Biografi Singkat Soekarno dan 125 Foto Eksklusif Bercerita

Soekarno: Arsitek Bangsa by Bob Hering

Buku yang secara singkat-padat memberi gambaran mengenai sejarah perjuangan Soekarno, Bapak Bangsa dan Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Berisi 125 foto Seokarno, sebagian belum dipublikasikan secara luas. Tulisan sejarah singkat Soekarno, dari lahir hingga meninggal, hanya mengambil garis besarnya, ga banyak hal baru yang dituturkan karena memang buku ini lebih banyak menampilkan foto. Jadi biarkan gambar yang lebih mengambilalih cerita. Melalangbuanakan imaji, membiarkan pembaca mencerna potret hitam putih sang Arsitek bangsa. Semua foto diberi keterangan singkat, waktu dan kegiatan, disusun berurutan jua, sesuai lini masa. Asyik sih mengamati perjalanan hidup beliau, tak perlu ke museum foto kita sudah dirangkumkan!

Buku ini sempat disinggung sepintas saat kumembaca sejarah ‘Dalih Pembunuhan Massa’-nya John Roosa, di situ sekilas lewat ada penyebutan Soekarno dari Bob Hering. Makanya setelah usai telaah G30S, buku ini bergegas kulahap. Sejatinya penasaran berat karya Cindy Adams, sampai sekarang belum kesampaian memiliki. Sudah belasan kali menimang peluang.

Lahir tanggal 6 Juni 1901 di Gang Lawang Seketeng, Peneleh, Jawa Timur, buku ini rilis sejatinya untuk memperingati seabadnya. Memiliki gelar insinyur di Sekolah Tinggi Teknik Bandung, justru keahliannya jarang dipakai, ia malah menjadi arsitek bangsa. Ayahnya Soekemi Sosrodihardjo (1869-1945), adalah putra alim ulama. Nama asli yang diberikan adalah Koesno, karena Koesno kecil berpenyakit maka dalam selamatan nasi kuning justru menjadi Soekarno yang berarti ‘Karno terbaik.’ Tentu diharapkan menjadi seorang ksatria kuat bak tokoh-tokoh wayang legendaris Brata Yudha atau Ramayana.

Sekolah Desa ‘Melayu’ di Tulungagung, ke Mojokerto melanjutkan Sekolah Dasar Belanda, tahun 1915 lulus sebagai amtenar pemerintahan pribumi tingkat paling rendah. Di Gang Peneleh 7, nomor 3, rumah kos bapak Raden Haji Oemar Said Tjokroaminoto selepas lulus HBS, iapun diperkenalkan politik nasionalis yang diilhami Islam. Tjokroaminoto adalah pendiri Serikat Islam. Di sini pula beliau bertemu dengan tokoh-tokoh Marxis Indonesia, seperti Muso, Alimin, Semaun sampai tokoh radikal sosial Coos Hartogh, Henk Sneevliet, dan Asser Baars. Awal tahun 1919 Soekarno membaca tulisan San Min Chui dari Sun Yat-Sen yang mengajukan gabunagn nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme sebagai resep untuk bentuk pemerintahan Asia yang baru.

Tak lama kemudian ia menjabat anggota staf majalah Oetoesan Hindia di bawah pimpinan Tjokroaminoto, juga menjadi anggota pemuda Jong Java. Dari sini ia terkenal dengan sebuata ‘Pimpinan Merah Dari Surabaya’. Di tahun 1921, menempuh ujian HBS dan pindah ke Bandung, mendaftar sebagai Raden Seokarno untuk study insinyur di Sekolah Tinggi Teknik. Ia telah memiliki ikatan dengan Oetari, putri Tjokroaminoto, dengan cara kawin gantung. Namun tahun 1922 perkawinan dibatalkan karena ia kepincut dengan ibu kosnya yang cantik, tertaut 15 tahun usia bernama Bu Inggit Garnasih. Tahun 1923 mereka menikah, sampai tahun 1943.

Partai politik pribumi pertama yang membawa slogan ‘Indonesia untuk Bangsa Indonesia’ adalah Indische Partij berdiri tahun 1913, setahun kemudian para tokohnya diasingkan ke Belanda. Tiga Serangkai: E.F.E Dowes Dekker, orang Indo-Eropa, sepupu cucu Multatuli; lalu priyayi Jawa Mas Tjipto Mangunkusumo dan Raden Mas Suwardi Surjaningrat alias Ki Khajar Dewantara. Inilah yang menarik minat Soekarno dengan inti pedoman, menolak kolonialisme.
Tahun 1924, muncul terbitan organgisasi berjudul Indonesia Merdeka dengan pokok utama penolakan kerja sama, persatuan nasional, sosialisme bernada marxis serta kemerdekaan Indonesia sepenuhnya. Sementara tahun 1920 bulan Mei, ISDV berubah nama menjadi PKI, yang erat hubungan komunis internasional dengan Moskow. Tahun 1926 melakukan perlawanan, dan sekitar seribu tiga ratus anggota PKI dibuang ke daerah Boven Digul yang terpencil – jauh di pedalaman Irian. Maka Soekarno merasa harus segera bertindak, berdirilah Partai Nasional Indonesia (PNI) tanggal 4 Juli 1927. Di akhir tahun, tepatnya tanggal 17 Desember terbentuklah front persatuan Permoefakatan Perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang lalu tercetuk istilah ‘Ko’ untuk yang kerja sama kolonial dan ‘Non-ko’ menolak kerja sama.
PNI yang makin kuat membuat Belanda khawatir, maka pada 29 Desember 1929 Soekarno dan para pimpinan ditahan, diadili di Bandung dan proses ini terkenal dengan pidatonya Indonesie klaagt aan (Indonesia Menggugat). Para 21 Desember 1930, ia dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Namun empat sekawan ini pada tanggal 31 Desember 1931 dapat frasi dan bebas. Selama ditahan PNI bubar dan mencipta dua kubu, non-ko yang lebih moderat bernama Partai Indonesia (Partindo) dan ko yang lebih kecil bernama Partai Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI-Baroe yang dipimpin oleh Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Soekarno kembali mencoba merajut keduanya, gagal. Maka iapun ke kubu Partindo, dan partai makin besar, medio 1933 memiliki anggota duapuluh ribu.

Tanggal 1 Agustus 1933, Belanda yang merasa terancam akan mobilitas, kembali menangkapo Soekarno, tanpa diadili ia diasingkan ke Ende di Flores lalu ke Bengkulu. Semasa pengasingan inilah, ia lebih banyak membaca, belajar Agama dan lebih kalem. Masa sewindu merupakan periode berirama antara kekuatan dan kelemahan.

Tahun 1942, invasi Jepang hanya butuh beberapa minggu untuk menghapus kolonialis Belanda yang berabad itu, bersama ibu Inggit dan anak angkatnya Soekarno bergegas ke pulau Jawa, tepatnya tanggal 9 Juli 1942 sampai di pelabuhan Jakarta dan langsung mengontak Hatta dan Sjahrir guna koordinasi dengan Jepang agar proses merdeka terlaksana. Hatta sepakat, Sjahrir menepi untuk jaringan politiknya sendiri.

