Best Books of 2019

Best Books of 2019. Catatan akhir tahun.

Apa yang sudah saya katakan tentang ketidakmungkinan membuktikan dokrin-dokrin relijius mengandung sesuatu apa pun yang baru.” – Masa Depan Adalah Ilusi, Sigmund Freud

Tahun yang berat. Saya kembali menuntaskan baca 110 buku, persis tahun lalu, kupadatkan menjadi 35 buku tanpa satupun buku kumpulan puisi yang masuk daftar keren, lalu kusaring lagi menjadi 18 buku dan akhirnya menjelma angka cantik 14. Empat buku yang tersingkir adalah: Breakfast at Tiffany’s, Metamorfosis, Around the World in Eighty Days, dan Kumpulan Budak Setan. Temanya lebih beragam, non fiksi sekarang semakin banyak yang kutuntaskan. Tahun ini memang kumulai dengan tertatih, sungguh berat saya menapaki awal 2019. Tiga puluh satu buku Januari yang sudah dirancang langsung berantakan, kumpulan puisi yang rencana kubaca tiap bulan langsung lebur, bahkan komik yang mau kunikmati lagi tak tersentuh semuanya. Memasuki hari-hari dengan muram, memasuki bulan-bulan dengan suram, lalu waktu menyembuhkan. Hati yang kembali ditata, jiwa yang kembali kusiram petuah sejuk.

Berikut 14 buku terbaik yang kubaca tahun ini:

#14. Dalam Kobaran Api – Penulis Tahar Ben Jellous | Penerbit Circa | Tahun Terbit (edisi yang kubaca) 2019

Hebat. Penulis kelahiran Maroko, tinggal di Prancis bercerita tentang Tunisia dan efeknya. “Aku tidak menjelaskan apapun, ini adalah karya sastra.” Arab Spring, demi rasa keadilan. Kesenjangan sosial memicu revolusi, bukan hanya di satu Negara tapi regional lain yang menyelingkupi. Api yang memicu banyak hal, nyaman sekali kalimat-kalimatnya. Demi rasa keadilan. Tahar dengan cerdas memainkan ironi.

#13. Teh dan PenghianatIksaka Banu | Kepustakaan Gramedia Populer | 2019

Kumpulan cerpen memang menjadi otomatis bagus Bung Iksaka Banu. Buku yang memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini, merangkul sejarah Indonesia dalam balutan fiksi. “Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat, pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar…”

#12. Go Set A WatchmanHarper Lee | Qonita | 2015

Di mana iblis berada? Di sini di Maycomb. Kisah lanjutan novel legendaris ‘To Kil A Mochingbird’, sekarang Scout sudah dewasa jadi perantau di New York, buku ini berkutat di Maycomb saat liburan dua minggu yang menegangkan. Bagaimana orang tuanya yang sudah tua tetap bekerja membela kebenaran. Sabar, tenang dan menghanyutkan. “Aku mencintai ibumu.”

#11. Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang KeparatKedung Darma Romansha | Indie Book Corner | 2017

Cerita dari Indramayu yang keras. Makian dan umpatan berbagai kelas. Lha judulnya saja sudah misuh: Kisah Cinta yang Keparat. Buku ini hanya apes terbit bersamaan dengan tahun Dawuk rilis sehingga gagal menang. Cerita bagus memang harus membumi gini, asli tanpa banyak rekayasa. Benar-benar seolah bung Kedung mengamati kejadian, menjalani, menyusup lalu menulis sejarah sang Diva dengan beberapa modifikasi serta kiasan. Mungkin hiperbolis tapi cinta Safitri memang keparat. “Jalan setan itu banyak dan terlihat menggiurkan, godaannya macam-macam. Salah satunya dangdutan di seberang…

#10. The Story GirlL.M. Montgomery | Gramedia Pustaka Utama | 2019

Cerita anak-anak pada suatu masa di Amerika. Lucu, seru dan apa adanya. Benar-benar membumi, seolah ini adalah diari sang Penulis. Setara ‘Secret Garden’-lah, tapi ini lebih riuh dan ceria karena melibatkan banyak karakter. Ini juga cerita-cerita sederhana yang ada di sekeliling kita, di sekeliling penulis. Hal-hal yang umum, dirajut dengan sangat bagus. Kita bisa memaknai segalanya. Tak sabar baca lanjutan.

