Obsesi Penulis Sang Asisten Penggali Sumur

The Red-Haired Woman by Orhan Pamuk

Wanita Berambut Merah adalah Lukisan karya Dante Gabriel Rossetti. Di sini dijadikan karakter pemicu. Karakter kita dibentuk bukan hanya oleh kebebasan kita, melainkan juga oleh kekuatan sejarah dan kenangan. Sumur adalah kenangan dan sejarah. Suatu pikiran, suatu saat, suatu fakta, suatu kenangan yang dimiliki. Kita bisa melihat semua itu bersama-sama, tetapi mustahil memahaminya semua sekaligus. Sang Wanita adalah pemain teater keliling yang menggoda, jerat itu mengenai seorang remaja. Ada tiga cerita legenda yang dijadikan acuan, dijadikan kutipan pembuka, saya ketik ulang.

1) Oedipus, pembunuh ayahnya, suami ibunya, Oedipus, penafsif teka-teki Spinx! Apa gerangan makna rangkaian misterius ulah takdir bagi kita? Ada keyakinan primitif yang populer, terutama di Persia, bahwa seorang penganut Magi yang bijaksana hanya lahir dari hasil inses. – Nietzsche, Lahirnya Tragedi.

2) Oedipus: Di mana letak kejahatan lama ini harus ditemukan? – Sophocles, Oedipus Sang Raja.

3) Sebagai putra tanpa ayah, seorang ayah tanpa putra pun akan sebatang kara. – Ferdowsi, Shahnameh.

Novel dipecah dalam tiga buku. Pertama bagian Cem, remaja yang menjadi asisten penggali sumur yang bercita menjadi penulis. Menemukan cinta, terperosok hubungan badan dengan Wanita Berambut Merah lalu masalah menggantung. Kedua tentang perjuangan Cem meraih mimpi, obsesinya jadi pencerita dan kehidupan rumah tangganya, diakhirnya dengan tragedi pula. Buku ketiga mengambil sudut Wanita Berambut Merah, menjelaskan segala yang tak tampak.

Wow. Just wow. Inilah novel penutup dalam rangkaian Harbolnas yang kubeli di Mizan Store, berakhir dengan menakjubkan. Sempurna. Ini adalah buku pertama Orhan Pamuk, Pemenang Nobel Sastra 2006 yang kubaca. Luar biasa memuaskan. Penuturannya runut, nyaman, kejutan disimpan untuk dipukulkan dengan waktu yang tepat. Novel ini proses nulis dan terbitnya pasca beliau meraih penghargaan. Sungguh nikmat tiap lembarnya. Hikayat Wanita Berambut Merah dalam teater yang menggoda jiwa muda, si remaja tumbuh kembang dalam pikiran bersalah, tapi terasa samar, dan impian miliki putra yang berakhir tragedi. Sejalan dengan waktu aku bertanya-tanya apakah dia menyadari, entah bagaimana, bahwa ‘kedewasaan’ baru yang dilihatnya pada diriku sebenarnya noda hitam pada jiwaku. Bagaimana sejatinya kehidupan bisa memukul balik, seolah ini adalah versi modern kisah Oedipus. Novel harus masuk akal seperti kisah nyata dan terasa tidak asing seperti mitos. Raja Oedipus sendiri memimpin pencarian layaknya seorang detektif, tanpa menyadari dirinya sendirilah si pembunuh.

Pemuda 16 tahun yang sebentar lagi lulus sekolah, Cem menjadi asisten penggali sumur di daerah perbukitan dekat Kota Orgoren. Awalnya ibu keberatan tapi niat untuk mendapat uang tambah biaya les itu menjadi pengalaman pertamanya jauh dari rumah. Ayahku Akin Celik kabur, dipenjara dan menikah dengan perempuan lain, seorang pria berprinsip kiri yang memiliki apotek dinamai Hayat, seperti ‘kehidupan’ bukan Celik sebagai ‘baja’. Orang-orang kiri hanya peduli pada prinsip, bukan penampilan. Maka ibunya membesarkan sendiri dengan cinta dan perjuangan. Menurut ayahku, kebahagiaan terbesar adalah menikah dengan gadis yang menemaimu membaca buku-buku dalam usaha penuh gairah dan cita-cita berdua.

