Nominasi Oscar 2020

Joker menjadi pole position nominasi tahun ini. Dari kategori tertinggi baru lima yang sudah kutonton. Joker, Irishman, Ford V Ferarri, Parasite, Once Upon A Time In Hollywood… Sementara menjagokan #irishman masih ada tiga minggu lagi buat kejar tonton ulas. Selamat menikmati.

BEST PICTURE
“Ford v Ferrari”
“The Irishman”
“Jojo Rabbit”
“Joker”
“Little Women”
“Once Upon a Time…in Hollywood”
“Marriage Story”
“Parasite”
“1917”

ACTRESS IN A SUPPORTING ROLE
Kathy Bates, “Richard Jewell”
Laura Dern, “Marriage Story”
Scarlett Johansson, “Jojo Rabbit”
Florence Pugh, “Little Women”
Margot Robbie, “Bombshell”

ACTOR IN A SUPPORTING ROLE
Tom Hanks, “A Beautiful Day in the Neighborhood”
Anthony Hopkins, “The Two Popes”
Al Pacino, “The Irishman”
Joe Pesci, “The Irishman”
Brad Pitt, “Once Upon a Time…in Hollywood”

FOREIGN LANGUAGE FILM
South Korea, “Parasite”
Spain, “Pain and Glory”
France, “Les Misérables”
North Macedonia, “Honeyland”
Poland, “Corpus Christi”

DOCUMENTARY (SHORT)
“In the Absence”
“Learning to Skateboard in a Warzone (If You’re a Girl)”
“Life Overtakes Me”
“St. Louis Superman”
“Walk Run Cha-Cha”

DOCUMENTARY FEATURE
“American Factory”
“The Edge of Democracy”
“Honeyland”
“For Sama”
“The Cave”

ORIGINAL SONG
“I’m Standing With You,” “Breakthrough”
“Into the Unknown,” “Frozen II”
“Stand Up,” “Harriet”
“(I’m Gonna) Love Me Again,” “Rocketman”
“I Can’t Let You Throw Yourself Away,” “Toy Story 4”

ANIMATED FEATURE FILM
“How to Train Your Dragon: The Hidden World”
“I Lost My Body”
“Klaus”
“Missing Link”
“Toy Story 4”

ADAPTED SCREENPLAY
“The Irishman”
“Jojo Rabbit”
“Little Women”
“The Two Popes”
“Joker”

ORIGINAL SCREENPLAY
“Marriage Story”
“Once Upon a Time in Hollywood”
“Parasite”
“Knives Out”
“1917”

ACTOR IN A LEADING ROLE
Antonio Banderas, “Pain and Glory”
Leonardo DiCaprio, “Once Upon a Time…in Hollywood”
Adam Driver, “Marriage Story”
Joaquin Phoenix, “Joker”
Jonathan Pryce, “The Two Popes”

ACTRESS IN A LEADING ROLE
Cynthia Erivo, “Harriet”
Scarlett Johansson, “Marriage Story”
Saoirse Ronan, “Little Women”
Renée Zellweger, “Judy”
Charlize Theron, “Bombshell”

DIRECTOR
Martin Scorsese, “The Irishman”
Quentin Tarantino, “Once Upon a Time in Hollywood”
Bong Joon-ho, “Parasite”
Sam Mendes, “1917”
Todd Phillips, “Joker”

PRODUCTION DESIGN
“Once Upon a Time in Hollywood”
“The Irishman”
“1917”
“Jojo Rabbit”
“Parasite”

CINEMATOGRAPHY
“1917”
“Once Upon a Time in Hollywood”
“The Irishman”
“Joker”
“The Lighthouse”

COSTUME DESIGN
“Once Upon a Time… in Hollywood”
“Little Women”
“The Irishman”
“Jojo Rabbit”
“Joker”

SOUND EDITING
“1917”
“Ford v Ferrari”
“Star Wars: The Rise of Skywalker”
“Once Upon a Time… in Hollywood”
“Joker”

SOUND MIXING
“1917”
“Ford v Ferrari”
“Once Upon a Time… in Hollywood”
“Ad Astra”
“Joker”

ANIMATED SHORT FILM
“Dcera (Daughter)”
“Hair Love”
“Kitbull”
“Memorable”
“Sister”

LIVE ACTION SHORT FILM
“Brotherhood”
“Nefta Football Club”
“The Neighbors’ Window”
“Saria”
“A Sister”

ORIGINAL SCORE
“1917,” Thomas Newman
“Joker,” Hildur Guðnadóttir
“Little Women,” Alexandre Desplat
“Marriage Story,” Randy Newman
“Star Wars: The Rise of Skywalker,” John Williams

VISUAL EFFECTS
“Avengers: Endgame”
“The Lion King”
“Star Wars: The Rise of Skywalker”
“The Irishman”
“1917”

FILM EDITING
“The Irishman”
“Ford v Ferrari”
“Parasite”
“Joker”
“Jojo Rabbit”

MAKEUP AND HAIRSTYLING
“Bombshell”
“Joker”
“Judy”
“Maleficent: Mistress of Evil”
“1917”

Karawang, 200120
#ruangbaru #donordarah

Dentuman Gelombang di Bawah Tiang-Tiang Pancang

Cannery Row by John Steinbeck

Tak ada yang bisa menandingi rasa bir pada sesapan pertama.”

Akhirnya rasa penasaran itu terobati. Inilah buku yang sesungguhnya saya incar di harbolnas, yang lainnya hanya melengkapi syarat beli minimal 200k demi gratis ongkir. Saya sudah baca Kamis yang Manis, padahal itu buku seri kedua, cerita seputar persahabatan Doc dan Mack di Cannery Row. Rasanya ternyata sama saja, ga ada kejutan mematikan laiknya Of Mice and Men atau The Pearl, buku ini berkisah tentang keseharian mereka juga. Hanya beragam masalah beda yang disodorkan. Tak ada hal berat yang ditawarkan, kehidupan sehari-hari di sekitar kita, normal dan wajar. Bagaimana sebuah tali persahabatan dirajut, kusut, lalu diluruskan kembali.

Poin utamanya adalah Doc sang ilmuwan nyentrik, memiliki laboratorium yang suka meneliti kehidupan makhluk air, terutama laut dan seluk beluk kehidupan di sekelilingnya. Segala yang bertentangan dengan kerapian, aturan, dan kepatutan. Ia melakukan praktek di tengah kehidupan warga Cannery Row, dengan beragam sifat plus minus tentunya. Di sekitar mereka senja merangkak selembut musik. Ada Dora yang memiliki Bear Flag Restaurant, sebuah tempat pelacuran sistematis, penghasilan Dora yang berlumur dosa, tersembunyi, tak terpublikasi, dan tak tahu malu itu justru memimpin daftar donasi saat ada sumbangan diminta. Kau tak bisa mencuri dari pendermamu.

Ada toko kelontong serba ada milik Lee Chong, pria keturuan Tionghoa yang menaruh marjin keuntungan transaksi di atas segalanya. Mengingatkanku pada Toko Edi di buku Dekat dan Nyaring-nya Sabda Armandio. Setiap ada penawaran ia akan mengangguk dan menunggu, menghitung di kepala kemungkinan yang terjadi, berteman alat hitung swipoa di sisinya, barulah mengambil keputusan. Ini adalah sejam permata – jarak antara siang dan malam ketika waktu berhenti dan menguji dirinya sendiri.

Dan tentu saja ada Mack, ia adalah yang paling tua, pemimpin, mentor, dan pada tingkat tertentu ia tukang mengeksploitasi sekelompok kecil orang-orang yang sehari-harinya tak punya berkeluarga, tak punya uang, dan tak punya ambisi di luar makanan, minuman, dan kesenangan. Ibaratnya pemuda yang suka nongkrong di gardu, main gaple, miras, dan kuat ngobrol begadang mungkin sambil nyencrung gitar. Dan seterusnya, kehidupan wajar bermasyarakat di Amerika tahun 1930an.

Doc adalah ilmuwan kaya, baik, pintar, gaul, warga masyarakat yang ideal menurut Undang-undang atau kita bisa menyebutnya menawan dalam satu kata. Doc tetap mencintai kebenaran, tetapi ia tahu itu bukan suatu cinta yang umum dan kebenaran bisa menjadi kekasih yang sangat berbahaya. Ia begitu dicintai, dari kalangan jelata sampai para jetset. Karena ia seorang peneliti, kesendirian dalam sunyi dengan barang-barang di lab adalah mutlak. Kesunyian – kesendirian alam yang dingin terpencil membuatnya mendesah karena tak seorang pun di mana-mana di dunia tersebut dan ia tinggalkan. Ia menghargai kodok-kodok, maka dalam kisah ini Mack dan teman-teman berburu kodok. Rencana mula cari di sungai, tapi dalam prosesnya malam berkenalan dengan polisi dengan anjing pelacaknya, dan ternyata dia memiliki kolam penuh kodok, dan bir enak. Kawanan ini berpesta di sana, diberi anak anjing lucu pula. Siapa pun yang pergi bertamasya tanpa garam, lada, dan kopi adalah pandir, tentu saja. Mack memang pintar bersilat lidah, pintar bicara, tahu keadaan, situasional. Sementara Doc menjadi sumber filsafat, ilmu, dan seni. Pikirannya tak punya ufuk dan simpatinya tak bisa dibelokkan.

