Dentuman Gelombang di Bawah Tiang-Tiang Pancang

Cannery Row by John Steinbeck

Tak ada yang bisa menandingi rasa bir pada sesapan pertama.”

Akhirnya rasa penasaran itu terobati. Inilah buku yang sesungguhnya saya incar di harbolnas, yang lainnya hanya melengkapi syarat beli minimal 200k demi gratis ongkir. Saya sudah baca Kamis yang Manis, padahal itu buku seri kedua, cerita seputar persahabatan Doc dan Mack di Cannery Row. Rasanya ternyata sama saja, ga ada kejutan mematikan laiknya Of Mice and Men atau The Pearl, buku ini berkisah tentang keseharian mereka juga. Hanya beragam masalah beda yang disodorkan. Tak ada hal berat yang ditawarkan, kehidupan sehari-hari di sekitar kita, normal dan wajar. Bagaimana sebuah tali persahabatan dirajut, kusut, lalu diluruskan kembali.

Poin utamanya adalah Doc sang ilmuwan nyentrik, memiliki laboratorium yang suka meneliti kehidupan makhluk air, terutama laut dan seluk beluk kehidupan di sekelilingnya. Segala yang bertentangan dengan kerapian, aturan, dan kepatutan. Ia melakukan praktek di tengah kehidupan warga Cannery Row, dengan beragam sifat plus minus tentunya. Di sekitar mereka senja merangkak selembut musik. Ada Dora yang memiliki Bear Flag Restaurant, sebuah tempat pelacuran sistematis, penghasilan Dora yang berlumur dosa, tersembunyi, tak terpublikasi, dan tak tahu malu itu justru memimpin daftar donasi saat ada sumbangan diminta. Kau tak bisa mencuri dari pendermamu.

Ada toko kelontong serba ada milik Lee Chong, pria keturuan Tionghoa yang menaruh marjin keuntungan transaksi di atas segalanya. Mengingatkanku pada Toko Edi di buku Dekat dan Nyaring-nya Sabda Armandio. Setiap ada penawaran ia akan mengangguk dan menunggu, menghitung di kepala kemungkinan yang terjadi, berteman alat hitung swipoa di sisinya, barulah mengambil keputusan. Ini adalah sejam permata – jarak antara siang dan malam ketika waktu berhenti dan menguji dirinya sendiri.

Dan tentu saja ada Mack, ia adalah yang paling tua, pemimpin, mentor, dan pada tingkat tertentu ia tukang mengeksploitasi sekelompok kecil orang-orang yang sehari-harinya tak punya berkeluarga, tak punya uang, dan tak punya ambisi di luar makanan, minuman, dan kesenangan. Ibaratnya pemuda yang suka nongkrong di gardu, main gaple, miras, dan kuat ngobrol begadang mungkin sambil nyencrung gitar. Dan seterusnya, kehidupan wajar bermasyarakat di Amerika tahun 1930an.

Doc adalah ilmuwan kaya, baik, pintar, gaul, warga masyarakat yang ideal menurut Undang-undang atau kita bisa menyebutnya menawan dalam satu kata. Doc tetap mencintai kebenaran, tetapi ia tahu itu bukan suatu cinta yang umum dan kebenaran bisa menjadi kekasih yang sangat berbahaya. Ia begitu dicintai, dari kalangan jelata sampai para jetset. Karena ia seorang peneliti, kesendirian dalam sunyi dengan barang-barang di lab adalah mutlak. Kesunyian – kesendirian alam yang dingin terpencil membuatnya mendesah karena tak seorang pun di mana-mana di dunia tersebut dan ia tinggalkan. Ia menghargai kodok-kodok, maka dalam kisah ini Mack dan teman-teman berburu kodok. Rencana mula cari di sungai, tapi dalam prosesnya malam berkenalan dengan polisi dengan anjing pelacaknya, dan ternyata dia memiliki kolam penuh kodok, dan bir enak. Kawanan ini berpesta di sana, diberi anak anjing lucu pula. Siapa pun yang pergi bertamasya tanpa garam, lada, dan kopi adalah pandir, tentu saja. Mack memang pintar bersilat lidah, pintar bicara, tahu keadaan, situasional. Sementara Doc menjadi sumber filsafat, ilmu, dan seni. Pikirannya tak punya ufuk dan simpatinya tak bisa dibelokkan.

Lab-nya tampak anggun. Sebuah gramofon besar tersandar ke dinding dengan ratusan rekaman tergeletak di sampingnya. Musik menggema di telinga Doc, sebuah seruling manis tinggi menusuk permainan sebuah melodi yang tak pernah bisa ia ingat. Malam-malam tenang diisi dengan alunan jazz dan musik klasik. Semuanya seolah menjeritkan ketiadaan seorang perempuan. “Apa yang paling akan membuat Doc bahagia?” / “Pesta.” / “Bukan” / “Dekorasi.” / “Bukan. Kodok!” Monterey bukanlah sebuah kota yang akan membiarkan pelecehan terhadap seorang sastrawan.