Tahun 1943 berdiri Poesat Tenaga Rakjat (Poetera) atas izin Jepang dengan Soekarno-Hatta sebapai ketua dan wakil dengan harapan segera negeri menentukan nasib sendiri. Tanggal 23 Oktober 1943 Soekarno menikah dengan Fatmawati yang dikenalnya di Bengkulu. Pada November 1943 Soekarno-Hatta diutus ke Tokyo untuk bertemu kaisar Jepang sebagai langkah pertama guna mengucapkan terima kasih, tapi gagal. Pulang dengan tanda penghargaan tinggi, tapi tak membawa langkah kongkret Indonesia mau ke mana.

Menurut kutipan ramalan Joyoboyo bahwa pendudukan oleh bangsa kulit kuning tak akan lebih lama dari panenan jagung. Oktober 1943, Pembela Tanah Air (PETA) berdiri melanjutkan perjuangan. Lalu muncullah sejarah yang kini kita kenal dengan RT dan RW, guna menangkal serangan sekutu bila nantinya terjadi. Tanggal 29 April 1945 pihak Jepang membentuk Badan Penyelidikan Kemerdekaan Indonesia (BPKI), 1 Juli pidato Soekarno mengemukakan pandangan Pancasila sebagai dasar negara: nasionalisme, persaudaraan internasional, demokrasi, keadilan sosial serta keimanan penuh toleransi kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Tanggal 7 Agustus 1945 terbentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Jepang lalu kena bom atom di Hirosima dan Nagasaki, tanggal 15 Agustus akhirnya terbentuk proklamasi, namun Soekarno menolak mengumukan segera tanpa persetujuan Jepang yang luluhlantak. Tanggal 16 Agustus para pemuda radikal menculik Soekarno-Hatta dibawa ke Rengasdengklok, namun tekanan tak membuat keduanya menyerah. berkat perwira Jepang Maeda, keduanya berhasil dibawa kembali ke Jakarta. Maeda juga menjadi saksi untuk menghadiri pengumuman proklamasi keesokan harinya jam 10 di halaman rumah Soekarno di jalan Pegangsaan Timur nomor 56, besoknya Soekarno-Hatta diangkat Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pertama.

Pada bulan Maret 1967 Soeharto diangkat sebagai pejabat Presiden, bulan Maret 1968 posisi presiden Soekarno dicabut, dan Soeharto menjadi Presiden Indonesia kedua. Tanggal 21 Juni 1970, sesudah jatuh sakit, pukul tujuh pagi dimumkan mantan Presiden Soekarno meninggal dunia di Jakarta. Pemerintah mengumumkan berkabung nasional seminggu, tanggal 22 Juni jenasah dikebumikan di Blitar dengan upacara kenegaraan besar-besaran.
Bagi Indonesia, dengan demikian masa Soekarno berakhir sudah. Namun sejarah akan terur tercatat merentang ke masa depan yang misterius.

Bob Berthy Hering lahir di Jakarta tahun 1925, mengenyam pendidikan dasar di sini, saat diduduki Jepang (1942-1945) menghuni beberapa kamp interniran di Bandung dan sekitarnya. Dibebaskan tak lama setelah Indonesia merdeka, empat hari sebelum Rapat Raksasa pada tanggal 19 September di Lapangan Ikada, saat itulah ia pertama bertemu Soekarno.

Selama dua puluh tahun Bob Hering mempelajari sejarah dua tokoh perjuangan kemerdekaan dari dua sisi sebelum perang dunia II, yakni kubu Ko dan Non-Ko, kelompok yang berkoperasi dengan pihak Belanda dan kelompok yang menolak bekerja sama, namun kedua kelompok mempunyai tujuan sama: Indonesia Merdeka!

Soekarno: Arsitek Bangsa | by Bob Hering | Pertama kalin diterbitkan bahasa Indonesia oleh Penerbit Kompas tahun 2012 | Manirus Plantema Foundation The Netherlands | Editor dan seleksi fot Jaap Erkelens | Penerjemah Mien Joebhaar | Desain sampul Wiko Haripahargio | Foto sampul: Saat perjalanan ke India, 24-28 Januari 1950, Soekarno mencoba naik sepeda sambil membonceng istrinya, Fatmawati | KMN 20205120018 | ISBN 978-979-709-632-8 | viii + 136 hlm; 14 cm x 21 cm | Cetakan ketiga, Mei 2013 | Skor: 4/5

Karawang, 220220 – Sandhy Sandoro – Bunga Mimpi

Humor Kaum Jelata

Dunia Samin by Soesilo Toer

Orang tidak pernah berterima kasih kepadamu. Tapi orang selalu menuntut lebih banyak darimu. Kalau kau seperti makhluk yang bisa biaca, kau pasti sudah lama betreriak dan menuntut keadilan. Dan kau akan menuntut dariku, orang yang beberapa tahun ini akan kembali ke bumi…”

Identitasnya novel humor, kisahnya memang mencoba jenaka. Ketika beli, saya ga terlalu perhatikan. Saya hanya minta ke Susanto Book Store untuk memilihkan buku Soesilo Toer, apa saja. Karena penasaran sama karya beliau. Sempat nimang-nimang Sang Komponis Kecil, tapi si Mbak-nya justru menunjuk ini. Yowes… Seperti Abu Nawas dari Timur Tengah atau Don Quixote karya Miguel de Carvantes yang termasyur itu. Mencoba memperkenalkan kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia secara komikal, Samin ternyata adalah tokoh berdasar tokoh nyata, bahkan di bagian pembuka dituturkan bahwa Samin Soerosentiko sampai diusulkan menjadi pahlawan Nasional! Kemana saja saya, kok baru dengar. Para Pemangku jabatan di Kabupaten Blora turut memperjuangkan.

Buku dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama berkisah kehidupan melarat Samin yang hidup berdua sama istrinya. Tanpa dikaruniai keturunan, mereka menampilkan kehidupan miskin seorang warga desa yang baik. Suatu ketika terjadi hujan lebat yang mengancam panen, maka Samin pun memukul kentongan (adegan yang dijadikan kover buku), memanggil warga untuk bergoyong royong mencipta bendungan agar air sungai tak meluap ke sawah. Dengan kayu yang ada di sekitar, dengan peralatan seadanya, bahu-membahu dengan orang-orang yang mau datang. Dari kaca mata umum, jelas usaha mereka sukses. Tapi ada yang ga suka, pemilik kayu dan lurah yang kini menjabat. Samin diadili, banyak yang menentang, tapi akhirnya keadilan menang.

Maka tak heran ketika ada pilihan lurah berikutnya ia dipaksa mencalonkan diri, turut dalam pesta rakyat melawan pertahana, dan menang, sebagai kawulo alit, ia membaur dengan warga. Jangan untuk kampanye aneh-aneh, untuk makan sehari-hari saja ia tak kuat. Kisah ditutup dengan ia (hampir) menjadi lurah. Bagi Samin, menjadi kepala desa bukanlah berarti pengangkatan menjadi orang kaya baru. Justru sebaliknya, banyak tugas berat. Persoalan ruwet ditaruh di atas pundaknya yang melengkung.