Lab-nya tampak anggun. Sebuah gramofon besar tersandar ke dinding dengan ratusan rekaman tergeletak di sampingnya. Musik menggema di telinga Doc, sebuah seruling manis tinggi menusuk permainan sebuah melodi yang tak pernah bisa ia ingat. Malam-malam tenang diisi dengan alunan jazz dan musik klasik. Semuanya seolah menjeritkan ketiadaan seorang perempuan. “Apa yang paling akan membuat Doc bahagia?” / “Pesta.” / “Bukan” / “Dekorasi.” / “Bukan. Kodok!” Monterey bukanlah sebuah kota yang akan membiarkan pelecehan terhadap seorang sastrawan.

Maka suatu ketika, Mack dan kawan-kawan mencoba membuatkan pesta untuknya. Rencana pesta untuk Doc ditujukan dengan diam demi kejutan. “Si Doc itu orang baik. Kita seharusnya berbuat sesuatu untuk dia.” Namun malah berakhir bencana, laboratoriumnya hancur berantakan, Doc jelas marah dan ketegangan terjadi. Doc tak pernah mengunci laboratorium, ia punya teori bahwa siapa pun yang sungguh-sungguh ingin mendobraknya dengan mudah bisa melakukannya. Suatu retakan menjalar di dinding kemalangan. Dua sahabat ini bersitegang, Mack yang merasa bersalah tak melawan, ia dipukuli babak belur. “…Mengapa kau tidak pergi dan menutup pintu dan meninggalkanku sendiri? Aku akan memaksamu jika kau tidak melakukannya.” Mack memandang tajam ke dalam gelas kosongnya seolah beberapa pesan rahasia tertulis di dasarnya. Keheningan jatuh di ruangan itu. Batu berat yang tak terelakkan membebani hatinya. Batu itu membebani hatinya dengan amat berat.

Kita hanya dapat mempergunakan diri kita sendiri sebagai ukuran. Jika kita melakukan sesuatu yang tak dapat dipahami dan asing, kita mungkin sedang berdoa – maka mungkin mereka juga sedang berdoa.” Kegagalan pesta itu menuai konsekuensi. Materi jelas, nilai penelitian itu mahal. Barang-barang di sana unik dan langka. Malu, marah, ancaman, sumpah serapah. Namun persahabatan sejati dirajut dengan benang iklas dan dieratkan dengan niat baik. Doc menyadari niat Mack adalah memberinya kejutan pesta adalah kebaikan tulus seolah kawan, maka ketika Mack menanyakan tanggal lahirnya, yang dengan otomatis menyadari akan dibuatkan pesta lagi, ia menyebut tanggal asal, yang lalu diyakini sebagai hari H menuju pesta besar. Doc tahu, ia pun menyiapkan juga. Perlahan, desas-desus rencana pesta untuknya menyebar, dan seantero Cannery Row mendengar, menyiapkan, menyambut dan menuju hari-hari yang meriah melimpah ruah. Yah, kisah ini sebagian sampai di situ. Lanjutannya bisa dibaca di Kamis yang Manis terbitan Basa Basi, lebih tebal, lebih panjang, tapi kutat masalah dan dilema ga akan jauh. Setidaknya, Steinbeck sangat berhasil menciptakan karakter unik, baku hantam sesama rekan, dan air miras melimpah membanjiri tiap lembarnya. “Tak terpikirkan akan pernah merasakan apa pun seenak ini.”

Blaisedell, sang penyair pernah berkata, “Kau terlalu mencintai bir. Aku akan bertaruh suatu hari kau akan pergi dan memesan milksake rasa bir.” Jadi tahu jenis-jenis bir: Old Green River, Old Town House, Old Colonel, dan yang paling digemari Old Tennessee, campuran wiksi yang dijamin berumur empat bulan, sangat murah dan terkenal dengan sebutan Old Tennis Shoes. Tampak menarik, karena di sini para karakter suka sekali minum bir, setiap saat dalam waktu luang, menyambut tamu, dalam pesta, dan seterusnya. Mirip dengan Fiesta-nya Ernest Hemingway yang setiap ke kafe, minum terus sebagai penutup makan. Sudah kubaca dalam rangkaian ini, menanti waktu ulas. “Kau tak bisa memercayai seorang laki-laki yang sudah kawin. Tak peduli seberapa banyak ia membenci istri tuanya, ia akan kembali kepadanya.”

Seorang lelaki dengan janggut bagaimanapun memang sering agak dicurigai, kau tak bisa berkata bahwa kau memelihara janggut karena kau menyukai janggut. Meskipun ia merupakan pecahan dan bagiannya. “Waktu akan menyembuhkan segala sesuatu, ini juga akan berlalu. Orang-orang akan lupa.” Musik mengalun kembali di kepalanya. Mengeluh sekaligus pasrah. Mereka bernyanyi pada bintang-bintang, pada bulan yang memudar, pada rumput yang bergoyang. Mereka mengembuskan lagu cinta dan sapaan-sapaan.

Inilah novel tentang warga sekitar, sewajar matahari terbit di pagi hari, senormal hujan di awal tahun dengan dentuman riaknya menciptakan gelombang di bawah tiang-tiang pancang, kala kalian berteduh, mengamati, mendengarkan, menjadi saksi sebuah peristiwa sehari-hari. Sekali sesuatu masuk ke kepalamu kau tak bisa melupakannya.

Cannery Row | by John Steinbeck | Diterjemahkan dari Cannery Row | Terbitan Penguin Books, 1992 | Original copyright 1945, renewal 1973 | Penerjemah Eka Kurniawan | Penyunting Adham T. Fusama & Ade Kumalasari | Perancang sampul Andreas Kusumahadi | Pemeriksa aksara Pritameani | Penata aksara M. Nichal Zaki | Penerbit Bentang Pustaka | Cetakan pertama, Juli 2017 | viii+236 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-602-291-407-5 | Skor: 4/5

Untuk Ed Ricketts, yang tahu kapan atau apa yang seharusnya

Karawang, 170120 – Randy Crowford – Who’s Crying Now

Daftar Harbolnas Mizan. Dua sudah, sembilan menuju. Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – Ziarah – The Red-Haired Woman – A Fair Lady & A Fine Gentlement

Bunga Daisy yang Layu di Musim Semi

Daisy Manis by Henry James (15 April 1843 – 28 Februari 1916)

Ia seorang wanita muda yang tercantik yang pernah saya lihat, dan yang paling suka bersahabat. Dan ia gadis yang paling murni tanpa dosa.

Satu lagi kisah tentang gadis rupawan galau di abad sembilan belas yang menemukan akhir yang sendu. Beberapa terasa pengulangan, atau sebut saja mirip. Endingnya jadi seperti lumrah. Tragis tapi tak sampai semenangis Bovary, trenyuh tapi ga sampai se-shock Karenina, sedih tapi bisa langsung move on. Novel klasik yang diterjemahkan KPG dalam seri Sastra Dunia. Bukunya tipis sekali, kubaca sehari langsung ludes, ga nyampai seratus halaman. Kubeli dari Taman Baca Rindang, Klaten bersama tiga buku Neil Gaiman. Kubuka setelah dua bulan ada di rak, gara-gara malam sebelumnya nonton film Notting Hill di mana si Julia Roberts seorang artis akan memerankan gadis cantik dalam proses adaptasi film dari buku Henry James, langsung deh si Hermione #unboxing. Lihat, betapa hal-hal yang kita lakukan sering kali adalah dampak dari hal-hal yang dirasa sepele.

Saya curiga bahwa itu semua gara-gara kita berdua telah tinggal terlalu lama di Jenewa.” Kisahnya mengambil sudut seorang pemuda bangsawan dari Amerika yang bertemu dan berkenalan dengan gadis Amerika pula, Daisy Miller di Eropa. Perkenalan yang tak mulus itu sejatinya menyulut beberapa omongan saudara, masalah moral dan kepantasan. Rasanya tema seperti ini sudah sering kita baca, kisah klasik cinta beda kasta mendapat pertentangan. Namun karena novel ini pertama terbit tahun 1878, jelas Daisy Miller salah satu pioner itu yang ternyata justru terasa biasa. Pertentangan di sini juga lebih kepada gunjingan, karena dari Swiss dan Italia si Gadis bergaul merdeka.

Daisy digambarkan sangat cantik, dan banyak sekali kata itu dilontarkan dalam kalimat langsung. Nona Miller itu seorang gadis muda yang ada dalam khayalan. “Ia wanita muda tercantik yang pernah saya lihat dan yang paling suka bersahabat. Gadis muda murni tanpa dosa.” Di kota kecil Vevey, Swiss, Winterbourne berkenalan dengan Daisy Miller, bermula dari adiknya Randolph yang diberi gula batu lalu datanglah Daisy. Winterbourne jatuh cinta pada pandangan pertama. Basa-basi, menjanjikan perjalanan ke Puri Chillon, lalu mencoba mengenal lebih dekat. Baru kali ini ia mendengarkan kekecewaan yang begitu memikat.

