Notting Hill: Ketika Realita Lebih Indah dari Khayalan

Anna: Her most famous part. Men went to bed with the dream, they didn’t like it when they would wake up with the reality. Do you feel that way?

Impian liar semua laki-laki bisa dilihat dalam frame film Notting Hill. Bahkan mulanya untuk dibayangkan saja, rasanya ga berani. Seorang penjual buku traveling, William Thacker (Hugh Grant) yang tinggal di distrik Notting Hill, London Barat. Orang biasa kebanyakan yang menjalani rutinitas pekerjaan. Toko buku di era peralihan digital, ga ramai tapi masih menguntungkan. Suatu hari ia kedatangan calon pembeli, seorang artis besar Hollywood, Anna Scott (Julia Roberts). Saking terkenalnya, kedatangan ke London menginap di hotel Ritz dipenuhi wartawan. Maka ketika ia jalan-jalan mengenakan kacamata, wajar.

William emang istimewa, seorang yang ga suka gibah, ia tak tahu yang berkunjung adalah orang tenar. Setelah transaksi dan basa-basi, bersama pegawainya ia ngopi, lalu cari jus dan disinilah pemicu segalanya terjadi. Balik dari warung ia bertabrakan dengan Anna sehingga baju depannya basah, iapun menawarkan bantuan untuk ke rumahnya untuk ganti baju. Dan sesaat sebelum pamit, dengan canggung di depan pintu terjadi ciuman mulut, kilat tapi terasa istimewa. Wew, orang asing terkenal, tatap-tatapan, jeda yang hening dan kiss kiss. Imaji paling liar pun ga nyampai. Ini artis besar, sangat besar!

Hubungan berikutnya seharusnya lebih mudah. Kerikil ada, sandungan ada, bentakan, marahan, ngambek ada. Namun jelas, ini adalah film komedi romantis yang sangat mudah ditebak. Happy ending pastinya terjadi. Kalau saya menyebut Our Time adalah film yang menampilkan kebahagiaan yang hakiki, maka ini jauh lebih manis, hakiki di atas hakiki, tumpahan gula bukan hanya setoples, tapi melimpah ruah satu truk gula dihambur-hampurkan sepanjang Portobello road.

Makan malam merayakan ulang tahun adik, tamunya aktor Hollywood. Gilax, artis lokal saja dah heboh kok. Ketemu sama keluarga Will, salah satunya pialang saham. Lucu juga dia pening lihatin grafik, untungnya per tahun ga seberapa. Beraninya nanya penghasilan artis? Dijawab 15 juta Dollar, gaji Julia sesungguhnya di film ini. Sang pialang saham adalah kita, tertohok. Wkwkwk… Jalan kaki di malam hari bertabur bintang di jalanan yang tenang sambil ngobrol berdua, sungguh menyenangkan. Sungguh wow. Mungkin tanganku harus dimasukkan ke saku celana saking gemetarnya. Disandingkan Celine dan Jesse pasti kita berharap bisa main kuis ‘siapa lebih romantis’. Lompat pagar masuk taman tanah pribadi, duduk di kursi bercengkeraman mesra dan diiringi lagu Ronan Keating. Luar biasa, nikmat mana yang kau dustakan? Sampai di sini, saya baru sadar ternyata ost-nya akhir era 90an memang sedang di puncak. When You Say Nothing At All bahkan identik dengan film ini, kok saya bisa lupa ya? Padahal dulu MTV Most Wanted saban sore hari muterin debut solo karier Ronan.

Sepulang jalan-jalan, di hotel diajak ke kamar. Weleh. Kerikil pertama dilempar, Anna mendapat kejutan kunjung pacarnya Jeff King (Alex Baldwin) merusak rencana indehoy mereka. Anna ternyata punya pacar, fakta ini tak diketahui Will karena ia memang tak ikuti gosip. Kelar? Ah ini sih bumbu drama hubungan saja. Mereka toh jalan lagi. Pas makan malam, ada cowok-cowok gibah tentang Anna Scott sama Meg Ryan, hotan siapa coba? Anna sih kalem, tapi William marah ketika mereka menyebut artis Amerika gampangan, Anna cewek gampangan. Diakhiri dengan tampilan Anna menohok. Keren? Yeah, ini film mereka, santuy aja.

Imaji paling tinggi ditampilkan di sini, ketika Anna yang kzl dikejar paparazzi memutuskan nginep di tempat tinggal Will. Yah, tahu sendirilah akhirnya bagaimana, sejatinya usulan Will tidur di sofa hanya lamis lambe tipis. Spike freak (Rhys Ifans) teman sekosnya yang ngoceh aneh ‘kalau kamu ga mau, gmana kalau saya saja’ hanyalah guyon garing kek keripik kering. Maka terjadilah hal-hal yang diinginkan, di dini hari dengan kamera menyorot dari belakang Anna, atasan diturunkan. Pada mimisan dah menatap nafsu punggung terbuka Julia Roberts.

Tanda-tanda hubungan mereka berakhir coba diapungkan. William ngadain voting sama keluarganya, lanjut ga nih? Anna pamit, ia akan segera balik Amerika. Bahkan keluar kata-kata kasar-pun penonton waras dengan mudah bisa menebak akhirnya. Ketika di lokasi shooting, tak sengaja mendengar kalimat ‘teman biasa’ sama warga London. Heleh, riak kek buih septitenk. Dengan penuh gaya balap mobil di kepadatan lalin London, dibuat dramatis ketika di hotel Ritz, Anna dah check out, yang ternyata sedang adain konferensi pers di hotel lain. Boom, semua bahagia selamalamalamalamalamalamanya.

Di akhiri dengan sangat manis di kursi taman, Will baca buku, Anna tiduran di pangkuan dengan mengelus perut buncit. Ini adalah ejawantag dongeng Disney yang sesungguhnya. Realita > Khayalan.

Notting Hill mematik imaji saya. Saya penggemar buku, Will punya toko buku. Walau beda genre, karena calon pembeli tanya novel Charles Dickens dipelototin. Tanya Winnie The Pooh dikesalin. Berbanding terbalik sama koleksiku, buku panduan wisata ke Lubang Buaya ga akan kalian temukan, buku traveling ala Trinity Optima Production jelas akan kujual kiloan buat bungkus tempe mendoan. Pun, buku-buku Jejak Petualang ala Upin Ipin. Rak-ku mayoritas adalah novel! Poinnya adalah kesamaan di buku saja, catet.

Imaji kedua adalah jreng jreng jreng…, kalian pastinya tahu saya adalah seorang Sherina Lover nomor satu di dunia akhirat. Ga ada yang ngalahin, bahkan mungkin bapaknya shock cintanya tersaingi. Bayangkan, kamu sedang santuy sama buku (saya ga punya toko buku, jadi anggap saja saya pengunjung juga), tiba-tiba ada Sherina masuk menyapamu, menyukai buku kamu baca, ngobrol saru lalu ketika di jalan baju Sherina kena tumpahan kopi (saya jarang minum jus), lalu saya tawarkan Sherina untuk ganti baju ke rumah, lalu selama semenit lirik-lirikan terjadilah ‘hal-hal yang diinginkan’. Duuh, Listerine-ku dah habis tanggal tua.

Lalu sepanjang jalan Galuh Mas, Karawang jalan kaki malam hari bertabur bintang, ngobrolin banyak hal, ada pegamen nyanyiin lagu romantis. ‘Sher saya punya lagumu komplit lho’, ‘serius Mas Budy?’, ‘iya, dalam bentuk mp3.’ Hening, lalu ia marah karena harusnya dah bentuk sportipi atau jukz. Suatu hari tiba-tiba ia datang lagi, mau pinjam bukunya Haruki Murakami yang 1Q84 (anggap saja ini alibi) lalu bilang lagi kzl sama Ayah Triawan Munaf, boleh nginep ga? Duuerrrr… lalu pas mau buka kaus kaki, May buka pintu. Kejutan! Merusak fantasi. Iya May, saya tiap libur masih setia cuci piring kok. Lalu dan lalu dan lalu… begitulah. Notting Hill hanya akan tetap indah di layar. Our Times saya sebut bahagia hakiki, Before Sunrise saya sebut kesempatan ketemu Celine di kendaraan umum hanya satu per sejuta kesempatannya. Maka Notting Hill adalah imajinasi fantasi yang keterlaluan tingginya. Kejadian langka yang bahkan komet Halley sudah timbul tenggelam seribu kali, baru sekali kejadian. Sherina dijampi pakai pelet ajian goyang Karawang-pun ga akan luluh untuk menikahi kutu buku misquen. Iya, kalian yang beli buku daring pakai Shopee gara-gara gratis ongkir.

