Obsesi Penulis Sang Asisten Penggali Sumur

The Red-Haired Woman by Orhan Pamuk

Wanita Berambut Merah adalah Lukisan karya Dante Gabriel Rossetti. Di sini dijadikan karakter pemicu. Karakter kita dibentuk bukan hanya oleh kebebasan kita, melainkan juga oleh kekuatan sejarah dan kenangan. Sumur adalah kenangan dan sejarah. Suatu pikiran, suatu saat, suatu fakta, suatu kenangan yang dimiliki. Kita bisa melihat semua itu bersama-sama, tetapi mustahil memahaminya semua sekaligus. Sang Wanita adalah pemain teater keliling yang menggoda, jerat itu mengenai seorang remaja. Ada tiga cerita legenda yang dijadikan acuan, dijadikan kutipan pembuka, saya ketik ulang.

1) Oedipus, pembunuh ayahnya, suami ibunya, Oedipus, penafsif teka-teki Spinx! Apa gerangan makna rangkaian misterius ulah takdir bagi kita? Ada keyakinan primitif yang populer, terutama di Persia, bahwa seorang penganut Magi yang bijaksana hanya lahir dari hasil inses. – Nietzsche, Lahirnya Tragedi.

2) Oedipus: Di mana letak kejahatan lama ini harus ditemukan? – Sophocles, Oedipus Sang Raja.

3) Sebagai putra tanpa ayah, seorang ayah tanpa putra pun akan sebatang kara. – Ferdowsi, Shahnameh.

Novel dipecah dalam tiga buku. Pertama bagian Cem, remaja yang menjadi asisten penggali sumur yang bercita menjadi penulis. Menemukan cinta, terperosok hubungan badan dengan Wanita Berambut Merah lalu masalah menggantung. Kedua tentang perjuangan Cem meraih mimpi, obsesinya jadi pencerita dan kehidupan rumah tangganya, diakhirnya dengan tragedi pula. Buku ketiga mengambil sudut Wanita Berambut Merah, menjelaskan segala yang tak tampak.

Wow. Just wow. Inilah novel penutup dalam rangkaian Harbolnas yang kubeli di Mizan Store, berakhir dengan menakjubkan. Sempurna. Ini adalah buku pertama Orhan Pamuk, Pemenang Nobel Sastra 2006 yang kubaca. Luar biasa memuaskan. Penuturannya runut, nyaman, kejutan disimpan untuk dipukulkan dengan waktu yang tepat. Novel ini proses nulis dan terbitnya pasca beliau meraih penghargaan. Sungguh nikmat tiap lembarnya. Hikayat Wanita Berambut Merah dalam teater yang menggoda jiwa muda, si remaja tumbuh kembang dalam pikiran bersalah, tapi terasa samar, dan impian miliki putra yang berakhir tragedi. Sejalan dengan waktu aku bertanya-tanya apakah dia menyadari, entah bagaimana, bahwa ‘kedewasaan’ baru yang dilihatnya pada diriku sebenarnya noda hitam pada jiwaku. Bagaimana sejatinya kehidupan bisa memukul balik, seolah ini adalah versi modern kisah Oedipus. Novel harus masuk akal seperti kisah nyata dan terasa tidak asing seperti mitos. Raja Oedipus sendiri memimpin pencarian layaknya seorang detektif, tanpa menyadari dirinya sendirilah si pembunuh.

Pemuda 16 tahun yang sebentar lagi lulus sekolah, Cem menjadi asisten penggali sumur di daerah perbukitan dekat Kota Orgoren. Awalnya ibu keberatan tapi niat untuk mendapat uang tambah biaya les itu menjadi pengalaman pertamanya jauh dari rumah. Ayahku Akin Celik kabur, dipenjara dan menikah dengan perempuan lain, seorang pria berprinsip kiri yang memiliki apotek dinamai Hayat, seperti ‘kehidupan’ bukan Celik sebagai ‘baja’. Orang-orang kiri hanya peduli pada prinsip, bukan penampilan. Maka ibunya membesarkan sendiri dengan cinta dan perjuangan. Menurut ayahku, kebahagiaan terbesar adalah menikah dengan gadis yang menemaimu membaca buku-buku dalam usaha penuh gairah dan cita-cita berdua.

Tuan Mahmut adalah penggali sumur, turunan profesi dari ayahnya. “Percayalah pada gurumu, patuhi aku dan serahkan segalanya padaku.” Dia telah menggali lebih dari seratus lima puluh sumur nyaris selama tiga puluh tahun, kini usianya 43 tahun sama seperti ayahku tapi ia tidak menikah. Dengan bos Hayri Bey yang sesekali datang melihat progress, dibantu dua asisten, saya dan Ali, menggali sumur dengan cara tradisional, dengan cangkul, beliung, sekop dan lain-lain guna menghajar tanah, ember yang diangkat ke atas dengan kerekan, tanah yang diangkut ke truk, tanah digali sedalam mungkin hingga tujuan tercapai. Namun setelah hampir sebulan berkutat, air tak segera menampakkan diri. Kekhawatiran mulai menyeruak, dan mereka meragu. Air dapat muncul dari tanah pada saat-saat yang paling tidak disangka, membuat kita terkaget-kaget. Tuhan sendiri akan turun tangan dengan menyemprotkan air ke wajah penggali sumur yang gigih. “Jalur bumi itu bisa berubah ketika kau paling tidak mengharapkannya. Aku ingin tetap meneruskan penggalian di sini.”

Ali ditarik, sisa hari tak dibayar hingga kalau air benar-benar mencuat, kini tinggal mereka berdua. Nyerah atau terus berjuang? 15 meter itu dalam sekali, ketika kamu di dasar dan melihat ke atas hanya lubang kecil cahaya yang nampak, tampak menakutan bukan? Malam-malam jelang tidur mereka sering saling berdongeng. “Aku dulu takut sama cerita Tuan Mahmut, karena selalu berakhir dengan kenyataan.” Lalu di sela makan malam, mereka ke kota untuk menikmati rokok, raki dan suasana kota, di Warung Kopi Rumelia. Ada teater keliling Teater Hikayat Teladan, di sanalah Cem jatuh hati dengan seorang aktris panggung, sang Primadona Wanita Berambut Merah yang akhirnya merasakan pengalaman pertama tidur dengannya. Seakan-akan tatapannya yang lembut, ramah, dan menggoda dapat mengungkapkan betapa dunia bisa menjadi begitu menakjubkan.

Gelas-gelas raki dan botol-botol bir mencipta mabuk. Usia 16 tahun yang menggebu dalam lingkar cinta dan nafsu. Aku jatuh cinta begitu dalam kepadanya dan perasaan itu, bersama raki yang kuminum, membuatku mampu mengikuti sepenuhnya apa yang terjadi di panggung. Malam itu aku benar-benar mengerti bahwa aku akan menjadi penulis. Yang harus kita lakukan hanyalah melihat dan mengetahui, memahami apa yang kita lihat, dan mengungkapkannya dengan kata-kata. Aku harus berterima kasih kepada Wanita Berambut Merah. Segala sesuatu di alam raya dan dalam pikiranku bersatu untuk meraih tujuan yang sama. Dunia teater sudah mengajarkan kepadaku bahwa untuk tidak menganggap apa pun dalam kehidupan ini sebagai kebetulan belaka. Aku memikirkan Wanita Berambut Merah, menjadi menulis drama, pulang, atau bertemu dengan teman-temanku di Besiktas. Gairahku yang tak dipersiapkan, lakon di panggung, raki yang telah kuminum semuanya berkomplot membuatku kehilangan kesadaran bahwa ini masa sekarang.

Hatiku hancur dan aku sangat marah, seakan-akan dihianati. Naas, esoknya terjadi tragedi. Cem yang lelah dan mengantuk tak sengaja menjatuhkan ember berisi tanah ke sumur dengan Tuan Mahmut yang mengerang di dasar. Logikanya, ia segera mencari bantuan, tapi gugup dan kepengecutannya malah mencipta ia kabur pulang ke rumah demi pelukan hangat ibunya. Dari perjalananku pulang dari kota, aku melihat bintang-bintang di langit yang tak terhitung jumlahnya dan sekali lagi membayangkan aku harus menjadi penulis.

Gulir waktu, Cem yang ingin menjadi penulis malah kuliah di Geologi tanah. Lulus dan menikah dengan Ayse yang berambut warna cokelat muda, gadis cantik dari Gordes. Aku kini menjalani kehidupan terhormat seperti yang diharapkan ayah dariku, tetapi aku juga marah padanya. Menata hidup, menjalani hari-hari senormal pasangan muda lainnya dengan impian dan barisan harap masa depan. Singkatnya mereka sukses secara ekonomi, memiliki Perusahaan Sohrab di bidang properti, mengakusisi dan melebarkan sayapnya. Namun hari-hari dalam tanya nasib Tuan Mahmut selalu menempel di pojok pikirannya. Dan mereka menginjak usia jelang paruh baya tanpa anak, setelah berjuang segala cara, tetap gagal.

Maka suatu ketika ada yang mengaku sebagai putra Cem, terguncanglah. Penyelidikan, tes DNA, maju ke pengadilan atau ‘damai’ sampai akhirnya Cem kembali mengenang ke sumur galinya setelah tiga puluh tahun, bertemu Wanita Beerambut Merah dan aktor didikannya. Inilah kisah modern Oedipus yang sukses mengintimidasi. Hukum Turki tidak mengakui surat wasiat, anak lelaki otomatis akan mewarisi dua pertiga harta.

Aku merasakan desakan kuat untuk mengetahui lebih banyak, tetapi aku ngeri dengan apa yang mungkin akan kutemukan. Sigmund Freud berteori bahwa setiap pria memendam keinginan untuk membunuh ayahnya sendiri. Hal ini juga menjadi bahan dasar dalam eksekusi di buku tiga. Enver Yenier (akuntan pribadi) yang jadi identitas sang anak, tampak samar memang sedari mula. Lambat laun aku juga memahami bahwa apa yang terjadi di sumur itu akan selalu menghalangiku dari kegembiraan hidup biasa. Aku terus mengatakan kepada diriku sendiri. Yang terbaik adalah bersikap seakan-akan tidak terjadi apapun. Kita sudah di era digital. Surat, email atau bahkan komunikasi handphone tak menampilkan rupa. “Ayah harus adil. Ayah yang tidak adil akan membutakan anaknya.