Tuan Mahmut adalah penggali sumur, turunan profesi dari ayahnya. “Percayalah pada gurumu, patuhi aku dan serahkan segalanya padaku.” Dia telah menggali lebih dari seratus lima puluh sumur nyaris selama tiga puluh tahun, kini usianya 43 tahun sama seperti ayahku tapi ia tidak menikah. Dengan bos Hayri Bey yang sesekali datang melihat progress, dibantu dua asisten, saya dan Ali, menggali sumur dengan cara tradisional, dengan cangkul, beliung, sekop dan lain-lain guna menghajar tanah, ember yang diangkat ke atas dengan kerekan, tanah yang diangkut ke truk, tanah digali sedalam mungkin hingga tujuan tercapai. Namun setelah hampir sebulan berkutat, air tak segera menampakkan diri. Kekhawatiran mulai menyeruak, dan mereka meragu. Air dapat muncul dari tanah pada saat-saat yang paling tidak disangka, membuat kita terkaget-kaget. Tuhan sendiri akan turun tangan dengan menyemprotkan air ke wajah penggali sumur yang gigih. “Jalur bumi itu bisa berubah ketika kau paling tidak mengharapkannya. Aku ingin tetap meneruskan penggalian di sini.”

Ali ditarik, sisa hari tak dibayar hingga kalau air benar-benar mencuat, kini tinggal mereka berdua. Nyerah atau terus berjuang? 15 meter itu dalam sekali, ketika kamu di dasar dan melihat ke atas hanya lubang kecil cahaya yang nampak, tampak menakutan bukan? Malam-malam jelang tidur mereka sering saling berdongeng. “Aku dulu takut sama cerita Tuan Mahmut, karena selalu berakhir dengan kenyataan.” Lalu di sela makan malam, mereka ke kota untuk menikmati rokok, raki dan suasana kota, di Warung Kopi Rumelia. Ada teater keliling Teater Hikayat Teladan, di sanalah Cem jatuh hati dengan seorang aktris panggung, sang Primadona Wanita Berambut Merah yang akhirnya merasakan pengalaman pertama tidur dengannya. Seakan-akan tatapannya yang lembut, ramah, dan menggoda dapat mengungkapkan betapa dunia bisa menjadi begitu menakjubkan.

Gelas-gelas raki dan botol-botol bir mencipta mabuk. Usia 16 tahun yang menggebu dalam lingkar cinta dan nafsu. Aku jatuh cinta begitu dalam kepadanya dan perasaan itu, bersama raki yang kuminum, membuatku mampu mengikuti sepenuhnya apa yang terjadi di panggung. Malam itu aku benar-benar mengerti bahwa aku akan menjadi penulis. Yang harus kita lakukan hanyalah melihat dan mengetahui, memahami apa yang kita lihat, dan mengungkapkannya dengan kata-kata. Aku harus berterima kasih kepada Wanita Berambut Merah. Segala sesuatu di alam raya dan dalam pikiranku bersatu untuk meraih tujuan yang sama. Dunia teater sudah mengajarkan kepadaku bahwa untuk tidak menganggap apa pun dalam kehidupan ini sebagai kebetulan belaka. Aku memikirkan Wanita Berambut Merah, menjadi menulis drama, pulang, atau bertemu dengan teman-temanku di Besiktas. Gairahku yang tak dipersiapkan, lakon di panggung, raki yang telah kuminum semuanya berkomplot membuatku kehilangan kesadaran bahwa ini masa sekarang.

Hatiku hancur dan aku sangat marah, seakan-akan dihianati. Naas, esoknya terjadi tragedi. Cem yang lelah dan mengantuk tak sengaja menjatuhkan ember berisi tanah ke sumur dengan Tuan Mahmut yang mengerang di dasar. Logikanya, ia segera mencari bantuan, tapi gugup dan kepengecutannya malah mencipta ia kabur pulang ke rumah demi pelukan hangat ibunya. Dari perjalananku pulang dari kota, aku melihat bintang-bintang di langit yang tak terhitung jumlahnya dan sekali lagi membayangkan aku harus menjadi penulis.

Gulir waktu, Cem yang ingin menjadi penulis malah kuliah di Geologi tanah. Lulus dan menikah dengan Ayse yang berambut warna cokelat muda, gadis cantik dari Gordes. Aku kini menjalani kehidupan terhormat seperti yang diharapkan ayah dariku, tetapi aku juga marah padanya. Menata hidup, menjalani hari-hari senormal pasangan muda lainnya dengan impian dan barisan harap masa depan. Singkatnya mereka sukses secara ekonomi, memiliki Perusahaan Sohrab di bidang properti, mengakusisi dan melebarkan sayapnya. Namun hari-hari dalam tanya nasib Tuan Mahmut selalu menempel di pojok pikirannya. Dan mereka menginjak usia jelang paruh baya tanpa anak, setelah berjuang segala cara, tetap gagal.

