Surat-Surat Pribadi Bercerita

Lady Susan by Jane Austen

“…Kau tahu betapa aku telah mencintaimu; kau dapat menduga seperti apa perasaanku saat ini, tapi aku bukan pria lemah yang akan menjelaskan perasaanku kepada seorang wanita yang akan berbangga diri karena telah membuatku menderita , wanita yang kasih sayangnya tidak aku peroleh.”

Ke mana aku pergi tidaklah penting, bagi siapapun juga tidak penting bagiku. Tapi kepergianmu penting bagi semua kerabatmu. Pada akhirnya, keanggunan dan tata karma adalah yang terpenting. Kisah surat-menyurat di Inggris abad 18. Semua narasi berdasarkan pada tulisan surat yang berputar dari satu tokoh ke tokoh lain. Nyaris semua surat dari tangan perempuan, jelang ending satu surat dari pemuda sebagai eksekusi dan sebuah kesimpulan. Ini adalah buku pertama Jane Austen yang saya baca. Ini juga buku pertama dari Sembilan buku yang kubeli saat Harbolnas kemarin. Sejatinya kisah sederhana, cinta yang saling silang dan penentuan asmara kepada siapa si A ke si B, dan si C ga jadi ke si D. Alasan moral, materi dan kepantasan menjadi produk unggulan yang dikelola sedemikian rupa menjadi novel sepanjang 126 halaman. Perasaanku padanya memang sejenis cinta, tapi bukan jenis akan kupilih.

Lady Susan Vernon dari Langford adalah janda beranak satu, gadis remaja yang sedang mekar berusia 16 tahun, Frederica. Tampak bandel di sekolah, sedang mencari jati diri. Pada bulan Desember Susan berencana berkunjung ke saudara Charles Vernon di Churchhill, yang sudah berkeluarga. Aku tahu kedatangan Lady Susan ke Churchhill didasari oleh niat baik dan terpuji, sifat hemat menyikapi kondisi keuangannya patut dicontoh. Istrinya Catherine Vernon lalu curhat kepada ibunya Lady De Courcy, sementara Susan bersurat kabar kepada sahabatnya Alicia Johnson untuk bercerita keadaannya akan, saat dan sesudah berkunjung. Cerita berkutat di situ terus, sampai akhirnya Susan kembali ke London dan keputusan final harus diambil. Keputusan apa? Kemana cinta Reginald De Courcy berlabuh? Kepada siapa Lady Susan menjatuhkan pilihan? Tidak ada yang dapat melawan Lady Susan selain suaminya dan hati nuraninya! Ya, hanya begitu. Namun cerita asmara biasa di tangan Jane menjelma ganjil dan memikat. Saya salut, di era itu bisa menampilkan narasi dari lembar-lembar surat, menantang pembaca menebak, mengalir dan akhirnya pecah di akhir dilema. Walaupun tidak memiliki keunggulan dia sama sekali tidak bebal seperti yang kuduga, karena dia menyukai buku dan menghabiskan sebagian waktunya dengan membaca buku.

Disebabkan oleh pendidikannya yang terabaikan dan pernikahannya yang terlalu dini. Korespondesi ini merajut pola, memberitahu kita bahwa apa yang ditulis manis tak semanis ketika kejadian yang sama ditulis kepada orang lain. Atas nama kesopanan, hanya itu yang bisa kulakukan. Lady Susan berkirim sapa dengan lembut, dengan merdu akan rencana kedatangannya. Padahal di satu sisi ia menulis surat penuh kekesalan kepada sahabat Johnson bahwa saudaranya, si Charles Vernon adalah orang yang kuhindari!

Begitu juga saat Catherine menyambut Susan, dengan kata-kata bijak dan bahagia akan kedatangannya, sementara ia mengeluhkan kalimat kesal kepada orang tuanya. Dia bahkan tidak memiliki tata karma yang baik; dan menurut Mr. Smith, dia membosankan dan angkuh. Perpaduan keangkuhan dan kebodohan tidak layak mendapat perhatian. Ditambah adiknya, yang diwanti-wanti untuk menjauhi janda, malah terpikat. Susan sendiri punya cem-ceman di London, Mr Mainwaring. Tata krama di surat akan mengabu, bayangkan ia baru saja menjanda, tapi sudah coba mencari pasangan lagi. Suami barunya harus kaya, menggoda para pria, menabur pesona. Makin kurang sreg, saat tahu ia bersaing dengan anaknya sendiri! Nah nah… kalau di sini di era milenium dah jadi santapan tetangga yang julid. Gunjingan di tukang sayur sampai nada-nada miring terkait status sosial. Pastilah dia tenggelam dalam renungan yang tidak menyenangkan, tapi memang ada orang-orang perasaannya sulit dipahami.