Pengalaman selama sebulan sebagai asisten penggali sumur itu menjadi semacam kenangan indah saat melakukan invasi properti, bagi orang umum. Mengapa aku memikirkan hal-hal yang sama berulang-ulang. Romansa akan meracuni dan berakhir dengan kesedihan pada semua yang terlibat. Nasehat Tuan Mahmut. “Kau akan menjadi orang besar, suatu hari nanti. Aku bisa merasakan.” Memang menjadi pecut mewujudkan cita-cita, walau diakhiri dengan buruk, sang guru seolah adalah ayah bagiku yang merindu sosoknya.

Generasi sekarang, penduduk Ongoren akan mengaku termasuk penduduk Istanbul. “Apa ada di antara kita di sini yang pernah mendengar tentang Orgoren?” Mirip dengan orang-orang Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Sragen, Karanganyar, Boyolali yang mengaku orang Solo. Ga salah juga, karena sejatinya itu adalah wilayah karisidenan Surakarta, buktinya plat di semua kabupaten itu menggunakan AD.

Penggali sumur diibaratkan pembabat alas, mencipta sumber air yang lalu berduyun mengundang warga membeli properti di sekelilingnya. Apakah itu aneh? Jika kita saling menyukai sesuatu, sesuatu yang berharga tetapi kemudian meninggalkannya di sumur lalu melupakannya, apa artinya? “Di mana ada peradaban, di mana ada kota dan desa, pasti ada sumur. Tidak mungkin ada peradaban tanpa sumur, dan tidak ada sumur tanpa ada penggali sumur.”

Dunia itu indah dan aku ingin dunia batinku juga indah. Agama adalah tempat berlindung dan pelipur bagi yang lembek. Semoga kehidupan bermurah hati pada anakku tersayang. “Jika kehendak Tuhan berlaku, bagaimanapun. Tak seorang pun bisa terbebas dari takdirnya.”

Dan dengan demikian memenuhi kehendak ilahi.

The Red-Haired Woman | by Orhan Pamuk | Judul asli Kirmizi Sach Kadin | Diterjemahkan dari The Red-Haired Woman | Terbitan Alfred A. Knopf, New York, 2017 | Penerjemah Rahmani Astuti | Penyunting Rini Nurul Badariah & Dhewiberta | Perancang sampul Fahmi Ilmansyah & Febrian | Pemeriksa aksara Pritameani & Rini Nura | Penata aksara Rio & Petrus Sonny | Copuright 2016 | Penerbit Bentang | Cetakan Pertama, Februari 2018 | viii + 344 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-602-291-449-5 | Skor: 5/5

Untuk Asli

Karawang, 310120 – Celine Dion – How I Live

Daftar Harbolnas Mizan done. Sembilan dari sembilan buku. Yey, sesuai rencana baca-ulas sampai akhir bulan ini selesai semua. Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – Ziarah – The Red-Haired Woman – A Fair Lady & A Fine Gentlement Semoga program harbonas berikutnya bisa ikuti dan semenenangkan ini. Thx. Xoxo

Perburuan Kesenangan dan Perebutan Cinta di tengah Adu Banteng

Fiesta by Ernest Hemingway

Tak seorang pun benar-benar menikmati hidupnya, kecuali sang matador.”

Aficio berarti kegemaran. Seorang aficionado berarti seorang yang memiliki kegemaran terhadap pertandingan banteng. Penulis yang satu ini memang terkenal dengan kalimat langsung dan penggunaan kata yang efektif, tak bertele-tele. Di sini melimpah ruah. Fiesta dibagi dalam tiga buku, yang pertama keseharian di Prancis dan perjalanan menuju liburan ke Spanyol. “Tidak, saya tidak suka Paris. Bekerjalah untuk kebaikan orang lain.” Kota ini penuh orang, di sini mahal dan kotor. Kedua, sejatinya adalah inti cerita yaitu seluruh detail fiesta dan drama di setiap sisinya. “Bukankah kita menanggung akibat dari semua yang kita lakukan?” Dan buku penutup adalah masalah terkait keputusan-keputusan dari buku dua, bagaimana hubungan yang dekat, sekalipun bertengkar dan masalah pelik akhirnya kembali lagi. “Aku selalu menepati janji. Tak ada orang yang begitu sekarang.” Fiesta menyajikan drama umum, seumum orang pacaran, hobi mancing, mabuk tiap ngumpul sama teman, semacam itulah sehingga benar-benar dekat dan tampak nyata. “Sesuatu yang kita miliki sebagai pengganti Tuhan.”

Kisahnya mengambil sudut pandang orang pertama Jake, seorang jurnalis Amerika yang bertugas di Paris. “Aku tidak dapat tenang tinggal di pinggir kota. Bahkan meskipun itu dengan cinta sejatiku sendiri.” Berteman dengan Robert Cohn, penulis yang jago tinju. Aku ingin menghantam salah seorang di antara mereka, siapa pun itu, atau apa pun untuk membungkam lagak mereka yang sok hebat dan meremehkan. Seorang temperamental. Pembukanya memberi latar bagaimana Cohn terbentuk sifatnya itu. Dan ia benar-benar keras kepala, khas Yahudi. Ada buku The Purple Land karya W.H. Hudson disinggung lalu A Sportman’s Sketches karya Turgenieff, dua sahabat ini sering debat seru masalah literasi. Dirinya cukup menarik bagi kaum wanita, dan menyadari bahwa ketika seorang wanita memperhatikannya dan ingin hidup bersamanya, itu bukanlah suatu keajaiban.

Rasanya selalu menyenangkan menyeberangi jembatan-jembatan di Paris. Lalu ada si cantik Lady Brett Ashley yang menjadi pemicu banyak hal dalam kisah, wanita aristokrat yang mandiri tapi liar. Wanita cantik yang dekat dengan banyak pria, sekalipun ia bertunangan dengan Mike yang hobinya mabuk berat sehingga nalar ga nyambung sama realita, ketika ada kejadian pelik ia sering linglung. Sampah, lebih tepat. Masalahnya ia berduit jadi Brett sulit juga menjauh. Brett dengan jelas sekali begitu intim dengan Jake. Naik taksi muter-muter ga jelas hanya untuk ngobrol agar tak diketahui orang lain. Sekumpulan sahabat, saling silang asmaranya. Aneh bukan? “Sudah banyak hal yang kukhawatirkan, aku bosan khawatir.”

Aku merasa seperti mimpi buruk dari sesuatu yang berulang, sesuatu yang pernah kualami, dan sekarang aku harus mengalaminya lagi. Karakter berikutnya adalah Bill, menemani mancing di Spanyol. “Makin cepat kita sampai sungai makin baik. Kita akan memancing ikan trout. Kita akan memancing ikan trout di sungai Irati…” Mancing dengan kenyamanan, kesabaran, nyeni. Bab mancing ada dalam satu bab panjang, penuh dan detail menyenangkan. Saya justru suka sama karaketr Bill ini, kalem, menjadi side-kick yang asyik. Mana diantara tamu-tamuku yang dibesarkan dengan baik, mana yang berasal dari keluarga baik-baik, yang yang suka olahraga. Mereka yang tidak masuk dalam tiga kategori ituakan sangat mungkin untuk mendapatkan jawaban bahwa tidak ada orang di tempat tuan Barnes.

Aku senang menghisap cerutu yang benar-benar berasap, sebagian rokok yang kita hisap tidak berasap.” Mereka menampilkan keseharian umum. Sarapan, ngopi, kerja, makan siang, pulang lalu pesta di malam hari dengan limpahan anggur. Dari satu kafe ke kafe lain, dari satu hotel ke penginapan lain, “Tidak peduli betapa buruknya hotel, tempat minumnya selalu menyenangkan.” Dari satu sudut ke pojokan lain. Setelah mengenal banyak sifat, kita diajak berlibur ke Pamplona, Spanyol. Melewati pemeriksaan paspor, mancing di sungai Irati yang aduhai, buku karya A.E.W. Mason sebagai teman memancing, dibaca di kala istirahat di pinggir danau dan makan siang dan seteguk dua teguk minuman segar, membayangkan saja sudah sangat nikmat. Jadi ingat masa remaja yang hobi nongkrong di pinggir sungai. Dan akhirnya ke inti novel ini, menikmati adu banteng di San Fermin. Acara fiesta yang spesial. Setelah kematian Joselito, semua pemain adu-banteng mengembangkan teknik simulasi berbahaya ini untuk menimbulkan perasaan emosi semu, sementara pemain adu-bantengnya sendiri aman. Salah satu matador muda yang rupawan Romero, lalu turut membelit dalam hubungan pertemanan, mencipta kasih dengan Lady Ashley yang jatuh hati, mereka lalu kencan, membuat marah sang pengagum Cohn dan putus dengan tunanganannya, hingga baku hantam terjadi. “Kekasihku yang malang.”

Romero harus tampil esok, dengan luka lembab? Oh drama percintaan memang tak bisa dilogika, dengan bunga elok Lady Ashley, para lelaki ini menggila. Kepada siapa cintanya berlabuh? Apakah fiesta kali ini sampai menjatuhkan korban jiwa? Fiesta adalah novel dengan banyak sekali tampilan ngegoliam, kalimat-kalimat langsung disaling silang dengan banyak bumbu seni berkomunikasi. Saya ga bisa bayangkan adaptasi filmnya, apakah menjadi snob dengan tumpukan adegan ngobrol di atas meja. Mudah sekali untuk tegar menghadapi segala sesuatu pada siang hari, tetapi pada malam hari segalanya berbeda. “Anda tampak begitu mengesankan kalau jengkel, kalau saja aku juga bisa begitu.”

