Best Books of 2019

Best Books of 2019. Catatan akhir tahun.

Apa yang sudah saya katakan tentang ketidakmungkinan membuktikan dokrin-dokrin relijius mengandung sesuatu apa pun yang baru.”Masa Depan Sebuah Ilusi, Sigmund Freud

Tahun yang berat. Saya kembali menuntaskan baca 110 buku, persis tahun lalu, kupadatkan menjadi 35 buku tanpa satupun buku kumpulan puisi yang masuk daftar keren, lalu kusaring lagi menjadi 18 buku dan akhirnya menjelma angka cantik 14. Empat buku yang tersingkir adalah: Breakfast at Tiffany’s, Metamorfosis, Around the World in Eighty Days, dan Kumpulan Budak Setan. Temanya lebih beragam, non fiksi sekarang semakin banyak yang kutuntaskan. Tahun ini memang kumulai dengan tertatih, sungguh berat saya menapaki awal 2019. Tiga puluh satu buku Januari yang sudah dirancang langsung berantakan, kumpulan puisi yang rencana kubaca tiap bulan langsung lebur, bahkan komik yang mau kunikmati lagi tak tersentuh semuanya. Memasuki hari-hari dengan muram, memasuki bulan-bulan dengan suram, lalu waktu menyembuhkan. Hati yang kembali ditata, jiwa yang kembali kusiram petuah sejuk.

Berikut 14 buku terbaik yang kubaca tahun ini:

#14. Dalam Kobaran Api – Penulis Tahar Ben Jellous | Penerbit Circa | Tahun Terbit (edisi yang kubaca) 2019

Hebat. Penulis kelahiran Maroko, tinggal di Prancis bercerita tentang Tunisia dan efeknya. “Aku tidak menjelaskan apapun, ini adalah karya sastra.” Arab Spring, demi rasa keadilan. Kesenjangan sosial memicu revolusi, bukan hanya di satu Negara tapi regional lain yang menyelingkupi. Api yang memicu banyak hal, nyaman sekali kalimat-kalimatnya. Demi rasa keadilan. Tahar dengan cerdas memainkan ironi.

#13. Teh dan PenghianatIksaka Banu | Kepustakaan Gramedia Populer | 2019

Kumpulan cerpen memang menjadi otomatis bagus Bung Iksaka Banu. Buku yang memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini, merangkul sejarah Indonesia dalam balutan fiksi. “Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat, pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar…”

#12. Go Set A WatchmanHarper Lee | Qonita | 2015

Di mana iblis berada? Di sini di Maycomb. Kisah lanjutan novel legendaris ‘To Kil A Mochingbird’, sekarang Scout sudah dewasa jadi perantau di New York, buku ini berkutat di Maycomb saat liburan dua minggu yang menegangkan. Bagaimana orang tuanya yang sudah tua tetap bekerja membela kebenaran. Sabar, tenang dan menghanyutkan. “Aku mencintai ibumu.”

#11. Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang KeparatKedung Darma Romansha | Indie Book Corner | 2017

Cerita dari Indramayu yang keras. Makian dan umpatan berbagai kelas. Lha judulnya saja sudah misuh: Kisah Cinta yang Keparat. Buku ini hanya apes terbit bersamaan dengan tahun Dawuk rilis sehingga gagal menang. Cerita bagus memang harus membumi gini, asli tanpa banyak rekayasa. Benar-benar seolah bung Kedung mengamati kejadian, menjalani, menyusup lalu menulis sejarah sang Diva dengan beberapa modifikasi serta kiasan. Mungkin hiperbolis tapi cinta Safitri memang keparat. “Jalan setan itu banyak dan terlihat menggiurkan, godaannya macam-macam. Salah satunya dangdutan di seberang…

#10. The Story GirlL.M. Montgomery | Gramedia Pustaka Utama | 2019

Cerita anak-anak pada suatu masa di Amerika. Lucu, seru dan apa adanya. Benar-benar membumi, seolah ini adalah diari sang Penulis. Setara ‘Secret Garden’-lah, tapi ini lebih riuh dan ceria karena melibatkan banyak karakter. Ini juga cerita-cerita sederhana yang ada di sekeliling kita, di sekeliling penulis. Hal-hal yang umum, dirajut dengan sangat bagus. Kita bisa memaknai segalanya. Tak sabar baca lanjutan.

#9. Tango & SadiminRamayda Akmal | Gramedia Pustaka Utama | 2019

Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas. “… berusahan mengapai-gapai Tuhan…” adalah penutup cerita yang luar biasa. Hikayat kehidupan di sekitar sungai Cimanduy. Sisi gelap manusia dengan palacuran dan ruang lingkup sekitar, sisi terang dengan kehidupan haji Misbah yang memilki tiga istri, panutan warga yang setelah diungkap detail tak seterang yang dikira. Semua manusia ada sisi abu-abunya.

