan mana yang diujar mana narasi. Di sini semua ditulis seolah cerita pendek, jadi bagi saya penyuka novel lebih mudah mengikuti. Hanya membaca nyaring yang kalimat berkutip, dan sungguh menggugah. Memang hebat Bung Triyanto saat memilih diksi pengandaian.

Kalam awal dan akhir hanya terdiri dari satu puisi.

Ziarah

Aku mencari-Mu.” / “Aku tak ada.” / “Bukalah pintu-Mu.” / “Taka da pintu untukmu.” / “Aku hendak menziarahi-Mu.” / “Aku bukan makam.”

Saya hampir ga pernah benar-benar terpesona buku kumpulan puisi. Mungkin ini pertama kalinya saya menyukainya. Rahasikanlah cintamu pada-Ku!

Rahasiakanlah cintamu pada-Ku. Jangan sampai angina mendengar meski sesulit apa pun. Rahasiakanlah cintamu pada-Ku. Jangan sampai senja melihat meski sezarah apa pun. Rahasiakanlah cintamu pada-Ku. Jangan sampai langit meraba meski selembut apa pun. Jadi, mengertilah, cintaku, sembunyikanlah tangismu meski seluka apa pun. Diamlah, aku membenci dunia yang gaduh.

Banyak tanya yang meminta pembaca menafsirkan sendiri jawabnya.

Mogok

Kalau Aku berhenti meneteskan embun di sehelai daun, apakah kau masih mencintai-Ku?

Ada juga sindiran seperti menuju ibu kota. Secara gamblang itu adalah demo para penista agama di Jakarta. Agama mana yang paling benar? Yang mayoritas? Yang kitabnya dibaca nyaman? Yang bisa membuat bahagia? Definisi bahagia sendiri menjadi kabur ketika kembali ke selera, atau sejenis selera, karena setiap individu memiliki standar berbeda.

Seperti Kabut seperti Maut.

Kau kegelapan yang menasukkan.

Bisikmu dengan isak tangis.
Senin kau bercakap-cakap dengan sungai yang jernih itu dan kau bertanya, “Di mana kausembunyikan sesuatu yang menyerupai telaga?”

Kalimat yang memajang karakter berkomunikasi dengan benda mati ada banyak. Di sini, kita memang harus bisa menempatkan diri, bahwa ini fiksi. Seperti lirik lagu, bercakap dengan tembok terasa lebih waras di lagu Sheila On 7 berjudul ‘Ketidakwarasan Padaku’, semacam itulah. Bung Triyanto dengan jitu menangkap kehampaan sebagai tema yang lebih nyaman. Sejatinya kita tak sendiri ketika tak ada manusia lain.

Puisi berjudul ‘Masa Depan’ dibuka dengan bagus, “Apakah aku hanya masa lalu? Apakah Aku juga punya masa depan?” Secara umum kita menafsir, ya aku masih bisa kamu perhitungkan ga ke depannya, atau cukup di sini? Tanpa menemukan jawab, lalu ditutup dengan kalimat datar. Hujan turun. Hujan selalu turun saat Aku bertanya tentang masa depan. Bagus ya, kita semua butuh kepastian, ga hanya seorang pacar yang menanti apakah kita akan lanjut ke jenjang penikahan, tetapi lanskapnya lebih luas lagi.

Kebahagiaan dan kepedihan datang tanpa mengetuk pintu.” Kata pelacur itu sambil sesekali menciummu. “Mereka datang seperti pencuri brutal.” Haha… pelacur dan manifestasi tujuan hidup.
Beberapa melibat karakter cerita umum, Kafka dalam Metamorfosis disebut. Oh kecoa yang malang ketika terbalik!!! 99 nama tuhan? Belum 99, masih 9 atau mungkin kurang. Masih harus Kusembunyikan kisah cintamu yang kautulis tergesa-gesa di hutan-hutan. Ada juga sang Penulis Peneliti ternama Charles Darwin yang bepetualang dengan kapalnya. “Dunia itu semacam bunglon yang berubah warna sepanjang masa. Dunia ini semacam satwa yang bermimikri semacam satwa yang menolak menjadi binatang fana.”

Jadi di mana ujung kehidupan? Apakah surga dan neraka ada? “Apakah neraka?” // “Ia semacam badai bunga.”