Nama asli Daisy adalah Annie P. Miller, adiknya yang ceriwis memberitahunya. Kedekatan mereka jadi gunjingan, kepantasan Daisy berjalan bersama Winterbourne. Seorang gadis bisa-bisanya di era itu jalan bareng tanpa ikatan nikah dengan orang lain. Tetapi sesungguhnya ada saudaranya yang meminta untuk tidak bergaul dengan gadis-gadis Amerika yang belum berbudaya. Daisy suka jalan-jalan tanpa orang terdekat, malam-malam keluyuran ngopi, kongkow. Hal yang kita rasa lumrah di masa kini, tapi di masa itu dianggap aib. Daisy Miller sebagai gadis yang gemar main cinta, gadis manis Amerika yang gemar main cinta, yah begitulah jalan sama cowok berduaan sudah dianggap terlalu jauh hubungan.

Kebebasan yang saat ini kita raih, menjadi barang langka kala itu. Beliau pasti sangat pemilih, saya sendiri ingin sekali memilih-milih teman bergaul. “Saya belum pernah mendengar hal sekaku itu, kalau itu dianggap tak sopan.” Selalu Daisy memiliki argumentasi melawan budaya. Tentu saja seorang pria berhak kenal siapa pun. Lelaki beruntung memiliki itu, tapi tidak dengan perempuan. Agama juga diapungkan untuk menjadi rujukan. “Nah, ia memandang ke arah kita bagaikan salah seekor singa atau harimau yang zaman dulu menandang ke arah para martir Kristen.”

Cerita tentang adat dan kepantasan seperti banyak ditemui di novel klasik Indonesia, terutama angkatan Pujangga Lama. Siti Nurbaya terpaksa menikahi Datuk yang usianya di atas ketimbang melawan kata orang tua, Tenggelamnya Kapal menyajikan asmara tak sampai dengan mematuhi jodoh pilihan orang tua, dan seterusnya. Daisy nyaris ke arah sana, tapi dipotong takdir karena malah menemui akhir yang menyedihkan. Bukan cara umum, tapi kejadian di Italia itu sungguh tergesa. Kita belum terlalu dekat dengan sang gadis, tapi sudah dipaksa dipisahkan. Buku ini memang tipis sih, tapinya memang kurang dalam. Sungguh terkutuk makhluk mungil itu dan betapa pandainya ia memainkan peran sebagai si polos yang sakit hati!

Daisy adalah lambang seorang gadis Amerika yang cantik, kaya, polos, yang sia-sia dalm menghadapi keangguhan sosial bangsanya di Eropa. Lincah bergaul, semaunya sendiri, tapi tetap tahu batas lalu hancur dalam pergunjingan, hanya karena ia kurang menghormati tata cara dan sopan santun yang telah menjadi adat. Di Italia, kisah ini menemui titik akhir yang pilu.

Kemerdekaan bertindak adalah bagian terpenting dari cara pengawasan. Sedih juga mengetahui akhir perjalanan sang karakter utama. Seakan ini adalah kalimat pembelaan, “Saya memang ditakdirkan telah berbuat keliru. Saya terlampau lama tinggal di negeri-negeri asing.” Lantas apa yang salah? Budaya? Waktu? Warga? Keadaan! Kebahagiaan dari dalam, tapi tekanan hidup begitu keras dari luar. Ada dan tiada sebuah norma adalah kesepakatan bersama dan jati diri dalam lingkungan mufakat. Daisy dalam pusaran itu.

Henry James adalah penulis roman, sandiwara, dan kritikus kelahiran New York, 15 April 1843 dan meninggal di Inggris 28 Februari 1916. Salah satu anak didiknya yang terkenal adalah Joseph Conrad, penulis yang suka petualang juga. Sandiwara karya beliau pada masa hidupnya kurang diperhatikan, tapi setelah wafat malah terkenal. Washington Square dan The Turn of the Screw (judulnya diubah menjadi The Heiress dan The Innocents, lalu diangkat ke layar putih). Pada tahun 1907-1909, beliau merevisi beberapa roman dan cerita pendek serta menambahkan kata pengantar. Semua kata pengantar itu diterbitkan dalam satu buku berjudul The Art of Fiction.

Aku tak bisa, Frederick. Aku ingin juga menerima mereka, tetapi tak pantas kalau itu kulakukan.”

Daisy Manis | By Henry James | Diterjemahkan dari Daisy Miller | KPG 59 16 01250 | Cetakan pertama, Agustus 2016 | Sebelumnya diterbitkan oleh PT. Pustaka Jaya | cetakan pertama, 1975 | Penerjemah Djoko Damono | Perancang sampul Teguh Tri Erdyan, Deborah Amandis Mawa | Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) | vii + 96 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN 978-602-424-158-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 121219 – 150120 – Bee Gees – Word

Kutipan sepintas yang patut diingat:

Tapi saya lebih suka teh bening.” – Daisy | “Kota terbagus yang pernah kami kunjungi adalah Kota Richmond.” – Randolph | “Saya belum pernah segembira ini seumur hidup saya.” – Winterbourbe | “Astaga! Mengerikan sekali gadis itu.” – Castello | “Kalau begitu Anda sudah cukup dewasa untuk berpikir sehat. Anda sudah cukup dewasa untuk dipergunjingkan.” – Walter

Surat-Surat Pribadi Bercerita

Lady Susan by Jane Austen

“…Kau tahu betapa aku telah mencintaimu; kau dapat menduga seperti apa perasaanku saat ini, tapi aku bukan pria lemah yang akan menjelaskan perasaanku kepada seorang wanita yang akan berbangga diri karena telah membuatku menderita , wanita yang kasih sayangnya tidak aku peroleh.”

Ke mana aku pergi tidaklah penting, bagi siapapun juga tidak penting bagiku. Tapi kepergianmu penting bagi semua kerabatmu. Pada akhirnya, keanggunan dan tata karma adalah yang terpenting. Kisah surat-menyurat di Inggris abad 18. Semua narasi berdasarkan pada tulisan surat yang berputar dari satu tokoh ke tokoh lain. Nyaris semua surat dari tangan perempuan, jelang ending satu surat dari pemuda sebagai eksekusi dan sebuah kesimpulan. Ini adalah buku pertama Jane Austen yang saya baca. Ini juga buku pertama dari Sembilan buku yang kubeli saat Harbolnas kemarin. Sejatinya kisah sederhana, cinta yang saling silang dan penentuan asmara kepada siapa si A ke si B, dan si C ga jadi ke si D. Alasan moral, materi dan kepantasan menjadi produk unggulan yang dikelola sedemikian rupa menjadi novel sepanjang 126 halaman. Perasaanku padanya memang sejenis cinta, tapi bukan jenis akan kupilih.

Lady Susan Vernon dari Langford adalah janda beranak satu, gadis remaja yang sedang mekar berusia 16 tahun, Frederica. Tampak bandel di sekolah, sedang mencari jati diri. Pada bulan Desember Susan berencana berkunjung ke saudara Charles Vernon di Churchhill, yang sudah berkeluarga. Aku tahu kedatangan Lady Susan ke Churchhill didasari oleh niat baik dan terpuji, sifat hemat menyikapi kondisi keuangannya patut dicontoh. Istrinya Catherine Vernon lalu curhat kepada ibunya Lady De Courcy, sementara Susan bersurat kabar kepada sahabatnya Alicia Johnson untuk bercerita keadaannya akan, saat dan sesudah berkunjung. Cerita berkutat di situ terus, sampai akhirnya Susan kembali ke London dan keputusan final harus diambil. Keputusan apa? Kemana cinta Reginald De Courcy berlabuh? Kepada siapa Lady Susan menjatuhkan pilihan? Tidak ada yang dapat melawan Lady Susan selain suaminya dan hati nuraninya! Ya, hanya begitu. Namun cerita asmara biasa di tangan Jane menjelma ganjil dan memikat. Saya salut, di era itu bisa menampilkan narasi dari lembar-lembar surat, menantang pembaca menebak, mengalir dan akhirnya pecah di akhir dilema. Walaupun tidak memiliki keunggulan dia sama sekali tidak bebal seperti yang kuduga, karena dia menyukai buku dan menghabiskan sebagian waktunya dengan membaca buku.

Disebabkan oleh pendidikannya yang terabaikan dan pernikahannya yang terlalu dini. Korespondesi ini merajut pola, memberitahu kita bahwa apa yang ditulis manis tak semanis ketika kejadian yang sama ditulis kepada orang lain. Atas nama kesopanan, hanya itu yang bisa kulakukan. Lady Susan berkirim sapa dengan lembut, dengan merdu akan rencana kedatangannya. Padahal di satu sisi ia menulis surat penuh kekesalan kepada sahabat Johnson bahwa saudaranya, si Charles Vernon adalah orang yang kuhindari!

