Gully Boy: Ideologi Rap dan Konsekuensinya

“… Akan kuubah mimpiku untuk disepadankan dengan realitaku. Aku ingin ubah realitaku agar sepadan dengan mimpiku. Tuhan telah memberiku hadiah, aku takkan mengembalikannya. Keputusanku sudah bulat.”

Selama ada kehidupan, harapan selalu ada untuk mewujudkan mimpi adalah tema film yang sangat umum. Sudah jutaan kali dibuat. Gully Boy hanya gelintir itu. Saya lebih mengenal musik rap dari Amerika, yang umum saja dari Eminem, Kanye West, 50 Cent sampai Puff Daddy, bonus Mike Shinoda demi Linkin Park. Sejarah musik berakhir dengan gairah dan ledakan keberanian. India? Alamak, baru kali ini saya menyaksikan ada yang nge-rap bahasa Hindi. Untung terjemahan filmnya bagus (thx a lot Rafli_Khan), yang bahkan adu rap dialihbahasakan dengan lugas. Banyak kalimat puitis, banyak romantisme, karena ditulis oleh mereka yang langsung bersentuhan dengan jalanan, seakan memang curhat penyanyi kepada pendengarnya, ini lho kehidupan masyarakat kelas bawah, seadanya, mengalir apa adanya. Seru menyaksikan rapper menyatu gitu, great act put together. Bertahun-tahun sejak sekarang, akan ada potongan adegan film ini yang akan dibagikan dan dinyanyikan dalam media sosial. Catat itu. Penampilan pas rap battle bagus sih, natural saling ejek dan cela di atas panggung. Ngalir saja, seolah memang tak ada arahan naskah, karena memang mereka rapper asli.

Kisahnya tentang rapper India yang tumbuh dari keluarga kelas bawah di Mumbai. Murad Ahmed alias Gully Boy – yang berarti Remaja Jalanan (diperankan dengan menawan oleh Ranveer Singh). Ia adalah mahasiswa tingkat akhir, seorang muslim dalam keluarga kolot. Ayahnya poligami, dengan membawa istri barunya ke dalam rumah sempit mereka. Ayahnya hanya seorang sopir pribadi yang berjuang mencari uang untuk menghidupi banyak anggota keluarga. Ibu Murad seorang pembantu, istri pertama yang sering cekcok, nenek Murad dan adik Murad. Hidup dalam rumah sederhana sekali, kurang petak karena sempit, kumuh dan berisik.

Pacar Murad adalah mahasiswi kedokteran dari keluarga terpandang, ayahnya dokter, Safeena dipaksa jadi dokter bedah. Walau terlahir dan besar dalam Islam yang taat, terlihat Safeena Firdaus (diperankan badass oleh Alia Bhatt) ingin bebas dari kungkungan ketat. Aturan dasar moral itu sederhana: hasrat menginginkan, agama melarang. Berdua, melawan dunia. Adegan saat di bus, Murad duduk dengan earphone santai, lalu Safeena setelah ibunya turun dari bus, ia menyusul duduk berdampingan, berbagi penyumbat telinga musik dengan tangan saling meremas, ikonik sekali.

Hasrat Murad adalah musik, berkenalan dengan rapper lokal kenamaan, MC Sher (Siddhant Chaturvedi). Ia ingin mengubah masa lalu menjadi puisi. Karena ini menyangkut tentang dirinya, di bagian dalam – hati, maka itu patut ditulis. Inilah yang patut dibaca banyak orang, patut didengar banyak orang. Mencipta musik dengan tulisan aslinya, unggah di Youtube, dengan nama samaran Gully Boy. Respon penonton positif, dan mengundang seorang produser India berpendidikan Amerika, Sky (Kalki Koechlin). Terjadi intrik, karena Sky yang mengenal seks bebas, merasuki kehidupan rendah hati Murad. Kolaborasi mereka bertiga and the genk menuntun kepada kompetisi Rap untuk jadi penyanyi pembuka konser rapper terkenal, berhadiah satu juta rupee. Tak perlu mengenal Naezy dan Devine untuk tahu siapa pemenangnya.

Sayang tema yang diusung terlalu banyak, ga fokus, durasi dua jam setengah ga akan cukup untuk menampung masalah yang meluap: isu agama, bagaimana taaruf dalam Islam ketika akan menikah, dengan memperkenalkan calon pasangan dengan melihat foto dan biodata, tanpa pacaran. Tema mewujudkan mimpi, bahwa seorang kere bisa mencapai kasta tinggi kala berjuang menekan limit kemampuan tertinggi. Tema perjuangan perampok mobil demi bertahan hidup, menghalalkan segala cara. Tema pasangan yang keras kepala, posesif dengan segala daya akan kuperjuangkan cintaku padamu, walau badai menghadang, walau harus mendaki gunung, walau harus menampar gadis lain, meremukkan botol bir ke kepalanya, walaupun harus menentang orang tua. Dan memang gadis macam gini ada. Banyak. Sampai tema musikalitas itu sendiri, ideologi rap dan konsekuensinya.

