Cinta Satu Penny

Cinta Satu Penny by Anne Hampson

“Tak seorang pun menyangka dia bakal kawin. Nigel dulu selalu mengatakan bahwa dia suka kebebasan dan tidak mau mengikat dirinya dengan perkawinan…” – Annnette

Berawal dari satu penny, cinta tercipta. Ciuman nafsu, menjelma gairah yang mematuk hati. Dua hati yang dingin pun menghangat dengan perlahan. Kalau sudah ngomongin cinta, memang segalanya mungkin. Apalagi ekonomi bukan kendala, di Benua Biru, roman picisan seperti ini pernah hit dan akan tetap hit, selama ada pasar, cerita romantis akan terus dibuat.

“Ayolah, saudara-saudara! Jangan lewatkan kesempatan ini. Tidak inginkah Andamencium gadis yang paling cantik dan aduhai di Cheshire? Belilah karcisnya sekarang juga hanya satu penny – SATU penny! Siapa tahu Anda orang yang beruntung kali ini!”

Buku romansa yang sangat biasa. Konfliknya sangat biasa, mudah ditebak bahkan ketika bab pertama baru selesai kubaca. Cinta yang tercipta karena keisengan, memanfaatkan momen yang terjadi dalam keluarga terkait warisan. Muda tampan, mudi cantik, dan uang bukanlah masalah. Hanya komunikasi yang diperumit, antara bilang terus terang atau tetap memendam, antara mengutarkan polemik hati atau tetap mengesampingkan segala simpang pikir. Nyatanya, semua selurus prediksi, plek sesuai yang diperkira. Jadi apa menariknya mengikuti cerita cinta yang menurut serta garis lurus, happily ever after? Perkawinan antara Liz dan Nigel adalah perkawinan abadi. Untuk selama-lamanya.

Buku ini kubeli di Lapak buku Glagag Solo tahun lalu sama Damar Laziale KW, bersama beberapa buku lainnya. John Grisham dan Abdullah Harahap done, ini yang ketiga. Kubaca santai, satu per satu, memang sebuah perjudian karena saya tak tahu siapa Anne, sebuah keisengan tanpa banyak ekspektasi. Beberapa kali dari iseng gini berhasil lho, tapi banyak yang mengecewakan. Dan terbukti memang buku yang sangat biasa. Seolah memang saya menuntaskan buku ini sekadar kewajiban bahwa semua buku yang kubeli harus baca-ulas. Pada dasarnya saya suka baca novel klasik, baik luar atau dalam negeri. Makin jadul makin menarik minat, novel ini terbit tahun 1978 yang bahkan saya belum lahir. Tampak misterius dunia lama saat kita belum ada.

Kisahnya tentang Elizabeth Dawes alias Liz, gadis London yang liberal dengan Nigel, pemuda Arachora yang juga menjunjung kekebasan. Mereka dipertemukan sejak bab mula. Cara bertemunya aneh, jadi Liz sedang main-main sama saudaranya di bazar dengan menjual tiket satu penny untuk sebuah ciuman. Liz yang cantik tentu saja banyak memikat, bahkan disebutkan gadis tercantik di kota Cheshire. Undian itu menempatkan Nigel, orang asing yang baru mendarat di Inggris. Ciuman dalam tenda itu hot, liar, dan sangat menggairahkan. Awalnya kukira bakal jadi ciuman amal di pipi atau di kening, tidak. Undian satu penny itu adalah ciuman tukar lidah! Baiqlah…

Sementara di rumah sedang gonjang-ganjing masalah warisan. Jadi garis darah keluarga mereka dulu pernah seteru, lalu terpisah. Warisan itu menyaratkan bahwa keluarga ini harus disatukan dengan menikahkan kedua keturunan, atau kalau enggak maka semua harta waris akan disumbangkan ke amal, sebuah organisasi reliji Persekutuan Keselamatan. Awalnya sudah terencana matang, Vivien dan Arthur akan menikah, sudah tunangan. Namun update itu mengguncang keluarga karena Vivien ternyata sudah punya kekasih, ia akan bersikukuh akan menikahi kekasihnya, ga peduli harta, karena baginya perkawinan harus berlandas cinta. Paman, tante, Liz debat panjang. Oma yang sudah tua merajut. Lalu muncullah Nigel, ia adalah saudara Arthur. Mudah ditebak bukan? Saya baru melewati 1/6 bagian buku dan sudah bisa menebak endingnya. Liz mencintai Oma, andai tak menikah dan rumah ini disita, mau tinggal di mana? Semua akhirnya lega. Tampak win-win solution.