Beberapa tampak gombal, wajar sih. Sekalipun temanya adalah kitab, di belakang adalah pencibir. “Di mana tanda-tanda benci dipancangkan?” dengan lugas di-ping-bek “Aku tersesat dan tak menemukan gua untuk membaca arah cinta-Ku.”

Ngomongin puisi belum lengkap tanpa menyindir kata ‘senja’, tentu saja di sini ada. “Jangan pernah merasa membahagiakan senja jika kamu merasa dibahagiakan oleh senja.”

Dan karena ini adalah kitab, para alim ulama juga wajib hadir dalam merapalkan doa. “Jika kau seorang ulama, jangan sampai rakyat menafsirkan kitab secara semena-mena. Tafsirmu harus menjadi tafsir mereka. Jika kau menafsirkan hamparan yang membnetang itu langit, jangan sampai rakyat menafsirkan sebagai bumi.” Kalimat ini muncul dalam cerita membungkam suara rakyat. Ulama hanya perwakilan, yang lainnya juga ada tips and trick.

Mungkin yang paling aneh ada di sini. “Tolong belikan dua malaikat kecil, tiga botol air mata tuhan, tiga mangkuk darah perampok, dan tiga buku tentang keheningan.” Kata seorang tetangga sambil memberi segepok uang. Sepintas lalu saya mengernyitkan dahi. Seolah makhluk-makhluk yang disebut ada di toko kelontong. Baik, lalu “Berapa harga tuhan?” yah, kalian ga perlu baper juga sih, ketika menyebut tuhan, sang penyair menggunakan huruf ‘t kecil’. Tuhan yang jelas bukan Sang Pencipta ya. Karena ketika menyebut kata Tuhan dengan ‘T besar’ tetap adalah Tuhan dalam ajaran agama Teologi. Justru ketika berdialog dengan makhluk lain, penyair menggunakan kata ganti ‘Ku’atau ‘Mu’ dengan awalan kapital. Sekali lagi ini hanya ‘kitab’ dan bahkan bukan buat umat, tapi para penyinyir.

Atau kosongkan saja kanvasmu. Siapa tahu pada suatu saat wajah dan bentuk Haniblis berbuah menjadi semacam kehampaan yang tak teraba apa pun.”

Tuhan boleh saja benar di tempat lain, tetapi Ia salah di tempat ini.”

Aib

Aib terbesar-Ku adalah menciptakanmu.
(ha ha ha ha…)

Buku ditutup dalam kalam akhir berjudul Monster: Setelah segalanya berlalu, kini kau sekadar menjadi monster pembunuh bagi siapa pun yang kauanggap sebagai dajal. Apakah agama telah merusakmu?

Setelah membaca Kitab Sang Pencibir saya kembali optimis menikmati kumpulan puisi. Ga semua puisi itu rancu dan kurang nyaman dilahap. Ini menjadi bukti, selama narasi terbentuk, selama logika jalan, selama plotnya ada, puisi bisa mematik imaji. Beberapa waktu lalu saya beli buku puisi lain berjudul ‘Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering’ karya Hasan Aspahani, sepintas lihat polanya mirip Kitab Para dengan syair berbentuk fiksi mini. Semoga bisa memuaskan. Sampai sekarang saya belum penah memberi nilai sempurna sebuah buku kumpulan puisi. Ada rekomendasi?

Lalu jika salah satu dari kita terbunuh di puisi yang rapuh, di mana kauminta dikuburkan?

Kitab Para Pencibir | by Triyanto Triwikromo | Kumpulan puisi | Penerbit Grasindo | 57.17.1.0043 | Penyunting Septi Ws | Desainer sampul Studio Broccoli | ISBN 978-602-452-040-3 | Cetakan pertama: Juli, 2017 | Skor: 4/5

Untuk Veva Lenawaty sebagai hadiah ulang tahun yang cukup lama kusembunyikan

Karawang, 090320 – 100320 – Hanson – If Only (Live and Electric)

Buku Baru Februari 2020

Harbolnas sembilan buku akhir Januari bisa selesai baca-ulas, apakah lima belas ini akan selesai akhir bulan? Tentu saja tidak. Baca santuy ya…


“Waktuku belum tiba, ada orang-orang yang terlahir setelah ia mati.” – Nietzsche

Bulan Februari tahun ini saya beli 15 buku dari dua toko yang berbeda.

