Humor Kaum Jelata

Dunia Samin by Soesilo Toer

Orang tidak pernah berterima kasih kepadamu. Tapi orang selalu menuntut lebih banyak darimu. Kalau kau seperti makhluk yang bisa biaca, kau pasti sudah lama betreriak dan menuntut keadilan. Dan kau akan menuntut dariku, orang yang beberapa tahun ini akan kembali ke bumi…”

Identitasnya novel humor, kisahnya memang mencoba jenaka. Ketika beli, saya ga terlalu perhatikan. Saya hanya minta ke Susanto Book Store untuk memilihkan buku Soesilo Toer, apa saja. Karena penasaran sama karya beliau. Sempat nimang-nimang Sang Komponis Kecil, tapi si Mbak-nya justru menunjuk ini. Yowes… Seperti Abu Nawas dari Timur Tengah atau Don Quixote karya Miguel de Carvantes yang termasyur itu. Mencoba memperkenalkan kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia secara komikal, Samin ternyata adalah tokoh berdasar tokoh nyata, bahkan di bagian pembuka dituturkan bahwa Samin Soerosentiko sampai diusulkan menjadi pahlawan Nasional! Kemana saja saya, kok baru dengar. Para Pemangku jabatan di Kabupaten Blora turut memperjuangkan.

Buku dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama berkisah kehidupan melarat Samin yang hidup berdua sama istrinya. Tanpa dikaruniai keturunan, mereka menampilkan kehidupan miskin seorang warga desa yang baik. Suatu ketika terjadi hujan lebat yang mengancam panen, maka Samin pun memukul kentongan (adegan yang dijadikan kover buku), memanggil warga untuk bergoyong royong mencipta bendungan agar air sungai tak meluap ke sawah. Dengan kayu yang ada di sekitar, dengan peralatan seadanya, bahu-membahu dengan orang-orang yang mau datang. Dari kaca mata umum, jelas usaha mereka sukses. Tapi ada yang ga suka, pemilik kayu dan lurah yang kini menjabat. Samin diadili, banyak yang menentang, tapi akhirnya keadilan menang.

Maka tak heran ketika ada pilihan lurah berikutnya ia dipaksa mencalonkan diri, turut dalam pesta rakyat melawan pertahana, dan menang, sebagai kawulo alit, ia membaur dengan warga. Jangan untuk kampanye aneh-aneh, untuk makan sehari-hari saja ia tak kuat. Kisah ditutup dengan ia (hampir) menjadi lurah. Bagi Samin, menjadi kepala desa bukanlah berarti pengangkatan menjadi orang kaya baru. Justru sebaliknya, banyak tugas berat. Persoalan ruwet ditaruh di atas pundaknya yang melengkung.

Buku kedua, adalah masa ia menjabat. Awalnya menolak, tapi suara warga mengungguli. Berkat kemenangan itu, ia termasyur, batas area lokal tentunya. Mengayomi, sesama jelata dilarang saling hardik. Kemudian membangun balai desa, bersama-sama mencoba mencipta kenyamanan. Naas, saat kantor akan jadi malah ada tukang bikin onar. Seorang warga mencoba membakar kantor balai desa yang hampir rampung itu. Sang eksekutor berhasil ditangkap. Diadili dan diinterogasi, siapa dalang yang menggerakkannya. Adalah Haji Apandi, Karnaen, dan Pak Lurah Dongkol. Mereka adalah orang-orang yang tak suka kesuksesan Samin menjadi kepala desa. Proses penyelidikan dan mengadilinya, agak aneh sih. Kalau ga mau dibilang, konyol. Seperti ketika salah satu tertangkap di sumur, ngumpet lalu penelusuran dengan penggambaran ayam. Biasa banget, yah jangan harap serumit deduksi Poirot. Pokoknya cara kerja pengungkapan kejahatan dengan cara umum. Penyelasannya adalah perbuatan terakhir dari orang yang bersalah.

Salah satu bagian bagus di sini mungkin adalah, perlawanan akan adanya para ijon, rentenir dan para pedagang sadis yang menawarkan uang untuk membeli panen sawah yang sudah menghijau padinya, sehingga nantinya saat sudah kuning, panen akan diambil tengkulak. Lagi-lagi, para petani yang jadi korban. Di sini seolah Samin adalah trigger utama untuk melawan! Walau nantinya di bagian akhir kita pun tahu, Samin tak punya sawah, ia hanya buruh sawah.

