Mencari Para Rasul yang Dilahap Ikan-Ikan Raksasa Bermoncong Hijau

Kitab Para Pencibir by Triyanto Triwikromo

Di mana kau sembunyikan sesuatu yang menyerupai laut?”

Kumpulan puisi yang bagus, sangat bagus, ga seperti kebanyakan puisi yang standar bersajak, tertata rapi dengan rata kanan kiri, satu halaman hanya berisi beberapa kalimat. Kitab Para Pencibir justru menampilkan kata-kata runut seolah fiksi mini. Karena kebanyakan adalah diskusi tuhan dengan seseorang. Dari musafir, para nabi, seorang yang memertanyakan semesta, sampai renungan kiamat yang absurd. Saya bisa menikmatinya, puisi yang umum agak susah dilogika, banyak penafsir multi. Di sini, walau juga bisa mencabang tafsirnya, setidaknya dibuat runut, nyaman, dan kocak.

Banyak memainkan ironi, lebih banyak lagi adalah tanya-jawab tuhan terhadap makhluknya.

Buku dibagi dalam judul Isi Kitab: Kalam Awal (satu puisi), Kalam Rahasia (38 puisi), Kalam Pengasingan (24 puisi), Kalam Waktu (37 puisi), dan Kalam Akhir (satu puisi). Ga ada aturan khusus, seperti biasa dalam menuturkan puisi, jadi ada yang panjang sekali dipecah beberapa frame, ada juga yang hanya satu kalimat. Jadi memang ngalir, banyak kalimat langsung. Nah, saya suka kalimat langsung. Kalimat langsung lebih bagus dikutip ketimbang kalimat sacral yang dimulai dengan kata ‘bahwa…’ Beberapa puisi yang kubaca, ga ada tanda baca, bahkan menghapus tanda petik jadi ga bisa membedakan mana yang diujar mana narasi. Di sini semua ditulis seolah cerita pendek, jadi bagi saya penyuka novel lebih mudah mengikuti. Hanya membaca nyaring yang kalimat berkutip, dan sungguh menggugah. Memang hebat Bung Triyanto saat memilih diksi pengandaian.

Kalam awal dan akhir hanya terdiri dari satu puisi.

Ziarah

Aku mencari-Mu.” / “Aku tak ada.” / “Bukalah pintu-Mu.” / “Taka da pintu untukmu.” / “Aku hendak menziarahi-Mu.” / “Aku bukan makam.”

Saya hampir ga pernah benar-benar terpesona buku kumpulan puisi. Mungkin ini pertama kalinya saya menyukainya. Rahasikanlah cintamu pada-Ku!

Rahasiakanlah cintamu pada-Ku. Jangan sampai angina mendengar meski sesulit apa pun. Rahasiakanlah cintamu pada-Ku. Jangan sampai senja melihat meski sezarah apa pun. Rahasiakanlah cintamu pada-Ku. Jangan sampai langit meraba meski selembut apa pun. Jadi, mengertilah, cintaku, sembunyikanlah tangismu meski seluka apa pun. Diamlah, aku membenci dunia yang gaduh.

Banyak tanya yang meminta pembaca menafsirkan sendiri jawabnya.

Mogok

Kalau Aku berhenti meneteskan embun di sehelai daun, apakah kau masih mencintai-Ku?

Ada juga sindiran seperti menuju ibu kota. Secara gamblang itu adalah demo para penista agama di Jakarta. Agama mana yang paling benar? Yang mayoritas? Yang kitabnya dibaca nyaman? Yang bisa membuat bahagia? Definisi bahagia sendiri menjadi kabur ketika kembali ke selera, atau sejenis selera, karena setiap individu memiliki standar berbeda.

Seperti Kabut seperti Maut.

Kau kegelapan yang menasukkan.

Bisikmu dengan isak tangis.
Senin kau bercakap-cakap dengan sungai yang jernih itu dan kau bertanya, “Di mana kausembunyikan sesuatu yang menyerupai telaga?”

Kalimat yang memajang karakter berkomunikasi dengan benda mati ada banyak. Di sini, kita memang harus bisa menempatkan diri, bahwa ini fiksi. Seperti lirik lagu, bercakap dengan tembok terasa lebih waras di lagu Sheila On 7 berjudul ‘Ketidakwarasan Padaku’, semacam itulah. Bung Triyanto dengan jitu menangkap kehampaan sebagai tema yang lebih nyaman. Sejatinya kita tak sendiri ketika tak ada manusia lain.

Puisi berjudul ‘Masa Depan’ dibuka dengan bagus, “Apakah aku hanya masa lalu? Apakah Aku juga punya masa depan?” Secara umum kita menafsir, ya aku masih bisa kamu perhitungkan ga ke depannya, atau cukup di sini? Tanpa menemukan jawab, lalu ditutup dengan kalimat datar. Hujan turun. Hujan selalu turun saat Aku bertanya tentang masa depan. Bagus ya, kita semua butuh kepastian, ga hanya seorang pacar yang menanti apakah kita akan lanjut ke jenjang penikahan, tetapi lanskapnya lebih luas lagi.