Buku kedua, adalah masa ia menjabat. Awalnya menolak, tapi suara warga mengungguli. Berkat kemenangan itu, ia termasyur, batas area lokal tentunya. Mengayomi, sesama jelata dilarang saling hardik. Kemudian membangun balai desa, bersama-sama mencoba mencipta kenyamanan. Naas, saat kantor akan jadi malah ada tukang bikin onar. Seorang warga mencoba membakar kantor balai desa yang hampir rampung itu. Sang eksekutor berhasil ditangkap. Diadili dan diinterogasi, siapa dalang yang menggerakkannya. Adalah Haji Apandi, Karnaen, dan Pak Lurah Dongkol. Mereka adalah orang-orang yang tak suka kesuksesan Samin menjadi kepala desa. Proses penyelidikan dan mengadilinya, agak aneh sih. Kalau ga mau dibilang, konyol. Seperti ketika salah satu tertangkap di sumur, ngumpet lalu penelusuran dengan penggambaran ayam. Biasa banget, yah jangan harap serumit deduksi Poirot. Pokoknya cara kerja pengungkapan kejahatan dengan cara umum. Penyelasannya adalah perbuatan terakhir dari orang yang bersalah.

Salah satu bagian bagus di sini mungkin adalah, perlawanan akan adanya para ijon, rentenir dan para pedagang sadis yang menawarkan uang untuk membeli panen sawah yang sudah menghijau padinya, sehingga nantinya saat sudah kuning, panen akan diambil tengkulak. Lagi-lagi, para petani yang jadi korban. Di sini seolah Samin adalah trigger utama untuk melawan! Walau nantinya di bagian akhir kita pun tahu, Samin tak punya sawah, ia hanya buruh sawah.

Bagian ketiga lebih ke tulisan sederhana semacam fiksi mini. Satu cerita dalam satu halaman, pengalaman kehidupan Samin dengan pelukan kaum papa. Beberapa annoying, seperti diskusi tentang bintang dalam hitungan, mencoba melucu tapi malah jatuhnya garing. Samin bisa juga bersinomin lugu, atau malah terlihat bodoh, bagian Samin Ketiduran, bah bagaimana matahari tidur? Atau bagian jadi mancing ikan dengan umpan nasi? Well, sewajarnya sajalah dengan cacing terbukti sukses dan apa adanya? Atau bagian tukang obat bernama Samin dengan nama ayah, kakek, dan keturunan semua bernama Samin. Ga lucu, garing kek kerupuk warteg merek Sahabat.

Samin juga terlihat selow, ketika ditanya kepada siapa barang dan harta diwariskan nantinya karena mereka tak memiliki anak kandung, ia menjawab wariskan untuk bumi. Tanah adalah milik seluruh rakyat. Pendek kata, semua kekayaan yang dapat ditimba dan dinikmati kegunaannya oleh semua rakyat adalah milik rakyat, milik bersama. Dst.

Poinnya memang, ini semacam Abu Nawas versi lokal. Ga semua humor Abu bagus, beberapa konyol. Mirip pula Don Quixote yang terkenal dengan imaji liarnya, sama, ga semua humornya seru. Samin adalah karakter sejenis itu, miskin, banyak akal, terkadang perlu dikasihani. Kadang cerdas, kadang error, kadang kekanakan. Dan lebih sering konyol.

Di Blora, kita jelas mengenal sang maestro cerita Pramoedya Ananta Toer. Ada Tirto Adhie Soerjo, Harya Penangsang, Marco Kartodikromo, sampai Samin Soeroesentiko. Penerbitan buku ini, salah satu tujuannya adalah kembali mengangkat nama tokoh Samin. Dalam tesisnya Soesilo Toer menyatakan Mahatma Gandhi dengan ajaran ahimsa mencontek Samin Soerosentiko. Logikanya, Gandhi belajar di Inggris bersamaan dengan masa ‘pembuangan’ Samin ke Sawahlunto. Berita ini diberitakan surat kabar Belanda di Jakarta, dan juga di Negerinya yang sama Inggris hanya berjarak oleh Selat La Mash. Berdasar materi, analisis dan logika itulah sang Penulis berani membuat penyataan tersebut.

Dunia Samin I pertama terbit tahun 1963, ditulis sebelum berangkat ke Uni soviet tahun 1962. Dunia Samin II ditulis saat kuliah di sana. Sedang Dunia Samin III ditulis setelah keluar dari penjara Orde Baru, dikerjakan di Jakarta tahun 1979. Sebuah proses yang luar biasa. Saya justru respect di sini. Perjuangan mencipta karya.

Orang harus hidup dengan kerja dan bukan dengan keindahan alam dan kedamaian pagi. Orang harus kerja keras. Orang harus menaklukkan kedamaian alam, orang harus menaklukkannya dan tidak tafakur karena keindahannya. Orang harus bangun dari tafakur uang mengimbau dirinya dan siap menaklukkan alam… kerja. Ia tahu mengurus orang adalah pekerjaan paling sulit. Kadang-kadang sampai jauh malam memikirkannya. Yang terang, yang menjadi sebab dari terciptanya desa yang bahagia itu adalah kerja.

Siapa yang akan memiliki itu semua.”

Dunia Samin | Oleh Soesilo Toer | Copyright 2017 | ISBN 978-602-73893-3-5 | Penerbit Pataba Press | Dunia Samin I – 1963: Suka-Duka si Pandir, N.V. Nusantara, Djakarta | Dunia Samin Edisi Baru – 2016: a (April), cetak ulang edisi baru (tiga judul dalam satu terbitan), Pataba Press blora | Cetakan 2018: c (Februari), cetakan ketiga |Penyunting Gunawan Budi Susanto | Gambar smapul Sketsa ulang oleh A C Andre Tanama | Desain sampul Atas Balik | Penata letak Benee Santoso, M. Baihaqi Lathif | xxvi + 290 halaman, 14 x 21 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 200220 – 210220 – Hoobastank – The Reason

Melampaui Zona Nyaman Rasio dan Emosi Kita

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya by Ajahn Brahm

Daripada mengeluhkan kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.” – Pepatah Buddhis

Saya sudah baca seri keduanya, ga selesai. Saya udah baca versi best of-nya, selesai. Karena tipis dan pinjaman. Maka ketika saya ada kesempatan baca versi pertama, pinjaman juga maka harus tuntaskan. Sempat mengendap hampir setahun di rak, bukan karena bacaan berat, tapi karena non-fiksi dan cara berceritanya terpenggal per bab per cerita sehingga lebih ringan, ga ada degub jantung khawatir akan kisah, tak ada rasa penasaran sehingga dibaca santuy, maka ketika akhir tahun lalu kelar, huft leganya. Sempat coba kuulas bulan lalu, tapi ga kelar, dan akhirnya bulan ini kutuntaskan segalanya, biar ga numpuk dan bisa segera kukembalikan. Dipinjam lagi ding, sama Natasha.