#9. Tango & SadiminRamayda Akmal | Gramedia Pustaka Utama | 2019

Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas. “… berusahan mengapai-gapai Tuhan…” adalah penutup cerita yang luar biasa. Hikayat kehidupan di sekitar sungai Cimanduy. Sisi gelap manusia dengan palacuran dan ruang lingkup sekitar, sisi terang dengan kehidupan haji Misbah yang memilki tiga istri, panutan warga yang setelah diungkap detail tak seterang yang dikira. Semua manusia ada sisi abu-abunya.

#8. AparajitoBibhutibhusan Banerji | Kepustakaan Populer Gramedia | 2016

Novel India terbaik yang pernah kubaca. Riwayat Apurbo dari masa kanak-kanak, perjuangan pendidikan, merantau ke Kalkuta demi menyambut masa depan gemilang. Inilah gambaran hidup sesungguhnya. Leela dan Aparna, cinta dan tragedi. Kisah luar biasa, ada dua tragedi hidup yang berat terkait orang terkasih. Ibu dan istrinya, dan letupan impian masa muda yang terus meronta untuk diwujudkan. “Beranjak dewasa berarti juga mempertaruhkan oprimisme masa kanak-kanak.”

#7. White FangJack London | Gagas Media | 2014

Kubaca dalam sehari dari siang sampai malam, di sela ibadah dan tidur di lantai satu Blok H nomor 279 hari Sabtu, 23 Feb 19. Ini semacam prekuel ‘The Call of the Wild’ yang sudah kubaca dua tahun lalu. Dituturkan dengan berkelas. Dengan resiko apapun harus bergerak, terus bergerak, karena gerakan adalah ekspresi dari keberatan. “Aku menyerahkan diriku di tanganmu, ketahuilah aku di bawah kehendakmu.”

#6. Dalih Pembunuhan MassalJohn Roosa | Kendi | 2017

Bencana kemanusiaan dari sisi lain. Kemelut kusut tanpa kepaduan, sejarah kelam Republik ini. Semua janggal sedari awal. Siapa dalang kudeta 30 September 1965 digali dan dilihat dengan berbagai sudut. Bagaimana kejadian itu sebelum, saat dan sesudahnya. Apapun itu ini adalah tragedi besar Indonesia yang efeknya sekarang dan masa depan. Dinsinyalir setengah juta warga meninggal, angka yang luar biasa besar. “… karena beragam peneliti menggengam beragam potongan data, maka hasilnya adalah munculnya beragam versi.” Dan ini salah satu versi paling blak-blakan.

#5. The Murder of Roger AckroydAgatha Christie | Gramedia Pustaka Utama | 2013

Dan ya, saya bisa menebaknya. Ada dua kalimat yang JELAS SEKALI yang menunjukkan sang pelaku, saya konsisten. Yakin dialah pelakunya. Terbukti. Salah satu yang terbaik dari Christie, dari Hercule Poirot. Jauh hari buku ini masuk kumpulan terbaik Poirot, ini adalah buku ke belasan yang kubaca dari Christie, sehingga alurnya sudah mulai kebaca. Klu paling penting di kisah ini adalah, sang pembunuh mencoba ‘bertahan’ tidak melaporkan insiden ini ke detektif paling fenomenal. “Hercule Poirot tidak pernah mengambil resiko mengotorkan pakaiannya, tanpa keyakinan akan memperoleh sesuatu yang diinginkannya…”

#4. NeverwhereNeil Gaiman | Gramedia Pustaka Utama | 2017

Ada Gaiman lagi tahun ini. Pertarungan malaikat, iblis dan makhluk bawah tanah London. Richard, manusia normal di atas tanah terjebak dalam permainan kotor. Fantasi luar biasa, kejutan akhir yang hebat. “Bagaimana aku bisa kembali normal?” Gaiman tak pernah mengecewakan. Marquis de Carabas yang tampak licik, benarkah?

#3. Dunia SophieJostein Gaarder | Mizan | 2012

Buku rangkuman filsafat yang luar biasa. Cara cepat belajar jadi filsuf. Butuh waktu empat bulan buat menuntaskannya. Hidup ini fiksi bagi mereka yang terjebak dalam ambiguitas. Sophie Amundsend yang menyaksikan bukti-bukti keberadaan kehidupan di sisi lain dunia, lalu muncul pertentangan yang nyata ia atau kedidupan seberang? “Dari mana datangnya dunia?”