Sesaat setelah nonton film ini, saya langsung #unboxing bukunya Henry James: Daisy Manis karena di film ini Anna ada proyek film adaptasi novella beliau: ‘The Siege of London’. Bukunya tipis, hanya perlu sejam baca selesai. Makhluk Anna ki langka.

Ketika ia bilang ‘Rita Hayworth used to say, “They go to bed with Gilda, they wake up with me.”’ Saya membayangkan ia berkata, ‘May used to say, “They go to bed with Sherina, they wake up with me.”’ Itulah kenapa hiu putih harus dilindungi. Lalu mengalunlah lagu klasik fenomenal Elvis Castello: SHE!!!

Notting Hill | Year 1999 | Directed by Roger Michell | Screenplay Richard Curtis | Cast Julia Roberts, Hugh Grant, Richard McCabe, Rhys Ifans, James Dreyfus, Alec Baldwin | Skor: 4/5

Karawang, 291119 – Deep Purple – Soldier of Fortune

Rekomendari film romantis keenam Bank Movie ini dipersebahkan oleh Bang Oja. Thx.

Before Midnight: Tragedi Seri Telah Tercipta

Jesse: If You want love, then this is it. This is real life. It’s not perfect but it’s real.

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Well, spoiler apa? Menit belum sepuluh kita sudah tahu mereka akhirnya bahagia selamalamalalamalamalamanyaaaaa, memiliki anak kembar dan dalam kegundahan tanggung pasangan ini merubuhkan pondasi indah. Oh tidaaaaak. Very disappointing. Kenapa dua masterpiece film dialog direnggut jelang tengah malam? Ini adalah tragedi. Tragedi serial telah tercipta. Dua orang jenius bertemu di usia 20an berpisah dengan senyum karena setelah klik mereka janjian akan ketemu lagi. Poinnya adalah mereka terpisah, meninggalkan gereget. Dua orang jenius itu di usia 30an kembali ketemu, terasa terlambat karena salah satunya sudah menikah, si laki jenius hanya punya waktu beberapa menit sebelum balik ke istrinya. Kebimbangan, kekesalan dan segala hal ragu antara terbang atau tidak di kepala jenius itu terpenggal dalam akhir yang fantastis, gereget ‘I know’ yang sensasional. Lalu muncullah peri Disney, menaburkan serbuk bahagia di atas kepala Linklater, seolah mengabulkan kata happily-ever-after harus dibuat guna menyenangkan fan. Berengsek. Suram adalah koentji. Dan kunci penting itu sudah dilempar ke sungai Seine oleh mereka sebelum menyusun lego senyum ke Athena. Why oh why?!

Di bandara Kalamata, Yunani. Jesse (Ethan Hawke) mengantar anaknya Henry untuk kembali ke Amerika pasca liburan musim panas. Layaknya bapak yang khawatir akan perjalanan jauh putra kesayangannya, Jesse nanyain banyak hal terkait persiapan, bekal, dan banyak hal remeh. Di parkiran kita disambut Celine (Julie Delpy) dengan dalam ocehan telpon genggam, dialog tawaran kerja, keraguan ambil enggaknya kesempatan. Saat akhirnya kamera menyorot penumpang, terlihat dua remaja putri kembar yang kecantikannya bak bidadari, Nina dan Ella. Referensi untuk: Nina Simone – penyanyi penutup seri dua dan Ella Fitzgelard – penyanyi jazz. Sempat bikin jantung deg gitu, wah mereka akhirnya bahagia nih. Lalu penonton menjadi semacam kaca depan mobil, menyaksikan percakapan panjang lebar pasangan ini. Sampai menit 20an saya dah wanti-wanti, dah drop mood kok jadi kisah dongeng indah?

Benar saja, mereka sedang di Athena berkunjung, liburan, santuy. Memilih kota eksotis untuk lanskap romantis sah-sah saja, poinnya tetap pada cerita. Bak acara liburan umum. Ada yang masak sama bu-ibu sambil ngegosip, ada yang main bola di halaman, ada yang ngopi sambil ngerumpi lihat matahari tenggelam dengan background sempurna, lautan teduh. Anak-anak main kejar-kejaran. Sungguh pemandangan indah menikmati senja bersama orang-orang terkasih. Yah, kekhawatiranku beneran jadi nyata. Ini film menawarkan hura-hura. Huhuhuhu… Mana konfliknya?

Adegan terbaik disajikan di sini: Jesse dan Celine mencoba berfilsafat lagi dengan jalan kaki sambil bersilat lidah dengan kamera di depan, adegan keren di Sunset kala mereka jalan dari toko buku ke kafe coba dirajut. Ok sih, tapi pengulangan. Sampai akhirnya mereka di hotel, sama receptionis diminta credit card, sementara salah seorang pegawai minta tanda tangan dengan menyodorkan dua buku Jesse: This Time dan That Time. Ternyata mereka ke hotel hanya untuk nostalgia, indehoy, menikmati masa indah berdua dengan menitipkan si kembar.

Nyaris tak ada yang istimewa lagi apa yang didiskusikan di kamar setelah toples dan bersiap bercinta. Hal-hal umum yang dibicarakan, dua jenius ini menjelma konyol. Arogan. Ngomel ga jelas. Mengkhawatirkan masa depan, bukankah kalian liberal yang optimis? Mengkhawatirkan masa lalu, salam buat istri Jesse. ‘Mantan istri’ kena interupsi. Bukankah kalian makhluk open minded? Lha, film kenapa jadi gini? Kejeniusan kalian luruh, mencipta kisah pasangan tua penggerutu. Walau diakhiri dengan sweet moment, nongkrong di kursi dengan pemandangan laut, berpayung rembulan. Tetap. Ini adalah lanjutan cerita yang buruk sekali. Tragedi serial menepuk pundak mereka bertiga.

Seperti kata Jesse ketika di puncak kekesalan, ‘I fucked up my whole life because of the way you sing’. Ini menyakiti kita. Penonton jelas kesal sekali, kalimat itu terucap dari tokoh pujaan yang meronta karena usia menua. Saya jatuh hati pada performa Celine di apartemennya. Kalian pasti juga, Jesse jelas yang paling cinta. Di sini kita tahu, dia ga jadi terbang. Namun kenapa mulutnya malah teriakan kasar? Rasanya seperti ditampar, kesal sekali, semenjak adegan di hotel semua memang berantakan. Main pingpong cerdas yang kuharapkan hilang. Ini malah jadi sitkom komedi, rusak semua. Ending gantung di Sunset itu sewajarnya biarkan saja menggantung, ga usah dijelaskan.

Segala yang gamblang malah boring. Hidup ga sejelas itu, hidup jadi menarik karena selubung misteri masa depan, tanya masa lalu kecuali para pelakon. Tanda tanya selalu jadi gelitik manarik dalam bersinema. Kita tak tahu mereka melafalkan apa dalam desah di taman, festival-festival apa yang terjadi dalam jeda sembilan tahun, atau tabu-tabu yang mereka pegang. Yang paling penting, kita tak tahu fakta apa selama mereka tak ketemu, apa yang terjadi sebenarnya, apa yang mencipta keadaan hingga sekarang karena pakem Before adalah hanya obrolan. Midnight menjelaskan banyak hal, dan itulah lubang terbesar.

