Prediksi Oscar 2020: Tim #Irishman

Film terakhir Oscar 2020 saya nikmati 10-02-20 pas Isya, jadi prediksi ini saya buat hingga menit-menit akhir jelang Parma v Lazio. Izin cuti besok sudah kukantongi. Ini akan jadi Oscar kesebelas yang kutonton secara beruntun. Kabarnya akan live di detikcom dan sekilas sepintas di Trans TV. Berikut 14 tebakanku.

#14. Animated feature filmKlaus

Alasan: Tahun ini kartun justru ga se-wow seperti sebelumnya

Yang jelas bukan How to Train Your Dragon 3: The Hidden World, nonton bioskop sama keluarga pasca musibah, filmnya justru paling lemah dalam seri ini. Missing Link yang menang Golden Globe ternyata juga kurang istimewa. Bisa saja Toy Story 4, saya belum nonton. Klaus menang karena persaingan justru di waktu yang tepat, ga seperti tahun-tahun sebelumnya yang berderet ketat, tahun ini ga ada kartun yang wow. Tema mengirim seorang pengeran ke daerah terpencil guna jadi tukang pos sebagai hukuman tampak standar, tapi lihat betapa perjuangan bersama Klaus menjelma lucu bertabur hadiah.

#13. Actor in a supporting role Joe Pesci (Irishman)

Alasan: Roti celup dan makian orang tua yang tak lazim

Sebelum pengumuman kandidat saya sudah lock untuk Joe Pesci, walaupun semakin menipisnya hari H, justru nama Brad Pitt mencuat. Tak perlu tampan untuk akting benerin antena agar dapat Oscar. Pesci menang banyak dengan gestur semangat di usia senja.

#12. Actor in a leading roleJoaquin Phoenix (Joker)

Alasan: Pas lihat tawa di kendaraan umum itu, saya sudah yakin ia menang.

Ya, tawa yang pedih itu terasa nyata. Joker versi baru memang istimewa, secara akting. Rasanya tak perlu diperdebat dan dijelaskan lebih dalam, (pasti) menang.

#11. Actress in a supporting roleFlorence Pugh (Little Women)

Alasan: Ekspektasi terpesona Hermione-Saoirse, realita tercuri hati Puch

Dern memang leading pole, menang banyak. Namun semalam saya kecewa secara keseluruhan Marriage Story, hanya Adam Driver yang menonjol. Dern menang di adegan buka baju luar, selebihnya debat panas khas pengacara yang sudah umum. Sebenarnya justru Scar Jo yang istimewa di Jojo Rabbit, sayang keburu dimatikan. Nah, tebakan Puch lebih ke personal, bagaimana bisa tak kuantisipasi, ia bersinar dan sukses menandingi duo Hermione-Saoirse!

#10. Actress in a leading roleSaoirse Ronan (Little Women)

Alasan: Melihat namanya tercantum saja sudah otomatis, apalagi ia berakting sebagai Penulis.

Semua terlunjuk mengarah ke Renee Zellweger sebagai Judy Garland yang terkenal itu, saya belum menontonnya. Yang jelas bukan Scar Jo yang drama cerainya belibet hingga dua jaman. Ya, saya akan selalu menebak Saoirse Ronan setiap ia muncul dalam persaingan Oscar, tak peduli seberapa besar peluangnya. Louisa May Alcott dalam proses kreatifnya.

#9. Foreign Language FilmParasite

Alasan: Sudah dikunci dalam gudang bawah tanah.

Film yang masuk ke kandidat best picture, jelas akan menang di kategori ini. Bong pastinya sudah menyiapkan pidato, dengan penerjemah di sampingnya. Bersiapkan mendengar petuahnya, lagi.

#8. Costume DesignLittle Women

Alasan: Modelnya Emma Hermione Granger Watson!

Hermione boleh saja mengubur mimpi jadi aktris atau model dalam film ini, tapi gemerlap mode-nya jelas memikat.

#7. Visual effectsAvenger: End Game

Alasan: Action of the Year

Sebagai film terlaris sepanjang masa, walau dibantu re-rilis ya, rasanya Endgame berhak mencantumkan namanya di Oscar. Ok, saya terpesona sama ledakan nyata Irishman tapi Endgame ga hanya di satu dua adegan, melimpah ruah melupakan banyak logika.

#6. Music (original score)Thomas Newman (1917)

Alasan: berdengung sepanjang film, tak henti menghantui

Little Women sih seharusnya, tapi menyaksikan 1917 di bioskop adalah pengalaman sinema yang memberi dimensi lain. Selain keunggulan ‘one shot’ nya, bagian audio juara. Bagian teknis menang banyak, menyokong Perang Dunia Pertama yang memesona kedua indra.