#2. The Handmaid’s Tale Margaret Atwood | Gramedia Pustaka Utama | 2018

Para handmaid di masa depan, aturan absurd dan pertentangan tak berkesudahan. Gadis kerudung tunduk, pikiran penuh luapan teriak. “Mungkin hidup yang kupikir kujalani ini adalah suatu delusi paranoid. Dalam kesaksian lebih baik mengarang sesuatu daripada bilang tidak punya apa pun untuk dibeberkan.”

#1. SapiensYuval Noah Harari | Kepustakaan Populer Gramedia | 2018

Buku yang luar biasa. Tiap sepuluh kalimat kubaca, kubaca ulang separuhnya. Nikmat di tiap lembarnya. Pengolahan kata menyusup kalbu. Bagaimana bisa buku sejarah menjelma thriller, manusia sejak dulu kini dan yang akan datang, dalam radius mengerikan. “Orang-orang yang hidup saat itu tidak melakukan hal-hal yang penting.” Mengibaratkan Peugeot dengan sangat jitu, membelalakan mata, mencerahkan imaji, membuat ngeri. Manusia dan segala revolusi umat.

Bagaimana dengan tahun 2020? See ya…

Karawang, 311219 – Roxette – Spending My Time

Harbolnas Pertamaku

Kegembiraan dalam dunia ini, hanya berguna untuk menggelisahkan. Dan renggutlah setiap rantai, demi keadaan hati yang penuh kegirangan.” Rumi

Saya baru ikut beli buku daring itu sekitar tahun 2015. Tanpa instal platfon tempat beli. Beberapa bulan kemudian diminta pasang ‘Buka Lapak’ karena gratis ongkos kirim (ongkir), ikut saja. Kulepas lagi platfonnya setelah selesai. Lalu ganti ‘Shopee’, yang juga gratis ongkir. Kemudian lepas lagi. Selain karena memori kecil, aplikasi yang sifatnya kurang manfaat memang kupakai sesaat saja. Termasuk gojek, grab, permainan yang buang waktu, sampai aplikasi receh semacam alat bantu. Semua lepas. Unfaedah!

Pertama beli di mizanstore.com tahun lalu, saat ada diskon 30% beli dua buku Winnie The Pooh dan A Man Called Ove, masih kena ongkir. Beberapa bulan kemudian, tepatnya 12/12 2018, saya turut ikut perayaan konsumtif ini dengan membeli beberapa buku. Sayangnya, saya ga paham aturannya, ternyata jeda waktu dari klik keluar di keranjang ke bayar hanya empat jam. Saya transfer ke mesin atm lebih dari enam jam. Maka dana dikembalikan. Seharusnya jadi yang pertama, tapi gagal.

Tahun ini sudah antisipasi. Di mizan store, gelaran diadakan dua hari: 11-12/12. Saya turut di hari pertama, sejak pagi saya sudah pantengin. Kerja ga konsen karena kepikir mau klik mana saja. Salah lagi, setelah klik keluar, saya salah pilih cara pembayaran. Klik virtual harusnya bca manual. Sempat chat sama mbak-nya yang di pojok kanan bawah, minta tolong diganti. Ga bisa, harus mulai sedari mula lagi. Akhirnya faktur pertama dibiarkan, hangus sendiri nantinya. Padahal ada Chomsky yang kena 38k, ketika saya ulang bukunya sudah habis. Hiks. Cari buku Anton Kurnia juga habis semua. Buku-buku yang kena diskon 70% yang bagus terbatas dan cepat-cepatan. Diskon 50% masih banyak yang bagus.

Budget saya juga terbatas 200k jadi harus benar-benar pilih pilah. Dan dengan budget segitu dapat Sembilan buku bagus. Bisa! Setelah klik keluar seharga 200,5k, ongkir 20k dapat free 15k dengan jne, total belanja saya di pengalaman pertama harbolnas saya 205.502, ditulung teman kerja yang punya m-banking yang transaksi pakai HP! Fufufu… ga perlu ke mesin atm.

#1. Cannery RowJohn Steinbeck
Sebenarnya inilah buku yang paling saya incar. Tahun ini saya selesaikan baca ulas Kamis Yang Manis yang ternyata adalah sekuel ini. Jadi saya sudah baca seri dua, karena puas kisah Mac dan Doc maka seri pertama sudah harus kutuntaskan juga. Diterjemahkan oleh Penulsi favorit Eka Kurniawan.

#2. The Red-Haired WomanOrhan Pamuk (69k diskon 50% – 34.5k)
Akan jadi buku pertama Pamuk yang akan kubaca. Tahun lalu masuk ke keranjang beli yang gagal dikirim. Blank sama sekali sama kisah pemenang sastra nobel tahun 2006 ini.