Seorang biksu tidak diperkenankan menerima, memiliki, atau memegang uang, apapun macamnya. Saking miskinnya, sampai-sampai biksu mengacaukan statsitik pemerintah. Si Cacing dan Kotorannya, sekadar bagus. Banyak kisah adalah saduran, mayoritas adalah pengalaman Ajahn Brahm dalam menekuni Buddha selama 35 tahun. Sebagai biksu yang melalalangbuana, akhirnya menuturkan hal-hal yang terjadi semasa mengabdi. Phra Visuddhisamvarathera atau Ajahn Brahmavamso atau seperti yang tertera di sampul, Ajahn Brahm bernama asli Peter Betts, orang Inggris yang memutuskan menepi di pedalaman Thailand, lalu ke Australia, pengabdiannya sungguh menakjubkan. Kegigihannya luar biasa. Kisah di sini kebanyakan dari gurunya, Ajahn Chah dari Thailand bagian timur laut. Brahm lahir di London tanggal 7 Agustus 1951, meraih gelar Sarjana Fisika Teori di Cambrigde University. Pada usia 23 tahun memutuskan bertapa.

Ada 108 cerita, yang diklaim pembuka pintu hati, kisah yang menyentuh, menggelikan dan mencerahkan, yang terbagi lagi dalam 11 bab, lalu dipecah dalam sub-bab sebagai judul. Rata-rata ga ada benang sambung dari satu ke cerita lain, jadi memang goresan merdeka. Dalam Buddha ada 4 kebenaran mulia, urutan lazimnya: 1). Kebahagiaan 2). Sebab Kebahagiaan 3). Hilangnya kebahagiaan 4). Sebab hilangnya kebahagiaan.

Dibuka dengan kisah batu bata jelek, yang sudah sering saya dengar tentang dua batu bata yang tersusun jelek di antara susunan yang sempurna. Dalam kunjungan umat, justru batu bata jelek yang miring itu tampak istimewa karena beda dengan yang lain. dua bata jelek yang punya ‘ciri unik’. Kisah ini sudah beberapa kali diperdengarkan, tersebar di internet. Hanya implementasi syarat sukses ada tiga, jadi yang pertama, jadi yang terbaik, atau jadilah yang berbeda. Jelas bata itu sukses di sisi terakhir.

Saya ga terlalu mengingat banyak kisah istimewa di sini, sebagian kecil saja. Namun kalau buku ini kubuka lagi, hanya dengan melihat judulnya saya akan kembali ingat, oh iya kisah yang itu… contoh, barusan banget pas bikin tulisan ini, saya buka judul ‘Mensyukuri Kekurangan’. Dialog antara ayah mertua dengan menantu barunya, bagaimana sang menantu begitu mencintai anaknya, lalu sang ayah menasehati, seperti itulah hidup. Ketika baru menikah, seolah sang istri adalah segalanya, perempuan paling hebat di dunia. Berjalannya waktu, akan melihat kekurangan-kekurangan. Maka muncullah kalimat keramat, “… jika dia tidak punya kekurangan-kekurangan itu, Menantuku, dia mungkin sudah menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik dari kamu.” Yes. Sepakat.

Atau judul ‘Meramal Masa Depan’, sepintas lihat saja pikiran saya pasti akan menerawang bahwa ramalan masa depan itu, sesuatu yang tak pasti. Karena seperti kata Einsten bahwa satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Rasa takut adalah mencari-cari kesalahan dengan masa depan. Rasa takut adalah unsur utama rasa sakit. Rasa takut membuat rasa sakit tambah menyakitkan. Enyahkan rasa takut, maka perasaan sajalah yang tertinggal. Sebuah momen keputusasaan terkadang bisa membuka pintu kebijaksanaan, pintu yang tak terlihat dalam keadaan biasa. “let go”, biarlah berlalu.

Marah bukanlah respon yang cerdas. Orang bijak selalu bahagia, dan orang yang bahagia tak akan pernah marah. Marah, terutamanya, adalah hal yang tak masuk akal. Pemicu utama kemarahan kita kebanyakan adalah pengharapan yang tak sampai. Kadang kita menginvestasikan diri dalam sebuah proyek yang ternyata hasilnya tak sesuai harap, kita marah. Semua ‘seharusnya’ merujuk pada pengharapan, suatu prediksi masa depan. Masa depan, adalah tak pasti. Terlalu mengandalkan pengharapan masa depan, sesuatu ‘seharusnya’ itu namanya cari-cari masalah.

Yang jadi masalah soal kemarahan adalah kita menikmati amarah. Ada sejenis kecanduan dan kenikmatan besar sehubungan dengan pelampiasan kemarahan. Dan kita tak ingin membiarkan sesuatu yang kita nikmati berlalu begitu saja. Kemarahan akan menghancurkan hubungan dan memisahkan kita dari teman-teman kita. Sebuah masalah dengan sebuah solusi memerlukan sebuah keputusan. Dan sebuah keputusan memerlukan strategi.

Ketika seseorang menyakiti kita, kita tidak harus menjadi penghukum bagi mereka. Islam, Kristen, Yahudi tentunya percaya bahwa biarlah Tuhan yang akan menghukum mereka. Buddha, Hindu atau Sikh percaya hukum karma akan menyediakan ganjaran bagi penganiaya. Atau hukum agama modern bernama psikoterapi, Anda tahu bahwa penganiaya akan menjalani terapi yang sangat mahal selama bertahun-tahun karena rasa bersalah. Mari memaafkan, jangan jadi ‘algojo’. Kita tetap menunaikan kewajiban bermasyarakat yang menyejukkan.

Kita semua senang dipuji, sayangnya sepanjang hari kita sering mendengarkan kejelekan kita. Kurasa itu adil, karena kita ternyata juga terlampau sering membicarakan kejelekan orang lain. Kita jarang menyampaikan pujian. Kata pujian gratis padahal, mempererat hubungan, menciptakan kebahagiaan. Kita harus lebih sering menaburnya di sekeliling kita. Orang yang paling sulit dipuji adalah diri kita sendiri. Kita terlampau sering mendapat dokrin, pujian terhadap sendiri mencipta besar kepala. Bukan begitu. Yang benar adalah besar hati. Memuji kualitas baik diri kita sendiri berarti menbesarkan hati dengan cara positif.

Cerita berjudul ‘Pengajaran yang Tak Ternilai’ memberi makna yang dalam. Bagaimana biksu ketika ditanya berapa tarif meditasi bilang gratis, ditanggapi berarti Anda ga bagus. lalu berapa tarif ceramah, dibilang gratis lagi, dicap ga bagus. Well, jadi apa yang kalian dapat? Kebahagiaan! Mantab gan. Ini yang kusuka. Dari pengalaman ini, sang biksu lalu mengubah jawab saat ditanya tarif. Pengajaran ini tak ternilai.

Salah satu pengajaran tak ternilai itu adalah mengalahkan depresi. Terlihat sederhana, nyatanya tak semudah itu. depresi adalah penjara yang yang sering dialami kita-kita. ‘Inipun akan berlalu’ membantu melecut semangat kita, juga menghindarkan salah satu penyebab depresi terberat, yaitu tak menyukuri saat ini.

Salah satu puisi bagus dari Jonathan Wilson-Fuller, saya foto ya.

Saya mencintai diri saya sendiri lebih dari kalian semua.” Cinta sejati itu langka. Ada dua jenis kebebasan di dunia: kebebasan untuk berkeinginan (freedom of desires) dan kebebasan dari berkeinginan (freedom from desires). “Ketika tidak ada yang bisa dilakukan, ya jangan ngapa-ngapain.