Di Sunrise hanya dua tokoh yang bernama, di Sunset hanya tiga tokoh yang bernama: Phillipe sang driver, di Midnight sudah banyak: kita ketemu Henry, si kembang, si tuan rumah, pasangan bahagia lain, pasangan bahagia lainnya yang lebih muda, dst. Saya lebih suka ngobrol dengan orang asing ketimbang menjalin cerita penuh petuah sama orang yang dikenal. Lantas apa menariknya menyaksikan keceriaan di tengah penerungan? Ga ada logo Castle Rock saja sudah tampak mencurigakan. Dan dari judul juga sudah ga sesuai pakem, keduanya pakai sun yang ini night. Harusnya pilih sun juga, sunlight misalnya. Fufufu…

Saya jadi teringat buku Sapiens karya Youval Noah Harari tentang Peugeot, produk fiksi hukum yang dicipta. Ini adalah fiksi. Delusi kolektif, pengaruh yang dicipta, orang-orang asing bisa bekerja sama hanya berdasar mitos, legenda lambang singa. Peugeot adalah buah imajinasi bersama. Semua ini adalah perkara menuturkan kisah, dan meyakinkan orang agar mempercayainya. Dalam trilogi ini, Midnight sudah bukan kisah tapi kenyataan apa itu ‘happy ending’. Pompeii disebut. Bee Gees disebut. Time travel ala Predestination dilakukan. Tapi tetap ga bisa menyelamatkan.

Richard please, buatlah film keempat bahwa kejadian di Yunani ini hanyalah mimpi, perbaiki segalanya. Jesse tetap terbang ke New York dan Celine menikah dengan orang lain dan hubungan mereka timbul tenggelam. Dan mereka ketemu di kota eksotis di negara dunia ketiga. Memberi anak kembar imut untuk film frustasi adalah bencana.

Perbaikilah Seri Before ini, saya ga mau rusak di sini. Saya usul kota keempat yang laik untuk setting berfilsafat, bagaimana kalau kota Solo? The spirit of Java. Lalu hening.

Before Midnight | Year 2013 | Directed by Richard Linklater | Screenplay Richard Linklater, Ethan Hawke, Julie Delpy | Story Richard Linklater, Kim Krizan | Cast Ethan Hawke, Julie Delpy | Skor: 3/5

Karawang, 241119 – Bee Gees – How Deep Is Your Love

Rekomendari romantis kelima Bank Movie oleh Bung Fariz Budiman. Thx

Before Sunset: Baby, You are Gonna Miss that Plane

Celine: Even being alone it’s better than sitting next to your lover and feeling lonely.

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Well, spoiler apa? Delapan puluh menit yang disajikan adalah adegan ngobrol! Wow. Just wow. Sekuel dahsyat. Pasca one night stand gaya filsuf di Wina sembilan tahun sebelumnya, mereka tak berjumpa. Janji temu kangen enam bulan yang disepakati tak terealisasi mulus karena sebuah bencana, neneknya Celine di Budapest meninggal dunia. Dan ujug-ujug penonton di tempatkan di Paris. Kota tujuan Celine kala berkereta sebelumnya. Dengan lanskap kota romantis inilah kita menjadi saksi betapa film orang ngegoliam sepanjang sejam dua puluh menit jadi begitu hidup.

Jesse Wallace (Ethan Hawke) kini menjadi penulis best-seller novel This Time yang terinspirasi dari pertemuan mereka di Wina dalam parade fantasi. Ia melakukan tur promo buku keliling Eropa, Paris menjadi kota terakhir sebelum balik ke New York. Dalam diskusi di toko buku Shakespeare and Company, saat sesi tanya jawab berlangsung, tak dinyana di sisi kanannya terlihat Celine (Julie Delpy). Setelah usai diskusi, mereka ngobrol bentar di tengah tatanan buku. Ya Allah, impian banget ketemu orang yang paling di rindu di antara lemari buku dengan gelora sejuta tanya, lalu janjian di depan, Jesse punya waktu sampai magrib yah sekitar jam tujuh tuga puluhlah, ia akan diantar sopir pribadi Phillipe. Maka ia meminta nomor sopirnya, lalu reuni film ngegoliam dimulai. Kalau di Before Sunrise mereka punya 24 jam bercengkrama, kali ini mereka hanya berjarak beberapa menit dari adzan magrib.

Dari beranda toko buku mereka berjalan ke kafe, menampilkan 11 menit syut tanpa putus, setelah ngopi mereka ke taman, lalu naik pesiar sungai ngegoliam di antara debur air dengan background matahari senja, merasakan aroma romantisme Paris sejati, lalu di perhentian kapal, sang sopir sudah menanti, rasa kangen masih belum hilang gan. Lanjut antar Celine ke apartemen (kedua orang yang tampil di sini adalah orang tua asli Julie Delpy), sempat berdebat di dalam mobil, fakta penting terungkap: Celine sejatinya memendam asa mendalam dan rencana mampir ngeteh di kamar menjelma buncah asmara tak berperi. Bersama ending menggantung dengan gaya joget manja Celine melontarkan kalimat “Kamu akan ketinggalan pesawat, sayang.” Dan dibalas Jesse, “I Know.” Biadab. Keren banget. Penonton terpana dan mencipta spekulasi, sukaaaaaa sekali ending ginian. Drama umat manusia dalam rangkaian sketsa kehidupan, lonceng di kepala masing terdengar gaungnya, tapi film sudah ditutup, ini jauh lebih penting ketimbang penjelasan gamblang.

Dari obrolan mereka kita tahu, Jesse menjadi penulis, sudah menikah dengan guru SD dan memiliki anak empat tahun bernama Henry. Celine masih sendiri, berpacaran dengan jurnalis, menjadi pejuang lingkungan. Yang mengerikan dari kejadian ini ada dua: pertama kenapa Celine ga datang Desember itu? Neneknya meninggal. Kok ga perjuangkan cari sih? Lantas Jesse datang ya? enggaklah. Nah… becanda. Jesse tentu saja ke Wina, mencari pujaan hatinya berhari-hari, meninggalkan tanda, nomor yang bisa dihubungi, dan frutasi. Sunset terlihat sekali betapa Jesse lebih banyak mengamati tingkah Celine yang lebih melontarkan bola. Seperti kebanyakan laki-laki, kita memang wajib menjadi pendengar yang baik.

Fakta gereget kedua adalah, Celine pernah tinggal di New York di waktu yang sama dengan Jesse. Wow, bisa jadi mereka hanya berjarak sepelemparan batu, bisa jadi mereka sejatinya sempat berpapas singkat, bisa jadi mereka hanya saling berpunggung saat di pasar loak, dan bisa jadi lainnya. Luar biasa yang bikin cerita, hanya bermodal omongan dan imaji liar pengandaian terpola menengadah. Andai mereka tukaran alamat, andai mereka tukaran nomor telpon, andai mereka punya telepati. Andai ini andai itu andai begini andai begitu andai andai andai… masa lalu ke masa kini hanya punya satu lubang cacing dalam linier waktu. Ah mengerikan, manusia tak punya kesempatan memperbaiki kejadian lampau.

Kehidupan adalah kejar-kejaran tak berujung, segala sesuatu yang pernah dikumpulkan akan lenyap bagai asap. Lalu bagaimana lolos darinya? Saya percaya reinkarnasi kata Celine sembilan tahun lalu, sekarang itu terdengar konyol. Yah, seperti kita semua. Kita akan mengalami gagap pengetahuan, asal ga terjerumus saja. Manusia mengejar kekayaan, kekuasaan, uang, pengetahuan, menghasilkan keturunan, membangun rumah nan istana. Apapun yang manusia capai, manusia tak akan pernah puas. Orang miskin memimpikan kekayaan, orang punya lima juta berharap lima puluh juta, orang punya Agya bermimpi ganti Fortuner, bahkan seorang milyader dan terkenal jarang merasa puas. Manusia dihantui oleh rasa kekhawatiran dan kepentingan tiada henti.

Masih percaya Celine dengan bukunya hanyalah mitos? Mitos ternyata lebih kuat daripada yang dibayangkan siapapun. Ketika Jesse mengamati kamar Celine, tampak buku This Time karya Jesse, ough… betapa, demi apa? Bayangkan Sherina Munaf ke kamarmu, memandangi koleksi bukumu dan ada bukumu di rak itu, buku yang didedikasikan untuk Sherina. So weird. So wild.