Begitu juga saat Catherine menyambut Susan, dengan kata-kata bijak dan bahagia akan kedatangannya, sementara ia mengeluhkan kalimat kesal kepada orang tuanya. Dia bahkan tidak memiliki tata karma yang baik; dan menurut Mr. Smith, dia membosankan dan angkuh. Perpaduan keangkuhan dan kebodohan tidak layak mendapat perhatian. Ditambah adiknya, yang diwanti-wanti untuk menjauhi janda, malah terpikat. Susan sendiri punya cem-ceman di London, Mr Mainwaring. Tata krama di surat akan mengabu, bayangkan ia baru saja menjanda, tapi sudah coba mencari pasangan lagi. Suami barunya harus kaya, menggoda para pria, menabur pesona. Makin kurang sreg, saat tahu ia bersaing dengan anaknya sendiri! Nah nah… kalau di sini di era milenium dah jadi santapan tetangga yang julid. Gunjingan di tukang sayur sampai nada-nada miring terkait status sosial. Pastilah dia tenggelam dalam renungan yang tidak menyenangkan, tapi memang ada orang-orang perasaannya sulit dipahami.

Memang ternyata terdengar keliru, tetapi aku yakin tindakan-tindakan itu dalam balutan budaya, terasa benar. Ga ada yang salah, semua karakter di sini memang abu-abu, masyarakat kebanyakan. Hanya susunan kisah dari tulisan surat saja, ga jauh kasusnya di era kini kita berkabar tulis via WA atau video call. Mereka menemukan romantika masanya sendiri, karena jarak dan jarang bertemu saja jadinya ikatan lebih kuat ketimbang kita sekarang di mana komunikasi sudah bukan halangan, yang bisa bersapa langsung walau jarak ratusan kilometer.

Terkutuklah para wanita yang melupakan hak mereka, dan pendapat publik tentang mereka
Setiap orang punya pembelaan atas segala omongan orang lain. Orang cenderung yakin, mengaitkan sikap penuh percaya diri dengan perilaku penggoda, dan gaya bahasa yang lancang, otomatis terkait dengan pola pikir yang juga lancang. Susan merasa ya setiap tindakan ada konsekuensi. Wanita yang terkenal memikat itu pastinya akan berusaha mendapatkan rasa hormat dariku; dan aku akan berusaha mendapatkan rasa hormat dariku; dan aku akan berusaha menjaga diri agar tidak terpengaruh olehnya.

Kecil kemungkinannya dua orang pria bisa begitu terpedaya dalam waktu bersamaan. Inilah pesona Janda. Seorang duda yang kaya tapi perilaku urakan atau pemuda, pewaris tunggal yang masih labil yang ia terima? Tentunya Susan cantik dan mempesona. Dia tidak terkejut jika hati seorang pria dapat begitu terpengaruh oleh kejelitaan dan kemahiran wanita itu. Ada kesenangan tersendiri jika Reginald dapat menaklukkan jiwa yang lancang itu. Atau Mainwaring yang pengalaman, dalam sebagai idealnya orang tua. Atau ada opsi lain yang mencuat, ya ya, yakan. Kalau itu yang terjadi, berapa lama pemuda bisa melupakan asmara pada janda? Biasanya waktu tiga bulan cukup, tapi perasaan Reginald yang berapi-api cukup sulit dipadamkan. Dilema lagi ya.

Aku mungkin telah menguatkan diri menghadapi ketidakadilan opini masyarakat, tetapi jika aku harus kehilangan rasa hormat darinya, aku tidak akan sanggup. Opini umum tentang seseorang hanya sedikit bisa dipercaya, karena tidak ada kepribadian yang bisa terlepas dari fitnah, tidak peduli sejujur apa kepribadian tersebut. Lady Susan adalah gambaran suatu masa di suatu negeri di suatu era yang menyajikan, betapa keterbatasan komunikasi bukan halangan untuk mencipta hubungan unik, aneh dan terdengar tak lazim untuk jiwa muda sekarang.

Khususnya terkait pernikahan, semuanya dipertaruhkan – kebahagiaanmu, kebahagiaan orang tuamu, dan nama baikmu.

Dan menurutku kalian telah berusaha sebaik mungkin, tetapi takdir tetap saja menang. Semua hal sepertinya sudah diputuskan, jadi aku hanya bisa berserah diri dalam keputusasaan.

Lady Susan | by Jane Austen | Diterjemahkan dari Lady Susan | Penerjemah Dyah Agustine | Proofreader Enfira | Desain sampul AM Wantoro | sumber gambar shutterstock.com | Penerbit Qanita | Cetakan pertama, September 2016 | 132 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-402-042-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 241219 – 140120 – Sherina Munaf – Singing Pixie

Daftar Harbolnas Mizan. Satu sudah, sembilan menuju. Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – Ziarah – The Red-Haired Woman – A Fair Lady & A Fine Gentlement

Seni Lukis dalam Frame Horor Mengelabuhi

Rumah Hujan by Dewi Ria Utari

Bagaimana mungkin aku tidak menyayangi ibu dari anakku.”

Kubeli Senin (9/12/19), kubaca kilat dua hari berikutnya (10-11/12/19) langsung kelar. Salah satu ciri buku bagus memang memberi penasaran pada pembaca. Mencipta kengerian – dalam tanda kutip, sehingga terhanyut dalam pusaran problematika sang protagonist. Sebuah dunia itu berupa kamar fantasi tempat semua benda-benda melayang.

Buku ini juga membuatku ketakutan akan fakta, bahwa salah satu karakter menurut kepercayaannya melakukan ritual, sebelum pada hari bertuah tepat pada jam satu malam, berkeliling rumah sambil menabur garam sambil mengucap mantra. Mengingatkanku pada (almarhum) ayahku Poncowirejo yang setiap magrib mengelilingi rumah, menabur garam dan membaca doa di depan pintu. Bahkan ayahku tak peduli sekalipun cuaca badai, hujan lebat. Pernah kutanyakan langsung apa yang dilakukan, beliau hanya jawab, ‘ritual jaga rumah dan penghuninya menurut Islam Kejawen.’ Karena memang doa yang dibacakan adalah doa yang dinukil dari ayat Al Quran. Sampai sekarang rumah joglo di kampungku masih asri, masih nyaman buat kumpul keluarga tiap Lebaran, dan hubungan semua saudaraku sangat baik. Ga pernah ada cekcok, ga pernah ada rebutan warisan, bahkan ketika kakakku minta garis tanah warisannya ditarik lebih lebar dari bagiannya, kita santuy saja. Saya sendiri tak terlalu peduli warisan, kita semua merasa berkecukupan. Tanah di Palur, dan rumah Joglonya asri.

Kisahnya tentang Dayu, pelukis yang sedang mencari rumah inspirasi buat mencipta karya. Dia mendapat informasi ada rumah bagus, ideal akan sepi dan murah. Rumah joglo di daerah Purwodadi itu milik janda yang baru meninggal. Sempat akan dirubuhkan, tapi sayang sehingga ketika sahabatnya Nilam menawarkan langsung diambil. Alasan Dayu mengingin joglo sendiri terlihat sentimental. Melalui manajernya Ariaji proses pembelian berjalan cepat dan lancar.

Kisah lalu begulir ke masa lalu, bagaimana Dayu menghabiskan waktu bersama keluarga. Ia begitu mirip dengan ibunya, Anjali. “Dayu? Wah kamu… sangat mirip ibumu.” Kata Cakra, yang lalu mengisi hari-hari remajanya. Cakra ternyata mencintai ibunya, tapi cinta itu tak menyatu. Ia adalah sahabat Mahesa, pamannya yang juga menghubungkan bisnis perkebunan dan segala alur asmara ini. “Dengan apa lagi kamu mengukur kesuksesan jika kamu tidak menilainya dengan uang yang kamu dapatkan?” Mungkin kalimat klasik orang tua kepada anak, hal yang sama disampaikan ayah Cakra yang lebih ingin mewujudkan impian jiwa mudanya ketimbang melanjutkan usaha keluarga. Namun cintanya pada ibu Dayu memang sangat besar, sehingga ketika ada kemiripan padanya ia jatuh hati. Dayu sendiri menyambutnya dan terjadilah percumbuan. Shock itu ketika Cakra ternyata sudah bertunangan dan gadis pilihan orang taunya yang menang. Diam adalah cara Cakra untuk membiarkan semuanya terurai oleh waktu meski selalu ada desakan kuat dalam diri Dayu untuk menjadi perempuan yang diinginkan, dikejar, dirayu. Ia sebenarnya gugup apakah ia cukup berani untuk melihat kesedihan di mata perempuan itu.

Mahesa sendiri sama saja, ingin mengikuti kata hati dengan merantau ke Bali membuka toko surfing ketimbang bersentuhan dengan perkebunan. Mana pernah aku peduli sama aturan baku atau yang mainstream. Ah… jiwa muda yang menggelora.

