Atraksi Lumba-Lumba – Pratiwi Juliani

Orang-orang desa bangun lebih pagi daripada dan mereka hidup cermat: listrik, air, dan segala sesuatunya harus digunakan seperlunya saja…”

Seperti inilah seharunya cerita pendek dibuat. Kisah ada di sekitar kita, tampak nyata, tampak apa adanya. Atraksinya sendiri berakhir tak semulus yang diharapkan, tapi terus tersimpan dalam ingat seolah abadi. “… panas sekali bulan ini. Semoga panen bagus.”

#1. Menyayangi Bianglala
Pengalaman naik bianglala anak kecil yang diceritakan kepada teman-teman sekelas, membagi permen dan pamer khas anak sekolah. Anak orang kaya, yang habis berlibur ke kota. Tampak manis dan menggemaskan. Ternyata, orang tua Rima cerai, ia hanya sesekali ajak keluar kota sama ayahnya, dan bainglala adalah salah satu moment yang diambil untuk menancapkan gores, karena berikutnya waktu digulir cepat. Ibunya menikah lagi, mereka pindah dan ketika sudah dewasa, ia kembali mengukir kenangan kembali ke kampung untuk sebuah pemakaman. “Ayolah kita ke pasar malam tengah kota selepas acara tahlil tiga hari.”

#2. Rambutan yang Timbul di Kepala
Cerita biji yang tertelan lalu ditakuti akan tumbuh dalam perut dengan batang tumbuh tembus ke kepala juga kualami dulu. Seringnya biji asam, karena di kampung ada pohon asam besar sekali, dikeramatkan, dibuat pesta anak-anak saat berbuah, dan banyak sekali remaja naik pohonnya yang rindang. Sang Aku memiliki kenangan tentang lomba makan rambutan di masa kecilnya, dan saat itu tiba-tiba ia ingin makan rambutan, Mujib temannya yang gembeng ga sengaja menelan biji rambutan. Ditakut-takuti, makin kencang nangisnya. Hari masih sangat pagi, toko yang menjualnya ada tujuh kilometer jauhnya, berkenalan dengan lelaki menarik, sambil ngopi dan makan rambutan berkaleng, mereka berkisah. “Tidak ada. Aku sering membaca. Tetapi membaca itu hal umum yang dilakukan semua orang, bukan hal yang special.” Kita semua tidak lebih dari sebuah foto profil yang bisu.

#3. Atraksi Lumba-Lumba
Seolah ini adalah penggalan kisah di judul pertama. Ameli dan ayahnya memiliki kenangan pahit tentang sebuah acara karnaval atraksi lumba-lumba. Bangun pagi, berkendara jauh, akan menontonnya. Penonton penuh, dan antrian panjang. Apes, mereka kehabisan tempat. Berharap bisa masuk, dengan menyogok petugas jaga, malah minta dua kali harganya. Dan mereka gagal menyaksikan. Kenangan yang unik memang yang akan tersimpan erat terikat dalam kepala, dan kegagalan serta efeknya inilah yang terlihat dalam tawanya saat di Yogyakarta, kelak. “Oh kau anak yang baik, semoga kelak nasibmu baik.”

#4. Pecundang
Dari novel Maxim Gorky berjudul Pecundang, kita diajak berkelana tentang hidup dan kepahitannya. Kita tahu sang Penulis bunuh diri dengan meninggalkan sekalimat buat anak dan istrinya, ‘Goodbye my beloved.’ Cerita dalam perjalanan bermobil memang menarik untuk dikupas, melalalngbuana. memiliki kenangan pahit tentang ayahnya, sebuah pohon beringin di pinggir jalan mengurainya, ada maaf sebelum terlambat. Sebuah kebesaran hati, legawa, tanggung jawab, dan ketulusan. Oh ya? Ingat cerpen ini berjudul pecundang, benarkah kata maaf sudah berucap? “Apakah kau menangis saat dia dikuburkan?

