Buku Tentang Harapan (1/2)

Segala-galanya Ambyar by Mark Manson

Ulasan dibagi dalam dua bagian. Ini bagian pertama dari dua. Seperti bukunya, yang pertama tentang harapan yang lain adalah keambyaran.

Aku lebih memilih berserah pada sebotol minuman ketimbang menjalani frontal lobotomy.”Tom Waits

Cerita masa lalu menentukan jati diti kita. Cerita dari masa depan mennetukan harapan kita. Dan kemampuan kita untuk memasuki narasi-narasi tersebut lalu menghayati mereka, demi membuat narasi-narasi itu menjadi nyata, adalah yang memberikan makna pada kehidupan kita.

Inilah calon buku best-seller tahun ini (Selamat Grasindo). Terjemahan terbit bulan Februari, kubeli dan kutuntaskan baca bulan Februari 2020. Setelah kegemparan debut Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, seorang blogger kenamaan, kembali menerbitkan buku self improvement. Kali ini tentang harapan, dan hempasan yang menghantui untuk diwujudkan? Lawan dari kebahagiaan bukanlah amarah atau kesedihan. Lawan dari kebahagiaan adalah ketiadaan harapan, sebuah pemandangan kelabu keputusasaan dan kelunglaian. Lawan kebahagiaan adalah keyakinan bahwa segala-galanya ambyar. Mark Manson lebih matang di buku kedua ini. Harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental kita. Jika Anda tidak percaya ada harapan akan masa depan yang kelak lebih baik dari hari ini, bahwa hidup kita akan menjadi lebih bagus, maka secara spiritual kita mati. Maka dengan tema harapan, ia bersandar pada sesuah masa ke depan yang belum pasti. Karena tidak pernah ada cara untuk mengetahui secara pasti apakah Anda sudah menemukan yang tepat. Tidak peduli seberapa banyak sesuatu terjadi di masa lalu, tidak akan pernah bisa dibuktikan secara logis bahwa hal itu akan terjadi lagi di masa depan.
Inilah mengapa banyak orang berbondong-bondong mengadu ke agama, karena agama mengakui ketidaktahuan manusia yang bersifat permanen tersebut dan mensyaratkan iman untuk menghadapinya. Jangan tersinggung, agama menjadi tema yang banyak dikuliti di sini. Anda memiliki iman bahwa cinta adalah hal yang penting, pekerjaan juga hal yang penting, dan semua hal ini adalah sesuatu yang penting. Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah yang parah. Penyakit mental yang menghasilkan delusi, halusinasi, dan bentuk-bentuk yang barangkali, secara fundamental, merupakan disfungsi iman. Iman juga mengasumsikan bahwa tubuhmu nyata dan bahwa Anda bukan sekadar otak yang tersimpan di sebuah tong yang sekadar membayang-bayangkan semua persepsi pancaindera Anda.

Sebelum melangkah menuju harapan dan keambyaran, kita diputar-putar dulu tentang segala teori. Polanya, Mark bercerita banyak hal, setiap ada kutipan atau ide orang lain, ia membuat sejenis catatan kaki, tapi karena saking semangatnya catatan kaki bukan di ‘kaki’ di halaman bawah, tapi ditaruh di akhir buku. Jumlahnya 36 halaman! Nah. Alfred North Whitehead mengeluarkan pernyataan yang terkenal, bahwa seluruh filsafat Barat sesungguhnya hanyalah, “rangkaian catatan kaki untuk Plato”. Catatan yang tertera di sini, memang panjang dan berliku, tapi yang namanya catatan tambahan, tetap saja hanya catatan.

Buku dibagi dalam dua bagian: harapan dan segala-galanya ambyar. Di bagian awal kita diperkenalkan dengan Kebenaran Yang Menggelisahkan. Kebenaran yang menggelisahkan, sebuah kesadaran bisu bahwa di hadapan keluasan tanpa batas, segala yang kita kasihi sekejap menjadi hampa. Dibuka dengan kepahlawanan di dua perang dunia. Keberanian itu hal biasa. Ketabahan itu hal biasa. Tapi kepahlawanan memiliki unsur filosofis di dalamnya. Kalian kenal Witold Pilecki? Kalau tidak famili, sama. Ia adalah warga Polandia yang gagah berani. Warga Yahudi yang melawan Nazi-nya Hitler. Di pengujung hidupnya, ia berkata: “Aku telah mencoba untuk menjalani hidupku sebaik mungkin, maka menjelang ajalku kini yang kurasakan justru kegembiraan, bukan ketakutan.”

Dari buku ini, kita tahu Pilecki tampak sangat hebat, dan harapan mencatat apa yang mendorongnya. Sesuatu harus memiliki makna karena tanpa ada sesuatu yang bermakna, maka tidak ada alasan untuk terus menjalani hidup ini. Dan sebentuk altruism yang sederhana atau hasrat untuk meringankan penderitaan selalu merupakan resep pikiran kita untuk membuat suatu tindakan pantas dikerjakan. Suatu hari, semoga bisa membaca biografinya. “Perang tidak lain adalah ujian duniawi terhadap harapan.”

