Ender Wiggin Sang Juru Selamat

Ender’s Game by Orson Scott Card

Dan, Tuhan. Juga agama. Bahkan sebagian dari kita yang memerintah dengan ansible tahu kemegahan terbang di antara bintang. Aku bisa menemukanmu tentang ketidaksukaanku akan hal-hal mistis. Yakinlah kebencian hanya mengungkapkan kebodohanmu. Tak lama lagi Ender Wiggin akan mendapatkan pengetahuan yang sama sepetiku. Dia akan melakukan tarian hantu yang anggun melewati bintang-bintang dan apa pun kebesaran di dalam dirinya akan terbuka, terungkap, terbentang, di hadapan alam semesta agar semua bisa melihat…”

Sebuah novel yang menggairahkan. Keren banget. Cerita luar angkasa, tapi tetap bisa membumi. Melibatkan jiwa-jiwa remaja yang labil, dipaksa mengambil keputusan berat. Bukan sekadar membantu teman untuk tetap bertahan, atau sekadar menyelesaikan pekerjaan rumah. Para remaja ini dididik untuk menyelamatkan dunia! Setelah invasi pertama makhluk bugger dari planet misterius berhasil ditumpas oleh legenda Mazer Rackhman, lalu invasi kedua juga berhasil digagalkan. Kali ini mereka akan menghadapi invasi ketiga, tapi kali ini lain. Invasi ketiga ini, justru manusia yang akan menyerang terlebih dulu. Maka disusunlah agenda… “Kita adalah invasi ketiga!”

Andrew ‘Ender’ Wiggin adalah anak istimewa. Di sebuah masa depan yang tak jauh dari sekarang, penduduk bumi diharuskan memiliki hanya dua anak. Ia terlahir nomor tiga, sebut saja seorang Third. Kakaknya Peter Wiggin adalah jenius ambisius dengan obsesi Alexander Agung, maka ia lebih dekat Wiggin kedua, Valentine yang sabar dan penyayang. Jarak umur mereka tak terlalu banyak, dua tahun tiap anak, jadi bertiga terasa akrab. Kisah pembukanya, dilakukan operasi terhadap Ender untuk melepas ‘monitor’ di lehernya, ia tak butuh pengawasan lagi. Sebagai anak ketiga, memang harus dilakukan control dan kini ia sama dengan Peter dan anak-anak lainnya. Ender adalah separuh Peter, separuh Valentine.

Di masa itu, bumi sudah bisa menciptakan koloni di planet lain. Untuk menjaga dari serangan bugger (semacam alien berbentuk belalang dari planet misterius) ada pangkalan militer di planet Eros. Tersebutlah Kolonet Graff yang tugasnya merekrut pasukan muda untuk dididik. Dan dari pengawasannya, ia pun meminta Ender bergabung sebab dalam sebuah bully di sekolah, Ender berhasil melakukan perlawanan terhadap rekan yang membully, Stilson mengakibat cedera parah. Ender tak tahu, cedera itu padahal kematian. Ender didatangi sang colonel, menawarkannya. Jika diambil kesempatan itu, maka hubungan dengan keluarga Wiggin otomatis akan terputus, karena pendidikan militer dilakukan di sebuah pesawat ulang aling yang disebut Battle School. Dan berangkatlah Ender, meninggalkan kedua orang tua tercinta, dan terutama sekali kakaknya tercinta Valentine di usia enam tahun. “Aku takut, tetapi aku akan ikut denganmu. Inilah tujuan aku dilahirkan jika aku tidak pergi, mengapa aku tetap hidup?”

Ada film tentang invasi Bugger terkenal The Scatching of China, The Battle of the Belt. Kematian, penderitaan, dan teror dengan bintang Mazer Rackhman, melakukan maneuver brilian untuk menghancurkan pasukan musuh yang berukuran dua kali dari ukurannnya dan memiliki kekuatan dua kali lipat, menggunakan kapal manusia yang kecil, yang tampak lemah dan rapuh. Seperti anak-anak berkelahi dengan orang dewasa, dan ia menang. Film ini berdasar kisah nyata, sang legendaris Mazer!