Toko Buku Daring Fatikah Books Store, Yogyakarta

Pertama kali beli di sini. Respon dan komunikasi sangat Ok, karena bahkan dia mau memilah bungkus jadi dua hanya untuk menyelamatkan ongkos kirim. Jadi dua buku ini lebih dari sekilo, maka sekilo ditaruh di Shopee, sekilo dimasukkan di Wahana. Mantab sih, walau saya sendiri sebenarnya ga mau repot. Jutru yang jualan yang repot, saya hanya klik sekali bayar di Shopee. Hehe, nuhun.

1. Emma – Jane Austen

Pelan-pelan kunikmati, satu demi satu karya Jane Austen. Setelah Lady Susan yang penuh surat, dan rangkupan kutip A Fair Lady, kali ini saya berkesempatan dengan Emma. Lima tahun lalu, seharusnya buku ini sudah kubaca. Sayang sekali pas ulang tahun itu, saya malah membawa oulang empat buku Tere Liye. Tahun ini akan difilmkan. Baiklah, memang waktu yang tepat itu sekarang.

2. Sepotong Senja Untuk Pacarku – Seno Gumira Ajidarma

Sudah baca cerpen utamanya. Kali ini lebih banyak, karena selain dalam bentuk Trilogi Alina ada Peselancar Agung dan Atas Nama Senja. Beberapa cerpen sudah kubacakan ke Hermione, pelan-pelan saja. Memang buku istimewa.

3. The Golden Road – L.M. Montgomery

Saya terpesona sama The Story Girl. Luar biasa, mengalir nyaman tentang hari-hari di Amerika kehidupan remaja yang memiliki fantasi tinggi. Ini adalah lanjutan kisah Sara Stanley di Carlisle dkk, kali ini berencana mendirikan semacam majalah. Tak sabar memasukkan dalam antrian.

4. Monte Cristo – Alexandre Dumas

Sudah pengen buku ini lamaaa banget. Baru kesampain pas kena diskon jadi 40k. Sudah baca, selama dua minggu kucicil antara bacaan lain. memang luar biasa ceritanya. Tentang Edmond Dantes yang difitnah, dari manusia merdeka bermasa depan cerah menjadi tahanan politik paling berbahaya, di Pulau If dalam keterbatasan, menjelma kokoh, lalu menata misi balas dendam. Ulasan lengkapnya, nantikan!

Gramedia World Karawang

Memeringati ulang tahun BCA ke-63 tahun, diskon 30% untuk buku terbitan Gramedia Group selama dua hari 22-23 Februari 2020 dengan menggunakan kartu Flazz, yang merupakan Gramedia Card-ku yang jarang kupakai, akhirnya isi ulang demi diskon.

5. Segala-galanya Ambyar – Mark Manson

Dirilis bulan Februari, dibeli, dibaca selesai di bulan yang sama. Kehebohan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat memang menular. Buku kedua ini, bisa dengan mudah diprediksi akan best seller lagi. Sebuah buku tentang harapan. Draf sudah ada, tinggal edit dan pos. Nantikan!

6. All the Bright Places – Jennifer Niven

Kebetulan pas di Gramedia, tiba-tiba saja di grup Bank Movie bahas film ini, adaptasi Netflix, makanya langsung kuangkut pulang. Saya tak tahu apapun tentang buku ini. Sebuah perjudian, anggap saja sebelum nonton filmnya kita nikmati dulu cerita tulisnya.

7. Anthony Giddens: Suatu Pengantar – B. Herry Priyono

Bukunya tipis, diniatkan untuk selingan baca. Menyangkut the third way think-thank. Apa itu? Mari kita lahap.

8. Give and Take – Adam Grant

Saya terpesona Origin, maka ketika melihat buku beliau ada yang lain, tanpa banyak pikir langsung kuangkut ke kasir. Apalagi temanya tentang memberi, membantu orang lain untuk mendorong kesuksesan, tema yang sudah sangat sering kudengar di inspirasi pagi di kantor.