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya | by Ajahn Brahm | Diterjemahkan dari Opening the Door of Your Heart | Penerjemah Chuang | Penyunting Kartika Swarnacitra, Handaka Vijjananda | Penggambar sampul Shinju Arisa, Jeff Liang | Perancang dan Penata Vidi Yulius Sunandar | Copyright 2004 | First published in Australia by Thomas C. Lothian Pty Ltd. | ISBN 978-602-8194-31-0 | Penebit Awareness Publication | Cetakan 25, Mei 2012 | Skor: 3.5/5

Segala masalah manusia disebabkan oleh ketidaktahuannya tentang bagaimana untuk duduk tenang.” – Blaise Pascal.

Karawang, 210120 – 200220 – Bee Gees – You Should be Dancing

Thx to Titus RP

Dua Garis Biru: Slow Pace Realistik

“Kalau ibu saja perlahan-lahan bisa memaafkan kamu, apalagi Allah.”Yuni

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Sleeper hit of the year.

Hanya dengan melihat trailer. Kita tahu alurnya, kita bisa menebak garis besar perjalanan film ini, kita pasti paham langkah-langkah bidak catur per adegan, ke arah mana cerita cinta ini kita juga pasti mengerti. Dua sejoli, anak sekolah pacaran, di kamar dan terjadilah. Justru hal seperti ini lebih terlihat nyata, ketimbang film romantis ramaja yang sering memperlihatkan adegan berdua genggaman tangan, taa-daaa… tak terjadi apa-apa. Lantas kenapa Dua Garis Biru masih bisa memukau? Akting, naskah, dan beberapa keunggulan teknis mencipta debug jantung dan tangis. Endingnya menyempurna, menata rencana masa depan tak semudah menyusun lego. Adegan UKS jelas luar biasa, dua peristiwa marah disajikan tanpa putus penuh emosi. Teriakan saling silang di UKS akan mencipta kenangan yang tertanam dalam dinding-dinding sekolah.

Film ini sukses besar, baik sisi tiket maupun ulasan. Menjadi sleeper hit tahun ini, menjelma puja-puji di banyak beranda sosial media. Inilah film paling mengejutkan 2019, film remaja menghadapi problematika masalah orang dewasa.

Kisahnya tentang dua siswa yang menjalin kasih, hamil lalu penonton menjadi saksi kejadian akibat perbuatan itu bersama orang-orang terdekat. Dara Yunika (Adhisty Zara JKT 48) adalah siswi cerdas, adegan pembuka berkata itu. Berpacaran dengan teman sekelas Bima (Angga Yunanda) yang memiliki nilai akademik biasa, adegan pembuka juga berkata gitu. Kehidupan keduanya pun beda kasta, Dara terlahir dari keluarga kaya. Memiliki dik yang imut Putri (Maisha Kanna), kedua orang tua David (Dwi Sasono) dan Rika (Lulu Tobing) yang secara ekonomi mapan, laiknya orang umum bilang masa depannya terjamin. Bima dari keluarga sederhana, orang tua relijius Yuni (Cut Mini Theo) dan Rudy (Arswendi Bening Swara), dan kakak yang sudah memiliki keluarga sendiri Dewi (Rachel Amanda). Hidup dalam keriuhan gang-gang sempit di Jakarta. Dari sudut romantisme, kita bisa bilang cinta menyatukan mereka, tapi dari sudut yang lebih dalam, MBA terpaksa menyatukan mereka.

Apa yang kita tanam, akan kita tuai. Pernikahan remaja memaksa mereka dewasa lebih cepat. Inilah waktu-waktu cekam, menikah adalah menyatukan dua keluarga. Dan memang, seharusnya kedua keluarga yang sudah terjalin ini bersatu, namun tetap berjarak, dan Dua Garis Biru menyajikan realita, tak berlebihan Cut Mini menang FFI karena sajian emosi dalam frame terlihat hebat.

Yang lebih menakjubkan, ini adalah debut sutradara Gina S. Noer. Luar biasa, film perdana langsung menghentak. Seharusnya kita tak heran juga sih, hanya lupa antisipasi, CV naskah skenario-skenarionya memang berkualitas. Dimulai dengan omongan miring para sinister ketika trailer keluar, di beranda sosmed banyak sekali yang menghujat, banyak yang bilang akan jadi film minor bahkan sebelum rilis. Namun kualitas berbicara seolah menabok semua nada miring itu. Gina pasti tertawa menyaksikan box officenya.

Salut sama bagian kasting, nyaris bagus semua. Spesial buat Zara, well dia sangat cantik. Suaranya bening, sedikit serak tertahan. Menampilkan mimik remaja yang harus mengambil keputusan penting. Lantas selalu berpikir sebelum bicara, jelas ia telah lebih matang. Selamat, atas kembalinya Lulu Tobing ke layar lebar. Pesona terjaga. Cocok akting jadi orang kelas atas. Salut juga untuk penampilan Arswendi Bening Swara jelas ga selantang istrinya, porsinya pas, gesturenya pas, aksinya sangat pas. Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memang digariskan lebih tenang. Saya sudah banyak mengalami, saya sudah sering mengambil keputusan keluarga dengan kepala dingin ketika masalah pelik menempa.

Adegan ayah anak tersaji memikat, sang ayah duduk di lantai, Bima di tempat tidur mendekam sendu, duduk merenung dalam kebingungan, seolah bilang, “Ada banyak hal tak kumengerti.” Tak berani berharap atau berencana. Yah beginilah hidup Nak. Mengapa remaja membuat salah perhitungan, banyak pemikiran dan aksi salah, usia labil. Namun kesalahan yang ini kebablasan. Karena cinta memang menampar logika, dan masa remaja belum mampu menimbang konsekuensi lengkap keputusan mereka.

Waktu linier, tak ada jalan kembali bagi umat manusia. Ketika dua garis biru muncul, tak ada jalan kembali ke masa lalu yang indah-indah. Mereka tahu bahwa tak diragukan lagi, hari ini adalah hari yang patut dikenang dalam hidupnya. Kenang kepanikan. Tidak bisa mundur lagi. Perangkap sudah menjeplak tertutup. Mulai sekarang, bukan Matematika dan rumus Kimia yang akan kita pusingkan, roda ban terlampau kencang melaju melompati usia tanggung jawab. Menjadikan hari-hari menegangkan, diwarnai lebih banyak kecemasan dan kegelisahan. Mau digugurkan atau tetap dipertahankan, kedua opsi sama buruknya di usia remaja. Simalakama. Keceriaan kehidupan lama, kini selesai sudah.

Kisah perangkap romantis itu memberi pelajaran berharga, jauh lebih penting ketimbang teori yang dipelajari dalam seminar parenting manapun. Serangkaian keputusan sepele di kamar, salah perhitungan, memiliki efek kumulatif yang memaksa keduanya menghabiskan hari-harinya memikul ‘berember-ember air’ masalah untuk disajikan kepada semua orang terdekat. Mungkin mereka memiliki keinginan-keinginan lain, tapi setiap ide yang dilontarkan secara sadar membuat kehidupan lebih sulit guna mencapai keinginan tersebut. Upaya rumit menyelaraskan rasional dan matematis, terciptalah adegan UKS. Para orang tua terjalin tak bisa menghindar dari perhitungan faktor-faktor non material seperti ideologi dan budaya. Tawar-menawar ala Faust antara kedua orang tua bukan satu-satunya kesepakatan konsekuensi, dihadirkan pula opsi ketiga tentang rencana adopsi. Voila, takdir tertawa.