#3. ZiarahIwan Simatupang (49k diskon 50% – 24.5k)
Sebagai buku pemenang Roman ASEAN tahun 1977. Novel lama yang bertahan terkenal sampai sekarang.

#4. The Woman in BlackSusan Hill (55k diskon 73% – 15k)
Filmnya diadaptasi dengan bintang Daniel Redcliff. Menyeramkan. Buku klasik, mari kita lihat.

#5. FiestaErnest Hemingway (64k diskon 50% – 32.5k)
Pemenang sastra lagi. Semua bukunya yang sudah kubaca bagus. Terkenal dengan kalimat singkat padat ga bertele.

#6. Agnes GreyAnne Bronte (20k diskon 20% – 15k)
Emily Bronte sih belum baca, tapi adaptasi mini serinya keren. Kalau Charlotte Bronte sudha kenal semua dong sama Wuthering Heighs itu. Ini saudarinya lagi.

#7. RafilusBudi Darma (69k diskon 50% – 34.5k)
Akan jadi pengalaman pertama juga sama Budi Darma. Namanya sudha termasyur sejak dulu kala, baru kesampaian beli bukunya.

#8. A Fair Lady & A Fine GentlemanJane Austen (30k diskon 50% – 15k)
Hard kover dengan kalimat penggoda, kutipan-kutipan terbaik. Kolektor edition ini sih.

#9. Lady SusanJane Austen (12k diskon 17% – 10k)
Bakalan jadi buku pertama Austen yang akan kubaca. Saat ini sudha dapat separuhnya. Surat-surat yang bertutur. Klasik.

Rencana kesembilan buku ini akan kubaca ulas di blog di bulan Januari 2020. Mengingat padatnya jadwal baca, sepertinya ini harus jadi prioritas setelah daftar film Romantis BM. Mari kita nikmati.

Karawang, 211219 – Roxette – Spending My Time

Thx to Titus Rian P. Thx mizansore.

The Irishman: Roti Celup dan Kenikmatan Tiap Tetes Detiknya

Bahwa lebih mudah bagi seekor unta untuk melewati lubang jarum daripada orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” – Matius 19:24

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Sangat indah, sangat spiritual, sangat tepat, sangat memukau. Meski mengandung pesan pasif dalam tiap geriknya di usia senja. Untuk merangkum dalam satu kata adalah ‘Wow’. No doubt, The Irishman adalah film terbaik tahun 2019 sejauh ini. Tiga setengah jam yang wow. Ya wow, serius. Inilah film yang benar-benar berhasil memenuhi ekspektasi setelah hype berlebih Parasite dan Joker. Kenikmatan gambar gerak tiap tetes detiknya. Ketika tahu durasinya yang melimpah, biasanya kita seolah menyantap menit-menit yang menjemu bak menyaksikan seekor semut bergerak membawa beban. Irishman adalah film tutup tahun yang sempurna. Ini adalah film reuni para maestro cinema. Dengan tema mafia, dengan usia tiga pemeran utamanya tua, termasuk sang sutradara, pemirsa disuguhi akting berkelas tiada dua. Nominasi Oscar pasti, juara sekadar bonus. Mayoritas ngegoliam, ngerumpi, ngobrolin banyak hal di usia senja. Reuni di penjara, main lempar bola jauh-jauhan. Wkwkwkk… seperti itulah hari tua yang sesungguhnya. Kunyah roti sudah ga kuat, dicelup dulu dan dengan masih sangat fasih misuh, ‘fck em fck em’. Oscar for Joe Pesci please! Sejatinya ini adalah jawaban yang menohok Martin atas suara kontra tentang kritik wahana MCU-land beberapa waktu lalu. Selamat datang di wahana-cinema sesungguhnya. Andai tayang di bioskop dengan tambahan durasi director’s cut pun akan saya tonton lagi, dan lagi.