Misteri Narpati yang sering muncul di mimpinya perlahan namun pasti dikuak. Para penghuni rumah hujan, begitu akhirnya Dayu menyebutnya dituturkan dengan sudut yang nyaman dituturkan. Penampakan di studio lukis, jenis lukisan Dayu yang semakin hari semakin menakutkan – dalam artian artistik – sehingga makin laku di pameran-pameran, banyak dorongan mencipta karya istimewa, dan memori hubungannya dengan Cakra kembali timbul di rumah itu.

Dayu yang sering tak sadarkan diri, tampak menikmati luka. Justru ia merawatnya dengan intens. Arwah Narpati menawarkan sesuatu, dari alam bahwa sadar ia meminta semacam ‘kesalahan’ masa lalunya dituntaskan. Karena doa pada dasarnya mantra dan mantra melindungi rohnya. Memori alam gaib yang misterius itu menjelma dalam seni gambar di atas kanvas. Hanya kesadaran yang bisa mencegah tubuh kita dimasuki unsur lain. Dayu malah menemukan titik ilham ketika dalam tak kesadaran, di dunia antara. Yup, sekali lagi Doa itu sebenarnya sama dengan mantra. Ada teori yang meyakini bahwa harapan yang ketika diucapkan berkali-kali, seperti dalam doa, akan menjadi semacam mekanisme peringatan yang membentengi diri kita dalam bentuk medan magnet. Dayu harus berpacu untuk menyelesaikan permintaan Narpati atau korban-korban orang terdekatnya akan kembali terjatuh.

Selalu ada batas tipis antara menjaga diri khas dengan keenganan untuk melakukan terobosan yang bisa beresiko tidak diterima pasar. Sebuah karya, entah dalam bentuk apapun setelah dilepas ke pasar adalah milik publik untuk dinilai. Lukisan sendiri terlihat agung karena memang terbatas. Hanya kalangan elit yang bisa membeli karya terbatas yang aduhai. Kelas jelata jelas hanya mampu membeli, mengoleksi lukisan umum. Bahkan kalau kalian perhatikan, kaum jelata yang coba memasuki area kolektor lukis, tampak norak. Karya sederhana yang lebih murah, dan yang paling parah lukisan cetak yang dipajang di dinding ruang tamu. See…, seni ya gitu. Kita membeli keotentikan karya, sadis sih tapi faktanya seni lukis memang mahal. Alasan seni sering kali digunakan orang untuk menjelaskan keanehan orang.

Kalimat yang jleb salah satunya adalah ini: “Sudah jadi sifat manusia yang takut akan sesuatu yang tidak mereka pahami.” Benar banget, terutama generasi tua yang menghadapi banyak perubahan zaman. Perubahan digital itu menakutkan, percepatan teknologi sungguh luar biasa. ‘Dunia butuh perlambatan’, kata Bli De Coy sahabatku. Saya jelas sepakat. Penemuan-penemuan baru terus bermunculan dengan gagah dalam dua dekade ini. Manusia akan mendapat yang sepadan dengan yang diharapkan ketika ia mengatur hidupnya sedemikian rupa untuk mencapai harapannya tersebut.

Waktu dini hari yang sakral, sepertiga malam sering disebut di sini. Terutama jam tiga pagi sampai subuh karena menurut kepecayaan, itulah saat-saat roh kita sangat rentan. Buku ini terbagi dalam tiga bagian utama, O sebagai pembuka lalu sebelum, ketika dan setelah hujan. Setelah itu ada lima cerita pendek lagi. Pantas saja sub judulnya bertulis: ‘sebuah novel dan cerita-cerita lainnya.’ Dan syukurlah, cerpen yang disaji juga horor berkualitas. Puas.

Saya bukan penikmat cerita horor, baik medium buku atau visual gerak. Ga banyak kisah menakuti yang kuikuti, Rumah Hujan pun saya beli bukan karena genre itu, tapi lebih kepada sang penulis yang beberapa kali muncul di beranda sosmed, dan buku ini merupakan pengembangan dari cerpen ke novel. Beberapa buku yang kunikmati dari pengembang itu, mayoritas memuaskan, asal penulis sendiri yang mengembangkannya. Gentayangan, Kura-Kura Berjanggut, sebagian contoh sukses. Rumah Hujan, ternyata masuk ke golongan sukses itu. Daya pikat yang ditebar sepanjang halaman, mencekam gigil dengan interaksi pembaca, endingnya keren bagaimana jati diri seorang seniman yang dijual adalah seni dengan tanda langka, megah dan tak bisa dijelaskan. Sukses mengelabui pembaca, sukses mengelabui para kolektor seni lukis tentunya.

Ini memang kisah orang berpunya, enggak relate sama saya atau kaum jelata kebanyakan. Dayu terlahir sebagai anak tunggal yang memiliki kelimpahan materi, ga dekat sama ibunya ga bisa curhat nyaman sama ayahnya. Menciptanya sebagai pelukis, ga pelukis kere ya. Gaul sama golongan Kaya. Punya usaha keluarga di perkebunan, punya sahabat-sahabat yang mengisi ketika dibutuhkan. Berlimpah ruah kasih sayang sahabat, dari gambaran Cakra yang mencinta mati saja kita bisa bayangkan betapa tokoh utama kita sangat cantik. Sulit memang mencipta suasana orang-orang kaya mengeluhkan keadaan, sedikit karya cerita orang kaya yang sukses menyentuh penikmatnya. Dan ternyata Rumah Hujan, termasuk yang sedikit itu. Sebuah seni dalam cerita horor yang mengelabuhi.

Kegelapan yang membuatnya mengigil dan meniadakan kesadaran. Kesedihan sering kali melarungkan harapan dalam pelayaran tak bertepi. “Aku baru menyadari bahwa dari semua yang ada di dalam manusia, ingatan adalah hal yang terapuh.”

Rumah Hujan dan Cerita-cerita Lainnya | Oleh Dewi Ria Utari | 6 16 1 75 002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desain sampul Lambok Hutabarat | Editor Hetih Rusli | ISBN 978-603-03-2899-7 | 256 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

Untuk almarhum eyang kakung, Siwidodo Sastrodikromo, yang memberiku kenangan akan perjalanan membonceng sepeda ontel, melintasi malam dan kuburan.

Karawang, 141219 – 130120 – Roxette – Sleeping in My Car

110 Buku Yang Kubaca 2019

Hanya kebetulan belaka, tahun ini saya merampungkan baca 110 buku, sama persis dengan total baca tahun lalu. Ini sekadar catatan, betapa nikmat bercengkerama dengan buku.

#1. Seorang PendatangK. Usman
Dua cerpen lawas yang disatukan tahun 1963. Residivis pulang kampung dan melihat betapa banyak perubahan. Mengingat masa muda yang penuh amarah, cinta dan pengorbanan.

#2. Menolak AyahAshadi Siregar
Kisah Tondi sebagai PRRI melawan pusat, perjalanan dari Toba ke Bukittinggi yang mistis dan perjuangan melawan kecewa atas pilihan ayah. Kental budaya Batak, minus tukang tambal ban dan pengacara.

#3. Demi Esme dengan Cinta dan KesengsaraanJ.D. Salinger
“Apa yang dikatakan sebuah dinding pada dinding lainnya?” Dua cerpen klasik karya penulis ‘The Catcher in the Rye.’

#4. Magi Perempuan dan Malam Kunang-KunangGuntur Alam
“Jangan lihat kunang-kunangnya, ia bisa menyihir kita.” Dua puluh satu cerita pendek dengan tema beragam. Legenda hantu daerah, modifikasi hikayat. Kumpulan cerpen yang renyah.

#5. The Life and Adventures of Santa Claus L. Frank Baum
Dasarnya kita tahu. Sederhana, fiktif dan sudah sangat umum. Entah kenapa Frank Baum menulis ulang kisah semacam ini. Jauh dari bayangan ‘The Wizard of OZ’.

#6. Guru Generasi MilenialTri Winarno
Tulislah buku tentang bidang yang kuasai, Mas Tri dengan jeli menceritakan pengalamannya sendiri dalam kelas. Seperti membuat tantangan menulis puisi untuk murid-muridnya, mencerita keseharian dengan buku.

#7. Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-MasingEko Triono

Cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Plotnya mirip 100-tahun-kesunyian.

#8. MemoarPablo Neruda
“Kita para penyair memiliki hak untuk bahagia, sepanjang kita tetap dekat dengan masyarakat di negeri kita dan dalam kegigihan perjuangan untuk kebahagiaan mereka.”

#9. Di Kaki Bukit Cibalak Ahmad Tohari
Cinta yang tak harus miliki, politik orang bawah, permainan mistis sampai kritik birokrasi. Perubahan zaman, perubahan kebiasaan, teknologi masuk desa, sampai polemik dasar makhluk Tuhan untuk bertahan hidup.

#10. Handmaid’s TaleMargaret Atwood *
Para handmaid di masa depan, aturan absurd dan pertentangan tak berkesudahan. Gadis kerudung tunduk, pikiran penuh luapan teriak.