9. The Book of Mirrors – E.O. Chirovici

Barusan banget selesai baca. Dari Penulis Rumania, ini adalah buku pertamanya berbahasa Inggris, perjuangan menerbitkannya luar biasa setelah ditolak banyak penerbit. Cerita detektif dengan sudut pandang tiga karakter. Ini bukan tentang siapa pembunuhnya? Tapi lebih ke mengapa dilakukan? Twist. Kalian akan terpaku tegang, sampai kalimat akhir. Nantikan juga ulasannya.

10. Travelling to Infinity – Jane Hawking

Filmnya memukau, mengantar Eddie Redmayne memenangkan Oscar. Tak banyak yang bisa kuceritakan karena ini akan jadi buku pertama Stephen Hawking yang kubaca.

11. Looking for Alaska – John Green

Setelah uji coba Paper Town yang sukses membuat takjub, buku Green lain tinggal masalah waktu. Kali ini Mencari Alaska. Green spesialis novel remaja, entah kenapa novel remaja kalau dari Amerika masih nyaman diikuti ketimbang lokal. Cerita lebih kompleks dan pembawaannya lebih liar?

12. Bicara Itu ada Seninya – Oh Su Hyang

Semoga menjadi pemicu lebih mantab lagi ketika berkomunikasi, terutama ketika di depan publik. Help me Su!

13. 100 Tokoh Modern Paling Berpengaruh – Arby Syahputra

Saya sudah membaca 100 Tokoh-nya Michael Hart. Buku keren sekali yang mencantumkan Naabi Muhammad SAW nomor satu. Ini versi lokal dengan alfabet urutan dan era sekarang. Sekadar tahu saja sih, kalian pasti juga bisa menyusunnya dengan mudah siapa saja di era digital gini. Namun tak ada salahnya kita turut versi Arby. Apakah ada dari Indonesia?

14. Silence – Shusaku Endo

Ketika film karya Opa Martin Scorsese rilis, saya sudah memplot akan membaca novelnya. Setelah lima tahun, akhirnya datang juga. Kita adalah apa yang kita pikirkan-kan?! Jepang abad 17 periode Edo, kritenisasi Barat mengarah ke sana.

15. Kitab Para Pencibir – Triyanto Triwikromo

Bikin cerpen beliau handal. Mencoba bikin novel lumayan ok. Kali ini puisi. Hhhmmm…

Karawang, 090320 – Sherina Munaf – Here To Stay

Cinta Satu Penny

Cinta Satu Penny by Anne Hampson

“Tak seorang pun menyangka dia bakal kawin. Nigel dulu selalu mengatakan bahwa dia suka kebebasan dan tidak mau mengikat dirinya dengan perkawinan…” – Annnette

Berawal dari satu penny, cinta tercipta. Ciuman nafsu, menjelma gairah yang mematuk hati. Dua hati yang dingin pun menghangat dengan perlahan. Kalau sudah ngomongin cinta, memang segalanya mungkin. Apalagi ekonomi bukan kendala, di Benua Biru, roman picisan seperti ini pernah hit dan akan tetap hit, selama ada pasar, cerita romantis akan terus dibuat.

“Ayolah, saudara-saudara! Jangan lewatkan kesempatan ini. Tidak inginkah Andamencium gadis yang paling cantik dan aduhai di Cheshire? Belilah karcisnya sekarang juga hanya satu penny – SATU penny! Siapa tahu Anda orang yang beruntung kali ini!”

Buku romansa yang sangat biasa. Konfliknya sangat biasa, mudah ditebak bahkan ketika bab pertama baru selesai kubaca. Cinta yang tercipta karena keisengan, memanfaatkan momen yang terjadi dalam keluarga terkait warisan. Muda tampan, mudi cantik, dan uang bukanlah masalah. Hanya komunikasi yang diperumit, antara bilang terus terang atau tetap memendam, antara mengutarkan polemik hati atau tetap mengesampingkan segala simpang pikir. Nyatanya, semua selurus prediksi, plek sesuai yang diperkira. Jadi apa menariknya mengikuti cerita cinta yang menurut serta garis lurus, happily ever after? Perkawinan antara Liz dan Nigel adalah perkawinan abadi. Untuk selama-lamanya.

