Burning: Perspektif Kenangan yang Terbakar

Hae-ri: “Why we do live. What is the significance of living? People always looking for these answers. This kind of person is really hungry, they called the great hungry.”

Ketika berhasil menjinakkan api, manusia memperoleh kendali atas suatu kekuatan yang patuh dan potensi tak terbatas. Manusia bisa kapan dan di mana harus menyulut api, dan manusia mampu mengekploitasi api untuk tugas apa saja. Penjinakan api adalah pertanda awal hal-hal yang kemudian terjadi. (Sapiens, Yuval Noah Harari).

Menuturkan kisah yang efektif tidaklah mudah. Kesulitannya bukan dalam menuturkan kisah itu sendiri, meyakinkan semua orang untuk memercayainya. Burning dengan jitu melilit pikiran penonton untuk memercayai isi kepala sang karakter utama. Apa yang bisa komentari mengenai kehidupan spiritual dan mental? Upaya apa untuk menjabarkan rincian spesifik spiritualitas tetaplah sebuah spekulatif. Inilah film misteri, tentang ketimpangan ekonomi, tentang cemburu, tentang bara api, dan kucing.

Kisahnya tentang pengangguran yang mendamba cinta, menginginkan perbaikan kehidupan. Penuh perenungan dan jab menohok. Dibuka dengan adegan aneh, seks kilat yang mencipta teman lama yang kembali terekat. Shin Hae-mi (Jong-seo Jun) adalah seorang SPG (Sales Promotion Girl) sebuah mini market yang mempromosikan produk di pinggir jalan, melihat sobat lama Lee Jong-su (Ah-In Yoo) memberi kupon undian bernomor. Jong awalnya ga mengenali teman SD-nya. Dalam undian curang, Jong mendapatkan jam tangan pink, dengan gontai menerima, dan mereka pun menepi. Menjelaskan hal-hal yang terlewat. Jam tangan itu pada akhirnya diberikan ke Hae-ri sebagai hadiah, dan ia dengan santuy bilang, belum pernah ada yang memberinya jam tangan. Ga nyangka benda ini jadi eksekusi kunci. Merokok bersama, lalu meminta menjaga kucingnya untuk diberi makan di apartemen yang berantakan, ia akan berpetualang ke Afrika beberapa hari. Perjumpaan teman lama itu berakhir dengan seks. Jong melihat keluar jendela, lalu mencipta imaji. Mencipta perspektif kenangan akan sebuah rasa. Tak perlu banyak kata, Jong jatuh hati. Jong adalah kita. Jelata, jombless (jobless dan jomblo), pencicil utang, seolah jelek nasibnya.

Sekembali dari Afrika, Hae-mi minta dijemput di bandara. Terkejut ia diperkenalkan cowok tajir Ben (Steven Yeun). Ketika truk bobrok Jong-su dijejer mobil olahraga Ben, betapa jomplang-nya status. Lebih sakit lagi, Hae-mi akhirnya malah memilih nebeng Ben. Sakit bro. dari sinilah permasalahan hati dibawa. Ben yang tajir, kaya, dan eheemmtamvan tampak membuat iri dan tersamar benci. Mari kita tegaskan bahwa kebencian terhadap kemewahan bukanlah kebencian yang baik. Kebencian ini melibatkan kebencian terhadap seni.

Namun masih samar, maka mereka turut jalan bareng lalu ngopi, ngerumpi, sampai menikmati senja. Adegan ketika Jong duduk satu meja sama Ben, sementara Hae-mi ‘menari’ ditempa cahaya matahari sore tanpa baju sungguh eksotis. Ekspresi menggairahkan, memesona seolah mencium senja, mendekap dalam gelimang rona silaunya. Tarian pencarian makna hidup! Ada pemandangan yang lebih megah dari lautan yaitu langit senja, ada pemandangan yang lebih megah dari langit senja yaitu lubuk hati yang paling dalam dan tersembunyi pada manusia. Keluarkanlah, ekspresikan dirilah, tunjukkanlah. Dunia tahu, Lee sukses membuat pana kita semua.

Dari pertemanan ini, Jong tahu bahwa Ben hobi melakukan pembakaran rumah hijau (gubuk tanaman) di ladang sepi. Hati-hati berteman, apa yang ditutur bisa mencipta tindakan lajur berikut. Jong jadi kepikiran mengikuti tindakan si tamvan, mensurvei rumah hijau di ladang sekitar. Sempat akan melakukan, tapi niat itu selalu terhenti di saat-saat akhir. Sementara itu, Hae-mi menghilang. Terakhir bertegur sapa, melarang membuka baju di depan orang seenaknya sendiri. Dan beberapa tatapan manyun. Jong mencoba mencari.

