Photograph: Sunyi Yang Mendesis

Bertahun-tahun nanti kala Anda memandang foto ini, Anda akan merasakan matahari menyinari wajah, angin mengibas rambut, lalu mendengar suara-suara ini lagi. Jika tidak, semua ini akan menghilang. Menghilang selamanya.”

Tentang sandiwara cinta antara cowok kere berprofesi sebagai seorang fotografer jalanan berlanskap Gerbang India dengan gadis mahasiswi dari keluarga menengah atas yang terbiasa hidup dalam kasih sayang dan harta berlebih. Cinta beda kelas yang hampir saja menjatuhkan diri dalam cerita sinetron. Serial tv di Indonesia yang acap kali happy ending, di mana cinta beda kasta, ditentang orang tua, lalu bahagia selama-lama-lama-lamanya. Photograph mungkin bertema mirip, tapi jelas eksekusi, akting, alur dan terutama sekali skoring yang tenang sungguh menjadi sangat beda, menjadi berkelas. Bagaimana cerita yang mirip bisa menjadi akhir yang jauh berbeda? Inilah film tentang kehidupan tukang foto yang mayoritas adegannya ngerumpi dan penggambaran sunyi.

Film India yang menawarkan kesunyian melimpah ruah, setiap karakter setelah merenung, dan menemukan opsi untuk pilihan berikutnya ada skoring yang mendesis, berulang kali, beberapa saat lalu diulang. Untungnya skoring bagus, atau mungkin karena terdengar berulang kali, jadi selama hampir dua jam telinga kita dengan sendirinya menyesuaikan diri.

Rafi (Nawazuddin Siddiqui) adalah tukang foto jalanan yang menawarkan pengunjung berfoto langsung jadi, dengan tas dipanggul berisi printer dan peralatannya. Bersama teman akrabnya yang sering berbagi kata dan berbagi kamar. Suatu hari yang biasa, muncul seorang gadis pemurung Miloni Shah (Sanya Malhotra) yang bersedia membayar 50 rupee, eh diskon jadi 30 rupee, gadis yang bemuka masam, dipaksa senyum dengan menaikkan kedua ujung bibir itu secara refleks bergegas menemui teman-temannya dengan foto di tangan, tanpa membayar. Rafi yang memang bermuka datar, jua tak terlalu mengejar, ada rasa lain di dada. Kombinasi aneh, dua karakter mahal senyum bersatu? Memilih untuknya karena memiliki dua mata yang teduh?

Kalau boleh saya melontarkan kalimat mewakili Rafi, seolah ia menemukan gadis impian. “Hari ini saya bertemu dengan wanita tercantik. Mempunyai senyum yang ketika dicipta dalam gambar kamera menjelma sempurna. Oh saya ingin memilikinya!” Ya semacam itulah, mungkin karena karakter Rafi yang pendiam dan pengkhayal, maka ia hanya menulisnya dalam surat.

Rafi memiliki nenek yang ceriwis, yang mendesaknya untuk segera menikah. Dalam suratnya, Rafi mengatakan sudah punya tunangan, dengan menyertai bukti, foto Miloni, karena tak tahu namanya, ia namakan saja Noorie, nama yang muncul seketika mendengarkan lagu India di mana nama itu disenandungkan saat menulis surat. Nah, masalah jadi pelik ketika sang nenek akan datang. Rafi coba mencarinya, di sebuah kampus, ia melihat sang gadis dalam poster, maka iapun memohon, mengajak berakting. Cara mengajaknya juga sendu, sepakat, mereka pun mencoba menjadi pasangan yang baik di depan sang nenek. Pembentuk hubungan mereka ya jalan mereka, dan dalam kehampaan yang anggun mereka menerima hiburan ketakberadaan yang temporer.

Miloni diberi perhiasan langsung oleh nenek, peninggalan untuk generasi berikutnya. Ada rasa ga enak, tapi perlahan Miloni menemukan ketenangan. Miloni sendiri adalah siswa istimewa, pintar, kalem, penurut, ga nek-neko. Konflik itu bernama pilihan. Orang tuanya menawarkan jodoh dengan anak temannya yang ke Amerika, ia ga langsung menolak tapi tetap coba ditemui. Dan bagaimana impian Miloni bahwa ia ingin hidup di desa yang tenang, menjadi petani dengan semilir angin sejatinya menohok sang kenalan. Satu lagi pilihan yang jelas sekali mengharap cintanya adalah gurunya, ketika di kelas foto Miloni beredar dan berakhir di tangan sang guru, ia terpesona, dalam sebuah kesempatan aneh, sang guru ngajak ngeteh barang lima menit, tapi jelas sang gadis harus mengambil sikap. Ia tak mau, yang secara langsung adalah penolakan dan kebetulan Rafi muncul menawarkan kebersamaan. Sampai di sini, kita tentunya memprediksi akhir yang manis bak cinderella. Karena ini film sunyi, jangan harap adegan peluk kasih itu muncul. Karena ending kisahnya seolah ejawantah novel-novel Yasunari Kawabata, di mana akhir film ini memang seakan tak tuntas, menggantung di mana penonton dipaksa berhenti di tengah jalinan kisah tanpa tahu mau ke arah mana. Ini salah satu ciri khas sang Novelis Jepang, di mana seni untuk seni. Karena ia berpendapat spekulasi dan rangkaian sketsa kehidupan jauh lebih penting ketimbang kesimpulan. Ketika kamera terdiam di beranda bioskop itu, kalian mungkin bisa menebak arah cerita, jika Kau memahami batas, maka Kau akan memahami gerak mekanisme itu. Kaum hippie pasti terliputi kekecewaan pada rasa akhir dan gagalnya penemuan maksud, hey ini kisah tentang betapa sunyi nasib. Ketika tiba-tiba meledak di adegan paling akhir, tak ada percikan api, tapi malah skoring yang sudah akrab itu. Mendesis sunyi.

