The Irishman: Roti Celup dan Kenikmatan Tiap Tetes Detiknya

Bahwa lebih mudah bagi seekor unta untuk melewati lubang jarum daripada orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” – Matius 19:24

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Sangat indah, sangat spiritual, sangat tepat, sangat memukau. Meski mengandung pesan pasif dalam tiap geriknya di usia senja. Untuk merangkum dalam satu kata adalah ‘Wow’. No doubt, The Irishman adalah film terbaik tahun 2019 sejauh ini. Tiga setengah jam yang wow. Ya wow, serius. Inilah film yang benar-benar berhasil memenuhi ekspektasi setelah hype berlebih Parasite dan Joker. Kenikmatan gambar gerak tiap tetes detiknya. Ketika tahu durasinya yang melimpah, biasanya kita seolah menyantap menit-menit yang menjemu bak menyaksikan seekor semut bergerak membawa beban. Irishman adalah film tutup tahun yang sempurna. Ini adalah film reuni para maestro cinema. Dengan tema mafia, dengan usia tiga pemeran utamanya tua, termasuk sang sutradara, pemirsa disuguhi akting berkelas tiada dua. Nominasi Oscar pasti, juara sekadar bonus. Mayoritas ngegoliam, ngerumpi, ngobrolin banyak hal di usia senja. Reuni di penjara, main lempar bola jauh-jauhan. Wkwkwkk… seperti itulah hari tua yang sesungguhnya. Kunyah roti sudah ga kuat, dicelup dulu dan dengan masih sangat fasih misuh, ‘fck em fck em’. Oscar for Joe Pesci please! Sejatinya ini adalah jawaban yang menohok Martin atas suara kontra tentang kritik wahana MCU-land beberapa waktu lalu. Selamat datang di wahana-cinema sesungguhnya. Andai tayang di bioskop dengan tambahan durasi director’s cut pun akan saya tonton lagi, dan lagi.

Kisahnya tentang seorang veteran perang yang bernarasi masa lalunya. Masih ada saat-saat ia merenung. Jalan macam apa yang telah ia pilih. Seperti tiap laki-laki yang karena jasanya, ia tetap memiliki memori kuat pada kejayaan. Seorang pengecat rumah istimewa. Cerita berlapis, dari masa awal sekali ia menjalin kerja sama dengan lingkar mafia, lalu lapisan kedua tentang perjalanan bermobil untuk menghadiri pesta pernikahan, dan lapisan terakhir ya present day. Hari ini ia bertutur di panti jompo dengan nuansa langit kelabu, angin lembab. Pada saat itulah seolah ia memulai hidup ketika dimana orang lain cenderung menyia-nyiakan waktu. Frank Sheeran (Robert De Niro) adalah sopir pengantar daging, truknya error, di rest area ketika bongkar mesin, disamperin seorang tua yang membantu mengatasinya. Sempat berjabat tangan memperkenalkan diri, tapi Frank tak mendapati namanya. Warna pucat daging, kontras dengan semangat berapi-api di dalamnya. Barulah beberapa hari kemudian, ketika ia kena kasus ‘hilangnya daging’ dibawa ke pengadilan, ditangani pengacara hebat, memenangkan kasus yang bahkan ia sendiri sejatinya salah, dan sang pengacara menjadi rantai perkelanaan dengan Russell Bufalino (dimainkan dengan hebat oleh Joe Pesci), orang yang membantu menemukan masalah perseneling truk.

Russ bukan hanya pemilik toko atau sebuah pertamini di rest area, ia ternyata adalah pemilik seluruh jalanan. Mafia yang menguasai wilayah itu. Russ menautkan kebanyak hal. Proyek pembunuhan pertama Frank justru malah untuk sang Whisper, orang yang membayarnya guna membakar pabrik laundri. Saat Frank akan menjalankan aksinya, ia diminta ikut ketemu Angelo Bruno (Harvey Keitel) dengan Russ disampingnya. Keganjilan yang tampak menjanjikan, hukum moral sudah tak berlaku. Menjelaskan, siapa pemilik saham laundri? Aku! Wow, ekspresi Frank yang terkejut bagus banget. Ia berencana mengembalikan uang pangkal, tapi tidak. Justru Frank diminta menghabisi Whisper. Pistolnya dibuang ke sungai dekat jembatan, dan betapa sungai adalah museum karat untuk senjata bukti pembunuhan.