Keberangkatan Ender sungguh mengharu. Pengin nangis rasanya, pas dia meninggalkan Greenboro dibawa Graff ke mobil, dan anak seusia itu mengucapkan selamat tinggal ke keluarganya. “Bunuh Bugger-Bugger itu untukku!” kata Peter. “Aku menyayangimu, Andrew!” teriak Ibu. “Kami akan menulis surat untukmu!” kata Ayah. Dan Valentine menggenapi kesedihan dengan berkata, “Kembalilah kepadaku! Aku mencintaimu selamanya!”

Ender yang istimewa memang sudah dipersiapkan untuk menyerang Planet Bugger, sebelum mereka invasi bumi. Pelatihan total di sini nantinya mencapai usia 7-8 tahun, selama itu Ender hanya pulang sekali, itupun ga langsung ke rumah, tapi ke sebuah rumah pinggir danau dengan ilustrasi ciamik, rakit buatannya selama dua bulan, berenang dengan Valentine, menikmati senja, yang nantinya menjadi impiannya lagi ketika harus melanjutkan sekolah di Command School di planet Eros. Penggambaran impian sederhana tapi sungguh efektif. Laiknya impian Thanos yang menyeimbangkan semesta dengan jentikannya, demi menikmati cahaya mentari di waktu sore. Sedih sekali pertemuan Valentine dan Ender di rumah danau itu. Setelah sekian tahun tak bertemu, mereka melepas rindu dengan absurd lalu berpisah lagi untuk masa yang tak pasti.

Menuju langit, menuju Battle School, laik sekolah pada umumnya ada seteru, ada genk, ada kepenatan rutinitas. Tugas mereka ya belajar: lebih banyak simulasi, lebih rumit dari ansible. Pertarungan pesawat ulang-aling melontarkan tembakan ke bugger, latihan fisik, fisika, orbit astronomi, pemograman, sampai defensif melawan tekanan. Semua disajikan dengan keren dan megah.Butuh pemikiran jenius untuk mencipta setting imaji semacam itu. Seperti Star Trek atau Star Wars, tapi ini untuk anak-anak. Ada gim yang mencipta petualang, ada raksasa di sana, Ender berhasil merubuhkannya. Raksasa itu tewas di sana, tak ada yang ‘membereskan’ yang nantinya di ending menjadi sebuah kejutan bagus. Mereka menyebutnya jasad Sang Raksasa. “Ingatan memang menipu kita.”

Di kelas awal ia tergabung ke kelas Salamander dengan kode warna Hijau Hijau Cokelat yang dipimpin oleh Bonzo Madrid. Nama-nama pasukan diambil dari nama hewan: Salamnder, Kelinci, Tikus, Lipan, Phoenix, Naga, Griffin, Harimau, dst. Awal yang kurang bagus, karena ia berseteru dengan pimpinannya. Ada ambisi dan emosi di sana. Nantinya kita tahu, hubungan mereka berakhir bencana. Dalam sebuah perkelahian, pilihannya kau yang mati atau aku. Sulit sekali menentukan, tapi pesawat harus terus melaju kawan. Jadi permainan di sini adalah pasukan membentuk kelas, akan ada pertarungan tiap tim, siapa menang-kalah akan tercatat digital, penilaian tim, individu, sampai kekompakan. Dan karena karakter utama di sini Ender, layaknya Harry Potter dalam Hogwart School, pastinya ia yang terpilih yang menang dan jagoan. Ender berganti-ganti kelas, dan kode warna tentunya, dan ketuanya. Ender Wiggin, bocah kecil pemimpin peringkat.