Rencananya. Catat, setelah menikah, bayi terlahir akan diadopsi kepada saudara Dara yang belum dikaruniani anak, Dara yang cerdas secara pendidikan karena terhenti sekolah harus diselamatkan demi masa depan yang masih terentang panjang, akan melanjutkan study ke Korea, mengejar mimpi. Bima terpisah dari anaknya, melanjutkan tumbuh kembang dewasa, karena terlampau muda, mendidik anak itu tak mudah Nak, merajut ulang beberapa mimpi, dan kedua besan secara emosional terputus. Selain beda kasta, mereka memang terjalin sebab terpaksa. Boom! Akhir kisah itu khalayan belaka. Ketika menit mendekati akhir, kita malah diberi bumbu merica melimpahkan derai air mata yang merusak tatanan. Tanda tangan remaja itu setara keputusan teramat penting manusia dewasa. Hebat! Rasanya apa yang kita minta, tak pernah dikabulkan Tuhan, maaf koreksi, apa yang kita minta tak semua dikabulkan Tuhan. Ghhhmmm… Gina memberi akhir yang jitu untuk hubungan yang lebih pas, menahan keinginan, menaboki harapan senyum dan tawa pahit di akhir. Kekhawatiran akan masa depan memang pemain utama dalam teater akalbudi manusia.

Dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika, tertuang bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka dikaruniai oleh Pencipta mereka hak-hak tertentu yang tak bisa dicabut, yang antara lain mencakup kehidupan, kemerdekaan, dan pencarian kebahagiaan. Kehidupan seolah reset, demi lembaran baru hidup manusia pertama di semesta: Adam.

Mencucurkan air mata di saat keberangkatan bisa mendatangkan kemalangan bagi orang terkasih. Adegan itu ditampilkan dengan teramat baik. Menutup layar puas. Satu-satunya hal yang bisa melegakan adalah angan-angan. “Kamu pikir bijaksana merusak segalanya yang sudah berjalan begitu baik?”

Sejauh ini, Dua Garis Biru adalah film terbaik 2019 yang kutonton. Slow pace realistik (Harsoyo Lee).

Dua Garis Biru | Tahun 2019 | Sutradara Gina S. Noer | Naskah Gina S. Noer | Pemain Angga Aldi Yunanda, Adhisty Zara, Lulu Tobing, Cut Mini, Dwi Sasono, Arswendi Bening Swara, Rachel Amanda, Ariella Calista Ichwan, Cindy Hapsari Maharani Pujiantoro Putri | Skor: 4/5

Karawang, 181219 – 160220 – Marty Robbins – A White Sport Coat (And A Pink Carnation)

*) perdana tayang di tv kemarin lusa di prime time saat Valentine, dan sudah bisa disaksikan di Iflix

Prediksi Oscar 2020: Tim #Irishman

Film terakhir Oscar 2020 saya nikmati 10-02-20 pas Isya, jadi prediksi ini saya buat hingga menit-menit akhir jelang Parma v Lazio. Izin cuti besok sudah kukantongi. Ini akan jadi Oscar kesebelas yang kutonton secara beruntun. Kabarnya akan live di detikcom dan sekilas sepintas di Trans TV. Berikut 14 tebakanku.

#14. Animated feature filmKlaus

Alasan: Tahun ini kartun justru ga se-wow seperti sebelumnya

Yang jelas bukan How to Train Your Dragon 3: The Hidden World, nonton bioskop sama keluarga pasca musibah, filmnya justru paling lemah dalam seri ini. Missing Link yang menang Golden Globe ternyata juga kurang istimewa. Bisa saja Toy Story 4, saya belum nonton. Klaus menang karena persaingan justru di waktu yang tepat, ga seperti tahun-tahun sebelumnya yang berderet ketat, tahun ini ga ada kartun yang wow. Tema mengirim seorang pengeran ke daerah terpencil guna jadi tukang pos sebagai hukuman tampak standar, tapi lihat betapa perjuangan bersama Klaus menjelma lucu bertabur hadiah.

#13. Actor in a supporting role Joe Pesci (Irishman)

Alasan: Roti celup dan makian orang tua yang tak lazim

Sebelum pengumuman kandidat saya sudah lock untuk Joe Pesci, walaupun semakin menipisnya hari H, justru nama Brad Pitt mencuat. Tak perlu tampan untuk akting benerin antena agar dapat Oscar. Pesci menang banyak dengan gestur semangat di usia senja.

#12. Actor in a leading roleJoaquin Phoenix (Joker)

Alasan: Pas lihat tawa di kendaraan umum itu, saya sudah yakin ia menang.

Ya, tawa yang pedih itu terasa nyata. Joker versi baru memang istimewa, secara akting. Rasanya tak perlu diperdebat dan dijelaskan lebih dalam, (pasti) menang.

#11. Actress in a supporting roleFlorence Pugh (Little Women)

Alasan: Ekspektasi terpesona Hermione-Saoirse, realita tercuri hati Puch

Dern memang leading pole, menang banyak. Namun semalam saya kecewa secara keseluruhan Marriage Story, hanya Adam Driver yang menonjol. Dern menang di adegan buka baju luar, selebihnya debat panas khas pengacara yang sudah umum. Sebenarnya justru Scar Jo yang istimewa di Jojo Rabbit, sayang keburu dimatikan. Nah, tebakan Puch lebih ke personal, bagaimana bisa tak kuantisipasi, ia bersinar dan sukses menandingi duo Hermione-Saoirse!

#10. Actress in a leading roleSaoirse Ronan (Little Women)

Alasan: Melihat namanya tercantum saja sudah otomatis, apalagi ia berakting sebagai Penulis.

Semua terlunjuk mengarah ke Renee Zellweger sebagai Judy Garland yang terkenal itu, saya belum menontonnya. Yang jelas bukan Scar Jo yang drama cerainya belibet hingga dua jaman. Ya, saya akan selalu menebak Saoirse Ronan setiap ia muncul dalam persaingan Oscar, tak peduli seberapa besar peluangnya. Louisa May Alcott dalam proses kreatifnya.

#9. Foreign Language FilmParasite

Alasan: Sudah dikunci dalam gudang bawah tanah.

Film yang masuk ke kandidat best picture, jelas akan menang di kategori ini. Bong pastinya sudah menyiapkan pidato, dengan penerjemah di sampingnya. Bersiapkan mendengar petuahnya, lagi.

#8. Costume DesignLittle Women

Alasan: Modelnya Emma Hermione Granger Watson!

Hermione boleh saja mengubur mimpi jadi aktris atau model dalam film ini, tapi gemerlap mode-nya jelas memikat.

#7. Visual effectsAvenger: End Game

Alasan: Action of the Year

Sebagai film terlaris sepanjang masa, walau dibantu re-rilis ya, rasanya Endgame berhak mencantumkan namanya di Oscar. Ok, saya terpesona sama ledakan nyata Irishman tapi Endgame ga hanya di satu dua adegan, melimpah ruah melupakan banyak logika.

