Bunga Daisy yang Layu di Musim Semi

Daisy Manis by Henry James (15 April 1843 – 28 Februari 1916)

Ia seorang wanita muda yang tercantik yang pernah saya lihat, dan yang paling suka bersahabat. Dan ia gadis yang paling murni tanpa dosa.

Satu lagi kisah tentang gadis rupawan galau di abad sembilan belas yang menemukan akhir yang sendu. Beberapa terasa pengulangan, atau sebut saja mirip. Endingnya jadi seperti lumrah. Tragis tapi tak sampai semenangis Bovary, trenyuh tapi ga sampai se-shock Karenina, sedih tapi bisa langsung move on. Novel klasik yang diterjemahkan KPG dalam seri Sastra Dunia. Bukunya tipis sekali, kubaca sehari langsung ludes, ga nyampai seratus halaman. Kubeli dari Taman Baca Rindang, Klaten bersama tiga buku Neil Gaiman. Kubuka setelah dua bulan ada di rak, gara-gara malam sebelumnya nonton film Notting Hill di mana si Julia Roberts seorang artis akan memerankan gadis cantik dalam proses adaptasi film dari buku Henry James, langsung deh si Hermione #unboxing. Lihat, betapa hal-hal yang kita lakukan sering kali adalah dampak dari hal-hal yang dirasa sepele.

Saya curiga bahwa itu semua gara-gara kita berdua telah tinggal terlalu lama di Jenewa.” Kisahnya mengambil sudut seorang pemuda bangsawan dari Amerika yang bertemu dan berkenalan dengan gadis Amerika pula, Daisy Miller di Eropa. Perkenalan yang tak mulus itu sejatinya menyulut beberapa omongan saudara, masalah moral dan kepantasan. Rasanya tema seperti ini sudah sering kita baca, kisah klasik cinta beda kasta mendapat pertentangan. Namun karena novel ini pertama terbit tahun 1878, jelas Daisy Miller salah satu pioner itu yang ternyata justru terasa biasa. Pertentangan di sini juga lebih kepada gunjingan, karena dari Swiss dan Italia si Gadis bergaul merdeka.

Daisy digambarkan sangat cantik, dan banyak sekali kata itu dilontarkan dalam kalimat langsung. Nona Miller itu seorang gadis muda yang ada dalam khayalan. “Ia wanita muda tercantik yang pernah saya lihat dan yang paling suka bersahabat. Gadis muda murni tanpa dosa.” Di kota kecil Vevey, Swiss, Winterbourne berkenalan dengan Daisy Miller, bermula dari adiknya Randolph yang diberi gula batu lalu datanglah Daisy. Winterbourne jatuh cinta pada pandangan pertama. Basa-basi, menjanjikan perjalanan ke Puri Chillon, lalu mencoba mengenal lebih dekat. Baru kali ini ia mendengarkan kekecewaan yang begitu memikat.

Nama asli Daisy adalah Annie P. Miller, adiknya yang ceriwis memberitahunya. Kedekatan mereka jadi gunjingan, kepantasan Daisy berjalan bersama Winterbourne. Seorang gadis bisa-bisanya di era itu jalan bareng tanpa ikatan nikah dengan orang lain. Tetapi sesungguhnya ada saudaranya yang meminta untuk tidak bergaul dengan gadis-gadis Amerika yang belum berbudaya. Daisy suka jalan-jalan tanpa orang terdekat, malam-malam keluyuran ngopi, kongkow. Hal yang kita rasa lumrah di masa kini, tapi di masa itu dianggap aib. Daisy Miller sebagai gadis yang gemar main cinta, gadis manis Amerika yang gemar main cinta, yah begitulah jalan sama cowok berduaan sudah dianggap terlalu jauh hubungan.

Kebebasan yang saat ini kita raih, menjadi barang langka kala itu. Beliau pasti sangat pemilih, saya sendiri ingin sekali memilih-milih teman bergaul. “Saya belum pernah mendengar hal sekaku itu, kalau itu dianggap tak sopan.” Selalu Daisy memiliki argumentasi melawan budaya. Tentu saja seorang pria berhak kenal siapa pun. Lelaki beruntung memiliki itu, tapi tidak dengan perempuan. Agama juga diapungkan untuk menjadi rujukan. “Nah, ia memandang ke arah kita bagaikan salah seekor singa atau harimau yang zaman dulu menandang ke arah para martir Kristen.”