Di kosnya, pencet bel ga pernah digubris, kode masuknya diganti. Maka ketika induk semang, membolehkannya masuk betapa kejutnya ia melihat kosnya rapi. Sangat rapi untuk seorang cuek bebek dan berjiwa bebas. Beberapa momen dihirup, kenangan, waktu, momen. Betapa kejam sebuah memori, menancap tajam nan pekat tak terelak, Jong merindu. Dan curiga… benar, ini mungkin sekadar kenangan usang, tapi api cemburu memainkan peran krusial di sini.

Maka ia pun memutuskan menguntit si tamvan. Beberapa fakta mengejutkan. Ketika ia kepergok, justru diundang masuk ke apartemen-nya untuk sekadar pesta kecil-kecilan sama teman-teman kaya-nya ngebir, ngerumpi, ketika tahu ia memelihara kucing, dan ketika mencari di parkiran menemukan fakta mencurigakan karena kucingnya bernama sama dengan ‘kucing’ Hae-ri. Jelata tak bisa menyatu dalam ikatan sosial jetset yang terlihat erat. Dan segala kemarahan itu menemukan klik saat menemukan jam tangan pink Hae-ri di lemari kamar mandi aparteman Ben. Mematik sebuah klik, bakar! Bukan pembakaran di luar, tapi sulut panas dari dalam. Dan kalau sudah memainkan hati, segala hal bisa terjadi.

Sejatinya film bagus harus menuntut penonton terlibat. Dalam Burning, kita diajak mencari Hae-ri sebab sampai akhir pun kita tak terjelas, ke mana nasibnya. Penonton juga diajak memasuki jiwa sepi Jong, melibat emosinya, menyatu dalam jiwa miskin-nya. Kalian tentu sedih sekali ketika menatap satu-satunya sapi kesayangannya terpaksa dijual, ga semenangis seperti ambil paksa dalam Max Haveelar, tapi jelas keadaan yang menciptanya sama kejamnya. Penonton turut pula dalam banyak kebimbangan Jong. Nah, di sinilah kehebatan utama kisah ini. Burning benar-benar membara. Beberapa perspektif yang bisa dituai. Entah kenapa saya menjadi risau setiap menit saat Jong ragu mengambil keputusan, takut terjerebab. Dan ending-nya luar biasa. Keberanian dibalut kilatan amarah mencipta sulut ledak. Semacam Api sembah yang dinyalakan di kuil Zoroaster.

Berdasarkan cerita pendek karya Penulis favorit Haruki Murakami berjudul Barn Burning yang terjilid dalam kumpulan cerita The Elephant Vanished. Burning menjelma cekam bahkan setelah bermenit-menit credit title selesai berjalan. Tanya apa yang sejatinya terjadi? Film ini juga diinspirasi dari cerpen-nya William Faulkners tahun 1939, dengan menyebut cerita remaja Faulkner yang hidup di dunia Murakami.
Sebuah film yang mencipta spekulasi, ending menggantung dan menantang tanya ke penonton, gmana nasib sang cewek? Memainkan pikiran, menantang kenangan, membuat misuh, sampai puncaknya kejutan di ending dengan bakar, dalam arti sebenarnya. Seperti yang saya bilang di awal Jong adalah kita, jadi otomatis saya sepakat Ben adalah pembunuh. Bisa jadi yang membedakan, kita mungkin tak akan seberani dia ‘membakar’. Salute!

Seperti kata Murakami di novel Norwegian Wood, “Aku ini manusia yang sudah tamat. Yang ada di depanmu sekarang tidak lebih hanya sisa kenangan diriku. Sesuatu yang terpenting yang dulu ada di dalam diriku sudah lama mati, dan sekarang aku hanya bergerak mengikuti kenangan itu saja.”

Burning | South Korea | Original Title | Year 2018 | Directed by Chang-dong Lee | Screenplay Jungmi Oh, Chang-dong Lee | Based on short story Barn Burning by Haruki Murakami | Cast Ah-In Yoo, Steven Yeun, Jong-seo Jun, Soo-Kyung Kim, Seung-ho Choi, Seong-kun Mun, Donald Trump | Skor: 5/5

Karawang, 20 sd. 21-03-20 – Krisdayanti – Pergi Saja