Invisible Man: Thriller Kamuflase Optikal

Cecilia Kass: “He said that whatever I went, he would find me, walk right up to me, and Ia wouldn’t be able to see him.”

Sesuai judulnya, inilah film penuh kamuflase. Kamu ga akan pernah tahu siapa sosok dibalik jubah-gaib itu. Di hari yang istimewa 16.03.20 saya cuti tahunan untuk hanya menikmati hari. Ga ada acara khusus bersama keluarga atau keperluan ga penting administrasi negara, hanya benar-benar menikmati hari. Dari Jam 08:00-17:00 dipenuhi buku dan film. Babad Kopi Parahyangan (Evi Sri Rejeki) kutuntaskan dari pagi ke sore, hanya diselingi makan siang, sholat dan menonton Invisible Men.

Film terbaik 2020 sejauh ini. Filmnya twist. Karena sang antagonist memiliki kemampuan ‘menghilang’ segalanya mungkin bisa dilakukan di layar. Saya sudah menutup mata dan telinga, hanya mendengar bahwa tomat fresh, dan beruntung sekali kejutan-kejutan itu merasuki dengan syahdu. Dunia adalah tempat yang keras, dan tidak ada seorang pun yang dapat lari kekerasan itu.

Kisahnya tentang cinta dan perlawanan. Dibuka dengan perlahan, ombak menyapu karang, membentuk tulisan dengan iringan skor mencekam. Ini adalah kisah istri yang kabur dari suaminya yang mengerikan. Cecilia Kass (Elizabeth Moss) melarikan diri dari suaminya Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen) dari rumah pantai yang mewah. Dengan membawa obat anti-kehamilan, yang terjatuh. Ia berlari sekuat tenaga subuh itu, melompati pagar, menanti di pinggir jalan, dijemput adiknya Emily Kass (Harriet Dyer). Lalu ia tinggal bersama sobatnya James Lanier (Aldis Hodge) seorang polisi dan putri semata wayangnya Sydney Lanier (Storm Reid) yang bercita kuliah di fashion. Alasan kaburnya dijelaskan dengan intens, dijelaslah pelan nan cekam diringi skor yang sangat mendukung. Adrian adalah ilmuwan optikal yang bisa membaca pikiran, bisa ‘menghilang’ kan hal-hal yang terlihat. Hidup bersama Zeus, anjingnya. Cecil lelah, karena ia terintimidasi, ia tak ingin memiliki anak dari seorang freak. Dengan berhasil keluar dari istana pantai itu, sementara aman…

Lalu kabar bagus muncul, dua minggu pasca kabur, Adrian tewas, kabar itu disampaikan oleh Tom Griffin (Michael Dorman) adiknya, bahwa sang ilmuwan meninggal dunia karena bunuh diri, mewariskan jutaan dollar yang ditransfer bertahap, syarat menjadi hak waris adalah tak melakukan kriminal. Makin lega? Sebagian uangnya diberikan ke Sydney untuk kuliah, hufh… tampak menjadi cerita bahagia. Tampaknya. Karena ini thriller, tentu saja tidak, saya ga akan melabeli film bagus kalau hanya menuturkan hura hura pesta, dilimpahi warisan jutaan dollar!

Teror dimulai dari sini.

Cecil merasa ada yang mengawasi, di rumah ia menemukan bukti-bukti kehadiran almarhum. Telepon berbunyi ‘kejutan’ dan di langit-langit ada bukti bahwa Adrian masih hidup. Ia dianggap gila, Tom meyakinkan Cecil, kakaknya udah tewas, kita tahu mayatnya sudah menjadi abu. Ok, kita semua turut sanksi. Biar lebih gereget, James marah karena suatu kali Cecil menampar Sydney, lalu mengasingkannya. Emily turut dijauhkan, dicipta marah, karena menerima email hujatan darinya, walau dibantah ia tak mengirim, tetap saja sang adik memisahkan diri dengan manyun. Cecil terasa sendiri lagi. Dalam penelusurannya, ia kembali ke rumah pantai, menemukan alat yang dicipta suaminya, sebuah suit untuk dikenakan, tak terlihat. Baju invisible. Semacam jubah gaib-nya Harry Potter, kali ini didesain dengan canggih, di mana setiap titiknya ada kamera mini, menimbulkan suara bemerisik seperti gesekan halus makhluk luar yang bersenggama.

