Notting Hill: Ketika Realita Lebih Indah dari Khayalan

Anna: Her most famous part. Men went to bed with the dream, they didn’t like it when they would wake up with the reality. Do you feel that way?

Impian liar semua laki-laki bisa dilihat dalam frame film Notting Hill. Bahkan mulanya untuk dibayangkan saja, rasanya ga berani. Seorang penjual buku traveling, William Thacker (Hugh Grant) yang tinggal di distrik Notting Hill, London Barat. Orang biasa kebanyakan yang menjalani rutinitas pekerjaan. Toko buku di era peralihan digital, ga ramai tapi masih menguntungkan. Suatu hari ia kedatangan calon pembeli, seorang artis besar Hollywood, Anna Scott (Julia Roberts). Saking terkenalnya, kedatangan ke London menginap di hotel Ritz dipenuhi wartawan. Maka ketika ia jalan-jalan mengenakan kacamata, wajar.

William emang istimewa, seorang yang ga suka gibah, ia tak tahu yang berkunjung adalah orang tenar. Setelah transaksi dan basa-basi, bersama pegawainya ia ngopi, lalu cari jus dan disinilah pemicu segalanya terjadi. Balik dari warung ia bertabrakan dengan Anna sehingga baju depannya basah, iapun menawarkan bantuan untuk ke rumahnya untuk ganti baju. Dan sesaat sebelum pamit, dengan canggung di depan pintu terjadi ciuman mulut, kilat tapi terasa istimewa. Wew, orang asing terkenal, tatap-tatapan, jeda yang hening dan kiss kiss. Imaji paling liar pun ga nyampai. Ini artis besar, sangat besar!

Hubungan berikutnya seharusnya lebih mudah. Kerikil ada, sandungan ada, bentakan, marahan, ngambek ada. Namun jelas, ini adalah film komedi romantis yang sangat mudah ditebak. Happy ending pastinya terjadi. Kalau saya menyebut Our Time adalah film yang menampilkan kebahagiaan yang hakiki, maka ini jauh lebih manis, hakiki di atas hakiki, tumpahan gula bukan hanya setoples, tapi melimpah ruah satu truk gula dihambur-hampurkan sepanjang Portobello road.

Makan malam merayakan ulang tahun adik, tamunya aktor Hollywood. Gilax, artis lokal saja dah heboh kok. Ketemu sama keluarga Will, salah satunya pialang saham. Lucu juga dia pening lihatin grafik, untungnya per tahun ga seberapa. Beraninya nanya penghasilan artis? Dijawab 15 juta Dollar, gaji Julia sesungguhnya di film ini. Sang pialang saham adalah kita, tertohok. Wkwkwk… Jalan kaki di malam hari bertabur bintang di jalanan yang tenang sambil ngobrol berdua, sungguh menyenangkan. Sungguh wow. Mungkin tanganku harus dimasukkan ke saku celana saking gemetarnya. Disandingkan Celine dan Jesse pasti kita berharap bisa main kuis ‘siapa lebih romantis’. Lompat pagar masuk taman tanah pribadi, duduk di kursi bercengkeraman mesra dan diiringi lagu Ronan Keating. Luar biasa, nikmat mana yang kau dustakan? Sampai di sini, saya baru sadar ternyata ost-nya akhir era 90an memang sedang di puncak. When You Say Nothing At All bahkan identik dengan film ini, kok saya bisa lupa ya? Padahal dulu MTV Most Wanted saban sore hari muterin debut solo karier Ronan.

Sepulang jalan-jalan, di hotel diajak ke kamar. Weleh. Kerikil pertama dilempar, Anna mendapat kejutan kunjung pacarnya Jeff King (Alex Baldwin) merusak rencana indehoy mereka. Anna ternyata punya pacar, fakta ini tak diketahui Will karena ia memang tak ikuti gosip. Kelar? Ah ini sih bumbu drama hubungan saja. Mereka toh jalan lagi. Pas makan malam, ada cowok-cowok gibah tentang Anna Scott sama Meg Ryan, hotan siapa coba? Anna sih kalem, tapi William marah ketika mereka menyebut artis Amerika gampangan, Anna cewek gampangan. Diakhiri dengan tampilan Anna menohok. Keren? Yeah, ini film mereka, santuy aja.

Imaji paling tinggi ditampilkan di sini, ketika Anna yang kzl dikejar paparazzi memutuskan nginep di tempat tinggal Will. Yah, tahu sendirilah akhirnya bagaimana, sejatinya usulan Will tidur di sofa hanya lamis lambe tipis. Spike freak (Rhys Ifans) teman sekosnya yang ngoceh aneh ‘kalau kamu ga mau, gmana kalau saya saja’ hanyalah guyon garing kek keripik kering. Maka terjadilah hal-hal yang diinginkan, di dini hari dengan kamera menyorot dari belakang Anna, atasan diturunkan. Pada mimisan dah menatap nafsu punggung terbuka Julia Roberts.