Menonton film biopik sejatinya perkara titik pandang. Melihat takdir seseorang dari ‘atas’ mengamati nasib dari menit ke menit. Di sini, kita tahu ada yang istimewa pada sang protagonis: bakat dan keinginan keras mengubah jalan hidup. Di antara kegiatan bersama manusia yang paling sulit diorganisasi adalah kekerasan, pada dasarnya manusia baik. Kegiatan paling mudah dalam sosialisasi, bisa jadi adalah bermusik hip-hop. Kasih salah seorang lead sebuah mik, kepalkan tangan dan mari nge-rap!

Adegan saat jelang klimaks, debat sama bapaknya tentang pilihan karier bukan hal baru, sesuatu yang umum. Kewajiban seorang bapak adalah membantu anaknya membuat keputusan-keputusan jitu dan mencegah munculnya keputusan yang salah akan masa depan. Tetapi bagaimana kalau selama ini bapaknya memegang prinsip yang salah, prinsip dusta? Bahwa selama ini ayah mempercayai sebuah falsafah kolot? Bahwa inilah nasib kita, bahwa nasib kita adalah seonggok sampah. Yah, usia tua bukan jaminan pengarah nasib yang baik. “Aku melihat matahari terbit lebih banyak darimu, yang kuajarkan kepadamu hanyalah apa yang aku ketahui.” Nah!

Saya punya tiga alternatif ending yang bisa mengubah penilaian secara menyeluruh. Pertama, laiknya kisah Romeo + Juliet, ending sedih itu menjadi terkenang selamanya. Coba ketika Murad mencapai garis final, buat ending tragis: dia atau Safeena tewas kena geledek kek, tertabrak odong-odong kek, tertembak polisi yang mengejarnya, atau safeena minum racun karena dipaksa nikah dengan pria pilihan ibunya. Saya ga suka mereka semua bahagia, semua karakter utama tersenyum di akhir. Bahkan sang penjual narkoba-pun tampak dijemput pulang, semu lepas bak kelebihan hormon endorfin. Selamalamalamalamalamalamanya… bah!

Alternatif kedua adalah tak tahu siapa pemenang kompetisi, biarkan menggantung. Ketika memasuki final, sang mc mengumumkan acara puncak dimulai dan musik rap mengalun merdu masuk lalu credit title muncul. Biarkan penonton memutuskan sendiri, bagaimana akhir yang diminta. Bukankah yang begini tampak seksi?

Alternatif terakhir dibikin dramatis, ketika Murad semisal sedang di panggung, pengumuman pemenang dan polisi sudah berkerumun di bawah siap menyeret ke penjara. Ingat ya, ada adegan rekan rampok ditangkap, ditengok di sel dan komit menjaga rahasia. Masak secanggih ini, masak serapi itu, Murad tetap tak tersentuh polisi, polisi India kan pintar-pintar bro. dengan mic di tangan polisi berteriak, Murad ditahan sebagai penjahat! Wah ucapan itu akan lebih jleb ketimbang seluruh isi lirik lagu yang dinyanyikan. Hanya karena polisi tidak menangkapmu, bukan berarti kau tak bersalah.

Mungkin karena film berdasarkan kisah hidup rapper asli Naved Shaikh (Naezy) dan Vivian Fernandes (Devine) sehingga endingnya ga diledakkan. Ga dibuat boom! Devine sendiri muncul di akhir film sebagai comeo dalam lagu Apna Time Aega.

Menurut undang-undang Hammurabi tatanan sosial Babilonia berakar di asas keadilan yang universal dan abadi, dititahkan oleh dewa-dewi. Asas hierarki amat penting, menurut kode tersebut manusia terbagi menjadi dua jenis kelamin dan tiga kelas: orang-orang kelas atas, rakyat jelata, dan budak. Dalam Islam, agama yang dianut dua keluarga karakter utama, bahwa semua manusia diciptakan setara, dikarunia Allah hak-hak tertentu yang tak bisa dicabut, antara lain mencakup kehidupan, kemerdekaan dan pencarian kemerdekaan. Sementara menurut sains, manusia bukan ‘diciptakan’ melainkan berevolusi. Dan manusia jelas tidak berevolusi hingga bisa ‘setara’. Gagasan kesetaraan terjalin erat dengan gagasan penciptaan. Ada ironi sebenarnya ketika bapaknya meminta tetap rendah diri, sementara ajaran agama menyatakan kita terlahir sama. Sebagian besar pilihan yang kita buat dalam hidup memang menyakitkan, Pak, maaf saja. Dan Murad menampar orang tuanya tanpa gerak tangan. Di manakah letak optimisme? Di dalam takdir atau kekacauan? Jika ingin menjadi seorang istimewa di tengah sesak banyak orang, kita harus membuat diri kita fantastis. Gully Boy mewujudkannya seolah berbisik, “Bertahun-tahun lalu kita berjanji dengan takdir; dan sekarang tiba waktunya kita akan menebus janji kita, secara substansial…” selanjutnya adalah adegan di atas panggung dengan gemuruh penonton di ending.

Apapun yang terjadi selanjutnya tidak bermakna bagi kita.

Gully Boy | Year 2019 | Directed by Zoya Akhtar | Screenplay Zora Akhtar, Reema Kagti, Vijay Maurya | Cast Ranveer Siggh, Alia Bratt, Siddhant Chaturvedi, Vijay Raaz, Kalki Koechlin | Skor: 3.5/5

Karawang, 081119 – Fourplay (Feat. El Debarge) – After The Dance

4 komentar di “Gully Boy: Ideologi Rap dan Konsekuensinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s