Singkatnya, ia lulus memuaskan. Berteman dengan siswa lain yang nantinya ketika Ender memegang tampuk pimpinan pasukan menjadikan mereka orang-orang pilihan dalam perang: Alai, Petra Arkanian, Hot ‘Bean’ Soup, Crazy Tom, Rose the Nose, Dink Meeker, Carn Carby, dkk. Menyenangkan sekali membaca kemampuan memimpin Ender yang tegas, lugas tanpa kompromi. Bayangkan, remaja dengan pola pikir brilian.

Lalu selepas dari Battle School, Ender dan pasukan yang lulus dikirim ke planet Eros untuk belajar lebih jauh dalam Command School. Kejutan terjadi di sini. — spoiler — Mazer Rackhman belum mati. Ia hidup ratusan tahun, dari invasi pertama yang fenomenal itu, ia tak kembali ke bumi. Rotasi planet, revolusi semesta mencipta ia panjang umur. Teori ini sudah banyak beredar, karena satu tahun di bumi tak sama dengan satu tahun di planet lain. Mazer mengorbankan waktu bersama orang-orang terkasih, anak istrinya. Hiks, sedih bagian ini. Karena jika ia pulang, jelas mereka sudah tiada. Hal ini berlaku juga untuk Ender nantinya. Kalian sudah nonton film Interstellar? Nah, semacam itulah. Jadi Mazer menjadi mentor Ender, menciptanya menjadi elit komandan untuk menghancurkan Bugger. Melalui video-video perang di invasi sebelumnya, tanpa sensor mereka mempelajari entitas bugger dan strateginya.

Kejutan besar dicipta di dua bab akhir. Kalian akan terkejut karena permainan yang dimaksud tak seperti yang dikatakan, invasi itu tak segamblang yang disampaikan. Ender yang berjiwa besar dan memiliki empati tinggi dikhawatir tak tega membunuh alien bernama Bugger, maka disusunlah strategi itu. Saya tak mau bercerita detail di sini, agar kalian bisa merasakan sensasinya. Lalu ketika Ender menginjakkan kaki di Planet Bugger, yang kini dia sudah di usia senja, ia melakukan sebuah kontradiksi dari apa yang diajarkan di sekolah tempur. Semoga Mizan Fantasi menterjemahkan sekuel Ender’s Game. Apa sudah ada edisi Indonesia Speaker for the Dead?

Setiap awal bab, kita disuguhi dialog tanpa nama karakter misterius, walau sebagian ketebak pasti Graff dan para pengajar sekolah militer tapi tak pernah jelas siapa saja yang berkomunikasi. Kecuali bab terakhir berjudul ‘Juru Bicara untuk Orang Mati’, di mana kejayaan sudah diraih lalu Ender mencipta keseimbangan semesta. Karena Ender sudah menjelma legenda seperti idolanya. “Ya Tuhan, ia harus genius sekaligus asyik.”

Buku ini pertama terbit tahun 1977, jauh sebelum sosial media merebak seperti sekarang. Orson Scott Card sudah menjelaskn dengan detail bahwa dua penulis misterius bernama Locke (Valentine) dan Demosthenes (Peter) mengguncang dunia. Memengaruhi keputusan penting para kepala Negara, mencipta kedamaian internal bumi atau kemerdekaan planet lain. Liga Dunia, Pakta Warsawa, Arahan Strategos, hegemoni Amerika Utara. Banyak yang tak tahu, penulis web fairyland adalah para remaja. Kalau kita baca sekarang, mungkin tampak wajar karena sosial media memang ranah gaib, di Ender’s Game di tahun 1970an sang Penulis sudah memprediksi. Tak menutup kemungkinan, perang antar bintang, jelajah semesta, menginvasi alien, sampai mencipta koloni baru di Mars menjadi nyata ‘kan? Inilah gambaran menakjubkan, segaligus mengerikan sebuah masa menuju Akhir Dunia, sebuah tempat di Ujung Dunia yang misterius.