#5. Pembalut
Kisah ini juga seakan adalah nukilan dari cerpen pertama dan ketiga. Memiliki kenangan ketika bersekolah menengah lanjutan pertama. Sempat mengingin untuk sekolah asrama, saat meninjau bersama ibunya ke sekolah tersebut ketika libur tahun, betapa kecewa. Betapa jorok, dan tak terawat bangunannya. Bahkan air di kamar mandi tak menyala, dengan sampah berserakan. Akhirnya ia melanjutkan di sekolah tengah kota yang lebih umum. Pembalut di sini baru bersinggung saat salah satu siswi kurang berpunya sedang mens pas upacara bendera, dibelikan pembalut di koperasi sekolah. Mereka saling mengenal walau tak akrab, lalu suatu ketika gadis itutak kelihatan, ia keluar sekolah. Waktu merentang dan mereka kembali bertemu di sebuah warung soto yang ternyata milik sang gadis. Semua tampak nyata dan membumi, dan bisa kita jumpai di sekitar kita, bukan? “Tidak perlu dimengerti, aku juga tidak mengerti akan banyak hal. Andai aku bias lebih mengerti banyak hal.”

#6. Seekor Kucing dan Gelandangan Tua
Ini satu-satunya cerita mengambil sudut orang ketiga, seolah pencerita mendongengkan kepada kita sebuah pengalaman mengamati kejadian di alun-alun pinggir kota yang ramai, pemuda dan kebaikan hatinya bertemu gelandangan tua dan kucing sakit, memberi makan kucing dan pak tua, karena pemuda tinggal di kontrakan atas, sang gelandangan yang memutuskan merawat si empus dan suatu malam mereka kembali bertemu, lebih tepatnya, sang pemuda dating ke area pasar tempat gelandangan istirahat, makan malam yang hangat, kali ini tak ada si empus. “Tidak. Aku menyayanginya. Dia mati dalam keadaan ada seseorang yang menyayanginya.”

#7. Film
Berkenalan, menonton bareng, ngopi dalam cerita renyah. Kok rasanya enak sekali ya, saya belum pernah mengalami hal semacam itu dalam sehari. Padahal kita tahu, pengalaman semacam ini bisa terwujud, menyenangkan kedua belah pihak. Cerita aneh untuk film aneh. Mal masing tutup di pagi hari, gedung bioskop juga belum buka dong. Mara datang terlalu dini, ngopi dulu dan berkenalan dengan laki-laki yang menarik bernama Ricky, dan ditimpali Martin. Lhaa… seperti itulah canda alir tanpa beban. Ngobrol beberapa hal, berniat nonton film rumit, lalu mendiskusikannya. Mara pulang larut, suaminya menyambut dalam keanehan pula, dan tadaaa… “Jangan menjadi gelas yang penuh, Anwar.” Hiks, sayang Gundala dapat ulasan negatif.

#8. Kepulangan
Ini mungkin yang terbaik. Perjalanan pulang ke rumah nenek yang misterius, sungguh aneh, sungguh janggal. Pertengkaran orang tua mereka memicu benih cerai, Anggi dan kakaknya menguping, lalu pura-pura tidur saat ibunya masuk kamar dan meminta bergegas, malam itu juga mereka akan ke rumah nenek. Ayahnya menyetir dengan gamang, malam itu gerimis, dan dari sudut anak-anak kita diajak menjadi saksi akhir sebuah perjalanan satu kehidupan. “Masuklah, temani ibumu.” Begidik.

#9. Yang Teratur dan Yang Tidak Teratur
Ini mungkin kisah yang paling biasa, seorang pelukis coba mencipta ruangan dengan kesempurnaan guna mencipta karya. Jullie membeli mebel dan sejenisnya dengan mengajak Ami lalu mengecat-nya. Sang pemabuk yang stylist. Membuat tempat santai di rumah belakang, dengan musik jazz, dan kenyamanan hidup. “Jangan mabuk jika sedang bekerja dengank. Jika kau ingin mabuk, liburlah dulu.”