#5. Cinematography1917

Alasan: Ini juga lock sih

Teknis 1917 akan menang banyak, pun di bagian ini. Kecuali The Lighthouse memberi kejutan, saya belum tonton.

#4. Writing (adapted screenplay)Little Women

Alasan: Kecuali The Two Popes, keempat lainnya sungguh sukses memuaskan.

Tahun ini di bagian ini yang paling sulit, empat film memuaskan semuanya. The Irishman menang saya bahagia, tak pelak 3,5 jam bisa semenyenangkan itu. Jojo Rabbit wow, jos banget mencipta kuasa Hitler. Joker, rasanya box office saja yang biar bicara. Little Women, naskahnya juara. Plot maju mundur, memainkan tempo, menampar keyakinan, bagaimana Keempat Saudari March saling mengisi. Nangis pas bagian, Saoirse ‘protes’ tentang kekasih. Siapapun yang menang, saya applaus.

#3. Writing (original screenplay)Parasite

Alasan: Banyak tafsir atas ending, banyak keseruan siapa parasite sesungguhnya?

Ini kategori favoritku. Knives Out ga ori-ori amat. Kebetulan saya sedang baca novel Closed Casket, mirip sekali. Warisan yang diberikan bukan kepada darah daging, pembunuhan terjadi di rumah itu, mengundang detektif, penelusuran psikologis, dan boom! Terlalu banyak mirip Poirot. Marriage dan Once Upon… jelas secara cerita biasa, pun 1917 yang ‘hanya’ pengantar pesan. Jadi Bong menang di sini.

Saya akan ulasan sepintas kategori utama ini, kebetulan sudah tonton semua. Urut berdasar waktu lihat. Skor, satu kalimat, dan pendapat singkat:

* Parasite – 4/5 Film Korea Selatan yang meledak di semua sudut dunia, menang banyak di penghargaan manapun. Bahkan digadang akan jadi film asing pertama yang menang Film Terbaik, benarkah?

* Joker – 4/5 Film paling menghentak tahun 2019, DC saja kaget atas pencapaian ini. Program DC bangkit sudah menemui titik temu, ketika mereka tampak amburadul rilislah penjahat komik paling ikonik. Boom!

* Once Upon a Time in Hollywood – 3.5/5 Untuk film sekelas Tarantino, jelas biasa. Mereka adegan nyata dengan merubah fakta, jauh dari bayang IB. Saya tak rela Tarantino menang piala tertinggi untuk film semacam ini, coba lagi kesempatan berikutnya.

* The Irishman – 5/5 Wow, efek film ini dahsyat. Seminggu penuh ga nonton film apapun demi menjaga aura ketik ulasan, hampir dua bulan saya ga kuat ngetik ulasan film lain, sampai akhirnya Little Women muncul, yang berarti melewatkan banyak sekali kesempatan kejar. Akankah jadi film pengobat The Departed? Semoga.

* Ford V Ferrari – 3.5/5 Ekspektasi Rush, realita hush

* 1917 – 4/5 Film dengan teknikal yang wow. Nyaris tak terlihat potongan kamera itu, kecuali yang pergantian malam ke dini hari, pingsan berarti menutup layar. Skoringnya hebat sih, mendengung tak tertahankan. Jangan tanya cerita yang hanya menyampaikan pesan, utamakan kenyamanan duduk kalian!

* Little Women – 5/5 Saoirse + Hermione + Meryl + Greta. Kesempurnaan sinema ada di sini. Dengan plot yang unik. #SacramentoProud again. Good Luck.

* Marriage Story – 3/5 Hanya Adam Driver yang membuatku berhasil menuntaskan film. Gilax, dua jaman bikin sengasara drama perceraian ini. Ga relate sama kehidupan jelata, perjalanan New York-LA jadi mengesalkan jika urusan yang dihapadi mengesalkan, begitu juag penonton.

* Jojo Rabbit – 4/5 Film penutup yang wow, menyenangkan sekali menikmati hari-hari kejayaan Nazi dari sudut anak 10 tahun, hingga akhirnya runtuh. Teman imaji, obsesi politik hingga adegan ending yang asyik. Tik Tok tuh apa ya?

Bagaimana tahun ini?

#2. DirectingMartin Scorsese (The Irishman)

Alasan: Film istimewa dengan cast istimewa, reuni para gaek.

The Departed bukan film terbaik Martin, sebuah remake untuk maestro sinema. Sejak ulasan film ini kupos, saya mendeklarasikan sebagai tim #Irishman come on, ini memang film bagus banget.

#1. Best picture1917

Alasan: ‘One shot’, skoring tanpa jeda, pengalaman sinema yang menakjubkan.