Kisahnya tentang seorang veteran perang yang bernarasi masa lalunya. Masih ada saat-saat ia merenung. Jalan macam apa yang telah ia pilih. Seperti tiap laki-laki yang karena jasanya, ia tetap memiliki memori kuat pada kejayaan. Seorang pengecat rumah istimewa. Cerita berlapis, dari masa awal sekali ia menjalin kerja sama dengan lingkar mafia, lalu lapisan kedua tentang perjalanan bermobil untuk menghadiri pesta pernikahan, dan lapisan terakhir ya present day. Hari ini ia bertutur di panti jompo dengan nuansa langit kelabu, angin lembab. Pada saat itulah seolah ia memulai hidup ketika dimana orang lain cenderung menyia-nyiakan waktu. Frank Sheeran (Robert De Niro) adalah sopir pengantar daging, truknya error, di rest area ketika bongkar mesin, disamperin seorang tua yang membantu mengatasinya. Sempat berjabat tangan memperkenalkan diri, tapi Frank tak mendapati namanya. Warna pucat daging, kontras dengan semangat berapi-api di dalamnya. Barulah beberapa hari kemudian, ketika ia kena kasus ‘hilangnya daging’ dibawa ke pengadilan, ditangani pengacara hebat, memenangkan kasus yang bahkan ia sendiri sejatinya salah, dan sang pengacara menjadi rantai perkelanaan dengan Russell Bufalino (dimainkan dengan hebat oleh Joe Pesci), orang yang membantu menemukan masalah perseneling truk.

Russ bukan hanya pemilik toko atau sebuah pertamini di rest area, ia ternyata adalah pemilik seluruh jalanan. Mafia yang menguasai wilayah itu. Russ menautkan kebanyak hal. Proyek pembunuhan pertama Frank justru malah untuk sang Whisper, orang yang membayarnya guna membakar pabrik laundri. Saat Frank akan menjalankan aksinya, ia diminta ikut ketemu Angelo Bruno (Harvey Keitel) dengan Russ disampingnya. Keganjilan yang tampak menjanjikan, hukum moral sudah tak berlaku. Menjelaskan, siapa pemilik saham laundri? Aku! Wow, ekspresi Frank yang terkejut bagus banget. Ia berencana mengembalikan uang pangkal, tapi tidak. Justru Frank diminta menghabisi Whisper. Pistolnya dibuang ke sungai dekat jembatan, dan betapa sungai adalah museum karat untuk senjata bukti pembunuhan.

Dalam narasinya, Frank berujar bahwa anak muda sekarang mana kenal Jimmy Hoffa (Al Pacino)? Sering ia mengangkat kedua ujung bibirnya. Senyum yang sedikit terdistorsi, dari keputusasaan, kerinduan masa lalu. Karena memang tak ada banyak klu, penyelidikan mandek. Dilanda waktu, zaman, hening dan muram. Jimmy menghilang di tahun 1975 tanpa banyak perkembangan penting. Kita jadi saksi, penonton jadi saksi. Frank lalu menuturkan link bagaimana ia diperkenalkan sama sang ketua Serikat kerja International Brotherhood of Teamsters. Frank disebut sebagai pengecat rumah. Jimmy adalah yang terbesar era tahun 1960an. Jimmy adalah seorang orator ulung, organisator yang luar biasa kharismanya. Sebagai mafia jalanan, proyeknya melimpah. Sikat kanan-kiri yang menghalangi, sebanyak kawan-kawannya, musuhnya juga melimpah.

Pada akhirnya Jimmy masuk penjara. Di penjara, terjadi konfliks horizontal sama temannya sendiri Anthony ‘Pro’ Provenzano (Stephen Graham), ia meminta uang pensiun. Baku hantam antar kakek-kakek. Keluar penjara, masalah belum juga selesai di antara mereka. Meeting, si Pro pakai celana pendek, telat 10 menit? 20 menit? Ya udah tengah-tengah 15 menit. Wkwkwkk… adegan aneh. Baku hantam lagi, menyenangkan sekali lihat Al Pacino masih bisa nabokin orang. Rantai kekuasaan di dalam serikat ditentukan oleh kekuatan mental dan sosial ketimbang arogansi. Sebuah pemandangan yang membuat kita terbakar dengan rasa sakit dan harapan.

Adegan trenyuh tersaji saat tragedi penembakan Presiden John F. Kennedy. Dengan latar sebuah kafe, menyaksikan kejadian besar itu lewat televisi. Lalu saat akhirnya bendera setengah tiang dikibarkan, Jimmy yang melihatnya di gedung ga rela, ia pun menaikkan sang Stars and Stripes sampai ke puncak. Sebuah tindakan berani. Sebuah arogansi yang nantinya ditampilkan sampai menit-menit akhir. Arogansi, merasa masih punya kuasa, dan kunci itu merasa ia simpan, nantinya berakibat fatal. Sangat fatal, manusia kuat yang tak tahu kapan saatnya pensiun.