Maka suatu ketika ada yang mengaku sebagai putra Cem, terguncanglah. Penyelidikan, tes DNA, maju ke pengadilan atau ‘damai’ sampai akhirnya Cem kembali mengenang ke sumur galinya setelah tiga puluh tahun, bertemu Wanita Beerambut Merah dan aktor didikannya. Inilah kisah modern Oedipus yang sukses mengintimidasi. Hukum Turki tidak mengakui surat wasiat, anak lelaki otomatis akan mewarisi dua pertiga harta.

Aku merasakan desakan kuat untuk mengetahui lebih banyak, tetapi aku ngeri dengan apa yang mungkin akan kutemukan. Sigmund Freud berteori bahwa setiap pria memendam keinginan untuk membunuh ayahnya sendiri. Hal ini juga menjadi bahan dasar dalam eksekusi di buku tiga. Enver Yenier (akuntan pribadi) yang jadi identitas sang anak, tampak samar memang sedari mula. Lambat laun aku juga memahami bahwa apa yang terjadi di sumur itu akan selalu menghalangiku dari kegembiraan hidup biasa. Aku terus mengatakan kepada diriku sendiri. Yang terbaik adalah bersikap seakan-akan tidak terjadi apapun. Kita sudah di era digital. Surat, email atau bahkan komunikasi handphone tak menampilkan rupa. “Ayah harus adil. Ayah yang tidak adil akan membutakan anaknya.

Pengalaman selama sebulan sebagai asisten penggali sumur itu menjadi semacam kenangan indah saat melakukan invasi properti, bagi orang umum. Mengapa aku memikirkan hal-hal yang sama berulang-ulang. Romansa akan meracuni dan berakhir dengan kesedihan pada semua yang terlibat. Nasehat Tuan Mahmut. “Kau akan menjadi orang besar, suatu hari nanti. Aku bisa merasakan.” Memang menjadi pecut mewujudkan cita-cita, walau diakhiri dengan buruk, sang guru seolah adalah ayah bagiku yang merindu sosoknya.

Generasi sekarang, penduduk Ongoren akan mengaku termasuk penduduk Istanbul. “Apa ada di antara kita di sini yang pernah mendengar tentang Orgoren?” Mirip dengan orang-orang Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Sragen, Karanganyar, Boyolali yang mengaku orang Solo. Ga salah juga, karena sejatinya itu adalah wilayah karisidenan Surakarta, buktinya plat di semua kabupaten itu menggunakan AD.

Penggali sumur diibaratkan pembabat alas, mencipta sumber air yang lalu berduyun mengundang warga membeli properti di sekelilingnya. Apakah itu aneh? Jika kita saling menyukai sesuatu, sesuatu yang berharga tetapi kemudian meninggalkannya di sumur lalu melupakannya, apa artinya? “Di mana ada peradaban, di mana ada kota dan desa, pasti ada sumur. Tidak mungkin ada peradaban tanpa sumur, dan tidak ada sumur tanpa ada penggali sumur.”

Dunia itu indah dan aku ingin dunia batinku juga indah. Agama adalah tempat berlindung dan pelipur bagi yang lembek. Semoga kehidupan bermurah hati pada anakku tersayang. “Jika kehendak Tuhan berlaku, bagaimanapun. Tak seorang pun bisa terbebas dari takdirnya.”

Dan dengan demikian memenuhi kehendak ilahi.

The Red-Haired Woman | by Orhan Pamuk | Judul asli Kirmizi Sach Kadin | Diterjemahkan dari The Red-Haired Woman | Terbitan Alfred A. Knopf, New York, 2017 | Penerjemah Rahmani Astuti | Penyunting Rini Nurul Badariah & Dhewiberta | Perancang sampul Fahmi Ilmansyah & Febrian | Pemeriksa aksara Pritameani & Rini Nura | Penata aksara Rio & Petrus Sonny | Copuright 2016 | Penerbit Bentang | Cetakan Pertama, Februari 2018 | viii + 344 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-602-291-449-5 | Skor: 5/5

Untuk Asli

Karawang, 310120 – Celine Dion – How I Live

Daftar Harbolnas Mizan done. Sembilan dari sembilan buku. Yey, sesuai rencana baca-ulas sampai akhir bulan ini selesai semua. Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – Ziarah – The Red-Haired Woman – A Fair Lady & A Fine Gentlement Semoga program harbonas berikutnya bisa ikuti dan semenenangkan ini. Thx. Xoxo

Satu komentar di “Obsesi Penulis Sang Asisten Penggali Sumur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s