Buku ini kubeli di Lapak buku Glagag Solo tahun lalu sama Damar Laziale KW, bersama beberapa buku lainnya. John Grisham dan Abdullah Harahap done, ini yang ketiga. Kubaca santai, satu per satu, memang sebuah perjudian karena saya tak tahu siapa Anne, sebuah keisengan tanpa banyak ekspektasi. Beberapa kali dari iseng gini berhasil lho, tapi banyak yang mengecewakan. Dan terbukti memang buku yang sangat biasa. Seolah memang saya menuntaskan buku ini sekadar kewajiban bahwa semua buku yang kubeli harus baca-ulas. Pada dasarnya saya suka baca novel klasik, baik luar atau dalam negeri. Makin jadul makin menarik minat, novel ini terbit tahun 1978 yang bahkan saya belum lahir. Tampak misterius dunia lama saat kita belum ada.

Kisahnya tentang Elizabeth Dawes alias Liz, gadis London yang liberal dengan Nigel, pemuda Arachora yang juga menjunjung kekebasan. Mereka dipertemukan sejak bab mula. Cara bertemunya aneh, jadi Liz sedang main-main sama saudaranya di bazar dengan menjual tiket satu penny untuk sebuah ciuman. Liz yang cantik tentu saja banyak memikat, bahkan disebutkan gadis tercantik di kota Cheshire. Undian itu menempatkan Nigel, orang asing yang baru mendarat di Inggris. Ciuman dalam tenda itu hot, liar, dan sangat menggairahkan. Awalnya kukira bakal jadi ciuman amal di pipi atau di kening, tidak. Undian satu penny itu adalah ciuman tukar lidah! Baiqlah…

Sementara di rumah sedang gonjang-ganjing masalah warisan. Jadi garis darah keluarga mereka dulu pernah seteru, lalu terpisah. Warisan itu menyaratkan bahwa keluarga ini harus disatukan dengan menikahkan kedua keturunan, atau kalau enggak maka semua harta waris akan disumbangkan ke amal, sebuah organisasi reliji Persekutuan Keselamatan. Awalnya sudah terencana matang, Vivien dan Arthur akan menikah, sudah tunangan. Namun update itu mengguncang keluarga karena Vivien ternyata sudah punya kekasih, ia akan bersikukuh akan menikahi kekasihnya, ga peduli harta, karena baginya perkawinan harus berlandas cinta. Paman, tante, Liz debat panjang. Oma yang sudah tua merajut. Lalu muncullah Nigel, ia adalah saudara Arthur. Mudah ditebak bukan? Saya baru melewati 1/6 bagian buku dan sudah bisa menebak endingnya. Liz mencintai Oma, andai tak menikah dan rumah ini disita, mau tinggal di mana? Semua akhirnya lega. Tampak win-win solution.

Liz dan Nigel menikah, tinggal di Yunani. Kota eksotis yang menjadi damba para menyuka cerita romantis. Jadi ingat novel Burung-Burung Rantau yang belum selesai kubaca. Liz dan Nigel adalah dua manusia yang menyukai kebebasan, berjanji pernikahan ini hanyalah formalitas untuk menyelamatkan harta keluarga. Keduanya rupawan, keduanya cerdas, keduanya tampak open minded. Jadi masalahnya apa? Konflik itu ada di sini, ketika di Yunani, Liz tahu bahwa Nigel sudah punya kekasih Greta, ia tak ambil pusing. Bahkan menyilakan suaminya jalan sama Greta atau cewek manapun, aneh? Yah, memang persatuan itu kan memang tak mencantum mereka harus tetap bercinta, poinnya tampak mesra dan bahagia di depan publik. Namun tidak bagi Nigel, ketika Liz jalan sama saudaranya ke Athena. Ia marah. Ia tak mau Liz keluyuran di lihat teman atau saudaranya bersama lelaki lain, yang bahkan saudara. Kata orang, cemburu adalah rasa cinta. Maka ujian pasangan muda ini dihamparkan di sini. Jadi Liz dan Nigel termasuk kategori normal atau sinting? Ini hanya masalah komunikasi. Makanya jangan bolos pas ada training teamwork!