Sejujurnya film of the year saya adalah The Irishman. Namun, pengalaman sebelumnya film terbaik sangat jarang menang tertinggi, maka saya tebak 1917 yang memberi pengalaman sinema luar biasa. Lupakan cerita, ini film memang memberi kepuasan indera lihat dan dengar. Senandung di tempat tujuan sebelum mulai penyerbuan itu keren sih, dan rasanya laik di posisi tertinggi. Good luck Greta dan Saoirse! Lha…

Karawang, 100220 – Sherina Munaf – Singing Pixie

#1. Parenting class 3 jam, diskusi warga 1 jam. Waktu Oscarku di hari terakhir justru kepakai ke sana. Duh!

#2. Oscar akan live di detikcom dan Trans besok pagi.

Little Women: Film Langka Saoirse-Hermione Satu Frame

Jo March: Women, they have minds and they have souls as well as just hearts. And they’ve got ambition and they’ve got talent as well as beauty,and I am so sick of people saying that love is just all a woman is fit for. I am so sick of it! But… I am so lonely.

Luar biasa. Memainkan pola, dengan plot maju mundur, penonton menjadi saksi nasib empat saudari March. Jatuh bangun membangun mimpi, tangis tawa memenuhi ruangan keluarga. Dengan nama-nama besar yang sesak rasanya sulit sekali menolak mencinta para gadis yang sedang mekar ini. Keluarga adalah segalanya, maka Little Women memenuhinya dengan drama meluap-luap.

Kisahnya tentang empat saudari March. Si sulung Jo March (Saoirse Ronan) yang bercita menjadi penulis sandiwara dan penulis novel. Meg March (Emma Watson) yang bercita menjadi model, atau aktris. Amy March (Florence Pugh) yang bercita menjadi pelukis, dan Beth March (Eliza Scanlen) yang bercita menjadi pemain piano. Ayah mereka (Bob Odenkirk) pergi berperang, maka sepanjang film kita akan lebih dekat dengan sang ibu. Marmee March (Laura Dern), dan pembantu mereka Hannah.

Dibuka dengan Jo March yang menatap pintu sebuah agensi penerbit, dengan kamera menyorot punggungnya, seolah mengucap doa maju menyodorkan draf cerita. Saya mengucap bismillah, memulai petuangan, Saoirse maju. Cerita pendeknya disetujui, ia mendapat uang. Di New York, ia mencoba mewujudkan mimpi remajanya. Menjadi penulis. Dia tersenyum…

Meg March memainkan peran dalam sandiwara cerita ciptaan Jo, tatapan sendu pada kain istimewa yang akan dijahit menjadi baju mode saja sudah cukup membuat leleh, ingin menjadi model bisa sama dengan tiket keluar rumah. Pacaran dengan John yang nantinya menjadikannya March pertama yang menikah. Tak perlu waktu lama menanyakan nasibnya, di menit awal sekali kita tahu ia memiliki dua anak, dengan ekonomi sulit. Mungkin peran Emma Watson di sini memang kurang banyak, ia lebih seperti membantu Jo yang jadi pusat perhatian. Namun tiap mereka dalam satu frame, hati saya berdegub lebih kencang. Menyenangkan, menyaksikan dua orang yang menjadi nama dua putriku tampil dalam satu layar.

Amy March suka melukis, mencipta karya dengan keheningan. Berserakan kuas dan ilustrasi, lukisan orang-orang sekitar, dengan pensil atau cat air, sama tampak bagus. Nantinya berkenalan dengan lelaki kaya Fred Vaugh, jalan-jalan bareng sama yang lain ke pantai, bukannya melukis Fred ia membuat ilustrasi gambar Laurie. Sudah ada rasa, sudah menandainya.

Beth March pandai memainkan piano, tapi keluarga March ga punya piano. Maka tetangga mereka yang kaya, Tuan Laurence (Chris Cooper) membolehkannya ke sana guna memainkan tuts. Apalagi mereka kehilangan anak perempuan, maka saling melengkapi. Mereka saling membantu, dua keluarga yang akrab ini menjalin banyak keistimewaan, terutama putra mereka, Theodore ‘Laurie’ Laurence alias Teddy (Timothee Chalamet) yang tampan mengimbangi kecantikan keempat putri March. Memainkan hati dan pikiran, menjadikannya karakter eksekusi, karena ia mencintai Jo, ditolak, mencintai Amy, lha kan Amy sudah akan menikah dengan Fred yang kaya. Bibi March (Meryl Streep) sendiri lalu menggantungkan harap kepada Amy untuk menikahi si kaya, akan menerima waris cincin istimewanya. Namun hati manusia siapa yang tahu, Tuhan adalah mahasegala pembolak-balik hati ciptaannya.