Dia orang Kanada dan sangat ramah seperti orang Kanada pada umumnya. Aloysius. Itu nama Katolik yang bagus. Ada adegan unik saat Jake berkenalan dengan wanita asing menjaja cinta, ia jawab ngasal ketika ditanya nama. “Jacob.” / “Itu nama Belgia.” / “Baguslah, aku benci orang Belgia.” Hahaha… memang harus gitu ya kalau sama orang asing. Dingin sekaligus komikal. “Anggur ini terlalu enak untuk dipakai bersulang, Sayangku. Jangan mencampur emosi dengan anggur seperti itu. kau akan kehilangan kenikmatannya.”

Sayang, sangat tenang dan sehat. Salam sayang buat semua teman. Brett.” Telegram juga jadi alat komunikasi efektif sepanjang halaman. Adegan manis di penutup itu… Begitulah, biarkan gadis itu pergi dengan seorang pria, perkenalkan dia dengan pria lain utnuk pergi bersama. Sekarang pergi dan jemput gadis itu kembali, dan tutup telegram dengan ucapan cinta. ‘Lady Ashley Hotel Montana Madrid Tiba Sud Express Besok Love Jake’

Pesan moralnya mungkin adalah, jangan membuat skandal dengan cewek-cewekmu. Usahakan jangan. Karena tidak ada skandal tanpa tangis. Wanita setegar itu, ketika dalam pelukan, akan terasa rapuh. Cohn sendiri tampak kasar, sudah sedari mula sekali suka baku hantam, maka tak heran ia menjadikan otot sebagai penyelesaian. “Jangan bicara macam orang tolol.” Ini memang tentang kesenangan. Hobi. Dari ngopi, minum anggur, mancing, menikmati festival adu banteng sampai permainan asmara. Yang terakhir ini, memberi konsekuensi pertarungan antar teman, cemburu memang sebuah alasan klasik tapi sejatinya wajar, yang sayangnya di sini salah ditempatkan.

Buku ini aslinya berjudul The Sun Also Rises ketika pertama terbit, di Eropa berubah judul Fiesta, terjemahan Indonesia sendiri minimal ada tiga jenis yang pernah kupegang. “Kupikir kita yang hidup dengan pedang akan celaka karena pedang pula. Kalimat begitu cukup mengandung nilai sastra bukan?” Pertama terbitan Liris, kedua Indoliterasi, keduanya berjudul asli, dan ketiga ini, terbitan Bentang yang memilih judul Eropa. Makanya beberapa saat sebelum selesai baca, saya tanya salah satu orang Bentang yang ada di identitas buku, dan mendapat penjelasan detailnya. Untung dulu ga jadi beli, jadi saya dapat terjemahan Bentang yang sejauh ini kualitas adalah jaminan.

Prancis negara paling nyaman untuk ditinggali. Tidak ada orang yang membuat segalanya menjadi rumit dengan menjadi temanmu tanpa alasan jelas. Sebotol anggur adalah teman yang baik. Fiesta berlangsung siang malam selama tujuh hari. Mereka terus menari, terus minum, dan keramaiannya terus berlangsung, semua kejadian ini hanya dapat terjadi selama fiesta. Makanan harganya digandakan selama fiesta. Perang itu sesungguhnya bencana besar bagi perabadan dan barangkali akan lebih baik jika dihindari. “Ariba! Ariba! Angkat!”

Setelah menutup bukunya apa yang dirasa? Yah, fiesta yang hebat. Kau tak akan percaya, rasanya seperti mimpi buruk yang menyenangkan. Masa muda, masa perburuan kesenangan dan perebutan cinta di tengah adu banteng. Aku berlutut dan mulai berdoa, untuk semua orang yang terlintas di benakku. “Jake, Budapest sangat mengagumkan.”

Saatnya kembali berpetualang!

Fiesta | By Ernest Hemingway | Diterjemahkan dari Fiesta | Pernah diterbitkan dengan judul yang sama tahun 2005 | Penerjemah Rahmani | Penyunting Rh Widada & Rika Iffati Farihah | Perancang sampul Fahmi Ilmansyah | Pemeriksa aksara Achmad Muchtar & Rama Nugraha | Pemeriksa aksara Martin Buczer | Penerbit Bentang Pustaka | iv + 332 hlm.; 20,5 cm | ISBN 978-602-291-428-0 | Skor: 4/5

Karawang, 300120 – Miley Cyrus – We Can’t Stop

Daftar Harbolnas Mizan. Delapan sudah baca ulas, Satu Lagi! Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – ZiarahThe Red-Haired WomanA Fair Lady & A Fine Gentlement

Veuve Cliquot

Peristiwa Rafillus Telah Mati Dua Kali

Rafilus by Budi Darma

Demi udara yang saya isap, tanah yang saya pijak, ruang yang saya tempati, dan setan, peri, dedemit, serta segala macam makhluk baik yang tampak maupun tidak, saya berjanji dan sekaligus bersumpah, bahwa cinta saya kepada sampean adalah cinta terakhir...”

Kutipan pembuka buku ini saya tulis ulang, karena juga jadi kunci latar belakang sang karakter utama. ‘Kaum musyik: “Apakah kalau sudah menjadi tulang belulang dan hancur lebur, kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?” Tuhan menjawab dengan tegas: “Ya, kamu akan menjadi batu hidup atau besi hidup.”’ (QS Al-Isra, 40-50)

Andai kata takdir mengenal keadilan dan juga timbang rasa terhadap kebaikan, kebajikan, dan amal manusia, maka takdir dapat diperdebatkan. Saya ingin lepas landas dan mengibakan takdir saya. Takdir adalah takdir. Dan takdir tahu apa yang dihendakinya, karena itu dia tidak suka mengadakan tawar-menawar. Novel yang unik. Pusat cerita adalah Rafilus, orang aneh dengan perawakan besar dan kuat laiknya besi hidup. Tidak jarang saya merasa seperti patung besi yang kebetulan dapat bertindak dan berteriak. Namun sudut pandang adalah Tiwar yang bercerita ulang. Dia menjadi saksi perubahan desanya pasca merdeka tahun 1950an sampai novel ini terbit tahun 1980an. Ini kisah yang membelenggu dengan plot yang tak banyak riak, endingnya adalah kalimat pembuka, dan kalimat pembuka itu saya nukil jadi judul ulasan ini, jadi jelas ini bukan spoiler.

Ketidaktahuan adalah siksaan, dan siksaan adalah obsesi. Setelah dibuka dengan exordium tentang sejarah Kuda Troya yang terkenal itu. Kita diajak ke Yogyakarta, tentang arti pahlawan. Seorang tukang jaga kantor yang kerjanya monoton, sapa, hormat, senyum. Tampak sederhana, waktu tampak membosankan, lalu dengan santuy sang Penulis bilang bahwa tempo novel ini lambat. Jadi bersiaplah! Peringatan semacam itulah, sebab ini cerita pengakuan. Namun kisah bukan di DIY, hikayat ini di Jawa Timur.

Nama-nama tokohnya memang aneh dan unik, begitu juga tingkahnya. Dia tidak mempunyai hak untuk mempertanyakan mengapa orang-orang yang bekerja keras tetap merangkak, dan mengapa orang-orang yang tidak mempunyai otak justru dapat mengatur hidupnya sesuai selera. Dari awal sekali kita diperkenalkan dengan Jumarup, seorang kaya raya, kalangan jetset yang mengundang banyak tamu guna jamuan makan, tanpa memunculkan batang hidungnya saat pesta. Jadi para tamu membaur, makan dan saling kenalan. Para pramusaji juga ga tahu wajah si Jumarup ini. Dari sini saja kita dah mengernyitkan dahi. Karakter nyentrik gini perasaan pernah baca, atau lihat di film. Dari mula inilah Tiwar berkenalan dengan Rafilus, yang sama-sama tamu, pulangnya nebeng, dengan perjalanan mobil dan melewati jalur berbahaya kala malam hari. Berbahaya di sini adalah, jalan yang sepi dan malam hari sering ada begal menghadang. Dalam perjalanan inilah kita tahu riyawat sang karakter utama. Bagaimana ia tumbuh dalam kerasnya rumah panti asuhan.

Hikayat Gandari yang melahirkan Kurawa diambil untuk konotasi wanita yang suka digarap, suaminya buta, maka di sini Rafilus jatuh hati. Rafilus tinggal di Margorejo sedang sang Saya tinggal di Ketintang Wiyata, cukup jauh, di antaranya ada Jl Ahmad Yani dan rel melintang jalur Surabaya-Malang-Jember. Saya harus sampaikan ini karena jalur inilah yang menjadi algojo akhir novel ini. Obsesi pun bukan hasil, melainkan proses. Begitu obsesi mencapai titik kulminasi, segera sekian banyak pikiran yang tidak lepas dari obsesi itu sendiri segera berkelebatan.

Karakter aneh lainnya adalah seorang tukang surat Munandir, menuturkan pengalamannya tentang surat yang datang dan pergi di rumah Rafilus. Otak untuk berpikir dan bukan sekadar bagian kepala. Betapa anehnya ia. Setelah mendengar banyak hal, ia sendiri lalu menyampaikan latar hidupnya, keluarga sederhana dengan lima anak lelaki, seolah keluarga Pandawa. Anak adalah titipan Tuhan, berkah yang wajib disyukuri, pelengkap hidup, menemani hari tua. Dari mulut sang opas pos juga kita tahu riwayat singkat Rafilus lagi lebih detail, tapi karena sejarah hidupnya saja kabur, entah kebenaran ceritanya juga meragu. Munandir memang hobi ngoceh, Van der Klooning dan seluk beluk kehidupan pribadinya, termasuk ibunya, Raminten. Dalam kedunguan dan kekerdilannya, kadang-kadang dia membayangkan dirinya sebagai pemikir agung.