Cerita tentang adat dan kepantasan seperti banyak ditemui di novel klasik Indonesia, terutama angkatan Pujangga Lama. Siti Nurbaya terpaksa menikahi Datuk yang usianya di atas ketimbang melawan kata orang tua, Tenggelamnya Kapal menyajikan asmara tak sampai dengan mematuhi jodoh pilihan orang tua, dan seterusnya. Daisy nyaris ke arah sana, tapi dipotong takdir karena malah menemui akhir yang menyedihkan. Bukan cara umum, tapi kejadian di Italia itu sungguh tergesa. Kita belum terlalu dekat dengan sang gadis, tapi sudah dipaksa dipisahkan. Buku ini memang tipis sih, tapinya memang kurang dalam. Sungguh terkutuk makhluk mungil itu dan betapa pandainya ia memainkan peran sebagai si polos yang sakit hati!

Daisy adalah lambang seorang gadis Amerika yang cantik, kaya, polos, yang sia-sia dalm menghadapi keangguhan sosial bangsanya di Eropa. Lincah bergaul, semaunya sendiri, tapi tetap tahu batas lalu hancur dalam pergunjingan, hanya karena ia kurang menghormati tata cara dan sopan santun yang telah menjadi adat. Di Italia, kisah ini menemui titik akhir yang pilu.

Kemerdekaan bertindak adalah bagian terpenting dari cara pengawasan. Sedih juga mengetahui akhir perjalanan sang karakter utama. Seakan ini adalah kalimat pembelaan, “Saya memang ditakdirkan telah berbuat keliru. Saya terlampau lama tinggal di negeri-negeri asing.” Lantas apa yang salah? Budaya? Waktu? Warga? Keadaan! Kebahagiaan dari dalam, tapi tekanan hidup begitu keras dari luar. Ada dan tiada sebuah norma adalah kesepakatan bersama dan jati diri dalam lingkungan mufakat. Daisy dalam pusaran itu.

Henry James adalah penulis roman, sandiwara, dan kritikus kelahiran New York, 15 April 1843 dan meninggal di Inggris 28 Februari 1916. Salah satu anak didiknya yang terkenal adalah Joseph Conrad, penulis yang suka petualang juga. Sandiwara karya beliau pada masa hidupnya kurang diperhatikan, tapi setelah wafat malah terkenal. Washington Square dan The Turn of the Screw (judulnya diubah menjadi The Heiress dan The Innocents, lalu diangkat ke layar putih). Pada tahun 1907-1909, beliau merevisi beberapa roman dan cerita pendek serta menambahkan kata pengantar. Semua kata pengantar itu diterbitkan dalam satu buku berjudul The Art of Fiction.

Aku tak bisa, Frederick. Aku ingin juga menerima mereka, tetapi tak pantas kalau itu kulakukan.”

Daisy Manis | By Henry James | Diterjemahkan dari Daisy Miller | KPG 59 16 01250 | Cetakan pertama, Agustus 2016 | Sebelumnya diterbitkan oleh PT. Pustaka Jaya | cetakan pertama, 1975 | Penerjemah Djoko Damono | Perancang sampul Teguh Tri Erdyan, Deborah Amandis Mawa | Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) | vii + 96 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN 978-602-424-158-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 121219 – 150120 – Bee Gees – Word

Kutipan sepintas yang patut diingat:

Tapi saya lebih suka teh bening.” – Daisy | “Kota terbagus yang pernah kami kunjungi adalah Kota Richmond.” – Randolph | “Saya belum pernah segembira ini seumur hidup saya.” – Winterbourbe | “Astaga! Mengerikan sekali gadis itu.” – Castello | “Kalau begitu Anda sudah cukup dewasa untuk berpikir sehat. Anda sudah cukup dewasa untuk dipergunjingkan.” – Walter