Dia telah mati karena kita melupakannya. “Valentine menyayangiku.” Semuanya berjalan baik, sangat baik. Aku tak bisa mengharapkan lebih daripada itu…

Ender’s Game | By Orson Scott Card | Diterjemahkan dari Ender’s Game | Terbitan Tom Doherty Associates, LLC | Penerjemah Kartika Wijayanti | Penyunting Nunung Wiyati | Pemeriksa aksara: Pritameani | Copyright 1977, 1985, 1991 | Hak terjemahan Penerbit Bentang | Cetakan I, Oktober 2013 | Penerbit Mizan Fantasi | Penata aksara Adfina Fahd & Arya Zendi | Desain sampul Oddlot | Penata sampul Tri Raharjo & Arya Zendi | ISBN 978-979-433-747-9 | Skor: 5/5

Karawang, 240320 – Dewi Lestari – Malaikat Juga Tahu

Thx to: Bustaka Taman Baca Galuh Mas, KarawangBuku ini kumulai baca pada hari Sabtu, 13 Maret. Dilanjutkan Minggu, 14 Maret di masjid Depok Utara, lanjut lagi seminggu kemudian. Selesai baca pada hari Minggu dini hari sd. subuh, 22 Maret 2020 ketika insomnia.

Calon Bini: Michelle Ziudith Wanita Terbahagia

Setiap orang memiliki sayap. Tinggal bagaimana cara kita untuk menerbangkan sayap itu.”

Film yang sekadar fun. Lupakan logika, lupakan cerita, lupakan segala hal yang memusingkan juga. Mari ketawa ketiwi bersama Calon Bini. Setiap setting di Yogyakarta, auranya langsung komedi dengan logat kental Jawa, setiap setting di Jakarta jadi horror, eh maksudnya jadi serius. Sejatinya, ini juga memberi gambaran kenyataan hidup saat ini, bukan?
Kisahnya tentang Ningsih (Michalle Ziudith) yang baru lulus sekolah kabur ke Jakarta, karena dilamar (lebih tepat diteror sih) sama anak lurah yang error. Mengandalkan harta dan jabatan bapaknya (Butet Kertaradjasa). Orang tua Ningsih Pak Maryadi (Marwoto) dan Bu Ngatinah (Cut Mini Theo) tentu saja tak setuju, ia mengizinkan anaknya untuk mengejar mimpi. Merantau ke ibu kota. Menjadi pembantu rumah tangga. Adegan ia naik kereta api dengan dikejar Sapto tampak annoy. Namun ya sudahlah…

Sementara pamannya Pak Le Agung (Ramzi) dan istrinya yang sering dilobi Pak Lurah mencoba membantu memuluskan rencana pernikahan Ning dengan Sapto (Dian Sidik). Dijanjikan banyak hal, menengahi, mengompori. Sejatinya juga tak setuju, tapi terlihat jelas ia hanya mengikuti ke mana arah mata angin kerentungan materi berhembus. HP nya masih monoponik, motornya masih Astrea Bebek jadul, gambaran orang sederhana pada umumnya.

Ning bekerja pada keluarga kaya raya Pak Prawira (Slamet Raharjo) dan istrinya (Minati Atmanegara), memiliki anak laki yang sedang kuliah di Amerika Serikat, Satria Bagus (Rizky Nazar). Sementara Oma (Niniek L. Karim) yang sakit lebih sering di kamar. Ia begitu merindu cucunya, karena hanya Satria yang bisa mengerti hati tua yang rapuh.

Ning bekerja sama senior yang tak kalah aneh, Marni (Tuniza Icha). Sopir Barjo (Eko Mulyadi) yang kocak, sama saptam Gempol (Anyun Cadel) yang juga komikal. Keluarga kaya ini suatu hari mengalami sebuah momen yang tak akan dilupakan. Kedua majikan keluar negeri, rumah itu dijelajah sama keluarga besar Ning yang ramai-ramai ke Jakarta. Menguasai rumah mewah itu. Oma menyambut, dan Ning yang hanya pembantu menjelma sang putri, walau banyak adegan absurd.