Plot lalu bergulir dengan tenang, Beth sakit, Jo dikirimi surat untuk pulang. Meg datang bersama keluarga kecilnya. Amy yang sedang dalam perjalanan ke Eropa tak dikabari, karena ayah mereka sedang berperang, maka Beth dirawat bersama, oiya sama pembantu mereka yang setia Hannah. Menghadapi hari-hari mendebarkan itu, penonton turut was-was. Dan akhirnya Little Women menemui titik tutup yang seperti kehidupan ini sendiri, apapun yang terjadi segalanya dilindas waktu. Apapun itu, yang terjadi terjadilah.

Saya belum baca bukunya, saya justru punya Jo’s Boys, sekuel cerita ini. Jadi ketika Jo bilang ingin jomblo selamanya, tak ingin menikah, itu bisa dengan mudah dipatahkan. Penjelasan ending di bawah payung tersirat. Terlalu manis mungkin, setidaknya menyelamatkan nasib putri March.

Saoirse Ronan ingin menjadi penulis, mencipta karya dengan ketenunan. Membuat sandiwara keluarga yang disaksikan anak-anak dan tetangga, indah sekali tiap ia tersenyum. Emma Hermione Granger Watson ingin menjadi model, menjadi pemain teater. Mengenakan baju mode, cantik sekali tiap senyum. Meryl Streep menjadi bibi yang mengarahkan putri-putri March, dengan pengalaman hidup panjang, ia berharap yang terbaik kepada para keponakannya, tenteram sekali melihatnya tersenyum. Gerta Gerwig mencipta karya adaptasi novel, menulis dan menyutadarinya. Sacramento Proud. Keempat orang inilah yang menjadikan alasanku menjadikan Little Women, film paling ditunggu, setelah menonton ada satu aktris yang mencuri hati, adalah Florence Pugh. Gilax, ia menjadi penyeimbang yang sangat menawan. Menjadi saudari yang ngeselin, nyebelin, membakar naskah novel, menyerobot perjalanan ke Eropa, menikahi lelaki yang mencinta Saoirse sampai mencipta kekhawatiran menjelma akhir yang pilu. Laik Oscar!

Ekspektasi menikmati akting Saoirse Ronan dan Emma Watson, realita saya tercuri hati oleh Florence Pugh. Gilax, keren banget nih bocah. Sejujurnya, saya lebih menebak Pugh menang Oscar ketimbang Saoirse. Adu akting ketika ia membakar naskah, lalu meminta maaf, lalu berantem, menyusul dengan sepatu es, lalu emosi meluapnya, lalu menjelma gadis baik-baik dengan tampak polos memilih lelaki yang menintai kakaknya untuk dinikahi, sungguh memikat. Kalau bisa sih, dua-duanya menang. Jadi kenapa ga kutaruh aja prediksi sesuai harap? “Yes, you’re Jo.”

Untuk Gerwig, rasanya sulit, apalagi untuk kategori tertinggi. Setidaknya untuk naskah saja, please. Memainkan emosi, plot yang tak lazim, teka-teki siapa jodoh Jo, sampai hal-hal yang mungkin tampak biasa menjelma luar biasa. Lihat! Saoise menulis surat, meminta kesempatan kedua cinta yang pernah ia hempaskan, lihat hanya dalam beberapa menit, surat itu dirobek, dilemparkan ke sungai. Emosi jubgkir balik, yang semestinya jadi piala. Jadi ingat doeleo, mudik mendapat surat yang mematahkan hati, lalu tanpa kubaca detail, langsung kulempar ke sungai. Selain naskah, kostum desain juga laik menang. Jacqueline Durran sukses mencipta pemandangan cantik Hermione-ku.

Jelas, tak perlu diperdebat pendapatku tentang film ini. Tentang dunia buku, proses menulisnya saja sudah dapat nilai wow. Artis yang menyelingkupi menunjuk pada kesempurnaan, kalian hanya tersenyum ke layar saja sudah bikin leleh. Ini kesempatan langka, Saoirse dan Hermione pertama kalinya duet, terlihat dalam satu layar, ya ampun, kata siapa tak ada manusia sempurna?

Anything more?

Little Women | Year 2019 | Directed by Greta Gerwig | Screenplay Greta Gerwig | Based on novel Loiusa May Alcott | Cast Saoirse Ronan, Emma Watson, Meryl Streep, Florence Pugh, Eliza Scanlen, Laura Dern, Timothee Chalamet, Tracy Letts, Loius Garrel | Skor: 5/5

Karawang, 100220 – Backstreet Boys – Drowning

Parma 0-1 Lazio, Caicedo 40’ #OscarDay