Bagaimana Tiwar menjalin kasih Pawestri terlihat sungguh menggairahkan. Ini justru jadi bagian menakjubkan. Setelah kebetulan berkenalan di kantor surat kabar karena bejan hadiah candid photo. Ga butuh waktu lama, mereka jadian. Pendidikan dan cara pandang hidup memang mempengaruhi banyak keputusan. Sang Saya yang menuturkan kisah ini, sementara Pawestri adalah seorang pekerja kantor yang keseharian di valuta asing. Ia memutuskan menerima cinta Tiwar karena memang jatuh hati pada pandangan pertama. Andai kata saya ditanya mengapa saya tertarik kepadanya, saya tidak dapat menjawab. Benar-benar saya tidak dapat. Saya tertarik karena saya tertarik, begitulah. Keanehan muncul, ketika sang gadis mendengar tuturan cerita tentang Rafilus, obsesinya untuk tidur dengan manusia besi inilah nantinya menjadi jalan eksekusi akhir yang absurd. “Rafillus mati dua kali.”

Karena setting waktu pasca merdeka, keterbatasan komunikasi menjadi romansa sepanjang kisah. Telegram, surat, transpotasi terbatas, sampai adab hidup manusia Indonesia dari dan ke peralihan dua Orde. Terutama sekali surat, bagaimana sarana tulisan tangan menjelma budi kata yang panjang dan indah. Tiwar sendiri banyak mengambil dari surat untuk menggulirkan plot, selain cerita langsung beberapa karakter. Tak heran kita sering menemui kalimat, ‘Surat Pawestri masih banyak...’

Berikut pandangan hidupnya tentang cinta, yang saya nukil secara acak lalu saya satukan dalam satu paragraf pandang. Tentang kasihnya pada Tiwar. “… Ketulusan untuk menyenangkan anaknya tidak lain adalah jalan yang paling tepat baginya untuk menyenangkan diri sendiri. Saya siap untuk jatuh cinta kepada sembarangan laki-laki, bahkan kepada semua laki-laki sembarangan. Karena itu, pengertian cinta bagi saya kurang mempunyai makna. Begitu sampean menjadi suami saya, seluruh hidup saya benar-benar saya letakkan ke dalam genggaman tangan sampean. Saya juga akan menjelaskan mengapa rasa hormat saya kepada sampean jauh lebih tinggi daripada rasa hormat saya kepada langit, hujan, dan halilintar. Semua kata-kata sampean hebat, dan kehebatan kata adalah kehebatan gagasan. Bagi perempuan sehat dan tidak suka melanggar kodrat, kebahagiaan paling besar adalah memiliki anak. Kita bersatu padu, tapi kita musti jaga dan pelihara kita punya jarak.”

Betapa sulit dia mematut-matut dirinya supaya dia tampak pandai memperbudak kata. Buku The Prophet karya Khalil Gibran disinggung, tapi sepintas. Seolah memang Penulis ini jadi acuan sifat salah satu karakter. Saya sendiri baru membaca satu bukunya, buku cinta yang agung. Sebenarnya gerak Bambo menunjukkan bahwa sebenarnya manusia bukan penguasa dirinya sendiri. Peradaban telah mencincang manusia untuk mementingkan kesadaran, sementara kesadaran tidak lain kekuatan semu yang diciptakan manusia untuk menutupi kebohongan diri sendiri.

Hak adalah gabungan kecerdasan otak, ketekunan kerja, ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kesediaan menolong, dan ketidakcongkakan. Budha melepaskan hak-haknya bukan karena bosan akan hak-haknya, tapi memang karena dia tidak menyukai hak. Banyak rasa syukur disampaikan. Segala sesuatu yang telah dimilikinya dan akan dimilikinya, dianggapnya sebagai rahmat Tuhan dan karena itu dia mensyukurinya. Tuhan pasti mendengar keinginan kita, sebab keinginan kita bukan keinginan kata-kata, melainkan pengejawantahan berkelebatnya niat nurani dan mulia.

Ketahuilah, anak kecil sering tersenyum pada waktu tidur, dan saya menikmati senyum semua anak saya. Kata adalah pikiran, dan pikiran hanya dapat terwujud dalam bentuk kata-kata selain tindakan.

Novel ini memang tentang Rafilus, sang Saya (penulis) meminjam suara Tiwar justru adalah pengamat. Selain sang manusia besi, nama Pawestri sangat mendominasi, kehidupannya panjang sekali dikisahkan. Tentang keseharian, pandangan hidup, ideologi, sampai hal-hal yang sensitif disampaikan. Kesewenang-wenangan, ketidakberdayaan, dan keadilan adalah abstraksi-abstraksi dari sekian peristiwa. Dan akhir yang dramatis, yang secara langsung juga menegaskan, ini adalah sepenggal cerita seseorang yang pernah ada di Indonesia, yang datang, menghinggapi keadaan lalu ditelan waktu diganti generasi berikutnya, adalah KITA.

Biarlah dunia berlalu sebagaimana waktu menghendakinya.

Rafilus | by Budi Darma | Pertama kali terbit tahun 1988 oleh Penerbit Balai Pustaka, kemudian oleh Penerbit Jalasutra pada Mei 2008 | Copyright 1988 | Penyunting Teguh Afandi | Penyelaras aksara Nani | Penata aksara CDDC | PEwajah sampul iggrafix | Penerbit Noura (PT. Mizan Publika) | Cetakan ke-1, Mei 2017 | 386 hlm.; 13×20 cm | ISBN 978-602-385-229-1 | Skor: 4.5/5

Karawang, 290120 – The Corrs – Somebody for Someone

Daftar Harbolnas Mizan. Tujuh sudah, sembilan menuju. Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in BlackFiestaAgnes Grey – ZiarahThe Red-Haired WomanA Fair Lady & A Fine Gentlement

Kesendirian, Buku, dan Cuaca yang Menyenangkan

Agnes Grey by Anne Bronte

Tetapi bukankah bekerja dengan aktif bisa menjadi obat terbaik untuk mengatasi kesedihan dan penawar yang paling mujarab untuk keputusasaan?”

Doa yang dia baca seolah bukan bacaan sama sekali, tetapi doa yang diucapkan dengan jujur dan tulus dari hatinya sendiri. Buku klasik yang bagus banget. Detail yang disampaikan nyaman diikuti, konfliks-nya juga seru. Mengambil sudut pandang seorang pengasuh anak yang galau, tumbuh dari keluarga pendeta yang miskin harta kaya hati, berilmu sehingga memutuskan menjadi pengajar untuk anak-anak orang kaya. Kita bisa menemukan ribuan cara jujur untuk mendapatkan rezeki. Di usia mekar 19-24 tahun, jatuh hati kepada seorang pendeta setempat, dan perseteruan batin dengan anak didik, anak sulung yang genit, cantik, kaya. Sampai akhirnya waktu memberikan pilihan akhir, menjawab segala keraguan. Kelemahan utama justru pada eksekusi ending. Happily ever after, laiknya kisah Disney yang berhenti dengan gambaran bahagia selama-lama-lamanya. Ya ampun! Ternyata kenikmatan mengantisipasi sesuatu jauh melebihi kesenangan memilikinya. Itu sentimen yang baik. “Aku menyuruh juru masak untuk membeli ikan. Aku tidak menjelaskan jenis ikannya secara khusus.” Dia bahkan tidak tahu jenis ikan apa yang akan disajikan untuk makan malam! Mengaku memesan ikan, dan tidak mengatakan ikan apa yang dimaksud!

Keluarga Agnes Grey terdiri dari ayahnya Richard, seorang pendeta lokal yang hidup sederhana, ibunya yang keturunan ningrat, dan kakaknya Mary. Enam anak yang selamat melewati masa bayi dan kanak adalah dua. Kau tahu, tidak seorang pun dari kita yang sempurna – bahkan kata-kata kasar terucap dari bibir Musa. Mereka terlihat harmonis, ideal hidupnya dengan peluk kasih keluarga, dan begitu sederhana. Rumah pendeta kecil yang tenang dengan segala beranda yang ditumbuhi tanaman ivy, taman nyaman. Taman kanopi langit biru cerah yang megah. Kisahnya dibuka dengan latar kehidupan orang tua Agnes, bagaimana cinta menyatukan mereka. Ibunya sejatinya hidup dalam keluarga kaya raya, tapi demi cinta meninggalkan segalanya. Cinta, terlalu mirip dengan penderitaan. Kasih itu ‘sabar dan murah hati. Tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, menutupi segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.’ Ia dihapus dari daftar waris karena pernikahannya yang ditentang dengan pendeta miskin. Ibunya tegar dan tetap kukuh pada pendirian, maka hubungan kepada kakek-nenek Agnes hanya terhubung dari pihak ayah. Sikapnya perpaduan antara kebodohan sungguhan dan cemoohan yang dibuat-buat terhadap benda-benda di sekitarnya.

Suatu saat ayah Agnes mencoba bisnis dengan menjual tanah warisan yang tak seberapa untuk modal, tabungan terakhir dan kebulatan tekad, sayang bisnis itu kandas bersama kapal yang tenggelam. Keluarga ini terlilit utang bank, dan di usia mekar 19 tahun Agnes mengusulkan mencari kerja sebagai pengajar privat (di sini disebut pengasuh) kepada keluarga kaya. Sungguh, ini kebijakan terbaik – karena bersikap pasrah dan menurut adalah bagian yang ditanggung oleh pengasuh, sedangkan merundingkan kesenangan mereka menjadi hak para murid. Awalnya ditentang, Agnes imut itu akan merantau? Mengabdi pada orang asing tanpa pengawasan orang tua? Oh tidaaak… awalnya. Tapi memang keadaan mendesak, dan Agnes bertekad membantu perekonomian. Semangatnya, walaupun dihantam dengan keras tetapi tidak patah. Maka datanglah kesempatan pertama, ia mengasuh anak-anak keluarga Bloomfield, pertama kali pula ia akan mencipta jarak dengan kakak dan orang tuanya. “Keangkuhan yang berlebihan akan mengeraskan hati, memperbudak kemampuan, dan menyesatkan perasaan.”