#6. Music (original score)Thomas Newman (1917)

Alasan: berdengung sepanjang film, tak henti menghantui

Little Women sih seharusnya, tapi menyaksikan 1917 di bioskop adalah pengalaman sinema yang memberi dimensi lain. Selain keunggulan ‘one shot’ nya, bagian audio juara. Bagian teknis menang banyak, menyokong Perang Dunia Pertama yang memesona kedua indra.

#5. Cinematography1917

Alasan: Ini juga lock sih

Teknis 1917 akan menang banyak, pun di bagian ini. Kecuali The Lighthouse memberi kejutan, saya belum tonton.

#4. Writing (adapted screenplay)Little Women

Alasan: Kecuali The Two Popes, keempat lainnya sungguh sukses memuaskan.

Tahun ini di bagian ini yang paling sulit, empat film memuaskan semuanya. The Irishman menang saya bahagia, tak pelak 3,5 jam bisa semenyenangkan itu. Jojo Rabbit wow, jos banget mencipta kuasa Hitler. Joker, rasanya box office saja yang biar bicara. Little Women, naskahnya juara. Plot maju mundur, memainkan tempo, menampar keyakinan, bagaimana Keempat Saudari March saling mengisi. Nangis pas bagian, Saoirse ‘protes’ tentang kekasih. Siapapun yang menang, saya applaus.

#3. Writing (original screenplay)Parasite

Alasan: Banyak tafsir atas ending, banyak keseruan siapa parasite sesungguhnya?

Ini kategori favoritku. Knives Out ga ori-ori amat. Kebetulan saya sedang baca novel Closed Casket, mirip sekali. Warisan yang diberikan bukan kepada darah daging, pembunuhan terjadi di rumah itu, mengundang detektif, penelusuran psikologis, dan boom! Terlalu banyak mirip Poirot. Marriage dan Once Upon… jelas secara cerita biasa, pun 1917 yang ‘hanya’ pengantar pesan. Jadi Bong menang di sini.

Saya akan ulasan sepintas kategori utama ini, kebetulan sudah tonton semua. Urut berdasar waktu lihat. Skor, satu kalimat, dan pendapat singkat:

* Parasite – 4/5 Film Korea Selatan yang meledak di semua sudut dunia, menang banyak di penghargaan manapun. Bahkan digadang akan jadi film asing pertama yang menang Film Terbaik, benarkah?

* Joker – 4/5 Film paling menghentak tahun 2019, DC saja kaget atas pencapaian ini. Program DC bangkit sudah menemui titik temu, ketika mereka tampak amburadul rilislah penjahat komik paling ikonik. Boom!

* Once Upon a Time in Hollywood – 3.5/5 Untuk film sekelas Tarantino, jelas biasa. Mereka adegan nyata dengan merubah fakta, jauh dari bayang IB. Saya tak rela Tarantino menang piala tertinggi untuk film semacam ini, coba lagi kesempatan berikutnya.

* The Irishman – 5/5 Wow, efek film ini dahsyat. Seminggu penuh ga nonton film apapun demi menjaga aura ketik ulasan, hampir dua bulan saya ga kuat ngetik ulasan film lain, sampai akhirnya Little Women muncul, yang berarti melewatkan banyak sekali kesempatan kejar. Akankah jadi film pengobat The Departed? Semoga.

* Ford V Ferrari – 3.5/5 Ekspektasi Rush, realita hush

* 1917 – 4/5 Film dengan teknikal yang wow. Nyaris tak terlihat potongan kamera itu, kecuali yang pergantian malam ke dini hari, pingsan berarti menutup layar. Skoringnya hebat sih, mendengung tak tertahankan. Jangan tanya cerita yang hanya menyampaikan pesan, utamakan kenyamanan duduk kalian!

* Little Women – 5/5 Saoirse + Hermione + Meryl + Greta. Kesempurnaan sinema ada di sini. Dengan plot yang unik. #SacramentoProud again. Good Luck.

* Marriage Story – 3/5 Hanya Adam Driver yang membuatku berhasil menuntaskan film. Gilax, dua jaman bikin sengasara drama perceraian ini. Ga relate sama kehidupan jelata, perjalanan New York-LA jadi mengesalkan jika urusan yang dihapadi mengesalkan, begitu juag penonton.

* Jojo Rabbit – 4/5 Film penutup yang wow, menyenangkan sekali menikmati hari-hari kejayaan Nazi dari sudut anak 10 tahun, hingga akhirnya runtuh. Teman imaji, obsesi politik hingga adegan ending yang asyik. Tik Tok tuh apa ya?

Bagaimana tahun ini?

#2. DirectingMartin Scorsese (The Irishman)

Alasan: Film istimewa dengan cast istimewa, reuni para gaek.

The Departed bukan film terbaik Martin, sebuah remake untuk maestro sinema. Sejak ulasan film ini kupos, saya mendeklarasikan sebagai tim #Irishman come on, ini memang film bagus banget.

#1. Best picture1917

Alasan: ‘One shot’, skoring tanpa jeda, pengalaman sinema yang menakjubkan.

Sejujurnya film of the year saya adalah The Irishman. Namun, pengalaman sebelumnya film terbaik sangat jarang menang tertinggi, maka saya tebak 1917 yang memberi pengalaman sinema luar biasa. Lupakan cerita, ini film memang memberi kepuasan indera lihat dan dengar. Senandung di tempat tujuan sebelum mulai penyerbuan itu keren sih, dan rasanya laik di posisi tertinggi. Good luck Greta dan Saoirse! Lha…

Karawang, 100220 – Sherina Munaf – Singing Pixie

#1. Parenting class 3 jam, diskusi warga 1 jam. Waktu Oscarku di hari terakhir justru kepakai ke sana. Duh!

#2. Oscar akan live di detikcom dan Trans besok pagi.

Little Women: Film Langka Saoirse-Hermione Satu Frame

Jo March: Women, they have minds and they have souls as well as just hearts. And they’ve got ambition and they’ve got talent as well as beauty,and I am so sick of people saying that love is just all a woman is fit for. I am so sick of it! But… I am so lonely.

Luar biasa. Memainkan pola, dengan plot maju mundur, penonton menjadi saksi nasib empat saudari March. Jatuh bangun membangun mimpi, tangis tawa memenuhi ruangan keluarga. Dengan nama-nama besar yang sesak rasanya sulit sekali menolak mencinta para gadis yang sedang mekar ini. Keluarga adalah segalanya, maka Little Women memenuhinya dengan drama meluap-luap.

Kisahnya tentang empat saudari March. Si sulung Jo March (Saoirse Ronan) yang bercita menjadi penulis sandiwara dan penulis novel. Meg March (Emma Watson) yang bercita menjadi model, atau aktris. Amy March (Florence Pugh) yang bercita menjadi pelukis, dan Beth March (Eliza Scanlen) yang bercita menjadi pemain piano. Ayah mereka (Bob Odenkirk) pergi berperang, maka sepanjang film kita akan lebih dekat dengan sang ibu. Marmee March (Laura Dern), dan pembantu mereka Hannah.