#11. About a BoyNick Hornby
Filmnya kita tahu keren sekali. Ncik Hornby kalau bahas bola tajam dan sangat mendalam. Fan Gunners. Entah kenapa novelnya terlihat biasa. Plotnya ngelantur ke mana-mana, menjemukan.

#12. Breakfast at Tiffany’sTruman Capote *
Renyah di setiap lapisannya. Tampak seperti kisah nyata saat masih kere, menjalani sebagai penyendiri di apartemen sebagai penulis lokal tak bernama, sunyi, perenung mencari jati diri. Lalu muncul tetangga istimewa.

#13. Sesat Pikir Para Binatang Triyanto Triwikromo
Sembahyang adalah wujud cinta kita kepadaNya. Sembahyang tak boleh kita jadikan upeti. Sembahyang bukanlah semacam jual beli kita kepadaNya.

#14. Jokowi, Sangkuni, MachiavelliSeno Gumira Ajidarma
Pemimpin yang ideal adalah yang bebas dari kontrak politik, karena dukungan partai yang mana pun tidaklah mungkin dilakukan tanpa kepentingan. Kumpulan esai kedua SGA yang kubaca.

#15. Ups! Rieke Diah Pitaloka
Tugas penyair adalah mendewasakan bangsanya. Bagaimana kalau masyarakat tidak mau didewasakan dan ingin tetap seperi kanak-kanak? Jadi mari biarkan waktu menempa, mau ke arah mana perahu rima ini berlayar.

#16. Old Death Karl May
Kisah detektif dengan nuansa koboi, tak seperti cara penelusuran Holmes atau Poirot yang penuh deduksi dan telaah mendalam, cerita dalam The Wild West Journey ini dibarengi banyak keberuntungan, tak detail dan siasat tricky.

#17. The Murder of Roger AckroydAgatha Christie *
Dan ya, saya bisa menebaknya. Ada dua kalimat yang JELAS SEKALI yang menunjukkan sang pelaku, saya konsisten. Yakin dialah pelakunya. Terbukti. Salah satu yang terbaik dari Christie, dari Hercule Poirot.

#18. Around the World in Eighty DaysJules Verne *
Buku pinjam di taman baca Bus Taka Kota Galuh Mas, kubaca cepat saat pulang kerja hujan lebat, mencipta genangan sehingga menanti reda, baca di kantor. Sungguh menyenangkan melahap buku keren saat hujan dengan kopi.

#19. KawitanNi Made Purnama Sari
Sebatang pohon ara, empat pina, tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu. Sungguh sajak adalahbarang mewah yang sulit dijangkau, sulit kubenamkan dalam kepala sehingga menyatu sukma.

#20. Mardi GrasAdriani Sukmoro
Lupakan konflik, kisah hanya berkutat pamer perjalanan hidup pengantin baru ke Amerika dengan salah satunya menyaksikan festival Margi Gras.

#21. Telembuk Kedung Darma Romansha *
Cerita dari Indramayu yang keras. Makian dan umpatan berbagai kelas. Lha judulnya saja sudah berat: Kisah Cinta yang Keparat.

#22. White FangJack London *
Kubaca dalam sehari dari siang sampai malam, di sela ibadah dan tidur di lantai satu Blok H nomor 279 hari Sabtu, 23 Feb 19. Ini semacam prekuel ‘The Call of the Wild’ yang sudah kubaca dua tahun lalu. Dituturkan dengan berkelas.

#23. Go Set A WatchmanHarper Lee *
Kisah lanjutan novel legendaris ‘To Kil A Mockingbird’, sekarang Scout sudah dewasa jadi perantau di New York dan buku berkutat di Maycomb saat liburan dua minggunya yang menegangkan. Bagaimana orang tuanya yang sudah tua tetap bekerja membela kebenaran. Sabar, tenang dan menghanyutkan.

#24. Mari LariNinit Yunita
Kubaca sekali duduk pada Selasa, 260219 sepulang kerja. Sinetron sekali, tentang Rio yang selalu mengecewakan orang tua. Saat ibunya meninggal dunia, dia harus buktikan tiga hal: bisa kerja benar di dealer sebagai sales mobil mewah, lulus kuliah di kesempatan kedua, dan lari marathon di Bromo dengan memakai nomor lari almarhum. Semua indah.

#25. Masa Depan Sebuah Ilusi Sigmund Freud
Esai buku kecil ide besar. “Tidak, sains kita bukan merupakan ilusi. Tetapi menganggap bahwa apa yang tidak bisa diberikan sains kepada kita bisa kita dapatkan di tempat lain akan merupakan sebuah ilusi.”

#26. The Clockwork ThreeMatthew Kirby
Premis bagus. Menempatkan tiga remaja dalam dilema rumit. Satu ingin pulang, satu ahli jam, satu untuk keluarga yang sakit. Terjepit finansial kusut. Sayang eksekusinya remuk. “Kau tahu, kau tegar seperti Hannah dalam al kitab.”

#27. Hujan Bulan JuniSapardi Djoko Damono
Kamu ga otomatis hebat saat sebut orang-orang hebat. Hepburn style. Jazz klasik menjadi teman Sarwono. Apakah membuatku terkesan? Enggak. Cerita sinetron yang coba berpuisi. “Kamu ini cengeng Sar, jualan gombal.”

#28. Kumpulan Budak SetanEka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad *
Kumpulan cerita pendek yang digarap bertiga atas dasar horror Abdullah Harahap. Seram, mistis, dan tragis. “Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan.”

#29. Manuskrip yang Ditemukan di Accra Paulo Coelho
Hidup ini untuk bersenang-senang, positif thinking, positif feeling. Dah kalau mau itulah review sangat singkat untuk buku ini. Benar-benar ya, buku perdana Paulo Coelho yang saya baca berakhir buruk.

#30. Dunia SophieJostein Gaarder *
Buku rangkuman filsafat yang luar biasa. Cara cepat belajar jadi filsuf. Butuh waktu empat bulan buat menuntaskannya. Hidup ini fiksi bagi mereka yang terjebak dalam ambiguitas.

#31. Perempuan PalaAzhari
“Aku tak mungkin menolak dan menutup pintu bagi siapapun yang datang ke rumah ini bukan? Aku diajarkan untuk memberikan apa yang kumakan bagi setiap orang lemah yang meminta. Itulah kemuliaan.”

#32. Bilik Musik James Joyce
Kumpualn puisi lengkap dari Penulis legendaris Ullyses. “Karena suaramu terdengar di sisiku / kuberi ia cemburu / dan dengan tanganku. kugenggam / tanganmu ‘tuk kali kesekian. Diterjemahkan oleh Gita Kharisma.

#33. Yang Telah TiadaJames Joyce
“Oh saya rela kehilangan apa saja demi mendengar Caruso bernyanyi.” Disebut novella, padahal lebih tepat cerita pendek ++. Buku ini selesai baca hanya dalam jeda Magrib ke Isya. Fufufu…

#34. Matahari dan BajaYukio Mishima
Gagasan tentang mengubah dunia merupakan kebutuhan yang sama pentingnya dengan tidur dan makan tiga kali sehari. Pemikiran yang tak lazim, ga mudah dicerna, berkali-kali baca ulang, nyaring, dan tetap mengernyitkan dahi.

#35. Kamis Yang Manis John Steinbeck
“Cara terbaik di seluruh dunia untuk membela dirimu adalah dengan menjaga tinjumu tetap ke bawah.” Ga seperti Steinbeck lainnya yang tragis, endingnya manis seperti judul. Tapi tetap karakter kuat dengan keanehan masing-masing.

#36. Water for ElephantsSara Gruen
Karena ia binatang yang begitu cantik, luar biasa, dengan hati yang sangat pemaaf dan mampu memahami kesalahpahaman. Kita akan berada di tingkat yang sama dengan sirkus-sirkus besar dan itu takkan bisa terjadi tanpa kalian.”

#37. Sad CypressAgatha Christie
Ini mungkin kisah Poirot yang paling mudah ditebak. Karena hanya menyisakan dua kemungkinan pembunuh, yang walau nantinya mencabang ke target lain, tapi jelas ada yang tak mungkin melebar liar. “Saya bisa mencari kebenaran…”

#38. MetamorfosisFranz Kafka *
Buku yang berat sekali. Mungkin jua karena kualitas terjemahannya yang aneh, typo berserakan, walau dialihbahasakan keroyokan berempat tapi tetap masih saja ditemukan kalimat-kalimat nyeleneh. “Ia bersuara seperti seekor hewan…”

#39. KubahAhmad Tohari
Cerita baik untuk orang baik yang dianugerahi akhir yang baik. “Takdir Tuhan adalah hal yang paling baik bagimu, betapapun getir rasanya, bertakwa kepadaNya akan membuat segala penderitaan ringan.” Sabar, tawakal, iqtiar.

