Dua Garis Biru: Slow Pace Realistik

“Kalau ibu saja perlahan-lahan bisa memaafkan kamu, apalagi Allah.”Yuni

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Sleeper hit of the year.

Hanya dengan melihat trailer. Kita tahu alurnya, kita bisa menebak garis besar perjalanan film ini, kita pasti paham langkah-langkah bidak catur per adegan, ke arah mana cerita cinta ini kita juga pasti mengerti. Dua sejoli, anak sekolah pacaran, di kamar dan terjadilah. Justru hal seperti ini lebih terlihat nyata, ketimbang film romantis ramaja yang sering memperlihatkan adegan berdua genggaman tangan, taa-daaa… tak terjadi apa-apa. Lantas kenapa Dua Garis Biru masih bisa memukau? Akting, naskah, dan beberapa keunggulan teknis mencipta debug jantung dan tangis. Endingnya menyempurna, menata rencana masa depan tak semudah menyusun lego. Adegan UKS jelas luar biasa, dua peristiwa marah disajikan tanpa putus penuh emosi. Teriakan saling silang di UKS akan mencipta kenangan yang tertanam dalam dinding-dinding sekolah.

Film ini sukses besar, baik sisi tiket maupun ulasan. Menjadi sleeper hit tahun ini, menjelma puja-puji di banyak beranda sosial media. Inilah film paling mengejutkan 2019, film remaja menghadapi problematika masalah orang dewasa.

Kisahnya tentang dua siswa yang menjalin kasih, hamil lalu penonton menjadi saksi kejadian akibat perbuatan itu bersama orang-orang terdekat. Dara Yunika (Adhisty Zara JKT 48) adalah siswi cerdas, adegan pembuka berkata itu. Berpacaran dengan teman sekelas Bima (Angga Yunanda) yang memiliki nilai akademik biasa, adegan pembuka juga berkata gitu. Kehidupan keduanya pun beda kasta, Dara terlahir dari keluarga kaya. Memiliki dik yang imut Putri (Maisha Kanna), kedua orang tua David (Dwi Sasono) dan Rika (Lulu Tobing) yang secara ekonomi mapan, laiknya orang umum bilang masa depannya terjamin. Bima dari keluarga sederhana, orang tua relijius Yuni (Cut Mini Theo) dan Rudy (Arswendi Bening Swara), dan kakak yang sudah memiliki keluarga sendiri Dewi (Rachel Amanda). Hidup dalam keriuhan gang-gang sempit di Jakarta. Dari sudut romantisme, kita bisa bilang cinta menyatukan mereka, tapi dari sudut yang lebih dalam, MBA terpaksa menyatukan mereka.

Apa yang kita tanam, akan kita tuai. Pernikahan remaja memaksa mereka dewasa lebih cepat. Inilah waktu-waktu cekam, menikah adalah menyatukan dua keluarga. Dan memang, seharusnya kedua keluarga yang sudah terjalin ini bersatu, namun tetap berjarak, dan Dua Garis Biru menyajikan realita, tak berlebihan Cut Mini menang FFI karena sajian emosi dalam frame terlihat hebat.

Yang lebih menakjubkan, ini adalah debut sutradara Gina S. Noer. Luar biasa, film perdana langsung menghentak. Seharusnya kita tak heran juga sih, hanya lupa antisipasi, CV naskah skenario-skenarionya memang berkualitas. Dimulai dengan omongan miring para sinister ketika trailer keluar, di beranda sosmed banyak sekali yang menghujat, banyak yang bilang akan jadi film minor bahkan sebelum rilis. Namun kualitas berbicara seolah menabok semua nada miring itu. Gina pasti tertawa menyaksikan box officenya.

Salut sama bagian kasting, nyaris bagus semua. Spesial buat Zara, well dia sangat cantik. Suaranya bening, sedikit serak tertahan. Menampilkan mimik remaja yang harus mengambil keputusan penting. Lantas selalu berpikir sebelum bicara, jelas ia telah lebih matang. Selamat, atas kembalinya Lulu Tobing ke layar lebar. Pesona terjaga. Cocok akting jadi orang kelas atas. Salut juga untuk penampilan Arswendi Bening Swara jelas ga selantang istrinya, porsinya pas, gesturenya pas, aksinya sangat pas. Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memang digariskan lebih tenang. Saya sudah banyak mengalami, saya sudah sering mengambil keputusan keluarga dengan kepala dingin ketika masalah pelik menempa.

Adegan ayah anak tersaji memikat, sang ayah duduk di lantai, Bima di tempat tidur mendekam sendu, duduk merenung dalam kebingungan, seolah bilang, “Ada banyak hal tak kumengerti.” Tak berani berharap atau berencana. Yah beginilah hidup Nak. Mengapa remaja membuat salah perhitungan, banyak pemikiran dan aksi salah, usia labil. Namun kesalahan yang ini kebablasan. Karena cinta memang menampar logika, dan masa remaja belum mampu menimbang konsekuensi lengkap keputusan mereka.