Sementara dalam instagram, dunia anak muda yang sesungguhnya terjadi. Ning sering pamer foto, mengejar mimpi, mewujudkan cita-cita, menggapai masa depan. Ditanggapi akun misterius Jejak Langkah. Mereka tukar nomor, saling ‘cumbu’ kalimat motivasi, saling menguatkan, dan mencipta cinta. Kita yang sudah tua, hanya bisa mengernyitkan dahi. Anak muda sekarang, belum pernah ketemu, hanya kenalan di dunia digital, media sosial bisa menjelma sepasang kekasih. Ah sudahlah… ini kan komedi.

Ketika majikan pulang, mendapati rumah mereka hancur, tentu saja marah besar. Mengusir Ning dan mengirimnya pulang kampung. Di rumah, anak pak lurah yang error sudha menanti, dan mereka pun segera persiapkan pernikahan. Ga perlu lamaran belibet, hari itu keluarga pak Lurah datang langsung bawa penghulu, bawa banyak orang. Nah di sinilah, terjadi puncak kekonyolan. Bak sebuah sandiwara radio yang penuh dramatisasi, sang calon bini diselamatkan!

Sejatinya boleh saja mencipta film komedi dengan banyak slapstick, tapi benang cerita juga dirasa sangat rasional. Saya pernah nonton film komedi Preman In Love di sebuah bus umum yang melaju dari Karawang ke Bogor, film itu lucunya bikin seisi penumpang terpingkal-pingkal, lucu yang benar-benar pecah. Seperti itulah komedi sejati, benang merah masih masuk, terbahak-bahaknya pecah maksimal. Calon Bini gagal kea rah sana.

Lagu Wanita Terbahagia milik Bunga Citra Lestari yang menjadi soundtrack cukup mengena karena ending-nya memang sweet, bahkan terlampau manis. Cinta beda kasta – terwujud, Cinderela yang dijemput pangeran dalam alur modern, dramatis lagi! Tak perlu sepatu kaca, hanya chat sosmed yang membuncah, kurang suka film yang terlampau eksplore isi chat. Kutipan puisi dan kalimat motivator ala ala Mario Tegar, biarkan para pengisi ceramah yang melakukan.

Banyak hal yang bisa dikomentari miring, tapi ya sudahlah. Ini memang sekadar kisah lucu-lucuan. Setelah film usai, jangan langsung matikan videonya. Nikmati bloopers yang tersaji. Ramzi yang orang Sunda berakting Jawa, sungguh bagus, ada kata kasar refleks diujar. Ziudith belajar bahasa Kalimat-kalimat belibet, yang disodorkan cukup menghibur, bahkan sekadar orang tua yang tersangkut di pagar rumah. Bloopers semacam ini selalu berhasil menarik penonton untuk tetap duduk, menutup film komedi dengan senyum merekah. Salute buat Dian Sidik akting di penghujung film. Keren!

Lihat cewek cantik mengucapkan kata-kata bahasa Jawa Kromo Inggil selalu membuatku meleleh. Klepek-klepek… Inggih… kesemsem. Michelle Ziudith adalah Wanita Terbahagia.

Calon Bini | Tahun 2019 | Sutradara Asep Kusdinar | Skenario Titien Wattimena, Novia Faizal | Cerita Sukdev Singh | Pemain Michelle Ziudith, Rizky Nazar, Slamet Rahardjo, Niniek L. Karim, Cut Mini, Dian Sidik, Minati Atmanegara, Butet Kertaradjasa, Ramzi, Maya Wulan, Yuniza Icha, Eko Mulyadi | Skor: 2.5/5

Karawang, 230320 – Peterpan – Aku & Bintang