Film ini masuk nominasi best adapted screenplay Oscar, kalah sama film Sideways. Karena banyak improvisasi, naskah akhirnya jadi hak mereka bertiga. Memang filmnya ngalir saja, seperti kebanyakan orang jalan sambil ngobrol. Jelas, ocehan mereka laiknya filsuf sehingga sungguh berkualitas. Tentang pernikahan, tentang bahagia, tentang agama, tentang ‘penyesalan’ masa lalu dengan pengandaian mereka bisa bertemu bisa jadi keadaan ga kayak gini.

Bonus cameo kucing Che yang dipeluk Celine dari halaman ke lantai atas, lalu dilepas di kamar, seolah si kocheng jadi saksi akhir film ini sejatinya bagaimana. Jadi akhirnya, terbang atau malah indehoy Cing?

Celine memetik gitar dan bersendung lagu Waltz yang ditulis sendiri olehnya. Ada kata ‘Jesse Kecil’ di dalamnya. Hanya akting di depannya atau lirik aslinya memang itu beb? Jesse memasukkan cd musik album Tomato Colection oleh Nina Simone dan menekan play, pas di lagu ‘Just In Time’ dengan iringannya Celine berdeklamasi. Seolah ejawantah Karl Marx dalam The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, “Gelegar musik pembuka yang mencanangkan pertandingan melenyap dari pendengaran dengan geraman malas segera saat berlaga harus dimulai, para pemain berhenti memperhitungkan dirinya dengan serius dan lakon pun ambruk sama sekali seperti gelembung tercoblos… dan memberkati musuh-musuhnya saja dalam kekuatan gelora…”

Kita tak tahu akan ke mana?’ sembilan tahun lalu dalam syair kini menjelma lagu Nina dalam lirik, ‘…Aku tahu ke mana aku akan pergi…

Anggap saja ini ongkos berpikir. Final line, ‘I know’ jelas adalah cikal bakal layangan putus.

Before Sunset | Year 2004 | Directed by Richard Linklater | Screenplay Richard Linklater, Ethan Hawke, Julie Delpy | Story Richard Linklater, Kim Krizan | Cast Ethan Hawke, Julie Delpy | Skor: 5/5

Karawang, 231119 –Michael Franks – Hourglass

Rekomendari ke 4,6 dari tujuh belas Film Paling Romantis Bank Movie ini dipersembahkan oleh Bung Fariz Budiman. Thx.

Before Sunrise: Parade Fantasi Sehari di Wina

Jesse: I wish I’d meet you earlier. I really like talking to you.

===catatan ini mungkin mengandung spoiler===

Namun apanya yang spoiler, ini adalah film full-ngegoliam tersertifikat fresh. Fufufu… Jenis film fantasi yang persentase kemungkinan terwujudnya di dunia nyata: satu per sejuta. One night stand ala filsafat. Freud bakal bertepuk tangan. Plato bakal terkagum. Spinoza menabur konveti. Locke akhirnya tahu kekosongan itu telah terisi. Descartes kembali meragukan kebenaran berpikir nan ada. Bjerkeley mengelus cerminnya. Kant tak akan menyanksikan moral. Hegel merasionalkan cinta. Marx menjelma hantu yang menyambangi Wina. Seperti kata Goethe: ‘Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.

Kereta dari Budapest menjadi altar kaidah para filsuf yang gentayangan, menjadi saksi ilusi berkenalan yang ideal untuk jalinan kasih, sungguh menyenangkan semua acara ngegoliam ini bermula dari buku, benda mati yang paling kucintai. Garis cerita adalah obrolan berkualitas antar dua orang asing: luar biasa, indah, menarik, saling isi, klik. Komunikasi, seperti dalam buku ‘Bicara Dapat Mengubah Hidup Anda’ karya Dorothy Sarnoff bahwa bicara memang mirip main pingpong, kita melempar bola, lawan menyambutnya dengan arah yang coba kita tebak, lalu kita balas lagi lempar bolanya, lawan bicara akan kembali melontarkannya. Begitu terus sampai terjadi jeda. Bila kedua pemain tenis meja bisa memainkan bola dengan apik, pastinya penonton berdecak kagum. Before Sunrise jelas jenis tenis meja kelas kakap. Sajian film ini 90%nya adalah permainan pingpong level dewa. Seolah perwujudan kutip yang umum kita lihat di beranda sosial media: ‘Ini bukan hanya masalah ke mana Anda pergi. Tapi dengan siapa Anda pergi.’

Film ini hanya berkarakter nama dua orang. Jesse and Celine, dunia milik berdua yang lain ngontrak. Film berset hanya dua hari, 16-17 Juni 1994. Pengumbar kekuatan ngobrol itu dilakukan oleh Jesse – bernama asli James diambil dari novelis Irlandia Ulysses, James Joyce – (Ethan Hawke) dalam perjalanan ke Wina naik kereta, ia akan naik pesawat keesokan harinya ke Amerika. Seorang pria backpacker pasca mengunjungi pacarnya, namun berakhir mengecewakan. Pemuda kere karena tak tahu akan menginap di mana malam itu. Celine (Julie Delpy) dalam perjalanan ke Paris untuk melanjutkan studi naik kereta, ia sudah putus sama pacarnya, dan sudah konsul ke psikiater. Dalam satu gerbong yang mencipta kebersamaan karena ada pasangan yang berantem, Jesse sedang membaca buku, dengan Celine di seberang kursi jua melakukan aktivitas sama. Jesse pegang bukunya Klaus Kinski berjudul All I Need is Love, sedang Celine melahap Madame Edwarda/Le Mort/Histoire de I’oeil karya Georges Bataille. Terjadilah percakapan, ‘baca buku apa?’ ‘ini nih…’ ‘oh’. ‘Mau kutraktir ngopi?’ Kesamaan gemar membaca, saling memikat, membelit. Keberanian menyapa membuat segalanya menjadi lebih mudah. Heran saya, belasan tahun baca buku di tempat umum ga pernah ketemu cewek nyambung sebening Celine. Apa sayanya yang terlampau pasif? Atau memang di kendaraan umum, Makhluk Celine dengan bukunya hanyalah mitos? Yah, film ini setidaknya mewakili impian liar itu.

Di kafe kereta, perkenalan basa-basi masih sangat umum, tapi kualitas otak keduanya sudah teraba. Saat kereta akhirnya sampai Wina, Jesse yang betah ngobrol seolah dipaksa turun, dengan enggan ia mengemasi barang. Setelah say bye, ia kembali. Menawarkan kegilaan, ‘merayu’ dengan analogi masuk akal. Seandainya 20 tahun ke depan dalam pernikahan kamu mengalami hal-hal yang kurang bagus, lalu Celine membayangkan masa kini, andai saja, umpamanya. Yah, anggap saja tawaran untuk turut turun ini adalah perjalanan waktu. Siapa tahu, kita berjodoh. Klik. Mari kita jalan. Gaya rayu Jesse keren euy, seolah ajakan biasa sambil mengedipkan sebelah mata, dan kedua tangan terayun ke samping.

Selanjutnya adalah pamer tempat-tempat eksotis sudut kota Wina. Semacam parade fantasi sehari semalam. Mereka ngomong apa saja yang terlintas di kepala. Dari naik bus, naik bianglala, main ding dong, nongkrong di kafe, duduk-duduk di meja pinggir jalan, ngopi di angkringan, ziarah singkat, sampai akhirnya rebahan otomatis romantis di taman. Dan malam itu diakhir dengan putusan ujar, ‘ngapain dibuat rumit sih?’

Omongan lempar tangkap kata di sini seolah deklamasi puisi gaya bebas. Tentang esensi tuhan, tentang cinta, hidup, keluarga, sampai hal-hal remeh yang kalau kita yang berkata seolah tak bermakna di sini jadi begitu hidup. Semua jalinan jalan kaki, semua adegan ngegoliam mereka sungguh menyenangkan diikuti. Sampai-sampai mematik pikir, benar juga ya. Dunia ini remeh, hidup mati tuh debu kosmik, yang kita khawatirkan setiap waktu seolah sembulan tiup, bahan canda dewa-dewa.