Pengalaman pertamanya bekerja berlangsung kurang baik. Anak-anak keluarga Bloomfield yang sombong sulit dididik. Anak-anak usia sembilan atau sepuluh tahun yang begitu kacau dan tidak dapat dikendalikan seperti ini pada usia enam atau tujuh tahun, pastilah seorang maniak. Hobi menyiksa binatang. “Kau sepertinya lupa bahwa semua makhluk diciptakan untuk kenyamanan kita. Jika memang demikian. Kita tidak berhak menyiksa mereka demi kesenangan kita belaka.” Maka dari pengalaman ini, Agnes lalu mudik sembari mencari pekerjaan lagi, beberapa lowongan di koran tampak menarik “Dicari Pengasuh.” tapi gajinya tidak, ia pun akhirnya malah memasang iklan pengasuh, dengan kualifikasi yang dimiliki ia-pun menaruh nominal yang diminta. Moral yang hampir tiada cela, temperamen yang lembut dan ceria dan sifat ringan tangan adalah syarat yang paling penting. “Bakatmu tidak sama seperti yang dimiliki setiap putri pendeta miskin, Agnes. Dan kau tidak boleh menyia-nyiakannya begitu saja. Ingatlah, kau berjanji untuk bersabar. Tidak ada gunanya terburu-buru. Kau memiliki banyak waktu, dan akan memiliki banyak kesmepatan.” Tak butuh waktu lama, ia mendapat kesempatan di Mr. Murray di Horton Lodge, di desa O__ sekitar 120 kilometer dari rumah, wah jauh sekali dari rumah. Keluarga Murray mengirim jemputan dan perpisahan kembali terjadi. Beberapa patah kata yang untungnya atau sialnya terdengar saat lewat tadi merombak cara berpikirku dalam menghormatinya.

Keluarga ini memiliki empat anak, dua perempuan dua laki-laki. Si sulung Rosalie yang sudah remaja terlihat genit, Matilda yang jagoan sukanya berpetualang berkuda di alam liar dan berburu, sementara dua adik yang imut Charles dan John di sini jarang disentuh karena berikutnya kisah akan berkutat dengan Rosalie yang mekar dan mencari jodoh dan sesekali Matilda yang suka petualang. Kita secara alami cenderung menyukai apa yang mendatangkan kesenangan pada diri kita, dan apa yang lebih menyenangkan dibanding dengan wajah cantik. Selama jauh dari keluarga ia beberapa kali mengalami home-sick. “Aku dilanda kerinduan hebat pada bunga yang begitu akrab dan dapat mengingatkanku pada lembah-lembah yang dipenuhi pepohonan atau lereng bukit hijau di rumah.” Aku seolah melihat awan hitam berkumpul di sekitar perbukitan di tempat asalku, dan mendengarkan gumaman marah badai yang siap meledak, dan memusnahkan rumah kami.

Di sana Agnes berkenalan dengan pendeta Weston yang membuatnya jatuh hati. Kesopanan kecil yang tidak perlu, tetapi aku menerimanya juga karena takut membuatnya tersinggung. Aku tidak pura-pura untuk menilai karakter seorang pria hanya dengan melihat wajahnya sekilas. Kunjungan rutin ke warga menjalin asmara tak terucap, dari sini sejatinya kita tahu mereka akan bersatu. Aku sangat sibuk sehingga tidak bisa datang menengoknya, itu akan lebih mendekati kebenaran. Perkataanku yang tidak penting diingat dengan baik, dia memperhatikan dengan teliti ketika aku menghilang dari peredaran. Masalah apa yang dikemukakan hanya belitan benang, pada akhirnya akan terurai. Sayangnya, prediksi itu jitu sehingga tak mendapat daya kejut. Tentu saja, harapan akan terus melambung, yang nantinya akan diikuti kekecewaan. Harapanku tidak sepenuhnya hasil dari keinginan dan imajinasiku belaka.

Si sulung menikah dengan keluarga kaya, awalnya ia menolak kepala pendeta dengan telak, mencipta patah hati yang menyayat. Lalu kegenitan kepada Weston hanyalah bumbu karena memang Rosalie dipersiapkan untuk menjadi istri keluarga ningrat. Semoga roh yang baik hati berkenan membisikkan kata-kata itu di telinga Mr. Weston. Karena kau mengaguminya atas dasar kata seseorang. Dari surat-surat yang dikirim dari berbagai kota di luar negeri, ia tampak bahagia, walau tekanan mendera, maka ia curhat pada Agnes masalah kesepian dan beratnya tekanan menjadi istri di usia muda. Mengundangnya berkunjung sebagai teman, menginap beberapa hari. Aku tahu semua ini alasan palsu, tetapi aku tidak keberatan, dan tidak pernah menentang pernyataan tersebut.

Ketika akhirnya kabar buruk diterima Agnes, iapun memutuskan mudik selamanya. Menemani ibunya membuka kelas untuk umum, keadaan ibuku sebaik yang bisa diharapkan, sekolah sederhana di kota pinggir pantai. Kepulangannya mencipta konsekuensi, berpisah dengan Weston, Aku memikirkan tentang pria miskin dan satu dombanya, dan pria kaya dengan ribuan domba, dan aku mengkhawatirkan Mr Weston untuk sesuatu yang tidak kuketahui, terlepas dari harapanku sendiri yang musnah. Memulai usaha sendiri dengan resiko lebih besar. Surat dari kakek dari pihak ibu muncul, dengan tawaran menggiurkan. Ibunya akan kembali dicantumkan di daftar waris andai mengakui kesalahan pilihan hidup, tapi dengan tegas menolak. “Aku bersyukur memiliki putri-putri yang bisa kudidik sendiri, aku tidak akan melupakan pencapaianku. Jika Tuhan mengizinkan aku akan berusaha untuk tidak berkeluh kesah.” Ia terlampau bahagia untuk keluarga kecil ini. Tegas, tanpa kompromi. Uang bukan segalanya, hati yang bersih dengan luapan cinta dari orang terkasih tak tergantikan. Selama Tuhan memberinya kesehatan dan kekuatan, dia akan menggunakan keduanya untuk menopang kehidupannya sendiri. Lalu bagaimana pilihan hidup Agnes? Dengan perasaan sedih yang aneh, berbaur dengan sensasi baru yang kuat, yang timbul dari pekerjaan baruku.

Kisah Agnes Grey sungguh membumi. Kalimat-kalimatnya terasa realistis, terlihat sekali Anne Bronte menuturkan pengalaman pribadi, seperti ketika kembali dari liburan musim panas atau Natal, “Aku kembali ke pekerjaanku dengan semangat yang tidak pernah padam.” Kalimat ini jelas adalah ungkapan orang yang pernah mengalami jarak dengan keluarga. Atau, “Aku telah ditempa kesulitan dan dibimbing langsung oleh pengalaman, dan aku ingin sekali menebus kehormatanku yang hilang di mata mereka yang pendapatnya sangat berarti bagiku.” Seolah kalimat ini dikutip dari buku harian. Dampaknya ajaib, kata-kata yang kuucapkan sebagai basa-basi demi kesopanan, diterima sebagai pujian penuh sanjungan.

Lalu pengalaman dengan Rosalie, seorang kaya muda dan memiliki banyak kemungkinan, jelas itu dikutip dari kalimat orang dekat yang pernah ia asuh. “Andai aku bisa selalu muda, aku akan memilih untuk tetap lajang. Aku ingin bersenang-senang sepenuhnya, dan main mata dengan pria di seluruh dunia sampai aku mencapai titik untuk bisa dipanggil perawan tua.” Itu jawaban yang telah kuperkirakan, tetapi tetap saja membuatku terguncang. Dia kaya dan muda, dan orang seperti itu tidak dapat memahami dengan baik pikiran wanita tua miskin sepertiku. Masih sangat relevan untuk masa sekarang, mungkin juga untuk seabad yang akan datang. Hobi Agnes juga klik denganku, dimana buku adalah sahabat terbaik. Aku berjalan-jalan di taman, menikmati tiga kemewahan sekaligus; kesendirian, buku, dan cuaca yang menyenangkan. Aku menganggap belajar dengan sangat teliti dan terus menerus sebagai kegiatan yang membuang-buang waktu, dan mencederai pikiran sekaligus tubuh. Termasuk keenganan bersosial yang ga produktif. ‘Banyak orang berusaha masuk ke sana, dan mereka tidak mampu.’ Kata-kata seperti itu mematahkan semangatku.

Sepakat sekali ketika ia turut masuk ke semacam pesta, antara aktif berkata-kata atau pasif, serba salah. Kau mungkin sudah tahu bahwa kebahagiaan seperti ini bukan untukmu. “Tidak satu pun dari para wanita dan pria terhormat yang disebutkan terlebih dahulu memperhatikan kehadiranku, sungguh tidak menyenangkan berjalan di sebelah mereka dan bersikap seolah mendengarkan obrolan mereka atau berharap dianggap menjadi bagian dari mereka, sementara mereka berbicara seolah-olah aku tidak ada di sana.” Pernah merasakan hal itu, di mana kita terkucil di tengah keramaian. Cabut salah, bertahan lebih salah tingkah. Tidak ada yang lebih memuaskanku selain mengangkat tabir, yang menutupi matanya. Aku selalu kehilangan akal sehat saat terkejut. Aku harus pergi ke sana dengan wajah tenang dan tersenyum, dan tertawa dan omong kosong – ya, dan makan juga, jika memungkinkan seolah aku baru saja kembali dari jalan-jalan yang menyenangkan.

Apapun yang terjadi, terjadilah. Dia pantas mendapatkannya.” Bagaimana kisah cintanya juga laik diikuti, ga menggebu, kalem saja, tapi bergerak lurus selaras dan bersama. Sedangkan perasaanku, aku akan berusaha untuk menyimpannya sendiri, jika aku tidak dapat memusnahkannya. Benar-benar anggun, ga salah Agnes terlahir dari kombinasi orang tua yang ideal. Pendeta yang sederhana dan ibu yang penuh kasih, walau asmaranya ditentang tapi berprinsip kuat. Ga semua orang bisa mengambil keputusan seperti itu. Karena itu tidak penting, sungguh. Pria itu akan baik-baik saja, setelah menikah, seperti kata Mamma, bajingan yang bertobat akan menjadi suami baik.