Sunyi. Sunyi memesona, sunyi membunuh, bergerak, menakuti, juga terkadang membuatmu tertawa, menghilang sekali-kali dijejali dialog, lalu menyamar seperti danau, mencipta senyum lalu mengalir lagi, tak memilki jawaban, bijaksana, baik, kuat, tak dapat diperkirakan. Lalu sunyi lagi.

Selain banyaknya adegan tenang, gambar ketika diambil dari langit-langit dalam putar kipas angin juga tampak menonjol, seolah penonton diminta memandang. Menjadi laba-laba yang mengamati. Apa yang dilakukan di sini? Memandang. Hanya memandang? Tak ada apa-apa untuk dipandang. Hah, kalian bercanda? Manusia dengan segala problematikanya, akan panjang kalau kita menuturkan satu per satu. Menganalisis inti permasalahan dengan kesinisan.

Untuk sebuah kisah yang minim aksi, kekuatan utama kisah ini memang akting. Sepasang manusia dengan pilihan hidup, kemungkinan bersama, taruhlah sang nenek di tengahnya. Tak mudah memahami matahari yang terbenam, ia memiliki waktu, dimensi, warnanya masing-masing. Tak mudah pula memahami sang nenek yang mengingin cucunya segera menikah, sementara Rafi siang malam kerja demi mencicil utang ayahnya. Bagaimana bisa menghidupi pasangan yang laik, sementara sendiri saja ia keteter. Namun patut diingat, tak mengeluh.

Penulis skenario yang baik berpikir tidak dengan alur umum, mereka meng-angan secara piktorialis, berpikir dengan gambar. Photograph memenuhi layar dengan potongan-potongan indah bak kita membuka album foto. Mengamati, menikmati, mengalir.

Sunyi.

Lalu mendesis, dalam alunan konstan.

Hening.

Malam.

Makan.

Ngobrol.

Senyum.

Semilir angin.

Sunyi lagi.

Dan tak terasa dua jam kita jadi saksi sekelumit perjalanan hidup dua anak manusia, keduanya pendiam. Nah, seru kan menonton dua karakter pendiam.

Ada adegan gaib, kukira ruh itu hanya candaan Lee, tapi ternyata enggak. Tak bergerak, di bawah selimut. Menanti apa yang datang, hantu sobat lama, kantuk, atau rasa takut? Seni adalah dorongan gairah pikiran. Dan imajinasi bekerja baik saat berada dalam kondisi bebas. Pagi dini hari itu, kita bisa melihat sang karakter utama ngobrol dengan sejenis ‘hantu’, mengapa bunuh diri? Ya karena sebangun itulah yang terlintas, serem? Enggak, logis? Iya. Maka terciptalah realitas alternatif yang artistik, termasuk di dalamnya kenangan. Ilusi adalah bagian dari realitas, bahkan jika itu merupakan objek yang paling remeh sekalipun. Rasanya seperti ada yang memberitahu kalau kehidupan di luar sana adalah ilusi, dan bahwa hal yang saya obrolin bersama Tiwari (penampilan spesial Vijay Raaz) merupakan kenyataan.

Kerja sama dalam sandiwara itu terdengar altruistik, tapi sifat dalam mutual biasanya tak sukarela dan jarang egaliter, sebagian besar kesepakatan memang seharusnya menguntungkan kedua pihak, apalagi ini urusan asmara. Tak ada adegan ciuman, tak ada adegan nari khas India, tak ada adegan eksplisit kekerasan karena saking lembutnya ini film. Ya seperti inilah keseharain yang benar, datar tak bergelombang, riaknya mungkin sesekali muncul, tapi jelas waktunya linier. Adegan paling keras di sini mungkin ketika Rafi membanting pintu taksi, yang bahkan sopirnya saja ga kaget, apalagi penonton.

Inilah surat cinta Ritesh Batra untuk Mumbai. Dengan aliran adegan yang tenang, kita memang diminta konsentrasi. Mengikutinya saja, ga perlu merumitkan pikiran. Ketika ketemu klik, maka yang lain akan mengikuti, seakan bagian-bagian yang lain muncul dengan sendirinya di sekitar titik awal tersebut. Jika kamu diberi waktu pada kehidupanmu, hidup akan memutarbalikkan banyak hal biasa menjadi hal aneh, sedikit tak mengenal ampun. Dan pada titik kau akan menyadari bahwa kau tak dapat berhasrat tanpa menyakiti diri sendiri, ada yang yang harus diperjuangkan: cola istimewa, jodoh di tangan nenek, atau saya bisa mewujudkan keduanya. Dan Rafi menemukan kesempatan itu. Jadilah, apa yang sejatinya harus terjadi. Kita pergi? Ayo…

Mari kutaruh ‘hari ini’ di amplop untuk Anda.

Photograph | Year 2019 | Directed by Ritesh Batra | Screenplay Ritesh Batra | Cast Nawazuddin Siddiqui, Sanya Malhotra, Sachin Khadekar, Farrukh Jaffar, Vijay Raaz | Skor: 4/5

Karawang, 041119 – Utada Hikaru – First Love

Thx rekomendasinya Panutanqu, In Lee We Trust!

Satu komentar di “Photograph: Sunyi Yang Mendesis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s