Hari demi hari, tahun demi tahun, hidup kita dibangun dari kisah-kisah pengharapan yang susul menyusul tiada henti. Kisah-kisah itu adalah wortel psikologis yang tergantung di ujung tongkat. Ketika punya sepeda jengki, kita mengharap Kharisma 250 cc, berikutnya berharap Agya Biru, berikutnya mengingin Innova, berikutnya mungkin mengingin helikopter pribadi. Hidup di rumah mewah pinggir danau dengan kesejukan alam ketika bangun di pagi hari. Itulah yang namanya sebuah ilusi. Kalau realitas bisa dijangkau masih, dalam lingkar pikir. Kalau enggak, itulah ilusi. Semakin baik keadaan yang kita dapat, semakin parah pula keputusasaan yang melanda kita. Itulah paradoks kemajuan. Dan barangkali ini bisa diringkas dalam satu fakta mengagetkan: semakin kaya dan aman wilayah uang Anda tinggali, semakin mungkin Anda melakukan bunuh diri. Semakin baik kondisi yang kita dapatkan, semakin cemas dan putus asa diri kita. Seperti kata Albert Camus, “Kamu tidak akan bahagia kalau terus mencari rumusan bahagia.” Dan Durkhein menyatakan bahwa semakin nyaman dan etis sebuah masyarakat, semakin pikiran kita membesar-besarkan kesembronoaan yang sepele. Reaksi-reaksi emosional kita terhadap aneka problem tidak ditentukan oleh ukuran problem tersebut.
Hidup yang baik bukan berarti menolak penderitaan, yang sesungguhnya adalah menderita untuk alasan-alasan yang benar.

Untuk membangun dan merawat harapan, kita membutuhkan tiga hal: kesadaran akan kendali, kepercayaan akan nilai sesuatu, dan sebuah komunitas. Represi Freud bahwa hidup ini kita jalani dengan menekan ingatan-ingatan masa kecil yang menyakitkan, dan dengan mengangkatnya lagi ke dalam kesadaran, kita membebaskan emosi-emosi negatif yang terpendam di dalam diri kita.

Pertama kendali diri. Dibutuhkan lebih dari sekadar kemauan untuk meraih kendali-diri. Rupanya gerak-gerak emosi kita turut menolong kita baik dalam membuat keputusan maupun bertindak. Kita hanya tidak selalu menyadarinya. Kita memegang erat narasi tentang kendali-diri karena percaya bahwa pengendalian diri secara komplit merupakan sumber besar harapan kita. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Ini karena tindakan adalah emosi. Kendali-diri merupakan problem emosi; kemalasan merupakan problem emosi; suka menunda merupakan problem emosi; ketidakmampuan meraih prestasi merupakan problem emosi; kegelisahan merupakan problem emosi.

Untuk melahirkan harapan dalam kehidupan kita, kita pertama-tama harus merasa seolah kita memiliki kendali terhadap kehidupan kita.

Kedua kepercayaan akan nilai sesuatu. Ada tiga tipe agama: Agama spiritual: kepercayaan pada benda-benda yang ada di luar dunia fisik dan material contoh Islam, Hindu, animisme; Agama Ideologis: harapan dari luar dunia natural contoh kapitalisme, liberalism, fasisme, nasionalisme; Agama Interpersonal: harapan dari orang lain contoh tokoh olahraga, pemimpin kharismatik, pemain sepak bola, Saoirse Ronan, sampai eheemmm… Sherina Munaf.

Agama spiritual tahan banting karena kepercayaan supranatural tidak pernah bisa dibuktikan keberadaannya atau dibuktikan ketiadaannya. Ideologi merupakan kepercayaan yang dikontruksi secara sosial yang sepenuhnya kita terima berdasar keyakinan belaka. Ideologi buruk macam rasisme atau seksisme langgeng lebih karena ketidaktahuan ketimbang kebencian. Sementara Interpersonal sepenuhnya adalah tentang kelekatan emosional. Dan cara terbaik untuk membangun kelekatan tersebut, adalah dengan membuat orang berhenti berpikir kritis. Bukti dipakai demi kepentingan-kepentingan nilai Tuhan, bukan sebaliknya. Saya tahu kita suka berpikir kita lebih memilih tinggal di sebuah dunia yang damai dan harmonis, tapi sejujurnya, dunia macam itu tidak akan bisa bertahan lebih dari sekian menit. Bagaimana cara Anda menjalani hidup ini supaya jadi bermakna? Inilah pertanyaan abadi manusia yang tidak pernah bisa dijawab, dan inilah alasan mengapa kesadaran akan rasa bersalah menjadi dasar hampir seluruh agama spiritual.