Seluruh perkembangan film merupakan pendakian yang menantang dan menuju kehormatan, sebuah pengandaian yang menentang semua rintangan keraguan dan ironi. De Niro sebagai narator bermain tenang, dia melakukan itu dengan perlahan dan tekun. Mengingat santuy pada suatu petualangan kriminal dan sunyi dalam malam yang kelam, terlebih lagi mengingatkannya pada kematian, peti mati, dan pemakaman yang menjemukan, perjalanan final tanpa kata. Untuk mengerti semuanya adalah dengan memaafkan semuanya.

Setiap jeda bernarasi, sesaat tenggelam dalam pikiran. Kecenderungan kecil untuk menyelinap dalam keanehan yang tidak masuk akal, sebuah sensasi yang tidak bisa dia jelajahi sepenuhnya. Di ruang kosong yang tak bisa diukur itu, indra tentang waktu ikut menderita dan linglung dalam kebingungan tak berbentuk. Rasa kesadaran yang mengigit dan pahit. Sinema hening memang semenakjubkan ini kawan!

Orang-orang sekeliling menganggap penyelesaian adegan pasca ikan itu masuk akal. Menyerukan kata-kata yang terdengar seperti kata sandi pada dialog ikan, dan namanya yang tak tersebut demi kenyamanan bagai keranda jenazah. Kehidupan mengalahkan diri sendiri, kehidupan yang keras, mapan dan rumit, mengubahnya menjadi sebuah simbol kepahlawanan, dengan ‘mainan’ sebagai tuannya. Maka ketika teman-teman seangkatan sudah pada meninggal, apanya yang perlu diumumkan? Setelah beberapa tahun kegelisahan dan banyak percobaan, diam adalah pilihan bijak. Takdir tampaknya melanggar garis waktu, ini adalah seni yang membentuk fisiognomi semacamnya yang merupakan ciri menua dan menanggung beban pikiran.

Ini adalah film dengan Budget Netflix termahal menyentuh 169 juta dollar. Durasi terpanjang karya Martin. Mencipta banyak ledakan, benar-benar ledakan bukan layar hijau dan peremajaan wajah para pemeran. Para manula ini jadi tampak tamvan bahkan kalau Nicholas Saputra dan Aliando digabung. Rambutnya disisir rapi, menipis di dahi, berwarna abu-abu, alis menjulang dan dahi penuh kerut. Disulap tampak muda 50 tahun. haha…

Pas jelang akhir Frank ditanya duo polisi, seolah mendesak mencerita fakta. Dia harus bersandar pada keserasian batin, dan persamaan antara nasib personal dari rekan-rekan sezaman. Kukira keputusan tepat sudah diambil. Penghormatan hak pada aristokrat. Membuat dunia tetap dalam kebingungan dan mempesona, pikiran dan ingatan hingga jiwa lupa akan wataknya sendiri karena kegembiraan dan dengan kekaguman yang melekat.

Diadaptasi dari buku karya Charles Brandt berjudul ‘I Heard You Paint House’, merupakan biografi kriminal yang elok nian. Dengan cerdik, film ini menuliskan akhir hidup beberapa karakter sepintas ketika awal muncul di layar. Di akhir kisah, kita merasakan kelegaan Frank, seolah ia berteriak lantang kepada kalian, “Bukan peti mati yang kubeli atau liang lahat yang menantiku, aku akan tetap di sini selama kau juga ada di sini wahai para penonton! Masih kuat tiga jaman lagi?

Bukankah ketiadaan merupakan bentuk kesempurnaan? Karena manusia saling menghormati manusia lain selama tidak saling menghakimi, dan hasrat bertahan hidup hingga tua adalah produk terlabeli. Tidak ada yang lebih aneh dan canggung karena rahasia, daripada hubungan dua orang yang ditautkan karena profesi tukang cat!

Menyenangkan sekali menyaksikan Al Pacino ngoceh. Mengamati rambut abu-abu, wajah lelah dan garis wajah yang lugas. Jauh dari citra membosankan, di sisi lain eksentrik, kejeniusannya kukira akan memenangkan piala tertinggi perfilman. Satu, dua atau malah ketiganya. Seseorang masih bisa memiliki resolusi moral setelah menyelami kepahitan hidup.

Kegembiraan dan rasa lelah di waktu yang sama. Sebuah lagu multi-sajak menghanyutkan.

The Irishman | Year 2019 | Directed by Martin Scorsese | Screenplay Steven Zaillian | Story Charles Brandt | Cast Robert De Niro, Al Pacino, Joe Pesci, Harvey Keitel, Ray Romano, Bobby Cannavale, Anna Paquin | Skor: 5/5

Karawang, 051219 – 131219 – Roxette – Sleeping in My Car

I am just trying to understand how a person can buy a fish and not know what kind it was.”