#10. Rumah Bercat Putih
Judulnya mengingatkanku pada novel John Grisham, A Painted House yang diterjemahkan Gramedia menjadi Rumah Bercat Putih. Isinya tentang pasangan tua yang dulu bercerai, Yos menderita batuk berdarah, didatangi mantan istrinya Marta yang kini menjanda. Mereka melewatkan hari itu dengan mengharu, masa tua pasti datang, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Di sini, Yos sakit keras dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Anak kesayangan mereka Anggi datang, membisikkan kata-kata dalam tidur Yos dan akankah ada kesempatan lagi bersua dalam kehangatan keluarga? “Hidup tidak pernah mudah sejak aku meninggalkanmu…

#11. Cerita-Cerita Kematian
Pasangan yang merayakan malam dansa, menginap di sebuah hotel lalu menyaksikan kematian, pemilik syalawan bunuh diri. Hantu itu tidak ada, dan tuhan juga. Diskusi larut dalam keterasingan masing-masing. Bagus sih, open minded. Mereka menikmati waktu kebersamaan, berdiskusi tentang hal-hal yang diluar batas dengan enak diikuti. Di mana jiwa pergi ketika berpisah dengan tubuh? “Kebenaran itu universal. Hantu memang tidak ada. Ini soal mekanika kuantum. Kau terlalu pakai perasaan.”

Saya yakin, berbulan-bulan dari sekarang, saya masih bisa dengan santai mengingat kisah-kisah di sini dengan hanya membaca judul cerpennya. Buku bagus ini, kenapa ga masuk ke daftar pendek? Saya bisa yakin pula, mayoritas adalah pengalaman pribadi Pratiwi Julian dengan modifikasi di sana-sini tentunya. Saya ga tahu kehidupan keluarga dan orang-orang terdekatnya, tapi jelas sekali cerita yang disaji tampak nyata. Contoh dalam Atraksi Lumba-Lumba, di adegan pembuka kita dikasih tahu sang karakter utama berusia tujuh tahun di tahun 1998, pas dengan kelahiran Penulis di tahun 1991.

Done. Sepuluh dari sepuluh kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 kategori prosa selesai baca dan ulas semua. Syukurlah, setelah pembuka yang buruk dan naik turun kehangatan, daftar ini ditutup dengan sangat bagus. Kumpualn cerita pendek ini dapat stempel Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2018. Good luck PJ.

Bagus narasinya, bagus dialognya, bagus susunan plotnya. Mengalir merdu. Biasanya kalau pengalaman pertama melahap buku puas, karya berikutnya tinggal masalah waktu untuk dinikmati pula. Saya ingin menutup catatan ini dengan kutipan satu paragraf di cerpen terakhir halaman 250. Menurutku, tuturan kalimatnya sungguh alami.

Kami sedang dalam sebuah taksi, melintasi jalan aspal yang mulia sepi di bawah lampu-lampu bercahaya kuning yang digantung pada besi hitam berukir. Tiang lampu hias itu ditanam pada trotoar yang membagi jalan menjadi lajur kini dan kanan. Wajahnya menoleh ke sebuah bangunan bertingkat yang teramat besar, yang pada bagian depannya terpasang jendela-jendela lebar berkaca mati, sedang penerangan yang dihidupkan di sekelilingnya seperti tidak mampu menandingi kesuramannya: tembok-tembok putih yang menguning dan atap merah yang menjadi hitam karena malam tidak memiliki bulan.

Atraksi Lumba-Lumba dan Kisah-Kisah Lainnya | Oleh Pratiwi Juliani | Penerbit Kepustakan Gramedia Populer | KPG 59 18 01548 | Cetakan pertama, September 2018 | Desaigner Aditya Putra | Ilustrator Aditya Putra | Penataletak Teguh Tri Erdyan | Penyunting Leila S. Chudori | x + 277 hlm.; 11,5 cm x 17,5 cm | ISBN 978-602-481-025-2 | Skor: 4/5

Untuk Mom.

Karawang, 131019-141019 – Whitney Houston – I Will Always Love You

Thx to Paperbookplane, Yogyakarta. Empat kali kesempatan duduk depan laptop: Sabtu pagi, Minggu pagi, Minggu sore kemarin, dan Senin pagi tadi. Editing ulas bahkan kulakukan saat istirahat kerja Senin (14/10/19) di ruang meeting Initiative and Drive, dengan hanya berteman kopi dan dingin ruangan.