Apakah perkawinan ini benar-benar hanya sandiwara? Karena nantinya Liz tahu, bahwa surat wasiat itu ternyata sudah digugat jadi tanpa menikah-pun kedua keluarga ini, harta tetap aman. Cerai? Ah khayalmu aja. Apakah akhirnya mereka benar-benar jatuh cinta? Saya kasih bocoran, cerita ditutup di sebuah klapal pesiar mewah, sebuah yatch yang mengarungi samudra dengan sombongnya, hanya untuk kalangan terbatas. Yah, benar-benar ga relate dengan jelata kayak saya. Hiks…

Ada satu bagian yang annoying, pembantu keluarga ini Nikos tampak suka bergunjing. Suka membicarakan keanehan tuannya. Berani menentang secara halus. Beda sekali dengan novel-novel Agatha Chistie tahun 1920an, di mana pembantu/pelayan memang juga dilibatkan, tapi mereka lebih banyak diambil sudut pandang sebagai ‘pembantu’ juga, bukan tempelan lemah. Peran pembantu di Christie benar-benar vital, bahkan beberap menentukan eksekusi ending. Di sini, malah tampak konyol.

Kisah cinta antara London dan Kota Arachora, kota angin-nya Yunani. Di sini, di tempat tinggal para dewa yang telah mahrum dia menemukan suatu kedamaian. Liz adalah orang yang memiliki kemauan keras dan kekuatan tubuhnya pun dapat diandalkan sehingga orang harus berpikir dua kali untuk menentang apa yang dikatakannya. Di rumahnya di Cheshire, dia yang paling berkuasa; apa saja yang dikatakannya pasti dilaksanakan tanpa sanggahan sedikitpun. Hanya Vivien yang berani menentang keputusannya. Salut Vivien, harusnya kisah kamu aja yang disodorkan. Nikah memang harus ada cinta.

Salut sama Oom Liver yang gemar main catur sendiri. Melawan dirinya sendiri. Hebat…

“Orang harus realistik, hampir semua berakhir dengan tragis – kalau orang mengambil cerita cukup panjang.”

Cinta Satu Penny | by Anne Hampson | Judul asli Wife for a Penny | Alih bahasa Inita Gumulyo | GM 78.027 | Penerbit P.T. Gramedia Jakarta | Gambar sampul Rahardjo S. | Jakarta, 1978 | Skor: 2/5

Karawang, 080320 – Bee Gees – Don’t Forget to Remember

#Januari2020 Baca


Sudah disampul semua dong

 

Akal sehat kadang-kadang tidak bisa mengalahkan emosi.” – Jane Austen


Bulan Januari 2020 adalah bulan menyelesaikan baca ulas buku yang kubeli di Harbolnas tahun lalu. Ada sembilan buku, dua buku selesai baca saat akhir tahun, ulas di tahun baru, sedang lainnya saya tuntaskan kilat. Jadi kalau dihitung tahunan, semua buku tahun ini yang kubaca justru sudah pos di blog. Konsekuensinya, saya kehilangan waktu banyak untuk kejar Oscar. Hufh…, pasca jadi tim #Irishman memang, agak berat mengetik ulasan film. Film memikat yang diperlakukan tak adil oleh juri-juri AMPAS.

Berikut ringkasan, berdasar urutan baca. Yang ini Desember 2019:

1. Lady Susan – Jane Austen

Pengalaman pertamaku menikmati Jane Austen. Ini kisah tentang Lady Susan yang janda, menentukan pasangan berikutnya. Antara pemuda gagah yang mendapat pertentangan orang tuanya, atau lelaki duda yang lebih mapan, tapi kurang cocok dengan kepribadian. Surat-surat pribadi bercerita. Anaknya yang remaja, menambah polemik karena menyeruak menambah persaingan, ahhh… lika-liku asmara abad 19 yang sederhana dalam komunikasi. Surat itu membentuk narasi, betapa vital peran para pak pos. “…Pastilah dia tenggelam dalam renungan yang tidak menyenangkan, tapi memang ada orang-orang perasaannya sulit dipahami.”