Ada banyak adegan keren, seolah setiap menit meninggalkan kesan. Seolah ketakutan mereka berdua akan pagi, turut dialami penonton. Seolah perpisahan mereka adalah akhir dari kenikmatan bercinta dengan kata. Pertama saat mereka melewati pinggir sungai ada pujangga jalanan sedang menulis puisi di atas perahu. Hanya meminta receh, sang pujangga kere menantang mereka menyebutkan kata untuk dirangkai syair. Celine refleks saja ucap ‘milksake’. Bah bah bah! Bisa saja idenya. Bagaimana juga mencipta puitik dari diksi tak lazim? Jadilah Delusion Angel. Bagus euy, dibacakan dengan ketenangan aliran sungai. Puisi ini aslinya dicipta oleh David Jewel.

Adegan keren berikutnya adalah saat makan malam mereka pura-pura telpon dengan gaya bercerita kepada seseorang yang akan dituju awal rencana perjalanan ini. Jesse bercerita bagaimana ia terpesona gadis dalam kereta dan mengajaknya jalan, ia jatuh hati padanya. Dus, gombalmu Lik. Lalu gantian Celine pura-pura telpon dan berujar bahwa ia saat di kereta sejatinya menanti, ajakan ngobrol, ajakan turun. Well, cara mengungkap rasa kasih yang luar biasa. Seolah natural dan sungguh menggairahkan. Udah deal jadian ini sebenarnya. Janji suci hanya masalah waktu.

Adegan di toko kaset piringan ketika mereka masuk ruang demo musik sambil main lirik begitu aduhai. Jesse melirik Celine, Celine melihat ke depan. Celine melirik Jesse, Jesse melihat ke depan. Jesse melirik Celine, Celine melihat ke depan. Celine melirik Jesse, Jesse melihat ke depan, Celine melihat ke depan. Celine melirik Jesse, Jesse melihat ke depan Celine melihat ke depan. Celine melirik Jesse, Jesse melihat ke depan. Gitu saja terus sampai celana Spongebob jadi bulet, seolah ini adalah asmara remaja yang malu-malu kucing. Dengan iringan lagu legendaris ‘Misfits’ karya The Kinks. Duuuh… gereget zaman muda. Pengen balik lagi ke masa putih abu.

Film diakhiri dengan sempurna. Salah satu ending film terbaik yang pernah kutonton. Mereka awalnya ga akan janjian ketemu, biarlah semua mengalir, biarkan jadi debu ingatan. Namun kekuatan nyambung, dan betapa kita sulit menemukan teman ngobrol yang baut-murnya pas, mencipta mereka guna mendadak membuat ikrar. Ketemu lima tahun di tempat yang sama? Wew kelamaan woy. Ok setahun ya. Hhhmmm… kayaknya masih terlalu lama juga. Baiqlah cintakuh. Setengah tahun deh. Deal. Hari ini tanggal 17 Juni, jadi kita ngegoliam lagi Desember ya. Ok, dan ciuman panas perpisahan tersaji, kereta melaju meninggalkan kenangan. Fantasi bercengkrama gaya filsuf berakhir sudah bersamaan dengan kepulan asap kereta.

Dan ya tuhan, saya belum bercerita bagaimana bisa kamera menyorot kekosongan tempat-tempat bercengkerama mereka mencipta lanskap memori fana. Hanya hati kecil yang tahu.

Before Sunrise | Year 1995 | Directed by Richard Linklater | Screenplay Ricard Linklater, Kim Krizan | Cast Ethan Hawke, Julie Delpy | Skor: 5/5

Karawang, 221119 – Maroon 5 – One More Night

*) Di akhir credit kita tahu film ini didedikasikan untuk mengenang kakek-nenek sang sutradara: Thelma dan Charles Krieger Ada serta Cecil Harmon Shirley dan Charles Linklater. So sweet dedicated.

**) Rekomendasi romantis Bank Movie ke 4,3 dari 17 film ini berasal dari Bung Fariz Budiman. Thx

Love For Sale 2: Seni Memanipulasi Keadaan

Kan ceritanya lagi training…

===catatan ini mungkin mengandung spoiler ===

Setelah tertunda beberapa lama, setelah menanti film ini tayang malam (di atas jam 21:00) di CGV Festive Walk, Karawang, setelah menengok komen-komen terkait kekhawatir lanjutan kekejaman Arini, akhirnya Jumat (15/11/19) kuberhasil duduk (dan berangkat) sendiri di studio satu. Nonton cuma bertiga, awalnya tapi pas film akan mulai nambah dua lagi. Memprihatinkan, film originalnya bagus, tapi kurang laku, kurang gaung, sekarang lanjutannya, melihat minimnya antusiasme, rasanya bernasib sama. Makin dramatis, parkir motor pas 6 ribu, pas dua jam nol menit. Tepuk tangan untuk Kharisma Biru, siKusi-ku.

Kita akan menemukan apa yang kita bayangkan sejak awal. Sayang sekali happy ending. Kisahnya kali ini lebih ke fokus orang tua, walaupun tetap garisnya tentang cinta yang dijual, sejatinya sekuel ini lebih mengedepankan keluarga dengan sentral Ibu Rosmaida (diperankan keren sekali oleh Ratna Riantiarno). Sebenarnya trailer-nya berkata: the most horror love story, sempat khawatir, sempat ketakutan jua karena kamu bisa saja menyakiti pacar kamu, kamu bisa saja marah-marah ke anak-istri, kamu juga masih bisa saling bentak kekasih, tapi kalau ibu, jangan pernah. Kalian berani sama orang tua terkasih, kalian tega sakiti, kalian melawan dunia. Dari cuplikan yang wara-wiri di sosmed, garisnya sudah jelas: Arini sekalipun merayu, sekalipun akting jadi pasangan ideal pasti akan kabur kala masa sewa habis. Memang, benang Love For Sale kan emang itu. Sayangnya sekali lagi, ini cerita berakhir bahagia. Kabur dan meninggalkan kebahagiaan kok bisa?

Indra Tauhid Sikumbang aka Ican (Adipati Dolken) adalah seorang yatim, pria kerah putih, laiknya pekerja di Jakarta kebanyakan. Kerja pagi pulang malam, kakaknya yang sudah mapan jadi PNS mulanya dibanggakan ibunya, tapi Anadoyo Tauhid Sikumbang aka Ndoy (Ariyo Wahab) dianggap salah pilih istri Maya (Putri Ayudya), yang dianggap kurang ideal. Pernikahan adalah batu ujian moralitas. Si bungsu Yunus Tauhid Sikumbang (Bastian Steel) malah lebih parah, MBA (Married by Accident), lalu menjadi pengguna narkoba, lalu cerai dan seteru tentang hak asuh anak. Karena kita tak akan membicarakan Bastian lebih lanjut dalam ulasan ini, saya keluarkan uneg-uneg sekarang saja: menurutku karakter ini annoying. Mungkin bermaksud menambah drama keluarga, ibu memiliki anak bermasalah, tapi seandaianya hanya Ican dan Ndoy akan tetap OK. Apalagi aktingnya yang berkata kasar di depan ibunya kepada ibu dari anaknya, sungguh ga faedah.
Ican yang tertekan untuk mendapatkan istri ideal lalu install aplikasi love inc yang ia lihat di halte bus. Ketika dihubungi, kriteria yang diminta disampaikan, dan taa-daaa.. Arini Kusuma – di sini menjelma Arini Chaniago (Della Dartyan) muncul di rumahnya sebagai teman lama waktu kuliah di Bandung, ia ke Jakarta untuk acara training, membutuhkan tempat singgah (di sini disebut pavilium) yang disewakan keluarga Sikumbang. Dan seterusnya, sampai di sini kita pasti tahu film ini akan mengarah ke mana. Ican dan Arini ada rasa, ibunya jatuh hati sama Arini, Keren akting hebat meyakinkan menjelma menantu impian, sampai akhirnya yah sebuah pengulangan Arini kabur. Sayangnya, kepergiannya ga membuat remuk redam hati-hati yang terluka laiknya mas Richard. Karena misi Arini menebar kebahagiaan sejatinya terwujud.