Dalam narasinya, Frank berujar bahwa anak muda sekarang mana kenal Jimmy Hoffa (Al Pacino)? Sering ia mengangkat kedua ujung bibirnya. Senyum yang sedikit terdistorsi, dari keputusasaan, kerinduan masa lalu. Karena memang tak ada banyak klu, penyelidikan mandek. Dilanda waktu, zaman, hening dan muram. Jimmy menghilang di tahun 1975 tanpa banyak perkembangan penting. Kita jadi saksi, penonton jadi saksi. Frank lalu menuturkan link bagaimana ia diperkenalkan sama sang ketua Serikat kerja International Brotherhood of Teamsters. Frank disebut sebagai pengecat rumah. Jimmy adalah yang terbesar era tahun 1960an. Jimmy adalah seorang orator ulung, organisator yang luar biasa kharismanya. Sebagai mafia jalanan, proyeknya melimpah. Sikat kanan-kiri yang menghalangi, sebanyak kawan-kawannya, musuhnya juga melimpah.

Pada akhirnya Jimmy masuk penjara. Di penjara, terjadi konfliks horizontal sama temannya sendiri Anthony ‘Pro’ Provenzano (Stephen Graham), ia meminta uang pensiun. Baku hantam antar kakek-kakek. Keluar penjara, masalah belum juga selesai di antara mereka. Meeting, si Pro pakai celana pendek, telat 10 menit? 20 menit? Ya udah tengah-tengah 15 menit. Wkwkwkk… adegan aneh. Baku hantam lagi, menyenangkan sekali lihat Al Pacino masih bisa nabokin orang. Rantai kekuasaan di dalam serikat ditentukan oleh kekuatan mental dan sosial ketimbang arogansi. Sebuah pemandangan yang membuat kita terbakar dengan rasa sakit dan harapan.

Adegan trenyuh tersaji saat tragedi penembakan Presiden John F. Kennedy. Dengan latar sebuah kafe, menyaksikan kejadian besar itu lewat televisi. Lalu saat akhirnya bendera setengah tiang dikibarkan, Jimmy yang melihatnya di gedung ga rela, ia pun menaikkan sang Stars and Stripes sampai ke puncak. Sebuah tindakan berani. Sebuah arogansi yang nantinya ditampilkan sampai menit-menit akhir. Arogansi, merasa masih punya kuasa, dan kunci itu merasa ia simpan, nantinya berakibat fatal. Sangat fatal, manusia kuat yang tak tahu kapan saatnya pensiun.

Seluruh perkembangan film merupakan pendakian yang menantang dan menuju kehormatan, sebuah pengandaian yang menentang semua rintangan keraguan dan ironi. De Niro sebagai narator bermain tenang, dia melakukan itu dengan perlahan dan tekun. Mengingat santuy pada suatu petualangan kriminal dan sunyi dalam malam yang kelam, terlebih lagi mengingatkannya pada kematian, peti mati, dan pemakaman yang menjemukan, perjalanan final tanpa kata. Untuk mengerti semuanya adalah dengan memaafkan semuanya.

Setiap jeda bernarasi, sesaat tenggelam dalam pikiran. Kecenderungan kecil untuk menyelinap dalam keanehan yang tidak masuk akal, sebuah sensasi yang tidak bisa dia jelajahi sepenuhnya. Di ruang kosong yang tak bisa diukur itu, indra tentang waktu ikut menderita dan linglung dalam kebingungan tak berbentuk. Rasa kesadaran yang mengigit dan pahit. Sinema hening memang semenakjubkan ini kawan!