Ketika kita diusik oleh kesedihan atau kecemasan, atau lama ditindas oleh emosi kuat apa pun, yang seharusnya kita simpan sendiri karena kita tidak bisa mendapatkan dan mencari simpati dari makhluk hidup lain. Mencoba menghibur diri tentang penampilan. Orang-orang bijaksana tidak pernah menginginkan kecantikan untuk mereka sendiri atau peduli pada kecantikan orang lain. Jika pikiran dikembangkan dan hati dipenuhi kebaikan, tidak ada yang peduli dengan penampilan luar.

Mereka yang berharap mendapat keberhasilan harus mengabdikan diri, baik jiwa dan raga, kepada panggilan jiwa mereka, dan jika mereka menyerah pada kemalasan atau kesenangan pribadi, mereka akan ditinggalkan jauh di belakang oleh pesaing yang lebih cerdas. Semua itu cukup penting sehingga aku mengalami sore yang penuh keceriaan, malam yang penuh mimpi indah, dan pagi penuh harapan.

Aku mendapat begitu banyak suka cita dengan memikirkannya dan jika aku menyimpan pemikiran itu untuk diriku sendiri, dan pemikiran itu tidak menyusahkan orang lain, apa salahnya? Akhir yang bahagia untuk orang-orang baik. Hufh… ga ada tragedi, ini adalah buku romantis dengan gula-gula di tiap lahapannya. Berada di dekatnya, mendengar suaranya saat bicara dan meras bahwa dia menganggapku cukup berarti untuk diajak bicara – mampu memahami dna menghargai percakapan itu mestinya – itu cukup.

Anne Bronte adalah anak bungsu keluarga Bronte, lahir di Inggris pada 17 Januari 1820. Kakaknya Charlotte Bronte (Jane Eyre) dan Emily Bronte (Wuthering Heights) cenderung romantis, Anne lebih realistis. Agnes Grey adalah catatan ia semasa menjadi pengajr privat.Emily meninggal tahun 1848, Anne setahun berselang pada usia dua puluh sembilan, diduga karena penyakit paru-paru. Agnes Grey merupakan debut yang terbit tahun 1847 dengan nama pena Actor Bell.

Sekali lagi saja, dan kemudian selamat tinggal impian hampa. Mulai saat ini pikiranku hanya boleh dipenuhi dengan kenyataan yang apa adanya, keras dan menyedihkan. Siapa orang yang menggantungkan harapannya pada dahan yang begitu rapuh? Kau tidak punya landasan untuk menumbuhkan harapan. “Cara terbaik untuk menyenangkan diri sendiri adalah melakukan apa yang benar dan tidak membenci siapa pun, tujuan agama bukanlah mengajari kita cara untuk mati, tetapi cara untuk hidup. Dan semakin cepat kau menjadi bijak dan baik semakin banyak kebahagiaan yang akan kau dapat. Jadilah kehendak-Mu, Bapa segala sesuatu mungkin bagi-Mu, jadilah kehendak-Mu.”

Agnes Grey | by Anne Bronte | Diterjemahkan dari Agnes Grey | Penerjemah Ayu Pujiastuti | Penyunting Dyah Agustine | Proofreader Enfira | Desain sampul A. M. Wantoro | Penerbit Qonita | Cetakan I, Desember 2016 | 296 h.; 20.5 cm | ISBN 978-602-402-050-7 | Skor: 5/5

Karawang, 190120 – 280120 – The Corrs – Radio (Acoustic)

Daftar Harbolnas Mizan. Enam sudah, sembilan menuju. Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – Ziarah – The Red-Haired Woman – A Fair Lady & A Fine Gentlement

Visi yang cerah berbaur dengan harapan. ‘vikaris yang layak.’ Aku akan berusaha untuk mewujudkan kesejahteraan orang-orang di sekelilingku, dan imbalan bagiku adalah akhirat.

Liar dan Membingungkan

Ziarah by Iwan Simatupang

“Saudara walikota boleh terka.”

Novel yang aneh, liar dan membingungkan. Kisahnya ga runut, ga nyaman diikuti. Semua karakter tanpa nama, hanya disebut profesinya: pelukis, opseter, walikota, wakil walikota, kolektor, kritikus, dst. Mereka membaur dalam hikayat kehidupan warga yang sejatinya umum, tapi dicipta hiperbolis. Bagaimana sebuah karya lukis bisa laku keras, kaya raya, snob, dan luar biasa beruntung yang bertubi. Contoh, koleksi lukisan kejual mahal, tapi sang seniman ga terlalu ambil pusing masalah uang, maka uangnya ditaruh di lotere pacuan kuda, menang, ditaruh lagi, menang, dst sampai kaya raya dengan hidup dari satu hotel ke hotel lain. Bukan sembarangan hotel, diperlakukan khusus dan ramah.
Namun tak serta merta bahagia. Hanya dengan satu paragraph, sang pelukis jatuh miskin, tinggal di gubuk di pantai dengan kesederhanaan akut. Uang seolah kucuran air, mudah datang sangat mudah pergi. Begitu juga jodoh, sang pelukis yang mau bunuh diri malah menemukan jodoh ketika terjun dari lantai atas gedung. Menikah tanpa tahu nama pasangan? Bukankah itu sudah terlampau aneh?
Sang polisi yang coba memperkarakan upaya bunuh diri yang karena dari pasal pidana termasuk juga pembunuhan. Begitu terus, dari awal sampai akhir. Poinnya adalah kehidupan sang pelukis yang tak mau melakukan ziarah ke makam istrinya, lalu sang opseter meminta ia melukis tembok pemakaman, bagian luar, lalu dari situ segalanya meliar tak terkendali.
Ngomongin filsafat, debat arti bunuh diri, surga-neraka adakah setelah kehidupan. Ironi pelukis yang kaya raya, bahwa lukisan itu untuk umat manusia masa depan, seolah ini adalah impian liar sang seniman, seperti Fyodor Doestovsky yang mencipta cerita judi, menang besar padahal kenyataannya ia melarat gara-gara judi. Ada di buku the Gambler. Ziarah semacam itu, impian liar yang hanya bisa dibuat di novel.
Kepada manusia-manusia dari jenis mereka, kerdil, dekil, pandir, bernaluri makan dan pakaian saja, tak lebih.
Maaf bagi suatu jiwa yang keburu gugur menjadi jiwa besar. Maaf bagi suatu pembalasan dendam yang tak kesampaian. Maaf bagi suatu dosa yang baru bakal jadi dosa.
Pamong praja yang baik tidak mempunyai pendapat, tidak mempunyai hati nurani.
Sebagai pegawai negeri, dia harus selalu memihak kepada yang umum, betapapun hambar dan remangnya segala apa yang bercap umum itu.
Kepegaian yang sudha berpuluh-puluh tahun itu telah membuat dari dirinya, tanpa semaunya sendiri, manusia susila. Sedang bunuh diri adalah tindak tak susila. Negara bahkan menganggap unuh diri sebagai juga pembunuhan biasa. Matinya adalah kematian rangkap dua.
Novel masa depan. Novel tanpa pahlawan, tanpa tema, tanpa moral.
Manusia yang mempertaruhkan dirinya sebagai nilai terakhir yang perlu diuji keampuhannya dalam satu keadaan baru.
Manusia dengan nam Ganda En (NN)
Mencocokan lotere dengan trekkingslijst.
Persis seperti oarng yang berpenyakit jiwa, yang masih sehat untuk mengetahui, bahwa ia sakit.
Adakah bahwa bumi tak berwarna apa-apa, maka dia tak pernah menangis sebelumnya? Tidak berwarna apa-apa, tidakkah itu sendiri itu warna?
“Pada mulanya, pada akhirnya.”
Karena neraka merupakan tempat penampungan abadi mereka sesudah bumi ini nanti, pastilah apa yang disebut neraka itu hanya merupakan nama yang lain saja bagi suatu bentuk kehidupan lain yang tak perlu ditakuti.
Pujian-pujian baginya, bagi karya-karyanya telah terpaksa menggunakan kata-kata dan idiom-idiom baru. Yang lama sudah tak cukup lagi untuk mencakup sebutan-sebutan bagi dirinya.
Makin kuat kita berbuat seolah tak tahu, makin tinggilah karya-karya kita.
Menantu hipotetis…, makhluk apa itu?
“Sudha terlambat, kata-kata yang pernah kita ucapakan, dapat kita tarik kembali. Tapi, bagaimana menarik kembali perasaan-perasaan yang pernah kita rasakan, tak pernah kita ucapkan.

Ziarah | by Iwan Simatupang | Copyright 1969 | Pernah diterbitkan pada tahun 1969 oleh Penerbit Djambatan, sudah cetak delapan kali | Penyunting Teguh Afandi | Penyelaras aksara Nuung Wiyati | Penata aksara TBD | Ilustrasi sampul aalvinxki | Penerbit Noura Books | Cetakan ke-1: September 2017 | 224 hlm.; 21 cm | ISBN 978-602-385-334-2 | Skor: 3.5/5

Kepada c grostect ini kupersembahkan sebagai ziarahku selalu padamu… | untuk CORRY yang dengan novel ini Aku ziarah terus-menerus

Karawang, 270120 – The Corrs – Looking in the Eyes of Love (Previously unreleased)

Daftar Harbolnas Mizan. Lima sudah, sembilan menuju. Lady Susan – Cannery Row – Rafillus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – Ziarah – The Red-Haired Woman – A Fair Lady & A Fine Gentlement

Kumpulan Kutipan Jane Austen

A Fair Lady & A Fine Gentleman by Jane Austen

Kadang menyembunyikan perasaan bisa merugikan. Jika seseorang menutupi rasa sukanya dia mungkin akan kehilangan kesempatan mendapatkan orang yang disukai.

Saya baru membaca karya Jane Austen satu, Lady Susan bulan lalu. Hebat, bagaimana surat-surat pribadi bernarasi, susah mencipta karya berdasar surat saja. Nama besarnya memang sering kali mendengungkan suara di kepala untuk segera menikmati, tapi kesempatan itu tak kunjung datang. Banyak faktor, salah satu tentu saja niat yang kuat, mengingat era sekarang yang dengan mudah membeli buku dari lintas kota, bahkan pulau, mungkin nantinya lintas negara. Belum pernah beli dari Inggris langsung, budget jadi kendala. Jadi ketika kunikmati kumpulan kutipan ini, saya belum baca satupun. Kubaca kilat, ga sampai satu jam langsung selesai di malam minggu (18-01-20), dini hari yang sepi, hanya ketenangan dan dingin malam yang menyelingkupi.