Kebahagiaan dan kepedihan datang tanpa mengetuk pintu.” Kata pelacur itu sambil sesekali menciummu. “Mereka datang seperti pencuri brutal.” Haha… pelacur dan manifestasi tujuan hidup.
Beberapa melibat karakter cerita umum, Kafka dalam Metamorfosis disebut. Oh kecoa yang malang ketika terbalik!!! 99 nama tuhan? Belum 99, masih 9 atau mungkin kurang. Masih harus Kusembunyikan kisah cintamu yang kautulis tergesa-gesa di hutan-hutan. Ada juga sang Penulis Peneliti ternama Charles Darwin yang bepetualang dengan kapalnya. “Dunia itu semacam bunglon yang berubah warna sepanjang masa. Dunia ini semacam satwa yang bermimikri semacam satwa yang menolak menjadi binatang fana.”

Jadi di mana ujung kehidupan? Apakah surga dan neraka ada? “Apakah neraka?” // “Ia semacam badai bunga.”

Beberapa tampak gombal, wajar sih. Sekalipun temanya adalah kitab, di belakang adalah pencibir. “Di mana tanda-tanda benci dipancangkan?” dengan lugas di-ping-bek “Aku tersesat dan tak menemukan gua untuk membaca arah cinta-Ku.”

Ngomongin puisi belum lengkap tanpa menyindir kata ‘senja’, tentu saja di sini ada. “Jangan pernah merasa membahagiakan senja jika kamu merasa dibahagiakan oleh senja.”

Dan karena ini adalah kitab, para alim ulama juga wajib hadir dalam merapalkan doa. “Jika kau seorang ulama, jangan sampai rakyat menafsirkan kitab secara semena-mena. Tafsirmu harus menjadi tafsir mereka. Jika kau menafsirkan hamparan yang membnetang itu langit, jangan sampai rakyat menafsirkan sebagai bumi.” Kalimat ini muncul dalam cerita membungkam suara rakyat. Ulama hanya perwakilan, yang lainnya juga ada tips and trick.

Mungkin yang paling aneh ada di sini. “Tolong belikan dua malaikat kecil, tiga botol air mata tuhan, tiga mangkuk darah perampok, dan tiga buku tentang keheningan.” Kata seorang tetangga sambil memberi segepok uang. Sepintas lalu saya mengernyitkan dahi. Seolah makhluk-makhluk yang disebut ada di toko kelontong. Baik, lalu “Berapa harga tuhan?” yah, kalian ga perlu baper juga sih, ketika menyebut tuhan, sang penyair menggunakan huruf ‘t kecil’. Tuhan yang jelas bukan Sang Pencipta ya. Karena ketika menyebut kata Tuhan dengan ‘T besar’ tetap adalah Tuhan dalam ajaran agama Teologi. Justru ketika berdialog dengan makhluk lain, penyair menggunakan kata ganti ‘Ku’atau ‘Mu’ dengan awalan kapital. Sekali lagi ini hanya ‘kitab’ dan bahkan bukan buat umat, tapi para penyinyir.

Atau kosongkan saja kanvasmu. Siapa tahu pada suatu saat wajah dan bentuk Haniblis berbuah menjadi semacam kehampaan yang tak teraba apa pun.”

Tuhan boleh saja benar di tempat lain, tetapi Ia salah di tempat ini.”

Aib

Aib terbesar-Ku adalah menciptakanmu.
(ha ha ha ha…)

Buku ditutup dalam kalam akhir berjudul Monster: Setelah segalanya berlalu, kini kau sekadar menjadi monster pembunuh bagi siapa pun yang kauanggap sebagai dajal. Apakah agama telah merusakmu?

Setelah membaca Kitab Sang Pencibir saya kembali optimis menikmati kumpulan puisi. Ga semua puisi itu rancu dan kurang nyaman dilahap. Ini menjadi bukti, selama narasi terbentuk, selama logika jalan, selama plotnya ada, puisi bisa mematik imaji. Beberapa waktu lalu saya beli buku puisi lain berjudul ‘Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering’ karya Hasan Aspahani, sepintas lihat polanya mirip Kitab Para dengan syair berbentuk fiksi mini. Semoga bisa memuaskan. Sampai sekarang saya belum penah memberi nilai sempurna sebuah buku kumpulan puisi. Ada rekomendasi?

Lalu jika salah satu dari kita terbunuh di puisi yang rapuh, di mana kauminta dikuburkan?

Kitab Para Pencibir | by Triyanto Triwikromo | Kumpulan puisi | Penerbit Grasindo | 57.17.1.0043 | Penyunting Septi Ws | Desainer sampul Studio Broccoli | ISBN 978-602-452-040-3 | Cetakan pertama: Juli, 2017 | Skor: 4/5

Untuk Veva Lenawaty sebagai hadiah ulang tahun yang cukup lama kusembunyikan

Karawang, 090320 – 100320 – Hanson – If Only (Live and Electric)