Buku Tentang Waria, Babi, dan Ahmadiyah Sang Pencerah

Anak Gembala Yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman by A. Mustafa

Manusia, banyak ragamnya. Banyak ceritanya.”

Semalam, saya menutup libur Nyepi dengan menyaksi terbangunnya Roro Wilis setelah tidur panjang. Ini adalah pemenang kedua Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018. Sebagai catatan, ini adalah cerita tentang Ahmadiyah yang dianggap sesat oleh banyak muslim di sini, tentang sosok waria yang ditentang di sini, tentang babi yang menjelma ‘selamat’ yang dagingnya tentu saja dilarang konsumsi umat muslim. Gabungan ketiganya mencipta karya yang unik, terutama 1/3 akhir yang mengungkap segala kejanggalan. Jadi jangan letakkan buku kalau belum benar-benar selesai, butuh kesabaran memang tapi ending-nya worth it. Kalau kalian ga kena bocor, kalian bisa menikmati efek kejut yang disaji. Bagaimana sang gembala terbangun dengan personifikasi kaca dan gunting dan senyum di antara helai rambut.

Kisahnya tentang Rara Wilis dan Suko Djatmoko yang dituturkan secara beriringan, diselingi cerita babi istimewa yang hidup di surga kubangan lumpur. Rara Wilis adalah ketua PAWATRI, ketua paguyupan waria di Semarang yang mangkal di sekitar Simpang Lima. Berteman dengan Mety, Donita, Nunik, Lily dkk. Nama-nama yang tentu saja modifikasi identitas waria. Seluk beluk kehidupan waria disampaikan dengan sangat lambat dan sayangnya biasa. Bahasanya umum, apa adanya. Rasa sastra-nya kurang. Bagaimana ia menggaet pelanggan, mempunyai pacar brondong yang banyak, salah satunya Iwan. Remaja dari keluarga kaya. Dan lika-liku kehidupan dari mau di-clurit warga karena dianggap kotor, melimpah pelanggan sehingga perlu dijadwal, sampai hubungan sahabat yang timbul tenggelam.
Rara Wilis memiliki pacar bernama Haris yang obsesif. Suka main pukul, gemar mengancam. Ia menuntut cinta Wilis, padahal ia sudah menikah dan memiliki anak. Kehidupan masa lalu Wilis dikupas perlahan, cinta pertamanya kepada teman sekolah bernama Danang, cinta muda yang mekar dan gugur seiring waktu, penyimpangan seksualnya yang ditentang keluarga, hingga akhirnya pilihannya nyebong (melacur) di pinggir jalan. Singkatnya riwayat singkat srikandi yang semarak di Simpang Lima.

Kisah yang satu lagi adalah seorang penganut Ahmadiyah. Aliran ini dianggap sesat dan menyesatkan. Ia seorang penjual jamu sekaligus pendakwah. Memiliki pelanggan yang bisa jadi target baiat, seiring cemooh warga. Ia bergeming. Ditampilkan Pak Wo dengan hebat, orang-orang yang menentang di kampungnya rontok dengan sendirinya. Pak RW yang korupsi, Pak RT yang terlilit utang rentenir, sampai isu selingkuh dan bencana yang menghampiri para pem-bacot. Terlihat jelas, Pak Wo tegar dan komit terhadap kepercayaannya. Ga perlu mengutip Sigmund Freud bahwa symbol-simbol dan ritual agama itu sama dengan perilaku pasien neurotis di tumah sakit jiwa. Agama adalah ilusi kegilaan, ga perlu menelaah sejauh itu. Lihat saja perilaku buruk manusia berjubah yang ga mau menerima perbedaan ada di sekitarnya dengan membabi buta. Di sini memang ditampilkan, tapi tetap dalam lingkaran dan norma yang wajar.

Kisah Pak Wo lalu nge-link dengan Ustaz Zul, lalu nyambung lagi dengan sejarah wayang terutama Pertempuran Pandawa melawan Kurawa. Cerita ini mau dimodifikasi bagaimanapun, kita sudah sangat akrab. Ada satu bab yang sangat panjang, dibuat se-epic bagaimanapun, kita tahu endingnya. Kita tahu siapa versus siapa, kita tahu bahwa para antagonis akhirnya rontok. Kecuali, modif itu memberi efek kejut. Di sini enggak, diceritakan lurus dengan gala perang membahana. Memang butuh keberanian ekstra seperti Quentin Tarantino untuk mengubah sejarah dan penikmatnya masih terpesona karena modif-nya tampak cool.

Selingan di antaranya, ada cerita babi. Jadi di sebuah dataran rendah yang dialisi sungai, ada seekor babi jantan yang senang berkubang di dalam lumpur, lalu datang kawanan lain. Banyak binatang pada akhirnya berkubang di sana dan sekelilingnya, bak sebuah oase surga. Lalu muncullah musibah, seekor sanca melahap sang babi, ditelan bulat-bulan. Yang lain hanya bisa nguik-nguik ketakutan tanpa bisa menolong. Nah, keajaiban datang. Setelah dikira mati, sang babi berhasil melawan. Berhasil membunuh sanca dari dalam, dengan kaki pincang ia kembali ke kubangan bak jagoan. Dianggap pahlawan, dianggap sakti, dianggap mukjizat.