Kusaksikan dalam beberapa tahap, ini sebagai catatan nikmat saja:

1/12 2” jam 23:30 di tempat tidur

2/12 23” jam 12:30 di mushola kantor

2/12 1’ 29” jam 17:15 di ruang meeting Integrity

2/12 1’ 48” jam 21:00 di Rumah Sakit Dewi Sri

3/12 2’ 14” jam 12:00 di meja kerja

3/12 3’ 29” jam 17:09 di ruang meeting Integrity

Done!

There’s Something about Mary: Jambul Rabut yang Mengilhami

Ted: Japan? What’s she doing in Japan?

===mungkin tulisan ini mengandung spoiler===

Semua fokus pada Cameron Diaz seolah ia adalah pusat semesta. Cantik. Muda. Pirang. Dan jambul rambut yang bikin istigfar.

Kisahnya memang tertuju utama ke Mary Jensen (Cameron Diaz). Cameron Diaz sedang gemilang, aktris romantis era 1990an. Beberapa filmnya mungkin sudah kutonton, tapi ga ada yang lebih memorable dari Charlie’s Angel yang saat ini kena reboot. Namun sudut pandang dipegang oleh Ted Stroehmann (Ben Stiller). Di tahun 1985, di akhir masa sekolah, jelang acara pesta dansa ia mengajak temannya yang dijawab dengan gantung. Ted jadi lelaki cadangan, rencana samping sang gadis bila inceran utama ga nawari. Maka dalam insiden unik, dengan adik Mary yang terjebak di dunia anak, Warren (W. Earl Brown) yang mencari bola dan sensitif telinganya. Hal mengejutkan adalah Mary tahu namanya, momen gadis tercantik mengetahui namamu saja membuatmu berdegub. Lalu mengantarnya pulang, kejutan berikutnya justru Mary yang menawarkan diri untuk pergi pesta dansa bersama. Ted si freak, culun, dan kaku tentu saja shock. Tampang Stiller mainkan mimik awkakwa. Bangga akan berdansa dengan idola sekolah. Namun sayangnya berakhir dengan bencana, saat dijemput terjadi insiden resleting di kamar mandi.

Kisah cinta remaja ini berakhir ejakulasi. Memorinya bertahan lebih lama, dan terbenam dalam kepala. 13 tahun kemudian, kita menemukan sebuah dilema. Tanpa kabar dan terpisah jarak, Ted memutuskan mencoba mencari tahu kabar cinta remajanya. Ia pun menyewa detektif swasta Healy (Matt Dillon) untuk menyelidiki status, keadaan dan segala hal yang menarik perhatian. Pokoknya update Mary minta tolong dilacak. Andai Ted hidup di jaman now, tinggal cari di facebook. Sempat ragu, tapi tetap rasa penasaran itu harus dituntaskan. Hal menariknya Healy memberi data fakta palsu, menjelek-jelekkan Mary. Ia bahkan resign dari pekerjaannya. Dalam momen awkwk, penyelidikan di apartemen dengan teropong, ia memutuskan jatuh hati.

Ternyata sang detektif menuju Florida, memainkan sandiwara. Dari hasil pengamatan, betapa Mary menyukai pria arsitek, suka jalan-jalan, suka pria yang tak terikat waktu kerja sampai hal-hal ideal yang kelak jadi pasangan. Healy memanipulasi keadaan sehingga ia tampak pria yang dicarinya, pria ideal yang ada dalam bayang, lambe lamis, menipu banyak hal. Nah, suatu malam ia diajak ke pameran arsitek secara mendadak, berkenalan dengan Tucker (Lee Evans) yang ada masalah di kakinya sehingga memakai penyangga dua. Diskusi tentang bangunan yang sudah dicipta, tampak jelas Healy bohong. Nantinya ketika di cek di lulusan Havard pun ia tak ada.

Sementara Ted yang kecewa, menemukan fakta aneh tentang sang detektif dari Dom (Chris Elliott) sobatnya. Maka iapun meluncur ke tempat pujaan hati. Dalam perjalanan penuh bahaya, menaikkan penumpang gelap seorang pembunuh, istirahat di area umum malah ke-gap komunitas gay padahal ia hanya mau buang air kecil, dan di mobilnya ditemukan karung berisi mayat. Sempat ditahan, tapi penyelidikan lebih lanjut melepasnya. Karena ini film komedi maka segala proses di sini dibuat santauy maksimal.