Liz dan Nigel menikah, tinggal di Yunani. Kota eksotis yang menjadi damba para menyuka cerita romantis. Jadi ingat novel Burung-Burung Rantau yang belum selesai kubaca. Liz dan Nigel adalah dua manusia yang menyukai kebebasan, berjanji pernikahan ini hanyalah formalitas untuk menyelamatkan harta keluarga. Keduanya rupawan, keduanya cerdas, keduanya tampak open minded. Jadi masalahnya apa? Konflik itu ada di sini, ketika di Yunani, Liz tahu bahwa Nigel sudah punya kekasih Greta, ia tak ambil pusing. Bahkan menyilakan suaminya jalan sama Greta atau cewek manapun, aneh? Yah, memang persatuan itu kan memang tak mencantum mereka harus tetap bercinta, poinnya tampak mesra dan bahagia di depan publik. Namun tidak bagi Nigel, ketika Liz jalan sama saudaranya ke Athena. Ia marah. Ia tak mau Liz keluyuran di lihat teman atau saudaranya bersama lelaki lain, yang bahkan saudara. Kata orang, cemburu adalah rasa cinta. Maka ujian pasangan muda ini dihamparkan di sini. Jadi Liz dan Nigel termasuk kategori normal atau sinting? Ini hanya masalah komunikasi. Makanya jangan bolos pas ada training teamwork!

Apakah perkawinan ini benar-benar hanya sandiwara? Karena nantinya Liz tahu, bahwa surat wasiat itu ternyata sudah digugat jadi tanpa menikah-pun kedua keluarga ini, harta tetap aman. Cerai? Ah khayalmu aja. Apakah akhirnya mereka benar-benar jatuh cinta? Saya kasih bocoran, cerita ditutup di sebuah klapal pesiar mewah, sebuah yatch yang mengarungi samudra dengan sombongnya, hanya untuk kalangan terbatas. Yah, benar-benar ga relate dengan jelata kayak saya. Hiks…

Ada satu bagian yang annoying, pembantu keluarga ini Nikos tampak suka bergunjing. Suka membicarakan keanehan tuannya. Berani menentang secara halus. Beda sekali dengan novel-novel Agatha Chistie tahun 1920an, di mana pembantu/pelayan memang juga dilibatkan, tapi mereka lebih banyak diambil sudut pandang sebagai ‘pembantu’ juga, bukan tempelan lemah. Peran pembantu di Christie benar-benar vital, bahkan beberap menentukan eksekusi ending. Di sini, malah tampak konyol.

Kisah cinta antara London dan Kota Arachora, kota angin-nya Yunani. Di sini, di tempat tinggal para dewa yang telah mahrum dia menemukan suatu kedamaian. Liz adalah orang yang memiliki kemauan keras dan kekuatan tubuhnya pun dapat diandalkan sehingga orang harus berpikir dua kali untuk menentang apa yang dikatakannya. Di rumahnya di Cheshire, dia yang paling berkuasa; apa saja yang dikatakannya pasti dilaksanakan tanpa sanggahan sedikitpun. Hanya Vivien yang berani menentang keputusannya. Salut Vivien, harusnya kisah kamu aja yang disodorkan. Nikah memang harus ada cinta.

Salut sama Oom Liver yang gemar main catur sendiri. Melawan dirinya sendiri. Hebat…

“Orang harus realistik, hampir semua berakhir dengan tragis – kalau orang mengambil cerita cukup panjang.”

Cinta Satu Penny | by Anne Hampson | Judul asli Wife for a Penny | Alih bahasa Inita Gumulyo | GM 78.027 | Penerbit P.T. Gramedia Jakarta | Gambar sampul Rahardjo S. | Jakarta, 1978 | Skor: 2/5

Karawang, 080320 – Bee Gees – Don’t Forget to Remember