Yang amat disayangkan jelas, terlalu manis. Dambaan ibu untuk mendapat cucu perempuan terkabul, harapan penonton untuk hubungan ibu dan menantunya Maya membaik, terkabul. Bahkan permohonan maaf, Supiak yang disampaikan kala subuh kabur dari paviliumnya seolah adalah permohonan Andibachtiar kepada penonton karena memberi akhir yang terlampau manis. Suram adalah koentji, apa yang disampaikan Love for Sale dua terlampau menuruti kemauan indah penonton. Kurang suka saya. Kekhawatiran, karena film pertama yang sudah amat bagus, takut dirusak itu sebenarnya bisa saja terkikis, sayangnya terjatuh di akhir.

Salah satu adegan terbaik ditampilkan dengan kamera mengambil gambar melalui bias-bias kaca akuarium. Setelah tahu, ibunya jatuh hati pada Arini, Ican melakukan apa yang jadi imaji liar lelaki. Dia berdeklamasi untuk cinta demi ibunya. Di kedua mata Arini yang dipandang dengan ketakjuban liar, ia dalam satu waktu tak mempertimbangkan individualitas. Itu sejenis ketakutan kehilangan wanita ini, kekhawatiran akan ditinggalkan, bukan karena ia takut kehilangan, tapi takut ibuku akan kehilangan. Dia memohon seolah dia tak pernah memohon pada makhluk apapun sebelumnya. Dalam benak Ican jelas terdengar alarm meraung, ‘dialah yang selama ini orang yang dicari ibunya dalam doa setiap malam’. Ketika Arini mengangguk (walaupun penonton pastinya tahu itu akting), seketika itu ia lolos dari singularitas yang terlindungi, yang telah disusun, ditaksir dengan cermat. Arini mencipta subjek kolektif keceriaan keluarga dalam keintiman bersama. Orang-orang yang terbebas dari penderitaan bukan ketika mereka mengalami kenikmatan sementara ini-itu, tapi justru ketika mereka memahami bahwa semua perasaan mereka hanya sementara dan berhenti mengidam-idamkan perasaan nikmat sementara.

Lalu ada lagi adegan memorable di awal sekali, ketika Ican akan lari pagi. Berdiskuis dengan tetangganya yang kemudian meninggal mendadak. Mungkin itu adalah bayangan kebenaran yang tak berwujud, mungkin buah pemikiran jiwa. Dalam seketika segalanya berkelebat melewati otak dan akan terngiang, ‘pohon apa yang paling berani?’ Jadi promo itu tak bohong, beneran ada horror di sini. Semacam penampakan Pak Giran, seolah ini adalah metafora filsafat akan hidup. Film ini juga relijius, ditampilkan dengan konsisten sama Bu Ros. Pengajian rutin, sholat malam dilakukan, penuh nasehat bijak.

Permukaan bumi luasnya sekitar 500 juta kilometer persegi, dengan 155 juta diantaranya daratan, secuil permukaan bumi itu masih banyak yang belum didiami karena banyak tanah terlampau dingin, terlampau panas, tidak cocok untuk budidaya, jadi hanya sekitar 2 persen yang bisa dihuni dan didiami, dari secuil tanah itulah pentas teater sejarah manusia dibuat. Drama cinta dan nafsu Arini hanyalah sekilas lewat, tapi berhasil meluruhkan banyak umat. Sudah hukum alam laki-laki menganggap ringan ‘kejahatan’ perempuan, terutama kalau perempuan itu cantik, dan kejahatan itu dilakukan atas nama cinta.

Tiap drama keji itu, diakhri dengan kesunyian, mengepung korban, seolah ada gereget marah dan kesal. Apapun reaksi penonton, apapun hasil penjualan tiket dan kerumitan yang tersaji setelahnya, kita meyakini Arini akan hadir lagi ke layar lebar, hanya pertanyaan besarnya, setelah Gading Marten dan Adipati Dolken, siapa lelaki berikutnya yang menghubungi love inc? Siapa yang hatinya akan ambyar karena Arini? Akan jadi ledakan dahsyat kalau Andibachtiar dan tim kreatifnya bisa meluluhkan Nicholas Saputra! Wanna bet?

Dalam menikmati film Indonesia kita sudah lama mencari misteri, dan kini sudah ada di depan kita. Misteri itu bernama Arini. Tidak ada kata ‘Mistearini’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk mengungkap ‘misteri arini’, tapi sepertinya sudah saatnya kita buat bukan?

Love For Sale 2 | Year 2019 | Sutradara Andibachtiar Yusuf | Naskah Andibachtiar Yusuf, Mohammad Irfan Ramly | Pemeran Della Dartyan, Adipati Dolken, Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bastian Steel, Putri Ayudya, Gading Marten | Skor: 3.5/5

Karawang, 221119 – Angela – Don’t Know Why

Sleepless In Seattle: Kopi Darat Aneh di Puncak Gedung

She wants to meet me at the top of the Empire State Building. On Valentine’s Day.”

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Di era jayanya Radio bisa mencipta banyak hal menyenangkan untuk khalayak umum. Buat kirim lagu, buat teman belajar, buat teman perjalanan, buat curhat, buat konsultasi sampai mencari jodoh. Pernah diprediksi radio akan redup ketika invasi televisi, nyatanya enggak. Begitu juga seterusnya, televisi akan tergeser dengan kemunculan platform tayangan daring. Sampai sekarang radio tetap eksis, hanya peminatnya turun saja. Saling mengisi, saling memikat para penikmatnya. Tahun 1990an ketika Radio masih banyak pendengar dan jadi pokok yang menjadi pusat perhatian, banyak hal mungkin terjadi, termasuk asmara. Di era handphone belum semenjamur ini, era Whats Up belum jadi embrio platform komunikasi, romantisme klasik menyelubungi umat manusia.

Kisahnya tampak klise kalau kita yang tonton, terprediksi sekali. Mungkin generasi mbahku turut berdebar kala di puncak gedung itu. sering kali kita mengesampingkan masa muda, terutama remaja, semakin kita tua kita akan jadi semakin sinis dan keras. Ketika fokus pada dua karakter film romantis, maka otomatis tebakan akhir mereka akan bersama. Benar sih, tapi untuk film ini bahkan kebersamaan mereka dalam satu frame hanya sekitar dua menit. Happy ending? Ya. Manis? Sangat manis, bahwa cinta bisa menemukan jalannya sendiri. Melalui radio, melalui anak yang merengek, melalui tanda-tanda alam.

Sam Baldwin (Tom Hanks) adalah arsitek yang berduka, istrinya meninggal karena kanker. Bersama anaknya Jonah (Ross Malinger) yang baru berusia delapan tahun, memutuskan pindah ke Seattle, Washington untuk menjernihkan pikiran. Enam belas bulan kemudian, Jonah di malam Natal menelpon radio yang menyiarkan acara langsung kunsultasi dengan dokter Marcia Fieldstone, yang seorang psikolog. Jonah bercerita, “… betapa ayahnya mendamba kasih sayang. Tolong dong cariin istri. Tolong dong saya butuh pelukan ibu.” Well, di era umat manusia belum menundukkan pandangan ke layar HP pendengar radio masih sangat banyak. Maka tak heran, ada ribuan wanita meminta kontaknya, meminta alamatnya untuk mengenal lebih dekat. Sensasi kayak gini kalau zaman sekarang mirip trending topic twitter. Bikin riuh perjagatan social. Dibicarakan di kafe-kafe, diobrolin di kantor, jadi bahan ghibah kala waktu senggang. Seorang duda nyentrik sedang butuh belaian, ayoo drop cv cantik Anda. Kita tahu dengan situasi ini film akan berakhir bahagia.