Tanda-tanda hubungan mereka berakhir coba diapungkan. William ngadain voting sama keluarganya, lanjut ga nih? Anna pamit, ia akan segera balik Amerika. Bahkan keluar kata-kata kasar-pun penonton waras dengan mudah bisa menebak akhirnya. Ketika di lokasi shooting, tak sengaja mendengar kalimat ‘teman biasa’ sama warga London. Heleh, riak kek buih septitenk. Dengan penuh gaya balap mobil di kepadatan lalin London, dibuat dramatis ketika di hotel Ritz, Anna dah check out, yang ternyata sedang adain konferensi pers di hotel lain. Boom, semua bahagia selamalamalamalamalamalamanya.

Di akhiri dengan sangat manis di kursi taman, Will baca buku, Anna tiduran di pangkuan dengan mengelus perut buncit. Ini adalah ejawantag dongeng Disney yang sesungguhnya. Realita > Khayalan.

Notting Hill mematik imaji saya. Saya penggemar buku, Will punya toko buku. Walau beda genre, karena calon pembeli tanya novel Charles Dickens dipelototin. Tanya Winnie The Pooh dikesalin. Berbanding terbalik sama koleksiku, buku panduan wisata ke Lubang Buaya ga akan kalian temukan, buku traveling ala Trinity Optima Production jelas akan kujual kiloan buat bungkus tempe mendoan. Pun, buku-buku Jejak Petualang ala Upin Ipin. Rak-ku mayoritas adalah novel! Poinnya adalah kesamaan di buku saja, catet.

Imaji kedua adalah jreng jreng jreng…, kalian pastinya tahu saya adalah seorang Sherina Lover nomor satu di dunia akhirat. Ga ada yang ngalahin, bahkan mungkin bapaknya shock cintanya tersaingi. Bayangkan, kamu sedang santuy sama buku (saya ga punya toko buku, jadi anggap saja saya pengunjung juga), tiba-tiba ada Sherina masuk menyapamu, menyukai buku kamu baca, ngobrol saru lalu ketika di jalan baju Sherina kena tumpahan kopi (saya jarang minum jus), lalu saya tawarkan Sherina untuk ganti baju ke rumah, lalu selama semenit lirik-lirikan terjadilah ‘hal-hal yang diinginkan’. Duuh, Listerine-ku dah habis tanggal tua.

Lalu sepanjang jalan Galuh Mas, Karawang jalan kaki malam hari bertabur bintang, ngobrolin banyak hal, ada pegamen nyanyiin lagu romantis. ‘Sher saya punya lagumu komplit lho’, ‘serius Mas Budy?’, ‘iya, dalam bentuk mp3.’ Hening, lalu ia marah karena harusnya dah bentuk sportipi atau jukz. Suatu hari tiba-tiba ia datang lagi, mau pinjam bukunya Haruki Murakami yang 1Q84 (anggap saja ini alibi) lalu bilang lagi kzl sama Ayah Triawan Munaf, boleh nginep ga? Duuerrrr… lalu pas mau buka kaus kaki, May buka pintu. Kejutan! Merusak fantasi. Iya May, saya tiap libur masih setia cuci piring kok. Lalu dan lalu dan lalu… begitulah. Notting Hill hanya akan tetap indah di layar. Our Times saya sebut bahagia hakiki, Before Sunrise saya sebut kesempatan ketemu Celine di kendaraan umum hanya satu per sejuta kesempatannya. Maka Notting Hill adalah imajinasi fantasi yang keterlaluan tingginya. Kejadian langka yang bahkan komet Halley sudah timbul tenggelam seribu kali, baru sekali kejadian. Sherina dijampi pakai pelet ajian goyang Karawang-pun ga akan luluh untuk menikahi kutu buku misquen. Iya, kalian yang beli buku daring pakai Shopee gara-gara gratis ongkir.

Sesaat setelah nonton film ini, saya langsung #unboxing bukunya Henry James: Daisy Manis karena di film ini Anna ada proyek film adaptasi novella beliau: ‘The Siege of London’. Bukunya tipis, hanya perlu sejam baca selesai. Makhluk Anna ki langka.

Ketika ia bilang ‘Rita Hayworth used to say, “They go to bed with Gilda, they wake up with me.”’ Saya membayangkan ia berkata, ‘May used to say, “They go to bed with Sherina, they wake up with me.”’ Itulah kenapa hiu putih harus dilindungi. Lalu mengalunlah lagu klasik fenomenal Elvis Castello: SHE!!!

Notting Hill | Year 1999 | Directed by Roger Michell | Screenplay Richard Curtis | Cast Julia Roberts, Hugh Grant, Richard McCabe, Rhys Ifans, James Dreyfus, Alec Baldwin | Skor: 4/5

Karawang, 291119 – Deep Purple – Soldier of Fortune

Rekomendari film romantis keenam Bank Movie ini dipersebahkan oleh Bang Oja. Thx.