Goosebumps: Makhluk Mungil Pembawa Bencana – R.L. Stine

Aduh! Tanganku! Tanganku dimakan!”

Khas RL Stine yang kita kenal. Membuat penasaran karena jeritan, tanya menggantung atau kengerian di setiap ganti bab. Lihat kutipan yang kutaruh di muka, kalian pasti tahu tangan itu ga dimakan dalam arti harfiah. Bisa kalian tebak, paling kejepit, atau sekadar kiasan, atau kelakar ala kadar. Kisah seram Goosebumps tentunya sudah kita kenal sedari dulu, ini genre anak-anak, yang bikin melonjak takut. Fear Street untuk remaja, temanya banyak yang mirip, tapi fungsi utama ya memang semacam itu. menakut-nakuti pembaca. Makhluk Mungil Pembawa Bencana, sama saja. Penyelesaiannya bahkan lebih sederhana, kebalikan dari kekerasan. Kebalikan dari nasib sial, kebalikan dari pelakuan itu mengubahnya dalam singkat, sangat singkat.

Makhluk Mungkil berkisah tentang keluarga Merton yang melakukan pindah rumah. Rumah di Maple Drive ini bak istana, sangat luas dengan halaman seluas lapangan bola, jendela berjumlah lusinan, ada balkon di beberapa lantainya, dengan kemewahan yang ditawarkan, rumah tua itu butuh banyak perbaikan dan perawatan yang berkelanjutan.

Keluarga Merton terdiri dari Dad, Mom dan dua anak: Katrina ‘Kitty Kat’ dan Daniel. Memiliki anjing cocker spiniel bernama Killer, tapi sang anjing jirih, hanya bola karet yang berani ia gigit. Memainkan ironi dengan nama besar ‘Pembunuh’. Dengan sudut pandang si sulung, Kat kita diajak menelusuri kengerian tiap ganti bab. Ketika acara bersih-bersih, dari ruang dapur, Kat menemukan sejenis spon di bawah bak cuci piring. Spon itu awalnya terasa biasa saja, seperti busa kecil tak guna kebanyakan yang selesai buat cuci ditaruh di samping wastafel. Tak dinyana spon itu hidup, bisa napas, punya sepasang mata mungil, mungkin sesekali ada tawa tertahan buat nuansa seram, lalu dalam perkembangannya bisa berganti warna seolah setiap warna menggambarkan suasa hati spon itu, kalau punya hati.

Spon itu menimbulkan nasib sial di sekitar Kat. Adiknya kejedot tembok yang dikira didorong olehnya, ayahnya terjatuh dari tangga yang miring, dikira didorongnya, Kat sendiri nyaris celaka saat dahan pohon besar menimpanya, tapi selamat di waktu tepat. Gurunya Mrs. Vanderhoff tergores laci kala coba diperlihatkan. Segala kesialan ini sudah cukup bukti, penyebabnya si makhluk mungil, kalau ini beneran makhluk, bukan benda mati. Setiap aksinya spon ini seolah kegirangan, bergerak-gerak, seolah bernapas dalam keceriaan. Si spon juga hebat, setiap ketemu seseorang yang potensial mengetahui kebiadabannya, ia mengerut, kering dan pura-pura mati, menjadi spon biasa tak guna. Akting jitu membuat orang-orang yang mau diperlihatkan, menjadi sanksi. Selain bu guru, Bibi Louise yang penyuka kisah fantasi-pun juga turut mengernyitkan dahi.

Dari Ensiklopedia Keanehan yang ditemukan adiknya, kita diberitahu bahwa itu bukan spon biasa. Awalnya menganggap karena ini diambil dari fantasi, jadi ga mungkin, tapi fakta mencipta kengerian sehingga berjalannya waktu membuat mau-tak-mau percaya. Dari sana kekhawatiran benar-benar muncul.

Grool sejak dulu dikenal sebagai pembawa sial. Dia hidup dari nasib buruk yang menimpa orang lain. grool bertambah kuat setiap terjadi musibah di sekitarnya. Pemilik Grool tak ada habisnya tertimpa sial. Grool tidak bisa disingkirkan dengan cara kekerasan. Dan dia juga tidak bisa diberikan kepada orang lain ataupun dibuang. Grool hanya bisa beralih tangan kalau pemilik sebelumnay meninggal. Barang siapa yang memberikan Grool kepada orang lain akan mati dalam satu hari.

