#Januari2020 Baca


Sudah disampul semua dong

 

Akal sehat kadang-kadang tidak bisa mengalahkan emosi.” – Jane Austen


Bulan Januari 2020 adalah bulan menyelesaikan baca ulas buku yang kubeli di Harbolnas tahun lalu. Ada sembilan buku, dua buku selesai baca saat akhir tahun, ulas di tahun baru, sedang lainnya saya tuntaskan kilat. Jadi kalau dihitung tahunan, semua buku tahun ini yang kubaca justru sudah pos di blog. Konsekuensinya, saya kehilangan waktu banyak untuk kejar Oscar. Hufh…, pasca jadi tim #Irishman memang, agak berat mengetik ulasan film. Film memikat yang diperlakukan tak adil oleh juri-juri AMPAS.

Berikut ringkasan, berdasar urutan baca. Yang ini Desember 2019:

1. Lady Susan – Jane Austen

Pengalaman pertamaku menikmati Jane Austen. Ini kisah tentang Lady Susan yang janda, menentukan pasangan berikutnya. Antara pemuda gagah yang mendapat pertentangan orang tuanya, atau lelaki duda yang lebih mapan, tapi kurang cocok dengan kepribadian. Surat-surat pribadi bercerita. Anaknya yang remaja, menambah polemik karena menyeruak menambah persaingan, ahhh… lika-liku asmara abad 19 yang sederhana dalam komunikasi. Surat itu membentuk narasi, betapa vital peran para pak pos. “…Pastilah dia tenggelam dalam renungan yang tidak menyenangkan, tapi memang ada orang-orang perasaannya sulit dipahami.”

2. Cannery Row by John Steinbeck

Akhirnya rasa penasaran itu terobati. Inilah buku yang sesungguhnya saya incar di harbolnas, yang lainnya hanya melengkapi syarat beli minimal 200k demi gratis ongkir. Hiks, miskinnya saya. Saya sudah baca Kamis yang Manis (terjemahan Basa Basi), padahal itu buku seri kedua, cerita seputar persahabatan Doc dan Mack di Cannery Row. Rasanya ternyata sama saja, buku ini berkisah tentang keseharian mereka juga. Hanya beragam masalah beda yang disodorkan. Tak ada hal berat yang ditawarkan, kehidupan sehari-hari di sekitar kita, normal dan wajar. Bagaimana sebuah tali persahabatan dirajut, kusut, lalu diluruskan kembali. “Si Doc itu orang baik. Kita seharusnya berbuat sesuatu untuk dia.” Lalu bertubi kekacauan terjadi, dari sekadar niat baik menjelma bencana.

Khusus Januari 2020, baca dan ulas tujuh buku ini:

1. The Woman in Black by Susan Hill

Tentang hantu wanita yang meneror di desa kecil Crythin Gifford, pemuda berpendidikan tinggi dengan rasional dan berpikiran terbuka, mendapat tugas menyelesaikan administrasi bosnya seorang pengacara, kliennya meninggal dunia, maka ia harus mengurus segala hal terkait warisan, berkunjung di ujung dunia yang terpencil, muram, dan desas-desus mistis. Taman yang mengingatkanku pada kediaman tokoh-tokoh karangan Jane Austen… Sebuah kebetulan saya sedang membaca bukunya. The Woman juga memainkan psikologis tentang kenangan. Semua kejadian itu telah berakhir, telah jauh di masa silam. “Aku merasa Tuhan berada sangat jauh, dan doa-doa yang kuucapkan terasa formal dan hormat…”

2. A Fair Lady & A Fine Gentleman by Jane Austen

Buku dibagi dalam tiga cakupan: Cinta & Pernikahan, Keluarga & Persahabatan, dan Pelajaran Hidup. Kalimat-kalimatnya bagus, terutama bagian ketiga, mungkin karena tema pelajaran hidup lebih bebas, pastinya akan lebih bagus jika sudah membaca novelnya, karena tentu akan tahu kutipan ini ada di adegan apa. Seperti ketika saya membaca kumpulan puisi, kurang bisa langsung klik. Beberapa bait akan kubaca ulang, untuk ‘masuk’ lebih dalam bahkan harus dengan suara nyaring dan lantang dan mikir, kalau bagus dan jleb akan meresap, sayangnya jarang bisa buku-buku kumpulan sajak memuaskanku. “Penting untuk membaca puisi sedikit-sedikit saja sekali waktu, demi melindungi diri kita dari banjir emosi yang mencabik-cabik batin.” Mari kita nikmati keheningan ini.

3. Ziarah by Iwan Simatupang

Buku paling aneh di deretan ini. Liar dan membingungkan. Kisahnya ga runut, ga nyaman diikuti. Semua karakter tanpa nama, hanya disebut profesinya: pelukis, opseter, walikota, wakil walikota, kolektor, kritikus, dst. Mereka membaur dalam hikayat kehidupan warga yang sejatinya umum, tapi dicipta hiperbolis. Bagaimana sebuah karya lukis bisa laku keras, kaya raya, snob, dan luar biasa beruntung yang bertubi. Mungkin butuh dibaca ulang, tapi rasanya lelah sekali membalik halaman demi halaman. Bukan buku yang nyaman dibaca dalam keadaan pening mikir cicilan omah. Novel masa depan. Novel tanpa pahlawan, tanpa tema, tanpa moral. “Pada mulanya, pada akhirnya.”