Ketiga komunitas. Pengalaman menghasilkan emosi. Emosi menghasilkan nilai. Nilai menghasilkan cerita-cerita tentang makna. Dan orang yang berbagi cerita makna yang sama, berkumpul bersama untuk menghasilkan agama. Ada benang merahnya ‘kan? Di era serba instan gini, kita memang menuju darurat kebersamaan sosial. Namun justru sekarang muncul epidemi Corona. Jangan panik, sementara batasi diri. Setiap orang memiliki kemampuan melawan kejahatan. Penyakit-penyakit terus meluas, tetapi begitu pula obatnya, karena harapan itu menular. Harapan adalah yang dapat menyelamatkan dunia. Tetap jaga kesehatan. Kita tahu kita harus berhenti merokok atau stop mengudap gula atau berhenti membicarakan kejelekan kawan kita di belakang, tapi kita (sayangnya) tetap melakukannya. Dan itu bukannya karena kita tidak cukup tahu, tapi karena kita tidak cukup merasa nyaman.

Kita adalah makhluk yang paling mudah terhipnotis saat tertimpa permasalahan. Orang-orang yang kehilangan imannya pada Tuhan yang spiritual, akan mencari Tuhan duniawi.

Masing-masing dari kita, ada kalanya, suka memperdaya diri sendiri dengan percaya bahwa apa yang baik untuk kita pasti juga baik untuk semua orang. Orang-orang memang memuakkan, dan hidup ini sungguh sulit dan tidak bisa ditebak. Kebanyakan dari kita menjalani hidup ini asal ngalir aja, dan sebagian malah sungguh-sungguh tersesat.

Semakin bertambah usia semakin terbuka pikiran, semakin pula menyadari banyak hal harus dipilah. Sering, seiring waktu, kita menyadari bahwa apa yang biasa kita yakini sebagai sesuatu yang penting tentang dunia ini, ternyata terbukti tidak begitu. Karena kita berhenti menghargai sesuatu, sesuatu pun tidak lagi menarik atau menyenangkan di mata kita. Sewaktu SD kita menganggap sepeda mini adalah impian besar, sewaktu SMP pacar cantik adalah idaman, sewaktu SMA pergi kuliah ke UN dengan jurusan dokter adalah hal tertinggi yang harus digapai. Setelah lulus, menikah dengan gadis pujaan menjadi prioritas, dst. Ini hanya perumpamaan, seiring waktu status penting akan terus berubah dan bertambah. Kedewasaan adalah kesadaran bahwa terkadang sebuah prinsip yang paling inti adalah tentang baik dan buruk yang tidak bisa ditawar-tawar, yang bahkan jika itu menyakitkan Anda hari ini. Kejujuran lebih penting ketimbang mendapatkan apa yang Anda inginkan atau meraih suatu target. Kejujuran pada dasarnya adalah baik dan bernilai, dalam situasi apa pun.

Ada sesuatu yang bernilai di sana, artinya Anda masih memiliki harapan. Ketiadaan harapan adalah akar kecemasan, penyakit jiwa, dan depresi. Kemajuan, menurut pendapat mereka, terus bergulir, tanpa putus, di sepanjang sejarah modern. Orang-orang semakin terdidik dan melek informasi ketimbang sebelumnya. Jadi, konfliklah yang menjaga harapan kita. Moralitas itu bisa diwujudkan di masa depan harus dimulai dengan sesuatu yang disebut amor fati, ‘cinta pada nasib seseorang.’ Dan harapan adalah penyebab sekaligus akibat dari keambyaran tersebut. Harapan di Yunani dipakai Hesiodos dengan ‘ekspektasi yang menipu’.

Ingat bahwa untuk merasakan harapan, kita perlu meyakini adanya masa depan yang lebih baik di luar sana (nilai); kita harus sungguh-sungguh yakin bahwa kita mampu meraih masa depan yang lebih baik tersebut (kendali diri); dan kita harus mencari orang-orang lain yang memegang nilai-nilai yang sama dan mendukung upaya-upaya kita (community). Jangan mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Cukup hiduplah dengan baik. Harapan pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri. Karena satu-satunya hal yang bisa menghancurkan sebuah mimpi adalah dengan mendapatkannya.

Pakar militer Carl von Clausewitz bilang, “Mau dibilang apa, perang adalah kelanjutan dari politik.” Pasca perang, Orang-orang belajar untuk menaruh harapan pada hal-hal yang sederhana: keluarga yang stabil, pekerjaan yang stabil, anak-anak yang aman – aman dalam arti sesungguhnya. Perang adalah buah dari harapan yang keliru. Formula Kemanusiaan berbunyi, “Bertindaklah dengan mendudukan kemanusiaan, senantiasa sebagai tujuan, bukan hanya sebagai sarana.

Bersambung…

Segala-galanya Ambyar | by Mark Manson | Diterjemahkan dari Everything is F*cked | Copyright 2019| Penerbit HarperCollin | ID 572040009 | Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) | Cetakan kedua, Februari 2020 | Alih bahasa Adinto F. Susanto | Tata isi wesfixity@gmail.com | Sampul wesfixity@gmail.com | modifikasi desain karya asli Leah Carlson-Stanisic | ISBN 978-602-052-283-8 | Skor: 4.5/5

Untuk Fernanda, tentu saja
Karawang, 290220 – 060320 – 140320 – Andra and The Backbone – Hitamku

Thx to Mira C

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s