Orang-orang sekeliling menganggap penyelesaian adegan pasca ikan itu masuk akal. Menyerukan kata-kata yang terdengar seperti kata sandi pada dialog ikan, dan namanya yang tak tersebut demi kenyamanan bagai keranda jenazah. Kehidupan mengalahkan diri sendiri, kehidupan yang keras, mapan dan rumit, mengubahnya menjadi sebuah simbol kepahlawanan, dengan ‘mainan’ sebagai tuannya. Maka ketika teman-teman seangkatan sudah pada meninggal, apanya yang perlu diumumkan? Setelah beberapa tahun kegelisahan dan banyak percobaan, diam adalah pilihan bijak. Takdir tampaknya melanggar garis waktu, ini adalah seni yang membentuk fisiognomi semacamnya yang merupakan ciri menua dan menanggung beban pikiran.

Ini adalah film dengan Budget Netflix termahal menyentuh 169 juta dollar. Durasi terpanjang karya Martin. Mencipta banyak ledakan, benar-benar ledakan bukan layar hijau dan peremajaan wajah para pemeran. Para manula ini jadi tampak tamvan bahkan kalau Nicholas Saputra dan Aliando digabung. Rambutnya disisir rapi, menipis di dahi, berwarna abu-abu, alis menjulang dan dahi penuh kerut. Disulap tampak muda 50 tahun. haha…

Pas jelang akhir Frank ditanya duo polisi, seolah mendesak mencerita fakta. Dia harus bersandar pada keserasian batin, dan persamaan antara nasib personal dari rekan-rekan sezaman. Kukira keputusan tepat sudah diambil. Penghormatan hak pada aristokrat. Membuat dunia tetap dalam kebingungan dan mempesona, pikiran dan ingatan hingga jiwa lupa akan wataknya sendiri karena kegembiraan dan dengan kekaguman yang melekat.

Diadaptasi dari buku karya Charles Brandt berjudul ‘I Heard You Paint House’, merupakan biografi kriminal yang elok nian. Dengan cerdik, film ini menuliskan akhir hidup beberapa karakter sepintas ketika awal muncul di layar. Di akhir kisah, kita merasakan kelegaan Frank, seolah ia berteriak lantang kepada kalian, “Bukan peti mati yang kubeli atau liang lahat yang menantiku, aku akan tetap di sini selama kau juga ada di sini wahai para penonton! Masih kuat tiga jaman lagi?

Bukankah ketiadaan merupakan bentuk kesempurnaan? Karena manusia saling menghormati manusia lain selama tidak saling menghakimi, dan hasrat bertahan hidup hingga tua adalah produk terlabeli. Tidak ada yang lebih aneh dan canggung karena rahasia, daripada hubungan dua orang yang ditautkan karena profesi tukang cat!

Menyenangkan sekali menyaksikan Al Pacino ngoceh. Mengamati rambut abu-abu, wajah lelah dan garis wajah yang lugas. Jauh dari citra membosankan, di sisi lain eksentrik, kejeniusannya kukira akan memenangkan piala tertinggi perfilman. Satu, dua atau malah ketiganya. Seseorang masih bisa memiliki resolusi moral setelah menyelami kepahitan hidup.

Kegembiraan dan rasa lelah di waktu yang sama. Sebuah lagu multi-sajak menghanyutkan.

The Irishman | Year 2019 | Directed by Martin Scorsese | Screenplay Steven Zaillian | Story Charles Brandt | Cast Robert De Niro, Al Pacino, Joe Pesci, Harvey Keitel, Ray Romano, Bobby Cannavale, Anna Paquin | Skor: 5/5

Karawang, 051219 – 131219 – Roxette – Sleeping in My Car

I am just trying to understand how a person can buy a fish and not know what kind it was.”

Kusaksikan dalam beberapa tahap, ini sebagai catatan nikmat saja:

1/12 2” jam 23:30 di tempat tidur

2/12 23” jam 12:30 di mushola kantor

2/12 1’ 29” jam 17:15 di ruang meeting Integrity

2/12 1’ 48” jam 21:00 di Rumah Sakit Dewi Sri

3/12 2’ 14” jam 12:00 di meja kerja

3/12 3’ 29” jam 17:09 di ruang meeting Integrity

Done!