Sesampainya di Florida, ia pun menyapa Mary, dan langsung klik lagi. Warren masih ingat, dan dalam waktu singkat mereka akrab. Mary adalah dokter bedah, wah makin naik derajatnya. Satu apartemen dengan wanita tua yang aneh jua dengan anjingnya yang juga aneh. Magna (Lin Shaye) dan kerutan waktu. Ketika kerumitan kisah jelang akhir, ke mana hati Mary berlabuh, kita akhirnya mengetahui betapa para pria ini mendamba cintanya, termasuk Tucker sang pizza boy. Bahkan di klimaks kisah, kekasih Magna pun melakukan tembakan yang tak kalah aneh, kepada pengisi soundtrack yang bermula dari cintanya pada Mary. Absurd cara isi musik, para pemainnya ditampilkan seolah musisi jalanan yang bersenandung untuk pemirsa. Si pemain gitar (Jonathan Richman) yang apes.

Ini baru film komedi romantis yang sesungguhnya. Komedinya lebih dominan, sangat dominan malah ketimbang sisi percintaan. Menumbar tawa garing, hal-hal penting di sini dipandang remeh. Bagaimana bisa laki-laki di sekeliling jatuh hati semua terhadap Mary? Tentunya ia begitu istimewa. Sangat istimewa. Saya mengenal Cameron Diaz justru dari poster besar yang dipasang di kos temanku. Seorang maniak film yang memajang gambar artis dengan pose menantang. Saya yang masih awam menanyakannya, ia jawab dengan enteng Diaz. Apa kabar temanku di Cikarang, tempat tumbuh masa labil. Ruang lain 31 yang kurindu.

Salah satu yang paling dikenang di film ini jelas adalah jel rambut. Gambar Diaz dengan pose rambut berdiri dan tersenyum, baju cerah di resto sudah sangat banyak di media social bahkan setelah dua puluh tahun berlalu. Sepintas kukira itu gaya rambut era 1990an yang sedang trend. Saya benar-benar belum nggeh sebelum nonton film ini. Makanya sungguh ikonik, keren, absurd bahwa seorang dokter ga mengenali bau benih, awalnya saya turut heran ketika Ted melakukan itu dengan gambar cabul di depannya, lalu saat ia mencari ‘tembakan’ terjatuh di mana, saya masih ga mudeng mau ke arah mana. Barulah saat pintu diketuk dan Mary tersenyum, ya ampun. Di kuping, diminta, dibuat gaya. Jorok dalam humor. Adegan ini jelas akan diingat, dibicarakan, digibah penuh tawa sampai seabad depan. Jambul rambut yang mengilhami.

Untuk menjadi film pelepas stress There Something jelas berhasil. Untuk jadi film romantis, nanti dulu. Adegan kunci ketika Mary kasih kunci kurasa terlalu menggampangkan. Kejutan fan 49ers yang mencipta perubahan keputusan juga ga kuat. Setelah panjang lebar dalam permainan kata dan naik turun hubungan, film berakhir dengan gitu doang. Makanya ini lebih ke film lelucon. Film untuk hahahihi, pengiring musiknya ditampilkan sambil lalu di jalanan, syukurin kena tembak. Proses jatuh hatinya dibuat lebai, akting sakit Tucker yang paling annoying. Openingnya kek kartun, dengan warna warni cerah dan menyeru kehangatan. Bagaimana bisa seorang gadis terjerat sama lelaki yang jalannya kek robot, sekalipun arsitek ternama. Jangan lupakan pula musik-musiknya, renyah dan sudah langsung nempel di telinga. Yang paling asal ya endingnya, dengan mudahnya Mary mencampakkan, lalu jatuh ke pelukan lain, lalu balik lagi, lalu kunci kebahagiaan, lalu kembali lagi.

That’s good point. Tapi ah… sudahlah, kenyataan hidup tak sebercanda itu.

There’s Something About Mary | Year 1998 | Directed by Bobby Farrelly, Peter Farrelly | Screenplay Ed Decter, John J. Strauss, Peter Farrelly, Bobby Farrelly | Cast Cameron Diaz, Matt Dillon, Ben Stiller, Lee Evan, Christ Elliott, Lin Shaye, W. Earl Brown, Brett Favre | Skor: 3.5/5

Karawang, 281119 – 041219 – Fire House – I Live My Love For You

Rekomendari Romantis ketujuh dari tujuh belas Bank Movie dari Bung Firman A. Thx.