Salah satu pendengar radio itu adalah Annie Reed (Meg Ryan) yang bertunangan dengan Walter (Bill Pullman) yang alergi akut, berlebihan sih sampai kamar tidurnya harus berudara steril, makan harus jauh dari bau-bau yang ga bikin ia sakit. Logikanya, akan sulit menjadi pasangan ideal bagi jiwa bebas Annie. Duh! Annie lalu turut menulis surat, bersaing dengan perempuan lain. Bedanya, surat tersebut sempat ga mau dikirim, tapi justru sobatnya yang mengirim ke Sam. Sampai di sini, tebakan happy ending itu turut terjaga. Bahkan dalam adegan yang nyeleneh, Annie terbang ke Seattle untuk semacam menyelidiki, memantau si orang tua tunggal dalam keseharian.

Jonah lalu menyarankan ayahnya untuk memenuhi undangan Annie di hari Valentine di puncak gedung Empire State, New York. Tentu saja Sam menolak, kota itu ada di ujung Timur jauh. Sementara Annie malah ke Seattle untuk menemui mereka, tapi di sebuah jalan yang lengang sambil saling tatap pertemuan itu tak berakhir manis. Dan adegan puncak saat Jonah memutuskan terbang ke New York sendirian, disusul ayahnya, lalu Annie makan malam romantis dengan lanskap Empire State dengan pertanda cinta, tiba-tiba memutuskan pertunangan guna ke puncak gedung, sesuai yang dijanjikan. Walau tawaran adegan klise, Annie ke atas dan Sam serta Jonah turun yang seharusnya berakhir bagus, justru film ini menemui titik senyum puas. Sayang sekali…

Cerita manis gini menurutku keterlaluan. Sulit menemukan kenyataan bahwa dua orang asing, memutuskan kopi darat di puncak gedung dengan perantara anak kecil, aneh. Dramatis, bagaimana bisa mereka ga ngobrol dulu dalam telpon karena dalam surat mereka sejatinya, minimal janjian telponan. Mungkin pemilihan calon ibu, untuk Jonah atau calon istri untuk Sam adalah ngacak dari ribuan surat. Saya membayangkan seandainya yang kepilih sosok lain, apakah bisa sedrama ini? Well, dunia fiksi memang membebaskan sang kreator dalam lanskap romannya, tapi sebuah rangsel bisa mencipta kebahagian penonton bisa jadi hanya di Sleepless, bahkan Dora pun saat akhirnya kembali menemukan rangsel ajaibnya hilang ga selega ini.

Tom Hanks sampai era sekarang masih sangat berjaya. Pasca Sleepless kita malah menyaksikan banyak filmnya menuai pujian, banyak filmnya meledak tak terkira. Salah satu yang ikonik jelas menjadi Profesor Langdon dalam kontraversi. Kariernya tampak belum akan terhenti. Sementara Meg Ryan, aktris yang kita kenal sebagai seorang romantis era 1990an ini sudah redup. Pasca Sleepless, ada beberap yang mencuat seperti French Kiss, City of Angels, sampai You’ve Got Mail. Happy Birthday 58 tahun Mbah Ryan. Semuanya berciri, drama romantis maka saat usia menua, order untuk peran itu menurun drastis. Tuntutan penonton (laki) jelas selalu sama: muda dan cantik, cara berpikiran revolusioner semacam ngajak kopi darat aneh di tempat tinggi hanyalah sekadar bonus. Kata kopi darat bersalah dari ‘copy’ yang dalam istilah perbincangan artinya ‘mengerti’. Dahulu kala, saat platform percakapan hanya satu arah dan bergantian, saat lawan bicara selesai, yang satunya akan jawab ‘copy’. Komunikasi di udara, kalau ada yang nyapa pakai ‘halo’ atau ‘break’, ‘over’ sampai ‘roger’. Nah, saat akhirnya mereka sepakat ngumpul langsung (di darat), pakemlah istilah kopi darat. Makin mesra Sleepless mengenakan tiga item sempurna untuk memikat kaum pemuja romansa: radio, surat dan gaya LDR (Long Distance Rahasia) yang berlebihan. Kesepakatan mencari pasangan ideal dengan memikat macam gini rasanya sudah melebihi imajinasi.

Kadang dalam hidup kita memang harus meletakkan keyakinan dalam altar yang aneh. Annie, bertunangan, makan malam romantis di resto mahal, muncul pertanda lalu berjudi. Tanpa harapan kita sudah mati secara moral, dan dengan bantaun harapan kita mungkin bisa mendapat pasangan ideal. Atau paling apesnya, ini juga tak membuktikan apapun untuk tertawa mengejek untuk menahan kita dari keputusasaan, lakukan atau tidak sama sekali.

Orang asing, oh orang asing. Kenapa engkau begitu rupawan. Beruntungnya. Siapa? Semua pihak: tiga orang di puncak, sutradara, cast dan crew, penonton pemuja roman dan kalian!

Sleepless In Seattle | Year 1993 | Directed by Nora Ephron | Screenplay Nora Ephron, David S. Ward, Jeff Arch | Cast Tom Hanks, Ross Malinger, Rita Wilson, Victor Garber, Carey Lowell, Meg Ryan, Frances Conroy | Skor: 3.5/5

Karawang, 211119 – Bee Gees – Massachusetts

Rekomendari Bank Movie keempat dari tujuh belas ini, thanks dan dipersembahkan oleh Bung Joze.

Joker: Realita Retak Dalam Tawa

Arthur: When you bring me out, can you introduce me as Joker?

Film sakit. Nonton wong edan. Tawanya mengerikan, mengintimidasi, membuat seisi bioskop terdiam, malesi, bikin kesel. Seperti tiga korban pertama, pastinya kalian juga kesal mendengar tawa menggelegar saat kalian serius dan terjadilah apa yang memicu banyak kericuhan di kota Gotham. Ga usah banyak spekulasi anehlah sekalipun jamnya semua 11.11, bukan hanya Todd yang suka angka cantik, semua orang juga.

Filmnya suram, bisa konsisten dari awal sampai akhir, nada-nadanya jua muram. Ga cocok buat dinikmati sepulang kerja, di mana kepala sedang pening karena kerjaan, capek main futsal, lapar. Butuh refreshing, malah disuguhi film depresif. Lengkap sudah, nonton film yang bikin nambah mumet. Hiks. Saya sudah di-cekok-in sebulan ini sama segala puja-puji, wow, sebagus itu, give an Oscar!, amazing, gilax, Phoenix hanya akting kan, ga gila beneran? Dan seterusnya dan seterusnya… Mirip Parasite yang hype-nya menggila dengan Cannes, maka Joker punya Venice. Ga salah dong, harapanku turut tinggi. Karena ini adalah film komik, dan film komik DC punya standar tertinggi The Dark Knight maka apa yang saya dapat memenuhi harapan. Hati-hati dengan hati yang berharap. Joker adalah film dengan kemuraman akut, sepanjang dua jam penonton melihat akting tawa yang natural, padahal ga lucu. Penonton menjadi muak, dan yeaaah sejatinya memang itu tujuan film ini. Dirilis hampir bersamaan dengan huru-hara Indonesia menyambut pergantian Periode Dewan Perwaklian Rakyat (DPR) yang bapuk. Pas banget, sampai kepikiran jangan-jangan demo mahasiswa ini dikoordinasi sama Joker.

Settingnya tahun 1981, penonton langsung diajak ke inti. Bahwa Arthur Fleck (diperankan dengan gilax oleh Joaquin Phoenix) menjadi badut sewa di bawah naungan Haha’s. Dibuat dengan pilu, bagaimana situasi mencipta Arthur menjadi sekarang. Menjadi badut promo, direbut papannya sama begundal remaja, dikejar lalu berakhir menyedihkan, papannya rusak, ia babak belur. Arthur tinggal di apartemen sama ibunya Penny Fleet (Frances Conroy), yang memuja seorang konglomerat Thomas Wayne (Brett Cullen), yang mencalonkan diri jadi walikota. Nyonya Fleet sedang menanti surat balasan dari Thomas. Keakraban ibu-anak ini sejatinya tampak istimewa, ibunya yang sakit-sakitan dimandiin, disuapin, nonton tv bersama. Salah satu tayangan favorit mereka adalah acara talk show yang dibawakan oleh Murray Franklin (Robert De Niro) dengan ceria bak ‘Bukan Empat Mata’, minus eaaa eeea nya. Seolah memang acara tersebut menjadi hiburan jelata, di tengah resersi. Gotham dalam banyak masalah, pengangguran, ekonomi terpuruk, minimnya kepercayaan publik, kejahatan. Gambaran yang sempurna untuk mencipta film tragedi.