#40. Kumpulan Cerita Pendek TerbaikLeo Tolstoy
Memang istimewa penulis satu ini. Mau cerpen atau novel sama hebatnya. Epos Sevastopol di mana rakyat Rusi adalah pahlawan sesungguhnya, meninggalkan jejak besar untuk waktu yang lama. “Kamu tak akan bisa bedakan bom dan bintang.”

#41. HumanismeYB Mangunwijaya
Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” Ernest Renan dalam Qu’est qu’une nation? (1882)

#42. Paper Town John Green
“Ini akan menjadi malam terbaik dalam hidupmu.” Kisah remaja yang tak biasa. Pengalaman pertamaku dengan Green berakhir menyenangkan. Tentang Q dan asmara tak biasa. Satu malam, terkenang sepanjang hidup, menuju kota kertas.

#43. Di Bawah Lindungan Ka’bah HAMKA
Buku sangat tipis. Kubaca sekali duduk (15/06/19), malam minggu sendirian tak butuh waktu sejam juga selesai. Kisah kasih tak sampai. Cerita berlapis, tragis tapi tak semenangis Tenggelamnya Kapal…

#44. Matilda, Lelaki Izrail, dan Seorang Perempuan di Masjid KamiHairus Salim HS
14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek. “Dan tiba-tiba mereka hanya mendengar tubuhnya ambruk.”

#45. Teach Me Like FinlandTimothy S. Walker
Di Finlandia moto ‘bekerja untuk hidup’ bukan ‘hidup untuk bekerja’. Mereka tampak serius dalam bekerja, namun di waktu luang mereka ikuti hobi daripada menggunakannya untuk meningkatkan pertumbuhan profesi mereka.

#46. Dalam Kobaran Api Tahar Ben Jellous *
Hebat. Penulis kelahiran Maroko, tinggal di Prancis bercerita tentang Tunisia dan efeknya. “Aku tidak menjelaskan apapun, ini adalah karya sastra.” Arab Spring, demi rasa keadilan.

#47. Misteri Rumah Masa LaluV. Lestari
Buku klasik dalam memetakan karakter yang protagonis akan konsisten baik sampai akhir, yang jahat tetap digambarakan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia.

#48. OriginDan Brown
Semua tertebak. Saya bisa menebak motifnya, saya bisa memprediksi apa isi presentasinya, saya bis atahu endingnya. Puisi William Blake tahun 1790an, Amerika sebuah nubuat, Eropa sebuah nubuat. Dan mereka sudah datang!

#49. Alice Through The Looking Glass Lewis Caroll
Buku yang aneh sekali. Masih bagusan seri pertama, karena teras original, seri kedua ini menawarkan kebingungan yang sama, hanya dengan pola lebih rumit, lebih acak, dan jauh di luar nalar.

#50. Maut di VenesiaThomas Mann
Narasinya berbelit panjang, melingkar-lingkar, merenung, lalu putus karena frustasinya mengurai, dengan detail tempat, suasana, gambaran orang sekitar, smapai cuaca yang tak ramah. “Untuk Tuhan kami yang asing.”

#51. Max and the CatsMoacyr Scliar
Novel seratus halaman ini kubeli kala dalam tugas luar mengikuti pelatihan di Hotel Horison, Bekasi seminggu. Kubeli di Gramedia MM dengan Gadis Pendongeng, kubaca singkat di pagi dan sore waktu istirahat. Pi!

#52. If I StayGayle Forman
Keluarga yang sempurna. Orang tua utuh yang benar-benar mencinta. Adik manis yang menggemaskan. Dan masa depan cerah untuk karier seni dan lagu snob. Dalam hujan salju di pagi hari libur, kecelakaan merusak semuanya. Ini adalah novel religi di dunia antara.

#53. Tamasya BolaDarmanto Simaepa
Pengantarnya bagus banget dari Mahfud Ikhwan. Diambil dari blog, tulisan sepak bola dengan sudut pandang belakang gawang. Apa menariknnya cerita Barcelona, MU, Timnas dan pengalaman pribadi Penulis sejak kecil? Bukan kayak gini cerita bola yang bagus tuh.

#54. The Story GirlL.M. Montgomery *
Cerita anak-anak pada suatu masa di Amerika. Lucu, seru dan apa adanya. Benar-benar membumi, seolah ini adalah diari sang Penulis. Setara ‘Secret Garden’-lah, tapi ini lebih riuh dan ceria karena melibatkan banyak karakter. Tak sabar baca lanjutan.

#55. Kisah Pedagang Buku yang Tewas di Bagdad (kumpulan esai)
‘Belajar dari para maestro nonfiksi’. Karena buku ini tidak diperjualbelikan, tipis berisi 66 halaman, dan isinya yang sungguh bikin penasaran. “… Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Bagdad yang membaca.”

#56. Dijamin Bukan Mimpi Musmarwan Abdullah
Kumpulan pos di sosmed, terutama Facebook. Ga semuanya tapi kebanyakan. Tulisan dikit tiap judul, kek orang curhat aja. Bisa tebal juga, kumpulan cerita satiris bisa benar, kalau cerita inspirasi ya hhhmmm… Enggak terlalu. Sekadar lumayan…

#57. Cerita Cerita Telapak Tangan Yasunari Kawabata
Ini adalah kumpulan cerita dikit-dikit tiap judul, curhat orang Jepang terhadap keseharian, kejadian sekitar. Tmpak sederhana, tapi kualitas imaji dan asosiasi mendalam. Beberapa memicu tafsir beragam.

#58. Cat Among the PigeonsAgatha Christie
Poirot melacak pembunuhan berantai? Di dalam sekolah elit khusus putri, orang-orang kaya yang panik, dan cerita putri dari Timur Tengah yang diculik. Gempar dan memusingkan, tapi bagi Poirot (aka Christie) tampak sederhana. Saling tipu. Dush!

#59. Tanah Air ImajinerSalman Rushdie
Kumpulan esai yang menggairahkan. Bergizi tinggi. Curhat Rushdie ketika jadi juri lomba tulis, prediksi untuk Penulis muda yang akan menghentak dunia. Beberapa menjadi, curhatnya tentang India yang lama ditinggalkan dan efek psikologi. Runut dan wow.

#60. Time Machine H.G. Wells
Mungkin ekspektasiku ketinggian, Mesin Waktu terasa mengada-ada, eksekusinya tergesa, melupakan detail bagaimana bisa memutar waktu. Penjelasan mesinnya bekerja tampak meragukan, semeragukan sang Penjelajah Waktu bercerita.

#61. NeverwhereNeil Gaiman *
Pertarungan malaikat, iblis dan makhluk bawah tanah London. Richard, manusia normal di atas tanah terjebak dalam permainan kotor. Fantasi luar biasa, kejutan akhir yang hebat. “Bagaimana aku bisa kembali normal?” Gaiman tak pernah mengecewakan.

#62. OEka Kurniawan
“Aku akan menjadi manusia.” Kata O si monyet cerdik.

#63. Max Havelaar Multatuli
Tata bahasanya memang agak susah dipahami. Cerita asisten Residen yang keren, mencoba menerbitkan buku dnegan modal makelar kopi.

#64. The Adventures of PinocchioCarlo Collodi
Kisah abadi boneka kayu pembohong. Susah diberitahu, tak mau mendengarkan nasihat, mudah tergiur rayuan manis. Hikayat ikan paus dan semburannya.

#65. Sharp ObjectGillian Flynn
Ketika penulis mudik untuk mewartakan pembunuhan anak-anak sejatinya sudah menunjuk siapa pelakunya. Kombinasi buruk pengenalan karakter, susunan plot dan misteri detektif ala kadar.

#66. Do Android Dream of Electric Sheep?Phillip K. Dick
Dunia masa depan yang mengerikan. Hewan elektrik murah, hewan asli mahal. Untuk membelinya bahkan perlu dicicil. Dan misi pemburuan manusia mesin? Tak ada nurani.

#67. Artemis Fowl Eoin Colfer
Dunia peri yang menakjubkan. “Aku mendengar suara-suara di malam hari. Suara itu merayap di bantal dan memasuki telingaku.”

#68. SapiensYuval Noah Harari *
“Orang-orang yang hidup saat itu tidak melakukan hal-hal yang penting.” Tiap sepuluh kalimat kubaca, kubaca ulang separuhnya. Nikmat di tiap lembarnya.

#69. Cara Berbahagia Tanpa Kepala Triskaidekaman
Bukan fantasi, bukan misteri, bukan humor, bukan surealis. Blas. Kepala terpenggal dan bersenang-senang palsu.

#70. Dekat & NyaringSabda Armandio
Buku tipis yang melegakan. Bagus tapi ada yang kurang. Cerita gang Patos dalam dilematis.

#71. Bertarung Dalam SarungAlfian Dippahatang
Perseteruan adat dan pertarungan harga diri dalam sarung yang mematikan.

#72. Tango & SadiminRamayda Akmal *
Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas. “… berusahan mengapai-gapai Tuhan…”

#73. Bugiali Arianto Adipurwanto
Banyak suku kata Sasak yang tertera, sampai menyita dua halaman penuh guna menjelaskan. Hikayat bugiali.