Waktu linier, tak ada jalan kembali bagi umat manusia. Ketika dua garis biru muncul, tak ada jalan kembali ke masa lalu yang indah-indah. Mereka tahu bahwa tak diragukan lagi, hari ini adalah hari yang patut dikenang dalam hidupnya. Kenang kepanikan. Tidak bisa mundur lagi. Perangkap sudah menjeplak tertutup. Mulai sekarang, bukan Matematika dan rumus Kimia yang akan kita pusingkan, roda ban terlampau kencang melaju melompati usia tanggung jawab. Menjadikan hari-hari menegangkan, diwarnai lebih banyak kecemasan dan kegelisahan. Mau digugurkan atau tetap dipertahankan, kedua opsi sama buruknya di usia remaja. Simalakama. Keceriaan kehidupan lama, kini selesai sudah.

Kisah perangkap romantis itu memberi pelajaran berharga, jauh lebih penting ketimbang teori yang dipelajari dalam seminar parenting manapun. Serangkaian keputusan sepele di kamar, salah perhitungan, memiliki efek kumulatif yang memaksa keduanya menghabiskan hari-harinya memikul ‘berember-ember air’ masalah untuk disajikan kepada semua orang terdekat. Mungkin mereka memiliki keinginan-keinginan lain, tapi setiap ide yang dilontarkan secara sadar membuat kehidupan lebih sulit guna mencapai keinginan tersebut. Upaya rumit menyelaraskan rasional dan matematis, terciptalah adegan UKS. Para orang tua terjalin tak bisa menghindar dari perhitungan faktor-faktor non material seperti ideologi dan budaya. Tawar-menawar ala Faust antara kedua orang tua bukan satu-satunya kesepakatan konsekuensi, dihadirkan pula opsi ketiga tentang rencana adopsi. Voila, takdir tertawa.

Rencananya. Catat, setelah menikah, bayi terlahir akan diadopsi kepada saudara Dara yang belum dikaruniani anak, Dara yang cerdas secara pendidikan karena terhenti sekolah harus diselamatkan demi masa depan yang masih terentang panjang, akan melanjutkan study ke Korea, mengejar mimpi. Bima terpisah dari anaknya, melanjutkan tumbuh kembang dewasa, karena terlampau muda, mendidik anak itu tak mudah Nak, merajut ulang beberapa mimpi, dan kedua besan secara emosional terputus. Selain beda kasta, mereka memang terjalin sebab terpaksa. Boom! Akhir kisah itu khalayan belaka. Ketika menit mendekati akhir, kita malah diberi bumbu merica melimpahkan derai air mata yang merusak tatanan. Tanda tangan remaja itu setara keputusan teramat penting manusia dewasa. Hebat! Rasanya apa yang kita minta, tak pernah dikabulkan Tuhan, maaf koreksi, apa yang kita minta tak semua dikabulkan Tuhan. Ghhhmmm… Gina memberi akhir yang jitu untuk hubungan yang lebih pas, menahan keinginan, menaboki harapan senyum dan tawa pahit di akhir. Kekhawatiran akan masa depan memang pemain utama dalam teater akalbudi manusia.

Dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika, tertuang bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka dikaruniai oleh Pencipta mereka hak-hak tertentu yang tak bisa dicabut, yang antara lain mencakup kehidupan, kemerdekaan, dan pencarian kebahagiaan. Kehidupan seolah reset, demi lembaran baru hidup manusia pertama di semesta: Adam.

Mencucurkan air mata di saat keberangkatan bisa mendatangkan kemalangan bagi orang terkasih. Adegan itu ditampilkan dengan teramat baik. Menutup layar puas. Satu-satunya hal yang bisa melegakan adalah angan-angan. “Kamu pikir bijaksana merusak segalanya yang sudah berjalan begitu baik?”

Sejauh ini, Dua Garis Biru adalah film terbaik 2019 yang kutonton. Slow pace realistik (Harsoyo Lee).

Dua Garis Biru | Tahun 2019 | Sutradara Gina S. Noer | Naskah Gina S. Noer | Pemain Angga Aldi Yunanda, Adhisty Zara, Lulu Tobing, Cut Mini, Dwi Sasono, Arswendi Bening Swara, Rachel Amanda, Ariella Calista Ichwan, Cindy Hapsari Maharani Pujiantoro Putri | Skor: 4/5

Karawang, 181219 – 160220 – Marty Robbins – A White Sport Coat (And A Pink Carnation)

*) perdana tayang di tv kemarin lusa di prime time saat Valentine, dan sudah bisa disaksikan di Iflix