Buku dibagi dalam tiga cakupan: Cinta & Pernikahan, Keluarga & Persahabatan, dan Pelajaran Hidup. Kalimat-kalimatnya bagus, terutama bagian ketiga, mungkin karena tema pelajaran hidup lebih bebas, pastinya akan lebih bagus jika sudah membaca novelnya, tentu akan akan tahu kutipan ini ada di adegan apa. Seperti kalimat, “Kamu adalah Penyihir, Harry.” Kalau orang yang belum baca akan datar saja, sedang yang sudah membaca ‘Harry Potter dan Batu Bertuah’ akan langsung klik, oh itu kata-kata Hagrid ketika rahasia hidup sang protagonist diungkap. Nah di sini, saya menikmatinya sekadar lewat, dan membayangkan. Membayangkan saja belumlah cukup kawan.

Baiqlah… saya turut kutip saja sebagian yang menurutku bagus. Juaranya nomor sepuluh dong, yang sepakat boleh salto.

Cinta & Pernikahan

#1. Pemikiran seorang gadis memang hebat, dalam sekejap melompat dari kekaguman menuju cinta, dari cinta menuju pernikahan.

#2. Jangan pernah menikah tanpa cinta.

#3. Mengikat janji tanpa tahu apakah kelak bisa menikah adalah keputusan yang sangat berbahaya dan tidak bijaksana.

#4. Ketika sepasang kekaih telah berniat menikah kebulatan tekad sudah cukup untuk mewujudkannya.

#5. Ketika dua hati yang penuh cinta berjumpa dalam pernikahan itulah kehidupan yang bahagia.

#6. Pasangan yang telah menikah harus menjaga pikiran mereka jangan membayangkan kehidupan yang lebih baik bersama orang lain.

#7. Aku tak akan bisa bahagia bersama seseorang yang sama sekali tidak memiliki kesamaan selera denganku.

Keluarga & Persahabatan

#8. Kasih sayang saudara menjadi harta yang berharga ketika seseorang tidak memiliki apa-apa lagi.

#9. Hujan menghadirkan keinginan bagi siapa pun untuk membuka hati kepada seorang kawan.

Pelajaran Hidup

#10. Tidak ada hiburan yang lebih mengasyikkan daripada membaca! Buku tidak akan mungkin menimbulkan kebosanan. – Pride and Prejudice

#11. Manusia rentan terhadap keangkuhan. Hanya segelintir orang yang tidak merasa dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain, baik secara terang-terangan maupun diam-diam.

#12. Jarak tidak berarti apa-apa jika seseorang punya tekad.

#13. Perpustakaan adalah jaminan kesenangan dan ketenangan.

#14. Sering kali, kekerasan hati kita sendirilah yang menipu kita.

#15. Dibutuhkan keberanian besar untuk tampil di hadapan orang-orang asing.

#16. Jiwa yang iklas dan bersabar, serta nalar yang sehat bisa menghasilkan keteguhan.

#17. Jangan pernah meremehkan kemampuan sebuah surat yang ditulis dengan baik.

#18. Oh! Mengapa hal-hal yang menyenangkan cepat sekali berlalu?

#19. Manusia memang hanya bisa berencana, tapi bukan mereka yang menentukan segalanya.

#20. Tidak ada yang bisa menandingi kesibukan untuk menyingkirkan duka.

#21. Seseorang, baik itu lelaki atau wanita, yang tidak bisa menikmati sebuah novel yang bagus, pastilah kurang pintar.

Seperti ketika saya membaca kumpulan puisi, kurang bisa langsung klik. Beberapa bait akan kubaca ulang, untuk ‘masuk’ lebih dalam bahkan harus dengan suara nyaring dan lantang dan mikir, kalau bagus dan jleb akan meresap, sayangnya jarang bisa buku-buku kumpulan sajak memuaskanku. ‘Sangat disayangkan bahwa puisi justru paling membahayakan ketenangan batin orang-orang yang paling menikmati dan meresapi keindahannya.’

Membaca kumpulan kutipan juga gitu, agak sulit klik untuk benar-benar nyaman. Sekadar menikmati kutipan laiknya mendengar kutipan para motivator.

Buku ini lebih cocok untuk kolektor, kover keras, ada tali pembatas baca laiknya al kitab, kover yang catchy, edisi koleksi yang sedap dipandang ketika dipajang di rak, elok dibuka-buka lagi karena gambar-gambarnya bagus banget. Memanjakan mata, full colour dengan ilustrasi menawan. Suatu saat saya akan membacakan kutipan-kutipan di buku ini untuk rekaman, entah itu untuk youtube dan sejenis, untuk dibagikan di sosial media, untuk wawancara, untuk koleksi pribadi, atau sekadar fun bersama Hermione Budiyanto. ‘Aku belajar meredam keangkuhanku dan menyukuri kebahagiaan sekecil apa pun.’

Jane Austen adalah novelis Inggris kelahiran 1775 mengawali karier menulisnya dengan membuat puisi, cerita pendek, dan drama yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Keahliannya adalah menulis cerita dengan genre roman, yang diwarnai fakta tentang keadaan sosial pada masanya. Saya bisa memastikan, buku-buku beliau yang lain akan segera kunikmati. Bagaimana kalau dimulai dengan Emma? Novel yang paling sering kutimang-timang di toko buku, mari kuatkan tekad membawanya ke kasir. Semoga…

Penting untuk membaca puisi sedikit-sedikit saja sekali waktu, demi melindungi diri kita dari banjir emosi yang mencabik-cabik batin.”

Mari kita nikmati keheningan ini.

A Fair Lady & A Fine Gentleman | by Jane Austen | Diambil dari karya-karya Jane Austen: Sense and Sensibility; Pride and Prejudice; Manfield Park; Emma; Persuasion; dan Nothanger Abbey | Penerjemah Dyah Agustine | Proofreader I. D. Suta | Desain isi Wida Sartika | Desain sampul A. M. Wantoro | Sumber gambar http://www.shutterstock.com | Penerbit Qonita | Cetakan I, Maret 2016 | 144 hlm.; 20,5 cm | ISBN 978-602-402-019-4 | Skor: 2.5/5

Karawang, 250120 – Savage Garden – Truly Madly Deeply

Selamat Tahun Baru Imlek bagi teman-teman yang merayakan.

Gong Xi Fa Cai

Daftar Harbolnas Mizan. Empat sudah, sembilan menuju. Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – Ziarah – The Red-Haired Woman – A Fair Lady & A Fine Gentlement

Tanpa musik, hidup terasa hampa

Hantu Jennet Humfrye dan Kesumat Dalam Dirinya

The Woman in Black by Susan Hill

Ada banyak cerita dan kisah-kisah, ada banyak omong kosong.”

Akhirnya saya menuntaskan buku yang menjadi sumber film dengan bintang Daniel Radcliffe. Tentang hantu wanita yang meneror di desa kecil Crythin Gifford, pemuda berpendidikan tinggi dengan rasional dan berpikiran terbuka, mendapat tugas menyelesaikan administrasi bosnya seorang pengacara, kliennya meninggal dunia, maka ia harus mengurus segala hal terkait warisan, berkunjung di ujung dunia yang terpencil, muram dalam desas-desus mistis. Tentu saja, ia seorang logis yang tak percaya adanya hantu, sampai ia mengalaminya sendiri. Pengalaman mengerikan itu dan akibat yang ditinggalkan kemudian, menghantuinya hingga usia senja. Sebagai seorang pemuda waras berpendidikan baik, yang memiliki kecerdasan rata-rata dan menyukai hal-hal pasti, sekali lagi ia tidak percaya adanya hantu. Dan kengerian mendadak bangkit seiring dengan kembalinya ingatan itu. Jika aku ingin mencari kebenaran aku harus berpegang pada bukti yang kurasakan lewat pancaindraku saja.

Kisahnya mundur. Di present day, Arthur Kipps adalah seorang kakek yang hidup tenang dengan keluarga terkasih, istrinya Esme dan anak-anak di Monk’s Piece. Ketika Natal tiba, di depan hangatnya perapian, di bulan Desember yang dingin menggigit, dan warna malam yang kelabu itulah ia kembali teringat masa mudanya. Rasa takut itu melumpuhkan untuk sementara, seperti selalu yang sebelumnya, ini sensasi yang sudah lama terlupakan. Awalnya anak-anak memintanya bercerita hantu, ia menolak, karena pengalaman pahit ini akhirnya berkisah dalam bentuk tulisan. Sampai-sampai aku bingung apakah aku sedang mengingat atau mengulang kembali kenangan itu. Masa ketika ia mengalami tragedi. Adakah cara untuk menghalau kenangan, serta imbas yang dibawanya, seperti obat penghilang sakit atau salep meredakan sakitnya luka, setidaknya untuk sementara? Dari pembuka ini kita tahu, Arthur akan selamat dan berumur panjang, maka saat ia nantinya terjepit, mendapatkan masalah pelik nan berbahaya mengancam nyawanya, ia selamat. Catat, dan catatan ini, menjadi bumerang bagiku, karena tragedi itu disusun dari kepingan pekat malam. Dan memang, musibah itu tampak sangat mengerikan. Benar, kalau Tuhan gagal membuat dirimu terperosok sendiri dalam lembah keputusasaan, jalan paling logis adalah membuat orang terkasih yang terjatuh. Pasti berhasil. Untung saya bacanya tahun ini, dulu saya kos sendirian, dengan halaman depan menghadap kuburan, malam hari yang pekat, suka merenung di teras di sela baca buku. Sekarang kalau ingat baca buku dengan latar kuburan saja sudah ngeri. Itu dulu, jadi andai dibaca kala itu, pasti efek takutnya makin mencekam. Sungguh, seumur hidup belum pernah aku sedemikian takluk oleh rasa takut, tak kusangka lututku akan gemetar, tubuhku akan merinding dan membeku sedingin batu. Aku tak sanggup bereaksi berdasarkan akal sehat dan logika.

