There’s Something about Mary: Jambul Rabut yang Mengilhami

Ted: Japan? What’s she doing in Japan?

===mungkin tulisan ini mengandung spoiler===

Semua fokus pada Cameron Diaz seolah ia adalah pusat semesta. Cantik. Muda. Pirang. Dan jambul rambut yang bikin istigfar.

Kisahnya memang tertuju utama ke Mary Jensen (Cameron Diaz). Cameron Diaz sedang gemilang, aktris romantis era 1990an. Beberapa filmnya mungkin sudah kutonton, tapi ga ada yang lebih memorable dari Charlie’s Angel yang saat ini kena reboot. Namun sudut pandang dipegang oleh Ted Stroehmann (Ben Stiller). Di tahun 1985, di akhir masa sekolah, jelang acara pesta dansa ia mengajak temannya yang dijawab dengan gantung. Ted jadi lelaki cadangan, rencana samping sang gadis bila inceran utama ga nawari. Maka dalam insiden unik, dengan adik Mary yang terjebak di dunia anak, Warren (W. Earl Brown) yang mencari bola dan sensitif telinganya. Hal mengejutkan adalah Mary tahu namanya, momen gadis tercantik mengetahui namamu saja membuatmu berdegub. Lalu mengantarnya pulang, kejutan berikutnya justru Mary yang menawarkan diri untuk pergi pesta dansa bersama. Ted si freak, culun, dan kaku tentu saja shock. Tampang Stiller mainkan mimik awkakwa. Bangga akan berdansa dengan idola sekolah. Namun sayangnya berakhir dengan bencana, saat dijemput terjadi insiden resleting di kamar mandi.

Kisah cinta remaja ini berakhir ejakulasi. Memorinya bertahan lebih lama, dan terbenam dalam kepala. 13 tahun kemudian, kita menemukan sebuah dilema. Tanpa kabar dan terpisah jarak, Ted memutuskan mencoba mencari tahu kabar cinta remajanya. Ia pun menyewa detektif swasta Healy (Matt Dillon) untuk menyelidiki status, keadaan dan segala hal yang menarik perhatian. Pokoknya update Mary minta tolong dilacak. Andai Ted hidup di jaman now, tinggal cari di facebook. Sempat ragu, tapi tetap rasa penasaran itu harus dituntaskan. Hal menariknya Healy memberi data fakta palsu, menjelek-jelekkan Mary. Ia bahkan resign dari pekerjaannya. Dalam momen awkwk, penyelidikan di apartemen dengan teropong, ia memutuskan jatuh hati.

Ternyata sang detektif menuju Florida, memainkan sandiwara. Dari hasil pengamatan, betapa Mary menyukai pria arsitek, suka jalan-jalan, suka pria yang tak terikat waktu kerja sampai hal-hal ideal yang kelak jadi pasangan. Healy memanipulasi keadaan sehingga ia tampak pria yang dicarinya, pria ideal yang ada dalam bayang, lambe lamis, menipu banyak hal. Nah, suatu malam ia diajak ke pameran arsitek secara mendadak, berkenalan dengan Tucker (Lee Evans) yang ada masalah di kakinya sehingga memakai penyangga dua. Diskusi tentang bangunan yang sudah dicipta, tampak jelas Healy bohong. Nantinya ketika di cek di lulusan Havard pun ia tak ada.

Sementara Ted yang kecewa, menemukan fakta aneh tentang sang detektif dari Dom (Chris Elliott) sobatnya. Maka iapun meluncur ke tempat pujaan hati. Dalam perjalanan penuh bahaya, menaikkan penumpang gelap seorang pembunuh, istirahat di area umum malah ke-gap komunitas gay padahal ia hanya mau buang air kecil, dan di mobilnya ditemukan karung berisi mayat. Sempat ditahan, tapi penyelidikan lebih lanjut melepasnya. Karena ini film komedi maka segala proses di sini dibuat santauy maksimal.