Dibuka dengan Jo March yang menatap pintu sebuah agensi penerbit, dengan kamera menyorot punggungnya, seolah mengucap doa maju menyodorkan draf cerita. Saya mengucap bismillah, memulai petuangan, Saoirse maju. Cerita pendeknya disetujui, ia mendapat uang. Di New York, ia mencoba mewujudkan mimpi remajanya. Menjadi penulis. Dia tersenyum…

Meg March memainkan peran dalam sandiwara cerita ciptaan Jo, tatapan sendu pada kain istimewa yang akan dijahit menjadi baju mode saja sudah cukup membuat leleh, ingin menjadi model bisa sama dengan tiket keluar rumah. Pacaran dengan John yang nantinya menjadikannya March pertama yang menikah. Tak perlu waktu lama menanyakan nasibnya, di menit awal sekali kita tahu ia memiliki dua anak, dengan ekonomi sulit. Mungkin peran Emma Watson di sini memang kurang banyak, ia lebih seperti membantu Jo yang jadi pusat perhatian. Namun tiap mereka dalam satu frame, hati saya berdegub lebih kencang. Menyenangkan, menyaksikan dua orang yang menjadi nama dua putriku tampil dalam satu layar.

Amy March suka melukis, mencipta karya dengan keheningan. Berserakan kuas dan ilustrasi, lukisan orang-orang sekitar, dengan pensil atau cat air, sama tampak bagus. Nantinya berkenalan dengan lelaki kaya Fred Vaugh, jalan-jalan bareng sama yang lain ke pantai, bukannya melukis Fred ia membuat ilustrasi gambar Laurie. Sudah ada rasa, sudah menandainya.

Beth March pandai memainkan piano, tapi keluarga March ga punya piano. Maka tetangga mereka yang kaya, Tuan Laurence (Chris Cooper) membolehkannya ke sana guna memainkan tuts. Apalagi mereka kehilangan anak perempuan, maka saling melengkapi. Mereka saling membantu, dua keluarga yang akrab ini menjalin banyak keistimewaan, terutama putra mereka, Theodore ‘Laurie’ Laurence alias Teddy (Timothee Chalamet) yang tampan mengimbangi kecantikan keempat putri March. Memainkan hati dan pikiran, menjadikannya karakter eksekusi, karena ia mencintai Jo, ditolak, mencintai Amy, lha kan Amy sudah akan menikah dengan Fred yang kaya. Bibi March (Meryl Streep) sendiri lalu menggantungkan harap kepada Amy untuk menikahi si kaya, akan menerima waris cincin istimewanya. Namun hati manusia siapa yang tahu, Tuhan adalah mahasegala pembolak-balik hati ciptaannya.

Plot lalu bergulir dengan tenang, Beth sakit, Jo dikirimi surat untuk pulang. Meg datang bersama keluarga kecilnya. Amy yang sedang dalam perjalanan ke Eropa tak dikabari, karena ayah mereka sedang berperang, maka Beth dirawat bersama, oiya sama pembantu mereka yang setia Hannah. Menghadapi hari-hari mendebarkan itu, penonton turut was-was. Dan akhirnya Little Women menemui titik tutup yang seperti kehidupan ini sendiri, apapun yang terjadi segalanya dilindas waktu. Apapun itu, yang terjadi terjadilah.

Saya belum baca bukunya, saya justru punya Jo’s Boys, sekuel cerita ini. Jadi ketika Jo bilang ingin jomblo selamanya, tak ingin menikah, itu bisa dengan mudah dipatahkan. Penjelasan ending di bawah payung tersirat. Terlalu manis mungkin, setidaknya menyelamatkan nasib putri March.

Saoirse Ronan ingin menjadi penulis, mencipta karya dengan ketenunan. Membuat sandiwara keluarga yang disaksikan anak-anak dan tetangga, indah sekali tiap ia tersenyum. Emma Hermione Granger Watson ingin menjadi model, menjadi pemain teater. Mengenakan baju mode, cantik sekali tiap senyum. Meryl Streep menjadi bibi yang mengarahkan putri-putri March, dengan pengalaman hidup panjang, ia berharap yang terbaik kepada para keponakannya, tenteram sekali melihatnya tersenyum. Gerta Gerwig mencipta karya adaptasi novel, menulis dan menyutadarinya. Sacramento Proud. Keempat orang inilah yang menjadikan alasanku menjadikan Little Women, film paling ditunggu, setelah menonton ada satu aktris yang mencuri hati, adalah Florence Pugh. Gilax, ia menjadi penyeimbang yang sangat menawan. Menjadi saudari yang ngeselin, nyebelin, membakar naskah novel, menyerobot perjalanan ke Eropa, menikahi lelaki yang mencinta Saoirse sampai mencipta kekhawatiran menjelma akhir yang pilu. Laik Oscar!

Ekspektasi menikmati akting Saoirse Ronan dan Emma Watson, realita saya tercuri hati oleh Florence Pugh. Gilax, keren banget nih bocah. Sejujurnya, saya lebih menebak Pugh menang Oscar ketimbang Saoirse. Adu akting ketika ia membakar naskah, lalu meminta maaf, lalu berantem, menyusul dengan sepatu es, lalu emosi meluapnya, lalu menjelma gadis baik-baik dengan tampak polos memilih lelaki yang menintai kakaknya untuk dinikahi, sungguh memikat. Kalau bisa sih, dua-duanya menang. Jadi kenapa ga kutaruh aja prediksi sesuai harap? “Yes, you’re Jo.”

Untuk Gerwig, rasanya sulit, apalagi untuk kategori tertinggi. Setidaknya untuk naskah saja, please. Memainkan emosi, plot yang tak lazim, teka-teki siapa jodoh Jo, sampai hal-hal yang mungkin tampak biasa menjelma luar biasa. Lihat! Saoise menulis surat, meminta kesempatan kedua cinta yang pernah ia hempaskan, lihat hanya dalam beberapa menit, surat itu dirobek, dilemparkan ke sungai. Emosi jubgkir balik, yang semestinya jadi piala. Jadi ingat doeleo, mudik mendapat surat yang mematahkan hati, lalu tanpa kubaca detail, langsung kulempar ke sungai. Selain naskah, kostum desain juga laik menang. Jacqueline Durran sukses mencipta pemandangan cantik Hermione-ku.

Jelas, tak perlu diperdebat pendapatku tentang film ini. Tentang dunia buku, proses menulisnya saja sudah dapat nilai wow. Artis yang menyelingkupi menunjuk pada kesempurnaan, kalian hanya tersenyum ke layar saja sudah bikin leleh. Ini kesempatan langka, Saoirse dan Hermione pertama kalinya duet, terlihat dalam satu layar, ya ampun, kata siapa tak ada manusia sempurna?

Anything more?

Little Women | Year 2019 | Directed by Greta Gerwig | Screenplay Greta Gerwig | Based on novel Loiusa May Alcott | Cast Saoirse Ronan, Emma Watson, Meryl Streep, Florence Pugh, Eliza Scanlen, Laura Dern, Timothee Chalamet, Tracy Letts, Loius Garrel | Skor: 5/5

Karawang, 100220 – Backstreet Boys – Drowning

Parma 0-1 Lazio, Caicedo 40’ #OscarDay