Mengagungkannya, memujanya. Namun suatu saat, justru ia terjepit dan memutuskan pergi, ketika terdesak, melompat ke sungai menyelamatkan diri. Pada akhirnya ia menjelma, jadi apa? See ya… cahaya ilahi menyinari umatnya yang mau bertobat.

Sejatinya lem rekat tiga cerita ada di bab pertama berjudul: ‘Pada Jumat siang yang gerah di pertengahan tahun 1994, Mbok Wilis memakai sepatu tumit tinggi untuk bertemu dengan seorang nabi.’ Mungkin terdengar hiperbolis, karena nabi di sini jelas bukan sesungguhnya, bukan arti harfiah. Muhammad SAW adalah penutup para Rasul karena lengkap sudah ajaran Islam untuk seluruh umat. Dan tahulah kita ajaran yang diemban ini adalah Ahmadiyah, aliran yang ketika merunut masa menemukan nama Mirza Gulam Ahmad. Novel tentang Ahmadi yang terusir bisa ditemukan di cerita Maryam-nya Okky Madasari, yang sejatinya juga kirang kuat, seni nyastra-nya terlalu umum. Lupakan, hanya pembanding. Segala teori sudah banyak bahwa Imam Mahdi telah tiba. Anak Gembala, menggoreskan pula.

Setelah direkatkan, kalian akan tahu siapa sosok sejatinya Roro Wilis dan Pak Wo. Karena saya tak menyelidik tiap lembarnya, ngalir saja, apa yang disampaikan pasca tersambung sedikit mengejutkan. Dua identitas itu terasa syahdu, jleb ketika tahu. Seperti kata Mbok Wilis yang bosan ngomongin cinta. “Aku sudah bosan jatuh cinta. Cinta hanya menyakitkan hatiku saja.” Apa yang diungkap memberi tamparan dan jawaban akan rasa bosan akan kisah. 1/3 akhir novel ini agak menyelamatkan. Cerita bagus memang tak seharusnya gamblang. Alur maju mundur, pecah kisah, dan akhirnya tertempel lem rekat di akhir seperti ini selalu menyenangkan.

Detail ajaran Ahmadiyah juga disampaikan. Proses bagaimana seseorang menemukan hidayah, menemukan klik untuk berubah. Bukan sekadar tobat Lombok, tapi benar-benar total, taubatan nasuha, mengubah jati diri, menerima ajarannya dengan suka rela dan seutuhnya. Terselamatkan dalam bahtera Nuh untuk menyonsong Kemenangan Islam. Ini dia Tiga Masalah Penting! Monggo, setiap manusia bisa saja memaknai cahaya terang hidup dengan beragam reaksi, sejatinya aturan sederhananya: selama kamu baik, dan tak mengusik, dan berbagi, menyebar kebaikan di sekeliling itu sah-sah saja. Letakkan emosimu, jauhkan prasangka kalian. Indonesia terlalu hebat akan keanekaragaman hanya untuk sekadar berdebat hal-hal non esensial. Peace, Love, and respect.

Jadi apakah Anak Gembala ini akan menjelma kontrovesi? Kurasa enggak. Opan dengan jeli memberi penjelasan panjang-lebar di halaman terakhir seolah memang melakukan klarifikasi pertanggung jawaban. Bagaimana proses kreatif mencipta karya, melakukan wawancara, meminta izin terhadap tokoh, serta menebar fakta: Semarang yang menawan di malam hari dengan gayanya sendiri. Justru dengan menjelaskan detail nyata itu, terasa terjawab segalanya. Harusnya tetap saja biarkan jadi tanya, seperti novel Kriminal In Cold Blood-nya Capote yang menjadi misteri identitas karena pembunuhan itu nyata! Atau kalimat penutup film City of God yang menejutkan bahwa perang antar genk itu diambil dari kejadian sebenarnya! Coba bayangkan andai saja Anak Gembala, hanya mencantum kalimat itu. Rasa penasaran lebih menjual dan terlihat maskulin ketimbang paparan jelas, dengan 6 halaman akhir itu, kini tak ada gantung di sana. Clear.

Ini adalah novel pertama A Mustafa yang kubaca, debut Dead smoker Club, novel remaja Rahasia Hujan, dan Surat Dari Kematian sampai sekarang belum terealisasi untuk kulahap. Sempat menimang-nimang di toko buku, tapi selalu gagal dibawa ke kasir. Mungkin suatu saat ada kesempatan ngopi lagi bisa sekalian minta ttd. Bisa jadi ini adalah kran pembuka. Setelah awal dan tengah yang alurnya lambat, cenderung membosan. Anak Gembara menutup kisah dengan manis bersama dwitunggal identitasnya. Bravo!

Bangunlah, bangunlah, tanaman telah bersemi / Demikian menghijau bagaikan pengantin baru / Anak gembala, anak gembala, penjatlah pohon belimbing itu // Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu… // Ayo bersoraklah dengan sorakan iya!

Anak Gembala Yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman | Oleh A. Mustafa | Penyunting Ipank Pamungkas | Penyelaras akhir Ipank Pamungkas | Tata letak Werdiantoro | Ilustrasi sampul Sekar Bestari | Rancang sampul Katalika Project | Penerbit Shira Media | Cetakan pertama, 2019 | ISBN 978-602-5868-80-1 | 13 x 19 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 260320 – Alicia Keys – Empire State of Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s