2. Cannery Row by John Steinbeck

Akhirnya rasa penasaran itu terobati. Inilah buku yang sesungguhnya saya incar di harbolnas, yang lainnya hanya melengkapi syarat beli minimal 200k demi gratis ongkir. Hiks, miskinnya saya. Saya sudah baca Kamis yang Manis (terjemahan Basa Basi), padahal itu buku seri kedua, cerita seputar persahabatan Doc dan Mack di Cannery Row. Rasanya ternyata sama saja, buku ini berkisah tentang keseharian mereka juga. Hanya beragam masalah beda yang disodorkan. Tak ada hal berat yang ditawarkan, kehidupan sehari-hari di sekitar kita, normal dan wajar. Bagaimana sebuah tali persahabatan dirajut, kusut, lalu diluruskan kembali. “Si Doc itu orang baik. Kita seharusnya berbuat sesuatu untuk dia.” Lalu bertubi kekacauan terjadi, dari sekadar niat baik menjelma bencana.

Khusus Januari 2020, baca dan ulas tujuh buku ini:

1. The Woman in Black by Susan Hill

Tentang hantu wanita yang meneror di desa kecil Crythin Gifford, pemuda berpendidikan tinggi dengan rasional dan berpikiran terbuka, mendapat tugas menyelesaikan administrasi bosnya seorang pengacara, kliennya meninggal dunia, maka ia harus mengurus segala hal terkait warisan, berkunjung di ujung dunia yang terpencil, muram, dan desas-desus mistis. Taman yang mengingatkanku pada kediaman tokoh-tokoh karangan Jane Austen… Sebuah kebetulan saya sedang membaca bukunya. The Woman juga memainkan psikologis tentang kenangan. Semua kejadian itu telah berakhir, telah jauh di masa silam. “Aku merasa Tuhan berada sangat jauh, dan doa-doa yang kuucapkan terasa formal dan hormat…”

2. A Fair Lady & A Fine Gentleman by Jane Austen

Buku dibagi dalam tiga cakupan: Cinta & Pernikahan, Keluarga & Persahabatan, dan Pelajaran Hidup. Kalimat-kalimatnya bagus, terutama bagian ketiga, mungkin karena tema pelajaran hidup lebih bebas, pastinya akan lebih bagus jika sudah membaca novelnya, karena tentu akan tahu kutipan ini ada di adegan apa. Seperti ketika saya membaca kumpulan puisi, kurang bisa langsung klik. Beberapa bait akan kubaca ulang, untuk ‘masuk’ lebih dalam bahkan harus dengan suara nyaring dan lantang dan mikir, kalau bagus dan jleb akan meresap, sayangnya jarang bisa buku-buku kumpulan sajak memuaskanku. “Penting untuk membaca puisi sedikit-sedikit saja sekali waktu, demi melindungi diri kita dari banjir emosi yang mencabik-cabik batin.” Mari kita nikmati keheningan ini.

3. Ziarah by Iwan Simatupang

Buku paling aneh di deretan ini. Liar dan membingungkan. Kisahnya ga runut, ga nyaman diikuti. Semua karakter tanpa nama, hanya disebut profesinya: pelukis, opseter, walikota, wakil walikota, kolektor, kritikus, dst. Mereka membaur dalam hikayat kehidupan warga yang sejatinya umum, tapi dicipta hiperbolis. Bagaimana sebuah karya lukis bisa laku keras, kaya raya, snob, dan luar biasa beruntung yang bertubi. Mungkin butuh dibaca ulang, tapi rasanya lelah sekali membalik halaman demi halaman. Bukan buku yang nyaman dibaca dalam keadaan pening mikir cicilan omah. Novel masa depan. Novel tanpa pahlawan, tanpa tema, tanpa moral. “Pada mulanya, pada akhirnya.”