4. Agnes Grey by Anne Bronte

Luar biasa. Cerita cinta yang tulus nan memikat. Happy ending, tapi tak secemen putri Disney. Agnes adalah seorang pengasuh anak para keluaga kaya. Hidup di abad 19 yang minimalis. Terlahir dari keluarga sederhana yang melimpahkan cinta kasih tak bertepi, ibunya keturunan bangsawan, rela namanya tak dicantum di waris demi cintanya pada pendeta miskin kaya hati. Agnes jelas si bungsu kesayangan, maka ketika memutuskan membantu perekonomian keluarga dengan jarak memisah, sulit melakukannya. Di rantau menemukan cinta pada pemuda reliji yang dengan mudah kita tebak, akan bersambut. Poinnya bukan di situ, tapi pada konfliks batin Agnes yang berkorban demi keluarga tercinta, menjalani hari-hari dalam kerinduan. Duhh, mengingatkanku pada tahun Maret 2004 saya menangis di sepetak kos Cikarang Ruanglain_31 merindu segala bau rumah, kamar Ruang_31 di Palur. Sejatinya, banyak hal ga berubah di dunia ini bila menyangkut hati. “Aku dilanda kerinduan hebat pada bunga yang begitu akrab dan dapat mengingatkanku pada lembah-lembah yang dipenuhi pepohonan atau lereng bukit hijau di rumah.” Huhuhu… pengen nangis saat membaca bagian ini, bagaimana kerinduan lebih sering menyita emosi.

5. Rafilus by Budi Darma

Rafilus yang mati dua kali. Pertama tertabrak kereta api, kedua tertabrak kereta api, dalam peti peti mati yang tertambat di palang rel. Sungguh aneh. Ini cerita yang aneh, sedari mula kita sudah disuguhi kejanggalan. Pesta tanpa tahu tuan rumahnya yang mana, sesama orang asing curhat sang pengundang yang kaya raya itu tak menampakkan diri. Lalu kedua tamu itu menambatkan persahabatan, jadilah plot kecamuk yang merumit. Inilah sepenggal cerita di Jawa Timur pasca Indonesia Merdeka. Beberapa kebohongan akan dibongkar, waspadalah. ‘Surat Pawestri masih banyak…’

6. Fiesta by Ernest Hemingway

Cerita-cerita pesta para lajang di Paris dan Pamploma. Dari satu kafe ke kafe lain, dari satu pesta ke pesta lain, dari mancing mania sampai ke adu banteng yang menggairahkan. Kekuatan utama di kalimat-kalimat langsung, aktif dan tanpa basa-basi. Narasinya luar biasa, seolah-olah dipetik langsung dari pengalaman pribadi, ringkas, dan jleb ke inti. Semua berpusat pada karakter gadis jelita bernama Lady Ashley, memacu andrenalin sahabat-sahabatnya, hingga akhirnya seorang matador-pun kesemsem jua. Adu jotos mungkin kurang bijak, tapi saat cemburu yang memuncak, tak ada kompromi. Jake yang termasyur menjadi saksi kegilaan-kegilaan di seputar dengus itu. “Yah, fiesta yang hebat. Kau tak akan percaya, rasanya seperti mimpi buruk yang menyenangkan.”

7. The Red-Haired Woman – Orhan Pamuk

Kisah ayah-anak yang merentang jauh. Mitos Yunani, hikayat Timur Tengah. Dan kini dihadirkan di era millenium dengan kekuatan seorang asisten penggali sumur yang hidup dalam bayang dosa, sampai akhirnya bertemu fakta yang merentang tiga puluh tahun. Penutup yang luar biasa. Novel penutup dalam rangkaian Harbolnas yang kubeli di Mizan Store ini berakhir dengan menakjubkan. Sempurna. “Di mana ada peradaban, di mana ada kota dan desa, pasti ada sumur. Tidak mungkin ada peradaban tanpa sumur, dan tidak ada sumur tanpa ada penggali sumur.”

Dari kesembilan buku Harbolnas Mizan Store ini, juaranya jelas Orhan Pamuk. Detail kisah mengagumkan. Turki yang berkembang, Istanbul laiknya kota metropolitan lainnya yang menjelma pusat negara, seluk beluknya dicipta dengan diksi nyaman. Kejutan identitas anak, kejutan wanita berambut merah, kejutan nasib tuan Mahmut sampai ending yang menghentak. Salut.
Semua buku saya ulas bulan Januari, mengorbankan acara tahunan Oscar. Namun tak mengapa, worth it, lagian Oscar tahun ini kurang menarik. Parasite? Eh…

Karawang, 160220 – 030320 – Hanson – Hand in Han (Live and Electric, Best of)

Thx to Titus Pradita untuk m-bankingnya, Thx to mizanstore.com untuk pengalaman pertama harbolnasnya, Thx to Meyka yang hanya manyun sesaat setelah tahu: beli buku lagi, beli buku lagi, buku lagi. Kiss-kiss-kiss.