Maka suatu ketika, Mack dan kawan-kawan mencoba membuatkan pesta untuknya. Rencana pesta untuk Doc ditujukan dengan diam demi kejutan. “Si Doc itu orang baik. Kita seharusnya berbuat sesuatu untuk dia.” Namun malah berakhir bencana, laboratoriumnya hancur berantakan, Doc jelas marah dan ketegangan terjadi. Doc tak pernah mengunci laboratorium, ia punya teori bahwa siapa pun yang sungguh-sungguh ingin mendobraknya dengan mudah bisa melakukannya. Suatu retakan menjalar di dinding kemalangan. Dua sahabat ini bersitegang, Mack yang merasa bersalah tak melawan, ia dipukuli babak belur. “…Mengapa kau tidak pergi dan menutup pintu dan meninggalkanku sendiri? Aku akan memaksamu jika kau tidak melakukannya.” Mack memandang tajam ke dalam gelas kosongnya seolah beberapa pesan rahasia tertulis di dasarnya. Keheningan jatuh di ruangan itu. Batu berat yang tak terelakkan membebani hatinya. Batu itu membebani hatinya dengan amat berat.

Kita hanya dapat mempergunakan diri kita sendiri sebagai ukuran. Jika kita melakukan sesuatu yang tak dapat dipahami dan asing, kita mungkin sedang berdoa – maka mungkin mereka juga sedang berdoa.” Kegagalan pesta itu menuai konsekuensi. Materi jelas, nilai penelitian itu mahal. Barang-barang di sana unik dan langka. Malu, marah, ancaman, sumpah serapah. Namun persahabatan sejati dirajut dengan benang iklas dan dieratkan dengan niat baik. Doc menyadari niat Mack adalah memberinya kejutan pesta adalah kebaikan tulus seolah kawan, maka ketika Mack menanyakan tanggal lahirnya, yang dengan otomatis menyadari akan dibuatkan pesta lagi, ia menyebut tanggal asal, yang lalu diyakini sebagai hari H menuju pesta besar. Doc tahu, ia pun menyiapkan juga. Perlahan, desas-desus rencana pesta untuknya menyebar, dan seantero Cannery Row mendengar, menyiapkan, menyambut dan menuju hari-hari yang meriah melimpah ruah. Yah, kisah ini sebagian sampai di situ. Lanjutannya bisa dibaca di Kamis yang Manis terbitan Basa Basi, lebih tebal, lebih panjang, tapi kutat masalah dan dilema ga akan jauh. Setidaknya, Steinbeck sangat berhasil menciptakan karakter unik, baku hantam sesama rekan, dan air miras melimpah membanjiri tiap lembarnya. “Tak terpikirkan akan pernah merasakan apa pun seenak ini.”

Blaisedell, sang penyair pernah berkata, “Kau terlalu mencintai bir. Aku akan bertaruh suatu hari kau akan pergi dan memesan milksake rasa bir.” Jadi tahu jenis-jenis bir: Old Green River, Old Town House, Old Colonel, dan yang paling digemari Old Tennessee, campuran wiksi yang dijamin berumur empat bulan, sangat murah dan terkenal dengan sebutan Old Tennis Shoes. Tampak menarik, karena di sini para karakter suka sekali minum bir, setiap saat dalam waktu luang, menyambut tamu, dalam pesta, dan seterusnya. Mirip dengan Fiesta-nya Ernest Hemingway yang setiap ke kafe, minum terus sebagai penutup makan. Sudah kubaca dalam rangkaian ini, menanti waktu ulas. “Kau tak bisa memercayai seorang laki-laki yang sudah kawin. Tak peduli seberapa banyak ia membenci istri tuanya, ia akan kembali kepadanya.”

Seorang lelaki dengan janggut bagaimanapun memang sering agak dicurigai, kau tak bisa berkata bahwa kau memelihara janggut karena kau menyukai janggut. Meskipun ia merupakan pecahan dan bagiannya. “Waktu akan menyembuhkan segala sesuatu, ini juga akan berlalu. Orang-orang akan lupa.” Musik mengalun kembali di kepalanya. Mengeluh sekaligus pasrah. Mereka bernyanyi pada bintang-bintang, pada bulan yang memudar, pada rumput yang bergoyang. Mereka mengembuskan lagu cinta dan sapaan-sapaan.

Inilah novel tentang warga sekitar, sewajar matahari terbit di pagi hari, senormal hujan di awal tahun dengan dentuman riaknya menciptakan gelombang di bawah tiang-tiang pancang, kala kalian berteduh, mengamati, mendengarkan, menjadi saksi sebuah peristiwa sehari-hari. Sekali sesuatu masuk ke kepalamu kau tak bisa melupakannya.

Cannery Row | by John Steinbeck | Diterjemahkan dari Cannery Row | Terbitan Penguin Books, 1992 | Original copyright 1945, renewal 1973 | Penerjemah Eka Kurniawan | Penyunting Adham T. Fusama & Ade Kumalasari | Perancang sampul Andreas Kusumahadi | Pemeriksa aksara Pritameani | Penata aksara M. Nichal Zaki | Penerbit Bentang Pustaka | Cetakan pertama, Juli 2017 | viii+236 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-602-291-407-5 | Skor: 4/5

Untuk Ed Ricketts, yang tahu kapan atau apa yang seharusnya

Karawang, 170120 – Randy Crowford – Who’s Crying Now

Daftar Harbolnas Mizan. Dua sudah, sembilan menuju. Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – Ziarah – The Red-Haired Woman – A Fair Lady & A Fine Gentlement