Arthur memiliki tunangan cantik, Stella di usia muda ketika sedang menapaki karier, ia mendapat tugas dari bos Tuan Bentley untuk mengurus segala hal terkait hak waris atas meninggal dunianya nyonya Alice Drablow di desa kecil Crythin Gifford. Setelah menyiapkan segala perlengkapan, ia berkereta api, perjalanan jauh ke ujung utara, melewati Terowongan Gapemouth – Mulut Menganga – ke desa terpencil. Di kereta api ia berkenalan dengan warga Crythin Gifford bernama Samuel Daily, ternyata ia adalah konglomerat, mengundangnya datang di sela tugas, terkejutlah ia ketika tahu Kipps berkunjung demi kepentingan mengurus kematian nyonya Drablow. Desas-desus mengatakan ia adalah penyihir, ia adalah kutukan. Kehidupan keluarga ini menghantui warga.

Awalnya tak percaya hal gituan, tapi saat acara duka pemakaman yang seharusnya sakral malah menjadi janggal. “Saya hanya bisa bilang menyedihkan jika orang hidup sampai usia delapan puluh tahu, tapi tak satu pun kenalannya datang menghadiri pemakamannya.” Harus diperingati seperti ini tanpa kehadiran kerabat sedarah atau sahabat karib, melainkan hanya dua pria yang terhubung karena urusan bisnis – salah satunya bahkan belum pernah bertemu langsung dengan wanita itu semasa hidupnya. Dalam satu desa, ketika almarhum dikirim ke tempat peristirahatan terakhir, ada acara lelang yang meriah dilakukan. Aku merasa seperti hantu gentayangan di tengah pesta pora. Seolah itulah pesta, cara mengusir hantu tua yang menghuni suatu tempat adalah dengan upacara eksorsisme. Ironis. Lebih mengerikan lagi, Arthur menyaksikan penampakan gadis bergaun hitam dalam prosesinya, yang ketika ditanyakan ke Jerome, asistennya di sana, malah shock berat karena ia tak melihat. Lubuk hatiku tergugah oleh kecantikannya yang ganjil dan angker. Well, sampai di sini cerita masih bisa dibilang belum banyak riak. Barulah ketika Arhur Kipps ke Eel Marsh House yang dikelilingi rawa, ‘kota yang tidur membelakangi angin.’ Di mana jalan menuju ke sana di sebut Nine Live Causeway – Jalan Lintas Sembilan Nyawa, hanya bisa dilalui ketika siang karena saat malam air akan pasang menutup jalanan, cerita menjadi cekam penuh kengerian. Kurasakan semacam keheningan asing yang datang menyergap, membawa firasat buruk, dan mencekam.

Kipps melihat lagi gadis bergaun hitam di pemakaman keluarga. Apakah yang harus ditakuti di tempat yang indah dan langka ini? Angin? Kicau burung-burung rawa? Rumuput laut dan air tenang? Desir angin pantai yang mengalun horor, kamar anak yang gemuruh saat malam, padahal ia yakin sendirian saja. Kamar itu ada kuda jungkit yang berderak di saat sunyi dan segala hal menakutkan mulai nampak. Betapa suram, kelabu, dan muramnya tempat itu dalam hujan dan kabut lembab. Esoknya tuan Samuel memberi teman seekor anjing bernama Spider saat kembali ke Eel Marsh, setidaknya ia tak sendiri. Nah, tragedi awal disajikan di sini. Anjing itu akan berlari mendekat ketika ada siulan, malam itu tiba-tiba ada siulan di tengah rawa, yang otomatis Spider lari menuju tenggelam, yang dikejar ketakutan dan turut tenggelam. Nyaris mati, untungnya secara dramatis terselamatkan. Kejadian itu mencipta trauma, karena ketika ia berjuang keluar dari kubangan rawa, ia melihat penampakan di jendela kamar misterius itu. Sementara aku berusaha mati-matian mencari penjelasan rasional tentang kehadiran orang lain yang sangat terasa bagiku. Kipps sakit parah, dirawat tuan Samuel berhari-hari, dan akhirnya memutuskan kembali ke London. Selesai? Jelas belum. Tragedi itu dimunculkan di paragraf-paragraf akhir di bab akhir. Seram, traumatis, mengerikan. Agak berbeda dengan filmnya, tapi poinnya sama. Ada apa gerangan? Menutup telepon keras-keras, memedihkan telingaku!

Ada beberapa kesamaan yang kurasakan. Arthur Kipps suka menyendiri dengan buku. Jelang tidur ia menikmati lembar-lembar kisah, dirumah angker itu ia membaca novel karya Walter Scott dan John Clare. Saya ga tahu juga saat ia membaca buku The Heart of Midlothian. Sepertinya ini buku-buku lokal British yang asing di Indonesia. Lalu ada satu kalimat ini, “Taman yang mengingatkanku pada kediaman tokoh-tokoh karangan Jane Austen” Sebuah kebetulan saya sedang membaca bukunya.

The Woman juga memainkan psikologis tentang kenangan. Semua kejadian itu telah berakhir, telah jauh di masa silam, tidak akan dan tidak mungkin kembali, aku yakin aku tidak pernah merasakan lagi tidur senyaman malam itu di Crythin Gifford. Bisa saja Tuan Kipps bilang gitu, nyatanya ia masih trauma. Bagian terburuk dari sakitku bukanlah sakit fisik, bukan rasa nyeri, kelelahan atau demam, melainkan guncangan mental. Ingatan seram itu masih tersembunyi di pojok kepalanya. Kenangan-kenangan masa kecilku mulai bangkit lagi dan aku bernostalgia mengingat malam-malam ketika aku berbaring dalam kehangatan dan kenyamanan ranjangku. Benar saja, dan kini, di rawa yang sama seluruh adegan itu, atau hantunya, atau bayangannya, kenang-kenangan, terulang lagi dan lagi – entah seberapa sering.

Tuan Kipps juga seorang profesional, masih terlalu muda dan angkuh untuk dikecewakan. Ketika ia diminta pulang saja, dengan percaya diri menjawab, “Saya harus menghadapinya Tuan Jerome, layaknya hal-hal lain yang harus dihadapi.” Masa muda yang menggebu demi karier dan masa depan. Ah… Aku yakin kami tidak boleh menunda-nunda melainkan harus segera merebut kebahagiaan, nasib mujur atau kesempatan atau apapun dan menggenggamnya erat-erat.

Identitas dan alasan penampakan gadis bergaun hitam terungkap dengan dramatis, dengan iringan udara sekitarnya terisi hebatnya dukacita dan kesusahan wanita itu, ditambah kebenciannya yang terpendam, serta hasrat balas dendamnya. Adalah Nyonya Jennet Humfrye yang memiliki masa lalu tragis. Cinta yang dihalangan tradisi, anak yang dipaksa berpisah, dan sebuah tragedi tenggelamanya kereta kuda di rawa yang tertangkap memori. Setiap ada penampakan dirinya, akan ada anak yang meninggal di desa tersebut. Maka warga menjadi ketakutan. Membangkitkan sebersit rasa takut di lubuk hati, rasa takut yang segera tertahan.

Susan Hill, novelis Inggris yang pernah memenagi penghargaan Whitbread, Somerset Maugham dan John Llewelyn Rhys, serta nominasi Booker Prize. Tinggal di Glouchestershire, memiliki penerbitan sendiri Long Barn Books.

Cerita horor bukanlah genre-ku. Tak banyak buku hantu yang kunikmati. Karena jarang, maka ketika mendapatkan hantaman bagus, jadi terngiang-ngiang. The Woman jelas adalah horor yang keren sekali. Ga perlu darah tumpah ruah untuk menakuti pembaca, ga perlu penampakan-penamakan kaget untuk membuat gidik ga perlu jalinan kata panjang pekat bombastis untuk mencipta kengerian. The Woman alurnya lambat namun sangat ampuh, seram dan benar-benar membekas di kepala, membuatku takut suara siul, takut kegelapan beberapa hari terakhir. Aku kehilangan kesadaran akan waktu dan realitas. Menuturkan cerita itu rasanya seperti mengalami sebuah pemurnian.

Buku yang kembali membangkitkan minat genre horor. Sungguh menakjubkan betapa kenyamanan rasa mampu menghidupkan suasana jiwa. Aku menyerah pada pikiran-pikiran sedih, serta rasa kasihan pada diri sendiri. Aku tidak pernah sendirian seperti ini, sekaligus merasa sangat kecil dan tak pernah di tengah luasanya alam, aku tenggelam dalam perenungan filosofis yang murung, terpukul oleh betapa acunya lautan dan langit akan keberadaanku. Aku mulai meragukan realitasku sendiri.

Kuajukan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab kepada diriku sendiri tentang kehidupan dan kematian serta dunia perbatasan di antaranya, dan aku mengucap doa yang tulus, sederhana dan menggebu-gebu. “Aku merasa Tuhan berada sangat jauh, dan doa-doa yang kuucapkan terasa formal dan hormat…”

The Woman in Black | by Susan Hill | Diterjemahkan dari The Woman in Black | Terbitan Long Born Book Ltd., London, UK | Copyright 1985 | First published in 1983 by Hamish Hamilton | Penerjemah Reinitha Lasmana | Penyunting Dyah Agustine | Proofreader Enfira | Desain sampul A.M. Wantoro | Penerbit Qonita | Cetakan I, Mei 2016 | 228 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-402-026-2 | Skor: 4.5/5

Untuk Pat dan Charles Gardner

Karawang, 180120 – 200120 – Avril Lavigne – Here’s to Never Growing Up

Memelihara dendam, amarah, dan kebencian hanya akan meracuni jiwa.”Steve Maraboli

Daftar Harbolnas Mizan. Tiga sudah, sembilan menuju. Lady Susan – Cannery Row – Rafilus – The Woman in Black – Fiesta – Agnes Grey – Ziarah – The Red-Haired Woman – A Fair Lady & A Fine Gentlement