4. Agnes Grey by Anne Bronte

Luar biasa. Cerita cinta yang tulus nan memikat. Happy ending, tapi tak secemen putri Disney. Agnes adalah seorang pengasuh anak para keluaga kaya. Hidup di abad 19 yang minimalis. Terlahir dari keluarga sederhana yang melimpahkan cinta kasih tak bertepi, ibunya keturunan bangsawan, rela namanya tak dicantum di waris demi cintanya pada pendeta miskin kaya hati. Agnes jelas si bungsu kesayangan, maka ketika memutuskan membantu perekonomian keluarga dengan jarak memisah, sulit melakukannya. Di rantau menemukan cinta pada pemuda reliji yang dengan mudah kita tebak, akan bersambut. Poinnya bukan di situ, tapi pada konfliks batin Agnes yang berkorban demi keluarga tercinta, menjalani hari-hari dalam kerinduan. Duhh, mengingatkanku pada tahun Maret 2004 saya menangis di sepetak kos Cikarang Ruanglain_31 merindu segala bau rumah, kamar Ruang_31 di Palur. Sejatinya, banyak hal ga berubah di dunia ini bila menyangkut hati. “Aku dilanda kerinduan hebat pada bunga yang begitu akrab dan dapat mengingatkanku pada lembah-lembah yang dipenuhi pepohonan atau lereng bukit hijau di rumah.” Huhuhu… pengen nangis saat membaca bagian ini, bagaimana kerinduan lebih sering menyita emosi.

5. Rafilus by Budi Darma

Rafilus yang mati dua kali. Pertama tertabrak kereta api, kedua tertabrak kereta api, dalam peti peti mati yang tertambat di palang rel. Sungguh aneh. Ini cerita yang aneh, sedari mula kita sudah disuguhi kejanggalan. Pesta tanpa tahu tuan rumahnya yang mana, sesama orang asing curhat sang pengundang yang kaya raya itu tak menampakkan diri. Lalu kedua tamu itu menambatkan persahabatan, jadilah plot kecamuk yang merumit. Inilah sepenggal cerita di Jawa Timur pasca Indonesia Merdeka. Beberapa kebohongan akan dibongkar, waspadalah. ‘Surat Pawestri masih banyak…’

6. Fiesta by Ernest Hemingway

Cerita-cerita pesta para lajang di Paris dan Pamploma. Dari satu kafe ke kafe lain, dari satu pesta ke pesta lain, dari mancing mania sampai ke adu banteng yang menggairahkan. Kekuatan utama di kalimat-kalimat langsung, aktif dan tanpa basa-basi. Narasinya luar biasa, seolah-olah dipetik langsung dari pengalaman pribadi, ringkas, dan jleb ke inti. Semua berpusat pada karakter gadis jelita bernama Lady Ashley, memacu andrenalin sahabat-sahabatnya, hingga akhirnya seorang matador-pun kesemsem jua. Adu jotos mungkin kurang bijak, tapi saat cemburu yang memuncak, tak ada kompromi. Jake yang termasyur menjadi saksi kegilaan-kegilaan di seputar dengus itu. “Yah, fiesta yang hebat. Kau tak akan percaya, rasanya seperti mimpi buruk yang menyenangkan.”

7. The Red-Haired Woman – Orhan Pamuk

Kisah ayah-anak yang merentang jauh. Mitos Yunani, hikayat Timur Tengah. Dan kini dihadirkan di era millenium dengan kekuatan seorang asisten penggali sumur yang hidup dalam bayang dosa, sampai akhirnya bertemu fakta yang merentang tiga puluh tahun. Penutup yang luar biasa. Novel penutup dalam rangkaian Harbolnas yang kubeli di Mizan Store ini berakhir dengan menakjubkan. Sempurna. “Di mana ada peradaban, di mana ada kota dan desa, pasti ada sumur. Tidak mungkin ada peradaban tanpa sumur, dan tidak ada sumur tanpa ada penggali sumur.”

Dari kesembilan buku Harbolnas Mizan Store ini, juaranya jelas Orhan Pamuk. Detail kisah mengagumkan. Turki yang berkembang, Istanbul laiknya kota metropolitan lainnya yang menjelma pusat negara, seluk beluknya dicipta dengan diksi nyaman. Kejutan identitas anak, kejutan wanita berambut merah, kejutan nasib tuan Mahmut sampai ending yang menghentak. Salut.
Semua buku saya ulas bulan Januari, mengorbankan acara tahunan Oscar. Namun tak mengapa, worth it, lagian Oscar tahun ini kurang menarik. Parasite? Eh…

Karawang, 160220 – 030320 – Hanson – Hand in Han (Live and Electric, Best of)

Thx to Titus Pradita untuk m-bankingnya, Thx to mizanstore.com untuk pengalaman pertama harbolnasnya, Thx to Meyka yang hanya manyun sesaat setelah tahu: beli buku lagi, beli buku lagi, buku lagi. Kiss-kiss-kiss.