Seorang teman kerja Haha’s, Randall (Glenn Fleschler) memberi pistol buat jaga-jaga. Sejatinya dari sini, segala kekacauan mulai didorong. Orang stress, dikasih pistol, pembunuhan hanya masalah waktu. Malam setelah tampil di rumah sakit anak-anak, yang berakhir tak bagus karena pistol badutnya jatuh saat penampilan, Arthur dipecat. Pembunuhan mula itu terjadi dalam subway, di gerbong Arthur ada cewek bening yang digoda tiga pekerja laki-laki yang pulang kantor, biar lebih jleb mereka adalah buruhnya Wayne Enterprise. Si cewek manyun dan pindah gerbong, penyakit Arthur kumat disaat tak tepat. Ketawa ga jelas, tiga penumpang itu merasa dicemooh, merasa tindakan amoral-nya omong kosong, maka ketika Arthur digebuki ramai-ramai, meletuslah tembakan. Dua tewas, satu lagi lari dan keluar kereta saat berhenti di stasiun. Dikejar lalu turut ditembak. Inilah kejahatan tingkat satu pertama sang Joker. Pulangnya, ia seolah memang melepas beban. Dengan masuk ke apartemen seorang cewek single mother Sophie Dumond (Zazie Beetz), langsung kiss.

Tindakan itu memicu banyak hal, berita seorang badut membunuh ditampilkan dalam headline. Penyelidikan dilakukan oleh dua detektif Burke (Shea Wigham) dan Garrity (Bill Camp). Sementara Arthur mencari jati dirinya, setelah dalam surat ibunya mengaku dia adalah anak yang tak diharapkan Thomas Wayne. Untuk mencari bukti, ia datang langsung, malah ketemu anaknya, sang Batman Kecil aka Bruce Wayne (Dante Pereira-Olson), diberi kesan senyum deh itu Manusia Kelelawar, lalu guna menambah kepedihan ia ke sakit jiwa Arkham Asylum untuk menemukan fakta masa lalu ibunya. Ketika Arthur tahu masa lalu keluarganya, seolah kehilangan sesuatu yang penting dan terhormat. Tindakan akhir, bagaimana keputusan terhadap orang terkasih itu sungguh mengerikan. Sebelum menonton Joker kita mengklaim karakter Joker itu jahat, padahal ia remuk sedari sebagai Arthur. Seolah meluruskan pandangan umum bahwa Frankenstein adalah monsternya, bukan! Frankenstein adalah ilmuwannya.

Kondisi panas memuncak saat ia diundang acara Murray gara-gara stand-up nya unik terkait anak kecil yang ga mau belajar. Dan kejutan dalam live show itu adalah sang striker Brighton ditembak. Memberi ke-kzl-an maksimal. Saat dia ditangkap dan dalam kekacauan publik, ia diangkat di atas mobil dalam kejayaan membuncah, seharusnya film langsung diakhiri karena ending yang luar biasa. Sayangnya film dilanjut dalam interview dan jalan kaki berjejak darah. Joker yang liar.

Untuk mencipta chaos dibutuhkan organisasi, kerja sama dan kemampuan membujuk dengan derajat luar biasa tinggi. Oleh karena itu orang brutal nan agresif kerap kali pilihan buruk dalam mengendalikan chaos. Maka seorang pemicu yang berdiri paling lantang harus bisa mempengaruhi, membujuk, memanipulasi serta melihat dari sudut pandang berbeda. Joker seolah menjadi saklar kopling huru-hara, menjadi pemimpin perwakilan rakyat yang sudah muak sama sistem. Saya jadi ingat guyon-an orang Jawa untuk personifikasi orang stress, yang disebut bocor alus. Istilah untuk abnormal karena ada yang retak menghadapi realita. Ditambah ketawa sendiri tanpa alasan jelas. Joker menertawakan kekacauan, dan update hari ini (16/11/19), kekacauan itu mencapai pendapatan 1 Trilyun Dollar, pendapatan tertinggi untuk film berating R. Wow, just wow bahkan Todd pun ga akan nyangka. Ini tanpa tayang di China yang melarangnya karena tema chaos yang disajikan terlampau ekstrem.

Kutonton dengan teman kerja, Titus dan Akbar pada tanggal 3-Okt-19. Bagaimana pendapat mereka dan rekan lainnya? Simak!

Titus: Menurut saya sih bagus, ini salah satu film DC yang keluar dari konteks biasanya. Aksinya lebih sedikit tapi lebih mendalami karakter Joker, siapakah Joker, bagaimana Joker itu berasal, itu luar biasa. Ok sih, untuk 120 menitan cukup lama, cukup membosankan, tapi kalau menikmati alur, itu sangat OK. Joaquin Phoenix Top. Skor: 8/10.

Akbar: Kalau dari saya pribadi, itu top. Tapi agak kurang sih. Karena saya penggemar Avengers keluaran Marvel, saya masih menjagokan Marvel dibandingakn film DC. Tapi film DC yang ini top banget. Skor: 7.5/10

Budy: Joker. Ekspektasiku ketinggian. Banyak orang bilang Joaquin Phoenix laik Oscar, banyak orang bilang chaos, luar biasa, mempersona. Nyatanya? Ya…, sekadar bagus. emang depresif, tapi yah terlalu tinggi ngomong ‘film terbaik tahun ini’, ‘masuk ke Oscar, harusnya best picture’, (bagiku) enggak! Kalau Joaquin Phoenix sih Ok bisa masuk, cuma kalau untuk yang (kategori) paling tinggi, rasanya enggak. Heath Ledger tetap Joker terbaik. Skor: 4/5

Rani Skom: Aduh gilax, Joaquin Phoenix itu, apa ya. Beyond imagination, dia itu aaggghh… mungkin. Heath Ledger dapat saingan sih, tapi favorit aku tetap Ledger. Cuman, Joaquin terbaik juga, gilax. Filmnya pokoknya, puas banget. Skor: 9/10

Intano: Biasa saja sih, maksudnya aku tuh sebelum nonton Joker, banyak banget postingan di sosmed yang bilanh: ‘Joker tuh wah banget, bagus banget, ratenya 9 per sepuluh’. Tapi kataku ga se-wow itu, biasa aja. Tapi aktingnya yang jadi Joker yang siapa namanya. Itu emang bagus banget sih, standing applaus deh buat dia. Tapi secara alur cerita aku enggak, merasa ga se wah itu. skor: 7/10

Catatan ini kututup dengan kutipan dari ‘The Quantity Theory of Insanity’ karya Will Self yang menyatakan bahwa jumlah total kewarasan manusia itu tetap, tak berubah-ubah, karenanya usaha-usaha untuk menyembuhkan orang gila adalah hal yang sia-sia, sebab apabila seseorang sembuh dari kegilaannya pasti di tempat lain ada seseorang yang kewarasannya melayang, seakan-akan kita tengah berbaring di atas kasur dan mengenakan sehelai selimut kewarasan yang ukurannya kecil sehingga tidak mampu menyelimuti kita semua. Knock-knock.

Joker | Year 2019 | Directed by Todd Phillips | Screenplay Todd Phillips, Scott Silver | Cast Joaquin Phoniex, Robert De Niro, Zazie Beetz, Frances Conroy, Brett Cullen, Shea Whigham, Bill Camp, Dante Pereira-Olson | Skor: 4/5

Karawang, 041019 – 161119 – Bob James – Mind Games

*) diketik dalam dua kali kesempatan duduk, 4 Okt dan hari ini 16 Nov