Memang ternyata terdengar keliru, tetapi aku yakin tindakan-tindakan itu dalam balutan budaya, terasa benar. Ga ada yang salah, semua karakter di sini memang abu-abu, masyarakat kebanyakan. Hanya susunan kisah dari tulisan surat saja, ga jauh kasusnya di era kini kita berkabar tulis via WA atau video call. Mereka menemukan romantika masanya sendiri, karena jarak dan jarang bertemu saja jadinya ikatan lebih kuat ketimbang kita sekarang di mana komunikasi sudah bukan halangan, yang bisa bersapa langsung walau jarak ratusan kilometer.

Terkutuklah para wanita yang melupakan hak mereka, dan pendapat publik tentang mereka
Setiap orang punya pembelaan atas segala omongan orang lain. Orang cenderung yakin, mengaitkan sikap penuh percaya diri dengan perilaku penggoda, dan gaya bahasa yang lancang, otomatis terkait dengan pola pikir yang juga lancang. Susan merasa ya setiap tindakan ada konsekuensi. Wanita yang terkenal memikat itu pastinya akan berusaha mendapatkan rasa hormat dariku; dan aku akan berusaha mendapatkan rasa hormat dariku; dan aku akan berusaha menjaga diri agar tidak terpengaruh olehnya.

Kecil kemungkinannya dua orang pria bisa begitu terpedaya dalam waktu bersamaan. Inilah pesona Janda. Seorang duda yang kaya tapi perilaku urakan atau pemuda, pewaris tunggal yang masih labil yang ia terima? Tentunya Susan cantik dan mempesona. Dia tidak terkejut jika hati seorang pria dapat begitu terpengaruh oleh kejelitaan dan kemahiran wanita itu. Ada kesenangan tersendiri jika Reginald dapat menaklukkan jiwa yang lancang itu. Atau Mainwaring yang pengalaman, dalam sebagai idealnya orang tua. Atau ada opsi lain yang mencuat, ya ya, yakan. Kalau itu yang terjadi, berapa lama pemuda bisa melupakan asmara pada janda? Biasanya waktu tiga bulan cukup, tapi perasaan Reginald yang berapi-api cukup sulit dipadamkan. Dilema lagi ya.

Aku mungkin telah menguatkan diri menghadapi ketidakadilan opini masyarakat, tetapi jika aku harus kehilangan rasa hormat darinya, aku tidak akan sanggup. Opini umum tentang seseorang hanya sedikit bisa dipercaya, karena tidak ada kepribadian yang bisa terlepas dari fitnah, tidak peduli sejujur apa kepribadian tersebut. Lady Susan adalah gambaran suatu masa di suatu negeri di suatu era yang menyajikan, betapa keterbatasan komunikasi bukan halangan untuk mencipta hubungan unik, aneh dan terdengar tak lazim untuk jiwa muda sekarang.

Khususnya terkait pernikahan, semuanya dipertaruhkan – kebahagiaanmu, kebahagiaan orang tuamu, dan nama baikmu.

Dan menurutku kalian telah berusaha sebaik mungkin, tetapi takdir tetap saja menang. Semua hal sepertinya sudah diputuskan, jadi aku hanya bisa berserah diri dalam keputusasaan.

Lady Susan | by Jane Austen | Diterjemahkan dari Lady Susan | Penerjemah Dyah Agustine | Proofreader Enfira | Desain sampul AM Wantoro | sumber gambar shutterstock.com | Penerbit Qanita | Cetakan pertama, September 2016 | 132 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-402-042-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 241219 – 140120 – Sherina Munaf – Singing Pixie

Daftar Harbolnas Mizan. Satu sudah, sembilan menuju. Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – Ziarah – The Red-Haired Woman – A Fair Lady & A Fine Gentlement

Satu komentar di “Surat-Surat Pribadi Bercerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s