Ada yang lebih seram, Lanx: adalah sepupu Grool. Tapi Lanx jauh lebih berbahaya, begitu menempel pada seseoran, Lanx tak akan bisa lepas lagi – sampai selesai mengisap setiap tetes energi dari orang tersebut.

Spon itu coba dikubur, esoknya semua tanaman kering dan sekarat, ulang tahun Kat yang seharusnya ke waterboom buat pesta air sama teman-teman segenk, batal karena dihadang hujan lebat, spon dihancurkan dalam sekali pukul, tapi hanya butuh kurang semenit mereka bisa menyatu! Membayangkan serpihan gelas bergerak gabung, ngeri. Kalau beneran ada, seram juga. Ketakutan yang mengintimidasi. Teman sekolah Daniel, si Carlo yang kadang menginap dan menjadi sobat dekat, ia suka pamer maka iapun coba membawa kabur spon, ia terjatuh dari sepeda. Komplit sudah. Semua sudah mentok. Spon itu mau dibuang, celaka, disimpan lebih merana. Jadi bagaimana Kat akhirnya bisa selamat? Ya, ini kisah anak-anak, jangan pernah berharap ada darah yang menyembur bak kisah-kisah Stephen King.

Cerita macam gini akan menarik usia anak-anak sampai remaja, terus terang saja serial Goosebumps dulu saya menikmatinya. Sewa di persewaan buku, beli di lapak buku bekas di Gladag, Solo. Atau pinjam di Perpustakaan Kota Solo sepulang sekolah. Lebih senang baca pinjam, anak sekolah kere. Dulu terasa sangat bagus, sangat hidup, sangat terbayang. Beberapa bahkan membawa kenangan seram mendalam, yang paling dingat jelas kisah makhluk yang diterkam di perpustakaan, di mana yang menerkam justru orang tua mereka sendiri. Si karakter utama tak menyadari, dia ternyata makhluk seram yang ditakuti banyak orang.

Makhluk Mungil, mungkin kubaca di timing yang sudah kurang relevan. Tapi ya, ga rugi juga, kan pinjam. Ga kapok kalau baca lebih banyak, lebih nyaman buat selingan. Selain usia, dan berjubelnya bacaan genre dengan jenis lain yang melimpah. Namun tetap, lumayan buat nostalgia. Kubaca kilat sore ini (02/11/19) sebelum Asar, tak lebih dari sejam selesai. Kupinjam dari rekan sekerja, Rani Skom yang beli di Gramedia pekan lalu. Lumayan mencipta kenangan sekolah, lumayan buat refreshing juga di mana saya sedang baca buku John Roosa yang rumit dan berat tentang sejarah G-30S. Makhluk Mungil, jelas tak seseram gerakan sejarah Indonesia 1965.

Ciri khas lainnya, keluarga yang pindah rumah. Sehingga mencipta hal-hal yang dihadapi baru, RL Stine punya banyak bahan baku untuk dituturkan. Pindahan rumah memang menjadi plot yang paling lumrah, banyak sekali Penulis membuat alur sejenis ini. Lalu ciri lainnya, punya peliharaan yang menjadi pemicu kaget-kagetan. Sering sekali anjing dan atau kucing. Karena kedua hewan ini punya sifat bebas, dan kedekatan yang intens dengan pemilik. Satu lagi ciri khas R.L. Stine yang kusuka, ending yang menggantung, seolah kisahnya tuntas lalu mencipta plot kecil yang megggelitik. Di Makhluk Mungil, jua kutemui.

Untungnya endingnya agak Ok dalam dua kalimat bikin he-he-he: “Daniel, kayaknya ada yang tidak beres nih.” Kentang itu ternyata punya mulut penuh gigi.

Bagaimana kalau buku benar?

Goosebumps: Makhluk Mungil Pembawa Bencana | By R.L. Stine | Diterjemahkan dari Goosebumps: It Came From Beneath The Sink | Copyright 1995 | 618163008 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Hendarto Setiadi | Sampul eMTe | Cetakan keenam: November 2018 | ISBN 9786020317007 | ISBN Digital 9786020606057 | 152 hlm.; 20 cm | Skor: 3/5

Karawang, 021119 – Bee Gees – Fanny (Be Tender With My Love)

Thx to Rani Skom atas pinjamannya dan Intano, atas CC BCA yang mewujud nyata bukunya bisa dibawa pulang dari Gramedia World Karawang.

2 komentar di “Goosebumps: Makhluk Mungil Pembawa Bencana – R.L. Stine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s