Bagian ketiga lebih ke tulisan sederhana semacam fiksi mini. Satu cerita dalam satu halaman, pengalaman kehidupan Samin dengan pelukan kaum papa. Beberapa annoying, seperti diskusi tentang bintang dalam hitungan, mencoba melucu tapi malah jatuhnya garing. Samin bisa juga bersinomin lugu, atau malah terlihat bodoh, bagian Samin Ketiduran, bah bagaimana matahari tidur? Atau bagian jadi mancing ikan dengan umpan nasi? Well, sewajarnya sajalah dengan cacing terbukti sukses dan apa adanya? Atau bagian tukang obat bernama Samin dengan nama ayah, kakek, dan keturunan semua bernama Samin. Ga lucu, garing kek kerupuk warteg merek Sahabat.

Samin juga terlihat selow, ketika ditanya kepada siapa barang dan harta diwariskan nantinya karena mereka tak memiliki anak kandung, ia menjawab wariskan untuk bumi. Tanah adalah milik seluruh rakyat. Pendek kata, semua kekayaan yang dapat ditimba dan dinikmati kegunaannya oleh semua rakyat adalah milik rakyat, milik bersama. Dst.

Poinnya memang, ini semacam Abu Nawas versi lokal. Ga semua humor Abu bagus, beberapa konyol. Mirip pula Don Quixote yang terkenal dengan imaji liarnya, sama, ga semua humornya seru. Samin adalah karakter sejenis itu, miskin, banyak akal, terkadang perlu dikasihani. Kadang cerdas, kadang error, kadang kekanakan. Dan lebih sering konyol.

Di Blora, kita jelas mengenal sang maestro cerita Pramoedya Ananta Toer. Ada Tirto Adhie Soerjo, Harya Penangsang, Marco Kartodikromo, sampai Samin Soeroesentiko. Penerbitan buku ini, salah satu tujuannya adalah kembali mengangkat nama tokoh Samin. Dalam tesisnya Soesilo Toer menyatakan Mahatma Gandhi dengan ajaran ahimsa mencontek Samin Soerosentiko. Logikanya, Gandhi belajar di Inggris bersamaan dengan masa ‘pembuangan’ Samin ke Sawahlunto. Berita ini diberitakan surat kabar Belanda di Jakarta, dan juga di Negerinya yang sama Inggris hanya berjarak oleh Selat La Mash. Berdasar materi, analisis dan logika itulah sang Penulis berani membuat penyataan tersebut.

Dunia Samin I pertama terbit tahun 1963, ditulis sebelum berangkat ke Uni soviet tahun 1962. Dunia Samin II ditulis saat kuliah di sana. Sedang Dunia Samin III ditulis setelah keluar dari penjara Orde Baru, dikerjakan di Jakarta tahun 1979. Sebuah proses yang luar biasa. Saya justru respect di sini. Perjuangan mencipta karya.

Orang harus hidup dengan kerja dan bukan dengan keindahan alam dan kedamaian pagi. Orang harus kerja keras. Orang harus menaklukkan kedamaian alam, orang harus menaklukkannya dan tidak tafakur karena keindahannya. Orang harus bangun dari tafakur uang mengimbau dirinya dan siap menaklukkan alam… kerja. Ia tahu mengurus orang adalah pekerjaan paling sulit. Kadang-kadang sampai jauh malam memikirkannya. Yang terang, yang menjadi sebab dari terciptanya desa yang bahagia itu adalah kerja.

Siapa yang akan memiliki itu semua.”

Dunia Samin | Oleh Soesilo Toer | Copyright 2017 | ISBN 978-602-73893-3-5 | Penerbit Pataba Press | Dunia Samin I – 1963: Suka-Duka si Pandir, N.V. Nusantara, Djakarta | Dunia Samin Edisi Baru – 2016: a (April), cetak ulang edisi baru (tiga judul dalam satu terbitan), Pataba Press blora | Cetakan 2018: c (Februari), cetakan ketiga |Penyunting Gunawan Budi Susanto | Gambar smapul Sketsa ulang oleh A C Andre Tanama | Desain sampul Atas Balik | Penata letak Benee Santoso, M. Baihaqi Lathif | xxvi + 290 halaman, 14 x 21 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 200220 – 210220 – Hoobastank – The Reason