Ketika ancaman semakin nyata, ia meminta ketemu adiknya di kerumunan, ia akan menjelaskan sejelasnya apa yang dirasa. Di sebuah restoran, terjadilah tragedi. Emily dibunuh dengan pisau oleh sang Invisible Man, pisaunya dialihkan ke Cecil. Dengan begitu ia pun ditangkap, kasus tingkat satu. Ketegangan meningkat drastis, thriller mengerikan menanjak ke level tinggi.

Cecil diisolasi dalam penjara mental. Dari hasil lab, ia ternyata hamil. Obat yang diminumnya telah diubah, makin pening. “Ada banyak alasan seseorang terluka, dan seringkali kejadiannya tidak separah seperti yang terlihat. Aku perempuan, jadi aku sudah biasa melihat darah – setidaknya setiap bulan. Kau tahu maksudku?”

Ketika Tom berkunjung, ia meminta kembali ke awal. Hidup bersama sang psikopat dengan melahirkan bayinya, diminta tanda tangan kesepakatan. Sang jagoan tentu saja menolak, ia tak mau hidup dalam tekanan seperti ini, aku apalagi adiknya telah terbunuh, menyebut Tom sebagai Adrian dengan hati yang lembek – sang jellyfish. Maka keputusan nekad diambilnya, ia menyembunyikan bolpoin tajam yang ditempel lem sisa di atap ruang isolasi, lalu melakukan berencana bunuh diri. Ancaman yang digagalkan invisible man karena meminta anaknya harus lahir, pertarungan, adu tembak, adu strategi terjadi di sini. Sampai akhirnya jatuh korban lewat letupan dari mereka. Siapa yang unggul?

Kalian akan terkejut. Saya jamin.

Yang mengendalikan masa kini mengendalikan masa depan: yang mengendalikan masa kini mengendalikan masa silam. Lalu dimanakah masa silam itu ada, kalau memang ada?” – 1984, George Orwell.

Dengan hanya mengenal Elizabeth Moss, saya benar-benar menikmati segala kejutan itu. Nyaman sekali, enak sekali, tanpa kena bocoran. Ga tahu cast and crew dibaliknya selain Moss, mencipta daya ledak luar biasa. Gabungan horror untuk musuh yang tak terlihat, sci-fi untuk temuan jubah gaib-nya, sampai thriller penuh ketegangan adu cerdas. Setiap detik begitu berharga, setiap helaan napas menjadi begitu mencekam karena musuh tak terlihat! Bisa dimana saja, bisa di pojok ruangan mengamati kita, bisa di kolong meja, menghitung kuman di jari kaki kita, bisa juga menatap tembok, hening, bisa juga menggunakan pisau apel untuk mengupas yang bukan apel. Sebuah pilihan tak terduga bisa dicipta setiap saat. Bahwa peristiwa yang terjadi dalam hidup ditentukan oleh kehidupan kita sebelumnya. Bahkan dalam peristiwa kecil sekalipun tidak ada yang terjadi karena kebetulan.

Saya belum nonton Hollow Man (2000) yang katanya mirip atau film serinya tahun 1933-1954, film dengan jubah-gaib seperti ini merupakan pengalaman menakjubkan. Petualangan melawan manusia tak terlihat, petualang Alice in Wonderland hingga paradoks-paradoks fisika kuantum. Memarahi kehampaan udara? Berbicara dengan tembok, karena meyakini ada manusia lain di dalam ruangan yang kasat mata? Tirai kesenyapan telah dibuka! Mereka akan menyadari bahwa pilihan mereka hanya sekadar untuk mendapatkan sensasi kelegaan sesaat, bukannya melahirkan kebahagiaan yang sejati. Semakin tidak nyaman sebuah jawaban, semakin itu mendekati kenyataan yang sebenarnya. Dia memanfaatkan kemarahan menjadi bahan bakar ambisinya, balas dendam menjadi perenungannya.

Di dunia ini satu-satunya orang yang bisa diandalkan adalah dirimu sendiri. Cecil menghadirkan Tuhan di meja makan untuk menegakkan keadilan.

Invisible Man | Year 2020 | Directed by Leigh Whannell | Screenplay Leigh Whannell, | Cast Elizabeth Moss, Oliver Jackson-Cohen, Harriet Dyer, Aldis Hodge, Storm Reid, Michael Dorman | Skor: 4.5/5

Karawang, 180320 – Hanson – Optimistic (Live and Electric – Best of)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s