#74. Seekor Capung MerahRilda A. Oe. Taneko
25 cerpen yang kubaca dalam perjqalanan bus Solo-Karawang, selesai saat di Semarang (30/09/19). “Apa tidak ingin ke Brouwesweg 10?”

#75. JamalokeZoya Herawati
Jamaloke, sandang pangan goleko dewe. Sandang pangan carialh sendiri. “Itulah sepenggal lakon sejarah.”

#76. Teh dan PenghianatIksaka Banu *
“Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat, pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar…”

#77. Republik Rakyat LucuEko Triono
Ini hanya buat fun. Lelucon rakyat, semua warganya lucu.

#78. Atraksi Lumba-Lumba Pratiwi Juliani
Narasi bagus, dialog bagus, susunan plot bagus. Mengalir merdu. “Tidak pernah kumengerti, aku juga tidak mengerti banyak hal. Andai aku bisa mengerti banyak hal.”

#79. The MartianAndy Weir
“Para astronot pada dasarnya gila. Dan sangat baik hati. Aku ingin dengar ide itu.” Mark Watney perjuangan bertahan hidup di Mars.

#80. Aku dan Surabaya dan NakamuraGerson Poyk
Semacam memoir Poyk. Tidak pernah ada seniman yang tak punya utang, sudah niat menghidupi keluarga walau ancaman kere.

#81. Skipping ChristmasJohn Grisham
Terpingkal-pingkal menamatkan novel Grisham ini. “Ini adalah boikot Nora, boikot total Natal.”

#82. Perjalanan Nun Jauh ke Atas SanaKurt Vonnegut
“Kota Anda berterima kasih pada Anda, negeri Anda berterima kasih pada Anda, planet Anda berterima kasih pada Anda, tapi yang paling berterima kasih adalah generasi mendatang.” Dua cerpen masa depan yang misterius.

#83. MissingR.L. Stine
Orang tua Cara dan Mark menghilang, awal pesta berubah cekam.

#84. Bastian dan Jamur AjaibRatih Kumala
Bagaimana jamur bisa mencipta gadis fantasi, mantan kekasih yang mati. Raquel…

#85. Jeritan Dari Pintu KuburAbdullah Harahap
“… di kota banyak kami dengar kabar-kabar aneh tentang kampong ini. Pencurian mayat bayi, tempat perampok berkumpul, kematian-kematian ganjil…”

#86. AlexPierre Lemaitre
Alex yang diculik tampak seperti korban, dalam perkembangannya ternyata pembunuh, dan dalam perkembangan lagi, ada twist. Wow. Detektif Prancis yang absurd.

#87. Goosebumps: Makhluk Mungil Pembawa BencanaR.L. Stine
Grool hanya bisa beralih tangan kalau pemilik sebelumnya mati. Kengerian setiap ganti bab.

#88. Ocean SeaAlesandro Baricco
Tagline saja, ‘Love, Murder & Betrayal in Almayer Inn’

#89. Simple Stories for a Simple InvestorNicky Hogan
Buku tentang saham pertama yang kubaca berakhir mengecewakan. Pamer jalan-jalan promo ‘Yuk Nabung Saham’. Ga banyak ulasan detail. Only for beginner.

#90. LoversusFarah Hidayati
Elang Terbang vs Cinta Lestari. FTV banget, Cinta yang miskin di antara para lelaki berada.

#91. Apollo dan Para PelacurCarlos Fuentes
Diari mencipa kenangan masa kecil. Dan kisah kematian dicerita dengan pola tak lazim.

#92. Dalih Pembunuhan Massal John Roosa *
Bencana kemanusiaan dari sisi lain. Kemelut kusut tanpa kepaduan, sejarah kelam Republik ini. Semua janggal sedari awal.

#93. The Giraffe and the Pelly and MeRoald Dahl
Kera, jerapah, bangau dan aku menyewakan jasa bersih kaca gedung bertingkat. Sang Duke memanggil…

#94. DiaHenry Rider Haggard
Leo dan Holly berpetualang ke rimba imaji Kor. Dia yang immortal, cinta mengorban banyak hal.

#95. Daisy Manis Henry James
Selasa malam nontong film Notting Hill, Julia Roberts bilang sedang proses syuting film adaptasi Henry James. Langsung ku #unboxing dan esoknya baca kilat sepulang kerja. Tentang gadis Amerika abad 19 jalan-jalan ke Eropa, ada insiden.

#96. Soekarno, Arsitek BangsaBob Hering
Biografi singkat Bung Karno yang nyaman diikuti. 32 halaman cerita perjalanan hidup, 125 foto yang dibubuhi keterangan dari kecil hingga wafat. Terbit memperingati 100 tahun pada 2001. Dibaca sekali waktu untuk teman tidur Hermione.

#97. MaryamOkky Madasari
Tentang Ahmadyah yang dianggap sesat. Pertentangan Maryan dan keluarganya, dan masyarakat sekitar. “Yang namanya keyakinan memang tak bisa dijelaskan. Ia datang sendiri tanpa punya alasan.”

#98. Kematian di VenesiaThomas Mann
Versi Basa Basi dari buku yang sama yang diterjemahkan pula oleh Circqa. Ini lebih bagus, entah karena bacaan kedua atau emang kualitas alih bahasanya lebih nyaman. Aschenbach yang jatuh hati pada pemuda cantik Tadzio.

#99. Tarian Bumi Oka Rusmini
Bagus sekali alurnya. Pemahaman yang sesungguhnya kalimat, ‘demi cinta akan kulakukan segalanya untukmu.’ Hikayat tari dan gesekan harga diri. Aku selalu mohon pada dewa di sanggah agar kau bisa keluar dari lingkaran karmaku.

#100. Rumah Hujan Dewi Ria Utari
Kubaca dua hari. Novel yang dikembangkan dari cerita pendek dan cerita lainnya. Seniman, hujan, sepi, kenangan, hujan. Buku keseratus tahun ini seram.

#101. Goosebump: Hantu Penunggu SekolahR.L. Stine
Salah satu seri Goosebumps terbaik. Dunia pararel misteri, siswa yang hilang dengan kilat kamera, cekam takut warna kelabu dan ending menggantung terselebung teror. Tommy dan kawan-kawan berpetualang di negeri antah di balik dinding sekolah. Gawat!

#102. The Notting Hill MysteryCharles Felix
Tahun 1850an terjadi pembunuhan berencana, melibatkan uang warisan dan polis asuransi sebesar 50.000 pound. Penyelidikan dengan detail saksi, surat pos, dampai catatan harian. “Musuh paling fatal kejahatan adalah kehati-hatian yang berlebihan.”

#103. AparajitoBibhutibhusan Banerji *
Novel India terbaik yang pernah kubaca. Riwayat Apurbo dari masa kanak-kanak, perjuangan pendidikan, merantau ke Kalkuta demi menyambut masa depan gemilang. Inilah gambaran hidup sesungguhnya. Leela dan Aparna, cinta dan tragedy. Kisah luar biasa.

#104. Alex and the Ironic GentlementAdrienne Kress
Saat bumi telah berdamai / Dan elemen-elemen terbakar / Dengan rasa paling prima / Hasratmu akan kau dapatkan. Petualangan bajak laut dengan banyak kejanggalan. Kisah yang buruk.

#105. Si Cacing dan Kotoran KesayangannyaAjahn Brahm
Sepertiga awal terasa biasa, mungkin karena cerita motivasi umum. Barulah jelang tengah, terutamqa terkait meditasi danyang terbesar adalah pikiran, banyak menawarkan keindahan dunia Buddha. Salur: Seorang Inggris, Ilmuwan, Biksu.

#106. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ariZuhairi Misrawi
Lebih seperti sejarah NU ketimbang riwayat pendirinya. Karena saya ga ikuti perkembagan NU banyak vitaminnya. “Tanda-tanda mati hati adalah mencari keuntungan dunia dalam urusan akhirat.”

#107. Lady SusanJane Austen
Hanya dari surat menyurat semua cerita bergulir. Janda dan putri remajanya, saudara yang bimbang tentang moral. Perjodohan. Asmara abad 18 di London yang rumit (dalam arti sebenarnya). Bagaimana tukang pos menjelma penggerak plot.

#108. PlayonF Aziz Manna
Garis awal garis pintu, satu kaki di depan, satu kaku di belakang, kepala lurus angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. Garis jalan, garis belokan, satu kaki membumi, satu kaki mengawang, kepala lurus, angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah.

#109. Kapitalisme, Islam dan Sastra PerlawananOkky Madasari
Beberapa karya sastra berfungsi transformatif terhadap pembacanya dan masyarakat skala lebih luas. Buku-buku dapat mengubah pandangan dan tingkah laku mereka. – O’Leary

#110. Cannery Row John Steinbeck
Hikayat Doc dengan laboratoriumnya. Mack dan konco-konconya dalam lingkup ranjang pesta.

Alhamdulillah…

Karawang, 311219 – Roxette – Almost Unreal