Sesampainya di Florida, ia pun menyapa Mary, dan langsung klik lagi. Warren masih ingat, dan dalam waktu singkat mereka akrab. Mary adalah dokter bedah, wah makin naik derajatnya. Satu apartemen dengan wanita tua yang aneh jua dengan anjingnya yang juga aneh. Magna (Lin Shaye) dan kerutan waktu. Ketika kerumitan kisah jelang akhir, ke mana hati Mary berlabuh, kita akhirnya mengetahui betapa para pria ini mendamba cintanya, termasuk Tucker sang pizza boy. Bahkan di klimaks kisah, kekasih Magna pun melakukan tembakan yang tak kalah aneh, kepada pengisi soundtrack yang bermula dari cintanya pada Mary. Absurd cara isi musik, para pemainnya ditampilkan seolah musisi jalanan yang bersenandung untuk pemirsa. Si pemain gitar (Jonathan Richman) yang apes.

Ini baru film komedi romantis yang sesungguhnya. Komedinya lebih dominan, sangat dominan malah ketimbang sisi percintaan. Menumbar tawa garing, hal-hal penting di sini dipandang remeh. Bagaimana bisa laki-laki di sekeliling jatuh hati semua terhadap Mary? Tentunya ia begitu istimewa. Sangat istimewa. Saya mengenal Cameron Diaz justru dari poster besar yang dipasang di kos temanku. Seorang maniak film yang memajang gambar artis dengan pose menantang. Saya yang masih awam menanyakannya, ia jawab dengan enteng Diaz. Apa kabar temanku di Cikarang, tempat tumbuh masa labil. Ruang lain 31 yang kurindu.

Salah satu yang paling dikenang di film ini jelas adalah jel rambut. Gambar Diaz dengan pose rambut berdiri dan tersenyum, baju cerah di resto sudah sangat banyak di media social bahkan setelah dua puluh tahun berlalu. Sepintas kukira itu gaya rambut era 1990an yang sedang trend. Saya benar-benar belum nggeh sebelum nonton film ini. Makanya sungguh ikonik, keren, absurd bahwa seorang dokter ga mengenali bau benih, awalnya saya turut heran ketika Ted melakukan itu dengan gambar cabul di depannya, lalu saat ia mencari ‘tembakan’ terjatuh di mana, saya masih ga mudeng mau ke arah mana. Barulah saat pintu diketuk dan Mary tersenyum, ya ampun. Di kuping, diminta, dibuat gaya. Jorok dalam humor. Adegan ini jelas akan diingat, dibicarakan, digibah penuh tawa sampai seabad depan. Jambul rambut yang mengilhami.

Untuk menjadi film pelepas stress There Something jelas berhasil. Untuk jadi film romantis, nanti dulu. Adegan kunci ketika Mary kasih kunci kurasa terlalu menggampangkan. Kejutan fan 49ers yang mencipta perubahan keputusan juga ga kuat. Setelah panjang lebar dalam permainan kata dan naik turun hubungan, film berakhir dengan gitu doang. Makanya ini lebih ke film lelucon. Film untuk hahahihi, pengiring musiknya ditampilkan sambil lalu di jalanan, syukurin kena tembak. Proses jatuh hatinya dibuat lebai, akting sakit Tucker yang paling annoying. Openingnya kek kartun, dengan warna warni cerah dan menyeru kehangatan. Bagaimana bisa seorang gadis terjerat sama lelaki yang jalannya kek robot, sekalipun arsitek ternama. Jangan lupakan pula musik-musiknya, renyah dan sudah langsung nempel di telinga. Yang paling asal ya endingnya, dengan mudahnya Mary mencampakkan, lalu jatuh ke pelukan lain, lalu balik lagi, lalu kunci kebahagiaan, lalu kembali lagi.

That’s good point. Tapi ah… sudahlah, kenyataan hidup tak sebercanda itu.

There’s Something About Mary | Year 1998 | Directed by Bobby Farrelly, Peter Farrelly | Screenplay Ed Decter, John J. Strauss, Peter Farrelly, Bobby Farrelly | Cast Cameron Diaz, Matt Dillon, Ben Stiller, Lee Evan, Christ Elliott, Lin Shaye, W. Earl Brown, Brett Favre | Skor: 3.5/5

Karawang, 281119 – 041219 – Fire House – I Live My Love For You

Rekomendari Romantis ketujuh dari tujuh belas Bank Movie dari Bung Firman A. Thx.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s