#8. AparajitoBibhutibhusan Banerji | Kepustakaan Populer Gramedia | 2016

Novel India terbaik yang pernah kubaca. Riwayat Apurbo dari masa kanak-kanak, perjuangan pendidikan, merantau ke Kalkuta demi menyambut masa depan gemilang. Inilah gambaran hidup sesungguhnya. Leela dan Aparna, cinta dan tragedi. Kisah luar biasa, ada dua tragedi hidup yang berat terkait orang terkasih. Ibu dan istrinya, dan letupan impian masa muda yang terus meronta untuk diwujudkan. “Beranjak dewasa berarti juga mempertaruhkan oprimisme masa kanak-kanak.”

#7. White FangJack London | Gagas Media | 2014

Kubaca dalam sehari dari siang sampai malam, di sela ibadah dan tidur di lantai satu Blok H nomor 279 hari Sabtu, 23 Feb 19. Ini semacam prekuel ‘The Call of the Wild’ yang sudah kubaca dua tahun lalu. Dituturkan dengan berkelas. Dengan resiko apapun harus bergerak, terus bergerak, karena gerakan adalah ekspresi dari keberatan. “Aku menyerahkan diriku di tanganmu, ketahuilah aku di bawah kehendakmu.”

#6. Dalih Pembunuhan MassalJohn Roosa | Kendi | 2017

Bencana kemanusiaan dari sisi lain. Kemelut kusut tanpa kepaduan, sejarah kelam Republik ini. Semua janggal sedari awal. Siapa dalang kudeta 30 September 1965 digali dan dilihat dengan berbagai sudut. Bagaimana kejadian itu sebelum, saat dan sesudahnya. Apapun itu ini adalah tragedi besar Indonesia yang efeknya sekarang dan masa depan. Dinsinyalir setengah juta warga meninggal, angka yang luar biasa besar. “… karena beragam peneliti menggengam beragam potongan data, maka hasilnya adalah munculnya beragam versi.” Dan ini salah satu versi paling blak-blakan.

#5. The Murder of Roger AckroydAgatha Christie | Gramedia Pustaka Utama | 2013

Dan ya, saya bisa menebaknya. Ada dua kalimat yang JELAS SEKALI yang menunjukkan sang pelaku, saya konsisten. Yakin dialah pelakunya. Terbukti. Salah satu yang terbaik dari Christie, dari Hercule Poirot. Jauh hari buku ini masuk kumpulan terbaik Poirot, ini adalah buku ke belasan yang kubaca dari Christie, sehingga alurnya sudah mulai kebaca. Klu paling penting di kisah ini adalah, sang pembunuh mencoba ‘bertahan’ tidak melaporkan insiden ini ke detektif paling fenomenal. “Hercule Poirot tidak pernah mengambil resiko mengotorkan pakaiannya, tanpa keyakinan akan memperoleh sesuatu yang diinginkannya…”

#4. NeverwhereNeil Gaiman | Gramedia Pustaka Utama | 2017

Ada Gaiman lagi tahun ini. Pertarungan malaikat, iblis dan makhluk bawah tanah London. Richard, manusia normal di atas tanah terjebak dalam permainan kotor. Fantasi luar biasa, kejutan akhir yang hebat. “Bagaimana aku bisa kembali normal?” Gaiman tak pernah mengecewakan. Marquis de Carabas yang tampak licik, benarkah?

#3. Dunia SophieJostein Gaarder | Mizan | 2012

Buku rangkuman filsafat yang luar biasa. Cara cepat belajar jadi filsuf. Butuh waktu empat bulan buat menuntaskannya. Hidup ini fiksi bagi mereka yang terjebak dalam ambiguitas. Sophie Amundsend yang menyaksikan bukti-bukti keberadaan kehidupan di sisi lain dunia, lalu muncul pertentangan yang nyata ia atau kedidupan seberang? “Dari mana datangnya dunia?”

#2. The Handmaid’s TaleMargaret Atwood | Gramedia Pustaka Utama | 2018

Para handmaid di masa depan, aturan absurd dan pertentangan tak berkesudahan. Gadis kerudung tunduk, pikiran penuh luapan teriak. “Mungkin hidup yang kupikir kujalani ini adalah suatu delusi paranoid. Dalam kesaksian lebih baik mengarang sesuatu daripada bilang tidak punya apa pun untuk dibeberkan.”

#1. SapiensYuval Noah Harari | Kepustakaan Populer Gramedia | 2018

Buku yang luar biasa. Tiap sepuluh kalimat kubaca, kubaca ulang separuhnya. Nikmat di tiap lembarnya. Pengolahan kata menyusup kalbu. Bagaimana bisa buku sejarah menjelma thriller, manusia sejak dulu kini dan yang akan datang, dalam radius mengerikan. “Orang-orang yang hidup saat itu tidak melakukan hal-hal yang penting.” Mengibaratkan Peugeot dengan sangat jitu, membelalakan mata, mencerahkan imaji, membuat ngeri. Manusia dan segala revolusi umat.

Bagaimana dengan tahun 2020? See ya…

Karawang, 311219 – Roxette – Spending My Time